Rasul: Jagalah Diri dari Neraka Meski dengan Kurma

BARANGKALI, generasi muda saat ini tidak memahami nilai harta bagi keluarga mereka sebab mereka masih hidup di bawah tanggungan biaya keluarga. Adapun mereka, generasi muda sahabat, sangat dermawan menginfakkan harta meskipun hanya sedikit yang mereka miiki. Bahkan, sebagian di antara mereka ada yang rela melewati malam dalam kondisi lapar. Bahan, makanan untuk diri dan keluarganya ia infakkan di jalan Allah.

Alangkah bagusnya bila generasi muda melatih dirinya berinfak dan berderma. Yang menjadi tolak ukur bukan besaran harta yang diinfakkan, melainkan niat tulus yang dengannya mereka mendermakan sedikit harta yang dimiliki. Jumlah yang sedikit ini teramat besar di sisi Allah. Dia tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Begitulah perilaku yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada para sahabatnya, yakni ketika beliau bersabda,

“Tidak seorang pun di antara kalian kecuali dia akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat. Tidak ada penerjemah antara dirinya dengan Allah. Kemudian ia melihat ternyata tidak ada sesuatu pun yang ia persembahkan. Selanjutnya, ia menatap ke depan ternyata neraka telah menghadangnya. Oleh karena itu, barang siapa di antara kalian yang bisa menjaga diri dari neraka, meski hanya dengan (memberikan) sebelah kurma (maka lakukanlah).”

Menurut riwayat yang lain, “Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan perihal neraka. Lalu beliau memohon perlindungan darinya dan memalingkan wajah beliau. Beliau kembali menyebutkan perihal neraka, lalu memohon perlindungan darinya dan memalingkan wajah. Syubah berkata, Untuk dua kali tindakan yang beliau lakukan, aku tidak meragukannya. Kemudian beliau bersabda, Jagalah diri kalian dari neraka meski hanya dengan (menginfakkan) sebelah kurma. Biarpun yang tidak mendapatkannya, maka hendaknya ia mengucapkan kata-kata yang baik.”

[Sumber: Biografi Generasi Muda Sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Muhammad bin Abdullah ad-Duwaisy, Zam-Zam]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2371982/rasul-jagalah-diri-dari-neraka-meski-dengan-kurma#sthash.Lcgvr8qQ.dpuf

Kisah Ibnu Umar, Menginfakkan Apa yang Ia Kagumi

DARI Nafi pelayan Ibnu Umar berkata, “Apabila Ibnu Umar sangat mengagumi sesuatu dari hartanya, niscaya ia akan mempersembahkannya kepada Allah Taala.” Nafi berkata, “Dan hamba sahayanya mengetahui akan hal itu lalu ada salah seorang dari budak-budaknya bersemangat untuk beribadah di masjid, dan ketika Ibnu Umar melihat keadaan dirinya yang bagus tersebut, maka dia memerdekakan hamba tersebut, namun para sahabatnya berkata kepadanya, Wahai Abu Abdurrahman, demi Allah, tidaklah mereka itu kecuali hanya membohongimu. Ibnu Umar menjawab, Barang siapa yang berdusta terhadap kami karena Allah niscaya kami tertipu karenaNya.” ( Diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam al-Hilyah, 1/294)

Ayyub bin Wail berkata, “Ibnu Umar diberikan sepuluh ribu riyal lalu ia membagi-bagikan harta tersebut, lalu keesokan harinya ia meminta makanan untuk binatang yang dikendarainya dengan harga satu dirham utang,” (Shifat ash-Shafwah). Dan dari Nafi ia berkata, “Apabila Ibnu Umar membagi-bagikan tiga puluh ribu dalam suatu majelis, kemudian tiba bulan baru, pastilah ia tidak makan sepotong daging pun.” (Hayat ash-Shahabah)

Abu Nuaim meriwayatkan dari Muhammad bin Qais, ia berkata, “Tidaklah Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma makan kecuali bersama orang-orang miskin, hingga hal tersebut mempengaruhi kesehatan tubuhnya.” Dan dari Abu Bakar bin Hafsh, “Bahwasanya tidaklah Abdullah bin Umar makan dengan suatu makanan kecuali bersama seorang anak yatim.”

 

 

Dari Said bin Hilal berkata, “Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma sangat menginginkan makan ikan, namun orang-orang tidak menemukan ikan tersebut kecuali satu ekor saja, lalu istrinya menghidangkannya untuk dirinya, namun setelah masakan ikan itu diletakkan di hadapannya, datanglah seorang miskin di depan pintu, lalu Ibnu Umar berkata, Berikanlah ikan tersebut kepadanya, istrinya pun berkata, Subhanallah, kita dapat memberinya satu dirham, sedangkan engkau, makan saja ikan tersebut. Dia berkata, Tidak, karena Abdullah bin Umar (maksudnya adalah dirinya) menyukai ikan tersebut, dan tatkala Ibnu Umar telah menyukai sesuatu niscaya dia tinggalkan hal itu untuk Allah sebagai suatu sedekah.”

[Dinukil dari, “Keajaiban Sedekah dan Istighfar”, karya Hasan bin Ahmad bin Hasan Hammam, edisi terjemah cetakan Pustaka Darul Haq (alsofwah)]

 

MOZAIK

Muslimah Taat Hidup di Kampung Kumuh & Rawan Kristenisasi Butuh Modal Usaha Rp 3 Juta, Ayo Bantu!

JAKARTA (Infaq Dakwah Center) – Ibu NenengNurhayati, Muslimah taat yang hidup di daerah kumuh, rawan kriminalitas dan kristenisasi membutuhkan modal usaha untuk menghidupi keluarganya.

Ustadz Taufiq, dai yang merupakan alumnus UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan mengaku prihatin dengan kondisi Ibu Neng, seorang ibu rumah tangga yang menjadi murid pengajian di daerah binaan dakwah.

Sebagai seorang dai, Ustadz Taufiq merasa bertanggung jawab atas kondisi binaan dakwahnya. Ia pernah menghubungi beberapa lembaga sosial, namun hasilnya tak cukup maksimal dalam memberikan bantuan. Hingga akhirnya, atas rekomendasi Ustadz Ihsan Tanjung, Ustadz Taufiq mengubungi relawan Infaq Dakwah Center, guna mencari solusi atas kesulitan yang dialami binaan dakwahnya.

Hanya berselang beberapa hari mendapatkan laporan Ustadz Taufiq, relawan IDC bergegas melakukan survey ke lokasi. Masya Allah, di tengah panas terik, relawan IDC blusukan menyusuri ruas rel kereta api dan memasuki gang-gang sempit nan pengap di belakang kompleks pertokoan Pasar Pagi Mangga Dua. Ustadz Taufiq pun menyampaikan pesan kepada relawan IDC agar berhati-hati.

“Harap waspada, karena kondisi lingkungannya, hp saya sudah tak terhitung lagi jumlahnya yang hilang,” ujar Ustadz Taufiq kepada relawan IDC, Sabtu (14/5/2016).

Ibu Neng Neneng Nurhayati

Ibu Neneng Nurhayati, Muslimah taat yang hidup di kampung kumuh, butuh modal usaha

Bagi Ustadz Taufiq, membantu mereka merupakan panggilan dakwah, bila hal itu tak dilakukannya, maka berapa banyak kaum Muslimin yang makin terperosok ke lembah kejahatan dan pemurtadan. Aksi nyata Ustadz Taufiq yang lebih dari delapan tahun berdakwah tanpa pamrih itu, yang awalnya puluhan orang ikut mengaji, kini hanya tersisa beberapa gelintir orang saja.

Meski demikian, Ustadz Taufiq luar biasa istiqomah, tetap mengajar di perkampungan yang rawan dengan tindak kriminal dan kristenisasi tersebut.

Neneng Nurhayati (40) atau yang akrab disapa Ibu Neng, tinggal di kawasan Padat Penduduk yang Kumuh dan Miskin (PAK KUMIS) pinggir rel kereta, di Kampung Dao, Pademangan, Jakarta Utara. Penderitaannya kian bertambah-tambah, ketika bencana kebakaran hebat pada Selasa (26/1/2016) itu menghanguskan rumah kontrakannya. Dalam musibah tersebut, sebanyak 700 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah kurang lebih 1.500 jiwa kehilangan tempat tinggal, Ibu Neng salah satunya. Tak ada yang tersisa, kecuali nyawanya dan baju yang menempel di badan.

Pasca musibah kebakaran, Ibu Neng kini menjadi pemulung. Sedangkan suaminya, Ade Rahman (38) hanya juru parkir. Penghasilnnya tak tetap, bahkan jauh dari cukup untuk menghidupi enam orang anaknya.

“Saya kemarin tinggal di Kampung Dao yang kena musibah kebarakan. Usaha saya dagang gado-gado sama nasi uduk, semua alat-alat saya dagang habis terbakar,” kata Ibu Neng kepada relawan IDC di rumahnya, Sabtu (14/5/2016).

Kampung Dao Kebakaran

Kebakaran di Kampung Dao

Ibu Neng, kini tinggal di kontrakan petak yang luasnya hanya 3 x 4 meter bersama anak-anaknya. Padahal, ia sangat ingin hidup normal, tinggal di tempat yang layak, memiliki mata pencaharian yang jelas, serta menghidupi anak-anaknya yang masih sekolah.

Namun, bukan hal mudah bagi Ibu Neng untuk bangkit pasca musibah kebakaran, tapi ia terus berusaha. Dirinya sadar, meski hidup miskin tak menjadikannya lemah mental, menjadi pemulung lebih terhormat baginya, ketimbang jadi pengemis.

الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَالْيَدُ الْعُلْيَا الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَى السَّائِلَةُ

Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Tangan di atas adalah tangan pemberi sementara tangan yang di bawah adalah tangan peminta-minta. [HR. Muslim No.1715].

Di sisi lain meski butuh modal usaha, rentenir berkedok bank keliling yang kerap menawarkan pinjaman mudah dan menggiurkan, tak berani ia sentuh.

“Saya mau pinjam rentenir saya takut tidak bisa bayar, sementara kerjaan saya sehari-hari cuma pemulung,” ujarnya.

Sebagai Muslimah yang taat, hidup menderita di dunia tak seberapa daripada harus mendapat siksa di akhirat kelak lantaran dosa riba. Pemahaman itu didapat Ibu Neng karena selama ini rutin mengikuti pengajian Ustadz Taufiq.

Begitu pedih siksa bagi pelaku riba sebagaimana dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَتَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى قَوْمٍ بُطُونُهُمْ كَالْبُيُوتِ فِيهَا الْحَيَّاتُ تُرَى مِنْ خَارِجِ بُطُونِهِمْ، فَقُلْتُ: “مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرَائِيلُ؟” قَالَ: “هَؤُلَاءِ أَكَلَةُ الرِّبَا

“Pada malam Isra’ aku mendatangi suatu kaum yang perutnya sebesar rumah, dan dipenuhi dengan ular-ular. Ular tersebut terlihat dari luar. Akupun bertanya, “Siapakah mereka wahai Jibril?”. “Mereka adalah para pemakan riba” jawab beliau”. [HR. Ibnu Majah].

Kini, Ibu Neng berharap ada para muhsinin yang membantu memberikan modal usaha agar bisa bangkit dari kesulitan yang dihadapinya.

“Saya mau minta bantuan untuk modal usaha, mudah-mudahan saya bisa dibantu untuk menghidupi anak-anak saya yang masih sekolah,” tuturnya.

Untuk mudal usaha berjualan gado-gado dan nasi uduk, Ibu Neng memperkirakan anggaran sebagai berikut:

  1. Kompor, dandang, cobek, piring dan lain-lain:      Rp  2. 000.000,-
  2. Pembelian bahan baku gado-gado dan nasi uduk: Rp. 1.000.000,-    +

Total modal usaha yang dibutuhkan Ibu Neng adalah :  Rp. 3.000.000,-

Kampung Dao

Suasana Kampung Dao

PEDULI KASIH SESAMA MUSLIM

Uang sebesar Rp 3.000.000,- (tiga juta rupiah) bagi orang kaya, mungkin terlihat kecil dan sepele, tetapi bagi Ibu Neng yang hidupnya susah sangat berharga  untuk modal usaha.

Mari berbagi kasih, ulurkan kepedulian untuk membantu Ibu Neng. Dengan membantu meringankan kesulitan saudara sesama Muslim, insya Allah akan mendatangkan barakah, pertolongan dan kemudahan  di dunia dan akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَمَنْ كَانَ فِـيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ ، كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ ، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allâh Azza wa Jalla senantiasa akan menolongnya. Barangsiapa melapangkan kesulitan orang Muslim, maka Allâh akan melapangkan baginya dari salah satu kesempitan di hari Kiamat dan barangsiapa menutupi (aib) orang Muslim, maka Allâh menutupi (aib)nya pada hari Kiamat. [HR Bukhari – Muslim].

Donasi untuk membantu modal usaha Ibu Neng bisa disalurkan dalam program INFAQ PRODUKTIF ke rekening IDC:

  1. Bank Muamalat, No.Rek: 34 7000 3005 a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  2. Bank BNI Syari’ah, No.Rek: 293 985 605 a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  3. Bank Syariah Mandiri (BSM), No.Rek: 7050 888 422 a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  4. Bank Mandiri, No.Rek: 156 000 696 4037 a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  5. Bank BRI, No.Rek: 0139 0100 1736 302 a/n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  6. Bank CIMB Niaga, No.Rek: 675.0100.407.006 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
  7. Bank BCA, no.rek: 631 0230 497 a/n Budi Haryanto (Bendahara IDC).

CATATAN:

  1. Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 5.000 (lima ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.005.000,- Rp 505.000,- Rp 205.000,- Rp 105.000,- 55.000,- dan seterusnya.
  2. Bila dana terpenuhi maka donasi akan dialihkan untuk program IDC lainnya.
  3. Info dan konfirmasi: 08567.700020, 704050. PIN BB: 2AF8061E; BBM CHANNEL: C001F2BF0

 

sumber: Panji Mas

Rohingya Penuhi Syarat Penerima Zakat, Infak, Sedekah

Jakarta – Sekretaris Jenderal World Zakat Forum, Ahmad Juwaini, menyatakan pengungsi Rohingya memenuhi syarat sebagai penerima manfaat atas zakat, infak dan sedekah.

“Kami minta lembaga zakat dan lembaga kemanusiaan dunia untuk membantu pengungsi Rohingya,” katanya di Banda Aceh, Selasa 9 Juni 2015.

Pernyataan yang disampaikan itu merupakan beberapa poin dari pernyataan sikap lembaga zakat dan organisasi kemanusiaan internasional tentang masalah Rohingya.

Pihaknya meminta seluruh umat muslim dan komunitas dunia agar memberikan bantuan khusus secara spesifik untuk membantu pengungsi Rohingya.

“Kami juga meminta ASEAN, OKI, PBB dan organisasi multilateral lainnya untuk menjatuhkan sanksi politik atau ekonomi kepada Myanmar,” katanya.

Mereka juga meminta kepada seluruh negara khususnya negara di sekitar Myanmar untuk menerima para pengungsi Rohingya dan memberikan bantuan yang diperlukan.

Pihaknya juga berpendapat tindakan pengusiran dan kekerasan terhadap warga negara adalah sebuah kejahatan yang bertentangan dengan hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan. (Ant/Bob/Ado)

sumber: Liputan6.com