Lansia Naik Haji dengan Modal Menabung Rp 30 Ribu

Tingginya biaya ibadah haji, plus daftar tunggu yang begitu lama bagi masyarakat Indonesia ke Tanah Suci Makkah, Arab Saudi tidak menyurutkan keinginan banyak umat Muslim di Banua Kalimantan Selatan untuk bisa berangkat menunaikan Rukun Islam kelima itu. Materi pun tak jadi halangan. Dengan niat lurus ingin jadi tamu Allah SWT beribadah menatap Ka’bah secara langsung, ternyata ada saja jalan dan rezekinya.

Seperti yang dilakukan Ibu bernama Inar Amit Undal. Lansia yang pada 19 Oktober 2019 nanti genap berusia 85 tahun ini hanya mengumpul uang dari hasil berjualan di kantin sekolah, akhirnya bisa berhaji tahun ini.

“Saya menabung Rp30 ribu sehari dari hasil jualan. Setelah terkumpul Rp25 juta, saya lakukan setoran awal daftar haji pada tahun 2016,” kata Mama Idil, begitu biasa dia kerap disapa di kampung tempat tinggalnya.

Mama Idil pun terbilang sangat beruntung. Doanya untuk bisa berhaji di sisa masa hidupnyadiijabah oleh Allah SWT. Betapa tidak, jika sesuai daftar tunggu haji di Kalsel saat ini 31 tahun, maka seharusnya dia mendapat giliran berangkat pada tahun 2047 nanti. Tentu waktu yang sangat lama dan rasanya kecil peluang untuknya yang sudah lansia.

Namun, tidak ada yang mustahil di dunia, sepanjang ada niat pasti ada jalan. Rezeki untuk beribadah haji pun datang menghampirinya. Dimana ada kuota tambahan untuk haji Indonesia keberangkatan 2019 sebanyak 10 ribu jamaah, setelah Pemerintah Arab Saudi memberikannya setelah Presiden RI Joko Widodo bertemu dengan Raja Kerajaan Arab Saudi, Raja Salman di Istana Al-Qahr al-Khas di Riyadh pada 14 April 2019.

Sang anak bungsu, Badrun tiba-tiba dihubungi petugas Kantor Kementerian Agama Kota Banjarmasin pada Ramadhan lalu yang memberitahukan bahwa ibunda tercinta termasuk dalam kuota tambahan untuk berangkat tahun ini.

Uang tabungan yang dikumpulkannya pun dibuka dan dihitung untuk segera melunasi sisa biaya haji reguler yang tahun ini Rp 37.885.084.

“Alhamdulilah uangnya cukup dan saya bisa melunasi,” tutur wanita kelahiran Desa Masukau Luar, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong ini saat ditemui di kantin MAN 3 Banjarmasin, tempatnya berjualan makanan ringan dan aneka minuman instan khas kantin sekolah.

Sebelum mulai berjualan secara menetap di kantin sekolah sejak 2005, wanita yang memiliki enam anak ini hanya jadi pedagang kue tradisional Banjar secara keliling dari kampung ke kampung sekitar rumahnya Jalan Sutoyo S Komplek Hidayatullah RT 30 Banjarmasin Tengah.

Lantaran kerap menitipkan dagangannya di kantin sekolah, dia pun mendapat tawaran untuk menggunakan satu blok kantin sekolah berukuran tidak lebih dari 1,5 meter persegi untuk berjualan. Alhasil, sejak saat itulah Mama Idil berjualan dengan dibantu anaknya.

Sepeninggal sang suami, Jamhari (alm) 17 tahun silam, Mama Idil memang harus banting tulang bekerja mencari nafkah. Niatnya pun hanya satu yaitu ingin naik haji.

“Mama memang niatnya kuat mau naik haji dan hasil untung berjualan beliau tabung terus,” ujarBadrun, sang anak yang kerap membantu ibunya berjualan.

Badrun mengungkapkan jika ibunya rajin shalat malam untuk Tahajut dan puasa Senin Kamis. Lantunan bacaan shalawat juga terus mengalir di bibir sang ibunda.

“Alhamdulilah beliau juga sangat sehat. Mengangkat air dua ember saja masih kuat. Insya Allah beliau dapat mengikuti seluruh rangkaian ibadah haji nanti dan kembali dengan selamat menjadi haji mabrur,” tandasnya.

Atas keberangkatan ibunya, Badrun menyampaikan terima kasih tak terhingga kepada Allah SWTdan Presiden RI Joko Widodo yang telah berhasil memperjuangkan tambahan kuota haji, sehingga para calon jamaah haji kategori lansia seperti ibunya dapat terpilih untuk berangkat tahun ini.

Ditemui terpisah, Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kantor Kementerian Agama Kota Banjarmasin H Burhan Noor mengatakan, Mama Idil termasuk dalam kloter 19 yang akan masuk Asrama Haji pada tanggal 3 Agustus 2019 dan berangkat ke Tanah Suci hari berikutnya.

Burhan juga menjelaskan terkait kuota tambahan, dimana dari 10.000 jamaah, Kalsel mendapatkan jatah 324 orang dan termasuk di dalamnya untuk Kota Banjarmasin 58 orang.

Adapun kategori terseleksi dijatah 50 persen untuk urut umur paling tua hingga ke bawah sampai 75 tahun dan 50 persen nomor porsi selanjutnya.Berita Terkait

“Setelah ada kepastian tambahan kuota, lalu dibuka pelunasan tahap ketiga dan ada 49 orang melunasi dengan rincian 30 lansia dan pendamping serta 19 orang untuk nomor porsi selanjutnya. Kemudian masih ada tersisa dari jatah 324 orang tadi, ditambah lagi sembilan orang terdiri dari empat lansia dan lima orang nomor porsi selanjutnya,” kata Burhan sembari mengatakan jika tahun ini total untuk kota Banjarmasin 690 jamaah calon haji yang berangkat.

Berdasarkan data Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Selatan, calon jamaah haji yang terdaftar melakukan setoran awal haji sebanyak 118 ribu orang. Itu artinya, masa tunggu jika daftar sekarang, maka perkiraan 31 tahun baru dapat giliran berangkat.

Jamaah Haji Suriah, Kesabaran Yang Tak Berbatas

Seorang jamaah haji Suriah. Dia kehilangan istrinya, lima anak, rumah, dan tanah airnya. Tragedi dan bencana yang ia alami di tanah airnya, Suriah, bertubi-tubi menimpanya tanpa jeda di saat ia telah tua. Meskipun banyak kehilangan dan mengalami duka lara, ia tetap membulatkan niatnya untuk datang berziarah ke Baitullah al-Haram untuk mendoakan tanah airnya. Jiwa yang rapuh itu ia kuatkan. Perasaan yang lebur berkeping-keping, terus ia tata untuk terus istiqomah tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Nama pria tua asal Suriah itu adalah Muhammad Husein. Ia mengatakan, “Saya di Mina dengan tubuh yang cacat dan perasaan yang hancur. Perang di Suriah telah merenggut seluruh keluarga saya –istri dan lima anaknya-, dan jari-jari tangan kanan saya pun lumpuh karena luka tembak.”

Husein menceritakan kepada surat kabar al-Hayat bahwa semua anggota keluarganya meninggal ketika rumahnya di Aleppo rata berubah menjadi puing-puing oleh serangan jet tempur pasukan pemerintah Suriah. “Tidak ada yang selamat dari serangan itu. Kami menyeret semua mayat dari reruntuhan kemudian menguburkan mereka. Sejak saat itu, saya pun hidup sendiri.” katanya.

Ia melanjutkan, “Mimpi yang telah saya idam-idamkan selama lebih dari 50 tahun, melihat anak-anak saya menikah dan hidup bahagia, sirna begitu saja oleh hujan bom pada hari itu.”

Dengan kesedihan, ia tetap melanjutkan ceritanya, “Selain kehilangan istri, anak-anak, dan tempat tinggal, saya juga merasakan kehilangan yang sangat besar, yaitu kehilangan negeri saya Suriah. Negeri yang direnggut oleh Presiden Bashar al-Assad dan kroni-kroninya.”

Husein menggambarkan perang adalah sebuah “kutukan”, tapi ia tetap menasihatkan agar rakyat Suriah tetap bersabar atas apa yang menimpa mereka. Betapapun lamanya bencana ini menghujam malam-malam Suriah, suatu hari ia pun akan berakhir.

Dalam kesabaran dan harapan terhadap rahmat Allah, cinta dan kasih sayangnya terhadap anak dan istrinya terus hidup di sanubarinya. “Mereka selalu terukir di dalam hatiku. Mungkin dari luar, orang-orang melihatku seolah-olah tidak apa-apa. Namun di dalam ragaku, kurasakan luka besar yang menganga karena kehilangan mereka.”

Pelajaran:

Pertama: Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Sebgaimana firman Allah,

لَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).

Berharap jalan keluar dan rahmat dari Allah adalah sifat orang yang beriman. Sedangkan berputus asa dari rahmat Allah adalah sifat orang-orang kafir.

Kedua: Sabar terhadap takdir dan ketetapan Allah. Muhammad Husein ditimpa ujian yang sangat berat dengan kehilangan keluarga, harta, tanah air, bahkan anggota tubuhnya, namun ia tetap bersabar atas ketetapan Allah. Lebih dari itu, ia juga mengajak agar semua rakyat Suriah bersabar.

Ketiga: Berprasangka baik terhadap Allah. Muhammad Husein tidak mencela Allah atas duka lara yang ia terima. Ia terus berprasangka baik kepada Allah dengan keyakinan semua musibah itu akan berakhir pada waktu yang Allah tetapkan.

Keempat: Semakin dekat kepada Allah saat mendapatkan ujian. Banyak orang ketika mendapatkan ujian, ia malah menjauh dari Allah. Ujian yang ia terima, direspon dengan malas beribadah, atau bahkan bermaksiat kepada Allah, wal ‘iyadzubillah. Hal ini sama saja dengan mendapat musiah terbesar karena kehilangan Allah. Muhammad Husein merespon ujian yang ia terima dengan cara yang sangat positif. Ia semakin dekat dengan Allah, dengan menunaikan haji ke Baitullah.

Kelima: Tetap berdoa meminta kebaikan terahadap tanah air. Pemandangan di Suriah adalah pemandangan yang mengenaskan. Melihat apa yang terjadi di sana, seolah-olah tidak ada lagi harapan untuk hidup. Setiap jengkal adalah gedung yang hancur, darah yang mengalir, mayat yang terkapar, atau derai air mata dan kelaparan. Namun Husein tetap mendoakan negerinya. Demikian juga semestinya kita rakyat Indonesia, tetap mendoakan kebaikan untuk negeri kita dan pemimpin-pemimpin kita.

Keenam: Semangat berhaji di tengah berbagai kekurangan yang dialami.

Sumber: saudigazette.com.sa

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Read more https://kisahmuslim.com/4623-jamaah-haji-suriah-kesabaran-yang-tak-berbatas.html

Kakek Ini Menjual Kebunnya Untuk Berangkat Haji Bersama Istrinya

Ia memang sudah tua. Ia juga sangat miskin tak berpunya. Tapi hatinya kaya dan bahagia.

Seorang pria India, yang bernama Muhammad Said, usia 70-an tahun, beberapa bulan lalu menjual perkebunan kecil miliknya. Perkebunan itu adalah satu-satunya sumber penghidupannya dan istrinya. Ia sudah membulatkan tekad untuk menjual harta satu-satunya itu untuk menggenapi biaya menuju tanah suci bersama sang istri.

“Saya tidak punya pilihan lain selain menjual perkebunan kecil saya.” kata Muhammad Said kepada kepada surat kabar Al-Watan. Ia dan istrinya yang sudah sama-sama sepuh harus berkorban untuk dapat datang ke Arab Saudi untuk memenuhi rukun Islam kelima.

Pada tahun 1435 H atau haji tahun 2014 M, Allah mengundang Muhammad Said beserta istri datang ke rumah-Nya yang mulia.

“Pengorbanan kami adalah murni untuk Allah. Kami senang berhasil sampai ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji.” katanya.

Saat diwawancarai, Said dan istrinya sedang berada di Mina bersama jamaah haji India lainnya.

Ia kembali bercerita “Ini adalah pertama kalinya saya dan istri menunaikan ibadah haji.”

Dia mengatakan sejak dahulu, ia sudah berkali-kali berpikir untuk datang ke Arab Saudi, menunaikan rukun Islam yang kelima ini. Namun keadaan ekonominya saat itu tidak memungkinkannya untuk mewujudkan cita-citanya yang mulia ini. “Saya tidak bisa mengumpulkan uang yang dibutuhkan untuk perjalanan haji. Saya tidak bekerja. Satu-satunya sumber pendapatan untuk saya dan istri adalah pertanian kecil kami.” katanya.

Said mengatakan, selama di Arab Saudi, ia telah beberapa kali shalat dan berdoa di dekat Ka’bah yang suci. “Setiap kali saya shalat, saya merasa gembira. Saya juga menyukai suara imam Masjid al-Haram saat mereka melantunkan Alquran saat shalat.” katanya.

Dia berkesan, rasaya sulit dipercaya bahwa dia benar-benar shalat dan berdoa menghadap Ka’bah dalam Masjidi al-Haram.

“Saya merasa seolah-olah saya baru lahir ketika saya pertama kali menjejakkan kaki di Arab Saudi.”

Said mengatakan selama bertahun-tahun ia sangat ingin berhaji, namun kendala keuangan datang di tengah jalan. Sampai akhirnya ia berpikir untuk menjual tanah perkebunannya.

“Saya memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah, dan saya tidak menyesal menjual perkebunan itu demi datang ke rumah Allah.” katanya.

Dia mengatakan dia yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan ganti dengan peternakan lain atau memberinya sumber pendapatan lain ketika ia kembali ke rumahnya di India.

Pelajaran:

– Jika hati kita jujur menginginkan datang ke Baitullah al-Haram, maka Allah akan mengundang kita datang ke sana menjadi tamunya. Allah akan mencukupkan yang kurang dan memberikan kesehatan.

– Orang yang beriman itu rindu datang ke rumah Allah.

– Orang yang miskin dan tua mengorbankan jiwa dan hartanya untuk datang berhaji ke Baitullah, bagaimana dengan orang-orang yang mampu dan sehat? Apakah mereka beralasan Allah tidak mengundangnya?

Sumber: saudigazette.com.sa

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)

Read more https://kisahmuslim.com/4617-kakek-ini-menjual-kebunnya-untuk-berangkat-haji-bersama-istrinya.html

Pergi Haji karena Menolong Anak Yatim

SEJAK muda, Zaid bin Ali bersama istrinya telah bermimpi untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, pergi haji. Kondisi ekonomi yang sederhana membuat keduanya rajin menabung. Saat ini, ketika usia mereka sudah cukup tua, tabungan merekapun sudah cukup untuk bekal pergi ke tanah suci Mekah.

Suatu hari pada saat akan membeli keperluan haji, mereka bertemu dengan dua orang kakak beradik bertubuh sangat kurus dan menyedihkan. “Mengapa tubuhmu sangat kurus begitu, nak? Apakah kalian kelaparan?”

Kedua bocah tersebut menggeleng. “Kami sudah terbiasa dengan rasa lapar sejak kami hidup sendiri tanpa orangtua,” ujar salah satu di antaranya.

“Apakah orangtuamu sudah meninggal?”

Anak tadi, yang mungkin adalah sang kakak, kembali menjawab. “Mereka meninggal saat rumah kami terbakar. Saat itu kami selamat karena sedang menginap di rumah kerabat.”

“Lalu, bagaimana dengan kerabatmu?” kata Zaid.

“Karena jatuh miskin, mereka justru menelantarkan kami. Tapi kami bersyukur masih saling memiliki.” Kali ini sang adik yang menjawab. “Kami juga terserang penyakit aneh yang membuat tubuh kami kurus kerontang seperti ini. Tentu saja kami tidak memiliki uang untuk berobat.”

Zaid dan istrinya melemparkan pandangan satu sama lain. Lalu, bersamaan mengalihkannya kepada dua bocah tersebut. Mereka menatapnya. “Anak-anakku, awalnya kami akan pergi berhaji. Namun kami rasa uang yang kami miliki jauh lebih bermanfaat untuk kalian. Sepertinya ini adalah jalan Allah dalam mempertemukan kita semua.”

Akhirnya Zaid dan istrinya memutuskan untuk mengasuh keduanya dan membatalkan untuk pergi haji. Bocah kakak beradik tersebut pun sembuh dan tumbuh sehat di bawah asuhan Zaid dan istrinya. Pasangan tersebut bersyukur karena Allah menghadirkan dua anak yang saleh, setelah sekian lama mereka berdoa juga untuk dianugerahi buah hati.

Batalnya haji Zaid dan istri pun bukan berarti mereka tidak menunaikan rukun Islam yang kelima. Sebaliknya, karena merekalah, semua orang yang menunaikan haji pada saat itu diterima hajinya, tak terkecuali Zaid dan istri.

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini.” Kemudian beliau shalallahu waalaihi wa salam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya, serta agak meregangkan keduanya. (HR Bukhari) [An Nisaa Gettar]

 

 

Serba-serbi Haji (28): Tak ada Rotan, Akarpun Jadi

POPULARITAS Mat Kelor memang sudah melampaui keterkenalan saya. Di manapun saya berada, ada saja yang bertanya kabar Mat Kelor, di mana dia dan bagaimana kisahnya. Di Palu Sulawesi Tengah sudah ada 5 orang yang bertanya tentang dia. Saya telpon dia mengabarkan keterkenalannya ini, dia cuma tersenyum menjawab ringan: “Semoga itu bagian tanda-tanda haji mabrur.”

Mat Kelor bercerita bahwa semalam ada kasus menghebohkan di kampungnya dan dia menanyakan pandangan hukum Islam kepada saya. Ada orang meninggal yang tadi malam harus dikuburkan. Kebetulan Pak Kiainya sedang keluar kota, jadi tak ada yang bisa membaca talkin di atas kuburan, tradisi yang hidup di masyarakatnya Mat Kelor. Banyak orang yang sepakat bahwa Mat Kelorlah satu-satunya yang paling layak mewakili kiai membaca talkin.

Mat Kelor tetap tak mau. Dia geleng kepala. Bukannya karena tak bisa baca tulisan Arab. Tapi ternyata Mat Kelor sangat phobia kuburan malam hari. Takut sekali dia untuk lewat kuburan malam hari. Apalagi cuaca mendung terlihat akan turun hujan. Masyarakat memaksanya dan siap mengawalnya. Akhirnya Mat Kelor berangkat ke kuburan. Surban terbaru dipasangnya, dia dikawal lelaki yang membawa lampu tepat di belakang kereta jenazah.

Saat tiba di kuburan, Mat Kelor mulai gelisah. Penguburan selesai, tiba giliran Mat Kelor membaca talkin. Hujan rintik mulai turun. Saat pembacaan dimulai, sebagian pengunjung mulai mundur dan pulang. Saat pembacaan talkin sudah separuh hujan mulai lebih terasa. Konsentrasi Mat Kelor mulai memudar, lalu dia tolah toleh ternyata hanya tinggal pembawa lampu yang masih bertahan. Mat Kelor gemetar takut, tak kuasa melanjutkan talkin itu. Buku talkinnya dimasukkan ke dalam tumpukan tanah kuburan baru itu sambil teriak dan pergi: “Lanjut baca sendiri ya.”

Mat Kelor lari, pembawa lampu juga. Lalu dia bertanya bagaimana hukumnya? Saya tak kuasa menjawab karena masih tertawa sampai sekarang. Salam, AIM [*]

INILAH MOZAIK

Serba-serbi Haji (27): Kesantunan Pijat Madura

ADA banyak kesamaan tradisi di beberapa tempat yang masih memegang kuat tradisi bahwa bertamu kepada orang yang baru datang haji adalah salah satu cara mendapatkan keberkahan hidup. Tradisi seperti ini sangat kental dianut masyarakat Madura. Biasanya, orang yang baru datang dari haji tidak akan pergi kemana-mana sebelum 40 hari. Bahasa masyarakat, malaikat yang menyertainya semenjak haji bertahan sampai 40 hari.

Bukan tanpa dasar keyakinan ini. Dalam kitab Hasyiatul Jamal malah dinyatakan: “Sebagian ulama mengatakan bahwa permintaan doa ini dapat dilakukan hingga 40 hari sepulangnya dari rumah. Dalam kitab Ihya Ulumuddin diterangkan berdasarkan cerita dari sahabat Umar ra. Keadaan ini dapat diberlangsungkan hingga akhir bulan Dzulhijjah, Muharram dan dua puluh hari Rabiul Awwal.” Itu kan? Orang Madura tak sembarangan. Mat Kelor adalah memegang erat tradisi ini.

Tamu Mat Kelor begitu banyak sampai badannya ngilu-ngilu dan pegal-pegal kurang istirahat. Tadi malam, dia mengundang tukang pijat untuk memijat dan menginjak badannya. Biasanya setelah dipijat dan diinjak-injak, tubuhnya bugar kembali, alira darah dan oksigen menjadi lancar katanya. Celakanya, tukang pijatnya hanya mau memijat tapi tak mau menginjak tubuh Mat Kelor.

Mat Kelor kaget tumben tukang pijat ini tak mau menginjak badannya. Ditanyakanlah alasannya. Tukang pijat ini menjawab dengan aksen Madura yang kental sekali: “Pak Haji ini baru seminggu datang haji. Malaikat masih bersama Bapak. Saya tidak sopan kalau menginjak Bapak. Bagaimana kata malaikatnya nanti?” Mat Kelor bisa memahami, manggut-manggut. Tapi karena pegalnya sangat parah dam serius, Mat Kelor menjawab: “Sudah injak saja. Malaikatnya juga pegal-pegal capek, minta diinjak juga.”

Tukang pijat itu nurut kepada Mat Kelor, menginjaknya pelan-pelan. Seorang Ustadz bernama Ustadz Zainal Abidin Pamekasan yang menyaksikan dialog dua orang ini tak kuasa menahan tawa. Saya pun tertawa mendengar kisah ini. Ya kok ada malaikat pegel-pegel dan ngilu-ngilu. Akhirnya, setelah dipijat dan diinjak, Mat Kelor istighfar. Salam, AIM. [*]

Serba-serbi Haji (26): Revolusi Industri 4.0 Haji

PAGI ini saya sedang di perjalanan menuju Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo untuk memberikan kuliah umum (studium general) dengan judul “Fourth Industrial Revolution and The Future of Islamic Education in Indonesia” (Revolusi Industri 4.0 dan Masa Depan Pendidikan Islam Indonesia). Temanya menarik, semoga saya bisa menjelaskannya juga dengan menarik.

Karena saya baru saja tiba dari luar kota dan sekarang berangkat lagi, tak sempat lagi saya untuk membuka literatur-literatur baru. Iseng-iseng saya telpon Mat Kelor untuk “konsultasi.” Memang dia bukan sarjana, namun saya suka ide-idenya yang kadang-kadang unik dan “out of the box” (di luar dugaan publik). Minimal, selalu saja saya mendapat contoh baru darinya.

Setelah saya sampaikan definisi sederhana revolusi industri 4.0 sebagai era di mana smartphone, smart computer dan smart technology menjadi instrumen utama semua aktivitas keseharian manusia, Mat Kelor tertawa terbahak-bahak. Saya kaget ada apa. Ternyata dia punya pengalaman unik kemaren sore saat mau isi bensin sepeda motornya (jenis MOGE Harley Davidson) di POM Bensin.

Mat Kelor menyodorkan uang ke petugas POM sambil berkata: “Pertamax Full Tank” (Tangki penuh, Pak). Petugas menjawab tidak bisa. Mat Kelor kaget mengapa tak bisa, apa karena tangkinya kebesaran atau apa Pertamaxnya kosong atau gimana. Petugas tetap geleng kepala. Lalu Mat Kelor dengan nada agak tinggi sedikit bertanya: “Memang kenapa?” Petugas menjawab: “Uang Bapak bermasalah, pertama karena itu uang real Arab, kami tak menerima uang asing. Kedua, ini uang hanya 10 real senilai 40 ribu, mana cukup?” Mat Kelor tersipu malu sambil minta maaf dan mengganti uang itu sambil berkata: “syukran.”

Mat Kelor menyampaikan kepada saya bahwa harusnya fasilitas umum di era revolusi industri itu semua bisa menerima dan membaca uang internasional. Katanya, Arab Saudi itu sudah lebih maju karena bisa bertransaksi memakai rupiah, real, dollar, ringgit dan lainnya. Hahaaa, rupanya pengalaman haji Mat Kelor sangat membekas.

Pendidikan Islam di Indonesia masa kini dan masa yang akan datang harus mampu mengakses semua sumber keilmuan dari berbagai tempat di dunia ini. Kecanggihan teknologi komunikasi dan jaringan harus dipelajari dan dimanfaatkan. Jika tidak, maka pendidikan Islam akan jalan di tempat di saat yang lain maju ke depan, sehingga akhirnya tertinggal jauh di belakang.

Mat Kelor lalu bertanya kepada saya: “Bolehkah pelaksanaan ibadah haji itu memanfaatkan kecanggihan teknologi? Misalnya, thawaf dan sai tanpa jalan kaki melainkan dibuatkan teknologi seperti eskalator datar yang jalan sendiri seperti di airport canggih itu? Bukankah itu lebih aman, rapi dan efektif? Bolehkah lempar jumroh memakai alat mainan elektronik pistol-pistolan? Ini kan bisa mengurang kemacetan karena bisa “melempar” dari jarak jauh?”

Saya terhenyak dengan pertanyaan canggih ini larena keluar dari mulut seorang Mat Kelor yang tak pernah lulus sekolah, SD sekalipun. Ketika saya jawab, dia ngakak dan saya pun tertawa. Salam, AIM. [*]

 

 

Serba-serbi Haji (25): Sinergi Harapan dan Doa

TAMU yang ziarah haji ke Haji Mat Kelor tak putus-putus. Sudah dua sapi disembelih untuk dihidangkan kepada para tamu. Tak hanya tetangga dekat yang datang berkunjung. Orang jauh yang belum dikenalpun banyak yang berziarah. Ingin mengenal lebih dekat Mat Kelor, kata mereka. Mereka setia mengikuti tulisan serba-serbi haji yang saya tulis.

Ada banyak yang bertanya rahasia sukses Mat Kelor, dari posisi sebagai orang terpinggirkan sampai menjadi orang terpandang, dari posisi ‘zero’ sampai menjadi ‘hero,” dari orang miskin menjadi orang kaya. Dengan santai Mat Kelor berpantun: Anak ayam turun delapan// Mati satu tinggal lah tujuh// Hidup harus penuh harapan//Jadikan itu jalan yang dituju. “Kalian harus memupuk harapan, jangan putus asa.” Para tamu manggut-manggut.

Ternyata, sesederhana apapun kalimat, kalau diucapkan orang kaya, banyak orang yang terpukau dan percaya. Seindah apapun kalimat kalau diucapkan orang miskin maka hanya dianggap angin lalu, minimum dianggap sebagai copy paste atau dianggap sebagai riwayat palsu. Itulah fakta kebanyakan manusia. Nasib Mat Kelor memang lagi mujur.

Mat Kelor berkisah masa lalunya yang kelam dan melarat. Kata dia, perpaduan antara harapan, doa dan usaha adalah kuncinya. Upayakan porsi doa adalah lebih besar dari usaha, maka akan hadir keajaiban. Naik haji plus terasa tidak mungkin akan menjadi takdir Mat Kelor dan istri. Harapan, doa dan usahalah yang menjadikannya sebagai kenyataan. Diceritakanlah panjang lebar. Lalu, wajah Mat Kelor menunduk dan meneteskan air mata. Semua pengunjung terdiam.

“Ada yang belum menjadi nyata, masih menjadi harapan dan doa, puteri saya belum dapat jodoh semenjak putus dengan tunangannya 5 tahun yang lalu.” Semua kaget bagaimana mungkin ada yang berani menolak puteri Mat Kelor yang terkenal itu. Mat Kelor menjelaskan bahwa penyebabnya adalah partai. Lalu ramailah perbincangan tentang efek politik yang selalu saja mampu merusak cinta dan persahabatan. Namun ada yang bertanya-tanya apa Mat Kelor aktif di partai?

“Pak Haji Mat Kelor partai apa dan yang menolak dari partai apa? Sungguh tidak akan saya pilih dalam pemilu yang akan datang.” Mat Kelor menjawab: “Gara-gara partai besar dan partai kecil. Tapi bukan partai politik. Calon besan itu pedagang partai grosiran sementara saya waktu itu adalah pedagang partai eceran. Gara-gara itu saja.” Hahaaa, hidup partai Mat Kelor. Salam, AIM. [*]

KH AHMAD IMAM MAWARDI

INILAH MOZAIK

Serba-serbi Haji (24): Keliling Akhirat Jetlag?

JETLAG adalah istilah yang sangat populer di kalangan para pelancong dunia, mereka yang terbiasa terbang melintasi beberapa zona waktu. Biasanya diterjemahkan dengan gangguan ritme tidur, ngantuk berat di saat manusia normal masih segar melek dan segar melek saat kebanyakan orang ngantuk. Ternyata, jetlag itu bukan hanya gangguan ritme tidur, melainkan juga ritme rasa kenyang lapar. Ritme sirkadian yang terganggu, hormon yang melatonin yang tak lagi normal.

Rata-rata jamaah haji mengalami ini, termasuk saya dan Mat Kelor. Tak jarang saat menerima kunjungan tamu sambil menguap ngantuk. Biasanya Mat Kelor beralibi: “Jam ngantuk di Arab ini. Mohon dimaklumi. Ngantuknya jamaah haji itu dijaga malaikat.” Para tamu biasanya senyum-senyum sambil menghabiskan kurma dan jajanan Arab yang dibawa dari tanah suci. Namun bagaimanapun kita tetap melayani mereka dengan kisah indahnya haji, suka duka di tanah suci.

Orang yang tak terbang kemana-mana tak mengalami jetlag. Terbang di wilayah satu zona waktu saja tak mengalami jetlag. Guru alif ba ta tsa Mat Kelor berkata: “Manusia yang pikiran dan hatinya tak anteng atau tak istiqamah dalam urusan akhirat biasanya akan mengalami jetlag kehidupan, ritme hidup yang tak normal. Normalnya, manusia itu adalah makhluk langit, binatang beragama. Saat manusia menjauh pergi dari zona agama, dia pasti mengalami jetlag berupa kebingungan tak berujung.”

Saya senang sekali dengan kesimpulan sang guru. Setelah saya amati ritme hidup ahli ibadah, begitu tenangnya mereka dalam menjalani hidup walau dalam keterbatasan. Sebaliknya, saat melihat orang yang selalu terbang urusan dunia dengan melalaikan akhirat, begitu kacaunya rasa dan hormon kebahagiaan mereka, terus sedih dan menangis di tangah zona yang harusnya bahagia dan tertawa.

Saya coba intip penjelasan ulama tentang hakikat hidup menurut al-Qur’an. Ternyata jaminan bahagia hakiki itu diberikan Allah hanya bagi orang yang beriman, hatinya terikat kuat dengan nilai-nilai keakhiratan. Mat Kelor menyebut potongan ayat: “Alladziina yu’minuuna biLLAHI wal yawmil aakhir.” Guru huruf hijaiyah Mat Kelor tersenyum sambil berkata: “Sejak kapan kamu hapal potongan ayat?” Mat Kelor menjawab: “Sejak mengistiqamahkan diri shalat tepat di belakang imam masjidil haram.” Pantas, pikir saya, Mat Kelor sangat awal kalau berangkat ke masjid. Bagaimana dengan kita?

Ingin tak jetlag dalam kehidupan? Jangan muter-muter urusan isi dompet terus. Fokuslah pada urusan isi hati dan kotak amal kehidupan akhirat. Salam, AIM. [*]

KH Ahmad Imam Mawardi

Serba-serbi Haji (23): Mat ‘Robot’ Kelor Mendarat

TEPAT saat pesawat yang kami tumpangi mendarat menyapa tanah air Indonesia, air mata Mat Kelor deras mengalir. Awalnya dia sesenggukan pelan, kemudian semakin menderu.

Saya memeluknya, dia berkata: “Saya ini anak orang tak punya, saya diperkenankan haji. Allaaah.” Saya cuma berbisik untuk selalu bersyukur. Baju yang dikenakannya semenjak dari Madinah, yakni 5 lapis baju tetap dikenakannya. Entah sumuk atau tidak, nyaman atau tidak. Namun bahagia hati mampu menepis semua ketaknyamanan sebagaimana hati yang gelisah tak kan mampu menikmati kenyamanan.

Saya berusaha membuatnya tersenyum biar wajahnya menjadi berseri. Saya ceritakan kepada Mat Kelor sebuah kisah lucu di pemeriksaan X-Ray bandara Madinah. Seorang nenek 83 tahun membuat bingung polisi bandara gara-gara setiap memasuki gerbang pemeriksaan selalu saja berbunyi tanda ada barang yang dilarang terbawa olehnya. Padahal sabuk, sandal, gelang, cincin dan semua yang mengandung besi tembaga sudah dicopotnya. Polisi curiga dan marah-marah dalam bahasa Arab. Nenek itu diam karena tak paham. Diam dan kemudian memanggil saya sambil menangis sampai mulutnya menganga lebar.

Dari situ saya baru tahu penyebabnya mengapa nenek itu tak lolos-lolos pemeriksaan. Lalu saya sampaikan ke polisi. Tahu apa sebabnya? Ternyata gigi-gigi nenek itu hampir semua berlapis emas dan tembaga, khas orang kaya jaman dulu. Tak mungkin dicopot sebelum masuk gerbang. Polisi itu tertawa ngakak sampai guling-guling. Di Arab tidak ada model begini kata mereka. Mendengar cerita ini, Mat Kelor tertawa sambil menghapus air matanya.

Ketika antri pengambilan bagasi, Mat Kelor bersedih kembali. Saya heran mengapa Mat Kelor yang lucu, periang dan ekstrovert menjadi melow. Rupanya satu bagasi yang full oleh-oleh tak ada. Di dalamnya ada cermin, kurma dan minyak wangi. “Yang kusedihkan adalah gagalnya diriku untuk membahagiakan orang-orangku di kampung,” ucapnya.

Orang-orang sudah mulai meninggalkan lokasi pengambilan bagasi. Mat Kelor kumat-kamit membaca “mantra” berbahasa Madura, mantra yang hanya boleh dibaca saat kepepet, katanya. Tiba-tiba, kardus oleh-oleh itu terlihat ada bersama istrinya, tertutupi kakinya yang diangkat ke atas kardus itu karena ngilu asam uratnya naik. Mat Kelor tersenyum.

Nenek dengan gigi emas tadi ketemu lagi dengan saya dan saya kenalkan dengan Mat Kelor. Mat Kelor berbincang agak serius dengan nenek itu. Entah tentang apa. Lalu dia memuji kesungguhan semangat ibadah nenek itu. Nenek itu menjawab singkat: “Syukran.” Mat Kelor membalas: “Hambali.”

Nenek itu sebelum berpisah berkata dengan nada sedih menahan rasa: “Nak, sekarang aku siap mati, aku ridla dipanggil Allah. Aku sudah sowan ke rumahNya. Kemaren-kemaren aku tidak siap. Masak saya tinggal di bumiNya gratis sekian lama tapi tak mau bertamu ke rumahNya padahal saya mampu.” Kami terharu dengan kata-kata nenek itu. Mat Kelor kembali meneteskan air mata. Tiba-tiba nenek itu pingsan, dan sekarang masih dirawat di klinik bandara.

“Semoga cepat sembuh nenek. Semoga semua orang yang sudah mampu berhaji segera berhaji seperti nenek.” Kami melanjutkan terbang ke Surabaya. Mat Kelor berkata bahwa dalam waktu tak lama akan sowan ke rumah nenek mau membiayai total pemeriksaan dan pengobatan nenek. Saya belum tahu alasannya mengapa Mat Kelor sayang sekali pada nenek padahal baru pertama berjumpa. Memang ada beberapa kesamaan wajah sih di antara keduanya. Sepertinya ada yang ada yang misteri. Besok saya akan tanya Mat Kelor. Selamat datang di Juanda ya Pak Haji Mat Kelor. Salam, AIM. [*]

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK