PBB Tolak Pengakuan Yerusalem Sebagai Ibu Kota Israel

Majelis Umum PBB, pada Kamis (21/12), telah menyetujui resolusi yang dengan tegas meminta Amerika Serikat (AS) menarik pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Resolusi ini disepakati 128 negara dan ditolak sembilan negara lainnya. Sedangkan 35 negara memilih abstain.

Dilaporkan laman BBC, dalam teks resolusi yang disusun Turki dan Yaman tersebut memang tidak disinggung secara eksplisit tentang diakuinya Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh AS. Namun dinyatakan terkait penyesalan mendalam atas keputusan baru-baru ini mengenai status Yerusalem.

Resolusi tersebut pun mengatakan, “Setiap keputusan dan tindakan yang dimaksudkan untuk mengubah karakter, status, atau komposisi demografis Kota Suci Yerusalem, tidak memiliki efek hukum, tidak berlaku, dan harus dibatalkan sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan (PBB) yang relevan.”

Kendati AS sempat melontarkan ancaman sebelum sesi khusus Majelis Umum PBB digelar, namun hal itu tak mempengaruhi negara-negara yang menentang diakuinya Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sebanyak 128 negara memilih “Ya” sebagai tanda menyetujui resolusi yang tidak mengikat tersebut.

Pada awal Desember lalu, Presiden AS Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Hal ini memicu protes dari berbagai negara, khususnya negara-negara Arab dan Muslim.

Setelah gelombang protes, Dewan Keamanan PBB menggelar sidang untuk melakukan pemungutan suara guna menyetujui resolusi yang menentang tindakan unilateral AS terhadap Yerusalem. Sebanyak 14 dari 15 anggota Dewan Keamanan PBB menyetujui resolusi tersebut, namun AS memvetonya.

Keputusan AS untuk memveto resolusi Dewan Keamanan mendorong digelarnya sesi khusus di Majelis Umum PBB. Di Majelis Umum, AS tidak memiliki hak veto seperti di Dewan Keamanan PBB.

Untuk mempertahankan keputusannya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, AS pun mengancam negara-negara anggota PBB agar tidak menentang pengakuan tersebut. Bila penentangan atau penolakan dilakukan, AS sesumbar akan memotong bantuan finansial ke negara-negara terkait.

 

REPUBLIKA

Israel dan Rusia Berkoordinasi dalam Operasi Menyerang Suriah

Penjajah Israel memberikan informasi intelijen kepada Rusia mengenai situs-situs oposisi di Suriah untuk memfasilitasi operasi militer Moskow, lapor Channel 2 TVIsrael, kutip middleeastmonitor.com.

Channel Israel tersebut mengatakan bahwa delegasi pejabat senior militer Rusia akan tiba di Israel pada hari Selasa untuk koordinasi operasi militer.

Delegasi tersebut akan dipimpin oleh Deputi Pertama Staf Umum, Jenderal Nikolai Bogdanovsky, yang akan menemui mitra Israel, Mayor Jenderal Yair Golan serta pejabat senior intelijen militer Israel lainnya, angkatan udara dan Mossad.

Channel 2 TV juga menyatakan bahwa kunjungan tersebut adalah kelanjutan dari pertemuan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu Presiden Rusia, Vladimir Putin di Moskow 3 minggu yang lalu.

Menurut laporan media tersebut, Israel akan mengirimkan permintaan Rusia dalam rangka pertukaran tawaran yang menarik untuk memfasilitasi operasi militer pasukan Rusia di Suriah.

Terungkap pula bahwa Netanyahu dan Putin telah menyetujui beberapa isu dasar, termasuk janji Rusia untuk menghentikan pasokan senjata dari Suriah kepada Hizbullah, begitu juga mengizinkan angkatan udara Israel untuk melaksanakan operasi tersebut secara bebas di Suriah, bahkan area milik tentara Rusia yang ditempatkan di pantai Suriah.

Pejabat Senior Rusia dan angkatan udara Israel akan membahas mekanisme koordinasioverflight (penerbangan di atas wilayah Negara lain) di wilayah udara Suriah untuk menghindari konflik dengan pesawat Rusia dalam operasi melawan pejuang oposisi dan pembebasan.

Pertemyan Jenderal Nikolai Bogdanovsky, dan Mayor Jenderal Yair Golan menyepakati mekanisme untuk menghindari “kesalahpahaman” dan bentrokan di wilayah udara Suriah antara jet militer Israel dan Rusia, demikian kutip hurriyetdailynews.com.

Laporan lain yang disampaikan oleh Radio Israel pada hari Ahad mengklaim bahwa Tel Aviv akan menyediakan intelijen penting dalam upaya mengurangi pengaruh Iran di Suriah.

Sementara itu, Mantan Menteri Luar Negeri Israel, Tzipi Livni, telah menyerukan kerja sama dengan Iran dan Hizbullah untuk melindungi kepentingan Israel.

Koran Ma’ariv mengutip perkataan Livni pada hari Jumat, Netanyahu harus mengerti bahwa dunia melihat Iran dan Hizbullah sebagai mitra yang sah dalam konfrontasi melawan ISIS.

Ia memperingatkan bahwa geostrategic Tel Aviv akan rusak pemimpin Israel tidak menyadari apa yang harus dilakukan untuk mempengaruhi pergeseran keseimbangan kekuatan di Suriah.*/Karina Chaffinch

Mengungkap Tokoh-Tokoh Bangsa yang Mesra dengan Israel

Dengan judul “Sahabat Akrab”, foto Reuters yang dimuat sejumlah harian Ibu Kota beberapa tahun lalu, memperlihatkan mantan menteri luar negeri Amerika Serikat, Condoleeza Rice, berjabatan tangan dengan mantan perdana menteri Israel, Ehud Olmert, di Yerusalem, Palestina. Keduanya tertawa-tawa, seolah-olah puas karena pasukan Israel berhasil melakukan pembunuhan massal terhadap rakyat Lebanon dan Palestina yang kebanyakan di antaranya perempuan dan anak-anak.

Israel yang mendapat dukungan AS juga mempergunakan senjata-sernjata pemusnah massal yang dinyatakan terlarang oleh konvensi Jenewa. AS yang kini makin terus terang membela Israel, menolak gencatan senjata dan menghendaki penyerbuan sekutunya itu ke Lebanon tanpa menghiraukan berapa pun korban jiwa. Sementara, pakar hukum dari sebuah universitas ternama di AS tidak menyebutkan serangan Israel itu sebagai kejahatan perang.

Itulah sikap negara imperialis yang mengklaim kampiun hak asasi manusia (HAM). HAM memang milik mereka, bukan milik kita.

Sementara, PBB tidak berdaya melihat kekejamaan di luar perikemanusiaan itu. Bung Karno pernah menyatakan, PBB nyata-nyata menguntungkan Israel dan merugikan negara-negara Arab. Pernyataan itu dikemukakan saat Indonesia keluar dari organisasi dunia tersebut.

 

Eksistensi Umat Yahudi di Indonesia

Konon, warga Yahudi sudah sejak kolonial Belanda banyak berdiam di Indonesia, khususnya di Jakarta. Pada abad ke-19 dan 20 serta menjelang Belanda hengkang dari Indonesia, ada sejumlah Yahudi yang membuka toko-toko di Noordwijk (kini Jalan Juanda) dan Risjwijk(Jalan Veteran) —dua kawasan elite di Batavia kala itu— seperti Olislaeger, Goldenberg, Jacobson van den Berg, Ezekiel & Sons, dan Goodwordh Company.

Mereka hanya sejumlah kecil dari pengusaha Yahudi yang pernah meraih sukses. Mereka adalah pedagang-pedagang tangguh yang menjual berlian, emas dan intan, perak, jam tangan, kacamata, dan berbagai komoditas lainnya.

Sejumlah manula yang diwawancarai menyatakan, pada 1930-an dan 1940-an jumlah warga Yahudi di Jakarta banyak. Jumlahnya bisa mencapai ratusan orang. Karena mereka pandai berbahasa Arab, mereka sering dikira keturunan Arab.

Sedangkan, Abdullah Alatas (75 tahun) mengatakan, keturunan Yahudi di Indonesia kala itu banyak yang datang dari negara Arab. Maklum, kala itu Negeri Zionis belum seperti sekarang yang mencaplok sebagian besar wilayah Palestina.

 

Yahudi Sudah Lama Tancapkan Kuku di Indonesia

Seperti keluarga Musri dan Meyer yang datang dari Irak. Pada masa kolonial, warga Yahudi ada yang mendapat posisi tinggi di pemerintahan, termasuk Gubernur Jenderal AWL Tjandra van Starkemborgh Stachouwer (1936-1942).

Sedangkan, Ali Shatrie (87) menyatakan, kaum Yahudi di Indonesia memiliki persatuan yang kuat. Setiap Sabat (hari suci umat Yahudi), mereka berkumpul bersama di Mangga Besar, yang kala itu merupakan tempat pertemuannya.

Menurut majalah Sabili, dulu Surabaya merupakan kota yang menjadi basis komunitas Yahudi, lengkap dengan sinagogenya yang hingga kini masih berdiri. Sedangkan, menurut Ali Shatrie, mereka umumnya memakai paspor Belanda dan mengaku warga Negeri Kincir Angin.

Dirawikan Abdullah Alatas, ia sempat mengalami saat-saat hari Sabat di mana warga Yahudi sambil bernyanyi membaca kitab Talmut dan Zabur, dua kitab suci mereka. Pada 1957, ketika hubungan antara RI-Belanda putus akibat kasus Irian Barat (Papua), tidak diketahui apakah seluruh warga Yahudi meninggalkan Indonesia. Konon, mereka masih terdapat di Indonesia meski jumlahnya tidak lagi seperti  dulu.

Yang pasti dalam catatan sejarah Yahudi dan jaringan gerakannya, mereka sudah lama menancapkan kukunya di Indonesia. Bahkan, gerakan mereka disinyalir telah memengaruhi sebagian tokoh pendiri negeri ini. Sebuah upaya menaklukkan bangsa Muslim terbesar di dunia (Sabili, 9 Februari 2006).

 

Ritual Setan di Gedung Bappenas

Dalam buku Jejak Freemason & Zionis di Indonesia disebutkan, Gedung Bappenas di Taman Surapati dulunya merupakan tempat para anggota Freemason melakukan peribadatan dan pertemuan. Gedung Bappenas di kawasan elite Menteng, dulunya bernama Gedung Adhuc Stat dengan logo Freemasonry di kiri-kanan atas gedungnya, terpampang jelas ketika itu.

Anggota Freemason menyebutnya sebagai loji atau rumah setan. Disebut rumah setan karena dalam peribadatannya anggota gerakan ini memanggil arwah-arwah atau jin dan setan, menurut data-data yang dikumpulkan penulisnya, Herry Nurdi.

Freemasonry atau Vrijmetselarij dalam bahasa Belanda masuk ke Indonesia dengan beragam cara, terutama lewat lembaga masyarakat dan pendidikan.

Pada mulanya gerakan itu menggunakan kedok persaudaraan kemanusiaan, tidak membedakan agama dan ras, warna kulit dan gender, apalagi tingkat sosial di masyarakat.

Dalam buku tersebut disebutkan, meski pada 1961, dengan alasan tidak sesuai dengan kepribadian bangsa, Presiden Sukarno melakukan pelarangan terhadap gerakan Freemasonry di Indonesia.

Namun, pengaruh Zionis tidak pernah surut. Hubungan gelap “teman tapi mesra” antara tokoh-tokoh bangsa dengan Israel masih terus berlangsung.

 

Oleh: Alwi Shahab

sumber: Republika Online

Israel Larang Pemuda Palestina Shalat Jumat di Al Aqsa

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM — Kepolisian Israel memberlakukan pembatasan usia dalam pelaksanaan shalat Jumat di Masjid Al Aqsa. Mereka berdalih pelarangan dilakukan sebagai tindakan pencegahan kerusuhan.

Seperti dilaporkan Maan News, Jumat (16/10), menurut aturan tersebut, hanya warga Palestina berusia 60 ke atas yang boleh melaksanaan shalat Jumat di Kompeks Masjid Al Aqsa. Untuk warga Palestina berusia dibawah 50 Tahun dilarang masuk dan melaksanakan shalat Jumat.

×Powered By CapricornusJuru Bicara polisi Israel Micky Rosenfeld mengatakan, langkah-langkah keamanan akan ditempatkan di seluruh Israel dan Yerusalem. Meski begitu, tidak ada laporan pembatasan usia untuk perempuan Palestina.

Kompleks Masjid Al-Aqsa telah menjadi tempat bentrokan selama berpekan-pekan, dengan pasukan Israel yang berulang kali menyerbu tempat suci tersebut, demi membersihkan jalan bagi pemukim Yahudi.

Pihak Palestina khawatir Israel berusaha untuk mengubah aturan yang ada di Al Aqsa, di mana orang-orang Yahudi diperbolehkan untuk berkunjung, tapi tidak untuk melakukan ritual keagamaan demi menghindari ketegangan dan provokasi.

Pada awal Oktober, polisi Israel menerapkan tindakan keras kepada warga Palestina. Setidaknya 32 warga Palestina tewas oleh pasukan Israel di Tepi Barat dan 12 orang tewas di Jalur Gaza sejak 1 Oktober

Di sisi lain, tujuh warga Israel tewas dalam periode waktu yang sama sebagai serangan balasan dari warga Palestina.

Israel Menutup Gerbang Masjid Al-Aqsa

REPUBLIKA.CO.ID, JERUSALEM — Polisi Israel menutup gerbang flashpoint Yerusalem Timur kompleks Masjid Al-Aqsa setelah pembunuhan brutal bayi Palestina, di sebuah desa dekat kota Tepi Barat utara Nablus, Jumat (31/7).

“Polisi Israel menindaklanjuti langkah-langkah keamanan di sekitar masjid flashpoint, ratusan tentara di sekitarnya telah dikerahkan menutup jalan di pintu masuk masjid,” kata direktur jenderal Muslim Wakaf dan Al-Aqsa Negeri Sheikh Azzam al-Khatib. Seperti yang dilansir Anadolu Agency.

“Hanya orang berumur di atas 50 dan wanita dari segala usia yang diizinkan memasuki masjid setelah menjalani pemeriksaan ketat,” kata Syeikh Azzam menambahkan.

Bagi umat Islam, Masjidil Al-Aqsa merupakan tempat suci ketiga di dunia. Bagi warga Yahudi, Aqsa ialah Temple Mount, Yahudi mengklaim dua tempat candi Yahudi terkemuka di zaman kuno.

Israel menduduki Yerusalem Timur sejak 1967, kemudian diakui kota pada tahun 1980, lalau mengklaim sebagai ibukota negara Yahudi. Mereka memproklamirkan diri dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui masyarakat internasional.

GIDI Denda Warga yang tak Mengecat Rumah dengan Warna Israel

Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) mengenakan sanksi denda Rp 500 ribu bagi warga Tolikara jika tidak mengecat kediamannya dengan bendera Israel.

“Kami didenda Rp 500 ribu jika tidak cat kios, itu kami punya kios,” kata seorang pedagang asal Bone, Agil Paweloi (34), saat ditemui Republika.co.id di tempat pengungsian di Tolikara, Papua, Jumat (24/7) dini hari.

Agil menuturkan pengecatan ruko, rumah, dan trotoar jalan diwajibkan dengan warna biru dan putih. Dalam kegiatan itu, lanjutnya, pihak GIDI menjelaskan kepada warga bahwa instruksi pengecatan tersebut dalam rangka menyambut kedatangan pendeta dari Israel.

Berdasarkan spanduk yang dipampang di halaman kantor Pusat GIDI di Jayapura, acara seminar KKR Internasional GIDI yang berlangsung pada 15 Juli-19 Juli di Kabupaten Tolikara dihadiri pendeta asal Israel, yakni Benjamin Berger.

Tidak hanya penduduk Muslim, seluruh masyarakat Tolikara ikut diwajibkan mengecat rumah mereka dengan warna bendera Israel. Pantauan Republika.co.id ruas jalan dan ruko-ruko pedagang dicat berwarna biru putih. “Saya ikut cat saja daripada harus bayar Rp 500 ribu,” ujarnya.

 

Sumber: Republika Online