Yaser Abu Al-Naja, ‘Bukan Bocah Palestina Terakhir yang Dibunuh Serdadu Zionis’

JALUR GAZA, Ahad (Al Jazeera): Pada Jumat (29/6) sore, ketika para serdadu Zionis dari sisi lain pagar perbatasan menembakkan gas airmata, peluru berlapis karet dan amunisi tajam, Yaser Abu Al-Naja dan beberapa temannya berlindung di balik tempat sampah jauh dari garis depan demonstrasi di Jalur Gaza.

Ketika Yaser mengintip sebentar dari balik tempat sampah, peluru ledak menghantamnya di kepala. Tempurung kepalanya hancur, ungkap para saksi mata.

Yaser masih berusia 11 tahun. Pembunuhannya pada Jumat lalu menjadikan ia anak Palestina ke-16 yang ditembak mati serdadu Zionis sejak diluncurkannya demonstrasi “Great March of Return” pada 30 Maret.

Beberapa jam kemudian, saat matahari terbenam, ibunda Yaser Samah Abu Al-Naja sedang menjelajah Facebook di telepon genggamnya ketika ia tiba-tiba melihat sebuah foto “anak laki-laki tidak dikenal” dengan kepala diburamkan dan pakaian berlumuran darah.

“Wajahnya tidak terlihat, tapi saya mengenalinya sebagai anak saya dari pakaian yang ia kenakan,” ungkap wanita berusia 30 tahun itu kepada Al Jazeera di rumahnya di timur Khan Younis, selatan Jalur Gaza.

“Tetangga dan salah seorang putri saya duduk bersama saya,” tambahnya. “Saya menoleh ke mereka dengan telepon di tangan saya dan mengatakan: ‘ini putra saya.’”

Hal mengerikan yang ia lihat itu tentu saja membuatnya syok. Ketika menuju Rumah Sakit Eropa, tempat jenazah Yaser berada, Samah berusaha keras untuk menyadarkan pikirannya tentang fakta bahwa anak pertamanya telah ditembak mati.

“Saya tidak pernah menduga anak saya dibunuh,” ujarnya, menangis. “Saya tahu dia pergi setiap Jumat untuk mengikuti demonstrasi, tapi itu didorong oleh rasa ingin tahu dan ia pergi untuk menyaksikan pengunjuk rasa lainnya bersama teman-temannya.”

‘Sinar matahari’

Yaser lahir pada 2006. Ia tumbuh dengan mengalami tiga serangan ‘Israel’ yang menghancurkan daerah kantong yang dikuasai Hamas itu. Rumah keluarganya dihancurkan dua kali selama masa hidupnya yang singkat – sekali tahun 2011 dan pada 2014 – yang membuat ia dan kerabatnya mencari tempat penampungan sementara dengan keluarga-keluarga lainnya.

Mereka yang mengenal Yaser –yang pemakamannya diselenggarakan pada Sabtu (30/6)– menggambarkannya sebagai anak yang sopan, penurut, pintar dan sangat menyukai olahraga, seperti berenang, menunggang kuda dan sepakbola. Pada malam sebelum ia gugur, ia menyaksikan sepakbola Piala Dunia dengan teman-temannya.

“Dia membantu merawat adik-adiknya,” kata sang ibu. “Ia sangat supel dan suka bermain di luar bersama teman-temannya.”

Ia adalah anak laki-laki pertama dalam keluarga. Kelahiran Yaser merupakan sumber utama kebahagiaan bagi orangtua dan istri pertama ayahnya, Naeema. Naeema memiliki sembilan anak perempuan. Kemudian ia menyarankan suaminya, Amjad Abu Al-Najar, lebih dari satu dekade lalu untuk menikahi wanita muda dengan harapan mengandung seorang pewaris laki-laki yang didambakan. Ketika Yaser lahir, wanita 48 tahun itu memperlakukannya seperti anaknya sendiri.

“Dia selalu ada di rumah saya seperti sinar matahari,” kata Naeema. “Kakak-kakak perempuannya, putri-putri saya, sangat dekat dengannya dan sangat mencintainya.”

Naeema mengatakan, pembunuhan Yaser dimaksudkan untuk membalas ayahnya, yang merupakan pemimpin sayap militer Hamas: Brigade Al-Qassam. “Penjajah Zionis hanya mengerti satu bahasa,” katanya. “Entah itu perlawanan bersenjata atau demonstrasi tanpa senjata, respon mereka selalu dengan membunuh.”

Samah sependapat. “Peluru (ditembakkan) ke kepala? Itu disengaja,” ucapnya.

Syok masih tampak jelas di wajah sang ayah, Amjad. Terlepas dari itu ia mengatakan pada Al Jazeera bahwa putranya tidak ada bedanya dengan anak-anak Palestina yang ditargetkan oleh serdadu Zionis.

“Cara dia ditembak … Saya tidak pernah bisa melupakan tempurung kepalanya yang hancur,” katanya. “Penargetan warga sipil oleh serdadu Zionis adalah pelanggaran berat, namun di setiap demonstrasi pada hari Jumat mereka justru semakin berani.”

Juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina Ashraf Al-Qidra mengatakan pada Al Jazeera bahwa usia 16 anak yang tewas pada demonstrasi Jumat antara 10-17 tahun. “Jumlah anak-anak yang terluka sekitar 2.250, termasuk dua kasus yang kaki mereka harus diamputasi,” katanya.

Pada demonstrasi Jumat lalu, Muhammad Al-Hamaydeh (24) asal Rafah juga tewas. Sekitar 415 orang terluka, termasuk tiga petugas medis dan 11 anak-anak. “Keseluruhan, 134 warga Palestina gugur sejak 30 Maret dan 15.200 terluka,” kata Al-Qidra.

Bukan bocah terakhir yang dibunuh

Bagi Samah, demonstrasi memungkinkan orang untuk menuntut hak-hak dasar mereka. “Akan tetapi, respon penjajah Zionis mengarah pada kematian, amputasi dan luka parah,” katanya. “Kami telah mengalami kehilangan besar, seperti kehilangan orangtua, atau kehilangan anak. Sangat sulit bagi saya untuk menanggung kehilangan ini sekarang setelah saya mengalaminya.”

“Yaser tidak akan menjadi anak terakhir yang dibunuh,” tambah Naeema. “Setiap Jumat ada kisah baru dari anak-anak, wanita muda atau pemuda yang terbunuh.”

“Semua itu dilakukan karena tidak ada penghalang bagi penjajah Zionis,” tegasnya.*

 

(Al Jazeera | Sahabat Al-Aqsha)

Di Tengah Perang, 230 Anak di Palestina Semangat Hafal Alquran

Meskipun Gaza masih bergejolak, namun semangat anak-anak di Palestina untuk menghafal Alquran tak pernah padam. Sebanyak 230 santri di Rumah Tahfizh Daarul Qur’an Gaza telah berhasil menghafal 35 halaman.

Ini sudah tahun kelima Rumah Tahfizh Daarul Qur’an Gaza berdiri di Palestina. Setiap tahunnya puluhan anak-anak Gaza usia 8 sampai 19 tahun menjadi hafizh Alquran dengan menghafal 30 juz sebelum akhirnya diwisuda.

Di bulan Ramadan, semangat anak-anak Gaza untuk menghafal Alquran pun kian meningkat. Mereka tak mau kehilangan kesempatan untuk berlomba-lomba mendapatkan pahala yang berlipat ganda di bulan yang suci nan mulia ini.

Salah satunya adalah Fatimah (18), seorang santri yang telah menghafal 30 juz. Ia mengaku senang belajar dan menghafal di Rumah Tahfizh Daarul Gaza yang dikelola Program Pembibitan Penghafal Alquran (PPPA) Daarul Qur’an tersebut. Sebab tak hanya menghafal, para santri juga mendapat kajian rutin seperti hadits, tafsir quran dan kegiatan ekstra kulikuler lainnya.

“Para pembimbingnya pun menganggap kami seperti anak mereka, saking akrabnya, jika kami sakit para pembimbing bersama paman Abdillah Onim menjengguk kami, jika dalam bebebapa hari kami tidak datang ke Rumah Tahfizh Gaza pasti mereka datang ke rumah kami dan mencari kabar apa penyebab ketidakhadiran kami,” ungkap Fatimah, seperti dikutip dalam keterangan tertulis PPPA Daarul Qur’an, Minggu (10/6/2018).

Di samping itu, pegiat kemanusiaan sekaligus Ketua Yayasan Nusantara Palestina Center, Abdillah Onim, menggelar buka puasa bersama para santri yang mayoritas hidup di bawah garis kemiskinan. Acara yang rutin digelar setiap tahun tersebut ia selenggarakan bersama PPPA Daarul Qur’an.

“Perlu diketahui bahwa mayoritas dari santri hidup di bawah garis kemiskinan, ada juga anak yatim di mana orang tuanya wafat korban peperangan,” ucap Onim.

Bang Onim, sapaan akrabnya, mengatakan para santri begitu bahagia bisa berbuka puasa dengan hidangan yang luar biasa. Meski dengan kondisi terbatas.

“Alhamdulillah, tiga lantai penuh dengan santri. Mereka sangat gembira menyantap hidangan buka puasa hadiah dari donatur,” ujar Onim.

Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada PPPA Daarul Qur’an khususnya para donatur yang telah memberikan buka puasa untuk anak-anak Gaza.

 

detik/ERA MUSLIM

Yahudi Tak Berhak Mewarisi Palestina

SEBENARNYA, tidak ada kebenaran atas klaim bangsa Yahudi tentang hak mereka atas Palestina. Sebab Allah Ta’ala telah secara tegas menyatakan bahwa kitab yang mereka pegang itu bukan lagi kitabullah, melainkan karangan manusia di antara mereka.

Mereka telah mengubah isi Taurat dan menggantinya menjadi Talmud. Maka klaim mereka bahwa Palestina adalah tanah yang dijanjikan tuhan untuk mereka, 100% hanyalah bualan mereka saja. Bukan janji dari Allah Ta’ala. Bahkan Allah malah pernah mengharamkan tanah itu untuk mereka selama 40 tahun lamanya, akibat kedegilan mereka sendiri.

Allah berfirman, “Maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi itu. Maka janganlah kamu bersedih hati orang-orang yang fasik itu.” (QS. Al-Maidah: 26)

Kalau memang tanah itu milik mereka, pertanyaannya adalah: selama ini pada ke mana aja? Kok punya tanah tidak di tempati? Malah mengembara ke berbagai penjuru dunia? Siapa yang suruh punya tanah ditinggal-tinggal? Kalau memang mengaku punya tanah Palestina, mestinya dipertahankan sejak dulu, bukannya ditinggalkan.

 

INILAH MOZAIK

Awal Mula Penjajahan Atas Palestina

Pekan ini, Palestina di seluruh dunia menandai 100 tahun sejak deklarasi Balfour dikeluarkan pada 2 November 1917. Deklarasi ini menjadikan kenyataan tujuan Zionis untuk mendirikan negara Yahudi di Palestina, ketika Inggris secara terbuka berjanji untuk mendirikan sebuah rumah nasional untuk orang-orang Yahudi di sana.

Deklarasi ini umumnya dipandang sebagai salah satu katalis utama dari Nakba, pembersihan etnis Palestina 1948, dan konflik yang terjadi dengan negara Zionis yaitu Israel.

Dalam artikel yang dilansir dari Aljazirah, Senin (30/10) disebutkan bahwa Balfour dianggap sebagai salah satu dokumen yang paling kontroversial dan diperebutkan dalam sejarah modern dari dunia Arab dan membuat para sejarawan bingung selama beberapa dekade.

Deklarasi Balfour, yang disebut Perjanjian Balfour oleh Arab, adalah perjanjian umum oleh Inggris pada 1917 yang menyatakan tujuan mereka untuk mendirikan “sebuah rumah nasional untuk orang-orang Yahudi” di Palestina.

Pernyataan tersebut berbentuk surat dari Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour, yang ditujukan kepada Lionel Walter Rothschild, seorang figur komunitas Yahudi di Inggris. Perjanjian itu dibuat selama perang dunia I (1914-1918) dan termasuk dalam mandat Inggris untuk Palestina setelah pembubaran Turki Usmani.

Sistem mandat tersebut didirikan oleh sekutu, yang merupakan bentuk kolonialisme dan pendudukan secara terselubung. Aturan sistem ini mentransfer wilayah yang sebelumnya dikendalikan oleh JermanAustria-Hongaria, Turki Usmani dan Bulgaria, dialihkan kepada para sekutu yang menang.

Sistem mandat yang dideklarasikan tersebut memungkinkan pemenang perang untuk mengelola wilayah berkembang baru sampai mereka bisa menjadi independen.

Namun kasus Palestina termasuk unik. Tidak seperti mandat pasca-perang lainnya, tujuan utama dari mandat Inggris adalah untuk menciptakan kondisi untuk pembentukan rumah nasional Yahudi, di mana orang-orang Yahudi berjumlah kurang dari 10 persen dari populasi pada saat itu.

Pada awal mandat, Inggris mulai memfasilitasi Imigrasi orang Yahudi Eropa ke Palestina. Antara 1922 dan 1935, populasi Yahudi naik dari sembilan persen menjadi hampir 27 persen dari total penduduk.

Meskipun Deklarasi Balfour termasuk memperingatkan ‘tidak boleh melakukan sesuatu yang menimbulkan prasangka kepada warga sipil dan hak-hak agama yang merupakan non-komunitas Yahudi di Palestina’, mandat Inggris tersebut didirikan dengan melengkapi Yahudi alat-alat untuk mendirikan pemerintahan sendiri, dengan mengorbankan warga Palestina.

Pada tahun 1919, Presiden AS Woodrow Wilson ditunjuk oleh Komisi untuk melihat opini publik pada sistem mandat di Suriah dan Palestina. Penyelidikan yang dikenal sebagai Komisi King-crane, menemukan bahwa sebagian besar warga Palestina menyatakan oposisi kuat terhadap Zionisme, mendorong pembentukan Komisi yang menyarankan modifikasi dari tujuan mandat.

Tokoh politik dan Nasionalis Palestina saat itu, Awni Abd al-Hadi mengutuk Deklarasi Balfour dalam biografinya. Ia mengatakan deklarasi tersebut dibuat oleh orang asing, yaitu Inggris, yang tidak memiliki klaim untuk Palestina, diberikan kepada orang asing lainnya, yaitu Yahudi, yang tidak punya hak untuk itu.

Pada tahun 1920, Kongres Palestina Ketiga di Haifa mencela rencana pemerintah Inggris untuk mendukung proyek Zionis dan menolak pernyataan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan hak-hak penduduk asli.

Namun, sumber penting lainnya yang mengetahui pendapat Palestina mengenai deklarasi tersebut, yaitu pers, yang ditutup oleh Utsmani pada awal perang pada tahun 1914 dan baru mulai muncul kembali pada tahun 1919, namun di bawah penyensoran militer Inggris.

Pada bulan November 1919, ketika surat kabar al-Istiqlal al-Arabi (kemerdekaan Arab), yang berbasis di Damaskus, dibuka kembali, sebuah artikel mengatakan sebagai tanggapan atas pidato publik oleh Herbert Samuel, seorang menteri Yahudi di London pada ulang tahun kedua Deklarasi Balfour: “Negara kita adalah Arab, Palestina adalah Arab, dan Palestina harus tetap menjadi Arab.”

Bahkan sebelum Deklarasi Balfour dan Mandat Inggris, surat kabar pan-Arab memperingatkan terhadap motif gerakan Zionis dan kemungkinan hasilnya adalah menggusur orang-orang Palestina dari tanah mereka.

Khalil Sakakini, seorang penulis dan guru Yerusalem, menggambarkan Palestina segera setelah perang sebagai berikut: “Sebuah bangsa yang telah lama berada dalam tidur lelap hanya terbangun jika terguncang oleh kejadian, dan kebangkitan muncul sedikit demi sedikit,”

“Inilah situasi Palestina, yang selama berabad-abad telah tidur nyenyak, sampai terguncang oleh perang besar, yang dikejutkan oleh gerakan Zionis, dan ditindas oleh kebijakan ilegal (Inggris), dan terbangun, sedikit demi sedikit. ”

Peningkatan imigrasi Yahudi di bawah mandat menimbulkan ketegangan dan kekerasan antara orang Arab Palestina dan Yahudi Eropa. Salah satu tanggapan populer pertama terhadap tindakan Inggris adalah pemberontakan Nebi Musa pada tahun 1920 yang menyebabkan terbunuhnya empat orang Arab Palestina dan lima orang Yahudi imigran. (Idealisa Masyrafina)

 

REPUBLIKA

Uskup Agung Serahkan Palestina pada Umat Islam

KISAH ini memang bukan di masa Nabi melainkan di masa Khalifah Umar, tetapi tetap masih ada benang merahnya. Ketika mengetahui bahwa pasukan muslimin telah berhasil menaklukkan wilayah-wilayah utara, timur dan selatan Jurusalem, maka para petinggi gereja di Jurusalem sepakat untuk menyerahkan Palestina kepada Umar bin Al-Khattab.

Uskup Agung Jurusalem, Patriarch Sophronius, akan menyerahkan pusat ibukota Kerajaan Nasrani itu dengan beberapa syarat, yaitu, penyerahan kota tidak dilakukan dengan jalan peperangan, pasukan Byzantium dibiarkan untuk menuju Mesir, dan Khalifah Umar diminta datang ke Yerusalem untuk serah-terima “kunci kota”. Abu Ubaidah yang menerima utusan gereja itu menyanggupi permintaan yang ada.

Setelah kabar gembira ini disampaikan ke Umar, beliau pun segera menuju Jerusalem. Masyarakat kota Jurusalem terkejut ketika menyaksikan sosok Umar bersahaja. Awalnya mereka menyangka yang naik di punggung unta adalah Umar. Ternyata justru sebaliknya, yang di punggung unta adalah pengawal Umar. Rupanya keduanya bergantian naik unta selama dalam perjalanan. Umar tidak egois membiarkan pengawalnya kelelahan. Kejadian ini menambah kagum penduduk Jurusalem terhadap pemimpin barunya. Apalagi, Umar hanya memakai pakaian lusuh, bekal makanan seadanya, dan satu tikar untuk salat.

Sesampainya di kota, Umar disambut Uskup Patriarch. Umar diajak ke beberapa tempat suci di kota. Uskup membukakan Gereja Makam Suci kala waktu zuhur tiba. Maksudnya, Umar dipersilakan salat dulu di gereja itu. Namun, hal tersebut ditolak Umar.

“Jika saya melaksanakan salat di gereja ini, saya khawatir para pengikut saya yang tidak mengerti dan orang-orang yang datang ke sini di masa yang akan datang akan mengambil alih bangunan ini kemudian mengubahnya menjadi masjid, hanya karena saya pernah salat di dalamnya. Mereka akan menghancurkan tempat ibadah kalian. Untuk menghindari kesulitan ini dan supaya Gereja kalian tetap sebagaimana adanya, maka saya salat di luar,” ucap Umar yang tetap menghormati pemeluk agama lain dalam wilayah perlindungan Islam.

Ketika Umar meminta diantar ke bekas Kuil Sulaiman, dia mendapati reruntuhan itu tidak terawat. Ada banyak kotoran dan timbunan sampah. Umar dan sahabat lainnya membersihkan tempat itu dan menjadikannya tempat salat. Ke depannya, di tempat ini berdiri sebuah masjid atas perintah Umar. Masjid itu dinamai dengan Masjid Umar.

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2347033/uskup-agung-serahkan-palestina-pada-umat-islam#sthash.4FXx0yKr.dpuf

ICIM Dorong Media Islam Suarakan Palestina

Mi’raj Islamic News Agency (MINA) bekerja sama dengan Kantor Berita Antara dan Republika akan menyelenggarakan konferensi media Islam Internasional (Islamic Conference of Islamic Media/ICIM), Rabu hingga Kamis (25-26/5) di Auditorium Adiana, Wisma Antara, Jakarta. Acara ini mengangkat tema seputar bersatunya media Islam dalam membela kepentingan Islam, khususnya Palestina dan al-Quds.

“Kenapa? Karena pemberitaan tentang Palestina termarginalkan, kurang terangkat,” kata Ketua Panitia ICIM Agus Priyono dalam kunjungannya ke Republika.co.id, Jumat (20/5).

Agus mengatakan, selama ini isu-isu tentang Palestina masih menjadi isu sesaat ketika terjadi peperangan. Pemberitaan di negara-negara Islam, bahkan di Timur Tengah terkait isu ini masih sangat minim. Padahal, dalam keseharian kekerasan dan pertumpahan darah terjadi secara terus-menerus.

Penyelenggarakaan ICIM dinilai akan membawa semangat agar media-media Islam melakukan pembelaan terhadap Palestina. Pembelaan ini diwujudkan dalam bentuk pemberitaan yang berimbang.

ICIM juga mengajak media-media Islam untuk lebih peduli terhadap isu-isu yang berkembang di al-Quds. Menurut Agus, saat ini animo masyarakat Islam lebih banyak tertuju ke kawasan Makkah dan Madinah. Padahal, Masjid al-Aqsa juga merupakan tempat sakral bagi masyarakat Muslim.

Minimnya pemberitaan media tentang al-Aqsa membuat masyarakat Muslim kurang peduli tentang tempat ini. Padahal, Israel terus melakukan upaya untuk memonopoli kawasan tersebut. Akibatnya, hingga kini mayoritas pengunjung al-Aqsa berasal dari kalangan nonmuslim.

“Ini perlu dipahami sehingga pembelaan muncul secara objektif dari semua kalangan masyarakat, khususnya Muslimin sendiri yang lebih terdepan untuk membela kepentingan Islam di dunia. Inilah peran media yang kita harapkan muncul,” ujar Agus.

 

ICIM rencananya akan menghadirkan pembicara-pembicara dari berbagai negara, antara lain Imam Masjid Jamaica Center New York Shamsi Ali, Direktir Modelis Monitor London, praktisi dan akademisi Malaysia asal Nigeria Abdul Malik, Wakil Pemimpin Redaksi (wapemred) Wafa Palestine News Agency, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (wantimpres) bidang Agama Hasyim Muzadi.

Menurut Agus, ada dua hal pokok yang akan dibahas dalam lingkup tema tersebut. Pertama, ICIM berusaha menyamakan persepsi media-media Islam mengenai pembelaan terhadap Palestina dan al-Aqsa. Kedua, penyelenggaraan ICIM diharapkan akan diikuti kesepakatan pembentukan forum atau lembaga internasional yang menyatukan media-media Islam.

Konferensi ini juga diharapkan akan menghasilkan output berupa deklarasi bersama yang melibatkan para pembicara dan tokoh-tokoh yang ditunjuk dari tingkat nasional dan internasional. Deklarasi tersebut akan memuat pernyataan terkait penyamaan persepsi, keberimbangan berita, serta bentuk-bentuk kerja sama yang akan dilakukan media-media Islam.

“Bisa dalam bentuk sharing berita antar media atau pertukaran wartawan,” ujar Agus.

Redaktur Mina Ali Farhan mengatakan, ICIM dilatarbelakangi pertimbangan dari beberapa sisi. Secara konstitusi, konferensi ini menjadi perwujudan alinea keempat UUD 1945 mengenai keterlibatan Indonesia dalam menjaga ketertiban dunia. “Jangan sampai media tidak adil. Media yang sekarang kan sifatnya standar ganda,” kata Ali.

Dari sisi akidah, upaya ini dilakukan sebagai peran dalam menyempurnakan cahaya yang ingin dipadamkan oleh musuh-musuh Islam seperti tercantum dalam QS as-Shaff. Secara historis, kegiatan ini merupakan rentetan dari kinerja yang telah dilakukan sebelumnya.

Goal-nya dalam rangka membebaskan orang-orang teraniaya di Palestina dan mengembalikan orang Palestina bisa iktikaf bersama,” kata dia.

sumber: republika Online

 

Palestina Aman untuk Tujuan Wisata Religi

Project Manager Holy Land Trust Elias D Deis mengatakan Palestina dapat menjadi destinasi wisata religi baik umat muslim maupun kristen.

Selain berkunjung ke Masjidil Aqsa sebagai tempat suci tiga agama, mereka juga dapat mengatur acara pertemuan dengan pemuka agama dan kelompok agama disana serta menginap di rumah penduduk untuk berinteraksi langsung.

“Saya agak heran dengan adanya wisata halal di Indonesia, karena di kami semuanya halal, jadi kami bsia katakan semua keluarga muslim memakan makanan halal, dapat beribadah dan mengunjungi masjid saat shubuh,” jelas dia usai Seminar Pariwisata Halal, Rabu (13/4).

Pihaknya memiliki paket wisata religi selama empat hari. Setelah umrah ke Arab Saudi mereka dapat berkunjung ke Yerusalem selama dua hingga tiga hari lalu pulang ke Indonesia.

Wisata religi ke Palestina sangat diminati terbukti dengan jumlah pengunjung hingga 50 ribu orang. Namun angka ini sempat menurun dari sebelumnya sebanyak 60 ribu karena pemberitaan media yang jauh dari kenyataan.

Banyak turis yang takut datang ke Palestina karena pemberitaan, padahal kenyataannya sangat berbeda. Pihaknya tidak akan membawa turis ke tempat-tempat berbahaya.

Dia menargetkan tahun ini kunjungan wisatawan dapat mencapai 100 ribu orang. Indonesia merupakan target pasar yang besar untuk berwisata ke Palestina.

Setiap tahun 2,5 juta turis datang dari berbagai negara. Dia menilai angka tersebut memuaskan karena adanya keterbatasan dari Israel dan tanpa bandara.

Seluruh akses semuanya dibawah pengawasan Israel termasuk transportasi darat, laut dan udara. Ijin visa pun harus melalui bandara Israel.

Namun demikian, Esia menjamin situasi di Palestina dalam keadaan aman dan berharap semakin banyak turis yang datang. “Kami berahrap turis dari Rumania, Albania, Polandia dan beberapa negara lain datang berwisata,” jelas dia.

 

sumber: Republika Online

Palestina Minta Dewan Keamanan PBB Keluarkan Resolusi Mengutuk Pemukiman Israel

Palestina telah menyampaikan kepada negara-negara Arab usulan resolusi untuk Dewan Keamanan PBB agar mengutuk permukiman Israel.  Diplomat Palestina untuk PBB pada Kamis (7/4/2016) menilai, pembangunan permukiman itu menghalangi tercapainya perdamaian.

Usulan tersebut langsung dikecam Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Netanyahu mengatakan, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengambil langkah yang tak sejalan untuk mengakhiri konflik lewat negosisai.

Palestina menolak memberikan rincian teks lebih jauh. Mereka hanya mengatakan Dewan Keamanan telah sepakat, permukiman merupakan sesuatu yang ilegal.

Dewan Keamanan pernah melakukan voting untuk resolusi terkait permukiman pada Februari 2011. Namun Amerika Serikat kala itu menggunakan hak vetonya untuk membatalkan resolusi yang mengutuk permukiman Israel sebagai tindakan ilegal.

Surat kabar Israel Haaretz mengatakan Palestina ingin Dewan Keamanan melakukan pemungutan suara pada 22 April saat Abbas menghadiri upacara tingkat tinggi di New York. Namun Netanyahu menuduh Abbas menghindari negosiasi langsung. [RN/republika]

 

sumber: Panji Mas

Sekitar Tujuh Ribu Warga Palestina Mendekam di Penjara-penjara Israel

Otoritas pendudukan Israel pada Senin (8/1) mengizinkan puluhan keluarga dari tahanan di Jalur Gaza untuk mengunjungi anak-anak mereka di Eshel” penjara gurun di Israel selatan.

Seorang juru bicara untuk Komite Internasional Palang Merah (ICRC) Suhair Zaqout mengatakan dalam sebuah pernyataan pers Senin (8/1) bahwa 26 keluarga dari tahanan pergi melalui Beit Hanoun Erez” melintasi Jalur Gaza utarapagi ini mengunjungi 21 tahanan di Eshel” Prison.

Keluarga tahanan dari Jalur Gaza mengunjungi kerabat mereka di penjara-penjara Israel, pada hari Senin setiap minggunya. Kunjungan tersebut dikoordinasikan oleh Komite Internasional Palang Merah. Kunjungan bertepatan denganaksi duduk oleh keluarga para tahanan di Tepi Barat Jalur Gaza dan kota Yerusalem, di depan markas Palang Merahdalam solidaritas dengan anak-anak mereka dan menuntut pembebasan mereka secara permanen.

Saat ini terdapat hampir tujuh ribu tahanan Palestina di penjara-penjara Israelsekitar 400 orang dari warga Jalur Gaza,kebanyakan dari mereka adalah orang tua dan pemilik jabatan yang tinggi.

 

 

sumber: alshamtoday.net / BumiSyam.com

[abuharits]

Ada Alasan Banyak Nabi dan Rasul diutus di Syam dan Palestina

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, sebanyak 25 nabi dan rasul yang disebutkan dalam Alquran, diutus di empat wilayah, yakni Jazirah Arabia, Irak, Mesir, serta Syam dan Palestina. Nabi dan rasul yang terbanyak adalah diutus di wilayah Syam dan Palestina. Jumlahnya mencapai 12 orang. Mereka adalah Luth, Ishak, Ya’kub, Ayub, Zulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Zakaria, Yahya, dan Isa AS.

Sami bin Abdullah al-Maghluts dalam kitabnya Athlas Tarikh al-Anbiya wa ar-rusul, menyebutkan, semua nabi dan rasul yang diperintahkan oleh Allah SWT bertugas untuk menyeru umat manusia agar senantiasa beriman kepada Allah dan berbuat kebajikan, serta menjauhi segala keburukan.

Mereka semua membawa bukti-bukti yang nyata. Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS Al-Hadid [57]: 25).

Tentu ada pertanyaan besar, mengapa nabi dan rasul banyak diutus Allah di Syam dan Palestina? Apakah sudah begitu sesatnya umat manusia sehingga Allah mengutus banyak nabi dan rasul pada kedua daerah tersebut? Tak ada keterangan yang kuat mengenai hal ini. Tentu saja, semua itu adalah kehendak (iradah) Allah.

Yang pasti, tujuan nabi dan rasul berdakwah adalah untuk menyeru umat manusia agar kembali ke jalan yang lurus dan senantiasa beriman kepada Allah SWT.

Dan, mengapa pula diutusnya di kedua wilayah tersebut? Dalam Alquran, Allah SWT berfirman bahwa Palestina dan Syam adalah negeri yang diberkahi oleh Allah SWT, selain Makkah dan Madinah.

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. (QS Al-Maidah [5]: 21).

Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. (Al-Anbiya [21]: 71). Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya. (Al-Isra [17]: 1).

Semua ahli tafsir sepakat bahwa negeri yang diberkahi dalam ayat di atas adalah negeri Syam dan Palestina. Misalnya, dalam Al-Qur’an Digital disebutkan, yang dimaksud dengan negeri dalam keterangan ayat di atas adalah Syam dan Palestina. Allah memberkahi negeri itu, karena kebanyakan nabi berasal dan negeri ini dan tanahnya pun subur.

Palestina misalnya, disebut sebagai salah satu negeri tertua di dunia. Dan di Palestina, tepatnya Yerusalem, kota ini disebut sebagai Kota Tiga Iman. Demikian Karen Armstrong menyebutnya. Dan Armstrong menyatakan, sebelum abad ke-20 SM, negeri ini telah dihuni oleh bangsa Kanaan.

Prof Dr Umar Anggara Jenie, dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menyatakan, Kota Jerusalem merupakan bukti yang paling baik dalam kekunoan permukiman-permukiman bangsa Arab?semistis purba di Palestina?yang telah berada di sana jauh sebelum bangsa-bangsa lainnya datang.

Kota ini didirikan oleh suku-suku Jebus, yaitu cabang dari bangsa Kanaan yang hidup sekitar 5.000 tahun lalu. Yang pertama mendirikan Jerusalem adalah seorang raja bangsa Jebus-Kanaan, ujarnya.

Wajarlah bila di negeri ini banyak diutus para nabi dan rasul, karena merupakan salah satu kota tertua di dunia. Di negeri ini terdapat Haikal Sulaiman dan Kerajaan Daud, juga tempat kelahiran Isa, tempat di azabnya kaum Luth, tempat Zakaria melaksanakan shalat, tempat Rasul SAW melaksanakan Isra dan Mikraj, masjidil Aqsha, dan lainnya. Bahkan, di salah satu menara Masjid di Damaskus, dipercaya sebagai tempat turunnya Nabi Isa di akhir zaman nanti. Wallahu a’lam.

 

sumber: Republika Online