Pergi Haji karena Menolong Anak Yatim

SEJAK muda, Zaid bin Ali bersama istrinya telah bermimpi untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, pergi haji. Kondisi ekonomi yang sederhana membuat keduanya rajin menabung. Saat ini, ketika usia mereka sudah cukup tua, tabungan merekapun sudah cukup untuk bekal pergi ke tanah suci Mekah.

Suatu hari pada saat akan membeli keperluan haji, mereka bertemu dengan dua orang kakak beradik bertubuh sangat kurus dan menyedihkan. “Mengapa tubuhmu sangat kurus begitu, nak? Apakah kalian kelaparan?”

Kedua bocah tersebut menggeleng. “Kami sudah terbiasa dengan rasa lapar sejak kami hidup sendiri tanpa orangtua,” ujar salah satu di antaranya.

“Apakah orangtuamu sudah meninggal?”

Anak tadi, yang mungkin adalah sang kakak, kembali menjawab. “Mereka meninggal saat rumah kami terbakar. Saat itu kami selamat karena sedang menginap di rumah kerabat.”

“Lalu, bagaimana dengan kerabatmu?” kata Zaid.

“Karena jatuh miskin, mereka justru menelantarkan kami. Tapi kami bersyukur masih saling memiliki.” Kali ini sang adik yang menjawab. “Kami juga terserang penyakit aneh yang membuat tubuh kami kurus kerontang seperti ini. Tentu saja kami tidak memiliki uang untuk berobat.”

Zaid dan istrinya melemparkan pandangan satu sama lain. Lalu, bersamaan mengalihkannya kepada dua bocah tersebut. Mereka menatapnya. “Anak-anakku, awalnya kami akan pergi berhaji. Namun kami rasa uang yang kami miliki jauh lebih bermanfaat untuk kalian. Sepertinya ini adalah jalan Allah dalam mempertemukan kita semua.”

Akhirnya Zaid dan istrinya memutuskan untuk mengasuh keduanya dan membatalkan untuk pergi haji. Bocah kakak beradik tersebut pun sembuh dan tumbuh sehat di bawah asuhan Zaid dan istrinya. Pasangan tersebut bersyukur karena Allah menghadirkan dua anak yang saleh, setelah sekian lama mereka berdoa juga untuk dianugerahi buah hati.

Batalnya haji Zaid dan istri pun bukan berarti mereka tidak menunaikan rukun Islam yang kelima. Sebaliknya, karena merekalah, semua orang yang menunaikan haji pada saat itu diterima hajinya, tak terkecuali Zaid dan istri.

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini.” Kemudian beliau shalallahu waalaihi wa salam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya, serta agak meregangkan keduanya. (HR Bukhari) [An Nisaa Gettar]

 

 

Serba-serbi Haji (28): Tak ada Rotan, Akarpun Jadi

POPULARITAS Mat Kelor memang sudah melampaui keterkenalan saya. Di manapun saya berada, ada saja yang bertanya kabar Mat Kelor, di mana dia dan bagaimana kisahnya. Di Palu Sulawesi Tengah sudah ada 5 orang yang bertanya tentang dia. Saya telpon dia mengabarkan keterkenalannya ini, dia cuma tersenyum menjawab ringan: “Semoga itu bagian tanda-tanda haji mabrur.”

Mat Kelor bercerita bahwa semalam ada kasus menghebohkan di kampungnya dan dia menanyakan pandangan hukum Islam kepada saya. Ada orang meninggal yang tadi malam harus dikuburkan. Kebetulan Pak Kiainya sedang keluar kota, jadi tak ada yang bisa membaca talkin di atas kuburan, tradisi yang hidup di masyarakatnya Mat Kelor. Banyak orang yang sepakat bahwa Mat Kelorlah satu-satunya yang paling layak mewakili kiai membaca talkin.

Mat Kelor tetap tak mau. Dia geleng kepala. Bukannya karena tak bisa baca tulisan Arab. Tapi ternyata Mat Kelor sangat phobia kuburan malam hari. Takut sekali dia untuk lewat kuburan malam hari. Apalagi cuaca mendung terlihat akan turun hujan. Masyarakat memaksanya dan siap mengawalnya. Akhirnya Mat Kelor berangkat ke kuburan. Surban terbaru dipasangnya, dia dikawal lelaki yang membawa lampu tepat di belakang kereta jenazah.

Saat tiba di kuburan, Mat Kelor mulai gelisah. Penguburan selesai, tiba giliran Mat Kelor membaca talkin. Hujan rintik mulai turun. Saat pembacaan dimulai, sebagian pengunjung mulai mundur dan pulang. Saat pembacaan talkin sudah separuh hujan mulai lebih terasa. Konsentrasi Mat Kelor mulai memudar, lalu dia tolah toleh ternyata hanya tinggal pembawa lampu yang masih bertahan. Mat Kelor gemetar takut, tak kuasa melanjutkan talkin itu. Buku talkinnya dimasukkan ke dalam tumpukan tanah kuburan baru itu sambil teriak dan pergi: “Lanjut baca sendiri ya.”

Mat Kelor lari, pembawa lampu juga. Lalu dia bertanya bagaimana hukumnya? Saya tak kuasa menjawab karena masih tertawa sampai sekarang. Salam, AIM [*]

INILAH MOZAIK

Serba-serbi Haji (27): Kesantunan Pijat Madura

ADA banyak kesamaan tradisi di beberapa tempat yang masih memegang kuat tradisi bahwa bertamu kepada orang yang baru datang haji adalah salah satu cara mendapatkan keberkahan hidup. Tradisi seperti ini sangat kental dianut masyarakat Madura. Biasanya, orang yang baru datang dari haji tidak akan pergi kemana-mana sebelum 40 hari. Bahasa masyarakat, malaikat yang menyertainya semenjak haji bertahan sampai 40 hari.

Bukan tanpa dasar keyakinan ini. Dalam kitab Hasyiatul Jamal malah dinyatakan: “Sebagian ulama mengatakan bahwa permintaan doa ini dapat dilakukan hingga 40 hari sepulangnya dari rumah. Dalam kitab Ihya Ulumuddin diterangkan berdasarkan cerita dari sahabat Umar ra. Keadaan ini dapat diberlangsungkan hingga akhir bulan Dzulhijjah, Muharram dan dua puluh hari Rabiul Awwal.” Itu kan? Orang Madura tak sembarangan. Mat Kelor adalah memegang erat tradisi ini.

Tamu Mat Kelor begitu banyak sampai badannya ngilu-ngilu dan pegal-pegal kurang istirahat. Tadi malam, dia mengundang tukang pijat untuk memijat dan menginjak badannya. Biasanya setelah dipijat dan diinjak-injak, tubuhnya bugar kembali, alira darah dan oksigen menjadi lancar katanya. Celakanya, tukang pijatnya hanya mau memijat tapi tak mau menginjak tubuh Mat Kelor.

Mat Kelor kaget tumben tukang pijat ini tak mau menginjak badannya. Ditanyakanlah alasannya. Tukang pijat ini menjawab dengan aksen Madura yang kental sekali: “Pak Haji ini baru seminggu datang haji. Malaikat masih bersama Bapak. Saya tidak sopan kalau menginjak Bapak. Bagaimana kata malaikatnya nanti?” Mat Kelor bisa memahami, manggut-manggut. Tapi karena pegalnya sangat parah dam serius, Mat Kelor menjawab: “Sudah injak saja. Malaikatnya juga pegal-pegal capek, minta diinjak juga.”

Tukang pijat itu nurut kepada Mat Kelor, menginjaknya pelan-pelan. Seorang Ustadz bernama Ustadz Zainal Abidin Pamekasan yang menyaksikan dialog dua orang ini tak kuasa menahan tawa. Saya pun tertawa mendengar kisah ini. Ya kok ada malaikat pegel-pegel dan ngilu-ngilu. Akhirnya, setelah dipijat dan diinjak, Mat Kelor istighfar. Salam, AIM. [*]

Serba-serbi Haji (26): Revolusi Industri 4.0 Haji

PAGI ini saya sedang di perjalanan menuju Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo untuk memberikan kuliah umum (studium general) dengan judul “Fourth Industrial Revolution and The Future of Islamic Education in Indonesia” (Revolusi Industri 4.0 dan Masa Depan Pendidikan Islam Indonesia). Temanya menarik, semoga saya bisa menjelaskannya juga dengan menarik.

Karena saya baru saja tiba dari luar kota dan sekarang berangkat lagi, tak sempat lagi saya untuk membuka literatur-literatur baru. Iseng-iseng saya telpon Mat Kelor untuk “konsultasi.” Memang dia bukan sarjana, namun saya suka ide-idenya yang kadang-kadang unik dan “out of the box” (di luar dugaan publik). Minimal, selalu saja saya mendapat contoh baru darinya.

Setelah saya sampaikan definisi sederhana revolusi industri 4.0 sebagai era di mana smartphone, smart computer dan smart technology menjadi instrumen utama semua aktivitas keseharian manusia, Mat Kelor tertawa terbahak-bahak. Saya kaget ada apa. Ternyata dia punya pengalaman unik kemaren sore saat mau isi bensin sepeda motornya (jenis MOGE Harley Davidson) di POM Bensin.

Mat Kelor menyodorkan uang ke petugas POM sambil berkata: “Pertamax Full Tank” (Tangki penuh, Pak). Petugas menjawab tidak bisa. Mat Kelor kaget mengapa tak bisa, apa karena tangkinya kebesaran atau apa Pertamaxnya kosong atau gimana. Petugas tetap geleng kepala. Lalu Mat Kelor dengan nada agak tinggi sedikit bertanya: “Memang kenapa?” Petugas menjawab: “Uang Bapak bermasalah, pertama karena itu uang real Arab, kami tak menerima uang asing. Kedua, ini uang hanya 10 real senilai 40 ribu, mana cukup?” Mat Kelor tersipu malu sambil minta maaf dan mengganti uang itu sambil berkata: “syukran.”

Mat Kelor menyampaikan kepada saya bahwa harusnya fasilitas umum di era revolusi industri itu semua bisa menerima dan membaca uang internasional. Katanya, Arab Saudi itu sudah lebih maju karena bisa bertransaksi memakai rupiah, real, dollar, ringgit dan lainnya. Hahaaa, rupanya pengalaman haji Mat Kelor sangat membekas.

Pendidikan Islam di Indonesia masa kini dan masa yang akan datang harus mampu mengakses semua sumber keilmuan dari berbagai tempat di dunia ini. Kecanggihan teknologi komunikasi dan jaringan harus dipelajari dan dimanfaatkan. Jika tidak, maka pendidikan Islam akan jalan di tempat di saat yang lain maju ke depan, sehingga akhirnya tertinggal jauh di belakang.

Mat Kelor lalu bertanya kepada saya: “Bolehkah pelaksanaan ibadah haji itu memanfaatkan kecanggihan teknologi? Misalnya, thawaf dan sai tanpa jalan kaki melainkan dibuatkan teknologi seperti eskalator datar yang jalan sendiri seperti di airport canggih itu? Bukankah itu lebih aman, rapi dan efektif? Bolehkah lempar jumroh memakai alat mainan elektronik pistol-pistolan? Ini kan bisa mengurang kemacetan karena bisa “melempar” dari jarak jauh?”

Saya terhenyak dengan pertanyaan canggih ini larena keluar dari mulut seorang Mat Kelor yang tak pernah lulus sekolah, SD sekalipun. Ketika saya jawab, dia ngakak dan saya pun tertawa. Salam, AIM. [*]

 

 

Serba-serbi Haji (25): Sinergi Harapan dan Doa

TAMU yang ziarah haji ke Haji Mat Kelor tak putus-putus. Sudah dua sapi disembelih untuk dihidangkan kepada para tamu. Tak hanya tetangga dekat yang datang berkunjung. Orang jauh yang belum dikenalpun banyak yang berziarah. Ingin mengenal lebih dekat Mat Kelor, kata mereka. Mereka setia mengikuti tulisan serba-serbi haji yang saya tulis.

Ada banyak yang bertanya rahasia sukses Mat Kelor, dari posisi sebagai orang terpinggirkan sampai menjadi orang terpandang, dari posisi ‘zero’ sampai menjadi ‘hero,” dari orang miskin menjadi orang kaya. Dengan santai Mat Kelor berpantun: Anak ayam turun delapan// Mati satu tinggal lah tujuh// Hidup harus penuh harapan//Jadikan itu jalan yang dituju. “Kalian harus memupuk harapan, jangan putus asa.” Para tamu manggut-manggut.

Ternyata, sesederhana apapun kalimat, kalau diucapkan orang kaya, banyak orang yang terpukau dan percaya. Seindah apapun kalimat kalau diucapkan orang miskin maka hanya dianggap angin lalu, minimum dianggap sebagai copy paste atau dianggap sebagai riwayat palsu. Itulah fakta kebanyakan manusia. Nasib Mat Kelor memang lagi mujur.

Mat Kelor berkisah masa lalunya yang kelam dan melarat. Kata dia, perpaduan antara harapan, doa dan usaha adalah kuncinya. Upayakan porsi doa adalah lebih besar dari usaha, maka akan hadir keajaiban. Naik haji plus terasa tidak mungkin akan menjadi takdir Mat Kelor dan istri. Harapan, doa dan usahalah yang menjadikannya sebagai kenyataan. Diceritakanlah panjang lebar. Lalu, wajah Mat Kelor menunduk dan meneteskan air mata. Semua pengunjung terdiam.

“Ada yang belum menjadi nyata, masih menjadi harapan dan doa, puteri saya belum dapat jodoh semenjak putus dengan tunangannya 5 tahun yang lalu.” Semua kaget bagaimana mungkin ada yang berani menolak puteri Mat Kelor yang terkenal itu. Mat Kelor menjelaskan bahwa penyebabnya adalah partai. Lalu ramailah perbincangan tentang efek politik yang selalu saja mampu merusak cinta dan persahabatan. Namun ada yang bertanya-tanya apa Mat Kelor aktif di partai?

“Pak Haji Mat Kelor partai apa dan yang menolak dari partai apa? Sungguh tidak akan saya pilih dalam pemilu yang akan datang.” Mat Kelor menjawab: “Gara-gara partai besar dan partai kecil. Tapi bukan partai politik. Calon besan itu pedagang partai grosiran sementara saya waktu itu adalah pedagang partai eceran. Gara-gara itu saja.” Hahaaa, hidup partai Mat Kelor. Salam, AIM. [*]

KH AHMAD IMAM MAWARDI

INILAH MOZAIK

Serba-serbi Haji (24): Keliling Akhirat Jetlag?

JETLAG adalah istilah yang sangat populer di kalangan para pelancong dunia, mereka yang terbiasa terbang melintasi beberapa zona waktu. Biasanya diterjemahkan dengan gangguan ritme tidur, ngantuk berat di saat manusia normal masih segar melek dan segar melek saat kebanyakan orang ngantuk. Ternyata, jetlag itu bukan hanya gangguan ritme tidur, melainkan juga ritme rasa kenyang lapar. Ritme sirkadian yang terganggu, hormon yang melatonin yang tak lagi normal.

Rata-rata jamaah haji mengalami ini, termasuk saya dan Mat Kelor. Tak jarang saat menerima kunjungan tamu sambil menguap ngantuk. Biasanya Mat Kelor beralibi: “Jam ngantuk di Arab ini. Mohon dimaklumi. Ngantuknya jamaah haji itu dijaga malaikat.” Para tamu biasanya senyum-senyum sambil menghabiskan kurma dan jajanan Arab yang dibawa dari tanah suci. Namun bagaimanapun kita tetap melayani mereka dengan kisah indahnya haji, suka duka di tanah suci.

Orang yang tak terbang kemana-mana tak mengalami jetlag. Terbang di wilayah satu zona waktu saja tak mengalami jetlag. Guru alif ba ta tsa Mat Kelor berkata: “Manusia yang pikiran dan hatinya tak anteng atau tak istiqamah dalam urusan akhirat biasanya akan mengalami jetlag kehidupan, ritme hidup yang tak normal. Normalnya, manusia itu adalah makhluk langit, binatang beragama. Saat manusia menjauh pergi dari zona agama, dia pasti mengalami jetlag berupa kebingungan tak berujung.”

Saya senang sekali dengan kesimpulan sang guru. Setelah saya amati ritme hidup ahli ibadah, begitu tenangnya mereka dalam menjalani hidup walau dalam keterbatasan. Sebaliknya, saat melihat orang yang selalu terbang urusan dunia dengan melalaikan akhirat, begitu kacaunya rasa dan hormon kebahagiaan mereka, terus sedih dan menangis di tangah zona yang harusnya bahagia dan tertawa.

Saya coba intip penjelasan ulama tentang hakikat hidup menurut al-Qur’an. Ternyata jaminan bahagia hakiki itu diberikan Allah hanya bagi orang yang beriman, hatinya terikat kuat dengan nilai-nilai keakhiratan. Mat Kelor menyebut potongan ayat: “Alladziina yu’minuuna biLLAHI wal yawmil aakhir.” Guru huruf hijaiyah Mat Kelor tersenyum sambil berkata: “Sejak kapan kamu hapal potongan ayat?” Mat Kelor menjawab: “Sejak mengistiqamahkan diri shalat tepat di belakang imam masjidil haram.” Pantas, pikir saya, Mat Kelor sangat awal kalau berangkat ke masjid. Bagaimana dengan kita?

Ingin tak jetlag dalam kehidupan? Jangan muter-muter urusan isi dompet terus. Fokuslah pada urusan isi hati dan kotak amal kehidupan akhirat. Salam, AIM. [*]

KH Ahmad Imam Mawardi

Serba-serbi Haji (23): Mat ‘Robot’ Kelor Mendarat

TEPAT saat pesawat yang kami tumpangi mendarat menyapa tanah air Indonesia, air mata Mat Kelor deras mengalir. Awalnya dia sesenggukan pelan, kemudian semakin menderu.

Saya memeluknya, dia berkata: “Saya ini anak orang tak punya, saya diperkenankan haji. Allaaah.” Saya cuma berbisik untuk selalu bersyukur. Baju yang dikenakannya semenjak dari Madinah, yakni 5 lapis baju tetap dikenakannya. Entah sumuk atau tidak, nyaman atau tidak. Namun bahagia hati mampu menepis semua ketaknyamanan sebagaimana hati yang gelisah tak kan mampu menikmati kenyamanan.

Saya berusaha membuatnya tersenyum biar wajahnya menjadi berseri. Saya ceritakan kepada Mat Kelor sebuah kisah lucu di pemeriksaan X-Ray bandara Madinah. Seorang nenek 83 tahun membuat bingung polisi bandara gara-gara setiap memasuki gerbang pemeriksaan selalu saja berbunyi tanda ada barang yang dilarang terbawa olehnya. Padahal sabuk, sandal, gelang, cincin dan semua yang mengandung besi tembaga sudah dicopotnya. Polisi curiga dan marah-marah dalam bahasa Arab. Nenek itu diam karena tak paham. Diam dan kemudian memanggil saya sambil menangis sampai mulutnya menganga lebar.

Dari situ saya baru tahu penyebabnya mengapa nenek itu tak lolos-lolos pemeriksaan. Lalu saya sampaikan ke polisi. Tahu apa sebabnya? Ternyata gigi-gigi nenek itu hampir semua berlapis emas dan tembaga, khas orang kaya jaman dulu. Tak mungkin dicopot sebelum masuk gerbang. Polisi itu tertawa ngakak sampai guling-guling. Di Arab tidak ada model begini kata mereka. Mendengar cerita ini, Mat Kelor tertawa sambil menghapus air matanya.

Ketika antri pengambilan bagasi, Mat Kelor bersedih kembali. Saya heran mengapa Mat Kelor yang lucu, periang dan ekstrovert menjadi melow. Rupanya satu bagasi yang full oleh-oleh tak ada. Di dalamnya ada cermin, kurma dan minyak wangi. “Yang kusedihkan adalah gagalnya diriku untuk membahagiakan orang-orangku di kampung,” ucapnya.

Orang-orang sudah mulai meninggalkan lokasi pengambilan bagasi. Mat Kelor kumat-kamit membaca “mantra” berbahasa Madura, mantra yang hanya boleh dibaca saat kepepet, katanya. Tiba-tiba, kardus oleh-oleh itu terlihat ada bersama istrinya, tertutupi kakinya yang diangkat ke atas kardus itu karena ngilu asam uratnya naik. Mat Kelor tersenyum.

Nenek dengan gigi emas tadi ketemu lagi dengan saya dan saya kenalkan dengan Mat Kelor. Mat Kelor berbincang agak serius dengan nenek itu. Entah tentang apa. Lalu dia memuji kesungguhan semangat ibadah nenek itu. Nenek itu menjawab singkat: “Syukran.” Mat Kelor membalas: “Hambali.”

Nenek itu sebelum berpisah berkata dengan nada sedih menahan rasa: “Nak, sekarang aku siap mati, aku ridla dipanggil Allah. Aku sudah sowan ke rumahNya. Kemaren-kemaren aku tidak siap. Masak saya tinggal di bumiNya gratis sekian lama tapi tak mau bertamu ke rumahNya padahal saya mampu.” Kami terharu dengan kata-kata nenek itu. Mat Kelor kembali meneteskan air mata. Tiba-tiba nenek itu pingsan, dan sekarang masih dirawat di klinik bandara.

“Semoga cepat sembuh nenek. Semoga semua orang yang sudah mampu berhaji segera berhaji seperti nenek.” Kami melanjutkan terbang ke Surabaya. Mat Kelor berkata bahwa dalam waktu tak lama akan sowan ke rumah nenek mau membiayai total pemeriksaan dan pengobatan nenek. Saya belum tahu alasannya mengapa Mat Kelor sayang sekali pada nenek padahal baru pertama berjumpa. Memang ada beberapa kesamaan wajah sih di antara keduanya. Sepertinya ada yang ada yang misteri. Besok saya akan tanya Mat Kelor. Selamat datang di Juanda ya Pak Haji Mat Kelor. Salam, AIM. [*]

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK

Serba-serbi Haji (22): Mat Kelor Menjadi Robot

MAT Kelor dan isteri memang berjiwa sosial sekali. Tadi pagi adalah hari terakhir baginya di tanah suci. Sejak pagi saya tak melihat ujung hidungnya. Ternyata dia dan isterinya keliling toko dan pasar untuk menambah oleh-oleh. Padahal sudah ada beberapa kardus yang dikirimkannya via cargo.

“Wajah sanak kerabat dan tetangga hadir semua dalam bayangan saya. Tak nyaman hati ini jika tak berbagi oleh-oleh sementara setiap malam mereka mengaji dan berdoa mendoakan saya,” katanya beralasan.

Iya, benar. Tradisi di Madura memang unik. Orang naik haji itu memerlukan biaya relatif besar: selamatan keberangkatan haji, selamatan tiap malam selama berada di tanah suci, dan selamatan pulang haji. Bisa-bisa, tiga selamatan itu menghabiskan sapi satu kandang bahkan lebih. Karena itulah maka haji di Madura punya makna dan nilai yang mungkin saja berbeda dengan daerah lain. Bukan masalah relijiusitas semata, namun memiliki makna sosial dan kultural. Butuh satu semester untuk membahas “the socio-anthropological aspects of pilgrimage” masyarakat Madura.

Benar saja. Setibanya di bandara, Mat Kelor kebingungan mengatur bagasi yang overload, kelebihan timbangan. Berat timbangan barang dan timbangan badan memang menjadi isu sensitif di akhir prosesi haji. Tiap jamaah hanya dibatasi 2 koper bagasi masing-masing 23 kg untuk kelas ekonomi dan 30 kg untuk kelas bisnis. Mat Kelor agak galau dan mundur dari antrian untuk mengatur isi bagasinya.

Lalu, istri Mat Kelor maju ke counter untuk membawa dan menimbang kembali koper-koper itu. Alhamdulillah lolos, hanya lebih setengah kilo. Dia ditoleransi petugas. Namun, Mat Kelor tak tampak, diduga sedang berada dalam toilet. Menjelang antri imigrasi Mat Kelor menampakkan diri dengan tampilan aneh.

Dia tampak sangat gemuk dan sulit berjalan. Persis seperti robot. Setelah diamati, ternyata dia memakai baju 5 lapis dan celana dua lapis. Semua jamaah tertawa. Ketika ditanya mengapa, dia berkata: “Baju ini kukeluarkan dari koper yang kelebihan berat tadi. Mau dibuang sayang, ada barakah Mekah Madinah di baju dan celana ini. Aku pakai saja.” Diapun melangkah pelan-pelan. Semua mata memandang padanya. Mat Kelor semakin terkenal.

INILAH MOZAIK

Serba-serbi Haji (21): Silat ada di Tanah Suci?

PERTANYAAN tersebut sepertinya sudah lama bersarang di kepala Mat Kelor. Wajar saja kalimat tanya itu muncul darinya karena Mat Kelor itu sesungguhnya adalah aktifis pencak silat Madura yang dikenal dengan istilah “pencak pamor.”

“Pencak pamor adalah seni bertarung dengan gaya yang indah, elastis dan berwibawa,” kata Mat Kelor suatu malam saat ditanya polisi tentang apa yang dipraktekkan.

Ceritanya di suatu malam Mat Kelor ingin berkeringat karena badannya terlalu lama diam. Lalu dia berolahraga pencak silat itu. Baru masuk jurus ketujuh, polisi datang dikira ada yang berkelahi. Mat Kelor ditanya-tanya, saya terjemahkan dan polisi minta supaya adegan diulangi lagi untuk ditontonnya. Polisi Arab itu berkata: “Bagus. Tapi di sini tidak ada model begini karena di tanah suci tidak ada yang berkelahi. Paling parahnya bertengkar adalah bentakan dengan suara keras.” Akhirnya Mat Kelor mendapatkan jawaban.

Olah raga malam itu selesai. Namun Mat Kelor bertanya-tanya lagi, jangan-jangan pencak silat itu populer di negara yang kasus perkelahian juga populer. Saya hanya diam. Saya bersyukur di Asean Games kemaren cabang olahraga pencak silat memboyong banyak medali emas. Semoga bukan indikasi bahwa Indonesia jago berkelahi.

Tadi pagi, Mat Kelor hampir saja berkelahi saat plastik berisi air zamzam yang dibawanya dari masjid dengan di”sunggi” atau diletakkan di atas kepalanya dicoblos oleh orang Arab sambil ketawa-ketawa. Bagi orang Madura, air zamzam adalah air suci, membawanya harus hati-hati.

Saat marahnya memuncak hampir saja jurus silatnya keluar. Namun, dia ingat akan kata polisi bahwa di Arab tidak ada kelahi, paling kerasnya adalah bentakan keras. Mat Kelor mau membentak, tapi tak tahu cara mengungkapkannya dalam bahasa Arab. Mau memakai bahasa Madura atau Indonesia ya percuma saja orang Arabnya tidak akan paham.

Mat Kelor semakin marah melihat orang Arab itu terus cekikikan bersama temannya. Wajah Mat Kelor yang aslinya sudah hitam karena bersahabat dengan matahari gunung itu berpadu dengan aura merah di putih matanya. Didatangi orang Arab itu, dipegang leher bajunya kemudian dibentaknya dengan puncak oktav suara: “MAN RABBUKA.”

Orang Arab itu ketakutan dan minta maaf lalu lari. Terdengar kata-kata orang Arab itu pada temannya yang ikut lari: “Jangan-jangan orang itu temannya malaikat Munkar dan Nakir.” Saya tertawa, hahahaha. Apakah Anda tertawa juga? Kalau tidak: “MAN RABBUKA?” Salam, AIM. [*]

INILAH MOZAIK

Serba-serbi Haji (19): Unta Tak Punya Perasaan?

ISLAM mengajarkan kasih sayang pada binatang. Manusia sering menganggap binatang itu tak punya akal dan perasaan. Tak pernahkan melihat sapi meneteskan air mata saat disembelih? Tak pernahkah menyaksikan ayam dan kambing mengamuk melawan yang mengganggu diri dan keluarganya?

Mat Kelor punya pengalaman yang layak didengarkan. Kisah nyata saat ke Jabal Magnet bersama rombongan berhenti di kandang peternakan unta. Ingin coba merasakan nikmatnya air susu unta yang masih segar, fresh from the “source”nya. Semua penumpang turun menyaksikan pemilik unta memeras susu unta itu. Ternyata tak langsung main peras. Dielus-elus dulu punggungnya, si unta memberikan isyarat siap, lalu diperas, mengucur deras itu susu. Subhanallah. Semua membutuhkan cara dan kasih sayang.

Mat Kelor maju ingin mencoba memerasnya. Dia mengelus unta itu, si unta melirik. Dia memeras susu unta itu, untanya menendangnya. Semua rombongan tertawa terbahak-bahak. Ada yang bilang: “Walau pun unta, dia tahu hukum oy, belum ijab kabul tak mau dipegang.” Ada yang nyeletuk pula: “Hahaha, tangan pemilik dan tangan tamu terasa beda oleh unta. Unta juga punya perasaan.” Suasana jadi ramai, tapi semua anggota rombongan sudah merasakan nikmatnya susu unta.

Cerita lucu dan gojlokan ternyata tak berhenti di sana. Dalam perjalanan lanjutan di dalam mobil, Mat Kelor tetap menjadi bahan pembicaraan dan candaan. Mat Kelor hanya diam. Sesekali tersenyum tipis. Lalu dia berkata ringan: “Jangan terlalu keras sindir-sindir saya. Kita semua kan saudara sepersusuan. Yakni sama-sama menyusu pada satu unta. Sesama saudara dilarang saling buka aib dan malu.” Semua tertawa lagi, lalu diam.

Sayapun diam dan berupaya mengambil hikmah: semua ada caranya, semua ada aturannya, kasih sayang diperlukan siapa saja, senasib seperjuangan jangan saling olok dan bertengkar. Untung saya tidak ikut minum susu unta itu. Hahaaa.

 

INILAH MOZAIK