Delapan Karunia Allah di Hati Seorang Mukmin

ALLAH memberikan delapan karunia ke hati seorang mukmin. Apa saja karunia itu?

1. Kehidupan

“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami Hidupkan dan Kami Beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana?” (Al-Anam 122)

2. Kesembuhan

“Serta melegakan (menyembuhkan) hati orang-orang yang beriman.” (At-Taubah 14)

3. Hidayah

“Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (At-Taghabun 11)

4. Keimanan

“Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan.” (Al-Mujadalah 22)

5. Ketenangan

“Dia-lah yang telah Menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang Mukmin.” (Al-Fath 4)

6. Cinta Keimanan

“Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu.” (Al-Hujurat 7)

7. Kesatuan Hati

“Dan Dia (Allah) yang Mempersatukan hati mereka (orang yang beriman).”(Al-Anfal 63)

8. Ketenteraman

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Rad 28). [IslamIndonesia]

Pejabat Partai di Pakistan Bimbing Orang Cina Masuk Islam

Usai bersyahadat, pria Cina tersebut pun berganti nama menjadi Abdullah.

Video seorang warga Cina yang memberikan kesaksian memeluk Islam menjadi viral di Pakistan. Terlebih hal itu dilakukan atas bimbingan seorang pejabat sebuah partai besar dan berkuasa di Pakistan yakni dari Partai Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI) yang diketuai Imran Khan.

Dalam video yang telah dirilis oleh media internal PTI Khyber-Pakhtunkhwa, pria asal Cina terlihat membacakan kalimat syahadat setelah mendapat bimbingan dari Amjad Ali. Ali merupakan pejabat di partai PTI. Usai mengucapkan kalimat syahadat pria tersebut pun berganti nama menjadi Abdullah.

“Selamat, kini kamu adalah seorang Muslim. Namamu Abdullah,” kata Ali yang merupakan pejabat PTI di bidang pertambangan dan mineral seperti dilansir Hindustan Times, Rabu (30/1).

Amjad Ali pertama kali bertemu dengan pria Cina itu di Guangzhou saat dia mengunjungi makam Sa’ad Abi Waqas. “Dia (Abdullah) mengambil beberapa foto kami dan berbincang dengan kami. Dia kemudian terkesan dengan meminta kami untuk menuntutnya memeluk Islam,” kata Ali. Setelah pertemuan itu, Abdullah pun datang ke Pakistan untuk mempelajari ajaran Islam.

KHAZANAH REPUBLIKA

Dibimbing Ustaz Arifin Ilham, Seorang Dokter Masuk Islam

Jumlah mualaf Majelis Az-Zikra mencapai 721 orang.

Seorang dokter mengucapkan dua kalimat syahadat dibimbing Ustaz Muhammad Arifin Ilham dan disaksikan ribuan jamaah zikir Majelis Az-Zikra, Masjid az-Zikra, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Ahad (3/2).

“Setelah Zikir Akbar kita Ahad ini digembirakan Allah. Seorang dokter,  Marini Ruth Arthauli Sirait ( 24 tahun),  dari Protestan memutuskan untuk masuk Islam. Ia menjadi mualaf  dengan  ikhlas, sadar dan yakin sepenuh hati setelah mempelajari kemuliaan dan kebenaran ajaran Islam,” kata Pimpinan Majelis Az-Zikra, Ustaz Muhammad Arifin Ilham dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Ahad (3/2).

Ia menambahkan, peristiwa itu sangat mengharukan.  “Subhanallah walhamdulillah,  haru bahagia deraian air mata yang bersyahadat dan ikhwany fillah yang menyaksikan,” ujarnya.

Masuk Islamnya dr Marini Ruth Arthauli Sirait menambah panjang daftar mualaf yang bersyahadat melalui Majelis Az-Zikra.  “Alhamdulillah kini kembali Allah gembirakan kita dengan  bertambahnya lagi mualaf kita, yakni menjadi  721 mualaf melalui Majelis Az-Zikra,” papar Ustaz Arifin yang kembali memimpin Zikir Akbar di Masjid Az-Zikra, setelah menjalani pengobatan di RSCM dan RS di Penang, Malaysia.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Arifin menyampaikan terima kasih kepada  Koh Hanny yang menjadi motivator para mualaf Majelis Az-Zikra. “Semoga terus dan terus semakin banyak mereka yang meraih Hidayah Allah. Aamiin,” tuturnya.

KHAZANAH REPUBLIKA

Allah Menyukai Mukmin Bekerja untuk Keluarga

ALLAH berfirman “Seseorang tidak mendapatkan sesuatu kecuali apa yang telah diusahakannya”. (QS. An-Najm : 39). Andaikata Sunnatullah tersebut tidak berlaku, betapa akan sangat membingungkannya kehidupan ini karena tidak ada yang bisa dijadikan pedoman lagi.

Dan kita tidak dapat menduga-duga apa yang akan kita peroleh dengan melihat sudah seberapa serius dan keras kita dalam mengusahakan sesuatu.

Sebagaimana diriwayatkan Thabrani dalam Al-Kabir, Rasulullah bersabda, “Allah mencintai setiap mukmin yang bekerja untuk keluarganya dan tidak menyukai mukmin pengangguran”. Haram hukumnya apabila seseorang yang mampu bekerja hanya berdiam diri. Yusuf Qardhawi dakam fatwa-fatwanya menyatakan bahwa setiap Muslim diharamkan malas bekerja dengan dalih sibuk beribadah atau tawakal kepada Allah, sebab langit tidak akan mencurahkan hujan emas dan perak. “Barang siapa pada malam hari merasakan kelelahan karena bekerja pada siang hari, maka pada malam itu ia diampuni Allah”.

Nabi sudah lama mengingatkan, “Apabila kamu telah selesai salat subuh, maka janganlah kamu tidur”. Hadis ini memerintahkan kita agar manusia dengan segera bekerja sejak pagi-pagi sekali, supaya ia menjadi produktif. Bahkan Nabi SAW secara khusus mendoakan orang yang bekerja sejak pagi sekali. “Ya, Allah, berkahilah umatku yang bekerja pada pagi-pagi sekali”.

Dalam kaitan ini, menaik untuk mengutip ungkapan Jimmy Carter, “Saya bisa saja bangun jam sembilan pagi dan menjadi petani kacang, atau bangun jam enam pagi dan menjadi presiden”. Malas adalah watak yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Karena itu Nabi pernah berdoa kepada Allah agar dilindungi dari sifat lemah dan malas, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan-Mu dari sifat lemah dan malas”. Alquran mengemukakan kepada Nabi SAW, “Katakanlah (Hai Muhammad, kepada umatmu): bekerjalah !”.

Bekerja keras untuk mencari rezeki yang halal akan mengundang rahmat dan cinta Allah, Rasul, dan juga orang-orang yang beriman. Dalam Alquran berkali-kali disebut, “Dan katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaannya itu”.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa orang-orang yang menyediakan makanan dan kebutuhan lain untuk dirinya dan keluarganya lebih baik daripada orang yang menghabiskan waktunya beribadah tanpa mencoba berusaha mendapat penghasilan untuk dirinya sendiri. Islam sangat menjungjung tinggi kerja dan produktivitas. Islam tidak menyukai pengangguran dan kemalasan. []

Sumber: Islampost dari “Tangan-Tangan yang Dicium Rasul/Syahyuti/Pustaka Hira/Depok/Oktober 2011

Ketika Kita Marah

‘’Jangan marah!’’ begitu sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang bisa saja marah. Barangkali marah adalah sesuatu yang manusiawi. Lalu apa makna hadis  Nabi SAW itu?

Ibnu Hajar dalam al-Fath menjelaskan makna hadis itu: ‘’Al-Khaththabi berkata, ‘’Arti perkataan Rasulullah SAW ‘jangan marah’ adalah menjauhi seba-sebab marah dan hendaknya menjauhi sesuatu yang mengarah kepadanya.’’ Menurut ’Al-Khaththabi, marah itu tidaklah terlarang, karena itu adalah tabiat yang tak akan hilang dalam diri manusia.

Nah, apa yang harus dilakukan seorang Muslim ketika marah? Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitab Mausuu’atul Aadaab al-Islamiyah, mengungkapkan hendaknya seorang Muslim memperhatikan adab-abad yang berkaitan dengan marah. Berikut  adab-adab yang perlu diperhatikan terkait marah.

Pertama, jangan marah, kecuali karena Allah SWT. Menurut Syekh Sayyid Nada, marah karena Allah merupakan sesuatu yang disukai dan mendapatkan amal. Misalnya, marah ketika menyaksikan perbuatan haram merajalela. Seorang Muslim yang marah karena hukum Allah diabaikan merupakan contoh marah karena Allah.

‘’Seorang Muslim hendaknya menjauhi kemarahan karena urusan dunia yang tak mendatangkan pahala,’’ tutur Syekh Sayyid Nada. Rasulullah SAW, kata dia, tak pernah marah karena dirinya, tapi marah karena Allah SWT.  Nabi SAW pun tak pernah dendam, kecuali karena Allah SWT.

Kedua, berlemah lembut dan tak marah karena urusan dunia. Syekh Sayyid Nada mengungkapkan, sesungguhnya semua kemarahan itu buruk, kecuali karena Allah SWT. Ia mengingatkan, kemarahan kerap berujung dengan pertikaian dan perselisihan yang dapat menjerumuskan manusia ke dalam dosa besar dan bisa pula memutuskan silaturahim.

Ketiga, mengingat keagungan dan kekuasaan Allah SWT.  ‘’Ingatlah kekuasaan, perlindungan, keagungan, dan keperkasaan Sang Khalik ketika sedang marah,’’ ungkap Syekh Sayyid Nada.  Menurut dia, ketika mengingat kebesaran Allah SWT, maka kemarahan akan bisa diredam. Bahkan, mungkin  tak jadi marah sama sekali.

Sesungguhnya, papar Syekh Sayyid Nada, itulah adab  paling bermanfaat  yang dapat menolong seseorang untuk berlaku santu (sabar).

Keempat, menahan dan meredam amarah jika telah muncul. Syekh Sayyid Nada mengungkapkan, Allah SWT menyukai seseorang yang dapat menahan dan meredam amarahnya yang telah muncul.

Allah SWT berfirman, ‘’  dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.’’ (QS Ali Imran:134). Menurut Ibnu Hajar dalam Fathul Bahri, ketika kemarahan tengah memuncak, hendaknya segera menahan dan meredamnya untuk tindakan keji.

Rasulullah SAW bersabda, ‘’Barang siapa yang dapat menahan amarahnya, sementara ia dapat meluapkannya, maka Allah akan memanggilnya  di hadapan segenap mahluk. Setelah itu, Allah menyuruhnya memilih bidadari surga dan menikahkannya dengan siapa yang ia kehendaki.’’ (HR Ahmad).

Kelima, berlindung kepada Allah ketika marah. Nabi SAW bersabda, ‘’Jika seseorang yang marah mengucapkan; ‘A’uudzu billah (aku berlindung kepada Allah SWT, niscaya akan reda kemarahannya.’’ (HR Ibu ‘Adi dalam al-Kaamil.)

Keenam, diam. Rasulullah SAW bersabda, ‘’Ajarilah, permudahlah, dan jangan menyusahkan. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.’’ (HR Ahmad).  Terkadang orang yang sedang marah mengatakan sesuatu yang dapat merusak agamanya, menyalakan api perselisihan dan menambah kedengkian.

Ketujuh, mengubah posisi ketika marah. Mengubah posisi ketika marah merupakan petunjuk  dan perintah Nabi SAW.   Nabi SAW bersabda, ‘’Jika salah seorang di antara kalian marah ketika berdiri, maka hendaklah ia duduk. Apabila marahnya tidak hilang juga, maka hendaklah ia berbaring.’’ (HR Ahmad).

Kedelapan, berwudhu atau mandi. Menurut Syekh Sayyid Nada, marah adalah api setan yang dapat mengakibatkan mendidihnya darah dan terbakarnya urat syaraf.  ‘’Maka dari itu, wudhu, mandi  atau semisalnya , apalagi mengunakan air dingin dapat menghilangkan amarah serta gejolak darah,’’ tuturnya,

Kesembilan, memebri maaf dan bersabar. Orang yang marah sudah selayaknya memberikan ampunan kepada orang yang membuatnya marah.  Allah SWT memuji para hamba-Nya ‘’ dan jika mereka marah mereka memberi maaf.’’ (QS Asy-Syuura:37).

Sesungguhnya Nabi SAW adalah orang yang paling lembut, santun, dan pemaaf kepada orang yang bersalah. ‘’ dan ia tak membalas kejahatan dengan kejahatan, namun ia memaafkan dan memberikan ampunan’’ begitu sifat Rasulullah SAW yang tertuang dalam Taurat, kitab yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa AS.

N sumber: Ensiklopedi Abad Islam menurut Alquran dan Sunah. Penerbit  Pustaka Imam Syafi’i

Pemimpin yang Bijaksana

Soliditas bangsa itu antara lain terbentuk dari sifat pemaaf para pemimpin.

Islam agama yang sempurna. Tidak ada satu pun sisi kehidupan kecuali Islam telah memberikan panduan secara lengkap, termasuk dalam kehidupan sosial. Manusia tinggal menjalankannya. Dalam kehidupan sosial, dibutuhkan sosok pemimpin yang memiliki kemampuan dalam mengatur, mengelola, mengendalikan, dan mengarahkan kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara.

Berkaitan dengan sosok pemimpin, Nabi SAW bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan suatu kaum, dijadikan pemimpin-pemimpin mereka orang yang bijaksana dan dijadikan ulama-ulama mereka menangani hukum dan peradilan. Allah jadikan harta benda di tangan orang-orang yang dermawan.

Namun, jika Allah menghendaki keburukan bagi suatu kaum, Dia menjadikan pemimpin-pemimpin mereka orang yang berakhlak rendah. Dijadikan-Nya orang-orang dungu yang menangani hukum dan peradilan, dan harta berada di tangan orang-orang kikir.” (HR ad-Dailami).

Abu Ridha dalam bukunya ‘Politik Tegak Lurus PKS’ mengatakan, untuk memastikan apakah seorang pemimpin itu bijaksana dalam memimpin atau tidak, bisa dilihat dari sifat-sifat yang melekat dalam diri seorang pemimpin tersebut. Pertama, amanah. Menurut Ahmad al-Maraghi, amanah adalah sesuatu yang dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya. Amanah menjadi salah satu syarat menjadi pemimpin dalam Islam.

Dalam hal ini, Allah SWT berfirman, “Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS al-Qashash [28]: 26). Kedua, cerdas. Kecerdasan seorang pemimpin yang dibutuhkan bukan hanya kualitas kecerdasan intelektual, melainkan juga kecerdasan dalam emosional dan spiritual. Dalam hal ini, Nabi SAW bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang merendahkan dirinya dan beramal untuk persiapan sesudah mati.” (HR Tirmidzi).

Ketiga, tegas. Muhammad al-Amin al-Syinqithi dalam Adhwa’ul-Bayan menjelaskan, pemimpin harus seorang yang mampu menjadi qadhi (hakim) bagi rakyatnya dan menjadi seorang alim mujtahid yang tidak perlu lagi meminta fatwa kepada orang lain dalam memecahkan kasus-kasus yang berkembang di tengah masyarakat.

Dalam menghadapi kasus tertentu, Nabi tidak hanya diperintahkan bersikap tegas, tetapi juga bersikap keras. Allah SWT berfirman, “Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah Jahannam. Dan, itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (QS at-Taubah [9]: 73).

Keempat, kuat. Dalam sebuah hadis disebutkan, Abu Dzar berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku (seorang pemimpin)?” Lalu, Rasul memukulkan tangannya di bahuku, dan bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan sesungguhnya hal ini adalah amanah, ia merupakan kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya, dan menunaikannya (dengan sebaik-baiknya).” (HR Muslim).

Kelima, pemaaf. Pemaaf dan tidak menyakiti perasaan orang lain sebagai sifat mulia dan terpuji. Soliditas bangsa itu antara lain terbentuk dari sifat pemaaf para pemimpin. Sifat pemaaf ini dikategorikan sebagai sifat orang baik yang dicintai Allah. “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran [3]: 134). Semoga Allah menganugerahkan kepada bangsa ini pemimpin yang bijaksana yang dapat mengantarkan kepada baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Amin

Oleh: Imam Nur Suharno

Kebangkrutan Hakiki

Pada suatu kesempatan, baginda Nabi Muhammad SAW bertanya kepada para sahabatnya. “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu (al-muflis)?” Mereka menjawab, “Menurut kami, yang bangkrut itu adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.” Lalu Beliau bersabda, “Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan membawa shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, memakan harta, membunuh, dan menyakiti orang lain.

Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang yang dianiayanya sampai habis, sementara tuntutan masih banyak yang belum terpenuhi. Lalu, sebagian dosa mereka dibebankan kepadanya hingga ia dilemparkan ke neraka.” (HR Muslim). Riwayat ini, memberi banyak pelajaran kepada kita, apalagi di tengah suasana politik yang semakin menghangat jelang Pilpres 2019. Berita hoaks, ujaran kebencian, caci maki, fitnah, dan adu domba menyebar luas lewat media sosial (medsos).

Seakan, ungkapan dan perilaku seseorang tidak lagi merefleksikan agamanya. Padahal, pribadi Muslim itu mesti selaras antara hati, pikiran, ucapan, dan perbuatan. Artinya, iman yang tertanam dalam kalbu harus melahirkan amal saleh, baik berupa perkataan maupun perbuatan sehingga diganjar surga. (QS 18:88).

Amal saleh itu ada dua macam dan tidak bisa dipisahkan, yakni kesalehan individual atau ritual (ibadah mahdhah) dan kesalehan sosial (ibadah ghairu mahdhah). Ketika ibadah ritual rusak, tidak akan membuah kan dampak positif pada perilaku yang baik (akhlak karimah). Karenanya, manusia itu ada empat macam, pertama, orang yang beramal ritual dan tidak berdosa sosial. Ia disebut orang yang beruntung (QS 28:67). Kedua, orang yang tidak beramal ritual dan tidak pula berdosa sosial, ia disebut orang merugi (QS 18:103-104).

Ketiga, orang yang tidak beramal ritual, tetapi beramal sosial, ia disebut orang yang tertipu (QS 4:142). Ke em pat, orang yang beramal ritual, tapi banyak melakukan dosa sosial, ia disebut orang yang bangkrut secara hakiki (49:11-12). Lalu, kita termasuk kategori yang mana ?

Imam al-Gazali dalam buku Khuluq al-Muslim menegaskan, gambaran orang yang bangkrut dalam amal saleh diumpamakan dengan seorang pedagang yang memiliki barang dagangan senilai seribu, tetapi dia mempunyai utang lebih dari dua ribu. Sama halnya dengan seorang Muslim yang banyak mengumpulkan pahala amal ibadah, tetapi lebih banyak lagi dia melakukan maksiat, seperti mengumpat, memfitnah, memakan harta orang lain dengan cara tidak halal dan mengganggu ketenteraman masyarakat.

Oleh karena itu, kita wajib menjaga lisan dari segala macam perkataan buruk yang menimbulkan kerugian. “Berkatalah yang baik atau diam.” (HR Bukhari). Begitu pun jari jemari dari meng-up date status yang negatif di media sosial atau membagi informasi hoaks (bohong) atau yang belum tentu kebenarannya. Saring dahulu sebelum sharing (tabayyun), agar tidak merugikan dan menyesal kemudian (QS 49:6).

Sebagai orang tua, guru, dan pejabat publik, hendaklah santun dalam berkata dan bijak dalam bertindak agar menjadi pembelajaran yang baik bagi anak-anak. Jika kita memberi contoh yang buruk, mereka akan meniru bahkan melakukan hal yang lebih buruk dari itu. Bukankah pepatah Melayu mengingatkan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Kiranya, jangan sampai kita mengalami kebangkrutan hakiki di kehidupan akhirat nan abadi. Allahu a’lam bish-shawab.

 

Oleh: Hasan Basri Tanjung

KHAZANAH REPUBLKA