Iman Kepada Qadha dan Qadar

Apa pun yang terjadi di dunia dan yang menimpa diri manusia pasti telah digariskan oleh Allah Yang Mahakuasa dan Yang Mahabijaksana. Semua telah tercatat secara rapi dalam sebuah Kitab pada zaman azali. Kematian, kelahiran, rizki, nasib, jodoh, bahagia, dan celaka telah ditetapkan sesuai ketentuan-ketentuan ilahiah yang tidak pernah diketahui oleh manusia. Dengan tidak adanya pengetahuan manusia tentang ketetapan dan ketentuan Allah ini, maka ia memiliki peluang atau kesempatan untuk berlomba-lomba menjadi hamba yang saleh-muslih, berusaha keras untuk mencapai yang dicita-citakan tanpa berpangku tangan menunggu takdir, dan berupaya memperbaiki citra diri.

Dengan bekal keyakinan terhadap takdir yang telah ditentukan oleh Allah swt., seorang mukmin tidak pernah mengenal kata frustrasi dalam kehidupannya, dan tidak berbangga diri dengan apa-apa yang telah diberikan Allah swt. Ia akan berubah menjadi batu karang yang tegar menghadapi segala gelombang kehidupan dan senantiasa sabar dalam menyongsong badai ujian yang silih berganti. Ia juga selalu bersyukur apabila kenikmatan demi kenikmatan berada dalam genggamannya. Perhatikan beberapa ayat Allah dan hadits Rasul berikut ini.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. Al-Hadiid (57): 22-23]

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” [QS. Al-An’aam (6): 59]

“Tiada seorangpun dari kalian kecuali telah ditulis tempatnya di neraka atau di surga.” Salah seorang dari mereka berkata, “Bolehkah kami bertawakal saja, ya, Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak, (akan tetapi) beramallah…karena setiap orang dimudahkan (dalam beramal).” Kemudian beliau membaca ayat ini, “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah), bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil, merasa dirinya cukup dan mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar [QS. Al-Lail (92): 5-10].” (HR Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib)

“Sangat mengherankan seorang mukmin itu, karena semua urusannya mengandung kebaikan. Dan yang demikian itu tidak pernah dimiliki seseorang kecuali orang mukmin; apabila ia diuji dengan kenikmatan (kebahagiaan), ia bersyukur. Maka, inilah kebaikan baginya. Dan apabila ia diuji dengan kemelaratan (kepayahan), ia bersabar. Maka, inilah kebaikan baginya.” (HR Muslim dari Abu Yahya Shuhaib bin Shinan)

Definisi Qadha dan Qadar

Secara etimologi, qadha memiliki banyak pengertian, diantaranya sebagaimana berikut:

1. Pemutusan, kita bisa temukan pengertian ini pada firman Allah, “(Dia) yang mengadakan langit dan bumi dengan indahnya, dan memutuskan sesuatu perkara, hanya Dia mengatakan: Jdilah, lalu jadi.” [QS. Al-Baqarah (2): 117]

2. Perintah, kita bisa temukan pengertian ini pada firman Allah, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” [QS. Al-Israa` (17): 23]

3. Pemberitaan, bisa kita temukan dalam ayat, “Dan telah Kami wahyukan kepadanya (Luth) perkara itu, yaitu bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu subuh.” [QS. Al-Hijr (15): 66]

Imam az-Zuhri berkata, “Qadha secara etimologi memiliki arti yang banyak. Dan semua pengertian yang berkaitan dengan qadha kembali kepada makna kesempurnaan….” (An-Nihayat fii Ghariib al-Hadits, Ibnu Al-Atsir 4/78)

Adapun qadar secara etimologi berasal dari kata qaddara, yuqaddiru, taqdiiran yang berarti penentuan. Pengertian ini bisa kita lihat dalam ayat Allah berikut ini. “Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.” [QS. Fushshilat (41): 10]

Dari sudut terminologi, qadha adalah pengetahuan yang lampau, yang telah ditetapkan oleh Allah pada zaman azali. Adapun qadar adalah terjadinya suatu ciptaan yang sesuai dengan penetapan (qadha).

Ibnu Hajar berkata, “Para ulama berpendapat bahwa qadha adalah hukum kulli (universal) ijmali (secara global) pada zaman azali, sedangkan qadar adalah bagian-bagian kecil dan perincian-perincian hukum tersebut.” (Fathul-Baari 11/477)

Ada juga dari kalangan ulama yang berpendapat sebaliknya, yaitu qadar merupakan hukum kulli ijmali pada zaman azali, sedangkan qadha adalah penciptaan yang terperinci.

Sebenarnya, qadha dan qadar ini merupakan dua masalah yang saling berkaitan, tidak mungkin satu sama lain terpisahkan oleh karena salah satu di antara keduanya merupakan asas atau pondasi dari bangunan yang lain. Maka, barangsiapa yang ingin memisahkan di antara keduanya, ia sungguh merobohkan bangunan tersebut (An-Nihayat fii Ghariib al-Hadits, Ibnu Atsir 4/78, Jami’ al-Ushuul 10/104).

Dalil-dalil Qadha dan Qadar

Beriman kepada qadha dan qadar merupakan salah satu rukun iman, yang mana iman seseorang tidaklah sempurna dan sah kecuali beriman kepadanya. Ibnu Abbas pernah berkata, “Qadar adalah nidzam (aturan) tauhid. Barangsiapa yang mentauhidkan Allah dan beriman kepada qadar, maka tauhidnya sempurna. Dan barangsiapa yang mentauhidkan Allah dan mendustakan qadar, maka dustanya merusakkan tauhidnya” (Majmu’ Fataawa Syeikh Al-Islam, 8/258).

Oleh karena itu, iman kepada qadha dan qadar ini merupakan faridhah dan kewajiban yang harus dilakukan setiap muslim dan mukmin. Hal ini berdasarkan beberapa hadits berikut ini.

Hadits Jibril yang diriwayatkan Umar bin Khaththab r.a., di saat Rasulullah saw. ditanya oleh Jibril tentang iman. Beliau menjawab, “Kamu beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Akhir, dan kamu beriman kepada qadar baik maupun buruk.” (HR. Muslim)

“Sekiranya Allah swt. menyiksa penduduk langit dan bumi, maka Dia sungguh melakukannya tanpa menzalimi mereka. Dan sekiranya Dia mengasihi mereka, maka rahmat-Nya lebih baik daripada amal mereka. Dan sekiranya kamu memiliki emas seperti Gunung Uhud atau semisalnya, lalu kamu infakkan di jalan Allah, maka Dia tidak akan menerimanya sehingga kamu beriman terhadap qadar dan kamu mengetahui bahwa apa yang ditakdirkan menimpamu tidak akan meleset darimu dan apa yang ditakdirkan bukan bagianmu tidak akan mengenaimu, dan sesungguhnya jika kamu mati atas (aqidah) selain ini, maka niscaya kamu masuk neraka.” (HR. Ahmad, dari Zaid bin Tsabit)

Perhatikan beberapa ayat Allah dan hadits Nabi yang berkaitan dengan qadha dan qadar-Nya berikut ini.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. Al-Hadiid (57): 22-23]

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” [QS. Al-Qamar (54): 49]

“(Yaitu di hari) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh, sedangkan kafilah itu berada di bawah kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), pastilah kamu tidak sependapat dalam menentukan hari pertempuran itu, akan tetapi (Allah mempertemukan dua pasukan itu) agar Dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula). Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Anfaal (8): 42]

“Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.” [QS. Al-Ahzab (33): 38]

“Yang pertama kali diciptakan Allah Yang Mahaberkah lagi Mahaluhur adalah pena (al-qalam). Kemudian Dia berfirman kepadanya, ‘Tulislah…,’ Ia bertanya, ‘Apa yang saya tulis?’ Dia berfirman, ‘Maka ia pun menulis apa yang ada dan yang bakal ada sampai hari kiamat.” (HR Ahmad)

“Tiada seorang pun dari kalian kecuali telah ditulis tempatnya di neraka atau di surga. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Bolehkah kami bertawakal saja, ya, Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, (akan tetapi) beramallah…karena setiap orang dimudahkan (dalam beramal),’ kemudian beliau membaca ayat ini, ‘Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah), bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil, merasa dirinya cukup dan mendustakan pahala yang terbaik, maka kami kelak akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.’” (HR Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib)

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” [QS. Al-Lail (92): 5-10]

Rukun-rukun Iman Kepada Qadha Dan Qadar

Beriman kepada qadha dan qadar berarti mengimani rukun-rukunnya. Rukun-rukun ini ibarat satuan-satuan anak tangga yang harus dinaiki oleh setiap mukmin. Dan tidak akan pernah seorang mukmin mencapai tangga kesempurnaan iman terhadap qadar kecuali harus meniti satuan anak tangga tersebut.

Iman terhadap qadha dan qadar memiliki empat rukun sebagai berikut.

Pertama, Ilmu Allah swt. Beriman kepada qadha dan qadar berarti harus beriman kepda Ilmu Allah yang merupakan deretan sifat-sifat-Nya sejak azali. Dia mengetahui segala sesuatu. Tidak ada makhluk sekecil apa pun di langit dan di bumi ini yang tidak Dia ketahui. Dia mengetahui seluruh makhluk-Nya sebelum mereka diciptakan. Dia juga mengetahui kondisi dan hal-ihwal mereka yang sudah terjadi dan yang akan terjadi di masa yang akan datang oleh karena ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. Dialah Tuhan Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata.

Hal ini bisa kita temukan dalam beberapa ayat quraniah dan hadits nabawiah berikut ini.

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” [QS. Ath-Thalaaq (65): 12]

“Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” [QS. Al-Hasyr (59): 22]

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” [QS. Al-An’aam (6): 59]

“Allah lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan ketika menciptakan mereka.” (HR Muslim)

Kedua, Penulisan Takdir. Di sini mukmin harus beriman bahwa Allah swt. menulis dan mencatat takdir atau ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan kehidupan manusia dan sunnah kauniah yang terjadi di bumi di Lauh Mahfuzh—“buku catatan amal” yang dijaga. Tidak ada suatu apa pun yang terlupakan oleh-Nya. Perhatikan beberapa ayat di bawah ini.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” [QS. Al-Hadiid (57): 22-23]

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” [QS. Al-Hajj (22): 70]

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” [QS. Al-An’aam (6): 38]

“Yang pertama kali diciptakan Allah Yang Mahaberkah lagi Mahaluhur adalah pena (al-qalam). Kemudian Dia berfirman kepadanya, ‘Tulislah….” Ia bertanya, ‘Apa yang aku tulis?’ Dia berfirman, maka ia pun menulis apa yang ada dan yang bakal ada sampai hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Ketiga, Masyi`atullah (Kehendak Allah) dan Qudrat (Kekuasaan Allah). Seorang mukmin yang telah mengimani qadha dan qadar harus mengimani masyi`ah (kehendak) Allah dan kekuasaan-Nya yang menyeluruh. Apa pun yang Dia kehendaki pasti terjadi meskipun manusia tidak menginginkannya. Begitu pula sebaliknya, apa pun yang tidak dikehendaki pasti tidak akan terjadi meskipun manusia memohon dan menghendakinya. Hal ini bukan dikarenakan Dia tidak mampu melainkan karena Dia tidak menghendakinya. Allah berfirman,

“Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” [QS. Faathir (35): 44]

Adapun dalil-dalil tentang masyi`atullah sangat banyak kita temukan dalam Al-Qur`an, di antaranya sebagai berikut.

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” [QS. At-Takwiir (81): 29]

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus.” [QS. Al-An’aam (6): 39]

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ maka terjadilah ia.” [QS. Yaasiin (36): 82]

“Siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka Dia akan menjadikannya faqih (memahami) agama ini.” (HR. Bukhari)

Simaklah apa jawaban Imam Syafi’i ketika ditanya tentang qadar berikut ini.

“Maka, apa-apa yang Engkau kehendaki pasti terjadi meskipun aku tidak berkehendak
Dan apapun yang aku kehendaki—apabila Engkau tidak berkehendak—tidak akan pernah ada

Engkau menciptakan hamba-hamba ini sesuai yang Engkau ketahui
Maka dalam (bingkai) ilmu ini, lahirlah pemuda dan orang tua renta

Kepada (hamba) ini, Engkau telah memberikan karunia dan kepada yang ini Engkau hinakan
Yang ini Engkau tolong dan yang ini Engkau biarkan (tanpa pertolongan)

Maka, dari mereka ada yang celaka dan sebagian mereka ada yang beruntung
Dari mereka ada yang jahat dan sebagian mereka ada yang baik

Keempat, Penciptaan-Nya. Ketika beriman terhadap qadha dan qadar, seorang mukmin harus mengimani bahwa Allah-lah pencipta segala sesuatu, tidak ada Khaliq selain-Nya dan tidak ada Rabb semesta alam ini selain Dia. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut ini.

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” [QS. Az-Zumar (39): 62]

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukuranya dengan serapi-rapinya.” [QS. Al-Furqaan (25): 2]

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat Itu.“ [QS. Ash-Shaaffat (37): 96]

“Sesungguhnya, Allah adalah Pencipta semua pekerja dan pekerjaannya.” (HR. Hakim)

Inilah empat rukun beriman kepada qadha dan qadar yang harus diyakini setiap muslim. Maka, apabila salah satu di antara empat ini diabaikan atau didustakan, niscaya ia tidak akan pernah sampai gerbang keimanan yang sesungguhnya. Sebab, mendustakan satu di antara empat rukun tersebut berarti merusak bangunan iman terhadap qadha dan qadar, dan ketika bangunan iman terhadap qadar rusak, maka juga akan menimbulkan kerusakan pada bangunan tauhid itu sendiri.

Macam-macam Takdir

Takdir ada empat macam. Namun, semuanya kembali kepada takdir yang ditentukan pada zaman azali dan kembali kepada Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Keempat macam takdir tersebut adalah sebagai berikut.

Pertama, Takdir Umum (Takdir Azali). Takdir yang meliputi segala sesuatu dalam lima puluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Di saat Allah swt. memerintahkan Al-Qalam (pena) untuk menuliskan segala sesuatu yang terjadi dan yang belum terjadi sampai hari kiamat. Hal ini berdasarkan dalil-dalil berikut ini.

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” [QS. Al-Hadiid (57): 22]

“Allah-lah yang telah menuliskan takdir segala makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum diciptakan langit dan bumi. Beliau bersabda, ‘Dan ‘Arsy-Nya berada di atas air.” (HR. Muslim)

Kedua, Takdir Umuri. Yaitu takdir yang diberlakukan atas manusia pada awal penciptaannya ketika pembentukan air sperma (usia empat bulan) dan bersifat umum. Takdir ini mencakup rizki, ajal, kebahagiaan, dan kesengsaraan. Hal ini didasarkan sabda Rasulullah saw. berikut ini.

“…Kemudian Allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan untuk meniupkan ruhnya dan mencatat empat perkara: rizki, ajal, sengsara, atau bahagia….” (HR. Bukhari)

Ketiga, Takdir Samawi. Yaitu takdir yang dicatat pada malam Lailatul Qadar setiap tahun. Perhatikan firman Allah berikut ini.

“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” [QS. Ad-Dukhaan (44): 4-5]

Ahli tafsir menyebutkan bahwa pada malam itu dicatat dan ditulis semua yang akan terjadi dalam setahun, mulai dari kebaikan, keburukan, rizki, ajal, dan lain-lain yang berkaitan dengan peristiwa dan kejadian dalam setahun. Hal ini sebelumnya telah dicatat pada Lauh Mahfudz.

Keempat, Takdir Yaumi. Yaitu takdir yang dikhususkan untuk semua peristiwa yang akan terjadi dalam satu hari; mulai dari penciptaan, rizki, menghidupkan, mematikan, mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, dan lain sebagainya. Hal ini sesuai dengan firman Allah, “Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” [QS. Ar-Rahmaan (55): 29]

Ketiga takdir yang terakhir tersebut, kembali kepada takdir azali: takdir yang telah ditentukan dan ditetapkan dalam Lauh Mahfudz.

Berdalih dengan Qadar dalam Kemaksiatan dan Musibah

Semua yang ditakdirkan oleh Allah swt. selalu tersirat hikmah dan maslahat bagi manusia. Hikmah dan maslahat yang telah diketahui oleh-Nya. Maka, Dia tidak pernah menciptakan kejelekan dan keburukan murni yang tidak pernah melahirkan suatu kemaslahatan. Kejelekan dan keburukan ini tidak boleh dinisbatkan kepada Allah swt., melainkan dinisbatkan kepada amal perbuatan manusia. Sesungguhnya, segala sesuatu yang dinisbatkan kepada Allah mengandung keadilan, hikmah, dan rahmat .

Hal ini berdasarkan firman Allah swt., “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” [QS. An-Nisaa` (4): 79]

Maksudnya, segala kenikmatan dan kebaikan yang dialami manusia berasal dari Allah SWT, sedangkan keburukan yang menimpanya diakibatkan karena dosa dan kemaksiatannya.

Allah membenci kekufuran dan kemaksiatan yang dilakukan hamba-hamba-Nya. Sebaliknya, Dia mencintai dan meridhai ketakwaan dan kesalehan. Dia juga menunjukkan dua jalan untuk hamba-hamba-Nya, sedangkan manusia diberikan akal untuk memilih salah satu jalan tersebut sesuai pilihan dan kehendaknya. Maka, barangsiapa yang memilih jalan kebaikan ia berhak mendapat ganjaran dan yang memilih jalan keburukan atau kebatilan maka ia berhak mendapat siksa oleh karena hal ini dilakukan secara sadar dan atas pilihannya sendiri tanpa ada unsur paksaan. Meskipun sebab-sebab dan factor-faktor pendorong amal perbuatannya tidak lepas dari kehendak Allah swt.

Maka, tidak ada alasan dan hujjah lagi bagi manusia bahwa setiap kekufuran dan kemaksiantan yang dilakukannya karena takdir Allah swt. Oleh karena itu, Allah mencela orang-orang musyrik yang berdalih dengan masyi-at Allah atas kekufuran mereka seperti dalam firmanNya;

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun.’ Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah, ‘Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta. Katakanlah, ‘Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya.” [QS. Al-An’aam (6): 148-149]

“Dan berkatalah orang-orang musyrik, ‘Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak akan menyembah sesuatu apa pun selain Dia, baik kami maupun bapak-bapak kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa (izin)-Nya.’ Demikianlah yang diperbuat orang-orang sebelum mereka, maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. Tiap-tiap umat mempunyai rasul yang diutus untuk menerangkan kebenaran.” [QS. An-Nahl (16): 35]

Adapun berhujjah dengan takdir atas musibah yang menimpa manusia dapat dibenarkan Islam. Sebagaimana dialog yang terjadi antara Nabi Adam dan Nabi Musa tentang musibah dikeluarkannya Bani Adam dari surga.

“Adam dan Musa berbantah-bantahan. Musa berkata, ‘Wahai, Adam, Anda adalah bapak kami yang telah mengecewakan dan mengeluarkan kami dari surga. Lalu Adam menjawab, ‘Kamu, wahai Musa yang telah dipilih Allah dengan Kalam-Nya dan menuliskan untkmu dengan Tangan-Nya, apakah kamu mencela kepadamu atas suatu perkara yang mana Allah telah menakdirkan kepadaku sebelum aku diciptakan empat puluh tahun?’ Maka Nabi bersabda, ‘Maka, Adam telah membantah Musa, Adam telah membantah Musa.’” (HR. Muslim)

Buah Iman Kepada Qadar

Muslim yang meyakini akan qadha dan qadar Allah swt. secara benar akan melahirkan buah-buah positif dalam kehidupannya. Ia tidak akan pernah frustrasi atas kegagalan atau harapan-harapan yang lari darinya, dan ia tidak terlalu berbangga diri atas kenikmatan dan karunia yang ada di genggamannya. Sabar dan syukur adalah dua senjata dalam menghadapi setiap permasalahan hidup.

Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar dalam kitab “Al-Qadha wa Al-Qadar” menyimpulkan buah beriman terhadap qadar sebagai berikut.

Pertama, jalan yang membebaskan kesyirikan.

Kedua, tetap istiqamah. “Sesungguhnya, manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” [QS. Al-Ma’arij (70): 19-22]

Ketiga, selalu berhati-hati. “Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” [QS. Al-A’raaf (7): 99]

Keempat, sabar dalam menghadapi segala problematika kehidupan.

Sumber: Dakwatuna

Rahasia Iman

Dalam Al-Qur’an, Allah swt. selalu menegaskan tentang iman. Bahkan panggilan identitas hamba-hamba-Nya disebut dengan: almu’minuun, atau alladziina aamanuu. Iman secara bahasa artinya percaya. Dari percaya muncul sikap atau perbuatan. Seorang pasien yang percaya kepada dokternya, ia akan patuh ikut apa kata dokter. Ketika dokter memutuskan: ”Anda kena penyakit kanker, ia langsung percaya. Lalu ketika dokter memutuskan: Anda harus diopreasi,” Ia langsung siap berapapun harus membayar biaya. Obat-obatan dari dokter diminum sesuai dengan aturan yang ditentukan, ada yang tiga kali atau dua kali sehari dan lain sebagainya. Semua itu dipatuhi dengan sungguh-sungguh. Bahkan pantangan makanan yang dilarang oleh dokter pun dijauhi, seenak apapun makanan tersebut, ia berusaha menghindar semaksimal mungkin.

Pernah seorang pasien penderita diabet, ditawarin makanan kue yang sangat enak dan lezat. Seketika ia berkata, kata pak dokter ini tidak boleh saya makan. Perhatikan sungguh tidak sedikit manusia yang sangat patuh kepada dokter, tetapi kepada Allah tidak demikian. Padahal Allah jauh lebih luas pengetahuan-Nya dari pada seorang dokter.

”Percaya” adalah kekuatan untuk patuh, seperti patuhnya seorang pasien yang sangat percaya kepada sang dokter. Percaya dalam Islam disebut iman. Iman harus berkaitan dengan yang ghaib. Sebab ia merupakan kebutuhan ruhani. Karenanya di pembukaan surah Al-Baqarah:3, Allah berfirman: ”Alladziina yu’minuuna bilghaibi (yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib).” Berdasarkan ayat ini maka iman itu harus berkaitan kepada yang ghaib. Seperti beriman kepada Allah, para malaikat dan wahyu yang turun kepada para rasul, itu semua adalah ghaib. Dan ternyata ini adalah kebutuhan fitrah manusia. Inilah makna fithrah yang Allah firmankan:

”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (30:30)

Jadi pada dasar penciptaannya manusia telah dibekali iman. Dalam surah Al-A’raf: 72, Allah berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Inilah persaksian setiap janin, ketika masih dalam rahim ibunya, ia telah dengan jujur mengakui keimanannya kepada Allah. Inilah makna hadits Nabi saw. Yang sangat terkenal: “Kullu mawluudin yuuladu ‘alal fithrah (setiap bayi yang baru lahir, ia lahir dalam keadaan fitrah (maksdunya berimana kepada Allah swt).”

Sayangnya kemudian bahwa materialisme telah menyeret manusia untuk hanya menekuni kebutuhan fisiknya. Akibatnya mereka selalu sibuk dengan hal-hal yang berupa benda. Bahkan yang lebih parah mereka berusaha untuk membendakan yang ghaib. Itulah asal-muasal munculnya matahari, patung, pohon besar dan lainya dianggap sebagai tuhan. Mereka merasa kurang puas kalau tuhan yang mereka sembah tidak nampak. Padahal tabiat iman harus selalau berkaitan dengan yang ghaib. Maka selama kecendrungan materialistik tetap menguasai dan diutamakan di atas segalanya, otomatis keimanan akan terkesampingkan. Dan mereka tidak akan pernah merasakan nikmatnya iman. Dari sinilah kekeringan ruhani terjadi.

Semua orang sebenarnya ingin bahagia. Tetapi banyak dari mereka yang tidak menemukan kebahagiaan itu. Ada yang mengejar kebahgiaan di balik hiburan dan kemegahan. Bahkan banyak juga yang sampai tercebur dalam dosa-dosa. Namun ternyata kebahagiaan tidak juga didapatkan. Banyak orang mengalami stress dan depressi justru di saat telah mencapai puncak keberhasilan secara keduniaan. Di sini jawabannya adalah iman. Bahwa hanya iman yang akan mengisi kekeringan ruhani mereka. Caranya patuhi Allah dengan sesungguh-sungguhnya. Bukan sekedar basa-basi atau puara-pura atau setengah hati. Bila mereka patuh kepada dokter atau bos dengan sungguh-sungguh, maka patuhlah kepada Allah di atas semua itu.

Yang banyak terjadi adalah bahwa Allah sering dikesampingkan. Shalat diabaikan karena rapat dan lain sebagainya. Seharusnya seorang muslim waktunya diseting oleh shalat, bukan dia yang menseting shalat. Demikinlah Rasulullah dan sahabat-sahabatnya mencontohkan hal ini.

Maka selama kepatuhan kepada Allah dianggap sampingan, iman tidak akan pernah berdaya. Dan akibatnya kebahagiaan hakiki tidak bisa dicapai. Sebaliknya ketika keimanan benar-benar menggelora, lalu dibuktikan dengan kepatuhan yang jujur dan maksimal kepada Allah, maka kebahagiaan akan tercapai. Wallahu a’lam bishshowab.

 

 

Sumber: Dakwatuna

Motivasi Iman

Iman adalah energi yang kuat yang terus mendorong orang-orang beriman untuk terus beribadah, beramal, berdakwah dan berjihad kemudian memberi manfaat sebesar-besarnya kepada umat manusia sesuai dengan tingkatan orang beriman dan sesuai dengan asupan ruhiyah imaniyah yang dicapainya.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Rasulullah saw. Bersabda, “Siapa yang pagi ini puasa?”  Abu Bakar ra. menjawab, “Saya, Rasul bertanya, “Siapa yang pagi ini sudah mengantar jenazah ke kuburan?” Abu Bakar ra. menjawab, “Saya, Rasul saw. bertanya, “Siapa yang pagi hari ini telah memberi makan orang miskin? “Abu Bakar ra. menjawab, “Saya, Rasul saw. bertanya, “Siapa yang pagi hari ini menengok orang sakit?” Abu Bakar ra. menjawab, “Saya”. Maka Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah (semua perbuatan baik itu) terkumpul pada seseorang pasti dia akan masuk surga”. (HR Muslim)

Mereka ibarat pohon berbuah yang dilempari batu oleh sang pelempar, tetapi pohon itu melempari buahnya bagi manusia. “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. (Ibrahim 24-25)

Berkata Imam Hasan Al-Bashri, “Keimanan bukanlah angan-angan tetapi keyakinan yang kokoh dalam hati dan dibuktikan oleh amal”

Keimanan merupakan daya dorong atau motivasi internal yang senantiasa menggerakkan orang yang beriman untuk senantiasa beramal dan beramal. Segala produktifitas kebaikan dilahirkan oleh orang-orang beriman, sesuai dengan kekuatan keimanan tersebut. Puncaknya terjadi pada diri Rasulullah saw., sahabat, tabiin dan tabiit tabiin. Merekalah generasi terbaik dari umat ini. Rasul saw. Bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baiknya manusia adalah di masaku, kemudian masa berikutnya, kemudian masa berikutnya” (HR Bukhari dan Muslim).

Apa yang dicontohkan oleh sahabat mulia Abu Bakar ra adalah bukti nyata betapa produktifnya beliau dalam waktu yang masih relatif pagi telah memborong amal shalih, puasa sunnah, mengantar jenazah, memberi makan orang miskin dan menengok saudaranya seiman yang sakit. Dan itu dilakukan diluar Ramadhan.

Orang-orang beriman adalah orang-orang yang memahami tugas dan risalahnya kemudian melaksanakan tugas dan risalah atau misinya tersebut. Mereka mengetahui bahwa hidup di dunia ini sementara dan kemudian seluruh perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Taala, sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Zalzalah 6-8:

Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”.

Kualitas keislaman seseorang adalah sejauh mana dia mampu melaksanakan amal-amal berkualitas dalam pandangan Islam dan meninggalkan perbuatan yang tidak berguna apalagi mengandung dosa. Rasulullah saw. bersabda, “Di antara kesempurnaan Islam seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna”. Sedangkan hidup ini adalah kumpulan dari hari-hari, maka sangat merugilah orang yang menyia-nyiakan waktunya.

Jatidiri keimanan akan senantiasa mendorong dan memotivasi orang beriman untuk senantiasa beramal, merespon setiap tugas dengan cepat dan berlomba dalam melaksanakan setiap kebaikan. Dan itu akan dilakukan setiap saat, bukan hanya waktu-waktu tertentu, seperti di bulan Ramadhan.

Respon Yang Cepat (Sur’atul Ijabah)

Kecepatan merespon tugas merupakan bukti kekuatan keimanan seseorang. Maka Para nabi, para sahabat dan salafu shalih adalah contoh terbaik dalam hal ini. Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ahmad dll, Abu Talhah adalah kaum Anshar yang paling banyak memiliki kebun kurma, dan salah satu kebun yang paling ia sukai adalah Bi’raha, kebun tersebut menghadap masjid. Dan NabiShalallahu ‘alaihi wa Sallam sering mengunjungi kebun tersebut, masuk ke dalam, minum air yang sangat murni disana. Dan ketika Abu Thalhah mendengar turun ayat: {لن تنالوا البر حتى تنفقوا مما تحبون} . Berkata Abu Talhah, “Wahai Rasulullah, Allah telah berfirman dalam ayatnya, dan harta yang paling saya cintai adalah kebun Bi’raha. Dengan ini saya sedekahkan karena Allah. Saya harap kebaikan dan sebagai tabungan di sisi Allah. Maka ambillah wahai Rasulullah sesuai kehendakmu yang baik dalam pandangan Allah. Maka Rasulullah gembira dan menjawab, “Harta yang berkah-harta yang beruntung, saya telah mendengar apa yang engkau katakan. Tetapi saya berpendapat lebih baik engkau berikan kepada kerabatmu”. Berkata Abu Talhah, “Akan saya lakukan wahai Rasulullah”. Maka ia bagikan kepada kerabat-kerabatnya dari anak-anak pamannya.

Perang Yarmuk diikuti sekitar seribu sahabat Rasulullah SAW, di antara mereka seratus sahabat yang ikut perang Badar bersama panglima mereka Rasul SAW. Di antara sahabat tersebut adalah Muadz bin Jabal dan anaknya Abdurahman ra. Sebelum terjadi peperangan, Muadz bin Jabal mengelilingi barisan umat Islam memberi semangat perang, mengingatkan akan hari-hari Allah, mengingatkan akan karunia surga dan kenikmatannya. Di antara yang dikatakannya adalah, “Wahai umat Islam, wahai pembela hidayat dan kebenaran. Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan diperoleh kecuali dengan kerja dan niat. Maka janganlah sampai Allah nanti melihat kalian dalam kondisi lari dari musuhmu”.

Di bagian lain panglima perang pasukan Romawi mengawasi Muadz bin Jabal dan mengamati langkahnya. Setelah terlihat jelas, satu dengan yang lain memanggil untuk perang tanding. Tentara Romawi maju memanggil umat Islam untuk keluar menampilkan pahlawannya untuk berhadapan dan dia menunjukkan pedangnya pada Muadz. Maka Muadz maju menemui panglimanya Abu Ubaidah untuk mendapatkan izin perang tanding menghadapai seorang tentara Romawi tadi, dan memeberikan padanya bendera yang dipegang Muadz. Berkata Abu Ubaidah, “Wahai Muadz saya minta dengan hak Rasulullah SAW, engkau tetap pegang bendera itu. Demi Allah engkau tetap memegang bendera lebih aku sukai daripada tanding dengan orang kafir ini”. Maka Muadz tunduk mengikuti pendapat panglimanya dan menyeru:”wahai umat Islam barangsiapa ingin kuda untuk berperang di jalan Allah maka ini kudaku dan ini pedangku ambillah ! Belum selesai Muadz menyelesaikan ungkapannya, anaknya Abdurrahman berdiri didepannya dan berkata, “Wahai bapak, saya yang mengahadap orang ini. Jika saya sabar maka itu karunia dari Allah, jika dia membunuhku. Maka salam sejahtera untukmu wahai bapakku. Jika engkau ingin bertemu dengan Rasulullah SAW maka berikanlah wasiat tadi”

Muadz diam tertegun, dalam dirinya terjadi pergolakan batin antara dorongan kebapakan yang melarang anaknya dan dorongan keimanan yang membiarkan anaknya menginginkan apa yang diridhai Allah. Tetapi hal itu tidak lama sehingga Muadz sudah dapat memutuskan. Muadz merangkul anaknya dan berkata, “wahai anakku tetaplah dengan apa yang engkau tekadkan, karena rizkimu adalah syahadah (mati syahid). Engkau akan bertemu dengan Rasulullah saw, sampaikan salam dariku, dan katakanlah, “Semoga Allah memberikan balasan atas kebaikan umatmu wahai Rasulallah”.

Dan pergilah Abdurrahman bin Muadz bin Jabal menuju si kafir Romawi. Maka saling hantam dan saling pukul. Kemudian Abdurahman memukul dengan pedangnya yang hampir membunuhnya. Tetapi si Romawi loncat menjauhinya. Keseimbangan Abdurahman oleng, maka dengan cepat si Romawi menghantam dengan pedangnya. Peci imamah di kepalanya potong dan kepalanya terluka. Romawi menyangka bahwa dia telah mampu membunuh Abdurrahman. Abdurahman mundur menuju pasukan umat Islam. Bapaknya menemuinya dan berkata, “Kenapa engkau wahai anakku?” Berkata Abdurrahman, “Si kafir itu membunuhku wahai bapakku”. Berkata Mudaz ra, “Apa lagi yang engkau kehendaki dari dunia wahai anakku. Jarak antaramu dengan surga tinggal beberapa langkah, majulah dan bunuhlah si kafir itu”. Maka Abdurahman menanggung nyeri dari lukanya yang dalam dan kembali maju untuk menghadapi si Romawi. Tetapi takdir Allah telah mendahuluinya mengantarkan dia ke surga sebelum sampai menghadapi si Romawi.

Berlomba dalam Kebaikan (Musabaqah Fil Khairat)

Orang beriman memahami bahwa kewajiban yang di tugaskan lebih banyak dari waktu yang tersedia. Oleh karenannya dia terus-menerus beramal dan keimanan itu memotivasi dirinya untuk tetap beramal dalam kondisi apapun. Dalam sebuah hadits riwayat imam Muslim disebutkan bahwa sebagian sahabat bertanya pada Rasulullah saw. ”Wahai Rasulullah saw. orang-orang kaya telah memborong pahala kebaikan, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa. Dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka“. Rasul saw. bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian bisa sedekah? Bahwa setiap tasbih sedekah, setiap takbir sedekah, setiap tahmid sedekah, setiap tahlil sedekah, setia amar ma’ruf sedekah, setiap nahi mungkar sedekah. Dan seseorang meletakkan syahwatnya (pada istrinya) sedekah”. Sahabat bertanya, “Apakah seseorang menyalurkan syahwatnya dapat pahala? Rasul saw menjawab: Ya, bukankah jika menyalurkannya pada yang haram akan mendapat dosa? Begitulah jika menyalurkan pada yang halal maka akan mendapat pahala.

Hadits ini mengisyaratkan bahwa orang-orang beriman memiliki motivasi tinggi dalam beramal dan senantiasa belomba dalam kebaikan untuk mendapatkan sebanyak-banyaknya kebaikan dan pahala. Dan hadits ini juga menerangkan betapa amal shalih itu banyak dan beragam bentuknya. Ketika kita melakukannya, dan dengan niat karena Allah, maka itu bagian dari sedekah dan kontribusi kita pada umat dan bangsa. Lapangan hidup bagi orang beriman tidaklah sempit, bukan hanya rumah dan tempat mencari nafkah saja. Tetapi lapangan hidup orang beriman adalah bumi dan seisinya dengan berbagai macam aktifitasnya. Apalagi jika orang beriman terlibat dengan aktifitas dakwah, maka dia akan mendapatkan banyak manfaat dan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.

Dan potret kehidupan yang luas dan disisi dengan semangat perlombaan ini sangatlah banyak pada orang-orang beriman generasi terbaik dari umat ini. Dalam perang Tabuk sahabat Rasulullah saw. melakukan penjagaan di kegelapan malam, tiba-tiba mereka mendapatkan seseorang yang sedang menjaga tentara, maka ia adalah penjaga tentara yang sedang berjaga. Dia adalah Salikah bin salamah. Ketika diberitakan pada Rasul saw. berita tentangnya, beliau berdo’a, “Ya Allah berilah rahmat kepada para penjaga dan penjaga para penjaga”.

Umar bin Khattab ra. berkata, “Rasulullah saw. melewati Abdullah bin Mas’ud, saya dan Abu Bakar bersama beliau dan Ibnu Ma’sud sedang membaca Al-Qur’an. Maka Rasulullah saw. bangkit dan mendengarkan bacaannya, kemudian Abdullah ruku dan sujud. Berkata Umar ra, Rasul saw. bersabda, “Mintalah pasti akan dikabulkan, mintalah pasti akan dikabulkan”. Berkata Umar ra. Kemudian Rasulullah saw. berlalu (dari Ibnu Mas’ud ra) dan bersabda, “Barangsiapa ingin membaca Al-Quran seindah sebagaimana diturunkan, maka bacalah sebagaimana bacaan Ibnu Ummi Abdi (Ibnu Mas’ud)”. Berkata (Umar), “Maka saya bersegera di malam hari datang menuju rumah Abdullah bin Mas’ud untuk menyampaikan kabar gembira apa yang dikatakan Rasulullah saw, berkata (Umar), “Tatkala saya mengetuk pintu atau berkata agar (Ibnu Mas’ud) mendengar suaraku, berkata Ibnu Mas’ud ra.“ Apa yang yang membuatmu datang pada saat seperti ini?” Saya berkata, “Saya datang untuk menyampaikan kabar gembira (padamu) sebagaimana apa yang telah dikatakan Rasulullah saw“. Berkata Ibnu Mas’ud ra. “Abu Bakar telah mendahuluimu”. Saya berkata, ”Apa yang dia lakukan, dia selalu menang dalam perlombaan kebaikan, tidaklah saya berlomba untuk suatu kebaikan pasti dia (Abu Bakar) telah mendahuluiku.” (HR Ahmad)

Itu adalah motivasi keimanan yang menggerakkan orang-orang beriman untuk cepat merespon tugas dan senantiasa berlomba dalam kebaikkan. Abu Bakar ra, Umar ra, Abu Thalhah ra, Muadz bin Jabal dan putranya telah mencontohkan yang terbaik dalam merespon tugas dan perlombaan kebaikan. Begitulah kondisi mereka tidak pernah meninggalkan pintu-pintu kebaikan, kecuali mereka cepat melaksanakannya dengan motivasi yang kuat. Hal ini hanya dimiliki oleh orang-orang beriman yang selalu siap untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka yaitu pahala, keridhoan dan surga Allah. Wallahu ‘alam.
sumber: Dakwtuna

Mengenal Tauhid (Mengesakan Tuhan) dan Syirik (Menyekutukan Tuhan)

Apabila anda belum membaca artikel sebelumnya tentang Konsep Tuhan yang Benar, diharapkan anda membaca artikel tersebut terlebih dahulu agar lebih memahami artikel tentang tauhid ini. Silahkan klik disini untuk membaca artikel tentang Konsep Tuhan yang Benar.

Definisi dan Kategori:

Islam meyakini ‘Tauhid’ yang tidak hanya berarti beriman pada Tuhan yang Maha Esa, melainkan lebih dari itu. Tauhid secara harfiah berarti ‘bersaksi akan ke-Maha Esa-an Tuhan’ yang berarti ‘menegaskan sifat Maha Esa dari Tuhan’ dan berasal dari kata kerja bahasa Arab ‘Wahhada’ yang berarti ‘mengesakan.”

Tauhid dapat dibagi menjadi tiga kategori.

  1. Tauhid ar-Rububiyah
  2. Tauhid al-Asmaa-was-Sifaat
  3. Tauhid al-ibadah.
  1. Tauhid ar-Rububiyah (mengesakan Tuhan)

Kategori pertama adalah ‘Tauhid ar-Rububiyah’. ‘Rububiyah’ berasal dari kata “Rabb” yang berarti Tuhan Yang Maha Memelihara Alam Semesta beserta isinya. Oleh karena itu Tauhid ar-Rububiyah berarti bersaksi akan keesaan Tuhan Semesta Alam. Kategori ini berdasarkan konsep bahwa hanya Allah (swt) yang menciptakan segala hal dari ketiadaan. Dia adalah satu-satunya Pencipta, Pemelihara, dan Penjaga alam semesta beserta isinya, tanpa memerlukan apapun dari alam semesta atau mengharapkan sesuatu dari alam semesta.

  1. Tauhid al-Asmaa was-Sifaat (mengesakan nama dan sifat-sifat Allah):

Kategori kedua adalah ‘Tauhid al Asmaa was Sifaat’ yang berarti mengesakan nama dan sifat-sifat Allah. Kategori ini dibagi menjadi lima aspek:

(i) Definisi tentang Allah harus merujuk sebagaimana yang dijelaskan oleh-Nya dan Nabi Muhammad s.a.w. Definisi tentang Allah harus sesuai dengan penjelasan oleh-Nya sendiri dan Rasulullah s.a.w tanpa memberikan makna lain kepada nama dan sifat-sifat-Nya selain yang dijelaskan oleh-Nya dan Nabi Muhammad s.a.w.

(ii) Allah harus disebut sebagaimana Ia menyebut diri-Nya

Allah tidak boleh diberikan nama-nama atau sifat-sifat baru. Misalnya Allah tidak dapat diberi nama Al-Ghaadib (Yang Maha Memurkai), meskipun dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an dan hadist, Allah murka. Hal ini dikarenakan Allah dan Nabi Muhammad tidak pernah menggunakan nama ini.

(iii) Allah disebut tanpa memberikan-Nya sifat dari makhluk-Nya

Ketika menyebut Tuhan, kita jangan sampai memberikannya sifat-sifat dari ciptaan-Nya. Misalnya dalam Bibel, Tuhan digambarkan menyesali pikiran buruk-Nya sama seperti yang manusia lakukan ketika menyadari kesalahan mereka. Hal ini benar-benar bertentangan dengan prinsip Tauhid. Tuhan tidak pernah melakukan kesalahan apapun dan oleh karenanya Dia tidak pernah menyesal.

Poin penting berkenaan dengan sifat-sifat Allah ada dalam Al Qur’an di Surat Ash-Syuura

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” [Al-Qur’an 42:11]

Mendengar dan melihat adalah kemampuan yang juga dimiliki manusia. Namun, berkenaan dengan Tuhan, maka penglihatan dan pendengaran Tuhan tidak sama dengan makhluk ciptaan-Nya. Kita tidak bisa membayngkan dan membandingkan penglihatan dan pendengaran Tuhan dalam hal kesempurnaan, tidak seperti manusia yang membutuhkan telinga dan mata, dimana kemampuan penglihatan dan pedengaran manusia juga terbatas dalam hal ruang dan waktu.

(iv) Makhluk Tuhan tidak boleh memakai sifat-sifat-Nya

Menyebut/memanggil manusia dengan sifat-sifat Tuhan juga bertentangan dengan prinsip Tauhid. Misalnya, menyebut seseorang dengan sebutan “dia yang tidak memiliki awal atau akhir (abadi).”

(v) Nama Tuhan tidak dapat diberikan kepada makhluk-Nya

Beberapa nama Tuhan dalam bentuk terbatas, seperti ‘Rauf’ atau ‘Rahim’ adalah nama-nama yang diizinkan untuk manusia sebagaimana Allah telah menggunakan nama-nama itu untuk para nabi; tapi ‘Ar-Rauf’ (Maha Shaleh) dan ‘Ar-Rahim’ (Maha Penyayang) hanya dapat digunakan jika diawali dengan ‘Abdu’ yang berarti ‘hamba.’ Dengan demikian menamai seseorang ‘Abdur-Rauf’ atau ‘Abdur- Raheem’ dibolehkan dalam Islam. Demikian pula ‘Abdur-Rasul’ (hamba Rasulullah) atau ‘Abdun-Nabi’ (hamba Nabi) tidak boleh digunakan.

  1. Tauhid al-ibadah (mengesakan Tuhan dalam Ibadah):

(i) Definisi dan makna ‘Ibadaah’:

‘Tauhid al-ibadah’ berarti mengesakan Tuhan dalam ibadah. Ibaadah berasal dari kata Arab ‘Abd’ yang berarti hamba. Jadi ibadah berarti penghambaan dan penyembahan.

(ii) Ketiga kategori tersebut harus diikuti secara bersamaan.

Hanya mengimani dua kategori Tauhid tanpa menerapkan Tauhid-al-ibadah tidaklah berguna. Al-Qur’an memberikan contoh tentang orang-orang musyrik (penyembah berhala) di zaman Rasulullah yang hanya mengimani dua kategori Tauhid. Hal ini difirmankan dalam Al Qur’an:

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?[Al-Qur’an 10:31]

Pesan yang serupa diulangi dalam Surat Az-Zukhruf dalam Al-Qur’an:

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?[Al-Qur’an 43:87]

Orang-orang kafir Mekkah mengetahui bahwa Allah (swt) adalah Pencipta, Pemberi rezeki, dan Penguasa mereka. Namun mereka bukan Muslim karena mereka juga menyembah berhala selain Allah. Allah (swt) menyebut mereka sebagai ‘kuffar’ (orang-orang kafir) dan ‘musyrikin’ (penyembah berhala dan orang-orang yang menyekutukan Allah).

Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” [Al-Qur’an 12: 106]

Jadi ‘Tauhid al-ibadah’ atau mengesakan Tuhan dalam ibadah adalah aspek yang paling penting dari Tauhid. Hanya Allah (swt) saja yang layak disembah dan hanya Dia yang dapat memberikan manfaat kepada manusia yang menyembah-Nya.

Syirik

  1. Definisi Syirik: menghilangkan salah satu kategori tauhid yang dijelaskan di atas atau tidak memenuhi persyaratan Tauhid disebut sebagai ‘syirik’. ‘Syirik’ secara harfiah berarti menyekutukan. Dalam istilah Islam, syirik berarti menyekutukan Allah dan hal ini setara dengan menyembah berhala.
  1. Syirik adalah dosa terbesar yang tidak akan diampuni Allah:

Al-Qur’an menggambarkan dosa terbesar dalam Surat An-Nisaa’:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [Al-Qur’an 4:48]

Pesan yang sama diulangi dalam ayat berikut:

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [Al-Qur’an 4: 116]

  1. syirik menjerumuskan manusia ke dalam api neraka:

Allah berfirman dalam Surat Al-Maidah:

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam (Yesus putra Maria)”, padahal Al Masih (Yesus) sendiri berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allahq, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” [Al-Qur’an 5:72]

  1. Ibadah dan Ketaatan kepada selain Allah:

Allah berfirman dalam Surat Ali ‘Imran:

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” [Al-Qur’an 3:64]

Allah berfirman:

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Qur’an 31:27]

Analisis tentang Konsep Tuhan dalam berbagai Agama menunjukkan bahwa monoteisme merupakan bagian penting dari setiap agama-agama besar di dunia. Namun, sangat disayangkan sebagian dari penganut agama ini melanggar ajaran kitab suci mereka sendiri dan telah menyekutukan Tuhan.

Dengan menganalisis kitab-kitab suci dari berbagai agama, saya menemukan bahwa semua kitab suci dari berbagai agama menasihati umat manusia untuk beriman dan tunduk kepada Tuhan Yang Maha Esa. Semua kitab suci berbagai agama mengutuk orang yang menyekutukan Tuhan, atau menyembah Tuhan dalam bentuk gambar/berhala. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” [Al-Qur’an 22:73]

Dasar dari agama adalah menerima petunjuk dari Ilahi. Menolak petunjuk dari Tuhan dapat berakibat fatal bagi manusia. Sementara kita telah membuat langkah besar dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, kedamaian yang sejati masih hilang dari diri kita. Semua paham ‘isme’ seperti ateisme, liberalisme, sosialisme, komunisme, dan lain-lain telah gagal menyediakan kedamaian yang sejati tersebut.

Kitab suci dari berbagai agama-agama besar menasihati umat manusia untuk mengikuti apa yang baik dan menghindari yang jahat. Semua kitab suci mengingatkan umat manusia yang baik akan diberikan hadiah oleh Tuhan dan kejahatan tidak akan luput dari hukuman Tuhan!

Pertanyaan yang perlu kita tanyakan adalah, kitab suci dari agama manakah yang memberikan kita ‘instruksi manual’ yang benar yang kita butuhkan untuk mengatur kehidupan individu dan kolektif kita? Kitab suci agama manakah yang mengajarkan kita tentang keesaan Tuhan dengan benar? Jawabannya adalah agama Islam seperti yang sudah dijelaskan di atas dan pada artikel sebelumnya tentang Konsep Tuhan yang benar dan artikel Kenapa Hanya Boleh Memilih Islam Sementara Semua Agama Mengajarkan Kebenaran?

Saya berharap dan berdoa agar Allah menuntun kita semua menuju Kebenaran (Aamiin).

 

 

 

Ditulis oleh: Dr. Zakir Naik dari irf.net

sumber:Lampu Islam

Ya Allah!

“Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta pada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”

(QS. Ar-Rahman: 29)

Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung, dan angin bertiup kencang menerjang, semua penumpang kapal akan panik dan menyeru: “Ya Allah!”

Ketika seseorang tersesat di tengah gurun pasir, kendaraan menyimpang jauh dari jalurnya, dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya, mereka akan menyeru: “Ya Allah!”

Ketika musibah menimpa, bencana melanda, dan tragedi terjadi, mereka yang tertimpa akan selalu berseru: “Ya Allah!”

Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup, dan tabir-tabir permohonan digeraikan, orang-orang mendesah: “Ya Allah!”

Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa menyempit, harapan terputus, dan semua jalan pintas membuntu, mereka pun menyeru: “Ya Allah!”
Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup, dan jiwa serasa tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus Anda pikul, menyerulah:”Ya Allah!”

Kuingat Engkau saat alam begitu gelap gulita, dan wajah zaman berlumuran debu hitam. Kusebut nama-Mu dengan lantang di saat fajar menjelang, dan fajar pun merekah seraya menebar senyuman indah.

Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata yang menetes penuh keikhlasan, dan semua keluhan yang menggundahgulanakan hati adalah hanya pantas ditujukan ke hadirat-Nya.

Setiap dini hari menjelang, tengadahkan kedua telapak tangan, julurkan lengan penuh harap, dan arahkan terus tatapan matamu ke arah-Nya untuk memohon pertolongan! Ketika lidah bergerak, tak lain hanya untuk menyebut, mengingat dan berdzikir dengan nama-Nya. Dengan begitu, hati akan tenang, jiwa akan damai, syaraf tak lagi menegang, dan iman kembali berkobar-kobar. Demikianlah, dengan selalu menyebut nama-Nya, keyakinan akan semakin kokoh. Karena,

“Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya.”

(QS. Asy-Syura: 19)

Allah: nama yang paling bagus, susunan huruf yang paling indah, ungkapan yang paling tulus, dan kata yang sangat berharga.

“Apakah kamu tahu ada seseorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?”

(QS. Maryam: 65)

Allah: milik-Nya semua kekayaan, keabadian, kekuatan, pertolongan, kemuliaan, kemampuan, dan hikmah.

“Milik siapakah kerajaan pada hari ini? Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.”

(QS. Ghafir: 16)

Allah: dari-Nya semua kasih sayang, perhatian, pertolongan, bantuan, cinta dan kebaikan.

“Dan, apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah. (datangnya).”

(QS. An-Nahl: 53)

Allah: pemilik segala keagungan, kemuliaan, kekuatan dan keperkasaan.

Betapapun kulukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf, Kekudusan-Mu tetap meliputi semua arwah Engkau tetap Yang Maha Agung, sedang semua makna, akan lebur, mencair, di tengah keagungan-Mu, wahai Rabku

Ya Allah, gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan, jadikan kesedihan itu awal kebahagian, dan sirnakan rasa takut ini menjadi rasa tentram. Ya Allah, dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan, dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan.

Wahai Rabb, anugerahkan pada mata yang tak dapat terpejam ini rasa kantuk dari-Mu yang menentramkan. Tuangkan dalam jiwa yang bergolak ini kedamaian. Dan, ganjarlah dengan kemenangan yang nyata.

Wahai Rabb, tunjukkanlah pandangan yang kebingungan ini kepada cahaya-Mu. Bimbinglah sesatnya perjalanan ini ke arah jalan-Mu yang lurus. Dan tuntunlah orang-orang yang menyimpang dari jalan-Mu merapat ke hidayah-Mu.

Ya Allah, sirnakan keraguan terhadap fajar yang pasti datang dan memancar terang, dan hancurkan perasaan yang jahat dengan secercah sinar kebenaran. Hempaskan semua tipu daya setan dengan bantuan bala tentara-Mu.

Ya Allah, sirnakan dari kami rasa sedih dan duka, dan usirlah kegundahan dari jiwa kami semua.

Kami berlindung kepada-Mu dari setiap rasa takut yang mendera. Hanya kepada-Mu kami bersandar dan bertawakal. Hanya kepada-Mu kami memohon, dan hanya dari-Mu lah semua pertolongan. Cukuplah Engkau sebagai Pelindung kami, karena Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan Penolong.

 

sumber: Lampu Islam

Penjelasan Alquran Tentang Wujud Allah SWT

Tentang hal ini dapat kita simak dialog antara Nabi Musa As dengan Fir’aun, Allah SWT berfirman: “Fir’aun berkata: Siapa Tuhan semesta alam itu? Musa menjawab: Yaitu Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa di antara keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) yang mempercayai-Nya.

Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya: Apakah kamu tidak mendengarkan? Musa berkata (pula): Tuhan kamu dan Tuhan nenek-moyang kamu yang dahulu. Fir’aun berkata: Sesungguhnya rasul yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila. Musa berkata: Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya (itulah Tuhanmu) jika kamu menggunakan akal” (QS. Asy-Syu’araa, 26:23-28)

Di dalam Al-Qur’an kita akan melihat bahwa wujud Allah yang diyakinkan kepada kita yang pertama melalui fitrah iman dan makhluk ciptaan-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih berganti malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sesungguhnya itu adalah tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS. Al Baqarah, 2:164).

Demikian pula, Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya: “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri?). Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)” (QS. Ath Thuur, 52:35-36).

Lebih jelas lagi Allah SWT menjelaskan melalui dialog antara Nabi Musa As dengan Fir’aun. Allah SWT berfirman: ”Berkata Fir’aun: Maka siapakah Tuhanmu berdua, wahai Musa. Musa berkata: Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian Dia memberinya petunjuk” (QS. Thaahaa, 20:49-50).

Inilah beberapa ayat dimana Allah SWT menuntut akal manusia untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi dengan segala isinya yang sebenarnya bila akal setiap manusia mau berfikir, maka tidak akan ada yang bisa dilakukan oleh manusia kecuali harus menyatakan bahwa Allah adalah pencipta segalanya.

Salah satu ayat yang layak kita renungkan dalam kehidupan ini untuk lebih mengenal wujud Allah di antaranya dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Imran, 3: 190-191).

Kembali perlu digarisbawahi bahwa secara fitrah, setiap manusia meyakini keberadaan wujud Allah, dan di samping itu melalui firman-firman-Nya Allah mengajak manusia untuk berfikir tentang penciptaan-Nya. Allah yang kita yakini adalah Dia yang Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Esa dari segi Dzat, Sifat, dan juga dari segi aturan dan hukum.

Esa dari segi Dzat di antaranya dijelaskan dalam firman-Nya: “Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” (QS. Al Ikhlash, 112:1-4).

Kemudian dalam firman-Nya pula Allah SWT menegaskan: “Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Mahaesa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqarah, 2:163). Lebih rinci lagi Allah SWT menunjukkan bukti-bukti kesalahan kepercayaan orang-orang musyrik, sebagaimana firman-Nya: “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka, Mahasuci Allah yang mempunyai ’Arsy daripada apa yang mereka sifatkan” (QS. Al Anbiyaa, 21:22).

Demikian pula Allah SWT menegaskan: “Allah tiada mempunyai anak, dan tiada tuhan bersama-Nya, kalau sekiranya demikian niscaya tiap-tiap tuhan membawa makhluk yang diciptakannya dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebahagian yang lain. Mahasuci Allah dari yang mereka sifatkan itu” (QS. Al Mu’minuun, 23:91).

Jadi, kita sangat meyakini bahwa yang mengendalikan alam ini hanya Dia, Dia Esa tidak ada yang mendampingi dalam mengendalikan alam semesta alam ini. Sebab kalau ada yang mendampingi maka alam semesta ini akan hancur, yang satu menghendaki bumi berputar, yang satu lagi menghendaki bumi tidak berputar, dan lain sebagainya.

Dia juga Esa dalam Rubbubiyyah, sifatnya sebagai Rabb (dalam hamdallah), sebagai pencipta, pemelihara, dan pendidik. Dia juga Esa dalam segi Uluhiyah, berarti Esa untuk diibadahi, artinya tidak dimungkinkan kita untuk beribadah kepada selain Allah, karena Dia-lah yang menentukan kehidupan kita (iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin).

 

Oleh : KH Athian Ali

sumber: Republika Online

Asmaul Husnah, Nama-Nama Terbaik yang Dimiliki Allah SWT

Asmaul Husna adalah berasal dari kata asma yang berarti nama dan kata husna yang artinya baik. Jadi, Arti Asmaul Husna adalah nama-nama yang terbaik. Dan nama-nama terbaik ini hanya dimiliki dan disandang oleh Allah SWT.
Arti Asmaul Husna secara harfiah adalah nama-nama, sebutan atau gelar Allah yang baik dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Allah SWT yang agung dan mulia tersebut adalah suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan kehebatan yang hanya milik Allah.

 

Sifat-sifat Allah SWT ini dijelaskan dengan istilah Asmaul Husna, dan ada 99 Asmaul Husna, yaitu :
  1. Ar Rahman الرحمن  artinya Yang Maha Pengasih
  2. Ar Rahiim الرحيم artinya  Yang Maha Penyayang
  3. Al Malik الملك  artinya Yang Maha Merajai/Memerintah
  4. Al Quddus القدوس  artinya Yang Maha Suci
  5. As Salaam السلام  artinya Yang Maha Memberi Kesejahteraan
  6. Al Mu`min المؤمن  artinya Yang Maha Memberi Keamanan
  7. Al Muhaimin المهيمن artinya  Yang Maha Pemelihara
  8. Al `Aziiz العزيز  artinya Yang Maha Perkasa
  9. Al Jabbar الجبار artinya  Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
  10. Al Mutakabbir المتكبر  artinya Yang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
  11. Al Khaliq الخالق  artinya Yang Maha Pencipta
  12. Al Baari` البارئ  artinya Yang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
  13. Al Mushawwir المصور  artinya Yang Maha Membentuk Rupa (makhluknya)
  14. Al Ghaffaar الغفار  artinya Yang Maha Pengampun
  15. Al Qahhaar القهار  artinya Yang Maha Memaksa
  16. Al Wahhaab الوهاب  artinya Yang Maha Pemberi Karunia
  17. Ar Razzaaq الرزاق  artinya Yang Maha Pemberi Rezeki
  18. Al Fattaah الفتاح  artinya Yang Maha Pembuka Rahmat
  19. Al `Aliim العليم  artinya Yang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
  20. Al Qaabidh القابض  artinya Yang Maha Menyempitkan (makhluknya)
  21. Al Baasith الباسط  artinya Yang Maha Melapangkan (makhluknya)
  22. Al Khaafidh الخافض  artinya Yang Maha Merendahkan (makhluknya)
  23. Ar Raafi` الرافع  artinya Yang Maha Meninggikan (makhluknya)
  24. Al Mu`izz المعز  artinya Yang Maha Memuliakan (makhluknya)
  25. Al Mudzil المذل  artinya Yang Maha Menghinakan (makhluknya)
  26. Al Samii` السميع  artinya Yang Maha Mendengar
  27. Al Bashiir البصير  artinya Yang Maha Melihat
  28. Al Hakam الحكم  artinya Yang Maha Menetapkan
  29. Al `Adl العدل  artinya Yang Maha Adil
  30. Al Lathiif اللطيف  artinya Yang Maha Lembut
  31. Al Khabiir الخبير  artinya Yang Maha Mengenal
  32. Al Haliim الحليم  artinya Yang Maha Penyantun
  33. Al `Azhiim العظيم  artinya Yang Maha Agung
  34. Al Ghafuur الغفور  artinya Yang Maha Memberi Pengampunan
  35. As Syakuur الشكور  artinya Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
  36. Al `Aliy العلى  artinya Yang Maha Tinggi
  37. Al Kabiir الكبير  artinya Yang Maha Besar
  38. Al Hafizh الحفيظ  artinya Yang Maha Memelihara
  39. Al Muqiit المقيت  artinya Yang Maha Pemberi Kecukupan
  40. Al Hasiib الحسيب  artinya Yang Maha Membuat Perhitungan
  41. Al Jaliil الجليل  artinya Yang Maha Luhur
  42. Al Kariim الكريم  artinya Yang Maha Pemurah
  43. Ar Raqiib الرقيب  artinya Yang Maha Mengawasi
  44. Al Mujiib المجيب  artinya Yang Maha Mengabulkan
  45. Al Waasi` الواسع  artinya Yang Maha Luas
  46. Al Hakiim الحكيم  artinya Yang Maha Maka Bijaksana
  47. Al Waduud الودود  artinya Yang Maha Mengasihi
  48. Al Majiid المجيد  artinya Yang Maha Mulia
  49. Al Baa`its الباعث  artinya Yang Maha Membangkitkan
  50. As Syahiid الشهيد  artinya Yang Maha Menyaksikan
  51. Al Haqq الحق  artinya Yang Maha Benar
  52. Al Wakiil الوكيل  artinya Yang Maha Memelihara
  53. Al Qawiyyu القوى  artinya Yang Maha Kuat
  54. Al Matiin المتين  artinya Yang Maha Kokoh
  55. Al Waliyy الولى  artinya Yang Maha Melindungi
  56. Al Hamiid الحميد  artinya Yang Maha Terpuji
  57. Al Muhshii المحصى  artinya Yang Maha Mengalkulasi (Menghitung Segala Sesuatu)
  58. Al Mubdi` المبدئ  artinya Yang Maha Memulai
  59. Al Mu`iid المعيد  artinya Yang Maha Mengembalikan Kehidupan
  60. Al Muhyii المحيى  artinya Yang Maha Menghidupkan
  61. Al Mumiitu المميت  artinya Yang Maha Mematikan
  62. Al Hayyu الحي  artinya Yang Maha Hidup
  63. Al Qayyuum القيوم  artinya Yang Maha Mandiri
  64. Al Waajid الواجد  artinya Yang Maha Penemu
  65. Al Maajid الماجد  artinya Yang Maha Mulia
  66. Al Wahid الواحد  artinya Yang Maha Tunggal
  67. Al Ahad الاحد  artinya Yang Maha Esa
  68. As Shamad الصمد  artinya Yang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
  69. Al Qaadir القادر  artinya Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
  70. Al Muqtadir المقتدر  artinya Yang Maha Berkuasa
  71. Al Muqaddim المقدم artinya  Yang Maha Mendahulukan
  72. Al Mu`akkhir المؤخر  artinya Yang Maha Mengakhirkan
  73. Al Awwal الأول  artinya Yang Maha Awal
  74. Al Aakhir الأخر  artinya Yang Maha Akhir
  75. Az Zhaahir الظاهر  artinya Yang Maha Nyata
  76. Al Baathin الباطن  artinya Yang Maha Ghaib
  77. Al Waali الوالي  artinya Yang Maha Memerintah
  78. Al Muta`aalii المتعالي  artinya Yang Maha Tinggi
  79. Al Barru البر  artinya Yang Maha Penderma (Maha Pemberi Kebajikan)
  80. At Tawwaab التواب  artinya Yang Maha Penerima Tobat
  81. Al Muntaqim المنتقم  artinya Yang Maha Pemberi Balasan
  82. Al Afuww العفو  artinya Yang Maha Pemaaf
  83. Ar Ra`uuf الرؤوف  artinya Yang Maha Pengasuh
  84. Malikul Mulk مالك الملك  artinya Yang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
  85. Dzul Jalaali Wal Ikraam ذو الجلال و الإكرام  artinya Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
  86. Al Muqsith المقسط  artinya Yang Maha Pemberi Keadilan
  87. Al Jamii` الجامع  artinya Yang Maha Mengumpulkan
  88. Al Ghaniyy الغنى  artinya Yang Maha Kaya
  89. Al Mughnii المغنى  artinya Yang Maha Pemberi Kekayaan
  90. Al Maani المانع  artinya Yang Maha Mencegah
  91. Ad Dhaar الضار  artinya Yang Maha Penimpa Kemudharatan
  92. An Nafii` النافع  artinya Yang Maha Memberi Manfaat
  93. An Nuur النور  artinya Yang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
  94. Al Haadii الهادئ  artinya Yang Maha Pemberi Petunjuk
  95. Al Badii’ البديع  artinya Yang Maha Pencipta Yang Tiada Bandingannya
  96. Al Baaqii الباقي  artinya Yang Maha Kekal
  97. Al Waarits الوارث  artinya Yang Maha Pewaris
  98. Ar Rasyiid الرشيد  artinya Yang Maha Pandai
  99. As Shabuur الصبور  artinya Yang Maha Sabar

Itulah Arti Asmaul Husna atau 99 nama Allah SWT, semoga bermanfaat.

Aqidah dalam Memahami Zat dan Sifat Allah

Umat Islam adalah umat yang berbeda dari umat agama lain yang ada di bumi ini. Islam sebagai agama mengajarkan berbagai hal kepada pemeluknya, mulai dari hubungan antara manusia dengan sang Khalik, manusia dengan sesama manusia sampai kepada hubungan manusia dengan hewan, tumbuhan dan lingkungan sekitarnya. Islam tidak mengenal kasta/pengelompokkan manusia berdasarkan strata sosial. Di dalam Islam semua makhluk sama, yang membedakan hanya iman dan taqwa.

Seseorang tidak akan memperoleh iman jika menjalankan syari’at agama Islam dengan akidah yang salah. Karena akidah adalah kunci dari keimanan, tidak hanya sekedar tahu tentang iman tapi harus mengerti dengan hakikatnya. Iman yang mampu membersihkan akidah manusia dari kotoran kesesatan, debu-debu syirik dan daki-daki keberhalaan adalah iman yang mengandung keyakinan akan keesaan Allah, Sang Khalik, Pencipta alam semesta. Iman mengandung pula pandangan yang lengkap mengenai kehidupan dunia dan akhirat, serta termuat keuniversalan dakwahnya.[1] 

  1.   Aqidah dalam Memahami Zat dan Sifat Allah

Telah disinggung dalam bab sebelumnya bahwa dalam memahami zat dan sifat Allah tidak terlepas dari akidah yang benar. Akidah yang bisa memahami dan menerima hakikat keesaan Allah Swt. Oleh karena itu, penulis mencoba memasukkan pembahasan mengenai akidah ke dalam karya tulis ini. Berikut penjelasan umum mengenai akidah.

Aqidah secara bahasa diambil dari kata aqada. Dikatakan: 

 عقدت الحبل والبيع والعهد فانعقد ، واعتقد الشيء أي اشتد وصلب ، واعتقد كذا بقلبه ، والمعاقدة : المعاهدة .

Dilaksanakan hubungan jual-beli dan perjanjian, maka terlaksanalah perjanjian. واعتقد الشيء artinya: kuat dan keras. واعتقد كذا بقلبه, terlaksana dengan hatinya (yakin). والمعاقدة : المعاهدة, artinya: perjanjian.

Secara istilah, aqidah diartikan dengan suatu hal yang dikerjakan dengan kesungguhan/keyakinan, berhubungan dengan agama.

         

واصطلح على إطلاق ” العقيدة ” على ما يعمله الشخص ويعتقده بقلبه من أمور الدين .

Aqidah disebut juga dengan ushul al-din dan  tauhid, karena masalah terbesar yang dibahas mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam zat, nama, sifat, af’al dan penyembahan-Nya. Aqidah juga disebut dengan iman karena mencakup 6 rukun iman yaitu iman kepada Allah, malaikat, kutub, rusul-Nya, hari akhir dan Qadar baik maupun buruk.

ويطلق على هذا العلم أيضا ” أصوsل الدين ” لأن غيره ينبني عليه و” التوحيد ” لأن أعظم مسائله مسألة توحيد الله – عز وجل – في ذاته وأسمائه وصفاته وأفعاله وعبادته ، و” الإيمان ” حيث أجاب الرسول – صلى الله عليه وسلم – جبريل – عليه السلام – لما سأله عن الإيمان بذكر الأصول الستة ، وهي الإيمان بالله ، وملائكته ، وكتبه ، ورسله ، واليوم الآخر ، والقدر خيره وشره .[2]

Zat Allah Swt

Allah Swt mempunyai zat yang berbeda dari makhluk-Nya. Tidak ada satupun dari zat Allah yang menyamai zat makhluk-Nya. Hal ini dijelaskan dalam QS. Asy-Syura: 11

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.

Sebagai makhluk, manusia diberi Allah kemampuan untuk berpikir dan mempelajari apapun yang yang telah diciptakan Allah swt. Akan tetapi kemampuan manusia tersebut tetap diberi batasan oleh Allah Swt. Seperti yang  disabdakan Rasulullah Saw:

تفكروا في خلق الله و لا تتفكروا في الله فإنكم لن تقدروا قدره

“Pikirkanlah ciptaan Allah, jangan kau memikirkan dzat Allah, karena kamu tidak akan dapat menjangkau-Nya.”

Hadis di atas melarang kita untuk memikirkan zat-Nya. Karena kita sebagai manusia memiliki keterbatasan untuk memikirkan zat Allah tersebut. Oleh karena itu sudah pasti kita tidak akan mampu.

Selanjutnya dijelaskan dalam hadis,

بالسند المتصل إلى ثقة الإسلام محمد بن يعقوب الكيني عن علي بن إبراهيم عن محمد بن خالد الطياليس عن صفوان بن يحيى عن إبن مسكان عن أبي بصيرة قال : سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول : لم يزل الله عز و جل ربنا و العلم ذاته و لا معلوم و السمع ذاته و لا مسموع و البصر ذاته ولا مبصر و القدرة ذاته ولا مقدور. فلما أحدث الأشياء و كان المعلوم وقع العلم منه على المعلوم و السمع على المسموع و البصر على المبصر و القدرة على المقدور قل : قلت : فلم يزل الله متحركا ؟ قال : فقال : تعالى الله عن ذالك إن الحركة صفة هحدثة بالفعل قال : فقلت : فلم يزل الله متكلما ؟ قال : فقال : إن الكلام صفة محدثة ليست بأزلية كان الله عز وجل و لا متكلم[3]

“Saya mendengar Imam Abu ‘Abdullah berkata, “Selamanya Allah ‘Azza wa jalla adalah Tuhan kita, Mengetahui adalah Zat-Nya dan bukan objek pengetahuan. Mendengar adalah zat-Nya bukan objek pendengaran, dan melihat adalah zat-Nya dan bukan objek penglihatan, dan berkuasa adalah zat-Nya dan bukan objek kekuasaan. Ketika Dia menciptakan segala sesuatu dan semuanya itu adalah objek pengetahuan, terjadilah pengetahuan atas objek pengetahuan itu, pendengaran atas yang didengar, penglihatan atas yang dilihat, kekuasaan atas yan dikuasai. Saya bertanya kepada beliau, “kalau begitu, apakah Allah selamanya bergerak? Beliau menjawab:MAha Tinggi Allah dari hal itu. Gerak adalah sifat yang baru (yang ditambahkan) pada perbuatan. Saya bertanya pula, “kalau begitu, apakah Allah selamanya berbicara? Beliau menjawab, “Kalam adalah sifat yang baru dan buakan azali Allah ada dan Dia bukan sesuatu yang berbicara.”

Dalam Shahih Muslim, Bab Iman, hadis no 263, dijelaskan juga gambaran zat Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai berikut:

 صحيح مسلم , كتاب الإيمان : 263

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَنَامُ وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّورُ وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ النَّارُ لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ الْأَعْمَشِ وَلَمْ يَقُلْ حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثْلِ حَدِيثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ وَلَمْ يَذْكُرْ مِنْ خَلْقِهِ وَقَالَ حِجَابُهُ النُّورُ

Dalam hadis di atas dijelaskan hakikat dari zat Allah Swt dengan menyebutkan lima hal. Pertama, bahwa Allah Swt tidak tidur dan tidak pantaslah bagi Allah untuk tidur karena tidur itu memang mustahil bagi hak-Nya. Kedua, Allah Swt merendahkan dan meninggikan keadilan dengan mizan (timbangan). Allah akan menimbang amalan-amalan hamba-Nya, ada kalanya timbangan seorang hamba tinggi (baca: berat) pahalanya, rendah (baca: sedikit) dosanya, serta sebaliknya. Ketiga, Allah swt mampu mempercepat datangnya malam sebelum siang berakhir dan sebaliknya. Keempat, Hijab Allah swt adalah cahaya, sehingga tidak mampu manusia melihat-Nya kecuali pada waktu yang ditentukan Allah. Kelima, Allah melihat apapun tanpa batas.

Hadis di atas menerangkan bahwa Allah Swt mampu menundukkan sesuatu. Allah bisa mendatangkan malam sebelum siang, dan sebaliknya. Dan Allah menciptakan batasan (hijab) antara siang dan malam itu berupa cahaya. Begitulah gambaran zat Allah dalam hadis ini.

Berikutnya hadis dalam Sunan Ibnu Majah, Kitab Muqaddimah, no. 191

سنن إبن ماجه ,كتاب المقدمة : 191

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنَامُ وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّورُ لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

Dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, hadis no.261

صحيح مسلم , كتاب الإيمان : 261

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ قَالَ نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ

Sifat Allah Swt

Dengan memperhatikan alam semesta beserta seluruh makhluk yang ada padanya maka seorang muslim mendapat petunjuk bahwa alam semesta ini memiliki pencipta yang mewujudkannya, yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan dan maha suci dari sifat kekurangan.

Adapun mengenai sifat Allah Swt. banyak penjelasannya dalam hadis Nabi Saw. seperti:

سنن أبي داود, كتاب السنة : 4088

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ

Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas di atas menceritakan keadaan anak-anak orang musyrik. Rasulullah Saw menegaskan bahwa Allah Swt sangat mengetahui apa yang mereka lakukan.       

  Allah mendengar

صحيح البخاري, كتاب التوحيد: 6967 

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا مَنْصُورٌ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اجْتَمَعَ عِنْدَ الْبَيْتِ ثَقَفِيَّانِ وَقُرَشِيٌّ أَوْ قُرَشِيَّانِ وَثَقَفِيٌّ كَثِيرَةٌ شَحْمُ بُطُونِهِمْ قَلِيلَةٌ فِقْهُ قُلُوبِهِمْ فَقَالَ أَحَدُهُمْ أَتَرَوْنَ أَنَّ اللَّهَ يَسْمَعُ مَا نَقُولُ قَالَ الْآخَرُ يَسْمَعُ إِنْ جَهَرْنَا وَلَا يَسْمَعُ إِنْ أَخْفَيْنَا وَقَالَ الْآخَرُ إِنْ كَانَ يَسْمَعُ إِذَا جَهَرْنَا فَإِنَّهُ يَسْمَعُ إِذَا أَخْفَيْنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ الْآيَةَ

Hadis di atas menceritakan bahwa Allah Swt mendengar apapun baik itu perkataan yang jahar (keras) maupun perkataan yang khafi (pelan).

Allah berbicara

صحيح البخاري, كتاب الجنائز : 1275 

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ ثَابِتِ بْنِ الضَّحَّاكِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَلَفَ بِمِلَّةٍ غَيْرِ الْإِسْلَامِ كَاذِبًا مُتَعَمِّدًا فَهُوَ كَمَا قَالَ وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَقَالَ حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ عَنْ الْحَسَنِ حَدَّثَنَا جُنْدَبٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ فَمَا نَسِينَا وَمَا نَخَافُ أَنْ يَكْذِبَ جُنْدَبٌ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ بِرَجُلٍ جِرَاحٌ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَقَالَ اللَّهُ بَدَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Di dalam surat albaqarah : 255 setidaknya mencakup sepuluh makna tentang Zat dan Sifat Allah secara terpadu dan berkesinambungan

  1. Al-Baqarah ayat 255:

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

Makna-makna tersebut yaitu:[4]

  1. “ Allah, tidak ada Tuhan selain Dia…” Di alam ini tidak ada seorangpun yang dapat menyamai, apalagi melampaui kedudukan-Nya. Segala sesuatu selain-Nya adalah hamba-Nya. Dialah sendiri yang mempunyai sifat-sifat ketuhanan.

Jika ada yang menyatakan bahwa dirinya tuhan, pastilah ia berdusta. Jika ada seseorang yang disebut orang-orang sebagai tuhan, tentulah mereka berdusta. Sejarah manusia mencatat bahwa mereka pernah menjadikan benda-benda mati dan hewan-hewan sebagai tuhan. Zaman ketika mereka menjadikan makhluk sebagai tuhan-tuhan adalah zaman kemerosotan nalar dan mental. Namun, hingga sekarang masih saja ada orang-orang yang menjadikan orang-orang saleh sebagai tuhan-tuhan bersama Allah, dengan dalih bahwa orang-orang saleh itu adalah manusia-manusia pilihan-Nya, atau bahwa Allah bersemayam pada diri mereka. Islam memerangi kesesatan semacam ini dengan sangat gencar, seraya menegaskan bahwa manusia mustahil mencapai derajat ketuhanan. Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung juga mustahil turun derajatnya ke derajat kemanusiaan.

kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak Kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak Kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan. QS. Al-Furqan: 3

  1. “Yang hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya…” Hidup merupakan anugerah yang diberikan kepada makhluk hidup. Hidup adalah pemberian yang suatu waktu pasti berpisah dari mereka. Hidup tidak akan kembali kepada mereka kecuali atas kehendak yang memberikannya, yakni Sang Pemberi, Yang Maha Hidup, yang tidak ada permulaan dan akhir bagi hidup-Nya. Hidup merupakan sifat yang terus selalu bersama-Nya. Itulah beda antara hidup Sang khalik dan hidup para makhluk-Nya. Allah berfirman, “ Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)” (QS.al-Zumar: 30). Yang hidup abadi selamanya hanyalah Allah.

Karena hidup ini adalah titipan, yang suatu saat sakan dipungut kembali, maka allah–Yang memberikan kehidupan kepada segenap makhluk-Nya—menyatakan bahwa mereka sangat membutuhkan-Nya. Sedangkan Dia sendiri Mahakaya, tidak membutuhkan apa pun dan siapa pun. Bahkan, Allah selalu memerhatikan setiap jiwa dan seluruh isi langit dan bumi.

Kata al-qayyum pada ayat kursi di atas menunjukkan tingkat pemeliharaan dan perhatian yang sangat tinggi, pemeliharaan dan perhatian yang mustahil teledor dari Sang Khalik. Semua makhluk tidak mungkin berjalan di luar garis yang telah ditentukan-Nya. Keberadaan, keadaan, dan gerak-gerik segala sesuatu bersandar kepada wujud Yang Maha Tinggi itu. “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah.”

  1. Fathir: 41
  1. “Tidak mengantuk dan tidak tidur.” Manusia pasti tak luput dari saat-saat lalai dan kehilangan kesadaran akan diri sendiri dan hal-hal di sekitarnya. Bahkan, saat kita baru bangkit dari tidur pun terkadang kesadaran dan konsentrasi kita tentang apa yang terpikirkan dan apa yang ada di sekitar masih kabur. Saat kantuk menyerang, perhatian dan konsentrasi kita pun menjadi lemah. Jauh berbeda halnya dengan tuhan semesta alam. Suatu urusan tak pernah mengganggu konsentrasi-Nya terhadap urusan yang lain. Dia tidak pernah lalai mengurus langit gara-gara mengurus bumi.
  1. “Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan bumi.” Seluruh ala mini milik Allah semata. Semua yang dianggap sekutu-Nya oleh orang-orang bodoh tidaklah memiliki saham secuilpun dari langit dan bumi. Berhala-berhala dan manusia-manusia yang dianggap sebagai sekutu Allah sepenuhnya dalam genggaman kekuasaan Allah.
  1. “ Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.”  Tidak ada syafa’at bagi orang musyrik dan orang yang tak meyakini keberadaan Tuhan. Allah berfirman, “Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” QS. Al-Maidah : 72
  1. “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.” Tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya, di langit ataupun di bumi. Kemarin, sekarang, atau esok, bagi-Nya sama saja.
  1. “Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” Semua ilmu pengetahuan bersumber dari kehendak Sang Khalik. Ilmu yang kita peroleh dari pendengaran dan penglihatan pun sebenarnya berasal dari Allah. Sebab, kalau saja Dia tidak melengkapi kita dengan akal sebagai alat berpikir, tentu kita tak akan mampu memahami apa di sekitar kita, yang terlihat ataupun terdengar.
  1. “Kursi Allah meliputi langit dan bumi.” Yang segera muncul di benak kita adalah bahwa langit dan bumi merupakan batas ‘kerajaan” Tuhan. Persepsi seperti ini jelas keliru. Langit dan bumi hanyalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Pada ayat lain, Allah berfirman,

Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang dia sebarkan pada keduanya. dan dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.

  1. “Allah tidak merasa berat menjaga keduanya.” Allah tidak pernah merasa keberatan atau  kerepotan dalam menjaga langit dan bumi serta dalam mengatur urusan yang berkaitan dengan keduanya. Seperti halnya Dia tidak merasa kesulitan ketika mengadakan penciptaan awal. Inilah isi bunyi ayat,

Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa.

j.“Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung.” Di sini, rangkaian kata sebelumnya ditutup dengan penyebutan dua nama dari nama-nama indah-Nya. Penutupan ayat dengan penyebutan sifat al-‘ali (Yang Maha Tinggi) dan al-‘azhim (Yang Maha Agung) sangat terkait dengan keseluruhan konteks ayat ini yang mengutarakan ketinggian dan keagungan Allah. 

PENUTUP

Dalam memahami Zat dan sifat Allah Swt perlu adanya keyakinan tentang hakikat keesaan Allah Swt. Keyakinan tersebut bisa didapat melalui akidah yang benar. Karena dalam akidah yang benar terdapat pemahaman yang benar juga. Dalil-dalil dari hadis Nabi yang penulis kemukakan dalam makalah ini mencakup gambaran Zat dan sifat Allah secara umumnya. Hadis tersebut juga berhubungan dengan kehidupan manusia kesehariannya dan menerangkan hubungan manusia dengan Sang Khalik. 

DAFTAR PUSTAKA

– Abdul Halim Mahmud, Ali. 1996. Karakteristik Umat Terbaik : Telaah Manhaj,Akidah dan – -Harakah Jakarta: Gema Insani Press.

– Al-Ghazali, Muhammad. 2003. Selalu Melibatkan Allah. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.

– CD Maktabah Syamilah. Islamic Global Software.

– CD Mausu’ah al-Hadits al-Syarif

– Khomeini, Imam. 2004.  40 Hadis : Telaah atas Hadis-hadis Mistis dan Akhlak. Bandung: Penerbit Mizan.

[1] Ali Abdul Halim Mahmud, Karakteristik Umat Terbaik, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), hlm.21

[2] Muhammad bin’Audah as-Sa’awi, Risalah fi asas al-aqidah dalam Maktabah Syamilah. Islamic             Global Software

[3] Imam Khomeini, 40 Hadis : Telaah atas Hadi-hadis Mistis dan Akhlak (Bandung: Penerbit Mizan, 2004), hlm.738

[4] Muhammad Al-Ghazali, Selalu Melibatkan Allah (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2003), hlm.24

Sumber : Tongkrongan Islam

Mengenal Sifat-Sifat Wajib Allah SWT Beserta Artinya

Sifat-Sifat Wajib Allah SWT Beserta Artinya| Hai teman-teman..kali ini kita akan membahas sifat-sifat wajib bagi Allah SWT yang terdiri atas pengertian/artinya dan dalil dari macam-macam sifat wajib bagi Allah SWT. Sebelum membahas tentang Macam-macam sifat wajib bagi Allah SWT, teman-teman perlu mengetahui pengertian atau arti sifat wajib bagi Allah SWT.  

Sifat wajib bagi Allah SWT adalah sifat yang wajib ada pada Allah SWT dan sifat yang pasti ada pada Allah SWT tidak mungkin tidak ada. Teman-teman khususnya muslim dan muslimah wajib mempercayai sifat-sifat wajib Allah SWT. Sifat-sifat Allah SWT disajikan dengan pengertian/artinya dan dalilnya. Sifat-sifat wajib Allah SWT sebagai berikut.

Sifat-Sifat Wajib Allah SWT 
Sifat-sifat wajib Allah SWT terdapat 20 sifat, antara lain sebagai berikut.
1. Wujud 
Allah SWT. bersifat wujud artinya ada. Seandainya Allah SWT. itu tidak ada tentu alam ini pun tidak ada, sebab Allah-lah yang menjadikan alam seisinya.
Contohnya
Rumah atau gedung, meja, kursi, dan lemari pasti ada yang membuat, yaitu tukang kayu. Demikian pula bumi, langit, matahari, bintang, dan bulan pasti ada yang menciptakannya, tidak mungkin dengan sendirinya. Penciptanya adalah Allah SWT.
Artinya :

Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tidak ada tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang mahaperkasa lagi mahabijaksana. (Q.S. Alim Imran. 62).

Demikian juga firman Allah SWT. berikut.

Artinya :
Dan Tuhanmu adalah tuhan yang maha esa, tidak ada tuhan melainkan Dia, yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang (Q.S. Al-Baqarah:163)
2. Kidam
Allah bersifat kidam artinya dahulu. Adanya Allah SWT. pasti tidak berpermulaan, dan tidak berkesudahan. Sebagaimana firman Allah SWT. berikut..

Artinya :
Dialah yang awal dan yang akhir dan yang zahir dan yang batin dan Dia maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-Hadid: 3)
 
3. Baka
Allah SWT bersifat baka artinya kekal. Dia tidak akan mati. Allah SWT tidak akan binasa atau rusak. Jika Allah SWT binasa, tentu alam yang dijadikan-Nya tida kekal. Apa saja yang tidak kekal tentu akan binasa atau rusak.
Sebagai firman Allah SWT. berikut..
Artinya :
Semua yang ada di bumi ini akan binasa (rusak). Dan akan tetap kekal zat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. (Q.S. Ar-Rahman: 26-27)
 
4. Mukhalafau Lilhawadisi
Allah SWT. itu bersifat mukhlafau lilhawadisi, artinya berbeda dengan makhluk. Allah SWT esa dalam zat-Nya dan perbuatannya-Nya, bahkan dalam segala-galanya.
Sebagai firman Allah SWT. berikut…
Artinya :
(Dia) pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serua dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Q.S. Asy-Syura:11)
 
5. Qiyamuhu Binafsihi
Allah SWT. bersifat qiyamuhu binafsihi artinya berdiri sendiri. Allah SWT. tidak memerlukan bantuan dari kekuatan lain dalam menciptakan dan memelihara alam semesta. Apabila Allah SWT. memerlukan kekuatan atau bantuan lain berarti Allah SWT lemah. Hal yang seperti mustahil terjadi pada Allah SWT.
Sebagai firman Allah SWT. berikut..
Artinya :
Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang maha hidup kekal dan senantiasa berdiri sendiri (Q.S. Ali Imran: 2)
 
6. Wahdaniyat
Allah SWT. bersifat wahyaniyat, artinya Maha Esa. Mustahil  bagi Allah SWT bersifat ta’dud artinya terbilang, dua, tiga, atau lebih. Bayangkan dengan adanya bulan dan bintang yang gemerlapan, matahari yang bersinar terang, indahnya panaroma, aingin sepoi-sepoi, semua itu menunjukkan keagungan dan keesaan Allah SWT. Seandainya Allah SWT. itu lebih dari satu pasti timbul perebutan kekuasaan dan aturan-aturan yang berbeda. Antara Tuhan yang satu akan menyaingi Tuhan lainnya, serta akan terjadi perpecahan yang mengakibatkan kehancuran karena perebutan kekuasaan itu.

Sebagai firman Allah SWT. berikut…

Artinya :
Katakanlah : Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. (Q.S. Al-Ikhlas: 1 )
 
7. Kodrat
Allah SWT. bersifat kodrat, artinya kuasa atau mempunyai kekuasaan. Allah SWT, berkuasa mencipta, kuasa memelihara dan mengatur, serta kuasa menghancurkan tanpa pertolongan kekuatan lain.
Kekuasaan Allah SWT. tidak hanya dalam hal membuat atau menciptakan saja, tetapi juga berkuasa menghancurkan atau merusak. Dalam hal melaksanakan kekuasaan-Nya itu tidak ada yang dapat memaksa, melarang, dan menghalang-halangi. Tidak ada kekuasaan di dunia ini yang menyamai kekuasaan Allah SWT, sebab Dia Mahakuasa atas segala sesuatu yang ada di dunia ini.
Sebagaimana firman Allah SWT. berikut..
Artinya :
Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu (Q.S. Al-Baqarah: 20)
Sebagai firman Allah SWT. berikut
Artinya :
Mahasuci Allah yang ditangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Al-Mulk: 1)
8. Iradat
Allah SWT. bersifat iradat, artinya berkehendak. Apabila Allah SWT. menghendaki sesuatu cukup mengatakan  “Jadilah”, terjadilah makhluk yang dikehendaki Allah SWT itu. Dengan sifat itulah, Allah SWT menentukan segala sesuatu yang dikehendaki baik waktu, tempat dan segalanya untuk diwujudkan atau ditiadakan.
Sebagaimana firman Allah SWT. berikut..
Artinya :
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” maka jadilah ia (Q.S. Yasin: 82)
 
9. Ilmu
Allah SWT bersifat ilmu, artinya mengetahui. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, baik yang konkret (nyata) maupun abstrak (gaib) yang tidak tampak (tersembunyi). Semua itu tidak lepas dari pengamatan Allah SWT. Karena itu tidak ada perbuatan manusia yang tidak diketahui oleh Allah SWT. baik di tempat yang ramai maupun yang tesembunyi, apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.
Sebagaimana firman Allah SWT. berikut…

Artinya :
Dan Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Allah mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al-Hujurat: 16).
 
10. Hayat
Allah SWT. bersifat hayat yang berarti hidup. Allah SWT. hidup dengan sendiri-Nya, tidak ada yang menghidupkan. Mustahil kalau ada yang menghidupkan, hidup Allah SWT berlainan dengan hidup makhluk yang diciptakannya-Nya. Kalau Allah itu tidak hidup, tentu tidak mempunyai kekuasaan kepada makhluk yang dihidupkan-Nya
Sebagaimana firman Allah SWT. berikut..
Artinya :
Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya) tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi (Q.S. Al-Baqarah: 255).
 
11. Sama’
Allah SWT bersifat sama’ artinya mendengar. Suara apa pun yang ada di alam ini, baik suara yang keras maupun yang lembut, semua didengar oleh Allah SWT. Mendengar niat manusia untuk melakukan perbuatan yang terpuji maupun perbuatan yang tercela, doa manusia yang keras maupun doa dalam hati.
Artinya :
Katakanlah, “Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?.” Dan Allah-lah Yang Maha Pendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Ma’idah: 76)
 
12. Basar

Allah SWT bersifat basar artinya melihat. Allah SWT melihat apa saja, baik berada di tempat gelap maupun di tempat yang terang. Allah SWT yang mengatur dan menjalankan benda alam seperti bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, planet-planet dan sebagainya. Allah SWT yang mengawasi dan menjalankan benda-benda tersebut sehingga dapat berjalan dengan rapi dan teratur serta tidak pernah berbenturan satu sama lain. Semua itu menjadi bukti bahwa Allah SWT. Maha mengetahui.

Sebagaimana firman Allah SWT. berikut…
Artinya :
Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka ?. Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu. (Q.S. Al-Mulk: 19).

13. Kalam 
Allah SWT. bersifat kalam artinya berfirman. Firman (kata-kata) Allah tidak sama dengan kata-kata makhluk yang diciptakan-Nya. Firman Allah SWT diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw dengan perantara Malaikat Jibril.

Sebagaimana firman Allah SWT. berikut..

Artinya :
Dan Allah telah berbicara kepada Musa secara langsung. (Q.S. An-Nisa’ : 164)

14. Kaunuhu Qadirun
Kaunuhu qadirun adalah keadaan Allah Ta’ala yang maha berkuasa mengadakan dan meniadakan

Dalilnya :
“Sesungguhnya Allah maha berkuasa atas segala sesuatu (Q.S. Al-Baqarah: 20)”

15. Kaunuhu Muridun
Kaunuhu muridun adalah Allah Ta’ala yang menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu, ia berkehendak atas nasib dan takdir manusia.

Dalilnya :
“Sesungguhnya tuhanmu maha apa yang dia kehendaki (Q.S. Hud: 107)”

16. Kaunuhu Alimun
Kaunuhu alimun adalah Allah Ta’ala yang mengetahui setiap sesuatu, baik yang telah terjadi maupun belum terjadi, Allah SWT juga mengetahui isi hati dan pikiran manusia.

Dalilnya :
“Dan Allah maha mengetahui sesuatu (Q.S. An Nisa’ : 176)

17. Kaunuhu Hayyun
Kaunuhu Hayyun adalah Allah SWT tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.

Dalilnya :
“Dan bertakwalah kepada Allah yang hidup kekal dan yang tidak mati”

18. Kaunuhu Sami’un 
Kaunuhu sami’un adalah Sifat Allah SWT yang mendengar artinya Allah SWT selalu mendengar apa yang dibicarakan hambanya, pemintaan atau doa hambanya.

Dalilnya :
“Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui (Q.S. Al-Baqarah: 256)

19. Kaunuhu Basirun
Kaunuhu basirun adalah sifat Allah SWT yang melihat setiap maujudat (benda yang ada). Allah SWT selalu melihat gerak-gerik kita. sehingga kita harus selalu berbuat baik.

Dalilnya :
” Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (Q.S.

20. Kaunuhu Mutakallimun
Kaunuhu mutakallimun adalah sifat Allah SWT berkata-kata, artinya Allah tidak bisu, ia berbicara atau berfirman melalui ayat-ayat Al-Qur’an.

Semoga artikel tentang Sifat-Sifat Wajib Allah SWT Berserta Artinya  semoga bermanfaat.

Keunggulan Umat Islam Dibandingkan Umat Lain

Umat Muslim tidak boleh merasa rendah diri di hadapan umat lain. Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan meminta umat Muslim tetap optimistis. Sebab menurutAher, umat Islam lebih unggul daripada umat lain di muka bumi.

”Jangan kalian merasa lelah dan merasa banyak berkorban. Karena sesungguhnya mereka juga memiliki lelah yang sama dan sama-sama berjuang. Yang membedakan adalah harapan maju di muka bumi untuk selamat di dunia dan mendapatkan ridha dari Allah swt. Itu yang tidak dimiliki umat lain,” kata Aher dalam acara Tabligh Akbar PUI di Masjid Al Inabah, Pancoran Barat, Jakarta, Rabu (16/12).

Aher yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Syura Persatuan Umat Islam (PUI) itu kemudian menceritakan embargo besar-besaran yang dialami Rasulullah saw ketika pertama kali mengenalkan Islamkepada masyarakat jahiliyyah. Tidak jarang Rasulullah saw disakiti umatnya yang tidak menerima dakwahnya.

Belajar dari Nabi Muhammad saw, sikap optimistis harus selalu dibarengi dengan semangat perjuangan dakwah yang tidak kenal lelah. Politikus PKS ini juga mengingatkan pada masa lalu Islam sudah pernah mengalami masa kejayaan. Dimana tanda-tanda masa kejayaan tersebut terwujud dalam peninggalan-peninggalan bersejarah di berbagai negara, maupun etos kehidupan masyarakatnya.

Karenanya, dia meyakinkan kepada seluruh umatMuslim agar selalu menunjukkan akhlak Islamjika ingin kembali merebut kejayaan tersebut. “Di masa lalu kejayaan Islam tercapai karena ketaatan yang begitu besar oleh kaumnya. Sehingga untuk hari ini kita harus terus berdakwah hingga kembali mencapai masa kejayaan itu,” ujarnya.

 

sumber: Republika Online