Alasan Mengapa Kita tak Boleh Hina Agama Orang Lain

Allah SWT melarang Muslim menghina agama apa pun selain Islam

Dalam kehidupan di dunia ini ada banyak keyakinan, meski awalnya keyakinan hanya kepada Allah SWT. 

Allah SWT yang Mahapengasih dan penyayang melarang orang beriman mencaci keyakinan orang lain. Larangan ini diabadikan Allah SWT dalam surat Al Anam 108. 

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”

Prof Quraisy Shihab dalam karyanya, Tafsir Al-Misbah mengatakan, ayat ini merupakan bimbingan secara khusus ditujukan kepadi kaum muslimin.  Bimbingan ini menyangkut larangan mencaci tuhan-tuhan mereka yang boleh jadi dilakukan kaum Muslimin, terdorong emosi menghadapi gangguan kaum musyrikin atau ketidaktahuan mereka, tentang yakin kepada Allah SWT pasti akan selamat.

“Hal ini (mencacai keyakinan yang lain tidak mungkin akan terjadi dari Nabi Muhammad SAW yang sangat luhur budi pekertinya lagi bukan seorang 

pemaki dan pencerca,” kata Prof Quraish. Karena itu redaksi ayat ini hanya ditujukan kepada jamaah kaum Muslimin, yakni:  

“Dan janganlah kamu wahai kaum muslimin memaki sembahan-sembahan seperti berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah.”

Karena jika kamu memakinya maka akibatnya mereka akan memaki pula Allah dengan melampaui batas atau secara tergesa-gesa tanpa berpikir dan tanpa pengetahuan. Apa yang dapat mereka lakukan dari cacian itu sama dengan apa yang telah dilakukan kaum musyrikin yang lain sepanjang masa. 

“Karena demikianlah Kami memperindah bagi setiap umat amal buruk mereka akibat kebejatan budi mereka dan akibat godaan setan terhadap mereka,” katanya. 

Tetapi jangan duga mereka akan lepas dari tanggung jawab, karena kemudian, yakni nanti setelah datang waktu yang ditentukan, yang boleh jadi kamu anggap lama sebagaimana dipahami dari kata “tsumma” kepada Tuhan merekalah yang sampai saat ini masih terus memelihara mereka, kembali mereka, yakni pada akhirnya mereka pasti kembali kepada Allah SWT.  

Bahwa ayat ini, kata Prof Quraish, melarang memaki kepercayaan kaum musyrikin. Karena makian tidak merighasilkan sesuatu menyangkut kemaslahatan agama.   

“Agama Islam datang membuktikan kebenaran, sedang makian biasanya ditempuh mereka yang lemah,” katanya.  

Sebaliknya dengan makian boleh jadi kebatilan dapat nampak di hadapan orang-orang awam sebagai pemenang, karena itu suara keras si pemaki dan kekotoran lidahnya tidak pantas dilakukan seorang Muslim yang harus memelihara lidah dan tingkah lakunya. 

Di sisi lain, makian dapat menimbulkan antipati terhadap yang mencaci, sehingga jika hal itu dilakukan seorang Muslim, yang dimaki akan semakin menjauh.    

KHAZANAH REPUBLIKA

Apa Hukum Meletakkan Al-Qur’an di Mobil dalam Rangka Mencegah ‘Ain?

Fatwa Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu

Pertanyaan:

Apakah hukum meletakan Al-Qur’an di mobil agar terhindar dari penyakit ‘ain?

Jawaban:

لايجوز هذا ولا ينفع؛ لأنه لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم ولا عن أصحابه أنه يتحصن بالقرآن على هذا الوجه، وما يتوهمه بعض الناس فهو لأنه تخيّل أنّ هذا نافع، فظن أنّ انتفاء الشر والعين عن سيارته بواسطة وضع المصحف فيها

Perbuatan ini tidak boleh (dilakukan) dan tidak bermanfaat. Karena hal tersebut tidak dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dan juga para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Mereka tidak menggunakan Al-Qur’an untuk hal tersebut.

Sebagian manusia menyangka atau berkhayal bahwa hal tersebut akan bermanfaat. Mereka menyangka bahwa keburukan dan ‘ain akan tercegah dari mobilnya dengan cara meletakkan mushaf di dalamnya.

Wallahu a’lam.

***

Sumber: Fatawa Nuur ‘Ala Ad-Darb, 4: 2https://al-maktaba.org/book/2300/86

Selesai diterjemahkan Senin, 3 Dzulqa’dah 1442 H

Penerjemah: Dimas Setiaji

Sumber: https://muslim.or.id/68303-apa-hukum-meletakkan-al-quran-di-mobil-dalam-rangka-mencegah-ain.html

Saat Maksiat Berdampak pada Sulitnya Syahadat di Ujung Ajal

Maksiat bisa berakibat fatal bagi seorang Muslim di pengujung ajal.

Terdapat banyak di antara dampak buruk bagi manusia yang melakukan kemaksiatan. Di antaranya yakni maksiat dapat mengkhianati pelakunya pada saat dibutuhkan. 

Dikutip dari buku Ad-Daa wa ad-Dawaa karya Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, pelaku dosa juga dapat dikhianati hati dan lisannya ketika sedang mengalami sakaratul maut atau hendak berpulang menuju Allah SWT. Bahkan tidak jarang dia terhalangi dari mengucap syahadat, seperti yang banyak disaksikan. 

Dikatakan kepada sejumlah orang yang sedang menghadapi maut, “Ucapkanlah: La ilaha illallah.” Ada yang menjawab, “Ah, ah, aku tidak bisa mengucapkannya.”

Ada yang menjawab: “Skak mati! Sekarang, aku telah mengalahkanmu (teringat ketika dia bermain catur).” Setelah mengucapkan hal itu, dia pun meninggal dunia.  

Dikatakan oleh yang lain, “Ucapkanlah, ‘La Ilaha illallah,’ tetapi dia justru melantunkan syair di bawah ini lantas meninggal. ‘Duhai, siapakah wanita yang suatu hari bertanya dalam keletihan: Manakah jalan menuju pemandian umum Minjab?’ 

Ada yang ketika sakaratul maut mendendangkan lagu sampai dia menghembuskan napasnya yang terakhir.  

Ada juga yang justru membantah, “Apa yang kamu ucapkan itu tidak akan bermanfaat untukku sebab aku telah melakukan segala macam kemaksiatan.”

Setelah itu, dia meninggal tanpa sempat mengucapkan kalimat syahadat tersebut. Ada pula yang menjawab: “Hal itu tidak bermanfaat untukku. Aku sendiri tidak ingat, apakah aku pernah melakukan sholat untuk Allah meskipun hanya sekali?” Dia pun meninggal tanpa mengucapkan syahadat.  

Ada di antara mereka yang menentang syahadat: “Aku kafir (mengingkari) terhadap apa yang kamu ucapkan.” Kemudian, dia meninggal dunia tanpa mengucapkannya. Ada yang menjawab, “Setiap kali aku hendak mengucapkannya, lisanku kaku.” 

Sementara ada orang yang pernah menghadiri sakaratul maut seorang pengemis. Menjelang ajalnya, pengemis tersebut terus berkata: “Recehannya, demi Allah, recehannya …,” hingga akhirnya meninggal.  

Di samping itu sebagian pedagang memberitahukan, bahwasanya ketika ada seorang kerabat yang mengalami sakaratul maut dan ditalqin (dituntun) dengan kalimat La ilaha illallah, dia malah menyatakan, “Barang ini murah, barang ini bagus, barang ini begini dan begitu …” hingga akhirnya meninggal.  

Subbhanallah! Sudah banyak orang yang menyaksikan hal ini untuk dijadikan pelajaran. Padahal, yang tidak mereka ketahui dari keadaan orang-orang yang mengalami sakaratul maut masih jauh lebih banyak lagi.  

Jika seorang hamba mampu dikuasai dan dikendalikan setan untuk berbuat maksiat kepada Allah ketika kekuatan, pikiran dan daya ingatnya berada pada puncaknya, sehingga hati dan lisannya dilalaikan dari dzikir kepada Allah SWT serta anggota-anggota tubuhnya dilalaikan dari ketaatan kepada-Nya, maka bagaimana pula ketika kekuatannya melemah, sementara hati dan jiwanya tersibukkan dengan rasa sakit sakaratul maut, di tambah lagi, syaitan telah mengumpulkan seluruh tekad, upaya, dan kekuatannya untuk mengambil kesempatan di akhir amalnya?  

Kondisi setan yang paling kuat adalah pada waktu itu sebaliknya, kondisi seorang hamba justru paling lemah pada saat itu. Maka siapakah di antara mereka yang akan selamat?  Pada saat itulah: 

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS Ibrahim 27) 

Dengan demikian, bagaimana mungkin taufik untuk husnul khatimah (cara kematian yang baik) akan didapatkan seseorang yang hatinya lalai dari dzikir kepada-Nya, yang selalu mengikuti hawa nafsunya, dan keadaannya yang melampaui batas? 

Sungguh, orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah SWT sangat jauh dari husnul khatimah, tidak mengindahkan perintah-Nya, menyembah hawa nafsunya, tertawan oleh syahwatnya, lisannya kering dari dzikir kepada-Nya, dan anggota-anggota tubuhnya tidak menaati perintah-Nya, bahkan dia selalu sibuk dengan maksiat. Maka jauhlah dia dari husnul khatimah.   

KHAZANAH REPUBLIKA

Ketika Anggota Tubuh Saling Ucapkan Salam Jelang Kematian

Anggota tubuh akan mampu berbicara kelak pada hari kiamat

 Tidak ada yang bisa mengelak dari kematian. Kendati pun seseorang bersembunyi di tempat paling aman di muka bumi, ketika ajalnya tiba orang tersebut pasti mati juga. 

Mengingat kematian sangat penting bagi setiap orang agar tidak lupa bahwa hidup di bumi tidak kekal. Akan ada alam lain yang menjadi tempat tinggal kekal dan balasan dari setiap amal yang dikerjakan. 

Jika dipelajari, banyak hikmah yang bisa diambil oleh orang yang hidup ketika menyaksikan proses kematian pada seorang anak adam. Pada umumnya kita mendapati seseorang yang tengah menghadapi kematian  maka pada setiap bagian tubuhnya akan mengalami dingin perlahan. Umumnya ini terjadi pada bagian kaki dan terus naik ke atas. 

Sejatinya dalam banyak hadits, Rasulullah SAW telah menjelaskan tanda-tandanya orang yang akan mengalami mati, bahkan dijelaskan keadaan yang berbeda dialami antara seorang mukmin dan Kafir ketika menghadapi mati. 

Tapi dalam tulisan ini, akan dijelaskan tentang fenomena luar biasa yang terjadi pada setiap bagian tubuh ketika mati. Di mana setiap bagian tubuh akan saling mengucapkan salam perpisahan para bagian tubuh lainnya ketika ruh meninggalkan.

Hal ini sebagaimana keterangan Rasulullah SAW dalam wasiatnya kepada Ali bin Abi Thalib. Keterangan ini juga dapat ditemukan pada kitab Washiyat Al-Musthafa yang disusun Syekh Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Musa Asy Syarani Al Anshari Asy Syafi’i Asy Syadzili Al Mishri atau dikenal sebagai Imam Asy Syaran.

يَا عَلِيُّ، إِذَا كَانَ الْإِنْسَانُ فِيْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ فَإِنَّ مَفَاصِلَهُ تُسَلِّمُ عَلَى بَعْضٍ تَقُوْلُ السَّلَامُ عَلَيْكَ فَإِنِّيْ مُتُّ وَكَذَا الشَّعْرَةُ الْبَيْضَاءُ عَلَى الشَّعْرَةِ السَّوْدَاءِ

“Wahai Ali, jika manusia itu sedang dalam sakaratul maut, maka persendian-persendiannya mengucapkan salam perpisahan kepada yang lainnya. Masing-masing mengucapkan: Salam untukmu, maka sesungguhnya aku mati,” Demikian pula rambut yang putih memberikan salam kepada rambut yang hitam.        

KHAZANAH REPUBLIKA

Leena Brookes Jatuh Cinta pada Islam

Leena Brookes, yang berasal dari Sheffield, South Yorks, Inggris, menjadi seorang Muslim ketika dia baru berusia 13 tahun. Ayah Leena, Stuart Brookes, yang awal tidak suka dengan keputusan putrinya itu, kini mulai menerimanya.

Selama bertahun-tahun sebelumnya, Leena dan ayahnya tidak saling bicara. Brookes khawatir anaknya telah dicuci otak setelah membaca tentang ISIS di berbagai pemberitaan. Namun ia akhirnya sadar, perpindahan agama tersebut tidak mengubah sikap putrinya, apalagi setelah mengenal keluarga calon suaminya, Jamal Eldeen Saeed.

Leena yang berusia 19 tahun sekarang memiliki hubungan yang lebih dekat dengannya dan keduanya membuat video lucu yang mengolok-olok perbedaan mereka untuk dibagikan kepada hampir 50 ribu pengikut TikTok mereka, yang ditonton jutaan kali.

Dalam sebuah video yang dibagikan, Brookes tampak sedang santai sambil minum bir sedangkan di dalam video itu juga ada putrinya yang sedang mengenakan jilbab. Keduanya berdiri dalam keheningan yang canggung saat mereka menyadari bahwa mereka sekarang tidak memiliki apa pun untuk diperdebatkan lagi.

Brookes telah belajar banyak dari agama putrinya dan dia berharap dengan membagikan video tersebut menunjukkan kepada orang lain bahwa siapapun tidak pernah terlalu tua untuk mengubah pandangan Anda, dalam hal ini tentang Islam.

“Saya sangat bangga dengan putri saya karena saya pikir dia bisa melakukan hal-hal yang jauh lebih buruk pada usianya. Dia adalah ibu yang luar biasa dan saya merasa agama ini tidak hanya mengajarinya tetapi mengajarkan banyak hal kepada saya,” kata Brookes.

“Ini telah menjadi berkah tersembunyi dan telah membawakan saya cucu perempuan saya yang cantik dan hubungan yang luar biasa dengan putri saya. Pada awalnya banyak TikToks-nya diposting tanpa saya sadari. Namun, itu telah menunjukkan kepada orang lain bagaimana bahkan pada usia saya orang dapat mengubah pandangan mereka,” kata Brookes menambahkan.

Bagi Leena, yang dibesarkan oleh ayah Inggris dan ibu Thailand, masuk Islam bukanlah sesuatu yang dia perkirakan akan terjadi padanya. “Ketika saya masih muda, saya pergi ke sekolah Gereja Inggris yang didominasi kulit putih,” tuturnya.

“Karena ibuku orang Thailand dan bahasa Inggris ayahku, aku mendapat sedikit intimidasi saat tumbuh dewasa karena tidak bisa berbahasa Inggris sepenuhnya. Tapi daerah saya penuh dengan Muslim. Sahabatku yang tumbuh dewasa adalah Muslim, jadi pergi ke sekolah selalu membuatku merasa tidak pada tempatnya,” kata Leena.

Pada saat Leena masuk sekolah menengah, ia berada di lingkungan multikultural. Islam benar-benar mulai menggelitik dirinya karena semua temannya Muslim. Hal itu membuat dia bertanya-tanya mengapa mereka tidak boleh makan daging babi, mengapa mereka shalat lima waktu, dan mereka menjelaskannya kepada Leena.

“Semakin banyak agama dijelaskan kepada saya, saya jatuh cinta padanya. Itu adalah proses bertahap. Saya mempelajarinya selama sekitar dua tahun sebelum saya benar-benar memutuskan untuk memeluk Islam,” ujarnya.

IHRAM

Kisah Wanita Masuk Neraka Sebab Membiarkan Seekor Kucing Mati Kelaparan

Islam adalah agama cinta dan kasih. Tak hanya pada manusia, nilai kasih sayang juga harus dipancarkan pada makhluk hidup lain; binatang dan tumbuhan. Saban makhluk hidup, harus dijaga dan disayangi. Itulah makna Islam sebagai agama yang membawa rahmat dan kasih sayang bagi seluruh alam semesta.

Terlebih pada binatang, Islam memberikan rambu-rambu khusus. Tidak menyiksa. Tak juga menyakiti. Jangan membunuh tanpa sebab. Terutama binatang peliharaan. Pasalnya, bagi orang tertentu, memiliki binatang peliharaan merupakan sesuatu yang menyenangkan. Tua, muda, remaja, anak-anak banyak yang memelihara hewan semisal; kucing, anjing, kelinci, ayam, bebek, dan kuda.

Terkait hewan peliharaan ini Rasulullah memberikan ultimatum untuk pemiliknya agar senantiasa menjaga dan memberikan perhatian pada hewan tersebut. Pasalnya, dalam sebuah sabdanya Nabi Muhammad memaparkan suatu cerita—mengerikan, sekaligus peringatan bagi generasi sahabat dan generasi sesudah— tentang seorang wanita yang masuk neraka sebab mengabaikan binatang peliharaannya.

Adapun, kisah wanita tersebut termaktub dalam hadis shahih yang dijumpai dalam riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Rasulullah bersabda dari Abdullah bin Umar;

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ، سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ، فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ، لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَسَقَتْهَا، إِذْ هِيَ حَبَسَتْهَا، وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ.  رواه مسلم.

Artinya; Sungguh Rasulullah saw. telah bersabda, “Ada seorang wanita yang diazab karena seekor kucing. Ia mengurung kucingnya sampai mati, lalu ia masuk neraka karenanya. Ia tidak memberikan makan dan minum kucingnya. Bahkan ia mengurungnya. Ia tidak meninggalkan makanan untuknya, sehingga ia memakan apa yang keluar dari bumi.” (H.R. Muslim).

Syekh Umar Sulaiman al Asghor, Guru Besar Universitas Islam Yordania, dalam kitab berjudul Kisah-Kisah Shahih dalam Al-Qur’an dan As Sunnah, memuat kisah nahas tersebut. Alkisah, terdapatlah seorang wanita Himyariyah Israiliyah yang memelihara kucing. Kucing itu tak ia berikan perhatian. Setiap waktu kucing ia mengurung dalam kandang, tetapi dia tidak memberinya makan dan minum.

Berhari-hari dikurung dalam sangkar tanpa setetespun minuman dan makanan, hingga kucing itu mati karena kelaparan dan kehausan. Sebelum mati, sepanjang siang dan malam kucing itu mengeluarkan suara memelas minta bantuan. Suara auman datang dari balik jeruji. Wanita tersebut acuh, tak mengindahkan itu semua.

Hal ini menunjukkan kerasnya hati  wanita itu.  Kalbunya telah membeku. Keras tak tersentuh, meskipun mendegar suara pilu kucing malang itu. Pun, itu juga menunjukkan buruk akhlaknya, serta tiada belas kasih di hatinya. Dia sengaja menyakiti makhluk Tuhan itu. Jika di hatinya terdapat belas kasih, niscaya dia melepaskan kucing itu. Setidaknya memberikan sesuap nasi, untuk bertahan hidup.

Tak berselang lama, kucing itu mati.  Dalam keadaan menderita dahaga dan lapar di perut. Ia mengadu kepada Tuhannya tentang kedzaliman manusia yang hatinya keras dan membatu. Allah pun memberikan keadilan pada wanita itu.  Perbuatan ini telah mencelakakan wanita tersebut, sehingga dia masuk Neraka.

Dalam riwayat disebutkan, Rasulullah melihat kucing tersebut memburu wanita yang menyiksa itu di neraka. Tampak dengan nyata, pelbagai bekas cakaran—tergores di wajah dan tubuhnya.  Rasulullah melihat kejadian itu tatkala  pemandangan Surga dan Neraka diperlihatkan pada beliau, saat shalat gerhana.

Peristiwa ini memberikan hikmah pada kita agar berbuat baik pada binatang. Jika dia enggan memberinya makan yang menjaganya, maka dia harus melepasnya dan membiarkannya bebas di bumi Allah yang luas. Ia pasti mendapatkan makanan yang bisa menjaga hidupnya. Lebih-lebih, Allah telah menyediakan rizki bagi kucing tersebut. Meskipun dari sisa-sisa makanan orang, begitu pula serangga-serangga yang bisa ditangkapnya.

Demikian kisah seorang Wanita Masuk Neraka sebab membiarkan seekor kucing mati kelaparan. Semoga bermanfaat. 

BINCANG SYARIAH

Penjabaran Empat Kaidah Utama (Bag. 1)

Bismillah.

Di antara para ulama yang memiliki peran besar dalam menyebarkan dan memperbaharui semangat dan pemahaman umat tentang tauhid adalah Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Beliau lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H.

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman at-Tamimi. Seorang ulama yang sangat gigih dalam memperjuangkan dakwah tauhid dan menyingkap berbagai macam penyimpangan dan kerancuan pemahaman. Di antara karya beliau yang dijadikan rujukan oleh kaum muslimin terutama para da’i ialah Kitab Tauhid yang membahas perkara tauhid uluhiyah secara sistematis dan terperinci berlandaskan dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah.

Selain itu, beliau juga menulis kitab-kitab yang sangat penting dalam mendakwahkan tauhid kepada masyarakat, seperti Tsalatsatul Ushul (tiga landasan utama) dan Qawa’id Arba’ (empat kaidah utama). Semuanya membahas perkara tauhid sebagaimana pemahaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau. Di antara ketiga buku ini maka Qawa’id Arba’ adalah yang paling ringkas. Meskipun demikian, ia mengandung pelajaran dan kaidah-kaidah yang sangat penting dalam memahami tauhid dan pokok-pokok agama Islam.

Metode dakwah beliau di dalam kitab-kitabnya tidak pernah lepas dari dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Hal ini menunjukkan kepada kita kedalaman ilmu beliau dan pengagungannya kepada wahyu. Sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Imam Syafi’i rahimahullah bahwa ilmu itu adalah yang disertai dengan firman Allah dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Artinya, ilmu yang bermanfaat adalah mengenali petunjuk dengan landasan dalil, sebagaimana diterangkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. Ilmu inilah yang akan mengantarkan hamba mencapai kebahagiaan hakiki.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة

“Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka mencari ilmu (agama) maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Beliau juga menjelaskan,

من يريد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan niscaya Allah pahamkan dia dalam hal agama.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sementara tauhid merupakan ilmu yang paling pokok dipahami oleh seorang hamba sebab ia merupakan pondasi agama Islam.

Selama 10 tahun lebih di Mekah semenjak diutus sebagai rasul, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terus-menerus mendakwahkan tauhid dan menjadikannya sebagai muatan utama pelajaran keimanan. Bahkan ketika sudah memiliki negara dan pemerintahan di Madinah beliau tetap menjadikan tauhid sebagai misi utama dakwah dan pembinaan umat. Hal ini tentu tidak aneh karena memang demikianlah jalan hidup para rasul di sepanjang masa.

Allah berfirman,

وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِی كُلِّ أُمَّةࣲ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُوا۟ ٱلطَّـٰغُوتَۖ

“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut!’.” (an-Nahl : 36).

Allah juga berfirman,

وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِیۤ إِلَیۡهِ أَنَّهُۥ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّاۤ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ

“Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu seorang rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku.” (al-Anbiya’ : 25)

Di dalam kitab Qawa’id Arba’ ini, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab akan menjelaskan kepada kita mengenai kaidah-kaidah dalam memahami tauhid dan syirik. Kaidah-kaidah ini merupakan kesimpulan dan keterangan yang terambil dari dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Sehingga ia bukanlah semata-mata hasil pemikiran atau pendapat pribadi beliau. Begitu banyak tuduhan dan celaan yang diarahkan kepada beliau dan dakwahnya. Akan tetapi, dengan membaca dan menelaah apa yang beliau tulis secara objektif, niscaya akan menyadarkan kita bahwa tuduhan-tuduhan itu adalah tipu daya setan dalam menyesatkan manusia dari jalan kebenaran.

Banyak pihak yang menisbatkan pemahaman ekstrim dan keras kepada dakwah beliau. Mereka menuduh bahwa berbagai gerakan teroris dan pengkafiran muncul dari kitab-kitab beliau dan seruan dakwahnya. Padahal beliau berlepas diri dari apa yang mereka tuduhkan. Siapa pun yang membaca risalah dakwah yang beliau tulis akan melihat bahwa karya-karya ini disusun untuk menyebarkan pemahaman Islam yang lurus dan penuh kasih sayang. Tidakkah kita lihat seringnya beliau mendoakan kebaikan bagi para pembaca kitabnya?! Di antaranya beliau mengatakan ‘Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu’ atau ‘Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya’ atau ucapan-ucapan lain yang serupa. Ini semua merupakan sebagian kecil bukti betapa besar kasih sayang beliau kepada umat ini dan jauhnya beliau dari sikap ekstrim dan ghuluw.

Pada bagian awal risalah Qawa’id Arba’ ini beliau berkata,

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Aku memohon kepada Allah Yang Maha Mulia Rabb pemilik Arsy yang sangat agung, semoga Allah menjadi penolongmu di dunia dan di akhirat, dan semoga Allah menjadikan dirimu orang yang diberkahi di mana pun kamu berada. Dan semoga Allah menjadikanmu orang yang bersyukur apabila diberi nikmat, bersabar ketika diberi cobaan/musibah, dan beristigfar apabila berbuat dosa. Karena sesungguhnya ketiga hal ini merupakan tanda-tanda kebahagiaan.

Penjelasan :

Beliau mengawali risalahnya dengan basmalah, yaitu ucapan bismillahirrahmanirrahiim. Hal ini merupakan kebiasaan para ulama dalam memulai kitab-kitab mereka. Hal ini dilandasi oleh perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengawali surat dan perjanjian yang beliau buat dengan basmalah. Bahkan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam dalam suratnya kepada Ratu Bilqis menuliskan pertama kali basmalah, sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an.

Memulai tulisan dengan basmalah ini memiliki beberapa alasan dan tujuan. Di antaranya adalah untuk memohon pertolongan kepada Allah (isti’anah). Di dalam al-Qur’an Allah menyebutkan bahwa Allah memiliki nama-nama yang Maha Indah dan Allah perintahkan kita untuk berdoa dengan menyebutnya. Selain itu, memulai dengan menyebut nama Allah adalah untuk tabarruk/mencari keberkahan. Berkah itu adalah kebaikan yang banyak dan terus-menerus. Kita juga diajari untuk sering menyebut nama Allah, misalnya ketika hendak makan, hendak wudu, ketika pergi keluar rumah, menyembelih hewan, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa menyebut nama Allah memiliki pengaruh besar dan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan seorang muslim.

Hal ini tentunya juga mengingatkan kita tentang pentingnya selalu ingat kepada Allah. Karena dengan ingat kepada Allah hati menjadi tenang dan keimanan bertambah kuat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang senantiasa mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti perumpamaan orang hidup dengan orang mati.” (HR. Bukhari dan Muslim, lafaz milik Bukhari). Abul Abbas al-Harrani rahimahullah berkata, “Zikir bagi hati laksana air bagi seekor ikan. Maka bagaimana keadaan ikan ketika memisahkan dirinya dengan air?”

Para ulama menjelaskan bahwa zikir itu ada dengan lisan dan ada pula dengan hati. Zikir yang paling utama adalah yang bersesuaian antara apa yang diucapkan oleh lisan dengan apa yang ada di dalam hati. Banyak sekali keutamaan zikir, di antaranya adalah zikir menjadi sebab Allah menolong dan membantu hamba.

Allah berfirman,

فَٱذۡكُرُونِیۤ أَذۡكُرۡكُمۡ

“Maka ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingat kalian.” (al-Baqarah : 152).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan bahwa agama ini dibangun di atas zikir dan syukur (lihat al-Fawa’id, hal. 124)

Setelah memulai dengan basmalah, Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah pun melanjutkan dengan doa kepada Allah. Doa yang beliau panjatkan kepada Allah, untuk kebaikan para pembaca risalahnya. Hal ini mencerminkan ketulusan beliau dan kebersihan niatnya dalam berdakwah. Bahwa beliau tidaklah menginginkan dakwahnya kepada manusia melainkan untuk kebaikan bagi mereka. Selain itu, dengan doa ini pula beliau ingin menunjukkan kepada kita bahwa kita semuanya fakir di hadapan Allah. Kita sangat membutuhkan Allah dalam setiap kesempatan dan keadaan. Di mana pun dan kapan pun. Kita selalu butuh bantuan dan pertolongan Allah. Kita selalu membutuhkan hidayah dan taufik dari Allah dalam segala keperluan.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sungguh telah sepakat kaum yang arif/para ulama bahwasanya segala kebaikan itu sumbernya adalah taufik dari Allah kepada hamba…” (lihat al-Fawa’id, hal. 94). Karena itulah, setiap hari di dalam salat kita diperintahkan untuk berdoa kepada Allah meminta hidayah jalan yang lurus. Hidayah itu mencakup ilmu dan amal. Hidayah untuk bisa beramal itulah yang sering disebut oleh para ulama dengan hidayah taufik. Bahkan di antara doa yang sering dibaca oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa yang berbunyi

يامقلب القلوب ثبت قلبي على دينك

Yaa muqallibal quluub tsabbit qalbii ‘ala diinik.

“Wahai Allah Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”(HR. Ahmad dll) (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 419)

Doa merupakan bentuk ibadah yang sangat mulia. Allah berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِی سَیَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِینَ

“Dan Rabb kalian mengatakan, ‘Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.’.” (Ghafir : 60).

Dengan doa ini kita menjemput taufik dari Allah guna meraih kebaikan dan selamat dari berbagai keburukan. Ibnul Qayyim berkata, “…sesungguhnya semua orang yang arif telah sepakat bahwa hakikat taufik adalah Allah tidak menyandarkan anda kepada diri anda sendiri, adapun khudzlan/ditelantarkan itu adalah ketika Allah ta’ala menyandarkan anda kepada -kemampuan dan kekuatan- diri anda sendiri.” (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 10)

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah meminta kepada Allah Yang Maha Mulia Rabb pemilik ‘Arsy yang sangat agung supaya menjadi penolong kita di dunia dan di akhirat, dan supaya Allah menjadikan kita orang yang diberkahi di mana pun berada…

Di dalam untaian doa ini beliau mengisyaratkan kepada kita tentang pentingnya seorang muslim untuk memiliki cita-cita yang tinggi dan mulia. Yaitu harapan untuk mendapatkan pertolongan Allah di dunia dan di akhirat. Oleh sebab itu, Allah menceritakan di dalam al-Qur’an bahwa di antara doa kaum beriman itu adalah memohon kebaikan di dunia dan di akhirat dan dijaga dari azab neraka. Hal ini juga mengingatkan kita bahwa kehidupan ini tidak hanya di dunia, masih ada kehidupan di akhirat yaitu kehidupan yang abadi, apakah bahagia di surga atau sengsara di neraka…

Oleh sebab itu, seorang muslim hidup di dunia seperti orang yang asing atau sedang singgah di tengah perjalanan. Dia menjadikan akhirat sebagai tujuan utamanya, sementara dunia adalah ladang amalan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata, “Dunia segera pergi meninggalkan dan akhirat segera datang di hadapan. Sedangkan masing-masing memiliki anak-anak pengikut setia. Jadilah kalian pengikut setia akhirat dan jangan kalian menjadi pengikut setia dunia…” Orang kafir digambarkan oleh Allah di dalam al-Qur’an bahwa mereka itu sangat mengerti tentang seluk-beluk perkara yang tampak dari kehidupan dunia tetapi dalam urusan akhirat mereka lalai.

Pada kalimat-kalimat doa di atas juga terkandung pelajaran berharga, bahwa kebahagiaan itu ada di tangan Allah. Termasuk dalam kebahagiaan adalah ketika Allah menjadikan seorang hamba diberkahi di mana pun ia berada. Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa makna dari berkah itu adalah banyaknya kebaikan dan menetapnya kebaikan itu (langgeng). (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid, 1/121)

Doa ini mengingatkan kita akan pujian Nabi Isa ‘alaihis salam kepada Rabbnya. Allah berfirman mengisahkan isi pujian beliau itu,

وَجَعَلَنِی مُبَارَكًا أَیۡنَ مَا كُنتُ

“Dan Allah menjadikan aku orang yang diberkahi di mana pun aku berada.” (Maryam : 31).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Maka demikianlah seorang mukmin diberkahi di mana pun dia singgah, sedangkan orang fajir/pendosa selalu lekat dengan keburukan di mana pun ia berada…” (lihat al-Wabil ash-Shayyib, hal. 177)

Di dalam hadis yang sahih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan keberkahan seorang muslim seperti keberkahan yang ada pada pohon kurma yang bisa mendatangkan kebaikan dan manfaat dengan semua bagiannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara pohon-pohon ada sebuah pohon yang keberkahannya itu seperti keberkahan seorang muslim.” Lalu ketika beliau ditanya oleh para sahabat pohon apakah itu, beliau menjawab, “Itu adalah pohon kurma.” (HR. Bukhari) (lihat Fath al-Bari, 1/177-178)

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan bahwa di antara keberkahan seorang muslim itu adalah manfaat yang muncul darinya terus mengalir, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain bahkan setelah dia meninggal kebaikan itu masih terus mengalir. (lihat Fath al-Bari, 1/178)

Syekh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah menjelaskan bahwa tidaklah seorang menjadi sosok yang diberkahi di mana pun ia berada, kecuali apabila dalam setiap majelisnya/pertemuan dengannya dia menjadi orang yang saleh/baik dan mushlih/memperbaiki. Beliau pun menukil perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah dalam salah satu kitabnya bahwa keberkahan seorang adalah tatkala dia bisa mengajarkan kebaikan di mana pun ia berada dan dia selalu memberi nasihat bagi siapa pun yang berkumpul dengannya. (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’, hal. 12)

Adapun sisi keserupaan antara pohon kurma dengan sosok seorang mukmin adalah sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bazzar, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin itu seperti pohon kurma. Apa pun yang datang kepadamu darinya pasti bermanfaat untukmu.” Sanadnya dinyatakan sahih oleh Ibnu Hajar (lihat Fath al-Bari, 1/179)

Dari sini pula kita bisa memetik hikmah betapa pentingnya iman bagi seorang hamba. Karena keimanan itulah yang akan membuahkan berbagai jenis kebaikan dan kemanfaatan bagi dirinya, keluarga dan masyarakatnya, bahkan bagi alam semesta. Allah berfirman,

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰۤ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوۡا۟ لَفَتَحۡنَا عَلَیۡهِم بَرَكَـٰتࣲ مِّنَ ٱلسَّمَاۤءِ وَٱلۡأَرۡضِ

“Dan seandainya para penduduk negeri itu beriman dan bertakwa benar-benar Kami akan bukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (al-A’raf : 96)

Tentu saja iman yang dimaksud bukan sekedar ucapan di lisan. Akan tetapi, iman yang berakar dari dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah iman itu dengan angan-angan atau menghias penampilan. Akan tetapi, iman adalah apa-apa yang bersemayam di dalam hati dan dibuktikan dengan amal-amal perbuatan.” Beliau juga menjelaskan bahwa orang beriman memadukan pada dirinya antara perbuatan ihsan/kebaikan dengan perasaan khawatir, berbeda dengan orang kafir/fajir yang menggabungkan dalam dirinya antara berbuat buruk/dosa dengan perasaan aman/tidak merasa bersalah.

Orang yang diberkahi itu adalah orang yang beriman. Karena imannya maka dia pun menjaga lisan dan perilaku. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من كان يؤمن بالله واليون الآخر فليقل خيرا ليصمت

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata-kata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Orang yang diberkahi itu akan menjaga sikap dan ucapannya agar tetap di dalam koridor agama. Allah berfirman,

وَلَا تَقۡفُ مَا لَیۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولࣰا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak punya ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu semua pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.” (al-Isra’ : 36)

Orang yang diberkahi itu adalah yang selalu mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman,

فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَایَ فَلَا یَضِلُّ وَلَا یَشۡقَىٰ

“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan tersesat dan tidak pula celaka.” (Thaha : 123). Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma menafsirkan bahwa Allah telah memberikan jaminan bagi siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajarannya bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka nanti di akhirat.

Al-Qur’an ini adalah kitab yang penuh dengan berkah. Allah berfirman,

كِتَـٰبٌ أَنزَلۡنَـٰهُ إِلَیۡكَ مُبَـٰرَكࣱ لِّیَدَّبَّرُوۤا۟ ءَایَـٰتِهِۦ وَلِیَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu dan ia penuh dengan keberkahan, supaya mereka merenungkan ayat-ayatnya dan supaya mengambil pelajaran orang-orang yang memiliki akal sehat.” (Shad : 29).

Dengan merenungkan dan mengkaji berulang-ulang terhadap ayat-ayat al-Qur’an serta mencermati kandungan isinya niscaya akan diraih keberkahan al-Qur’an itu. Selain itu, ayat itu juga menunjukkan adanya motivasi untuk merenungkan/tadabbur al-Qur’an dan bahwasanya hal itu termasuk amalan yang paling utama (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 712)

Dari sini kita juga bisa memetik faedah pentingnya belajar al-Qur’an dan mengajarkannya. Dan bahwa al-Qur’an itu harus direnungkan dan dipahami isinya untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan.

(Bersambung)

Sumber: https://muslim.or.id/68308-penjabaran-empat-kaidah-utama-bag-1.html

Doa Agar Dapat Kemuliaan Hidup

Dalam kitab Al-Asma’ wa Al-Shifat, Imam Al-Baihaqi menyebutkan sebuah riwayat yang berisi doa agar dapat kemuliaan hidup yang diajarkan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi Saw. Isi doa tersebut adalah sebagai berikut;

ﻳَﺎ ﻣَﻦْ ﺃَﻇْﻬَﺮَ ﺍﻟْﺠَﻤِﻴﻞَ، ﻭَﺳَﺘَﺮَ ﺍﻟْﻘَﺒِﻴﺢَ، ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺆَﺍﺧِﺬْ ﺑَﺎﻟْﺠَﺮِﻳﺮَﺓِ، ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻬْﺘِﻚِ ﺍﻟﺴّﺘْﺮَ، ﻭَﻳَﺎ ﻋَﻈِﻴﻢَ ﺍﻟْﻌَﻔْﻮِ، ﻭَﻳَﺎ ﺣَﺴَﻦَﺍﻟﺘَّﺠَﺎﻭُﺯِ، ﻭَﻳَﺎ ﻭَﺍﺳِﻊ َﺍﻟْﻤَﻐْﻔِﺮَﺓِ، ﻭَﻳَﺎ ﺑَﺎﺳِﻂَ ﺍﻟْﻴَﺪَﻳْﻦِ ﺑِﺎﻟﺮَّﺣْﻤَﺔِ، ﻭَﻳَﺎ ﺳَﺎﻣِﻊَ ﻛُﻞّ ﻧَﺠْﻮَﻯ، ﻭَﻳَﺎ ﻣُﻨْﺘَﻬَﻰ ﻛُﻞّ ﺷَﻜْﻮَﻯ، ﻭَﻳَﺎ ﻛَﺮِﻳْﻢَ ﺍﻟﺼَّﻔْﺢِ، ﻭَﻳَﺎ ﻋَﻈِﻴﻢَ ﺍﻟْﻤَﻦِّ، ﻭَﻳَﺎ ﻣُﻘِﻴﻞَ ﺍﻟْﻌَﺜَﺮَﺍﺕِ، ﻭَﻳَﺎ ﻣُﺒْﺘَﺪِﺋﺎً ﺑِﺎﻟﻨِّﻌَﻢِ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﺳْﺘِﺤْﻘَﺎﻗِﻬَﺎ، ﻳَﺎ ﺭَﺑِّﻲ ﻭَﻳَﺎ ﺳَﻴِّﺪِﻱ ﻭَﻳَﺎ ﻣَﻮْﻟَﺎﻱَ ﻭَﻳَﺎ ﻏَﺎﻳَﺔَ ﺭَﻏْﺒَﺘِﻲ، ﺃَﺳْﺄَﻟُﻚَ ﻳَﺎ اللّهُ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺗُﺸَﻮِّﻩَ ﺧِﻠْﻘَﺘِﻲ ﺑِﺒَﻠَﺎﺀِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﺑِﻌَﺬَﺍﺏِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﻭَ صَلَّى اللّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ اصْحَابِهِ صَلاَةً كاملةً وسلِّم سلامًا تامًّا دَائِمَةً بِدَوَامِ اللهِ الْعَظِيْمِ

Wahai Dzat yang menampakan keindahan dan menutupi keburukan, wahai Dzat yang tidak tergesa-gesa dalam menjatuhkan hukuman atas suatu kesalahan, dan juga tidak menyebar luaskan aib hamba-Nya, wahai Dzat yang Maha Pemaaf dan Pengampun, yang kedua tangan-Nya senantiasa terulur dengan rahmat, wahai Dzat yang Maha Mendengar setiap bisikan rintihan dan tempat melimpahkan segala keluhan, wahai Dzat yang Maha Pemurah, wahai Dzat yang sangat besar anugrah-Nya, wahai Dzat yang Maha menepis segala ketergilinciran, yang memberikan kenikmatan sebelum diminta, bahkan sebelum hamba-Nya berhak untuk mendapatkannya.

Wahai Tuhanku, wahai Tuanku, wahai Penolongku, wahai Puncak Tujuanku, aku memohon kepada-Mu, ya Allah, janganlah Engkau hinakan diriku dengan musibah dunia dan azab neraka. Dan limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya, dengan rahmat yang sempurna, dan berilah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna dan abadi dengan keabadian Allah Yang Maha Agung.

Disebutkan bahwa membaca doa di atas, selain mendapatkan limpahan pahala, juga berupa doa agar dapat kemuliaan hidup. Sebagian ulama berkata bahwa doa di atas sebaiknya dibaca sebanyak 20 kali dalam sehari semalam. Bisa dibaca sekali duduk, boleh juga di baca setelah shalat Shubuh 10 kali dan setelah shalat Maghrib 10 kali.

BINCANG SYARIAH

Sholat Witir, Berapa Bilangan Rakaat Paling Banyak?

Sholat witir biasa dilaksanakan setelah sholat Isya dengan jumlah rakaat ganjil. Hukum sholat witir adalah sunnah, namun beberapa hadits menyebutkan keutamaan ibadah ini.

Berikut salah satunya yang dinarasikan Ali bin Abi Thalib RA,

رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قَالَ ‏ “‏ يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ أَوْتِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ ‏”

Artinya: Rasulullah SAW berkata, “Wahai ahli Al Quran, lakukanlah sholat witir karena Allah SWT yang maha perkasa dan maha suci adalah witir (esa) dan menyukai yang ganjil.” (HR An-Nasa’i).

Begitu pentingnya sholat witir hingga Rasulullah menempatkannya sebagai ibadah fardhu, untuk dirinya sendiri. Berikut haditsnya,

ثَلاَثٌ هُنَّ عَلَيَّ فَرَائِضَ وَهُنَّ لَكُمْ تَطَوُّع: الوِتْرُ وَالنَّحْرُ وَصَلاَةُ الضُّحَى

Artinya: “Tiga perkara yang bagiku hukumnya fardhu tapi bagi kalian hukumnya tathawwu’ (sunnah), yaitu shalat witir, menyembelih udhiyah dan shalat dhuha.” (HR Ahmad dan Al-Hakim).

Berapa rakaat sholat witir paling banyak yang dilaksanakan setelah sholat isya?

Satu adalah angka ganjil, apakah artinya sholat witir bisa dilakukan hanya dengan satu rakaat? Menjawab keraguan ini, Rasulullah SAW menjelaskan dalam hadits yang diceritakan sahabatnya.

Berikut adalah hadits yang diceritakan Abu Ayyub Al-Ansari,

الْوِتْرُ حَقٌّ. فَمَنْ شَاءَ فَلْيُوتِرْ بِخَمْسٍ. وَمَنْ شَاءَ فَلْيُوتِرْ بِثَلاَثٍ. وَمَنْ شَاءَ فَلْيُوتِرْ بِوَاحِدَةٍ

Artinya: “Witir adalah haqq. Siapa saja yang ingin melaksanakannya sebanyak lima rakaat dipersilahkan, yang ingin mengerjakan tiga rakaat dibolehkan, dan yang ingin menunaikan satu rakaat dipersilahkan.” (HR Ibnu Majah).

Dalam hadits lain diceritakan Rasulullah SAW sempat sholat witir sembilan rakaat, yang dilanjutkan dua rakaat tahajud. Seiring waktu, beliau sholat witir tujuh rakaat ditambah tahajud dua rakaat,

كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّى تِسْعَ رَكَعَاتٍ لاَ يَجْلِسُ فِيهَا إِلاَّ فِى الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ فَتِلْكَ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يَا بُنَىَّ فَلَمَّا أَسَنَّ نَبِىُّ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَخَذَ اللَّحْمَ أَوْتَرَ بِسَبْعٍ وَصَنَعَ فِى الرَّكْعَتَيْنِ مِثْلَ صَنِيعِهِ الأَوَّلِ فَتِلْكَ تِسْعٌ يَا بُنَىَّ

Artinya: “Kami dulu sering mempersiapkan siwaknya dan bersucinya, setelah itu Allah membangunkannya sekehendaknya untuk bangun malam. Beliau lalu bersiwak dan berwudhu` dan shalat sembilan rakaat. Beliau tidak duduk dalam kesembilan rakaat itu selain pada rakaat kedelapan, beliau menyebut nama Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian beliau bangkit dan tidak mengucapkan salam. Setelah itu beliau berdiri dan shalat untuk rakaat ke sembilannya. Kemudian beliau berdzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, lalu beliau mengucapkan salam dengan nyaring agar kami mendengarnya. Setelah itu beliau shalat dua rakaat setelah salam sambil duduk, itulah sebelas rakaat wahai anakku. Ketika Nabiyullah berusia lanjut dan beliau telah merasa kegemukan, beliau berwitir dengan tujuh rakaat, dan beliau lakukan dalam dua rakaatnya sebagaimana yang beliau lakukan pada yang pertama, maka itu berarti sembilan wahai anakku.” (HR Muslim).

Dengan penjelasan ini, tiap muslim bisa memilih jumlah rakaat sholat witir sesuai kemampuannya. Sholat witir dapat dilaksanakan setelah sholat Isya dengan jumlah bilangan rakaat sholat paling banyak atau sedikit.

Jumlah sholat witir tentunya harus ganjil sesuai nama ibadah. Gimana detikers, siap mengakhiri ibadah hari ini dengan sholat witir?

DETIK

Benarkah Alkohol Sedikit atau Banyak Sama Haramnya?

Judul ini saya petik dari hadits Nabi SAW ketika menjelaskan masalah keharaman khamar.

ما أسكر كثيره فقليله حرام

Apa yang memabukkan dalam jumlah banyak, maka dalam jumlah sedikit pun tetap haram. (HR. Abu Daud)

Selain diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam an-Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban.

Namun dalam memahami hadits ini, ternyata banyak pendapat yang berbeda-beda di tengah masyarakat, bahkan di kalangan para ulama.

Di negeri kita umumnya hadits ini dijadikan dasar untuk mengharamkan semua minuman yang mengandung Alkohol, berapa pun kadar yang terkandung di dalam suatu minuman. Dan karena sudah dianggap haram, maka hukum turunannya pun ikut juga, yaitu hukumnya sekaligus jadi najis juga.

Maka semua benda yang mengandung Alkohol dianggap najis. Bukan sebatas hanya minuman mengadung Alkohol, tapi juga parfum beralkohol, tissue beralkohol, termasuk hand sanitizer karena beralkohol, juga ikut kena imbasnya dianggap haram.

Umumnya begitulah cara para ulama kita berlogika dan mengurutkan nalarnya dalam urusan kenajisan Alkohol.

Namun pendapat macam ini bukan satu-satunya pendapat. Kita juga menemukan pendapat yang sedikit berbeda. Misalnya kalau kita baca fatwa Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Beliau menjelaskan banyak orang keliru dalam memahami hadits yang satu ini.

وقد ظن بعض الناس أن قول الرسول صلى الله عليه وسلم: (ما أسكر كثيره، فقليله حرام) أن معناه: ما خلط بيسير فهو حرام ولو كان كثيراً، وهذا فهم خاطئ …

“Banyak orang salah paham sabda Nabi SAW (Apa yang banyaknya memabukkan maka sedikitnya pun haram). Mereka kira minuman tercampur setitik zat memabukkan maka otomatis jadi haram padahal jumlah aslinya banyak. Dan itu pemahaman yang keliru…”

وأما ما اختلط بمسكر والنسبة فيه قليلة لا تؤثر فهذا حلال ولا يدخل في الحديث. اهــ.

“Adapun minuman yang tercampur sedikit cairan memabukkan dalam kadar yang rendah, maka tidak akan berpengaruh, hukumnya halal dan tidak masuk dalam pengertian hadits (di atas)”.

فمثلاً: نسبة (1%) أو (2%) أو (3%) لا تجعل الشيء حراماً

“Misalnya kadar (Alkohol) satu persen, dua persen atau tiga persen, tidak membuat minuman jadi haram”.

Jadi dalam pandangan beliau bila minuman mengandung kadar Alkohol tertentu, tidak otomatis jadi khamar. Bukan hanya sekedar halal tapi juga tentu saja tidak najis. Namun bila kadar Alkoholnya cukup banyak dan kalau diminum memabukkan, barulah jadi khamar yang haram.

Begitulah ciri khas ilmu fiqih, sepenuhnya diliputi perbedaan pendapat. Seperti perkataan Qatadah

من لم يعرف الاختلاف لم يشم أنفه الفقه

“Siapa yang tidak mengenal ikhtilaf, berarti hidungnya belum mencium aroma fiqih.”

Perbedaan pendapat dalam fatwa para ulama pada dasarnya didasari oleh perbedaan illat, cara beristinbath dan lain sebagainya. Menurut salah satu Khalifah dari Dinasti Abbasiyah, Umar bin Abdul Aziz menjelaskan bahwa perbedaan pendapat merupakan sunah,

ما أحب أن أصحاب محمد لا يختلفون لأنه لو كان قولًا واحدًا لكان الناس في ضيق، وإنهم أئمة يقتدى بهم، فلو أخذ رجل بقول أحدهم كان سنة

“Aku tidak suka kalau melihat para sahabat nabi tidak saling berbeda pendapat. Sebab kalau mereka sepakat pada satu pendapat saja, maka orang akan berada dalam kesempitan. Mereka itu adalah para imam yang diikuti. Cukup ikuti satu saja dari mereka, kita sudah termasuk ikut sunnah.”

BINCANG SUARIAH