Jika Tidak Malu Baca Kisah Ini, Iman Anda Bermasalah…

Imam Khatib al-Baghdadi sedang beribadah haji. Sesampainya di Makkah al-Mukarramah, beliau langsung diminta oleh jamaah kaum Muslimin untuk membacakan hadits. Tidak langsung menyanggupi, beliau meminta waktu untuk membaca al-Qur’an al-Karim, “Berikan aku waktu untuk membaca al-Qur’an.” pinta sang imam.

Beliau pun duduk di salah satu sudut Masjid al-Haram, memulai bacaan dari surat al-Fatihah, al-Baqarah, Ali ‘Imran, terus sampai surat an-Naas. Beliau mengkhatamkan 30 juz dalam sekali duduk. Beliau baru selesai sebelum matahari terbit, lalu membacakan hadits untuk kaum Muslimin.

Ulama lainnya bernama Ibnu ‘Aqil. Beliau lebih suka memakan kue daripada roti kering. Saat ditanya alasannya, beliau menjawab dengan tenang, “Karena perbedaan waktu antara keduanya (memakan kue dan roti kering) bisa digunakan untuk membaca 50 ayat al-Qur’an.”

Kue lebih mudah dicerna oleh tubuh karena strukturnya yang lembut. Sedangkan roti kering relatif lebih lama karena keras sehingga menghabiskan banyak waktu. Dalam catatan Imam Ibnu ‘Aqil, memakan kue lebih beliau sukai sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk membaca al-Qur’an.

Ketika berhaji di dua kota suci, Imam Masruq bin al-Ajda’ diriwayatkan sering tertidur ketika bersujud. Bukan lantaran mengantuk, tapi lamanya waktu yang beliau gunakan untuk melakukan gerakan ibadah yang merupakan posisi terdekat dengan Allah Ta’ala tersebut.

Sahabat mulia Urwah bin Zubair disebutkan selalu mengkhatamkan al-Qur’an dalam empat hari. Dalam sehari, beliau menikmati sekitar tujuh juz. Terus seperti itu di sepanjang usianya.

Sedangkan salah satu ahli hadits di Andalusia (Spanyol) disebutkan membaca Shahih al-Bukhari sebanyak 700 kali.

Seharusnya, kita lebih bersemangat dan bergegas untuk melakukan amalan tersebut. Sebab, kita hidup di zaman akhir dengan banyak ujian kemaksiatan di sepanjang waktu.

Sayangnya, kondisinya justru berlaku sebaliknya. Jangankan mengkhatamkan al-Qur’an sekali dalam empat hari sebagaimana Urwah bin Zubair Radhiyallahu ‘anhu, sebulan satu kali khatam pun amat jarang. Bahkan ada banyak kaum Muslimin yang tidak pernah khatam dalam satu tahun.

Belum lagi terkait sujud. Banyak di antara kita yang sujud hanya dalam hitungan detik. Bahkan shalat dua rakaat dengan empat kali sujud dikelarkan dalam bilangan lima menit atau kurang dari itu.

Rasanya malu. Tapi malu juga tidak cukup. Kita harus benar-benar berbenah.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

ERA MUSLIM

Sifat Malu, Warisan Para Nabi Terdahulu

RASA malu itu warisan para nabi. Artinya, telah diajarkan oleh para Nabi sebelum kita. Dari Abu Masud Uqbah bin Amr Al-Anshary Al-Badry radhiallahu anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu adalah: Jika engkau tidak malu, perbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari, no. 3483)

Penilaian Hadits Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari riwayat Manshur bin Al-Mutamar dari Ribiy bin Hirasy dari Abu Masud dari Hudzaifah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Maka ada perbedaan dalam sanad hadits ini. Namun, sebagian besar ahli hadits mengatakan bahwa ini adalah perkataan Abu Masud. Yang mengatakan demikian adalah Al-Bukhari, Abu Zurah, Ar-Raziy, Ad-Daruquthniy, dan lain-lain. Yang menunjukkan kebenaran hal ini adalah bahwa telah diriwayatkan dengan jalan lain, dari Abu Masud pada riwayat Masruq. Dikeluarkan pula oleh Ath-Thabraniy dari hadits Abu Ath-Thufail dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga. (Lihat Jami Al-ulum wa Al-Hikam, hlm. 255, Ibnu Rajab Al-Hambali, Darul Hadits Al-Qahirah)

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan mengenai perkataan dalam hadits tersebut: Sesungguhnya perkataan yang diwarisi oleh orang-orang dari perkataan nabi-nabi terdahulu. “Hadits ini menunjukkan bahwa sifat malu adalah sisa (atsar) dari ajaran Nabi terdahulu. Kemudian manusia menyebarkan dan mewariskan dari para Nabi tersebut pada setiap zaman. Maka hal ini menunjukkan bahwa kenabian terdahulu biasa menyampaikan perkataan ini sehingga tersebarlah di antara orang-orang hingga perkataan ini juga akhirnya sampai pada umat Islam.” (Jami Al-ulum wa Al-Hikam, hlm. 255)

Yang dimaksudkan dengan adalah kenabian terdahulu yaitu (mulai dari) awal Rasul dan Nabi: Nuh, Ibrahim dan lain-lain (Syarh Arbain Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 112). Perkataan umat terdahulu bisa saja dinukil melalui jalan wahyu yaitu Al Quran, As Sunnah (hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam) atau dinukil dari perkataan orang-orang terdahulu. (Syarh Arbain Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 207)

Karena hal ini adalah perkataan Nabi terdahulu maka hal ini menunjukkan bahwa perkataan ini memiliki faedah yag besar sehingga sangat penting sekali untuk diperhatikan.

 

INILAH MOZAIK

Malu Jika Takut kepada Selain Allah

AMRU BIN UTBAH merupakan seorang tabi’in yang dikenal dengan kekhusyukan dalam shalat. Suatu saat beliau bersama beberapa sahabatnya mengikuti sebuah peperangan. Dan saat itu budak beliau mendapati bahwa Amru bin Utbah tidak ada pada tempatnya, hingga ia mencarinya.

Tak lama kemudian, sang budak menemukan bahwa majikannya sedang melaksanakan shalat di gunung sedangkan awan menaunginya. Dan suatu malam sang budak mendengar suara auman singa, sehingga siapa saja yang ada di tempat itu berlarian, hanya tinggal Amru bin Utbah yang sedang shalat.

Setelah persitawa itu, sang budak dan lainnya pun bertanya kepada Amru bin Utbah, ”Apakah Anda tidak takut singa?” Maka Amru pun menjawab, ”Sesungguhnya aku benar-benar malu kepada Allah, jika aku sampai takut kepada selain Dia”. (Shifat Ash Shafwah, 3/70)

 

sumber:Hidayatullah

Bahkan Allah dan Rasul pun Malu Mengatakannya

Pada salah satu pertemuan kuliah dengan Prof. DR. Jum’ah Ali Abdul Qadir (almarhum), beliau menceritakan pengalamannya ketika mengajar di Universitas Ummul Qura Makkah Al-Mukarramah khusus untuk perempuan:

“Suatu kali ketika mengajarkan tafsir surat Ar-Rum ayat 4, saya bertanya kepada salah seorang mahasiswi, apa perbedaan antara kalimat (بِضْع) “bidh’un” dengan meng-kasrah-kan huruf ba’ dan (بُضْع) “budh’un” dengan men-dhammah-kan huruf ba’?

Jawaban mahasiswi itu sangat mencengangkan. Jawaban yang menunjukkan dia seorang perempuan yang cerdas, paham, dihiasi oleh rasa malu dan kehormatan diri.

Dia berkata:

“Adapun “bidh’un” adalah bilangan antara 3 sampai 9, sedangkan “budh’un” adalah sesuatu yang kita malu untuk menyebutkannya di depan orang lain.”

Jawaban ini sangat berkesan bagi saya sampai hari ini, ujar beliau melanjutkan cerita. Demikianlah seharusnya seorang yang mempunyai harga diri, ia harus menjaga bahasanya dari mengucapkan perkataan fulgar dan porno. Terutama dalam majlis ilmu dan forum-forum resmi seperti itu. Lebih-lebih lagi bila di sana hadir laki-laki dan perempuan. Hendaknya dijaga perasaan perempuan yang lebih halus dan lebih pemalu dari pada laki-laki.

Sekalipun seorang guru atau ustadz dituntut untuk menyampaikan sesuatu yang memalukan bila disebut dengan terang-terangan,seperti permasalahan yang berhubungan dengan perkara fikih, ia akan berusaha untuk mencari kosa kata yang bisa mewakili apa yang ia maksud, tapi terjauh dari bahasa yang tidak pantas. Namun orang yang mendengar tetap paham apa maksud perkataan itu.”

Apa yang diajarkan oleh DR. Jum’ah Ali ini sebenarnya penjelasan dari ajaran Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah. Di mana Al-Qur’an selalu memilih kosa kata yang sangat halus untuk mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan laki-laki dan perempuan atau suami-istri.

Contoh, ayat Al-Qur’an mengibaratkan istri itu dengan sawah ladang, dan pergaulan dengannya dipakai istilah bercocok tanam.

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 223)

Maha Mulia Allah yang menggunakan kalimat yang sangat mulia karena Al-Qur’an akan dibaca dalam shalat dan tilawah.

Rasulullah pernah ditanya tentang seorang suami yang telah menceraikan istrinya sampai talak tiga, lalu mantan istrinya itu menikah dengan laki-laki lain. Sebelum digauli oleh suami barunya, ia ditalak oleh suami barunya itu. Apakah dengan demikian dia sudah halal menikah lagi dengan suami lamanya?

Rasulullah menjawab:

«لاَ، حَتَّى يَذُوقَ عُسَيْلَتَهَا كَمَا ذَاقَ الأَوَّلُ»

“Belum, sampai suami barunya itu mencicipi madunya sebagaimana suaminya yang pertama telah mencicipinya”. (HR. Bukhari Muslim)

Perhatikanlah bagaimana bersih dan indahnya bahasa Rasulullah yang mengibaratkannya dengan madu.

Aisyah menceritakan, suatu kali seorang perempuan bertanya kepada Nabi, bagaimana caranya bersuci dari haid? Rasulullah menjawab, “Ambillah sepotong kapas yang sudah diolesi harum-haruman, kemudian bersihkan dengannya.”

Perempuan itu bertanya lagi, “Bagaimana cara membersihkannya?”

Rasulullah menjawab, “Bersihkanlah dengannya!”

Perempuan itu masih bertanya lagi, “Bagaimana?”

Lalu Rasulullah berkata sambil menutupi wajahnya dengan pakaian, “Subhanallah, bersihkanlah!”

Kemudian Aisyah melanjutkan ceritanya: Lalu aku menarik perempuan itu dengan kuat dan mengatakan kepadanya, “Bersihkan bekas darahnya dengan kapas itu!”

Meskipun pertanyaan perempuan itu sangat urgent demi kesucian dan kesempurnaan ibadahnya, namun Rasulullah tetap memakai bahasa yang sangat halus, yang paling pantas dengan fitrah pemalunya seorang perempuan. Rasulullah tidak hanya mementingkan bagaimana pesan tersampaikan, tapi juga menimbang cara dan kalimat yang paling terhormat.

Amat disayangkan pada masa kita ini, sebagian ustadz dan da’i yang menyampaikan ceramah kurang memperhatikan hal ini. Bahkan seperti disengaja untuk memilih kosa kata fulgar demi membuat jama’ah tertawa. Bagaimana kita akan mengajari umat perihal malu bila kalimat para penceramahnya tanpa sengaja mengikis malu sedikit demi sedikit. Atau dia bagaikan orang yang tidak ada malu di depan jama’ahnya.

Bukankah ceramahnya itu juga akan didengar oleh anak-istri, ipar-besan, dan keluarga serta handai tolannya. Tidakkah ia malu dengan mereka semua?

Dalam sebuah hadits yang sangat masyhur Rasulullah bersabda:

«الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ»

“Malu itu sebagian dari iman.” (HR. Bukhari Muslim)

Ya Allah, karuniakan kami rasa malu yang sebenarnya.

 

 

sumber: Fimadani

Kuatkan Imanmu, Peliharalah Rasa Malu

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda; “Seseorang lebih patut untuk malu kepada Allah daripada kepada manusia”

“SESUNGGUHNYA setiap agama mempunyai akhlak dan sesungguhnya akhlak Islam adalah malu,” demikian hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Malu bukanlah sifat yang mudah untuk dimiiki. Malu hanya akan tumbuh dan menjadi perangai seorang Muslim manakala imannya kepada Allah dan hari akhir benar-benar sangat kokoh.

Hari ini nampaknya sebagian besar umat Islam agak abai dengan sifat malu ini. Contoh paling nyata adalah beberapa sikap kaum Muslimah yang belum menutup aurat ketika memajang foto-foto yang semestinya tidak di upload ke dunia maya malah justru sangat disenangi dan digandrungi.

Bahkan ada yang suka memasang foto dirinya saat berenang dengan pakaian yang tidak sepantasnya. Demikian pula dengan yang laki-laki yang juga memajang foto-foto anggota badan yang termasuk aurat ke dalam status Facebook-nya.

Mengenai aurat ini, perhatian Rasulullah sangat tegas. Beliau bersabda; “Sesungguhnya Allah Maha lembut, Maha malu dan Maha menutupi, Dia menyukai sifat malu dan menutupi, maka jika salah seorang dari kalian mandi, hendaknya dia menutup diri.”

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa lihat dari sikap sebagian kaum Muslimin yang tidak bersegera menunaikan kewajiban-kewajibannya. Sudah tahu waktu sholat tidak lama lagi, lantunan adzan pun mulai terdengar, tetapi masih lebih memilih asyik nonton di depan TV, bahkan sebagian lainnya masih asyik ber-Facebook ria. Hal ini juga menandakan bahwa sifat malu belum menjadi bagian tak terpisahkan dari sebagian umat Islam.

Dalam ajaran Islam, seorang Muslim yang melakukan dua contoh sikap di atas, dan termasuk Muslim yang mengabaikan imannya hanya karena urusan keduniaan, termasuk kelompok Muslim yang belum memiliki rasa malu. Mengapa demikian?

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda; “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” Mereka menjawab, “Alhamdulillah, kami malu.”
Nabi pun melanjutkan sabdanya; “Bukan itu, akan tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah hendaknya kamu menjaga kepala dan apa yang dipahaminya, menjaga perut dengan isisnya, hendaknya kamu mengingat kematian dan hancurnya jasad sesudahnya, barangsiapa menginginkan akhirat, niscaya dia meninggalkan perhiasan dunia, barangsiapa melakukan hal itu, maka dia tetlah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.” (HR. Tirmidzi).

Itulah mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tidak pernah melewati malam melainkan dengan bangun untuk tahajjud. Beliau malu kepada Allah jika nikmat yang begitu besar dan amanah yang tidak ringan tidak ditunaikan secara sungguh-sungguh dengan penuh kesyukuran. Beliau malu jika sepanjang malam digunakan hanya untuk tidur. Demikianlah sifat manusia agung yang sangat pemalu, terutama kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Ketika malam Mi’raj dalam perjalanan beliau kembali ke langit dunia untuk membawa perintah mendirikan sholat, beliau bolak-balik menghadap Allah karena mendapat saran Nabi Musa agar perintah sholat yang Allah wajibkan atas umatnya dikurangi jumlah raka’atnya.

Akhirnya setelah mendapatkan keringanan menjalankan shalat lima waktu sehari semalam, Nabi Musa masih menyarankan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam minta keringanan kepada Allah. “Istahyaytu min rabbi” demikian jawab manusia agung itu. “Aku malu kepada Rabbku”. Subhanallah, Rasulullah saja malu meminta keringanan lagi, lalu mengapa sebagian umat Islam tidak bersemangat mendirikan shalat.

Bahkan Rasulullah malu hanya berdoa untuk dirinya sendiri. Beliau malu kepada Allah sekaligus malu kepada seluruh umatnya jika berdoa hanya untuk diri beliau sendiri, apalagi setiap doa beliau pasti dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Hal ini beliau jelaskan dalam sebuah sabdanya; “Setiap Nabi mempunyai doa yang mustajab, lalu masing-masing dari mereka bersegera menggunakan doanya (di dunia), namun aku menyimpan doaku sebagai syafa’at bagi umatku di hari kiamat, ia akan didapatkan Insya Allah oleh siapa pun dari umatku yang mati daam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan apa pun.” (HR. Bukhari).

Jika Rasulullah malu kepada kita sebagai umatnya, dan mengkhususkan doa mustajabnya untuk kita, lalu mengapa kita tidak malu mengabaikan amanah dan sunnah-sunnah beliau, sementara kita selalu berharap mendapat syafaatnya kelak di hari kiamat?

Malu dalam Pergaulan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam juga sangat memperhatikan rasa malu dalam pergaulan. Aisyah mengatakan bahwa beliau senantiasa menjaga diri dari yang tidak baik (iffah) dan menjaga kesendirian. “Nabi seorang yang tidak suka berkata kotor, tidak gemar menjelek-jelekkan, dan tidak berteriak-teriak di pasar,” demikian tutur istri beliau yang banyak meriwayatkan hadits-haditsnya.

Urusan malu adalah urusan iman dan termasuk perkara yang besar. “Malu itu termasuk dari iman, dan iman itu di dalam surga, keburukan ucapan termasuk sikap tidak peduli (kurang ajar) dan sikap tidak peduli itu adalah di neraka,” demikian tegas Rasulullah sebagaimana diriwayatkan oeh Tirmidzi.

Rasulullah menjelaskan bahwa malu adalah lawan dari keburukan ucapan, ia tidak akan pernah sejalan dengannya. Manakala kita menjumpai manusia yang lisannya selalu menjelek-jelekkan orang lain, dan membangga-banggakan dirinya, cukuplah bukti bahwa orang itu tidak punya rasa malu yang berarti cacat keimanannya. Dan, tidak ada yang dikehendakinya melainkan kehidupan dunia belaka.

Di sinilah fungsi utama akhlak. Oleh karena itu akhlak dalam Islam itu meliputi banyak sisi, mulai dari akhlak kepada Allah, manusia dan alam semesta.

Maka dari itu, milikilah akhlak yang mulia karena hanya dengan akhlak mulia itu seorang Muslim akan memiliki rasa malu yang sebenar-benarnya. Bukan rasa malu yang umum disalahpahami oleh kebanyakan manusia, dimana malu hanya ditujukan kepada manusia. Padahal malu yang benar adalah malu kepada Allah bukan kepada manusia.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda; “Seseorang lebih patut untuk malu kepada Allah daripada kepada manusia.” (HR. Abu Dawud).*

Perilaku sebagian orang yang gemar mengambil hak orang lain (korupsi), tidak jujur, dan takut diketahui orang segala rencana dan perbuatannya yang merusak, semuanya termasuk sifat tercela dan menunjukkan ketiadaan rasa malu yang benar kepada Allah SWT.

Orang yang seperti itu biasanya akan shock jika keburukannya diketahui oleh orang lain, sebab baginya tidak ada yang lebih ditakutkan kecuali ada manusia mengetahuinya. Terhadap Allah, orang seperti itu tidak benar-benar malu. Oleh karena itu tidak mengherankan jika mereka berani melawan perintah Allah, asalkan manusia tidak mengetahui dan menentangnya. Naudzubillah.

Terhadap orang seperti itu, Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya di antara ajaran yang manusia dapatkan dari perkataan kenabian yang pertama adalah Apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah apa saja yang kau mau.” (HR. Bukhari).

Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman; “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. 41: 40).

Tentu penegasan Rasulullah yang terakhir itu bukanlah perintah untuk berbuat sesuka hati, melainkan untuk menghindar dari perbuatan memperturutkan hawa nafsu. Karena menuruti hawa nafsu akan menghilangkan kemampuan akal sehat dan menjadikan seorang manusia hidup tanpa iman dan karena itu tidak punya sifat malu. Padahal dalam Islam, malu adalah bagian dari keimanan.*

 

sumber: Hidayatullah

Rasa Malu Merupakan Cabang Iman yang Terpenting

Saat ini, kita banyak menyaksikan orang-orang sudah tak malu lagi mempertontonkan kemaksiatan di depan umum. Aksi kemesraan sesama jenis yang diperlihatkan kaum Lesbian, Gay, Bisek dan Transgender (LGBT), ataupun aksi para para selebritis yag mengumbar auratnya di acara-acara televisi.

Bahkan, ada juga kelompok yang mengatasnamakan HAM (hak asasi manusia) membela atau mengadvokasi mereka yang kerap mempertontonkan kemaksiatan tersebut.

Padahal, cara hidup kelompok dengan kemaksiatan itu justru menyebarkan prilaku yang tidak sehat, yang akibatnya mewabahnya virus HIV/AIDS. Alih-alih menyetop prilaku sex bebas, kelompok ini justru membagikan kondom secara gratis.

Fenomena ini membuktikan bahwa rasa malu sudah tak lagi melekat pada diri manusia, sehingga apa yang dilakukan manusia sudah seperti yang kita saksikan pada binatang.

Rasulullah sendiri jauh-jauh hari sudah mengingatkan kepada kita begitu pentingnya rasa malu pada diri manusia, dan rasa malu merupakan cabang terpenting dari iman.

 

 الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً ، أَفْضَلُهَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

 

Iman itu mempunyai tujuh puluh cabang lebih, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.

Riwayat Bukhari dan Muslim melalui Abu Hurairah r.a.

Menurut Kitab  Syarah Mukhraarul Ahaadiits, salah satu cabang iman adalah malu. Rasa malu ini disebutkan dalam hadist ini bahkan juga dalam hadist lainnya, hal ini menunjukkan bahwa malu merupakan cabang terpenting dari iman. Dengan kata lain, tidklah sempurna iman seseorang sebelum ia mempunyai rasa malu, yakni malu kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, serta malu kepada orang-orang mukmin.

 

 

 

Sukarja, dengan mengutip Kitab Syarah Mukhraarul Ahaadiits, Sayyid Ahmad Al-Hasyimi