Pasca Pemberontakan G-30S/PKI, Gereja Menangguk Untung, Eks PKI Masuk Kristen

Robert Crib Dalam tulisannya pada Buku ‘The Indonesia Killing: Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966‘ yang diterbitkan Matabangsa tahun 2000 menulis begini ketika membahas fenomena terjadinya gelombang perpindahan agama usai Pemberontakan PKI 1965. Pada halaman 73-75  buku tersebut Crib menulis begini:

Mungkin sebagian besar dari trauma kejadian tahun 1965-1966 yang membebani masyarakat Indonesia, tersalurkan dalam bentuk gelombang perpindahan agama. Pada tahun keenam setelah pembantaian, diperkirakan 2,8 juta orang berpindah agama menjadi Kristen (baik Protestan maupun Katolik), khususnya di Jawa Timur, Timor Timur, dan Sumatra Utara. Pada saat yang sana, di Jawa orang yang berpindah agama menjadi pemeluk Hindu jumlahnya juga signifikan.

Alasan perpindahan agama itu cukup kompleks. Sejak tahun 1966, pemerintah Orde Baru mengharuskan setiap warganegara Indonesia untuk mengakui keberadaan Tuhan dan memeluk salah satu agama, supaya mereka tidak jadi menjadi penganut ateisme yang dianggap berhubungan dengan komunisme sehingga beberapa kasus perindahan agama hanya dilakukan dengan registrasi formal, terlebih lagi sejak tahun 1965, gereja Kristen telah menjadi obyek kecurigaan karena hubungannya dengan Barat. Perpindahan agama yang tercatat seperti tahun 1966 mungkin juga termasuk perpindahan yang telah terjadi jauh sebelumnya yang pada waktu itu tidak pernah diumumkan.

Tetapi bagaimanapun skala perpindahan agama ini telah menunjukan bahwa trauma politik 1965, telah mengguncangkan banyak orang dan membuat mereka kehilangan kepercayaan terhadap nilai-nilai yang dianut sebelumnya, sehingga sebagai solusinya mereka menerima agama baru. Atas guncangan tersebut agama Kristenlah yang mendapat angin segar dan diterima dengan baik. Karena tidak seperti agama Islam, agama Kristen terkesan jauh dari keterlibatan peristiwa konflik politik sebelum tahun 1965 dan juga peristiwa pembantaian, walaupun sebetulnya menurut Kenneth Orr dan tim peneliti dari Universitas Gajah Mada (UGM) dalam laporannya, di beberapa tempat orang Kristen juga terlibat dalam pembantaian.

Lebih jauh lagi yang membedakannya dengan Islam adalah gereja Kristen memiliki pastoral yang bekerja dengan penuh semangat membimbing para tahanan, keluarganya, dan orang-orang dari kelompok kiri pada umumnya. Seperti diceritakan kembali oleh Ibu Yetim para pastor bekerja tanpa mempedulikan pandangan masyarakat terhadap kelompok kiri, sehingga agama Kristen mendapat respek yang sangat baik di antara orang-orang yang sebelumnya hampir tidak punya perhatian sema sekali terhadsap agama.

Dalam kasus agama Hindu, ketertarikan untuk kembali pada kepercayaan Jawa sebelum Islam sebagai upaya mencari stabilitas mungkin merupakan sesuatu yang dianggap penting; agama Hindu juga menarik bagi mereka yang secara politis mempunyai kepentingan untuk menahan ekspansi pengaruh politik Islam.

Perpindahan Massal

Apa yang ditulis Robert Crib bersesuaian dengan kajian yang dilakukan Direktur Pusat Studi Peradaban Islam/PSPI Solo, Arif Wibowo, (Republika/ 17 September 2015). Menurutnya, meskipun PKI mengalami kekalahan pada Pemberontakan 1965, bukan berarti umat Islam tidak menderita kerugian. Euforia menyambut Rezim Orde Baru yang menggusur PKI dan komunisme, juga diikuti dengan penggusuran aspirasi politik Islam di Indonesia. Itu ditambah lagi dengan kerugian demografi keagamaan penduduk Indonesia. Rivalitas dalam tensi tinggi antara politik Islam dengan komunisme pasca G-30S/PKI menyebabkan pihak Kristen Protestan dan Katolik, menangguk keuntungan besar, karena banyak diantara para pengikut PKI yang kebanyakan berasal dari kaum abangan dan kejawen kemudian men jatuhkan pilihan keagamaannya kepada Kristen Protestan dan Katolik. (M.C Ricklefs dalam buku Mengislamkan Jawa, Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai sekarang, (Jakarta : Serambi, 2013) hlm. 250.).

Singgih Nugroho, Mahasiswa Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, mengabadikan peristiwa ini dalam tesisnya yang berjudul “Baptisan Massal Pasca Peristiwa 30 September 1965 (studi kasus perpindahan agama ke Kristen di Salatiga dan sekitarnya pada tahun-tahun sesudah 1965)”.

Dalam tesisnya, Singgih Nugroho, sebagaimana di banyak buku lain, menggambarkan betapa tindakan kekerasan yang tidak jarang berujuang pada pembunuhan, yang dilakukan secara kolaboratif antara milisi Islam dalam hal ini Anshor sebagai tertuduh utama dengan pihak militer, telah menjadikan banyak simpatisan PKI memilih menjadi Kristen ataupun Katolik. Averry T Willis menyebut angka yang cukup fantastis, yaitu dua juta orang yang akhirnya memilih menjadi Kristen / Katolik, seperti tercermin dalam judul bukunya“Indonesian Revival : Why Two Millions Came to Christ, meski angka ini diragukan oleh banyak kalangan, karena dinilai terlalu bombastis.

Avery T Willis, seorang missionaris asal Amerika yang menjadi missionaris di Indonesia sejak tahun 1964 dan memimpin Seminari Teologi Baptis Indonesia menyebutkan ada 11 faktor yang menyebabkan perpindahan massal keagamaan ke agama Kristen/ Katolik ini. Tiga diantaranya berkait dengan posisi pengikut PKI yang secara psikologis mengalami ketertindasan akibat agitasi lawan-lawan politiknya, yang berhasil dimanfaatkan oleh para rohaniawan Kristen dan Katolik. Reaction Factor, reaksi berlebihan dari sebagian pemimpin kelompok Islam terhadap orang-orang Islam statistik yang menjadi anggota dan simpatisan PKI telah mendorong orang-orang itu menoleh ke tempat lain untuk memperoleh bantuan spiritual dan perlindungan politik.

Protection Factor, Perlindungan gereja terhadap orang-orang yang dituduh PKI dan orang yang belum beragama secara sungguh-sungguh, dari pembunuhan dan kehilangan status sosialnya telah memberi rasa simpati banyak orang untuk memeluk Kristen. Service, perhatian dan pelayanan dari lembaga gereja, termasuk di dalamnya pendidikan, bantuan medis dan kebutuhan fisik lainnya, telah mendorong orang-orang untuk tertarik dan masuk ke agama Kristen.

Dalam catatan M.C Ricklefs data kependudukan antara tahun 1960 – 1971, menunjukkan jumlah jemaat dari lima denominasi Protestan yang menjadi subyek kajian Willis tumbuh secara fenomenal dari 96.872 men jadi 311.778, sebuah peningkatan lebih dari 220 persen. Pada tahun 1965-7, tingkat pertumbuhan tahunannya adalah 27,6 pertumbuhan, sementara pada tahun 1968-1971, 13,7 persen. Sebagian besar peralihan keyakinan atau konversi di dalam kajiannya terjadi secara berkelompok. Individu-individu, biasanya adalah pemimpin desa, berbicara diantara mereka, mengenai kemungkinan menjadi orang Kristen secara bersama-sama. Kadang mereka melakukannya sebagai suatu kelompok besar, tetapi yang lebih sering terjadi adalah suatu kelompok akan diikuti kelompok lain yang terkait selama kurun waktu beberapa bulan atau tahun.

Tidak sekedar berpindah agama, dendam ideologis telah mengantarkan pemeluk Kristen/Katolik baru eks PKI ini lebih agresif dalam beragama ketika bersinggung an dengan umat Islam. Ditulis: “Bab ini te lah menunjukkan bahwa agen “kristenisasi” tidak selalu gereja, tetapi juga sebagian warga Kristen eks tapol yang mempunyai sejarah sendiri dalam berhubungan dengan segala hal yang berabau “Islam” semasa hidup di tahanan maupun keluarga mereka semasa pembantaian 1965 – 1966 ….. Keputusan mereka untuk pin dah dari Islam dan konsisten memeluk Kristan serta turut menyebarkannya seusai dibebaskan, walaupun mendapat gugatan baik dari sebagian kalangan Islam maupun umat Kristen sendiri, merupakan bagian penting dari sejarah pergumulan hidup mereka untuk mendefinisikan dirinya dan menciptakan ruang otonom yang memungkinkan untuk menjadi subyek bukan sekedar obyek, sejarah lingkungannya”.(Singgih Nugroho, Menyintas dan Menye berang, Perpindahan Massal Keagaman Pasca 1965 di Pedesaan Jawa, (Yogyakarta : Syarikat, 2008) hlm. 232).

Pesan Kuntowijoyo

Selanjutnya, Arif Wibowo kemudian mengingatkan pesan mendiang cendikiawan Kuntowijoyo. Menurut dia, Kuntowijoyo pernah mengingatkan agar kaum Muslim Indonesia memberikan respons yang tepat dalam menghadapi tantangan realitas. Khususnya dalam menyikapi realiatas kaum marjinal. Jika tidak, maka pihak lain akan mengambil kesempatan itu.

“Sejarah Indonesia menunjuk kan bahwa SI Merah lebih populer dibanding SI putih, dan PKI lebih populer dari Partai-Partai Islam, di kalangan buruh tani dan buruh (industri) karena umat tidak sensitif dengan munculnya proletarianisasi di pedesaan dan perkotaan… Dianaktirikannya buruh tani dan buruh …. Demikian pula terbukti bahwa para aktifis buruh tani dan buruh hanya dipandang sebelah mata oleh umat, seolah buruh tani bukan bagian dari umat (Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, Epis temologi, Metodologi dan Etika. (Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu, (Yogyakarta : Tiara Wacana, 2006), hlm. 44).

Selain respon intelektual dalam membangun kesadaran sejarah umat Islam, umat Islam perlu meningkatkan kohesivitas sosialnya dalam mengatasi persoalan kaum marjinal. Di sisi lain, umat jangan sampai terjebak dalam konflik internal– semisal konflik Asy’ariyah versus Wahabiyyah) yang justru semakin melemahkan potensi dan kekuatan umat Islam. [AW/ROL]

 

sumber: Panjimas.com

KH Hasyim Muzadi Ajak Marwah Daud Kembali ke Jalan Benar

KH Hasyim Muzadi mengaku mengenal Marwah Daud sebagai orang yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi. Setelah mengetahui Marwah menjadi pengikut di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, ia pun segera mengajak Marwah untuk kembali ke jalan yang benar.

Hasyim bercerita pertama kali mengenal Marwah saat bertemu di London, Inggris bersama istrinya. Saat itu Marwah tengah kehilangan kopernya sehingga Hasyim memberikan bantuan dengan meminjamkan baju istrinya pada Marwah.

Sedangkan terkait nama Taat Pribadi, Hasyim mengaku tidak pernah mendengar sama sekali. Dia pun mengaku baru mengetahui belakangan ini bahwa ada orang yang memiliki kekuatan untuk menggandakan uang.

Namun Hasyim mengaku tidak habis pikir jika temannya, Marwah yang dia kenal sebagai wanita cerdas justru menjadi pengikut Taat Pribadi. Hasyim pun meminta Marwah untuk kembali dan tidak lagi menjadi bagian dari pengikut Taat Pribadi.

“Bu Marwah kembali sajalah pada kita-kita ini,” ujar Hasyim pada Marwah dalam acara Indonesia Lawyers Club di TV One, Selasa (4/10) malam.

Ia mengaku mendapatkan pelajaran dari kasus Taat Pribadi yakni kecerdasan dan kepandaian seseorang bukanlah segalanya, bila terhadap fenomena kezaliman yang beraromakan agama bisa begitu dipercaya.

“Kecerdasan dan kepandaian belum segalanya. Karena kondisi kejiwaan juga berpengaruh pada kecerdasan dan kepandaian seseorang,” ujarnya.

 

Republika Online

Kemenag: Jangan Terkecoh dengan Istilah Padepokan

Kementerian Agama (Kemenag) meminta masyarakat agar tidak salah mengartikan istilah-istilah seperti pesantren dan padepokan, yang belakangan muncul dengan adanya fenomena Taat Pribadi dan Gatot Brajamusti.

Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam, Machasin mengatakan tidak sama apa yang belakangan disebut padepokan seperti milik Taat Pribadi dan Gatot Brajamusti dengan pesantren.

“Padepokan tidak terdaftar di Kemenag, sebagai lembaga pendidikan, karena yang resmi seperti pondok pesantren terdaftar,” kata dia kepada Republika.co.id, Rabu (5/10).

Padepokan, kata dia, itu sifatnya umum, dan sudah menjadi penyebutan sejak dahulu bagi siapapun yang ingin mencari apapun, mulai seni, ilmu agama, hingga beladiri. Sedangkan pesantren itu khusus tempat untuk belajar agama Islam, dan sekarang pesantren itu terdaftar di Kemenag.

“Kalau padepokan itu tidak terdaftar di Kemenag, saya tidak tahu terdaftar di mana. Jadi masyarakat yang ingin menuntut ilmu agama dan mencari pesantren lebih baik melihat itu resmi atau tidak, agar tidak terkecoh,” ujarnya.
Baca juga: Heboh Gatot dan Dimas Kanjeng, Ternyata Ini Biangnya
Kalau ada yang mengistilahkan pesantren dengan nama padepokan, ia meminta masyarakat agar mulai berhati-hati. Apalagi belakangan dengan fenomena yang terjadi, istilah padepokan lebih mengarah pada tempat mencari keilmuan dengan hal-hal yang tidak masuk akal dan metafisika. Dia pun meminta masyarakat menghindarinya.

 

sumber:Republika Online

 

Kakak Bocah Suriah tak Tertolong

Omran Daqneesh, bocah Suriah yang menjadi perbincangan dunia lewat fotonya di dalam ambulans pekan lalu, rupanya memiliki seorang saudara laki-laki, Ali Daqneesh. Saudara laki Dagneesh meninggal setelah terluka akibat serangan udara Rabu pekan lalu (17/8).

Ali yang berusia 10 tahun meninggal pada Sabtu (20/8). Menurut Direktur Aleppo Media Center Yousef Saddiq, Ali ‘menyerah’ di rumah sakit lapangan di Aleppo dari luka yang dideritanya setelah cukup lama tertimbun reruntuhan bangunan, Ahad (21/8).

“Selama tiga hari terakhir, ia dalam kondisi kritis,” ujar Saddiq seperti dikutip CNN. “Ibunya masih menerima perawatan medis karena dia juga dalam kondisi kritis. Keluarganya yang lain tetap di Aleppo.”

Foto dan video Omran yang sedang duduk diam di ambulans menunggu bantuan merupakan refleksi suram dari perang sipil Suriah. Gambar yang tersebar di media sosial tersebut memicu kecaman dari berbagai belahan dunia.

 

“Omran … masih hidup, dan insya Allah akan terus hidup dalam kondisi yang lebih baik dari sekarang,” kata Dokter Abu Rasoul, yang mengurus saudara Omran, Ali. “Saudaranya, yang tidak diketahui orang-orang, telah meninggal dan dia di sisi Allah sekarang.”

“Omran ditarik keluar dari reruntuhan dengan cepat hingga kini dapat hidup. Ali tinggal di bawah reruntuhan untuk sementara waktu,” katanya. Dokter Rasoul juga menjelaskan bahwa Ali menderita luka yang cukup parah.

 

sumber: Republika Online

Foto Memilukan Bocah yang Selamat dari Serangan Udara di Suriah

Aktivis oposisi Suriah merilis foto memilukan seorang bocah yang baru diselamatkan dari reruntuhan gedung. Bocah yang diketahui berusia lima tahun itu terkubur di gedung hancur akibat serangan udara pemerintah Suriah.

Dokter di Aleppo mengatakan anak itu bernama Omran Daqneesh. Seluruh tubuhnya ditutupi debu dengan bagian kepala berlumuran darah. Ia duduk di bangku ambulans berwarna oranye terang dengan tatapan kosong.

Fotonya tersebar di dunia maya dan kembali menghentak seperti foto Aylan Kurdi yang terdampar di pantai. Foto Daqneesh sedikit menggambarkan apa yang terjadi di Aleppo. Wilayah itu tidak pernah aman untuk anak-anak seusianya.

Seorang aktivis oposisi Suriah, Osama Abu al-Ezz mengatakan bocah itu dicatat sebagai M10 saat diselamatkan tengah malam dari distrik Qaterji. Serangan udara pemerintah mengguncang distrik yang dikuasai pemberontak itu sebelumnya.

Abu al-Ezz mengatakan bocah itu mengalami luka di kepala tanpa mempengaruhi otaknya. Daqnessh telah dirawat dan sudah bisa pulang. Mereka mencatatnya sebagai M10 untuk alasan keamanan. Pasukan keamanan bisa masuk ke jaringan medis dan menargetkan ambulans yang sedang mentransfer pasien dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain.

Video penyelamatan Daqneesh dirilis Aleppo Media Center pada Rabu. Tampak seorang pria terburu-buru menggendong bocah itu ke ambulans saat tengah malam. Tampak Daqneesh tidak menangis, ia memegang kepalanya dan mendapati darah melumurinya. Ia kemudian menggosokannya ke kursi ambulans.

Daqnessh adalah satu dari korban selamat. Aktivis mengatakan ada delapan korban dari serangan udara di Qaterji termasuk lima anak -anak.

 

Tragedi

Surat Dokter Aleppo ke Obama yang Menyentuh Hati

Salah satu dari sedikit dokter tersisa di Aleppo membuat petisi yang meminta Presiden AS Barack Obama dan Kanselir Jerman Angela Merkel membantu menghentikan pengeboman warga sipil, sekolah serta rumah sakit di kota itu. Pengebomaan di Aleppo sudah di luar batas kemanusiaan.

Seperti dikutip Independent, ini bukan pertama kali surat dilayangkan. Sebelumnya Dokter Hamza Al Khatib telah menulis surat ke kedua pemimpin itu agar menggunakan pengaruhnya membantu rakyat sipil dan dokter di Aleppo.

“Namun respons mereka seperti dalam lima tahun terakhir,” ujar Khatib dalam petisinya. “Dari Merkel kita hanya mendengar suara diam dan dari Gedung Putih direspons dengan kecaman-kecaman AS terhadap rezim Suriah.”

Namun itu hanya sekedar kecaman. Tak ada upaya lebih dari Presiden Obama atau Merkel dalam menghentikan kekerasan terhadap warga sipil dan rumah sakit.  Sebanyak 200 ribu orang telah menandatangani petisi itu.

 

Berikut bunyi surat petisi yang ditulis Khatib.

Saya merupakan satu di antara sedikit dokter yang bertugas membantu 300 ribu warga yang tersisa di timur Aleppo. Kejahatan berlangsung setiap hari. Rezim Suriah dan serangan udara Rusia secara sistematis menargetkan warga sipil dan rumah sakit di seluruh titik kota.

Selama lima tahun, kami telah menjadi saksi tak terhitug jumlah pasien, teman, kerabat yang menderita akibat kekerasan dan menghadapi kematian. Selama lima tahun, negara di dunia hanya mengakui betapa kompleksnya persoalan Suriah, namun hanya sedikit yang melindungi kami.

 

Bulan lalu ada 42 serangan di fasilitas medis di Suriah. Sebanyak 15 di antaranya merupakan rumah sakit teman dan kolega saya bekerja. Dalam kondisi ini, pelayanan medis di Aleppo bisa benar-benar sepenuhnya terhenti dan membuat 300 ribu orang meninggal.

Apa yang menyakitkan bagi kami adalah memilih mana yang akan hidup dan yang akan mati. Bocah kecil terkadang dibawa ke ruang gawat darurat dalam kondisi luka parah, kami pun harus memprioritaskan mereka yang memiliki kesempatan hidup lebih besar, atau memang kami tak memiliki peralatan untuk menyelamatkan mereka.

Empat pekan lalu, empat bayi baru lahir meninggal lantaran selang inkubator penyalur oksigen terputus akibat ledakan.

Meski dalam situasi teror, kami memilih tinggal di sini. Kami berjanji untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kami memiliki tugas untuk tetap dan membantu. Yang hanya kami minta sekarang adalah Obama dan Merkel juga melakukan tugas mereka.

Kami tak membutuhkan tangisan, simpati atau doa mereka. Kami meminta mereka bertindak. Kamu membutuhkan bukti bahwa mereka adalah teman rakyat Suriah.

 

Ini Tragedi Aleppo, Bocah Tewas oleh Bom yang Dikiranya Mainan

Seorang anak perempuan berusia empat tahun tewas setelah mengambil sebuah bom klaster yang dia pikir adalah mainan.

Keluarganya melaporkan, Eman sedang keluar untuk mengumpulkan air di wilayah yang dikuasai pemberontak Suriah di Aleppo timur. Saat itu, ia melihat bom curah yang ia pikir sebagai bola perak.

Stasiun televisi lokal ITV menayangkan video pada Senin (3/9), menunjukkan gadis kecil tersebut berjuang untuk bertahan hidup di rumah sakit setempat. Wajahnya berlumuran darah dan dipenuhi memar. Malang, Eman tak dapat bertahan dan meninggal pada Selasa.

Gadis lain di rumah sakit yang sama terlihat menangis kesakitan setelah terluka dalam sebuah serangan udara. Nama dan usianya tidak diketahui, karena tidak ada anggota keluarga yang menemaninya. Dokter percaya bahwa keluarganya tewas dalam serangan yang sama.

Bom curah adalah bahan peledak berukuran kecil yang kerap tergeletak dalam waktu yang cukup lama setelah konflik berakhir dan sulit untuk dibersihkan. Lebih dari seratus negara telah menandatangani perjanjian yang melarang penggunaannya.

 

Kelompok pemerhati Hak Asasi Manusia (HAM), Human Rights Watch, dan sejumlah pejabat Amerika Serikat (AS) telah menuduh Rusia menggunakan bom curah dalam mendukung rezim Suriah.

Selain bom curah, rezim yang didukung oleh kekuatan udara Rusia, juga dituding melanggar hukum perang dengan mengintensifkan serangan udara di Aleppo dalam beberapa hari terakhir dan tampaknya sengaja menargetkan rumah sakit.

Sekarang hanya ada lima rumah sakit yang tersisa di wilayah Aleppo timur. Rumah sakit dipadati oleh banyak warga sipil yang menjadi korban.

Menurut dokter di rumah sakit setempat, aturan perang tidak dipatuhi di mana bom melanda tempat-tempat yang merawat orang sakit dan terluka.

 

sumber:Republika Online

Bahaya Menyerahkan Urusan kepada yang Bukan Ahlinya

Ada Hadits idza wusidal amru dan juga hadits mengenai tahun-tahun banyak tipuan

Hadits tentang bahaya menyerahkan urusan kepada yang bukan ahlinya, telah ditegaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ( البخاري)

“Idzaa wussidal amru ilaa ghoiri ahlihi fantadziris saa’ah.”  Apabila perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kiamat. (HR Al-Bukhari dari Abi Hurairah).

Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir menjelaskan: Apabila hukum yang berkaitan dengan agama seperti kekhalifahan dan rangkaiannya berupa kepemimpinan, peradilan, fatwa, pengajaran dan lainnya diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, yakni apabila (pengelolaan urusan) perintah dan larangan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat, sebab hal itu sudah datang tanda-tandanya. Ini menunjukkan dekatnya kiamat, sebab menyerahkan urusan dalam hal amar (perintah) dan nahi (larangan) kepada yang tidak amanah, rapuh agamanya, lemah Islamnya, dan (mengakibatkan) merajalelanya kebodohan, hilangnya ilmu dan lemahnya ahli kebenaran untuk pelaksanaan dan penegakannya, maka itu adalah sebagian dari tanda-tanda kiamat. (Al-Munawi, Faidhul Qadir, juz 1, Darul Fikr, Beirut, cetakan 1, 1416H/ 1996M, hal 563-564).

Ada peringatan yang perlu diperhatikan pula, yaitu keadaan lebih buruk lagi di mana pendusta justru dipercaya sedang yang jujur justru didustakan, lalu pengkhianat malah dipercaya. Dan di sana berbicaralah ruwaibidhah, yaitu Orang yang bodoh (tetapi) berbicara mengenai urusan umum. Itulah yang diperingatkan dalam Hadits:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh kedustaan, saat itu pendusta dipercaya, sedangkan orang benar justru didustakan, pengkhianat diberikan amanah, orang yang amanah justru dikhianati, dan saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya: “Apakah Ruwaibidhah itu?” Beliau bersabda: “Seorang laki-laki yang bodoh namun dia membicarakan urusan orang banyak.” (HR. Ibnu Majah No. 4036, Ahmad No. 7912, Al-Bazzar No. 2740 , Ath-Thabarani dalam Musnad Asy-Syamiyyin No. 47, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak ‘Alash Shahihain No. 8439, dengan lafaz: “Ar Rajulut Taafih yatakallamu fi Amril ‘aammah – Seorang laki-laki bodoh yang membicarakan urusan orang banyak.” Imam Al-Hakim mengatakan: “Isnadnya shahih tapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.” Imam Adz-Dzahabi juga menshahihkan dalam At-Talkhis-nya, / seperti dikutip dkwtncom).

Kembali lagi, menyerahkan urusan bukan kepada ahlinya saja sudah menunjukkan tanda-tanda dekatnya Qiyamat. Apalagi justru yang diserahi itu pengkhianat lagi bodoh. Dalam hal urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya saja, dijelasksan haditsnya oleh Al-Munawi; Ini menunjukkan dekatnya kiamat, sebab menyerahkan urusan dalam hal amar (perintah) dan nahi (larangan) kepada yang tidak amanah, rapuh agamanya, lemah Islamnya, dan (mengakibatkan) merajalelanya kebodohan, hilangnya ilmu dan lemahnya ahli kebenaran untuk pelaksanaan dan penegakannya, maka itu adalah sebagian dari tanda-tanda kiamat. (Al-Munawi, Faidhul Qadir, juz 1, Darul Fikr, Beirut, cetakan 1, 1416H/ 1996M, hal 563-564).

Di sisi lain, orang-orang munafik bukan hanya tidak amanah, namun justru menegakkan yang munkar (keburukan) dan berupaya menghalangi yang ma’ruf (Tauhid dan hal-hal yang baik).

Ketika berlangsung tahun-tahun yang banyak tipuan, semua itu tidak ujug-ujug (tiba-tiba) berlangsung. Tentu saja ada awalan-awalannya. Didahului oleh gejala-gejala tingkah buruk yang berkembang di masyarakat. Di antara tipuan yang sangat dahsyat adalah tipuan orang-orang munafik, baik laki-laki maupun perempuan, yang kini telah merajalela. Setiap orang yang liberal, sekuler, ataupun ada kecondongan bahkan membela aliran sesat, maka perlu diwaspadai, kemungkinan mereka akan mempraktekkan tipuan-tipuan ala kaum munafik yang telah ditegaskan dalam Al-Qur’an:

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ  [التوبة/67]

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya (berlaku kikir)]. mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. (QS At-taubah/ 9: 67).

Dikhawatirkan, ayat kecaman tersebut justru dipraktekkan oleh pentolan-pentolan yang selama ini menduduki jabatan sebagai tokoh ormas Islam, atau lembaga Islam, atau bahkan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Buktinya, dalam kaitannya dengan pemilu, ada tokoh MUI pusat, Muhyiddin Junaidi, yang mengimbau jangan takut pilih caleg non Islam. Karena, menurut Muhyiddin Junaidi, ayat yang melarang pilih pemimpin yang kafir itu kurang relevan di negeri ini yang bukan Daulah Islamiyah.

Muhyiddin menyebutkan dalil yang terkandung dalam Al-Quran Surat Al-Imron ayat 28 yang kerap menjadi rujukan argumen sebagian besar masyarakat Muslim untuk mengharuskan memilih pemimpin Islam.

Al-Qur’an Surah Al-Imran, ayat 28, itu :

{لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ } [آل عمران: 28]

“Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barang siapa berbuat berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apapun dari Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa) Nya dan hanya kepada Allah tempat kembali”.

Namun, lanjut dia, ayat tersebut diturunkan dalam konteks di negara berdasarkan ukhuwah Islamiyah atau Daulah Islamiyah. Sedangkan Indonesia tidak. Sehingga kurang relevan untuk diterapkan surah Al-Imran ayat 28 itu.

“Memang ada dalil yang menyebutkan sebaiknya memilih yang seiman dengan kita, tetapi itu dalam konteks Daulah Islamiyah, sedangkan Indonesia ini bukan Daulah Islamiyah. Indonesia berdasarkan Pancasila,” katanya.

Betapa mengerikannya, ucapan tokoh bahkan duduk sebagai salah satu Ketua MUI Pusat di Jakarta, namun seberani itu dalam mengotak-atik ayat Al-Qur’an. Mempersilakan Umat Islam untuk melakukan sebaliknya dari yang dilarang Al-Qur’an, bukankah itu telah ditegaskan dalam QS At-taubah/ 9: 67, mengenai lakon orang munafik tersebut?

Untuk sementara, sebagai gambaran pemikiran, apabila dalam pemilu 2014 itu dimenangkan oleh partai-partai sekuler yang tampaknya telah dimasuki cina-cina kafir dan aliran sesat yang membahayakan yakni syiah ; berarti pertanda bahwa justru penduduk Indonesia walau statusnya mayoritas Islam namun belum tentu sayang terhadap Islamnya. Maka sangat perlu pembinaan keimanan yang teguh dan lurus secara terus-menerus. Dan itulah tugas umat Islam yang aqidahnya benar untuk mengajak umat ini ke jalan yang benar. Semoga Allah memberkahi umat Islam yang teguh memegangi Islamnya dengan baik. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

Harta dan Anak Menjadi Fitnah

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu” mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 27-28)

***

Kemudian, diulang lagi seruan kepada orang-orang yang beriman. Dibisikkan lagi kepada mereka bahwa harta dan anak-anak itu kadang-kadang dapat menjadikan manusia tidak mau memenuhi seruan Allah dan seruan Rasul. Karena, takut terhadap nasib anaknya nanti dan karena bakhil terhadap hartanya.

Kehidupan yang diserukan Rasulullah adalah kehidupan yang mulia, yang sudah tentu ada tugas-tugas yang harus dikerjakan untuk mencapainya, harus ada pengorbnan. Oleh karena itu, Alquran mengobati ambisi ini dengan mengingatkan mereka terhadap fitnah harta dan anak-anak. Karena, harta dan anak-anak merupakan tempat ujian dan cobaan.

Alquran juga mengingatkan mereka agar jangan lemah menghadapi ujian ini, jangan mundur dari perjuangan, dan jangan melepaskan diri dari beban amanat, janji, dan baiat.

Alquran menganggap pelepasan diri dari semua ini sebagai pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul. Juga pengkhianatan terhadap amanat-amanat yang dibebanan kepada umat Islam di muka bumi.

Yaitu, amanat untuk menjunjung tinggi kalimat Allah dan menetapkan uluhiyyah-Nya saja bagi manusia, dan berpesan kepada manusia untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.

Di samping kehati-hatian ini, diingatkan pula mereka terhadap pahala yang besar dari sisi Allah kalau mereka dapat menanggulangi fitnah harta dan anak-anak, yang kadang-kadang menghalangi manusia dari berkorban dan berjihad.

Menghindarkan diri dari tugas-tugas sebagai umat Islam di muka bumi merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul. Persoalan pertama dalam agama Islam ini adalah persoalan ‘Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.’ Tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Persoalan mengesakan Allah terhadap uluhiyyah, dan menerima dengan sepenuh hati akan semua ini menurut apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saja.

Manusia dalam seluruh sejarahnya, tak pernah mengingkari keberadaan Allah sama sekali. Mereka hanya mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan lain, yang kadang-kadang, dan ini hanya sedikit, dalam bidang akidah dan ibadah.

Adakalanya, dan ini yang terbanyak, dalam masalah hukum dan kedaulatan. Inilah yang lebih dominan dalam kemusyrikan. Oleh karena itu, persoalan utama agama Islam ini bukan mengajak manusia untuk mempercayai uluhiyyah Allah. Tetapi, mengajak mereka untuk mengesakan uluhiyyah bagi Allah saja, untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah.

Yakni, mengesakan Allah sebagai satu-satunya yang berdaulat mengatur kehidupan mereka di dunia ini. Juga mengakui-Nya sebagai yang berdaulat untuk mengatur alam semesta, sebagai implementasi firman Allah: “Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi.” (QS. Az-Zhukhruf: 84)

Juga mengajak mereka bahwa hanya Rasulullah yang membawa wahyu dari Allah dan menyampaikannya kepada mereka. Dengan demikian, mereka berkewajiban mematuhi segala ajaran yang beliau sampaikan.

Inilah persoalan utama agama Islam, sebagai itikad yang harus ditanamkan dan dimantapkan di dalam hati, dan sebagai gerakan yang harus diaplikasikan di dalam kehidupan. Karena itu, menghindarkan diri dari hal ini adalah pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul.

Allah mengingatkan hal ini kepada golongan Islam yang telah beriman kepada-Nya dan telah menyatakan keimanannya ini. Sehingga, mereka mempunyai tugas untuk berjuang guna merealisasikan petunjuknya dalam dunia nyata. Juga supaya bangkit menunaikan tugas jihad ini terhadap jiwa, harta, dan anak-anak.

Allah juga mengingatkan mereka agar jangan mengkhianati amanat yang mereka usung pada hari mereka berbaiat kepada Rasulullah untuk memeluk Islam. Islam itu bukan sekadar ucapan dengan lisan, bukan sekadar retorika dan pengakuan-pengkuan.

Islam adalah manhaj kehidupan yang sempurna dan lengkap. Tetapi, untuk menegakkannya selalu menghadapi hambatan-hambatan dan kesulitan-kesulitan.

Islam adalah manhaj untuk membangun realitas kehidupan di atas landasan Laa ilaaha illallah, yang mengembalikan manusia kepada menyembah Tuhan mereka Yang Mahabenar, mengembalikan masyarakat kepada hukum dan syariat-Nya. Mengembalikan para thaghut yang melampaui batas kepada uluhiyyah Allah dan kedaulatan-Nya dari kezaliman dan tindakan melampaui batas.

Juga, mengamankan kebenaran dan keadilan bagi semua manusia, menegakkan keadilan di antara mereka dengan timbangan yang mantap, memakmurkan bumi, dan melaksanakan tugas khilafah di muka bumi dengan menggunakan manhaj Allah.

Semua itu merupakan amanat yang barangsiapa tidak menunaikannya berarti telah berkhianat, melanggar perjanjian kepada Allah, dan merusak baiat yang telah diikrarkannya kepada Rasulullah.

Mereka semua perlu berkorban, bersabar, dan tabah. Mereka harus dapat menanggulangi fitnah harta dan anak. Juga melihat pahala yang besar di sisi Allah, yang disimpan untuk hamba-hamba-Nya yang terpercaya mengemban amanat-amanat-Nya, yang sabar, suka mengalah, dan suka berkorban.

“Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 28)

Alquran ini berbicara kepada eksistensi manusia. Karena, Sang Pencipta mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi pada manusia ini, mengetahui yang lahir dan yang batin, mengetahui jejak-jejak langkah dan perjalanan hidupnya.

Allah mengetahui titik-titik kelemahan pada diri manusia. Dia mengetahui bahwa ambisi terhadap harta dan anak-anak itu merupakan titik kelemahan paling dalam pada diri mereka.

Oleh karena itu, di sini, Dia mengingatkan hakikat pemberian harta dan anak-anak itu. Allah memberikan harta dan anak-anak kepada manusia untuk menguji dn memberi cobaan kepada mereka dengannya.

Harta dan anak termasuk perhiasan dunia yang notabene adalah ujian dan cobaan. Karena, Allah hendak melihat apa yang diperbuat dan dilakukan seorang hamba terhadap harta dan anak ini. Apakah dia mau mensyukurinya dan menunaikan hak-hak nikmat yang diperolehnya itu? Ataukah, malah sibuk dengannya sehingga lupa menunaikan hak-hak Allah?

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (QS. Al-Anbiyaa: 35)

Maka, fitnah atau cobaan itu bukan hanya dengan kesulitan, kesengsaraan dan sejenisnya saja. Tetapi, fitnah itu juga bisa berupa kemakmuran dan kekayaan. Termasuk kemakmuran dan kesenangan itu adalah harta dan anak-anak. “Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan.”

Apabila hati sudah menyadari posisi harta dan anak-anak sebagai ujian dan cobaan, maka kesadaran itu akan membantunya untuk senantiasa berhati-hati, menyadari dan mewaspadai, agar jangan sampai ia tenggelam, lupa, dan terbenam dalam ujian dan fitnah.

Kemudian Allah tidak membiarkan manusia tanpa pertolongan dan bantuan. Karena, manusia itu kadang-kadang merasa lemah, setelah menyadari semua itu, untuk memikul beratnya pengorbanan dan tugas. Khususnya, pada titik kelemahannnya yaitu terhadap harta dan anak-anak.

Maka, Allah memanggil-manggil mereka untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dan lebih kekal. Sehingga, dengan adanya keinginan untuk mendapatkannya, ia menjadi tabah dan kuat menghadapi ujian itu. “Dan bahwa di sisi Allah terdapat pahala yang besar.”

Allahlah yang memberi manusia harta dan anak. Di balik itu, di sisi-Nya terdapat pahala yang besar bagi orang yang dapat menanggulangi fitnah harta dan anak-anak. Dengan demikian, tidak seorang pun yang pantas mengabaikan amanat dan tidak mau berkorban untuk jihad.

Kesadaran inilah yang dapat membantu manusia yang lemah, yang diketahui oleh Sang Maha Pencipta titik-titik kelemahannya. “Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisaa: 28)

Islam adalah manhaj yang lengkap tentang akidah dan pandangan hidup, tarbiyah dan pemberian arahan, masalah kewajiban dan tugas-tugas manusia. Islam adalah manhaj atau aturan Allah Yang Maha Mengetahui, karena Dia Yang Maha Pencipta.

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14)

 

sumber: As Syahid Sayid Qutb

Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina, Bikin Kagum Dunia!

Jalur Gaza, Palestina, merupakan wilayah yang 2014 lalu luluh lantak akibat perang 50 hari melawan Israel. Negeri Zionis itu membabi buta. Rudal-rudal mereka menghantam setiap bangunan, bahkan rumah sakit satu-satunya di Gaza rata dengan tanah. Korban mencapai ribuan termasuk anak-anak dan wanita. Saat itulah dunia baru terbuka mata dan mengecam Israel atas tindakan represif jalur darat mereka yang dinilai tidak memperhatikan kemanusiaan. Dari perang 50 hari itu, banyak bangsa akhirnya mengakui kedaulatan Palestina. Yang terbaru malah Vatikan ikut mengakui jika Palestina sudah resmi menjadi sebuah negara.

Dari negara-negara yang mendukung Palestina ini hanya ada satu bangsa yang konsisten bersama rakyat Palestina mempertahankan kedaulatannya. Negara itu adalah Indonesia. Yes guys, kamu kudu bangga! Bantuan-bantuan dari negeri ini untuk rakyat Palestina terutama mereka yang tinggal di Jalur Gaza tidak sedikit. Sejak lima tahun lalu dicanangkan pembangunan rumah sakit yang biayanya murni dari seluruh penduduk negeri ini. Tepuk tangan gemuruh untuk kita!

Perjuangan 5 tahun itu akhirnya gak sia-sia. Kemarin diresmikanlah Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Rumah sakit ini sudah diluncurkan sejak 27 Desember dan rata-rata menerima 250 pasien sehari. Berdiri di atas bukit di dekat Jabalya, kamp pengungsi di Gaza, hingga saat ini Rumah Sakit Indonesia sudah menangani 300 ribu pasien yang tinggal di wilayah utara Gaza. Teritori paling parah terkena bom Israel pada perang 50 hari 2014 lalu. Demikian kutipan Harian Haaretz, Rabu (6/1/2016).

Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina ini memiliki total 110 tempat tidur baru dan 62 tempat tidur lama dari rumah sakit sebelumnya. Tempat ini juga memperkerjakan 400 tenaga medis. Fasilitasnya pun lumayan lengkap sehingga pasien yang punya penyakit serius tak perlu dibawa ke Mesir seperti tahun-tahun sebelumnya. Luar biasa Indonesia!

 

sumber: Bintang.com