Syam; Gerbong Huru-Hara Akhir Zaman

KONFLIK di kawasan Syam yang hingga kini masih berlangsung, seyogianya memantik kesadaran umat Islam untuk mengkaji kembali hadits-hadits akhir zaman terkait Syam. Paling tidak, jika tanda-tanda itu belum terjadi, umat Islam bisa mempersiapkan diri, mensikapinya secara tepat dan tak terpengaruh oleh dinamika konflik yang sedang terjadi.

Bumi Syam (sekarang Suria, Lebanon, Palestina, Yordania dan Syam Jura) yang diberkati, sejak diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam hingga hari kiamat menempati posisi strategis dalam sejarah kehidupan umat Islam, bahkan umat yang lainnya.

Surah Al-Isra [17] ayat 1 misalnya, sejak awal menanamkan kesadaran mendasar bahwa bumi sekitar Al-Aqsha (Baitul Maqdis) adalah wilayah-wilayah yang diberkati. Ke tempat suci itu Nabi diisrakan (diperjalankan pada malam hari), di situ pula beliau shalat dan menjadi imam para nabi. Maka tidak mengherankan jika dalam sejarah wilayah Syam ini begitu penting di mata nabi dan generasi-generasi selanjutnya.

Salah satu bentuk kepedulian nabi pada tanah Syam bisa dilihat dari upaya awal pembebasan tanah ini. Perang Mu`tah dan Tabuk, adalah dua contoh konkret kepedulian beliau. Sepeninggal beliau, Abu Bukar radhiyallahu ‘anhu ketika menghadapi masalah pelik pemurtadan dan orang-orang yang enggan berzakat, beliau tetap mengirim pasukan Usamah bin Zaid menuju Syam sebagai amanah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang wafatnya.

Khalifah-khalifah selanjutnya pun sangat peduli dalam masalah ini. Sebelum Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu  membebaskan Baitul Maqdis, salah satu PR utama yang dipecahkan terlebih dahulu adalah pembebasan tanah Syam. Melalui sinergi yang apik antara Khalid dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah radhiyallahu ‘anhuma, Syam akhirnya bisa terbebaskan dari tirani.

ampak dari terbebasnya Syam ini begitu besar. Terbebasnya Baitul Maqdis –yang kelak didatangi langsung oleh Umar radhiyallahu ‘anhu- serta terbebasnya Mesir dari hegemoni Romawi Timur baru bisa terealisasi saat bumi Syam bisa dibebaskan. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Syam (khususnya Baitul Maqdis) adalah poros stabilitas dunia. Dan itu menjadi rebutan sepanjang masa karena menjadi tolak ukur penguasa dunia.

Pembebasan-pembebasan lain pun memang keberhasilannya tidak bisa dilepas  dari konsentrasi pembebasan tanah Syam. Sebagaian wilayah Afrika, Eropa, bahkan Konstatinopel –di zaman Muhammad Al-Fatih- apa bisa terbebas jika jauh-jauh hari tidak ada kepedulian terhadap bumi yang diberkati ini?

Oleh karena itu, membahas hadits-hadit akhir zaman tentang Bumi Syam ini sangatlah penting. Urgensi memahami persoalan ini, bukan semata urusan sejarah,  kepedulian lintas generasi, atau karena wilayah ini sejak lama menjadi rebutan antar negara. Nyatanya, di dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga banyak digambarkan bahwa negeri ini adalah “wilayah panas” tempat terjadinya huru-hara akhir zaman. Dengan bekal informasi ini, seharusnya umat Islam tidak kehilangan arah dan tidak salah dalam menyikapi konflik yang terjadi di bumi yang diberkati ini.

Dalam buku “Ahâdîts al-Fitan wa al-Malâhim wa Asyrâth al-Sâ’ah al-Mu’allaqah bi al-Syâm” (2014) yang disusun oleh bagian (kajian) ilmiah Yayasan al-Durar al-Sunniyah yang disupervisi oleh Syeikh Alawi bin Abdul Qadir al-Saqqaf, terdapat kajian khusus mengenai hadits-hadits akhir zaman berikut kaitannya dengan fenomena yang terjadi.

Di antara kandungan buku ini: Pertama, membahas fitnah-fitnah dan huru-hara yang berkaitan dengan tanah Syam. Pada pembahasan ini disebutkan hadits yang menunjukkan bahwa fitnah yang terjadi di Bumi Syam di akhir zaman adalah fitnah besar dan kelam.

 

Selain itu, jika penduduk Syam sudah rusak, maka sudah tidak ada lagi kebaikan bagi umat Islam. Di akhir zaman, saat terjadi huru-hara dan fitnah, letak keimanan sejati adalah di Bumi Syam. Dan kelak, bumi yang diberkati ini akan menjadi basecamp kuat umat Islam akhir zaman. Tentara-tentara pilihan yang di akhir zaman membawa bendera hitam pun akan muncul dari Syam. Di daerah Al-Ghauthah (Syam) nanti, akan menjadi pangkalan militer umat Islam.

Kedua, buku ini juga membahas hadits-hadits tentang tanda-tanda akhir zaman yang terkait dengan Syam. Sebagai contoh: keluarnya Imam Mahdi, Dajjal dan Isa adalah di wilayah ini. Belum lagi api yang muncul dari Aden yang akan menggiring manusia ke Bumi Syam. Sampai pada puncaknya adalah hembusan angin dingin ke arah Syam. Siapa saja waktu itu di seluruh bumi yang masih menyimpan keimanan, akan meninggal dunia ketika menghirup angin ini. Kemudian setelah itu yang tersisa hanyal orang-orang yang amat buruk.

Melihat posisi Syam yang begitu strategis baik di masa lampau dan akhir zaman, seyogianya umat Islam mengkaji secara serius masalah ini. Setidaknya adalah sebagai persiapan untuk menhadapi huru-hara yang akan terjadi menjelang kiamat. Karena Bumi Syam adalah gerbong akhir zaman. Bisa jadi sekarang memang belum saatnya, tapi jika umat Islam peduli dengan masalah ini, setidaknya itu akan tetap berguna bagi generasi mendatang yang akan menghadapinya.*/ Mahmud Budi Setiawan

 

HIDAYATULLAH

Syam, Saksi Kegemilangan Islam

Suriah hari ini terlampau menyesakkan. Reruntuhan seolah menenggelamkan peradaban Suriah di masa silam. Suriah adalah sebuah negara di Timur Tengah yang berbatasan dengan Turki, Irak, Yordania, Israel, dan Lebanon. Kawasan ini termasuk salah satu yang paling mula-mula dihuni peradaban manusia, dengan bukti arkeologis memperkirakan sekitar 700 ribu tahun yang lalu. Ada banyak kota kuno bersejarah, seperti Palmyra, Aleppo, dan Damaskus.

Suriah telah menjadi bagian terpenting dalam sejarah peradaban Mesopotamia, Romawi, Bizantium, sebelum ditaklukkan Khalid bin Walid tahun 634 M. Kaum Muslim saat itu berada di bawah kepemimpinan Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Beberapa tahun kemudian, Bani Umayyah menjadikan Damaskus, yang sekarang ibu kota negara Suriah modern, sebagai ibu kota administratif dunia Islam. Sejumlah situs bersejarah dibangun. Salah satunya, Masjid Umayyah atau Masjid Agung Damaskus yang dikonversi dari sebuah gereja.

Setelah Bani Umayyah runtuh, kawasan ini menjadi bagian dari kekhafilahan Bani Abbasiyah. Namun, peran Damaskus tidak lagi signifikan lantaran ibu kota pemerintahan telah dipindah ke Baghdad. Kekuasaan Bani Abbasiyah di kawasan ini mulai runtuh pada awal abad ke-10.

Pada 970 M, Dinasti Fatimiyyah Mesir yang beraliran Syiah menaklukkan Damaskus. Suriah menyaksikan peralihan dinasti demi dinasti. Ketika Dinasti Seljuk Turki berkuasa, mereka juga menaklukkan Damaskus pada 1078 M. Demikian pula, saat pemerintahan Turki Utsmani di Istanbul.

Mengakhiri 400 tahun kekuasaan Ottoman, pada 1918 Suriah dikuasai oleh Amir Faishal berkat dukungan Inggris. Kekuasaan Amir Faishal ini tak berumur panjang. Pasca-Perang Dunia I, wilayah Timur Tengah telah menjadi kue yang dibagi-bagi oleh Inggris dan Prancis. Suriah kemudian berada di bawah kontrol Prancis. Republik Arab Suriah yang sekarang baru diproklamasikan pada 1936. Mayoritas rakyatnya menganut Islam Mazhab Suni, sedangkan minoritas menganut Kristen.

Menyaksikan pergulatan kekuasaan sejak zaman prasejarah, Suriah kini terjerat di pusaran konflik. Dilansir dari AFP, kuartal pertama tahun ini, sebuah organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Inggris mencatat lebih dari 220 ribu orang tewas sejak pecahnya konflik 2011. Sementara, jumlah pengungsi telah melampaui angka empat juta jiwa.

Turki menjadi negara pertama yang paling banyak menampung pengungsi Suriah, menyusul sejumlah negara Uni Eropa. Kendati semakin pudar, banyak pengungsi masih menggantungkan harapan akan redanya konflik di tanah air mereka. Berharap Idul Adha tahun depan akan terlewati bersama keluarga di tanah tercinta. Begitu pun, Alevat. “Kami ingin kembali ke negara kami, kembali ke hari-hari itu.”

 

REPUBLIKA

Krisis Ekonomi Mengancam Para Pengungsi Suriah di Lebanon

Kurang lebih 1,5 juta pengungsi Suriah di Lebanon sangat rentan terhadap krisis ekonomi, situasi ekonomi yang terus menjadi sulit membuat kebutuhan pangan pun menjadi rawan.

BUMISYAM|Lebanon (12/1) – Para pengungsi Suriah di Lebanon hampir tidak dapat mengatasi krisis ekonomi yang melanda mereka.

Menurut data yang dikeluarkan oleh PBB, sebagaian besar anak-anak terpaksa keluar dari sekolah dan keluarga mereka jatuh kedalam kemiskinan.

Kurang lebih 1,5 juta pengungsi Suriah di Lebanon sangat rentan terhadap krisis ekonomi, situasi ekonomi yang terus menjadi sulit membuat kebutuhan pangan pun menjadi rawan.

“ Kehidupan mereka sangat rentan, dan para pengungsi membutuhkan bantuan dari masyarakat internasional, tanpa bantuan, keadaan mereka akan menjadi mengerikan, “ kata Amin Awad, direktur Biro Badan Pengungsi PBB (UNHCR).

Dilansir Zaman Al Wasl, dalam sebuah laporan, ditemukan bahwa sebagian besar keluarga telah kehabisan aset.

Mereka mengambil jalan berbahaya hanya untuk bertahan hidup, seperti menjual rumah, menjual tanah di Suriah, dan menjual perabot rumah tangga milik mereka.

Rumah tangga para pengunsi semakin dililit hutang karena mereka melakukannya untuk membeli makanan, memenuhi biaya kesehatan, dan membayar uang sewa rumah.

Sekitar 71 % keluarga hidup di bawah garis kemiskinan dan lebih dari setengah keluarga tersebut memiliki lima atau lebih orang yang hidup bersama-sama dengan mereka.

48 % anak-anak dari keluarga tersebut tidak bersekolah dan beberapa dari mereka ada yang dikirim keluaganya untuk bekerja.

Lebanon adalah tuan rumah terbesar kedua untuk pengungsi Suriah setelah Turki. Sekitar 2.125 pengungsi Suriah tinggal perkotaan maupun pedesaan Lebanon, baik di tempat tinggal orang lain, di rumah darurat ataupun di pemukiman informal.

Zaman Al Wasl melaporkan, 42 % keluarga mengalami kepadatan penghuni, kondisi rumah yang berbahaya sehingga membutuhkan perbaikan, dan tidak ada toilet.

” Hal tersebut menjadi perhatian bagi kita semua, bahwa kehidupan keluarga Suriah di Lebanon mengalami kondisi yang signifikan dengan keterbatasan sarana,” kata Tanya Chapuisat, perwakilan UNICEF di Lebanon.

” Bagi mereka yang telah melalui kehidupan keras di Suriah, perawatan kesehatan, makanan, dukungan emosional dan pendidikan adalah hal yang penting, “ tambah Chapuisat. (Eka Aprila)

 

sumber: Bumi Syam

Sejumlah Media Pro Syiah di Indonesia Dinilai Lakukan Fitnah Lembaga Kemanusiaan ke Suriah

Sejumlah media pro Syiah dan pendukung Bashar al Assad di Indonesia dinilai telah melakukan fitnah kepada lembaga-lembaga kemanusiaan untuk membantu warga Suriah.

“Banyak pertanyaan sehubungan dengan beredarnya fitnah yang dialamatkan kepada Indonesian Humanitarian Relief (IHR) Foundation, seolah bantuan kemanusiaan masyarakat Indonesia tidak sampai ke rakyat Suriah,“ demikian disampaikan Direktur IHR, Mathori, sebagaimana dikutip Islamic News Agency (INA), Senin (26/12/2016).

Menurut Mathori, melihat polanya, arus fitnah ini tampaknya bukan barang baru. Upaya propaganda serupa sudah lama dilakukan melalui akun-akun Facebook dan laman situs yang diduga berafiliasi pada sebuah ideologi tertentu dan pendukung Rezim Bashar al Assad yang menurut PBB disinyalir telah melakukan kejahatan kemanusiaan.

“Caranya hampir sama, membuat fitnah yang dilakukan dengan berbagai pola, salah satunya adalah membunuh karakter NGO-NGO kemanusiaan yang selama ini bersama-sama ormas Islam, ulama, dan aktivis kemanusiaan menggalang semangat berbagi membantu rakyat Suriah, termasuk Aleppo,” ujar Mathori.

Mathori membantah bantuan yang disalurkan IHR tidak sampai ke warga Suriah. Pihak-pihak yang melakukan propaganda dinilai sengaja “menggoreng” berita yang belum terkonfirmasi kebenaran dan faktanya, selain hanya menyandarkan kepada satu potongan berita, tanpa mau melihat informasi secara utuh. Selain itu, bantuan kemanusiaan kepada masyarakat Suriah saat ini bekerjasama dengan lembaga kemanusiaan internasional yang sangat kredibel, IHH.

“Jelas tuduhan fitnah dan tidak benar. İnsan Hak ve Hürriyetleri İnsani Yardım Vakfı (IHH) adalah organisasi lembaga kemanusiaan internasional yang telah diakui oleh PBB dan dalam beberapa aktivitas kemanusiaan ditunjuk secara resmi oleh PBB. Dalam kiprahnya, IHH pernah menjadi inisiator konvoi kemanusiaan Freedom Flotilla menuju Gaza, Palestina, yang diikuti lembaga dan aktivis kemanusiaan dunia.”

Meski demikian, di lapangan semua kemungkinan bisa terjadi, apalagi dalam suasana perang dan konflik. Mathori membuat logika sederhana, jika ada bantuan dari lembaga kemanusiaan ke Rohingya tidak sampai dan jatuh ke tangah militer Myanmar, bukan berarti NGO tersebut membantu militer atau bantuan tidak sampai ke tangan pengungsi. Apalagi dalam suasana perang, ada banyak faktor terjadi di lapangan.

“Jika ada bantuan ke Rohingya disita militer Myanmar, apa lantas disebut mendukung pihak militer?” ujarnya.

Mathori paham yang dimaksud para pemfitnah, yang menurutnya, menggunakan bahasa yang sangat jelas Pro Rezim keji, Bashar al Assad, agar umat Islam di Indonesia tak menggalang dana untuk rakyat Suriah.

Meski demikian, ia mengatakan, kewajiban semua kaum Muslimin membantu saudaranya di dunia yang sedang menderita dan pengalami penindasan di seluruh dunia. Termasuk di Rohingya, Palestina hingga Suriah.

“Kami menilai tudingan ini adalah bagian dari upaya melemahkan semangat kemanusiaan masyarakat Indonesia untuk membantu sesama saudaranya di Suriah.”

Sebagaimana diketahui, Rezim Bashar al Assad yang merupakan pelanjut ayahnya, Hafed al Asaad berkuasa di Suriah dengan jalan kudeta berdarah, telah bertahan lebih 40 tahun di tampuk kekuasaan sehingga menjadikan banyak warganya tertindas.

Usaha warganya meminta perubahan sejak 2011 lalu, dihadapi dengan serangan kepada rakyatnya sendiri hingga saat ini yang menurut PBB telah menelan lebih 470 ribu jiwa. Sementara 4 juta warga terusir dan menjadi pengungsi.

Belakangan, Suriah yang masuk wilayah Bumi Syam makin hancur dan menderita ketika masuknya Rusia dan keterlibatan Iran yang ingin memperluas ideologi Syiah di kawasan Timur Tengah. Terakhir adalah hancur dan terusirnya Aleppo oleh bom yang dijatuhkan Rusia untuk membantu rezim Bashar dan milisi Syiah dukungan Iran.[]PIZ

 

sumber; BumiSyam

Kelaparan, Anak-anak Suriah Terpaksa Makan Rumput

Terpisah’ dari dunia, anak-anak Suriah yang kelaparan terpaksa memakan peliharaan mereka, yakni anjing dan kucing, juga dedaunan setelah persediaan makanan habis sama sekali. Mirror memuat, kota Foua dan Kfarya di provinsi Idlib sudah diserang kelompok pemberontak selama satu tahun terakhir.

Sebagaimana dilansir Daliy Mail, situasi mulai memburuk pada September lalu akibat kelompok pemberontak berhasil menduduki basis udara di mana helikopter yang biasa mengantarkan makanan, sayur-mayur, dan roti untuk 30.000 orang mendarat. Alhasil kelaparan pun tak terelakkan.

Madaya, kota di dekat Damaskus, beberapa kali memperlihatkan tragedi pilu, di mana warga yang sedang mencari makanan di tempat pembuangan malah ditembak mati. Di antara situasi yang kian sulit, harga susu bayi malah melambung tinggi ke angka $300 untuk ukuran 900 gram.

Dilaporkan The Sun, pasukan pro pemerintah yang belakangan mengevakuasi warga di dua desa, yakni Foua dan Kfarya, mendeskripsikan kondisi tragis, di mana anak-anak terpaksa memakan rumput demi bertahan hidup. Kelangkaan obat-obatan pun kian memperparah keadaan.

Memberitahu Daily Mail, seorang warga lokal, Ali, mengatakan bahwa bantuan biskuit yang sempat datang malah membuat banyak warga sakit. Meski dijanjikan pasokan lebih, namun nyatanya tak pernah ada yang ‘mendarat di Madaya. “Mimpi mereka (warga suriah) adalah makan makanan yang layak konsumsi,” ujar Mohsen Darwish, seorang penganut syiah dari Kfarya yang sekarang tinggal di Lebanon namun tetap menjalin komunikasi dengan kerabat di Suriah, seperti dilansir Daily Mail.

 

sumber: Bintang.com

Anak-anak Aleppo tak Punya Banyak Pilihan, Sungguh Memilukan

SECARA bertahap, sekitar 25 ribu warga sudah dievakuasi  meninggalkan Aleppo. Mereka menuju beberapa titik kamp pengungsian di Provinsi Idlib.

Selain bingung menjalani hidup baru, mereka masih khawatir menjadi sasaran serangan rezim Bashar al Assad plus Rusia.

————————–

’’SAYA meninggalkan jiwa saya di wilayah timur Aleppo,’’ kata Fatemah, ibunda Bana Alabed, kepada Qasioun News Senin (19/12).

Seperti ribuan penduduk Aleppo yang lain, ibu tiga anak itu enggan meninggalkan kampung halaman.

Namun, serangan udara tanpa henti dari pasukan Syria dan militer Rusia memaksa mereka hengkang. Sebab, aksi militer dua sekutu tersebut mengakibatkan rumah mereka rata dengan tanah.

Tetapi, mengemasi barang berharga untuk kemudian meninggalkan Aleppo juga tidak serta-merta membuat derita mereka lenyap.

’’Ketika memutuskan untuk mengungsi, kami harus bertahan hampir 24 jam tanpa makanan dan minuman. Kami merasa menjadi sandera,’’ ungkap Fatemah.

 

Kini, bersama suami dan tiga anaknya, perempuan yang berprofesi guru itu sudah tiba di tujuan. Tepatnya di Kota Idlib. Meski menjejakkan kaki di Idlib atau wilayah lain yang menjadi kantong oposisi di Provinsi Idlib, Fatemah atau penduduk Aleppo yang lain tidak lantas merasa aman.

Sebab, Idlib termasuk salah satu wilayah konflik. Sebagai salah satu benteng pertahanan oposisi bersenjata yang masih tersisa, Idlib jelas masuk radar Syria dan Rusia untuk target serangan berikutnya.

Apalagi, Idlib merupakan basis Al Qaeda dan militan-militan yang loyal terhadap almarhum Osama bin Laden.

Kedatangan oposisi bersenjata dari Aleppo dan keluarganya menjadikan Idlib sasaran yang paling sempurna bagi pasukan Syria dan Rusia.

Sekali serang, rezim Presiden Bashar al Assad akan bisa melibas militan radikal dan oposisi bersenjata yang disebutnya pemberontak.

’’Kota mana yang menjadi sasaran berikutnya bergantung pada kota mana yang terorisnya paling banyak,’’ jelas Assad dalam wawancara dengan media Rusia awal pekan ini. Bila dibandingkan dengan Aleppo, Idlib lebih dekat dengan Turki. Bahkan, provinsi itu berbatasan langsung dengan Turki. Menilik banyaknya musuh Assad di sana, Idlib bakal menjadi saksi pertempuran yang lebih dahsyat.

Beruntung, Bana tidak lama-lama tinggal di Idlib. Bocah tujuh tahun yang menyedot perhatian dunia lewat @AlabedBana itu akan menjadi warga Turki.

Kemarin (20/12) Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan bakal memboyong Bana dan seluruh keluarganya ke Turki.

 

Kabarnya, pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan telah menyiapkan rumah bagi gadis kecil pemberani tersebut dan keluarganya.

Sayangnya, tidak semua bocah atau keluarga Aleppo seberuntung Bana dan Fatemah. Sebagian besar hanya ingin segera meninggalkan kota seluas kira-kira 190 kilometer persegi tersebut.

Mereka juga menurut saja hendak dibawa ke Idlib atau perbatasan Turki–Syria. Sebab, mereka terlalu sibuk bertahan hidup pada masa sekarang dan tidak yakin berjumpa dengan masa depan.

Karena itu, ketika kini mereka berkesempatan menyambut masa depan, sebagian besar justru bingung. Sebab, hidup pada masa depan bukanlah bagian dari rencana mereka. Aksi udara Syria dan Rusia telah sukses merenggut harapan mereka atas masa depan.

Saat aksi udara berakhir dan mereka masih hidup, warga tinggal menanti datangnya esok dan serangan berikutnya. Cepat atau lambat, kematian pasti datang.

Selain Bana, ratusan bocah Aleppo tiba di Idlib kemarin. Berjejal di dalam bus membuat anak-anak itu kelelahan. Mereka juga lapar dan kehausan karena tidak mendapatkan makanan dan minuman di perjalanan.

Namun, yang lebih menyedihkan ketimbang kondisi fisik yang payah adalah rasa trauma mereka.

’’Mereka memandang kami dengan tatapan seolah-olah kami berasal dari planet lain,’’ kata Ghanem Tayara.

Tayara yang juga aktivis kemanusiaan mengungkapkan, sebagian besar anak yang trauma itu suka mengompol. Termasuk anak-anak yang baru saja tiba di Idlib.

Sebanyak 90 anak yang tiba di Idlib kemarin berada dalam kondisi basah. Entah karena keringat atau ompol. ’’Mereka terus-terusan histeris dan merasa seolah-olah aksi udara akan menarget mereka lagi,’’ terang Tayara.

Trauma anak-anak Aleppo tersebut cukup beralasan. Sebab, menurut Tayara, masa depan bocah-bocah itu memang tidak pasti.

’’Apakah masih ada harapan? Itulah pertanyaan yang sangat sulit dijawab. Entah mati di sana (Aleppo, Red), mati di perjalanan menuju tempat baru, atau menjadi pengungsi abadi di sepanjang sisa hidup mereka,’’ katanya.

Menurut pria berprofesi dokter tersebut, anak-anak Aleppo memang tidak punya banyak pilihan. (AFP/Reuters/CNN/aljazeera/hep/c14/any)

 

sumber: JPNN.com

Muslim Suriah Merintih, Apa Reaksimu ?

Sekitar 5 tahun yang lalu, rakyat Suriah menuntut hak mereka atas pemerintahan rezim yang telah berpuluh-puluh tahun lalu memimpin negeri tersebut secara tiran. Mereka melakukan aksi damai dengan turun ke jalan-jalan untuk menuntut turunnya Bashar Asad. Pergolakan ini muncul tidak lain karena kedzaliman rezim Asad yang amat bengis terhadap rakyatnya. Hafidz Asad, ayah dari Bashar Asad, sebelumnya telah berkuasa selama 30 tahun. Sedangkan sang putra, telah memimpin semenjak tahun 2000 silam. Namun respon mereka terhadap tuntutan rakyatnya sendiri sungguh menyedihkan. Rezim membalas aksi damai tersebut dengan serangan brutal dan bengis. Bashar terus menggunakan cara-cara tak manusiawi untuk mengahadapi  rakyatnya.

Korban demi korban terus berjatuhan. Setidaknya 500 ribu nyawa telah melayang di tangan rezim Asad dan para sekutunya. Walaupun gencatan senjata sempat diberlakukan,  September lalu SHRC melaporkan 1793 warga gugur, termasuk 306 anak-anak, 149 muslimah. Alepo menjadi wilayah dengan korban terbanyak, sementara wilayah lain seperti Idlib, Deir Zour, Damaskus, Hama , Homs juga tidak luput dari amukan bombardier dari tentara rezim Asad dan sekutunya.

Tak jauh berbeda, bulan ini pembantaian kaum muslimin itu tak pernah berhenti, meskipun wacana gencatan senjata terus didengungkan. Setidaknya dalam beberapa pekan terakhir ini lebih dari  50 nyawa warga Alepo melayang. Bahkan rezim mengutus para sniper untuk menembaki warga dan para relawan kemanusiaan yang mengevakuasi korban juga menjadi sasaran target penembakan. Kondisi ini mengakibatkan para anjing liar memakan jasad warga sipil yang terbunuh dan tidak terevakuasi.

Rezim dan para sekutunya tak henti-hentinya membuat makar bagi rakyatnya. Selalu saja berdalih memerangi teroris, ekstrimis, dan para pemberontak, dan tampil bak pahlawan bagi rakyatnya. Terakhir pada agustus silam mereka membuat perkumpulan para ulama’ suu’  yang menyatakan bahwa rezim Suriah tampil sebagai pahlawan membela rakyatnya dari kejahatan para ‘ekstrimis wahabi’. Namun seberapa hebat mereka membuat makar, tetaplah makar Allah yang lebih kuasa. Banyak ulama’ haqq yang menjelaskan kembali kepada umat tentang siapa sebenarnya rezim Asad ini.

Sungguh, ikatan yang mendasari persatuan Asad dan para sekutunya tak lebih dari persatuan dalam ikatan dunia dan kekusaan semata. Ada hal yang jauh lebih berharga dimiliki kaum muslimin. Ikatan Tauhid, Akidah yang menjadi ikatan terkuat telah mempersatukan hati kita dengan para kaum muslimin Suriah. Ikatan tauhid yang akan mendorong hati kita untuk membantu mereka dengan apapun yang mampu kita beri dari harta, jiwa dan doa tulus untuk saudara-saudara kita dari kelompok manapun mereka, selama mereka adalah kaum muslimin yang berkiblat sama dengan kita. Selama rukun islam dan rukun iman mereka sama dengan kita, meskipun mengambil jalan perjuangan yang berbeda dengan kita. Karena mereka adalah saudara kita yang berhak kita jaga dan lindungi.

Dalam sebuah  hadits riwayat Imam Bukhari, rasulullah bersabda; “Barang siapa shalat seperti kita, menghadap ke kiblat seperti kita, dan memakan binatang sembelihan kita, maka dialah muslim yang berada di bawah perlindungan Allah dan rasul-Nya, karena itu janganlah anda mengkhianati Allah perihal perlindunganNya itu.”

Jangan sampai berbagai makar musuh-musuh islam terus menerus membuat kita tertipu akan kondisi kita. Jangan sampai perbedaan di antara kita membuat kita terpecah dan tak mau peduli dengan saudara kita. Jika perpecahan terus terjadi, maka tunggulah para musuh yang akan bertepuk tangan bahagia menjadi penonton perseturuan kita. Karena muslim adalah satu tubuh, jika bagian tubuh sakit, maka bagian lain akan turut merasakan imbasnya. Rasulullah menjelaskan bahwa orang-orang muslim ibarat satu tubuh, bukan hanya asy’ari, wahabi atau gelar gelar lainnya yang sengaja di sematkan musuh islam. Allah menjelaskan dengan tegas,”sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”. Ya, mereka saudara kita yang terdzalimi, dan mereka memanggil kita, sebagai saudara sesama mukmin. [Reny]

 

sumber:Bumi Syam

Perdamaian Suriah Sulit Dilakukan Lewat Jalur Diplomatik

Aleppo kembali diserang oleh pesawat tempur yang AS perkirakan itu adalah pesawat tempur Rusia yang membantu rezim Basyar Assad.

Sebuah jalur diplomatik untuk meredakan perang di Suriah sepertinya tidak mungkin berhasil.

Bahkan antara AS dan Rusia tidak menyetujui jika diadakan pertemuan Dewan Keamanan PBB untuk membahas serangna setelah gencatan senjata saat Idul Adha runtuh.

Seperti dilansir Zaman Al Wasl, pasukan oposisi yang berusaha melawan pasukan rezim mengatakan, proses perdamaian akan sia-sia kecuali pemboman segera dihentikan. (Eka Aprila)

 

Rumah Sakit Aleppo Kembali Jadi Sasaran Serangan Udara Rezim dan Rusia

Serangan udara dari pasukan pemerintah didukung Rusia membombardir wilayah Aleppo sejak Rabu pagi (28/9/2016). Serangan udara hari ini menghantam sebuah rumah sakit besar dan sebuah toko roti.

“Pesawat tempur terbang di atas kami dan mulai menjatuhkan bom ke rumah sakit sekitar pukul 04.00,” kata Muhammad Abu Rajab, staf rumah sakit kepada kantor berita Reuters. “Reruntuhan jatuh mengenai para pasien di ruang intensif.”

Serangan bom itu juga mengenai generator listrik dan tabung oksigen di rumah sakit. Petugas medis mengatakan sejumlah pasien terpaksa dipindahkan ke rumah sakit lain setelah serangan itu.

Reuters melaporkan, Rabu (28/9/2016), warga lain mengatakan serangan udara juga mengenai sebuah toko roti di kawasan pemberontak ketika orang-orang sedang mengantre untuk mengambil roti sekitar pukul 03.00.

Pemantau Hak Asasi Suriah mengatakan serangan terhadap toko roti di kawasan al-Maadi itu menewaskan sedikitnya enam orang.

Sekitar 250 ribu warga sipil kini masih terjebak di Aleppo. Serangan bom dari pasukan pemerintah dan sekutunya sudah menewaskan ratusan orang sejak gencatan senjata pekan lalu gagal terlaksana.

 

sumber: Bumi Syam

Provinsi Homs Kembali Dihancurkan Rezim dan Sekutu

Seorang reporter lokal melaporkan, setelah Shalat Jum’at selesai dilaksanakan, rezim kembali menembakkan artileri dan serangan udaranya di wilayah Rastan, Homs, yang mengakibatkan 4 orang tewas dan 21 lainnya luka-luka.

Reporter Zaman Al Wasl mengatakan, penembakkan berat di wilayah Homs, beberapa hari ini telah terjadi dan penyerangan tersebut dimulai setelah sehari wilayah al-Waer terbebas dari pengepungan.

Sejak saat itu, pesawat tempur rezim terbang diatas wilayah Homs, dan malam harinya pesawat tempur Rusia membom wilayah Northern, Homs dengan senjata yang dilarang seperti bom cluster dan lainnya.

Serangan rezim dan Rusia tidak hanya menargetkan wilayah Homs saja, melainkan hampir seluruh penjuru Suriah baik itu Hama, Aleppo, Damaskus, Idlib dan lain-lain tidak ada hari tanpa serangan rezim dan sekutu. (Eka Aprila)

 

 

sumber: Bumi Syam