Warga Palestina Ubah Pesawat Jadi Restoran

Wilayah Tepi Barat tidak memiliki bandara sipil dan warga Palestina yang mampu membeli tiket pesawat harus mengejar penerbangan di negara tetangga Yordania. Hanya saja, beberapa orang Palestina di wilayah yang diduduki bisa naik pesawat berkat sepasang saudara kembar di luar kota utara Nablus.

Khamis dan Ata al-Sairafi  telah mengubah Boeing 707 tua menjadi kafe dan restoran untuk dinaiki pelanggan. “99 persen warga Palestina tidak pernah menggunakan pesawat terbang. Hanya duta besar, diplomat, menteri, dan walikota kami yang menggunakannya. Sekarang mereka melihat pesawat terbang dan itu sesuatu untuk mereka,” kata Khamis.

Setelah seperempat abad berusaha, kedua saudara ini membuka “Restoran Maskapai Penerbangan Palestina-Yordania dan Kedai Kopi al-Sairafi” pada 21 Juli. Keluarga, teman, dan pasangan muncul untuk minum di kafe yang terletak di bawah badan pesawat. Banyak orang lain datang untuk mengambil foto di dalam dengan harga lima shekel per orang.

Pelanggan mengatakan mereka termotivasi untuk berkunjung setelah melihat foto-foto pesawat yang direnovasi beredar secara daring. “Sudah lama saya ingin melihat tempat ini. Saya berharap saya pernah melihat tempat ini sebelum diubah menjadi kafe,” kata pelanggan Majdi Khalid.

Kedua bersaudara ini bermimpi mengubah pesawat menjadi kafe dan restoran lahir pada akhir 1990-an ketika Khamis melihat pesawat Boeing yang terlantar di dekat kota Safed, Israel utara. Pada saat itu, pesawat sudah memiliki sejarah yang terkenal.

Pesawat itu digunakan oleh pemerintah Israel dari 1961 hingga 1993. Menurut //Channel 12 TV// Pesawat ini menerbangkan Perdana Menteri Menachem Begin ke Amerika Serikat pada 1978 untuk menandatangani perjanjian damai bersejarah Israel dengan Mesir.

Kemudian pesawat tersebut dibeli oleh tiga mitra bisnis Israel yang bermimpi mengubahnya menjadi sebuah restoran. Namun proyek itu ditinggalkan menyusul ketidaksepakatan dengan pihak berwenang setempat.

Setelah melacak salah satu pemilik pesawat, kedua saudara berusia 60 tahun ini setuju untuk membelinya seharga 100.000 dolar AS pada 1999. Mereka menghabiskan tambahan 50.000 dolar AS untuk lisensi, izin, dan untuk mengangkutnya ke Tepi Barat.

Khamis mengatakan walikota Nablus saat itu, Ghassan Shakaa, dengan cepat menyetujui transportasi dan renovasi pesawat. Memindahkan pesawat ke Nablus adalah operasi selama 13 jam, karena membutuhkan pembongkaran sayap dan penutupan sementara jalan di Israel dan Tepi Barat. Pada saat itu, Israel dan Palestina terlibat dalam pembicaraan damai dan pergerakan bolak-balik relatif mudah.

Terlebih lagi, mereka merupakan pedagang besi tua yang sukses ini memang secara teratur melakukan perjalanan ke dan dari Israel untuk membeli potongan-potongan logam yang kemudian dijual dan lebur di Tepi Barat.  Kondisi ini membuat rencana memindahkan pesawat dan menyulapnya menjadi restoran bisa terlaksana.

Tapi, mereka mengatakan proyek ditunda setelah pecahnya pemberontakan Palestina kedua pada akhir 2000. Sebuah pos pemeriksaan militer Israel dibangun di dekatnya, mencegah pelanggan dari kota terdekat Nablus mencapai lokasi. Pos pemeriksaan tetap bertahan selama tiga tahun dan militer Israel mengambil alih situs tersebut, proyek impian tersebut pun runtuh.

“Mereka bahkan membangun tenda di bawah sayap pesawat,” kata Ata.

Selama hampir 20 tahun, pesawat dan situs itu ditinggalkan. Setelah pemberontakan mereda pada pertengahan 2000-an, keduanya melanjutkan bisnis pembuangan limbah dan taman hiburan kecil di Nablus pada 2007.

Setelah lebih dari satu dekade menabung, mereka memutuskan pada 2020 untuk mulai membangun kembali apa yang hilang, kali ini dimulai dengan renovasi pesawat. Krisis virus korona, yang mencakup beberapa penguncian, memukul ekonomi Palestina dengan keras dan menyebabkan penundaan lebih lanjut.

Setelah berbulan-bulan bekerja, pesawat hampir siap untuk layanan penuh. Interiornya baru dicat, dilengkapi dengan listrik, dan sembilan meja dan pintu-pintunya terhubung ke dua jalur jet tua yang memungkinkan pelanggan untuk naik dengan aman. Hidung pesawat dicat dengan warna bendera Palestina dan ekornya dengan warna Yordania.

Kafe sudah buka dan kedua bersaudara ini berharap untuk membuka restoran bulan depan. Mereka berencana memasang dapur di bawah badan pesawat untuk menyajikan makanan kepada pelanggan di dalamnya.

Tapi, tujuan jangka panjang mereka untuk membangun kembali taman hiburan dan kolam renang masih jauh. Pasangan ini mengatakan bahwa kecewa karena tidak menerima dukungan keuangan dari pemerintah kota dan sedang mencari investor.

“Insya Allah, saya berharap proyek ini berhasil dan menjadi yang terbaik,” kata Ata.

IHRAM

Palestina: Kerikil Perkasa Hingga Batu Bicara

Sebelas hari Zionis Israel membombardir Gaza, setelah sebelumnya menyerang jamaah i’tikaf Masjid Al Aqsha. Sedikitnya 232 warga Palestina gugur syahid dalam serangan udara itu. Termasuk 65 anak-anak dan 39 wanita.

Namun, tiba-tiba Zionis Israel ‘menyerah’ dengan bersegera gencatan senjata. Setelah roket-roket Hamas mampu menembus pertahanan utama Iron Dome. Hingga jatuh di Tel Aviv, ibukota sekaligus jantung Zionis Israel.

Maka, Rakyat Palestina pun merayakan kemenangannya. Demikian pula masyarakat anti penjajahan yang sebelumnya sudah mengutuk Zionis Israel, turut berbahagia dengan kemenangan itu. Di media sosial seperti Twitter, kemenangan Palestina membahana.

Apa yang melatari perang yang kemudian dikenal sebagai Perang Saif Al Aqsha itu? Dan mengapa justru yang menang adalah Palestina?

Buku Palestina: Kerikil Perkasa Hingga Batu Bicara menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Bukan hanya kronologi Perang Saif Al Aqsha 2021 dan mengapa Palestina keluar sebagai pemenang dalam perang sebelas hari itu, tetapi juga akar masalah Palestina vs Israel selama ini.

Dalam membahas akar masalah tersebut, buku ini tidak hanya memaparkan secara historis, tetapi juga menghadirkan pendekatan Al-Qur’an. Juga alasan-alasan mengapa kita harus membela Palestina.

Selain itu, di dalam buku ini diungkapkan kisah-kisah keteladanan bangsa Palestina dalam melawan kezaliman dan penjajahan. Juga ada kisah keajaiban perjuangan Palestina yang akan terus membara hingga batu bicara.

Buku ini terdiri dari lima bagian. Bagian pertama, #PalestinaUnderAttack 2021. Kedua, Keajaiban Sikap Palestina. Ketiga, Akar Masalah. Keempat, Mengapa Kita Membela Palestina. Dan kelima, Bela Palestina Hingga Batu Bicara.

Palestina: Kerikil Perkasa Hingga Batu Bicara merupakan buku kelima yang ditulis oleh Muchlisin BK. Sejak mahasiswa, Pembina Ikadi Gresik dan Koordinator Divisi Jarcab FLP Jawa Timur ini memiliki perhatian serius pada Palestina dan terlibat aktif dalam aksi pembelaan untuk Palestina.

Yang berbeda dari buku kebanyakan, 100 persen keuntungan buku ini akan didonasikan untuk Palestina melalui ACT. Jadi, setiap membeli buku ini, Anda turut berdonasi untuk Palestina. []

Identitas Buku:
Judul buku: Palestina: Kerikil Perkasa Hingga Batu Bicara
Penulis: Muchlisin BK
Penerbit: Haura
Tanggal Terbit: Mei 2021
ISBN: 978-623-320-302-9
Tebal halaman: 102 halaman
Dimensi: 14×20 cm

BERSAMA DAKWAH

Saya akan Lindungi Masjid al-Aqsha Sampai Mati!

Seorang wanita secara sukarela berjaga untuk melindungi Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur dari serangan Israel.

Dia mengatakan dia akan terus mempertahankan situs suci Muslim itu sampai dia terbunuh atau wilayah Palestina yang diduduki dibebaskan dari pendudukan Israel.

Hatice Huveys, seorang guru berusia 44 tahun, menceritakan bahwa dia dan keluarganya mengalami penuntutan dan pelecehan oleh otoritas Israel saat menjaga masjid.

Huveys mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa dia telah ditahan oleh pasukan Israel sebanyak 28 kali sejak 2014. 

Dia meneteskan air mata untuk pertama kalinya ketika pasukan Israel melepaskan jilbab dan mantelnya saat ditahan di penjara Israel sekitar empat tahun lalu.

Dia dijatuhi hukuman penjara selama 23 hari pada tahun 2017 atas tuduhan terkait dengan Masjid Al-Aqsa dan memprotes masuknya pemukim Yahudi ke situs tersebut.

Ketegangan terbaru dimulai di Yerusalem Timur yang diduduki selama bulan suci Ramadhan dan menyebar ke Gaza sebagai akibat dari serangan Israel terhadap jamaah di kompleks masjid titik nyala dan lingkungan Sheikh Jarrah.

Jet Israel telah melancarkan serangan udara di seluruh Jalur Gaza sejak 10 Mei, meninggalkan jejak kehancuran besar-besaran di seluruh wilayah pantai pada saat gencatan senjata dimulai pada Jumat pagi antara Israel dan kelompok perlawanan Palestina, Hamas.

Setidaknya 279 warga Palestina tewas hingga Sabtu, termasuk 69 anak-anak dan 40 wanita, dan 1.910 lainnya terluka dalam serangan Israel di Jalur Gaza, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.

IHRAM

Palestina dalam Nubuwat Akhir Zaman

Ramadhan 1435 H merupakan ujian keimanan yang cukup berat. Pasukan Zionis Israel mengulang kembali kebrutalannya sebagaimana Gaza 2 atau 5 tahun yang silam. Tanpa ada perang terbuka seperti yang terjadi saat ini, sebenarnya kaum Muslimin di Gaza dan Palestina juga tidak pernah merasakan kedamaian dan ketentraman hidup yang layak. Sebab, kaum Zionis tiada henti melakukan konspirasi dan kedzaliman.

Kedzaliman semacam ini telah berlangsung di Palestina selama puluhan tahun. Bahkan sejarah negeri Syam yang di dalamnya termasuk Palestina merupakan sejarah yang tidak pernah sepi dari peperangan antara kaum Muslimin dengan bangsa Yahudi dan Nashrani. Perang Salib adalah sedikit contoh bagaimana penduduk Syam / Palestina memang tidak pernah berhenti pertarungan antara hak dan bathil.

Muncul pertanyaan dalam benak kita, apakah memang negeri itu sudah ditakdirkan menjadi ajang pertarungan yang tidak akan kunjung usai hingga datangnya kiamat? Nampaknya kita perlu melihat kembali apa yang telah diingatkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam dalam banyak nubuwatnya. Setidaknya, inilah beberapa nubuwat yang pernah disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassallam tentang negeri Syam / Palestina.

Pertama, Palestina akan menjadi bumi ribath sampai akhir zaman

Mu’awiyah bin Abi Sufyan berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang menegakkan agama Allah, orang-orang yang memusuhi mereka maupun tidak mau mendukung mereka sama sekali tidak akan mampu menimpakan bahaya terhadap mereka. Demikianlah keadaannya sampai akhirnya datang urusan Allah.” Malik bin Yakhamir menyahut: Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa mereka berada di Syam.” Mu’awiyah berkata, “Lihatlah, ini Malik menyebutkan bahwa ia telah mendengar Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa kelompok tersebut berada di Syam.” [ HR. Bukhari: Kitabul Manaqib no. 3369 dan Muslim: dalam Kitabul Imarah no. 3548].

Tentang negeri Syam yang disebutkan dalam hadits di atas, riwayat di bawah ini memperjelas bahwa negeri Syam yang dimaksud adalah Palestina. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dari Abu Umamah, ia berkata, Rasulullah bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berada di atas kebenaran, mengalahkan musuh-musuhnya, dan orang-orang yang memusuhi mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya terhadap mereka kecuali sedikit musibah semata. Demikianlah keadaannya sampai akhirnya datang urusan Allah.”“Wahai Rasulullah, di manakah kelompok tersebut?”tanya para sahabat. “Mereka berada di Baitul Maqdis dan serambi Baitul Maqdis.”

Maka, berbagai pertanyaan yang terus menggelayuti benak setiap Muslim; mengapa konflik di Palestina dan pertikaian antara umat Islam dan Yahudi tak kunjung usai, barangkali bila dilacak dari sudut pandang takdir bisa dijawab dengan hadits ini. Sungguh, negeri Palestina tidak akan pernah sepi dari peperangan antara kaum Muslimin dengan musuh-musuhnya. Dan, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat di atas, musibah apapun yang ditimpakan oleh musuh-musuh Islam terhadap kaum Muslimin di Palestina, hal itu tidak memberikan madharat kecuali sedikit musibah.

Maknanya, bahwa sehebat apapun gempuran musuh yang ditimpakan terhadap umat Islam di Palestina, maka hal itu tidak akan pernah membuat komunitas di negeri itu lenyap. Ada semacam jaminan bahwa umat Islam di negeri itu akan tetap eksis. Dan jihad di negeri itu akan terus berlanjut sampai akhir zaman; sampai kaum Muslimin berhasil mengalahkan Dajjal.

Kedua, Palestina akan menjadi Bumi Hijrah di Akhir Zaman

Nubuwat lain yang juga menakjubkan adalah bahwa negeri Palestina ini akan menjadi bumi hijrah akhir zaman. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dari Abdullah bin Amru bin Ash berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda, “Akan terjadi hijrah sesudah hijrah, maka sebaik-baik penduduk bumi adalah orang-orang yang mendiami tempat hijrah Ibrahim, lalu yang tersisa di muka bumi hanyalah orang-orang yang jahat. Bumi menolak mereka, Allah menganggap mereka kotor, dan api akan menggiring mereka bersama para kera dan babi.” [HR. Abu Daud. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 3202]

Ketiga, Palestina akan menjadi Tempat Tegaknya Khilafah di Akhir Zaman

Nubuwat lain yang disebutkan oleh Rasulullah n. adalah bahwa Palestina akan menjadi salah satu tempat tegaknya Khilafah di akhir zaman. Hal itu sebagaimana yang disebutkan bahwa Abdullah bin Hawalah Al-Azdi berkata, “Wahai Ibnu Hawalah, jika engkau melihat kekhilafahan telah turun di bumi Al-Maqdis (Baitul Maqdis, Palestina), maka itu pertanda telah dekatnya berbagai goncangan, kegundah-gulanaan, dan peristiwa-peristiwa besar. Bagi umat manusia, kiamat lebih dekat kepada mereka daripada dekatnya telapak tanganku kepada kepalamu ini.” [HR: Abu Daud no. 2535]

Keempat,  Asqolan (wilayah Palestina yang kini dalam cengkeraman penjajah Zionis Israel) akan menjadi salah satu tempat terbaik untuk ribath

Dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah n bersabda, “Permulaan dari perkara Islam ini adalah kenabian dan rahmat. Kemudian tegaknya khilafah dan rahmat. Kemudian berdiri kerajaan dan rahmat. Kemudian berlaku pemerintahan (kerajaan kcil-kecil) dan rahmat. Kemudian orang-orang memperebutkan kekuasaan seperti kuda-kuda yang berebut makanan. Maka (pada saat seperti itu), hendaklah kalian berjihad. Sesungguhnya jihad yang paling utama adalah ribath, dan sebaik-baik ribath kalian adalah di Asqalan.” [HR. Thabrani].*

HIDAYATULLAH

Konflik Palestina-Israel: Membaca Ulang Kredo Janji Tuhan yang Masih Diserukan

Merujuk keterangan yang diungkapkan oleh Roger Geraudy, disebutkan bahwa di antara faktor yang mendorong kehadiran orang Yahudi ke wilayah Syam–yang didudukinya saat ini–ialah semangat keagamaan. Zionisme sebagai gerakan keagamaan mengharapkan gunung Zion yang terletak wilayah Syam untuk dijadikan sebagai tempat suci bagi golongan mereka dan orang Yahudi di seluruh dunia. Mereka menganggap hal itu sebagai janji Tuhan yang perlu direalisasikan. Zionisme yang berevolusi menjadi gerakan politik lantas memanfaatkan harapan tersebut untuk mendirikan negara bagi orang Yahudi di seluruh dunia. Adapun wilayah yang mulanya diincar ialah Argentina atau Uganda.

Setelah gerakan Zionisme internasional mengetahui keinginan Zionisme keagamaan untuk menjadikan wilayah Syam menjadi tempat suci Yahudi, maka kemudian gerakan Zionisme internasional menetapkan tempat tersebut menggantikan pilihan awalnya, yakni Argentina atau Uganda, untuk dijadikan negara Yahudi. Berdasar alasan tersebut, George Lenczowski menambahkan bahwa legitimasi yang diperoleh orang Yahudi untuk mempunyai negara sendiri itu diperoleh atas putusan Kongres Zionis pada tahun 1897 yang berlangsung di Bazel, Swiss.

Keinginan untuk mendirikan negara Yahudi pun semakit kokoh pascapenegasan dukungan atas berdirinya negara Yahudi di tanah Palestina dalam Deklarasi Berfour pada tahun 1917. Bahkan cita-cita berdirinya negara Yahudi semakin nyata lagi setelah wilayah Palestina ditempatkan di bawah protektariat Inggris oleh Liga Bangsa-bangsa pada tahun 1922.

Orang-orang Yahudi–khususnya dari Eropa–yang berpindah ke Palestina ternyata semakin banyak, setelah golongan mereka mengalami pengejaran dan terancam dimusnahkan pada masa kekuasaan Hitler di Jerman. Selain alasan tersebut, kepindahan mereka juga dikatakan sebagai perjalanan menuju tanah yang terbentang dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Eufrat di Irak, yang mereka klain sebagai tanah yang dijanjikan Tuhan untuk mereka.

Klaim tersebut banyak terdengar lantaran Perdana Menteri Israel yang pertama, Golda Mier, menyatakan bahwa, “Negeri ini (Israel) berdiri merupakan akibat dari janji Tuhan sendiri. Oleh karenanya, memohon pengakuan dan keabsahan merupakan sebuah tindakan yang menggelikan.” Manachem Begin juga pernah menyatakan bahwa, “Negeri ini merupakan janji Tuhan untuk kami, sehingga kami mempunyai hak penuh atasnya.”

Membaca kedua ungkapan di atas, terdapat satu dalil keagamaan yang mereka gunakan sebagai justifikasi atas tegaknya Israel, yakni “Janji Tuhan”. Kredo yang sering diserukan mendampingi istilah-istilah lain, seperti “Bangsa Pilihan” dan “Israel Raya” yang terbentang dari Mesir hingga Irak itu, menunjukkan bahwa golongan mereka seakan melihat peta wilayah yang dijanjikan Tuhan untuk mereka.

Klaim mereka sebagai keturunan Ibrahim (yang disebut mereka dengan Abraham), lantas menjadikan mereka seolah-olah menjadi orang yang memperjuangkan hak mereka dengan dasar “Janji Tuhan”. Padahal apabila dibaca ulang, bisa jadi yang dimaksud “Janji Tuhan” atas tanah yang mereka sucikan itu berkonsekuensi atas tanggung jawab untuk menjaganya, bukan berkonsekuensi atas hak untuk memilikinya.

Apabila dugaan di atas benar, yakni bagi mereka hanya sebatas tanggung jawab, maka dapat dimengerti bahwa yang mereka serukan tidak lain merupakan sebuah kedustaan. Kemudian jika benar terdapat janji atas hak untuk memiliki, maka menjadi hal yang janggal tatkala mereka memperjuangkan perkara yang dianggapnya baik, yakni “Janji Tuhan”, tetapi dengan cara-cara yang tidak baik. Hanya menjadi sebuah paradoks, ketika mereka menuntut kebenaran tetapi melegalkan tindak penaklukan, pengusiran, penindasan, dan pembunuhan.

Kerancuan selanjutnya ialah tatkala orang-orang Yahudi menyerukan klaim dan mengaitkan Israel dengan adanya hak historis sebagai bangsa yang pertama menduduki wilayah Palestina. Karena jika merejuk penelusuran Thomas Kiernan, para antropolog menduga bahwa orang-orang Yahudi Eropa bagian Timur hanya memiliki sedikit–sebagian lain menganggap tidak memiliki–hubungan biologis dengan Palestina. Bahkan menurut Roger Geraudy, orang Yahudi sejatinya tak memiliki legalitas dengan dasar historis, injili, maupun yuridis atas tempat yang didudukinya saat ini.

Berdasar uraian di atas, terdapat garis merah yang menandakan adanya kemungkinan bahwa pendudukan yang dilakukan oleh orang Yahudi dari penjuru dunia ke Palestina bukanlah karena kerinduan mereka pada “negeri nenek moyang dan leluhur mereka”, melainkan lebih sebagai akibat dari pengejaran-pengejaran yang mereka alami di berbagai wilayah. Mulai dari kepindahan golongan mereka dari Spanyol pada abad 15, hingga pengejaran dari Rusia di akhir abad 18.

Apabila dugaan yang diungkap oleh para ahli sejarah di atas memang benar, maka tidak sepantasnya jika upaya pendudukan dan pengusiran yang dilakukan oleh para pengungsi terhadap penduduk yang lebih dulu mendiami suatu wilayah itu dapat dibenarkan. Selanjutnya, yang lebih pantas diharapkan bukanlah sekadar kebenaran sejarah semata, tetapi yang lebih penting lagi ialah harapan supaya konflik di antara dua negara (Palestina-Israel) dapat mencapai titik damai. Wallahu a’lam bish shawab.

BINCANG SYARIAH

Palestina Versus Zionis di Pangkuan Inggris

Sebelum kekalahan kelompok sentral dari sekutu dalam Perang Dunia I (1914-1918 M), Palestina menjadi wilayah yang secara geografis masuk Provinsi Syria yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kekhalifahan Turki Usmani yang berpusat di Istanbul. Mengingat posisi Yerussalem yang menjadi kota suci bagi tiga agama: Islam, Kristen dan Yahudi, yang merupakan bagian dari Palestina, maka hampir semua negara-negara besar di Eropa seperti Jerman, Inggris, Prancis dan Amerika Serikat memiliki kantor perwakilan di Yerussalem.

Sebagai penguasa Palestina, wakil dari Turki Usmani, Jamal Pasha setelah mendengar kabar penyerangan Sir Edmond Allenby, Panglima tentara Inggris ke wilayah Palestina, ia memutuskan untuk mendeportasi kaum Yahudi yang telah berada di Yerussalem dari wilayah Palestina.

Pada 25 November 1917, Allenby berhasil menduduki wilayah Nablus, satu kota strategis dekat Yerussalem. Kontak senjata antara pasukan Turki-Palestina yang diperkuat oleh tantara Jerman melawan tantara Inggris terjadi selama empat hari.

Pada akhirnya pasukan gabungan Turki-Palestina dan Jerman tersebut harus menanggung kekalahan. Sejak itu secara defakto Palestina berada di bawah kekuasaan tentara Inggris. Kemudian pada 4 Desember 1917, Inggris secara dejure menduduki Palestina karena saat itu seluruh kekuatan Turki Usmani, tentara Palestina pimpinan Amin al-Husaini sudah menyerah.

Pendudukan Inggris atas Palestina terus berlanjut; perlawanan sporadis gerilyawan Palestina tidak punya pengaruh signifikan. Masa transisi antara 1918-1922 digunakan oleh “penguasa Inggris” di Palestina untuk mendukung gerakan migrasi besar-besaran kaum Yahudi dari berbagai negara terutama Eropa ke Palestina. Pada 24 Juli 1922, Inggris sebagai pemenang perang mendapat mandat dari Liga Bangsa-Bangsa (League of Nations) untuk menduduki Palestina dengan status mandatory government.

Dengan demikian, Inggris dan kaum Zionis secara leluasa dan legal menurut hukum internasional untuk mendukung kaum Yahudi mendirikan negara di bumi Palestina. Sementara negara-negara Arab terutama bangsa Palestina sendiri terus melakukan perjuangan diplomasi dan militer untuk menolak kehadiran negara Yahudi yang dijanjikan Inggris sesuai perjanjian Balfour.

Mereka menuntut: 1.) Menghapus perjanjian Balfour yang dinilai tidak adil terhadap hak-hak bangsa Palestina. 2.) Menghentikan migrasi kaum Yahudi dari luar tanah Palestina. 3.) Mengentikan penjulan tanah kepada kaum Yahudi. 4.) Mendirikan pemerintahan Palestina yang dipilih oleh parlemen sebagai penjelmaan keinginan hakiki dari rakyat Palestina. 5.) Terus melakukan gerakan yang mengkombinasikan antara diplomasi dan militer dengan pemerintahan mandat Inggris agar hak-hak Palestina tidak terabaikan.

Pada sisi lain, masa antara 1922-1937 di kalangan bangsa Arab dikenal sebagai revolusi besar bangsa Palestina. Kondisi keamanan yang kurang kondusif sebagai akibat dari perlawanan bangsa Palestina yang terus menerus dan gerakan diplomasi negara-negara Arab dan Palestina sendiri, memaksa pemerintahan mandat Inggris pada 1937 untuk mengajukan proposal pembagian dua negara: Israel dan Palestina. Proposal ini menyebutkan bahwa status kota suci Yerussalem dan Betlehem serta jalan menuju dua kota suci ini berada dalam pengawasan internasional. Agar bangsa Arab bisa menerima, proposal ini juga menyebutkan bahwa negara Yahudi yang akan berdiri dan pemerintahan mandat akan membantu administrasi dan birokrasi serta mendukung keuangan negara Palestina yang akan didirikan sebagai kompensasi penerimaan bangsa Arab terhadap negara Yahudi, Israel.

Menjelang meletusnya Perang Dunia II (1939-1945 M) kekuatan politik Inggris di kancah internasional mulai meredup dan digantikan posisinya oleh Amerika Serikat. Untuk itulah kaum Zionis terutama yang tinggal di Amerika untuk melakukan pendekatan dan gerakan diplomasi dengan presiden Amerika Franklin Delano Roosevelt (1933-1945 M). Sementara bangsa Arab dan pejuang Palestina masih menganggap Inggris sebagai pemegang kunci diberikannya status negara bagi bangsa Palestina. Karena akhir dari Perang Dunia II menaikkan kekuatan politik dan diplomasi Amerika Serikat yang mengungguli Inggris, maka kaum ZIonis Yahudi sangat diuntungkan. Sedangkan bangsa Arab dan Palestina menelan banyak kekecewaan karena migrasi besar-besaran kaum Yahudi tidak pernah berhenti dan pembelian tanah dari rakyat Palestina terus berlanjut.

Setelah beberapa tahun kaum Yahudi dan Palestina terlibat konflik sebagai akibat adanya usulan Komisi Inggris-Amerika pada 1945 yang menganjurkan penerimaan 100,000 kaum Yahudi di Palestina. Usulan tersebut kemudian ditolak oleh Inggris karena hal itu diprediksi akan memunculkan gelombang kerusuhan antara kaum Yahudi dan Palestina. Inggris merasa usulan tersebut ditolak baik oleh Palestina maupun oleh kaum Yahudi. Karena itu, badan PBB yang barusaja dibentuk kemudian mengusulkan rencana pembagian Palestina menjadi dua negara, satu negara Arab dan satu negara Yahudi dengan Yerussalem ditujukan sebagai kota internasional (corpus separatum) untuk menghindari status mengenai kota itu.

Komunitas Yahudi menerima rencana tersebut, tetapi Liga Arab dan Komite Tinggi Arab menolaknya atas alasan kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh wilayah padahal komposisinya hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk Palestina. Sebagai bentuk penolakan atas usulan tersebut, maka pada tanggal 1 Desember 1947, Komite Tinggi Arab mendaklarasikan pemogokan selama 3 hari dan kelompok-kelompok Arab mulai menyerang target-target Yahudi. Karena itu perang antara orang Arab dan orang Yahudi pun tidak terelakkan yang membawa konsekuensi tidak kecil, terutama keruntuhan perekonomian warga Arab Palestina dan sekitar 250,000 warga Arab Palestina diusir ataupun melarikan diri. Pada 14 Mei 1948, sehari sebelum Mandat Inggris, Agensi Yahudi, David Ben-Gurion (1886-1973 M) memproklamasikan kemerdekaan dan menamakan negara yang didirikan tersebut dengan nama Israel. Sekaligus dia dinobatkan sebagai Perdana Menteri pertama Israel pada tahun 1949 M. Sedang Presiden pertama adalah Chaim Weizzman.

Pasca proklamasi Israel, perang Kembali terjadi antara pihak Arab dan Yahudi. Ketika itu, pihak Arab telah mengepung Israel dari berbagai penjuru. Negara-negara Arab yang bertetangga langsung dengan Israel seperti Mesir, Yordania, Syria dan Lebanon telah menyiapkan pasukan mereka masing-masing. Mesir dikenal memiliki tentara didikan Inggris. Yordania (saat itu Transjordan) dipimpin oleh Brigadir John Bagot Glubb. Irak, Suriah dan Lebanon memiliki pasukan yang banyak diisi oleh relawan.

Perang ini berakhir dengan kemenangan Israel. Kasus korupsi yang saat itu terjadi di masa pemerintahan Raja Farouk di Mesir menyebabkan krisis persenjataan dan makanan. Hal ini tentunya berakibat buruk pada pasukan Mesir. Pasukan Transjordan mungkin memperlihatkan usaha yang lebih baik, namun tetap tidak berpengaruh besar. Pasukan Irak dipersulit oleh jarak mereka yang jauh. Sementara itu, pasukan Lebanon dan Suriah tidak memperlihatkan perjuangan yang sungguh-sungguh, dikarenakan latar belakang mereka yang merupakan pasukan yang amatiran dan tidak profesional.

Pada 1956, para pemimpin Israel pernah berencana untuk mengadakan konfrensi perdamaian. Dalam konfrensi ini, dibacakan jalan apa saja yang dapat diambil demi tercapainya perdamaian antara bangsa Arab dan Israel. Para pemimpin Arab menolak undangan tersebut. Menurut mereka, jika bangsa Arab memenuhi undangan konfrensi tersebut maka sama saja mereka mengakui hak Israel untuk berdiri di atas tanah Palestina.

Rentang perjalanan waktu pasca Israel berdiri, di berbagai belahan dunia muncul berbagai demonstrasi dan unjuk rasa dilakukan, baik oleh kaum Muslim maupun non muslim untuk mengecam Israel, berharap negara ini dihapus dari muka bumi. Kebencian bangsa dunia terhadap Israel disebabkan agresi dan perluasan wilayah yang terus dilakukan di tanah Palestina secara tidak manusiawi. Bahkan kelompok internal Yahudi sendiri mengecam Israel. Neturei Karta misalnya yang merupakan kelompok Yahudi anti-Zionisme. Mereka menentang visi misi Zionisme. Selain itu, bahwa Yahudi menurut mereka adalah agama, bukan bangsa atau etnik.

Perkembangan lebih lanjut pasca perang 1967 yang menunjukkan hegemoni kekuatan militer Israel, berakibat diplomasi negara-negara Arab dan perjuangan militer bangsa Palestina semakin meredup. Semangat perang dan kemengan politik muncul Kembali setelah perang yang di Mesir popular dengan perang 6 Oktober 1973. Dalam perang itu, ternyata tentara gabungan Mesir, Yordania dan Syria memiliki kekuatan yang mampu merontokkan mitos “kehebatan Israel.”

Ini karena tentara Mesir mampu mengalahkan bahkan bisa mengusir mereka dari sebagian wilayah provinsi Sinai yang pada perang 1967 diduduki oleh Israel. Kemenangan ini membuat dinamika diplomasi perdamaian yang disponsori Amerika bergerak lagi. Inilah latar belakang terjadinya perjanjian Camp David antara Mesir-Israel pada 1979 yang di antaranya menyebutkan meletakkan dasar-dasar dan prinsip perdamaian, memperluas resolusi DK PBB nomor 242, menyelesaikan apa yang disebut sebagai “masalah Palestina”, menyetujui perdamaian Mesir-Israel, serta perdamaian antara Israel dan negeri-negeri tetangganya yang lain. Sebagai konsekuensi perjanjian ini Mesir dan Israel saling mengirim duta besar yang ditempatkan di Kairo dan Tel Aviv.

Pada pihak lain, karena perjanjian Camp David tidak mendapatkan restu dari Liga Arab, maka hampir seluruh negara-negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Mesir. Ini karena menurut mayoritas negara-negara Arab, Mesir “berkhianat” terhadap perjuangan negara Palestina. Tapi dalam perkembangan berikutnya, Yordania juga melakukan hubungan diplomatik, ekonomi dan budaya dengan Israel. Dua negara tersebut menjalin hubungan diplomatik secara resmi sejak 1994 dengan menandatangani perjanjian perdamaian Israel–Yordania. Raja Abdullah dari Yordania memandang Israel sebagai aliansi wilayah vital di Timur Tengah.

Gerak diplomasi antara Israel dengan negara-negara Arab berubah menjadi diplomasi antara Israel dan wakil Palestina. Dalam hal ini adalah organinasi pembebasan Palestina (PLO) yang dipimpin oleh Yasser Arafat (1929-2004 M). Gerak diplomasi yang didukung oleh Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa menghasilkan perjanjian Oslo pada 1993. Poin penting dalam perjanjian itu adalah pengakuan PLO terhadap negara Israel dan sebaliknya, pengakuan pemerintah Israel terhadap PLO sebagai perwakilan rakyat Palestina dan mitra negosiasi.

Selain itu, perjanjian Oslo juga membahas peta jalan menuju perdamaian Israel-Palestina. Di samping itu, perjanjian Oslo diteruskan dengan perjanjian perdamaian sementara untuk membentuk Pemerintah Otonomi Palestina 1993 yang di antaranya Israel menyetujui pemberian otonomi terbatas terhadap Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, yaitu dua wilayah yang diduduki Israel dalam perang Timur Tengah 1967 sekaligus sebagai peta jalan menuju Palestina merdeka.

Jika Anak Anda Bertanya Soal Palestina Sampaikan 25 Informasi Penting Berikut Ini

Apa yang mau Anda sampaikan saat anak-anak di rumah bertanya tentang rakyat dan tanah  Palestina?  Apakah Anda sudah mempunyai jawaban untuk disampaikan namun mampu diserap dengan mudah. Bagi anak setiap satu pertanyaan yang dijawab maka akan muncul lagi-lagi pertanyaan berikut sebagai bentuk rasa penasarannya.

Nah berikut ini Ustaz Dr. Jasim Al- Muthawwa memberikan 25 informasi penting tentang Palestina untuk disampaikan kepada anak-anak.

1. Ceritakan kepada anak Anda, “Wahai anakku, sesungguhnya Palestina adalah tempat tinggal para Nabi.

2. Nabi kita Ibrahim AS hijrah ke Palestina.

3. Nabi Luth AS diselamatkan oleh Allah dari azab yang turun pada kaumnya menuju bumi yang diberkahi, bumi Palestina.

4.Nabi Daud AS tinggal di Palestina dan membangun mihrabnya,

5, dan Nabi Sulaiman AS memerintah seluruh dunia dari Palestina, kisahnya yang populer dengan semut dan berkata :

“Hai semut masuklah ke tempat tinggal kalian” , tempat yang disebut dengan wadi an-naml (lembah semut) di Palestina dekat (‘Asqalan).

6. Di Palestina juga terdapat mihrab Zakaria AS ,

7.sebagaimana Musa AS meminta kaumnya memasuki Bumi Muqaddasah, ia menamakan dengan Al-Muqaddasah, yakni (suci) dari syirik, dan dijadikan tempat tinggal para Nabi.

8.Banyak mukjizat yang terjadi di dalamnya diantaranya

9. kelahiran Nabi Isa dari ibunya Maryam, seorang gadis kecil tanpa suami, dan Allah mengangkatnya ketika Bani Israil sepakat untuk membunuhnya.

10. Di Palestina Maryam menggoyang batang pohon kurma setelah kelahirannya dalam kondisi paling lemahnya wanita.

11.Termasuk tanda-tanda akhir zaman di Palestina, Isa akan turun di menara putih,

12. dan akan membunuh Dajjal di gerbang Lod Palestina,

13. dan itu adalah tanah Mahsyar dan Mansyar,

14. dan Ya’juj dan Ma’juj akan dibunuh di bumi Palestina di akhir zaman, serta banyak cerita lain terjadi di Palestina,

15. diantaranya kisah Thalut dan Jalut.

16. Anak saya bertanya, “Bagaimana dengan Nabi SAW dan hubungannya dengan Palestina?”Saya jawab, “Dulu kiblat pada awal diperintahkannya shalat menghadap ke Palestina, dan ketika Nabi hijrah ke Madinah malaikat Jibril turun dan beliau sedang shalat, Jibril memerintahkan untuk mengubah kiblat dari Baitul Maqdis ke Mekah Al-Mukarramah lalu masjid tempat beliau shalat dinamakan masjid Dzulqiblatain (dua kiblat).

17. Demikian juga ketika Rasulullah melakukan Isra’, beliau pergi ke Baitul Maqdis sebelum Mi’raj ke langit. Inilah terminal pertama

18.Beliau berhenti setelah berangkat dari Mekah menuju langit, dan beliau menjad imam shalat para Nabi, karenanya tempat ini menjadi maqar para Nabi.

19. Abu Dzar Ra, bertanya kepada Rasullah, “Masjid mana yang pertama diletakkan oleh Allah dimuka bumi?” Beliau menjawab, “Masjidil Haram.” Aku bertanya lagi, “Kemudian masjid mana?” Beliau menjawab, “Masjidil Aqsha.” Aku bertanya lagi, “Berapa jarak antara keduanya?” Beliau menjawab, “Empat puluh tahun.” Kemudian beliau bersabda, “Dimanapun shalat menjumpaimu maka shalatlah, dan bumi bagi kalian adalah masjid.”

20. Wahai anakku, Apakah kamu tahu bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra. meskipun sibuk dengan masalah kemurtadan orang-orang Arab di Jazirah Arab dengan memobilisasi pasukan untuk memerangi mereka agar kembali ke Islam yang benar, beliau tidak membatalkan pasukan yang diperintahkan Nabi untuk pergi ke Syam, meskipun membutukan kekuatan untuk mengembalikan stabilitas Jazirah.

21. Apakah kamu tahu masa keemasan penaklukan Islam di masa Umar Al-Faruq Ra, beliau tidak pernah keluar dari Madinah untuk merayakan penaklukan (pembukaan) negeri kecuali Palestina, beliau pergi ke sana sendiri dan membukanya dengan damai, shalat di dalamnya dan menerima kunci untuk menyelamatkan orang-orang Nasrani dari penindasan orang-orang Romawi saat itu.

22. Kemudian dibuka lagi oleh Shalahuddin di hari bersejarah tahun 583 H hari Jumat bertepatan dengan tanggal 27 Rajab, tanggal yang sama dengan malam mi’rajnya Nabi ke langit melalui Baitul Maqdis. Ini merupakan kesamaan yang ajaib dimana Allah memudahkan pengembalian Al-Quds kepada pemiliknya sama seperti waktu Isra’ dan Mi’raj.

23. Anak saya bertanya, “Kenapa dinamakan Baitul Maqdis dengan nama ini?” Saya menjawab, “Nama ini telah ada sebelum turunnya Al-Qur’an, ketika Al-Qur’an diturunkan ia disebut Masjid Al-Aqsha, dan dinamakan Baitul Maqdis karena kesuciannya yang istimewa. Karena itu, tanah Palestina dan Syam adalah tanah Ribath, telah syahid di dalamnya 5000 dari kalangan para sahabat mulia, mereka antusias untuk membuka Baitul Maqdis dan membebaskannya dari penindasan Romawi.

24.Para syuhada’ masih berguguran sampai hari ini, inilah tanah para syuhada’ dan tanah ribath.”

25. Anakku berkata, “Jadi pentingnya Masjid Al-Aqsha dan bumi Syam seperti pentingnya Haramain, Mekkah dan Madinah, bukankah seperti itu yah?”

Saya menjawab, “Ya, anakku. Allah Ta’ála mengumpulkan keduanya dalam firman-Nya :

“Demi buah Tin dan buah Zaitun. Dan demi bukit Sinai. Dan demi kota Mekah ini yang aman.” (At-Tin: 1-3).

Ibnu Abbas berkata: At-Tin adalah negeri Syam, Az-Zaitun negeri Palestina, bukit Sinai adalah gunung di mana Allah berbicara kepada Musa AS di Mesir, dan al-Balad al-Amin adalah Mekah Al-Mukarramah.

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan sungguh kami telah tetapkan dalam kitab-kitab setelah di catat di Lauh Mahfuzh bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hambaku yang shaleh.” (Al-Anbiya’: 105)

Salah satu tafsirnya bahwa umat Muhammad mewarisi tanah suci.

Anakku berkata, “Sekarang aku paham pentingnya Palestina dan Masjid Al-Aqsha, sebagaimana aku paham bahwa shalat didalamnya dilipatgandakan menjad 500 kali lipat, apakah ini benar?” Saya menjawab, “Ya, itu benar, dan jangan kamu lupakan anak-anak palestina dan penduduknya dari do’amu. Semoga Allah memberkahimu nak.”

Dengarkan Murrotal Al-Qur’an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

OKEZONE

Sudahi Penjajahan Atas Bangsa Palestina!

Kemarahan akibat serangan Israel memicu persatuan bersejarah di antara warga Arab di Palestina dan Israel.

Dunia kian padu dalam menyuarakan kecaman terhadap kekerasan dan penjajahan yang dilakukan negara Zionis Israel terhadap Palestina. Jutaan warga dunia bersatu dalam aksi membela Palestina dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Di Amerika Serikat, negara yang secara politis paling dekat dengan Israel, ribuan warga turun ke jalan-jalan sejak Sabtu (15/5) dan berlanjut hingga Senin (17/5) kemarin. Aksi unjuk rasa digelar merentang dari Los Angeles di pantai barat hingga New York di timur melintasi Boston, Chicago, Philadelphia, Atlanta, Oklahoma, Ohio. 

Seruan “Free Palestine!” dan “Long Live Intifada!” bergema di mana-mana. Di Atlanta, seruan “We can’t breathe since 1948” menghubungkan perjuangan pembebasan Palestina dengan gerakan Black Live Matter.

Yang terkini, ratusan orang berkumpul di depan Markas PBB di New York, Senin (17/5). Mereka datang untuk mengecam Dewan Keamanan PBB yang belum bisa berbuat apa-apa atas kekerasan Israel.

Bahkan di kalangan warga Yahudi AS, merujuk survei terbaru Pew Research, tinggal 34 persen yang menolak Israel diberi sanksi atas pelanggaran yang dilakukan negara itu.

Secara politik, menurut the Guardian, Presiden AS Joe Biden kian terasing dalam pembelaan mati-matiannya terhadap Israel. Golongan progresif dan umat Islam Amerika Serikat yang jadi lumbung suaranya pada pilpres lalu terus mempertanyakan dukungan tanpa syarat AS ke Israel. “Pengeboman ini terjadi dengan dukungan AS,” cicit legislator Partai Demokrat Alexandria Ocasio-Cortez, kemarin.

Ribuan orang juga menggelar protes terhadap kekejaman Israel dan membela kemerdekaan Palestina di London, Inggris. Sejarah mencatat bahwa Inggris adalah salah satu sponsor negara Israel melalui Deklarasi Balfour pada 1917.

Mereka berbaris di kedutaan Israel sambil berteriak “Bebaskan Palestina”. “Hari ini kami sudah cukup terlibat dalam kekerasan ini. Terima kasih telah mendukung kami,” kata Duta Besar Palestina untuk Inggris, Husam Zumlot, yang juga hadir.

Mantan pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn juga berbicara pada demonstran yang berkumpul di luar Kedubes Israel. “Ini adalah gerakan keadilan sedunia. Tanah Palestina dirampas dan rakyatnya dibunuh di rumah mereka. Ini semua ilegal,” ujar dia dilansir BBC

Unjuk rasa juga dilakukan di kota-kota Eropa lainnya seperti di Warsawa, Polandia; Berlin, Jerman; Milan, Italia; Madrid, Spanyol; Oslo, Norwegia; Amsterdam, Belanda; Siprus; Luxembourg; Istanbul, Turki; dan lainnya. 

Pada Senin (17/5), ribuan orang berpartisipasi mengibarkan bendera Palestina dan meneriakkan slogan-slogan mendukung rakyat Palestina di Toronto, Kanada. Aksi juga sebelumnya digelar di Afrika Selatan dan Kenya serta Selandia Baru dan Australia.

Di antara para pengunjuk rasa, sebagiannya bahkan menentang larangan berkumpul dan harus berhadap-hadapan dengan polisi demi menyuarakan pembelaan untuk Palestina. Di antaranya di Paris, Prancis, dan di Kashmir, India di mana 20 pengunjuk rasa ditangkap.

Di negara-negara mayoritas Muslim, aksi digelar mulai dari Kenya, Nigeria,Tunisia, Maroko, Mesir di Afrika; Yordania, Qatar, Irak, Iran, Lebanon di Timur Tengah; hingga Pakistan di Asia Selatan. Di Asia Tenggara, netizen Indonesia dan Malaysia yang kerap berseteru kini bersatu membombardir media sosial dengan pesan-pesan pro-Palestina. 

Sejauh ini, Dewan Keamanan PBB tak kunjung menerbitkan resolusi terkait kekerasan di Palstina karena masih dihalangi hak veto Amerika Serikat. Sementara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) berencana membawa resolusi ke Rapat Umum PBB.photoWarga yang tergabung dalam Aliansi Umat Islam Jawa Barat Peduli Palestina melakukan aksi solidaritas di depan Gedung Merdeka, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu (12/5/2021). Dalam aksi tersebut mereka mengutuk penyerangan Israel terhadap Masjid al-Aqsha dan rakyat Palestina serta mendesak Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk mengambil langkah membantu Palestina. – (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)SHARE 

Kendati demikian, media Israel Haaretz mengungkapkan, diplomat-diplomat di Israel mulai gerah dengan ramainya kecaman. Merka meyakini, dukungan internasional dari sejumlah negara sekutu juga mendekati akhir.

Pada akhirnya, tekanan itu setidaknya akan memaksa Israel melakukan gencatan senjata.

Makin bersatu

Pengusiran di Sheikh Jarrah, serangan polisi Israel ke Masjid al-Aqsha pada akhir Ramadhan lalu serta gempuran ke Jalur Gaza sejak sebelum Idul Fitri menimbulkan kemarahan luar biasa bagi warga Palestina. Kemarahan tersebut memicu persatuan bersejarah di antara warga Arab baik di Gaza, di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki Israel, bahkan yang tinggal di dalam batas sebelum 1948 alias di dalam wilayah Israel.

“Yang menakjubkan, bahkan warga Arab Israel yang tinggal dalam batas 1948 mulai menyerukan lagi bahwa mereka adalah bangsa Palestina,” kata Layla Hallaq, aktivis Palestina yang tinggal di Haifa kepada Aljazirah.

Seperti diberitakan belakangan, keturunan Arab di Israel melakukan protes besar-besaran di berbagai wilayah Israel. Di antaranya di Negev, Lod di bagian tengah Israel, hingga ke Haifa dan Nazareth di utara. Mereka tak mundur melawan polisi Israel serta kaum Yahudi garis keras. 

Berbagai kekerasan tersebut, termasuk di wilayah Lod tempat terjadinya pembakaran dan pembunuhan terhadap warga Arab, menakutkan bagi pemerintah Israel. “Perang sipil ini berbahaya bagi keberadaan kita, jauh lebih berbahaya dari semua yang kita hadapi di luar,” ujar Presiden Israel Reuven Rivlin dalam pernyataanya, Kamis (13/5) lalu.

Sedikitnya 1,6 juta keturunan Arab tinggal di dalam wilayah Israel. Mereka memilih bertahan saat Israel merampas wilayah tersebut pada 1948. Meski berkewarganegaraan Israel, kelompok pegiat HAM melaporkan bahwa mereka kerap mendapat diskriminasi.

Layka Hallaq mengiyakan, unjuk rasa terkini belum pernah terjadi sebelumnya. Bukan hanya dilakukan di Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan wilayah Israel, aksi-aksi juga dilakukan diaspora Palestina di berbagai belahan dunia. “Ini bukan hanya solidaritas, tetapi juga perjuangan dan penderitaan bersama yang dirasakan semua orang Palestina,” kata dia.

Sejauh ini, Israel kerap menjalankan kebijakan fragmentasi terhadap populasi Palestina. Hal tersebut sebelumnya menyulitkan koordinasi dan solidaritas perlawanan.

“Kejadian terkini menggarisbawahi bukan saja kesatuan sistem penindasan kolonial, tapi juga kesatuan perjuangan Palestina.” kata Nimer Sultany, seorang pengajar hukum publik di University of London’s School of Oriental and African Studies, kepada Aljazirah.

Sementara, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Paus Fransiskus melakukan percakapan via telepon pada Senin (17/5). Mereka membahas tentang serangan yang tengah dilakukan Israel ke wilayah Palestina, khususnya Jalur Gaza.

Menurut Direktorat Komunikasi Turki, seperti dikutip Anadolu Agency, dalam percakapan itu, Erdogan mengatakan kekejaman sedang dilakukan di Palestina. Serangan Israel, kata Erdogan, tidak hanya terhadap warga Palestina, tapi semua Muslim, Kristen, dan kemanusiaan.

Selain membunuh warga sipil, Erdogan menyebut Israel telah membatasi kebebasan beribadah di Yerusalem. Mereka memblokir akses ke Masjid al-Aqsha dan Gereja Makam Suci. Erdogan mengatakan pendudukan Israel juga membahayakan keamanan regional.

Erdogan menilai komunitas internasional harus memberi Israel respons jera. Dalam hal ini, Erdogan berpendapat reaksi yang berkelanjutan dari Paus Fransiskus mengenai serangan Israel terhadap Palestina bakal membantu memobilisasi dunia Kristen serta komunitas internasional. 

Sumber : Reuters/Associated Press

REPUBLIKA

Masjid Al-Aqsha Selalu Dihinakan di Tangan Non-Muslim

Masjid al-Aqsha berulang kali dijajah, juga dibebaskan oleh kaum Muslimin. Sejarah membuktikan, ketika dikuasai oleh non-Muslim, masjid suci ini selalu dihinakan.

Era Syiah

Pasca dibebaskan oleh Khalifah Umar bin Khaththab RA, kawasan Baitul Maqdis menjadi damai. Kondisi ini berlangsung hingga Dinasti Abbasiyah. Namun situasi berubah ketika dikuasai oleh Dinasti Fatimiyah di penghujung tahun 900-an.

Kekaisaran Fatimiyyah berpusat di Mesir. Mereka berhasil merebut kawasan Baitul-Maqdis sesudah mengalahkan pasukan Abbasiyah di Ramalah. Para penguasa Fatimiyah yang merupakan pemeluk sekte Ismaili Syiah –dengan demikian bukan Muslim– ini mulai melakukan perusakan terhadap Masjid al-Aqsha.

Selama berabad-abad, Masjid al-Aqsha telah menjadi pusat penyebaran dan pengembagan ilmu, mulai dari bahasa Arab sampai hukum dan aqidah. Semua itu dihentikan oleh penguasa Fatimiyah dan diganti dengan lembaga-lembaga Syiah.

Masa paling buruk terjadi di bawah kekuasaan al-Hakim (mulai tahun 996). Bukan saja menindas kaum Muslimin, dia bahkan memproklamirkan dirinya sebagai tuhan. Al-Hakim juga memerintahkan agar namanya menggantikan nama Allah dalam khutbah Jumat.

Al-Hakim melarang puasa Ramadhan dan berhaji ke Makkah. Di ujung kekuasaannya (tahun 1021), kawasan Baitul-Maqdis sudah bukan lagi menjadi pusat keilmuan Islam.

Akhirnya al-Hakim digantikan oleh sultan-sultan yang lebih “moderat” dan lebih bersahabat. Sesudah gempa bumi besar pada tahun 1030, Masjid al-Aqsha kemudian direnovasi.

Pada tahun 1073, Baitul-Maqdis direbut oleh Turki Seljuk yang merupakan Muslim Sunni dari Asia Tengah. Artinya, Masjid al-Aqsha kembali ke tangan kaum Muslimin.

Tradisi ilmu kembali berkembang. Ma’had-ma’had didirikan. Ulama berdatangan dari berbagai penjuru dunia untuk mengajar dan belajar, termasuk Abu Hamid al-Ghazali yang pindah ke Baitul-Maqdis pada tahun 1095. Dia tinggal di sudut timur kompleks Masjid al-Aqsha untuk beribadah dan menyelesaikan kitabnya, Ihya’ Ulumuddin.

Penindasan Salibis

Namun geliat bangkitnya kehidupan ilmu di Masjid al-Aqsha tidak  bertahan lama. Datanglah Pasukan Salib.

Pada tahun 1095, Kaisar Romawi Timur, Alexios, meminta bantuan kepada Paus Urbanus II di Roma untuk memerangi bangsa Seljuk di Semenanjung Antalya. Jawaban Paus adalah Perang Salib I. Tujuannya bukan untuk memerangi bangsa Seljuk, melainkan merebut Baitul-Maqdis dari tangan kaum Muslimin dan mendirikan kerajaan Katolik.

Sungguh sayang, waktu itu para pemimpin dan jenderal Muslim dalam keadaan berpecah belah. Sulit untuk bangkit melawan. Akibatnya, Pasukan Salib bisa terus merangsek maju.

Pada tahun 1099, Pasukan Salib sampai di Baitul-Maqdis. Dinasti Fatimiyah yang ketika itu sudah merebut kembali kawasan ini dari bangsa Turki Seljuk tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Akhirnya pada 15 Juli 1099, tentara-tentara Salib menerobos tembok dan masuk ke kota Baitul-Maqdis.

Terjadilah peristiwa paling mengerikan dalam sejarah Masjid al-Aqsha. Tentara-tentara Kristen menyatakan bahwa mereka akan menghabisi semua orang. Akibat ancaman itu, maka kaum Muslimin mengungsi dan mencoba berlindung di Masjid al-Aqsha. Namun Pasukan Salib berhasil masuk dan membantai semua orang yang berada di dalamnya.

Sejarah mencatat bahwa sejumlah tentara Salib menuliskan pembantaian yang mereka lakukan dengan penuh kebanggaan. Satu di antara mereka menyatakan betapa indahnya pemandangan para tentara Salib “berkubang darah sampai ke lutut” di dalam Masjid al-Aqsha!

Musnahnya kaum Muslimin di Baitul-Maqdis memungkinkan orang-orang Kristen melakukan perubahan di Masjid al-Aqsha. Penguasa pertama yang bernama Godfrey, menjadikan masjid tersebut sebagai kediamannya. Interior diubah sama sekali menjadi istana dengan dinding-dinding, ruang, dan taman-taman baru.

Semua tanda bahwa itu masjid, ditutup dan disingkirkan. Kaligrafi-kaligrafi ditutupi, sajadah-sajadah disingkirkan, dan mihrab-mihrab ditembok dengan batu bata.

Qubatush-Shakhrah atau Dome of the Rock diubah menjadi gereja yang diberi nama Temple of the Lord (Kuil Tuhan). Mereka menutup atau menyingkirkan semua tanda bahwa bangunan ini adalah bagian dari Masjid al-Aqsha. Batu di bawah kubah itu ditutup dengan marmer dan dijadikan altar.

Pembebasan Shalahuddin

Pada tahun 1180, tampillah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Pahlawan berdarah Kurdi itu berhasil menyatukan berbagai negeri Muslim di sekitar Baitul-Maqdis. Pasukan Muslimin bersatu padu sehingga berhasil membebaskan Baitul-Maqdis dari cengkeraman kaum Salib (tahun 1187).

Berbeda dengan yang dilakukan orang-orang Kristen 88 tahun sebelumnya, ketika pasukan Shalahuddin berhasil menaklukkan kaum Salib, tak ada yang namanya pembantaian. Orang-orang Kristen/tentara Salib hanya diminta untuk keluar dari kawasan Baitul-Maqdis. Kompleks Masjid al-Aqsha akhirnya bisa dikuasai kembali oleh kaum Muslimin.

Salahuddin bersumpah akan membersihkan kembali Masjid al-Aqsha dalam satu pekan sesudah pembebasan, dan menyiapkan untuk shalat Jumat. Sama seperti Amirul Mu’minin Umar bin Khaththab RA 550 tahun sebelumnya, Shalahuddin bekerja sama dengan Mujahidin membersihkan Masjid al-Aqsha dengan tangan mereka sendiri.

Berbagai sisa bangunan Kristen dibongkar. Kamar-kamar mandi dan perabotan yang ditinggalkan tentara Salib dikeluarka dari Masjid Jami’ al-Qibly. Tempat itu kemudian dibersihkan dengan air mawar oleh tangan Shalahuddin sendiri.

Mihrab dibuka kembali. Kaligrafi-kaligrafi nan indah kembali dipampangkan. Shalahuddin juga memasukkan sebuah mimbar ke Masjid Jami’ al-Qibly. Mimbar itu sudah disiapkan oleh Nuruddin Zanki di Damaskus sekian tahun sebelumnya, sebagai persiapan untuk menyambut pembebasan Baitul-Maqdis.*/Ditulis oleh tim peneliti Institut al-Aqsa untuk Riset Perdamaian (ISA) (Majalah Suara Hidayatullah edisi Oktober 2018).*

HIDAYATULLAH

Al-Qur’an Mengingatkan Karakter Yahudi yang Suka Berbuat Kerusakan

Di dalam Al-Qur’an, istilah Yahudi tidaklah disebutkan selain dalam konteks kecaman atau sejarah keburukan dan pembangkangan anak keturunan Israel atau Yahudza ini.

Bani Israel, Ibrani, Yahudi, Israel, maupun Zionis, istilah yang berbeda, namun essensinya hampir sama. Karakter dan perangai tabiat mereka yang suka berbuat kerusakan di muka bumi, licik, culas, jahat, suka mengusir penduduk lain, penjajah dan perusak kemakmuran bangsa lain telah diabadikan di dalam Al-Qur’an dan akan tetap relevan sepanjang zaman.

Cukuplah Al-Qur’an mengingatkan janganlah kalian menjadikan Yahudi sebagai teman, sahabat atau mitra penolong.

Sejak masa Nabi Musa (kisaran 1700 SM), Nabi Dawud dan Sulaiman, hingga berdirinya Israel Raya di tahun 1948 oleh kelompok Zionis, menjadikan sejarah Yahudi selalu dipenuhi oleh sejarah kelam, genosida, pembantaian dan peperangan tanpa henti.

Mimpi membangun kembali Haikal Sulaiman yang mereka yakini sebagai arah baru kebangkitan kejayaan bangsa Yahudi menjadi ambisi Yahudi Zionis yang ingin kembali merebut tanah negeri Palestina dan mengusir penduduk bangsa Arab.

Haikal Sulaiman yang mereka yakini berdiri di atas Masjid Al-Aqsha itulah yang sampai detik ini membuat mereka tetap bersemangat menggali terowongan di bawah Masjid yang pernah menjadi kiblat kaum muslimin.

Bagi orang Yahudi, Haikal Sulaiman yang dulunya diyakini sebagai tempat peribadatan bangsa Yahudi yang kemudian dihancurkan oleh Nabukadizer dari Babioliona merupakan simbol kejayaan bangsa Yahudi.

Haikal Sulaiman yang mereka yakini itu sesungguhnya tidak lebih dari Ilusi yang mereka yakini dari dongeng-dongeng Talmud; kitab yang mereka anggap suci dan bagian dari ajaran agama Yahudi.

Namun atas keyakinan ilusi itu, mereka tetap berambisi merobohkan Masjid Aqsha (tempat suci ketiga setelah Makkah dan Madinah). Mereka ingin kembali membangun Haikal Sulaiman yang mereka yakini dulunya pernah dibangun di atasnya bangunan masjid itu.

Bagaimana pun penduduk Arab Palestina, tidak pernah merelakan bangunan suci itu diporak-porandakan. Mereka lebih memilih rumah-rumah mereka dihancurkan, mereka lebih memilih keluarga, anak-anak mereka. Bahkan diri mereka yang terbunuh daripada harus menyerahkan Masjidil Aqsha kepada Zionis Yahudi.

Inilah mengapa orang Palestina lebih bangga menggapai Syahid atas nama mempertahankan tanah air mereka serta mempertahankan Masjid kebanggaan umat Islam dunia tetap berdiri tegak, kukuh, meski mereka harus tumbang dan mati.

Iesy karieman atau mut syahidan“. Hidup mulia atau mati syahid. Itulah semboyan akhir mereka yang menjadikan tetap bertahan meski rudal dan bom diarahkan ke arah mereka setiap saatnya.

KALAM SINDO