Jamaah Haji Indonesia Diminta Selalu Bawa Kartu Bus Shalawat

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2019 mengimbau jamaah haji Indonesia selalu membawa kartu bus shalawat. Di dalam kartu tersebut tertera nomor bus, nama terminal, dan tujuan pemondokan. Informasi itu dimaksudkan agar jamaah tidak kesulitan saat terpisah dari rombongan.

“Selalu membawa kartu bus dalam tas sandang sesuai wilayahnya masing-masing, semua pasti dapat itu dan dengan kartu itu bisa tanya banyak orang,” kata Kepala Seksi Perlindungan Jamaah Daerah Kerja Mekkah PPIH 2019 Maskat Ali Jasmun, Selasa waktu setempat (23/7).

Saat pertama tiba di Makkah, jamaah asal Indonesia akan mendapat kartu bus shalawat yang memuat informasi mengenai nomor bus, terminal, dan tujuan bus. Pemerintah Indonesia tahun ini menggunakan tiga terminal dari enam terminal yang ada di sekitar Masjidil Haram sebagai pangkalan bus shalawat bagi jamaah, yakni Terminal Syeib Amir, Terminal Bab Ali, dan Terminal Jiad.

Bus-bus shalawat melayani jamaah dari ketiga terminal itu menuju area pondokan yang tersebar di tujuh zona sebagaimana yang tercantum dalam kartu bus. Maskat menyarankan jamaah untuk mengenali letak terminal arah mereka pulang ke pondokan.

Jaga Kondisi

Maskat juga mengingatkan kepada jamaah yang baru tiba di Makkah menjaga kesehatan. “Ketika datang pertama ke Haram ini yang paling penting pastikan kondisi fresh (segar), manfaatkan waktu istirahat yang ada,” katanya.

Umumnya jamaah yang baru tiba di Makkah dari Madinah atau Bandara Jeddah terburu-buru ingin langsung beribadah ke Masjid Al-Haram. Kepada jamaah yang hendak menunaikan umrah wajib atau ibadah lain di Masjid Al-Haram, Maskat menyarankan memilih waktu yang tepat agar terhindar dari dampak kepadatan masjid.

“Upayakan ketika masuk ke Masjid AL-Haram itu di jam-jam yang tidak terkena waktu shalat, insya Allah aman, rombongan itu akan utuh dan tak terpisah,” katanya.

Ia mencontohkan waktu setelah shalat isya atau subuh sebagai waktu yang tepat menunaikan umrah. “Insya Allah saat umrah akan utuh dari tawaf sampai tahalul,” katanya.

IHRAM


Gelar Simulasi, Menag: Seluruh Jemaah Haji Indonesia Dilayani Bus Shalawat

Makkah (Kemenag) — Hari kedua di Saudi, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menggelar simulasi layanan bus shalawat di Makkah Al Mukarramah. Menag didampingi Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Nizar, Sekretaris Ditjen PHU Ramadan Harisman, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis, Staf Teknis Haji dan Tim Transportasi.

“Alhamdulillah, baru saja dilakukan simulasi rute bus shalawat yang akan digunakan jemaah haji untuk melaksanakan rangkaian ibadah di Masjidil Haram,” ujar Menag di Makkah,  Selasa (28/05).

“Tahun ini seluruh jemaah haji Indonesia akan mendapat layanan bus shalawat di Makkah,” sambungnya.

Menurut Menag, baru tahun ini 100% jemaah mendapat layanan bus shalawat. Sebelumnya, layanan ini hanya dinikmati sekitar 91% jemaah haji Indonesia. Sebab, kebijakan layanan yang awalnya untuk jarak terdekat 1.500 meter,  tahun ini disesuaikan menjadi 1.000 meter. Layanan ini termasuk akan dinikmati 10ribu kuota tambahan.

“Dengan jumlah 100% ditambah kuota tambahan 10ribu, maka situasi dan kondisi jalan-jalan di wilayah Makkah akan semakin padat. Kondisi ini harus benar-benar menjadi perhatian seluruh petugas,” tegas Menag.

Dijelaskan Menag,  ada sembilan rute yang dilalui bus shalawat saat mengantar jemaah haji Indonesia dari hotel ke Masjidil Haram (pergi pulang). Rute-rute tersebut, yaitu:
1. Jamarat – Mahbas Jin – Bab Ali (bus dengan nomor stiker 4)
2. Syisyah – Syib Amir (nomor stiker 5)
3. Syisyah Raudhah – Syib Amir (nomor stiker 6)
4. Syisyah 1 – Syib Amir (nomor stiker 7)
5. Syisyah 2 – Syib Amir (nomor stiker 8)
6. Raudhah – Syib Amir (nomor stiker 9)
7. Jarwal – Syib Amir (nomor stiker 10)
8. Misfalah – Jiad (nomor stiker 11)
9. Rea Bakhsy- Jiad (nomor stiker 12)

“Dari sembilan rute tersebut, jemaah akan terkonsentrasi pada tiga terminal yaitu: Bab Ali dengan jumlah jemaah sekitar 41.000,  Syib Amir dengan jumlah jemaah kurang lebih 124.000, dan Terminal Jiad dengan jumlah jemaah mencapai 51.000,” urai Menag.

“Petugas harus dapat mengantisipasi utamanya pada puncak kepadatan jemaah haji di Makkah. Pastikan semua jemaah dapat layanan,” lanjutnya.

“Konsentrasi jemaah akan terpusat pada terminal Syib Amir. Petugas harus benar-benar ditingkatkan baik dari sisi kedisiplinan maupun jumlah personel,”  Menag kembali menegaskan saat berada di terminal Syib Amir.

Bus Shalawat

Direktur Layanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis mengatakan bahwa tahun ini ada sejumlah kebijakan baru dalam layanan bus shalawat. Kebijakan itu antara lain terkait jarak hotel ke Masjidil Haram, dari yang sebelumnya 1.500m menjadi maksimal 1000m. “Implikasinya, seluruh jemaah haji Indonesia mendapat layanan bus shalawat,” jelas Sri Ilham.

“Tahun ini, jemaah juga hanya satu kali naik bus menuju Masjidil Haram,” lanjutnya.

Menurut Sri Ilham, layanan operasional bus shalawat akan berlangsung 24 jam sejak kedatangan jemaah di Makkah. Untuk spesifikasi, Bus Shalawat yang digunakan minimal buatan tahun 2015 dengan kapasitas maksimal 70 orang dan ada akses tiga pintu.

“Bus juga harus dilengkapi AC, tombol manual darurat pembuka  pintu,  GPS, alat pemecah kaca, alat pemadam kebakaran,  kotak P3K, serta ban cadangan atau ban anti bocor,” tuturnya.

Sri Ilham menambahkan, bus shalawat akan beroperasi pada masa kedatangan jemaah di Makkah,  dari 16 Juli – 6 Agustus 2019 atau selama 22 hari. Pada masa puncak haji (Arafah – Muzdalifah – Mina atau Armina), dari 7 – 15 Agustus 2019, bus shalawat tidak beroperasi.

“Bus Shalawat kembali beroperasi pada masa kepulangan, dari 16 Agustus – 6 September,” tandasnya. (Siaran Pers)

KEMENAG RI

Sekilas Sejarah Perjalanan Bus Shalawat

Makkah (PHU)—Bus Slhalawat merupakan kendaraan pengangkut jemaah haji Indonesia yang terdapat di Makkah yang mempunyai rute hotel-Masjidil Haram pulang pergi (taradudi). Saat ini bus tersebut melayani 12 rute yang menjangkau setiap hotel jemaah. Tahun ini sebanyak 394 bus siap melayani jamaah haji Indonesia selama 24 jam.

Kedua belas rute di seluruh Makkah menjadi jalur utamanya, nantinya masing-masing bus akan datang menjemput di halte yang telah disediakan tiap lima menit.

Namun bagaimanakah kisah perjalanan bus yang identik dengan warna merah dan hijau ini melayani jemaah haji?

Bus Shalawat memulai perjalanannya kali pertama pada tahun 2008, pada tahun tersebut hotel jemaah haji Indonesia jaraknya lebih dari 10 km dari Masjidil Haram, berada di wilayah Aziziyah, Hijrah, Mukhathat Bank, Bakhutmah, Kholidiyah, Syauqiyah, Rushaifah, Awali serta Ka’kiyah dan itu merupakan sudah paling bagus untuk ditempati jemaah haji Indonesia.

Di tahun yang sama, Menteri Agama saat itu Maftuh Basyuni melakukan kunjungan kerja ke Arab Saudi untuk melihat persiapan musim haji, Menag Maftuh tidak kuasa menangis karena tidak menyangka pemondokan jemaah sampai sejauh ini. Pemilihan pemondokan ini akibat dari perluasan besar-besaran Masjidil Haram oleh pemerintah Arab Saudi yang mengakibatkan harga-harga pemondokan di seputaran Masjidil Haram melambung tinggi harganya.

Melihat kondisi seperti itu, akhirnya Menag Maftuh Basyuni memerintahkan untuk menyediakan bus untuk mengantarkan jemaah ke Masjidil Haram pulang dan pergi. Singkat cerita akhirnya pemerintah menyewa 600 bus dengan konsekuensi yang terbilang apa adanya, tidak punya sistem, dan tidak punya petugas.

“Sampai akhirnya Pak Maftuh memerintahkan untuk menyediakan bus, gak punya sistem, gak punya petugas dan gak punya gambaran apapun lah, pokoknya asal nyewa aja, perintah itu sebelum jemaah datang, begitu jemaah datang sewa bis lah 600 bus,” kata Kepala Bidang Transportasi Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Subhan Cholid saat bercerita mengenang perjalanan Bus Shalawat.

Kerana belum ada sistem, kata Subhan, ini berdampak pada jemaahnya sendiri, tidak ada sistem yang mengharuskan jemaah naik dan turun disuatu tempat pemberhentian yang telah ditetapkan. Terkadang belum sampai tujuan, jemaah sudah diturunkan di tanah kosong, yang lebih parahnya lagi saat mereka mau pulang ke pemondokan setelah beribadah di Masjidil Haram, tempat mereka diturunkan tadi sudah ditutup polisi.

“Karena gak ada sistemnya, pengendaliannya seperti apa?naikkan jemaah dimana, nurunkan jemaah dimana, dijalan-jalan pada naik, di Haram pun diturunkannya bukan diterminal tapi ditanah kosong aja disitu, begitu jemaah mau pulang itu lapangannya udah ditutup sama polisi,” kenang Subhan.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, akhirnya pada tahun 2009 pemerintah Indonesia mulai menjajaki kerjasama dengan Muasassah (Organisasi yang bertugas dan bertanggung jawab melayani akomodasi, transportasi bimbingan ibadah haji dan pelayanan umum dalam musim haji dan umrah) untuk layanan angkutan jemaah haji. Dari kerjasama dengan Muasassah ini jemaah Indonesia mendapatkan penyewaan bus dari Syarikah Abu Sarhad. Abu Sarhad merupakan salah satu Syarikah (perusahaan bus) yang mempunyai banyak armada bus, dan saat itu Indonesia mendapatkan jumlah yang banyak. Karena saat itu memang tidak tersedianya anggaran untuk menyewa bus setara Saptco, Rawahil, Dalah dan sebagainya.

“Abu Sarhad ini busnya tua-tua dan gak berkualitas tapi armadanya banyak kita dapatnya juga banyak, walaupun sebenarnya waktu itu sudah ada Saptco, Rawahil dll, tapi anggarannya belum ada untuk menyewa bus tsb,” tuturnya.

Untuk mendapatkan pengalaman dan ilmu, Kementerian Agama Tahun 2010 mulai melibatkan Kementerian Perhubungan RI. Sebagai instansi yang bertanggungjawab pada sektor transportasi publik, Kemenhub dapat membagi ilmunya untuk membuat suatu sistem pengendalian transportasi dalam dan luar kota yang akan diterapkan di Arab Saudi. Dari kerjasama itu dirintislah suatu sistem untuk membuat rute sederhana sampai dengan tahun 2012.

“Dari Kerjasama dengan Kemenhub, maka didapatlah ilmu tentang sistem pengendalian angkutan dalam dan luar kota, mulai dari situ diruntis untuk membuat rute yang masih sederhana smapai 2012,” kata Subhan yang juga menjabat sebagai Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Transportasi Darat Kemenag ini.

Setelah mempunyai suatu sistem pengendalian, Tahun 2013 mulai dibentuk tim transportasi secara mandiri yang diketuai oleh Arsyad Hidayat (Kadaker Bandara saat ini) dan selanjutnya pada tahun 2014 diketuai oleh Subhan Cholid. Menurutnya saat ini secara sistem mulai dari pengendalian dan pengawasannya sudah sangat mapan. Saat ini yang menjadi tantangan baginya adalah memenuhi kenyamanan jemaah dalam arti yang diinginkan jemaah itu agak sulit karena dalam satu waktu seluruh jemaah ingin kesatu tujuan secara bersama-sama.

“Kalau kita bikin rasio diperkecil dari 450 jemaah ke 250 jemaah itu malah gak bisa jalan karena semakin banyak bus dijalan kan semakin macet yang kedua juga gak bisa nampung,” katanya.

Untuk Pembagian terminal itu juga ada aturannya, jemaah yang tinggal diwilayah tertentu disesuaikan dengan terminalnya dan semuanya sudah diatur dalam pedoman yang dikeluarkan oleh pemerintah Arab Saudi. Begitu juga dengan rasio pembagian busnya. Sedangkan untuk menentukan syarikah busnya yang dilakukan sebelum pelaksanaan musim haji, pemerintah Indonesia yang dalam hal ini Kementerian Agama menerjunkan tim transportasi ke Arab Saudi untuk membuka tender penyediaan transportasi jemaah haji antara lain angkutan dalam dan luar kota, angkutan sahalawat serta angkutan masyair (Arafah-Muzdalifah-Mina).

“Jadi ada aturannya itu ada pedomannnya, kita sewa juga gak sembarangan sudah diatur juga rasio pembagian busnya, untuk menentukan syarikah busnya kita membuka tender, silahkan mendaftar nanti kita pilih, kita bikin persyaratannya,” jelas Subhan.

Khusus bus shalawat berikut rute yang akan dilayani bus shalawat antara lain :
1. Aziziah Janubiah-Jamarat
2. Aziziah Syimaliah 1-Jamarat
3. Aziziah Syimaliah 2-Jamarat
4. Jamarat-Mahbas Jin-Bab Ali
5. Syisyah-Syib Amir
6. Syisyah-Raudhah-Syib Amir
7. Syisyah 1-Syib Amir
8. Syisyah 2-Syib Amir
9. Raudhah-Syib Amir
10. Biban/Jarwal-Syib Amir
11. Misfalah-Jiad
12. Rea Bakhsy-Jiad

Jemaah yang mendapatkan layanan bus shalawat adalah jemaah haji yang menempati pemondokan pada wilayah dengan jarak diatas 1.500 m dari Masjidil Haram kemudian ada juga wilayah dengan jarak dibawah 1.500 m yang mendapatkan layanan angkutan shalawat antara lain Jarwal (1 Hotel), Misfalah (3 Hotel) serta Rea Bakhsy (11 Hotel).(mch/ha)

KEMENAG RI

PPIH Siapkan Bus dari Makkah ke Madinah

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) menyiapkan bus untuk memfasilitasi jamaah haji Indonesia berpindah dari makkah ke Madinah mulai 31 Agustus 2018.

“Kami sudah minta agar bus-bus sudah merapat di hotel jamaah dua jam sebelum keberangkatan,” kata Kepala Bidang Transportasi PPIH Arab Saudi Subhan Chalid di Makkah, Sabtu (25/8).

Jamaah haji dalam kelompok terbang yang berangkat ke Tanah Suci pada gelombang kedua (30 Juli-15 Agustus), setelah berada di makkah dan menunaikan ibadah haji akan menuju ke Madinah untuk beribadah dan berziarah.

Subhan mengatakan pengangkutan jamaah dari makkah ke Madinah akan dilakukan dalam tiga gelombang. Pada tahap awal akan ada 7.331 orang dari 18 kelompok terbang jamaah yang bergerak ke Madinah.

Jamaah asal Surabaya (Kloter SUB-38), lanjut dia, akan menjadi rombongan pertama yang berangkat menuju Madinah. Ia menambahkan petugas panitia lokal akan membawakan barang-barang jamaah dari hotel ke bagasi bus sehingga mereka tidak perlu repot mengangkatnya sendiri.

Subhan mengingatkan jamaah untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal, khusus dokumen seperti visa, paspor, buku kesehatan dan barang penting lainnya.

Selanjutnya, setelah selama 40 hari berada di makkah dan Madinah, mereka akan kembali ke Tanah Air secara bertahap mulai 8 September sampai 24 September dari Bandara AMMA Madinah.

Sementara jamaah dalam kelompok terbang yang berangkat ke Tanah Suci pada gelombang pertama, setelah berada di Madinah dan makkah selama 40 hari akan mulai kembali ke Tanah Air secara bertahap dari 26 Agustus sampai 7 September melalui Bandara KAAIA Jeddah.

 

REPUBLIKA

Bus Shalawat Siap 24 Jam Mengantar Jemaah Haji Salat ke Masjidil Haram

Bagi pondokan jemaah haji Indonesia yang letaknya lebih dari 1,5 kilometer dari Masjidil Haram, akan disediakan transportasi khusus bernama bus shalawat. Bus itu akan melayani jemaah selama 24 jam, terutama di waktu-waktu salat fardlu.
Pada Minggu (14/8/2016), dilakukan uji coba penggunaan bus shalawat yang akan melayani jemaah. Bus tersebut berasal dari perusahaan Rawahl dan berwarna hijau. Hadir dalam uji coba tersebut, Kabid Transportasi Daker Makkah Subhan Cholid, Kepala Daerah Kerja Makkah Arsyad Hidayat, acting Konjen RI di Jeddah Dicky Yunus, dan staf teknis Perhubungan KJRI Jeddah Nahnudin, serta puluhan petugas transportasi yang akan bertugas di halte-halte bus shlawat.
Total ada 131 petugas yang direkrut dari untuk para petugas transportasi, mereka datang dari petugas Jakarta, mahasiswa Indonesia dari berbagai dan para mukimin di Arab Saudi. Mereka nantinya akan membantu para jemaah di setiap halte, agar bisa pergi dan pulang sesuai tujuannya.
“Pekerjaan kita ringan. Tapi akan berlangsung cukup lama. Jadi jangan jenuh, kalau ada jemaah, dibantu. Insya Allah, pahala membantu orang berhaji akan sama dengan orang yang berhaji,” kata Kepala Bidang Transportasi Daker Makkah, Subhan Cholid, saat memberikan arahan pada para petugas transportasi di terminal Syib Amir.
Tim kemudian berkeliling ke sejumlah halte yang akan dilewati bus shalawat. Mulai dari pemondokan di sektor 6 dan 7 dicek lokasi haltenya. Nanti, di halte-halte tersebut akan ada umbul-umbul dan bendera Indonesia serta Saudi agar mudah dikenali.
Rencananya, akan ada 314 bus shalawat khusus untuk melayani jemaah Indonesia. Bus-bus itu akan dikerahkan secara bertahap sesuai dengan jadwal kedatangan jemaah haji Indonesia. Bus akan mulai beroperasi pada 18 Agustus 2016 ketika jemaah kloter 1 tiba di Makkah.
“Kita akan kerahkan 4 bus nanti pas kloter PDG 01 tiba,” kata Subhan.
Total ada 11 rute bus yang akan dilewati jemaah. Rute tersebut memiliki ciri warna stiker bus tertentu. Berikut daftarnya:
Rute 1: Aziziah Janubiah-Mahbas Jin (biru muda)
Rute 2: Aziziah Syimaliah 1-Mahbas Jin (kuning)
Rute 3: Aziziah Syimaliah 2-Mahbas Jin (merah)
Rute 4: Mahbas jin-Bab Ali (putih)
Rute 6: Stustag Raudhah-Syib Amir (ungu)
Rute 7: Syisyah 1-Syib Amir (hijau)
Rute 8: Syisyah 2-Syib Amir (abu-abu)
Rute 9: Raudhah-Syib Amir (pink)
Rute 10: Bibaan/Jarwal-Rea bakhas/Jiad (hitam)
Rute 11: Misfalah/Nakkasah-Rea bakhas/Jiad (cokelat)
Subhan mengimbau agar para jemaah tidak perlu khawatir ketinggalan bus. Setiap 3-4 menit, bus akan melintas di halte-halte yang sudah ditentukan petugas, terutama pada jam-jam salat fardlu. Jemaah juga diminta bersiap dua-tiga jam sebelum waktu salat untuk berangkat ke Masjidil Haram.
“Kalau waktu salat Dzuhur, silakan bersiap mulai pukul 10.00 waktu sini,” kata Subhan.

Layanan bus shalawat akan dihentikan mulai tanggal 5 Dzulhijjah. Menjelang puncak haji, jemaah bisa ke Masjidil Haram dengan angkutan umum atau istirahat di pondokan untuk mempersiapkan fisik menjelang wukuf di Arafah.

Tidak Melayani Umrah
Yang perlu diperhatikan oleh jemaah, bus shalawat tidak melayani kebutuhan umrah sunah. Bus hanya bisa dipakai oleh jemaah saat umrah wajib, ketika jemaah tiba di Makkah pertama kali.
Lalu, bagaimana bila ada jemaah ingin umrah sunah? Subhan mengatakan, ada sejumlah angkutan yang bisa dipakai untuk mengambil miqat atau tempat niat umrah. Salah satunya adalah angkutan umum di Masjidil Haram yang mengantar ke Tan’im. Tarifnya 2-4 riyal.
“Ada juga untuk rombongan minimal 15 orang mau umrah. Itu biasanya nanti datang ke pondokan-pondokan ada,” tambah Subhan.

(mad/dhn)

 

sumber: Detik.com

Ini Asal Muasal Bus Shalawat yang Dipakai Jamaah Haji

Jamaah Haji Indonesia mungkin sudah tahu keberadaan bus Shalawat yang melayani jamaah yang ingin melakukan shalat di Masjidil Haram. Tapi, tidak banyak yang tahu mengapa bus tersebut diberi nama bus shalawat.

Kepala Bidang Transportasi Daerah Kerja (Daker) Makkah, Subhan Cholid, mengatakan pemberian nama tersebut sesuai dengan fungsinya yakni mengantarkan jamaah untuk shalat. Bentuk jamak dari shalat adalah shalawat.

”Itulah mengapa bus tersebut diberi nama bus shalawat karena fungsinya yang mengantar jamaah untuk shalat di Masjidil Haram,” jelasnya.

Tapi, ada pendapat lain yang mengutarakan tentang asal muasal pemberian nama bus shalawat. Bus tersebut memang mengantarkan jamaah menuju Masjidil Haram, Makkah, untuk melakukan shalat.

Nah, sepanjang perjalanan menunju Masjidil Haram, jamaah haji yang berada di dalam bus tersebut mendendangkan shalawat. ”Itulah mengapa bus tersebut diberi nama bus shalawat,” ujarnya menambahkan.

 

sumber: RepublikaOnline

Jamaah Haji Indonesia Perlu Perhatikan Rute-4 Bus Shalawat

Jamaah haji Indonesia akan dilayani bus Shalawat yang terbagi dalam 10 rute. Dari kesepuluh rute tersebut, ada satu yang perlu mendapat perhatian khusus dari petugas transportasi Daker Makkah yakni Rute-4.

‘’Karena, jamaah kita bersama jamaah dari negara-negara lain akan secara bersama-sama menggunakan bus shalawat,’’ kata Kepala Daker Makkah, Arsyad Hidayat, usai melakukan simulasi rute Bus Shalawat di Syisia, Makkah, Ahad (14/8).

Ada sembilan rute Bus Shalawat, dan bus tersebut hanya melayani jamaah asal Indonesia. Tapi, ada satu yakni Rute-4, bus Shalawat melayani jamaah dari seluruh negara termasuk jamaah Indonesia.

Kepala Bidang Transportasi Daker Makkah, Subhan Cholid, mengatakan Rute-4 diperlakukan seperti itu karena rute tersebut melewati sebuah terowongan.

Pergerakan kendaraan yang melewati terowongan tersebut harus terus berjalan tanpa terhenti semenit pun. ‘’Jadi, misalnya kita punya lima bus dan negara lain punya tiga bus, maka semua bus itu bisa digunakan jamaah dari negara manapun,’’ katanya.

Subhan mengatakan kebijakan itu diperlukan guna menghindari terjadinya kemacetan di terowongan. Misalkan bus jamaah Indonesia yang posisi berada di depan, belum jalan karena busnya belum penuh, sementara bus negara lain di belakangnya sudah penuh, maka yang terjadi adalah bus-bus di belakang bus Indonesia tidak bisa jalan sehingga menimbulkan kemacetan.

‘’Rute Mahbas Jin ke Bab Ali tidak dikhususkan untuk jamaah Indonesia,’’ katanya. ‘’Semua jamaah boleh naik bus Shalawat rute tersebut.’’

Ada 23 pemondokan jamaah Indonesia yang dilewati bus shalawat Rute-4. Sementara, jumlah jamaah Indonesia yang menempati 23 pemondokan tersebut sebanyak 42.773 jamaah. Ada 58 bus shalawat yang dikerahkan untuk melayani rute ini.

 

sumber: Republika Online