Ikuti Kehendak Allah

ADA dua perahu kapal laut yang menjadi perbincangan banyak orang sejak dulu hingga kini: kapal Titanic dan perahu Nabi Nuh. Kapal Titanic itu kapal spektakuler di zamannya, dibuat oleh banyak orang dengan teknologi canggih dan fasilitas mewah. Siapa yang tak kagum dan tak terkesima, kapal ini menjadi impian romantis orang-orang berharta.

Sementara itu, perahu kapal Nabi Nuh adalah perahu kapal yang biasa saja. Terbuat dari kayu, dibuat hanya oleh seorang saja dari pohon yang ditanam sendiri pula di musim yang tak memungkinkan ada banjir dan di tempat yang tak memungkinkan “disentuh” air besar, yaitu di gunung. Siapa yang tak mencibir dan siapa yang tak mengolok-olok. Nabi Nuh terus saja berbuat mengikuti keinginan dan perintah Allah.

Kapal Titanic yang hebat itu akhirnya karam, tenggelam membawa seribu satu duka. Sementara perahu kapal Nabi Nuh terus sukses membawa orang-orang taat membawa seribu satu suka hingga selamat dari tenggelam di banjir bandang yang di luar kuasa duga. Yang pertama adalah berdasar keinginan nafsu, yang kedua adalah berdasar perintah Allah. Sudah jelas sekali pembedanya. Masihkah kita ingin naik kapal Titanic ataukah kita akan naik kapal Nabi Nuh?

Mengapa masih banyak manusia kini yang enggan mengikuti perahu yang diwariskan Nabi Nuh? Yakni perahu keselamatan bersama para ulama atau agamawan?

Bacalah ayat tentang kaum Nabi Nuh yang tak taat dan tak mau naik perahu itu. Mereka tenggelam. Mengapa? Allah berfirman: “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 105)

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa kaum Nabi Nuh disebut sebagai mendustakan para rasul (jamak) padahal yang didustakan hanyalah Nabi Nuh seorang (tunggal)? Jawabnya adalah karena risalah tauhid para rasul itu adalah sama. Mendustakan satu berarti mendustakan semua.

Ikuti kehendak Allah, jalani takdir, jangan melawannya dengan penuh amarah.

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

INILAH MOZAIK

Tertawa Bahagia Bersama Jamaah Tertua

USAI maghrib saya berkesempatan isi kajian di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya berbicara tentang inti sari kitab Mu’idun Ni’am wa Mubidun Niqam (Pengembali Nikmat dan Penghapus Niqmat atau derita). Kitab ini memuat sesuatu yang paling rahasia yang jarang dipahami banyak orang. Mengetahuinya dan mengamalkannya bisa dipastikan menjadi manusia bahagia.

Dalam kajian itu saya sempat bercerita orang China yang usianya mencapai 256 tahun yang sebelum meninggal dunia sempat membuka rahasia panjang umurnya. Kalau didetailkan tak kan cukup status pendek ini menjelaskannya. Secara global, rahasianya ada 3: makanlah sayuran hijau dan real food lainnya, olah ragalah dan jangan biarkan stress, sedih serta galau menghuni hati.

Saya bercerita kisah itu saat menjelaskan bahwa mengeluh itu tak pernah diciptakan untuk membahagiakan. Yang membahagiakan adalah bersyukur penuh ridho atas segala apa yang terjadi. Jangan dibuat galau, tonton saja dan jalani saja sambil mengambil hikmah dari yang terjadi. Mudah diucap, namun sulit menjadi sikap. Kita butuh belajar dan latihan

Seusai kajian, jamaah tertua, Pak Marzuki, yang mengaku akrab dengan malaikat maut sehingga beliau itu tidak dicabut-cabut nyawanya, mendekati saya untuk bercerita. Sambil tersenyum beliau pamerkan ototnya yang masih kuat dan jalannya yang masih normal.

Lalu beliau tunjukkan giginya sambil berkata: “Gigi saya ini masih utuh dan asli. Bahkan, kepala saya ini juga adalah asli.” Saya ketawa bahagia mendengar kisahnya. Apakah Anda juga tertawa? Tunjukkan gigi Anda.

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

IILAH MOZAIK

Sengsara Membawa Nikmat

SEORANG nenek dari salah satu kabupaten di Jawa Timur menunaikan ibadah haji. Nenek yang pekerjaannya pedagang pasar ini mengalami lumpuh kaki sejak lama sebelum menunaikan ibadah haji ini. Kursi roda menjadi “kaki” nya kemana beliau pergi, termasuk ke tanah suci ini. Seorang keluarga pendamping juga ikut ke tanah suci sebagai pendorong kursi roda.

Jarak tempuh yang cukup jauh untuk mendorong kursi melelahkan juga. Saudaranya itu kecapekan dan mengusulkan agar menyewa orang Arab saja untuk mendorong. Tak ada masalah dengan ongkos, yang penting tak membuat semakin capek. Lumayan cepat juga orang Arab itu mendorong. Tak dinyana, kursi roda itu menabrak pembatas jalan seperti polisi tidur namun bergigi-gigi besi terbalik itu. Sang nenek tersungkur ke aspal dan wajahnya terluka.

Semua yang melihat kejadian ini teriak iba. Nenek ini tersulut emosi lalu dengan cepat berdiri berjalan mau memukul si Arab pendorong itu. Saat mau memukul, saudaranya bertakbir dan bertahmid bersyukur kepada Allah karena nenek itu ternyata telah bisa berdiri dan berjalan. Nenek itupun kaget dan menangis bahagia menyadari keajaiban di balik musibah ini. Marahnya mereda berganti bahagia.

Sahabat dan saudaraku, ada banyak bentuk kebahagiaan yang Allah titipkan di balik musibah. Bersabarlah. Tapi jangan coba-coba orang lain didorong jatuh biar dapat keajaiban. Jalan kisah tak selalu sama. Namun yakinlah bahwa Allah tak akan mengecewakan hambaNya yang sabar dan baik. Salam, AIM. [*]

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

MOZAIK

Nikmat Baru Terasa Kalau Sudah Tiada

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

BANYAK sekali nikmat yang kita lupa untuk mensyukurinya hanya karena kita sudah terbiasa dengan nikmat-nikmat itu. Bisa bangun pagi, makan pagi dan berangkat kerja pagi-pagi adalah anugerah luar biasa. Namun jarang sekali kita mensyukuri itu semua.

Bertemu dengan sahabat, tetangga dan saudara-saudara kita adalah anugerah, tapi jarang juga untuk menyukurinya bukan? Kita lupa karena kita belum atau jarang sekali dicoba Allah untuk hidup tanpa itu semua.

“Kalau sudah tiada, baru terasa,” begitu kata Bang Haji Rhoma Irama. Nikmat itu baru dirasa berharganya ketika dicabut dan hilang alias tak lagi menjadi milik kita. Biasanya, nikmat itu tak akan begitu kerasan bersama kita ketika kita tidak mengapresiasinya, menghargainya dan mensyukurinya. Kata pakar apresiasi: “Bukan hanya manusia yang bernyawa yang harus diapresiasi, melainkan semua yang kita anggap sebagai anugerah dalam kehidupan kita.”

Tutur bijak para peneliti nikmat kehidupan berkata: “Syukur dan apresiasi adalah cara termudah dan termurah untuk mengikat nikmat agar senantiasa menjadi milik kita, tak lepas dan tak hilang melainkan tetap dengan penuh kemanfaatan. Lebih dari itu berbagi kenikmatan dan kebahagiaan adalah cara terbaik dan tercepat untuk melanggengkan nikmat bahagia itu dengan kita.”

Kata para pembuat tempe: “Tempe yang dibuat oleh orang yang penuh sabar dan syukur terasa lebih nikmat dibandingkan dengan tempe yang dibuat oleh pemarah dan pengeluh.” Kata para pengamat tape: “Tape yang dibuat dengan perasaan enjoy bahagia terasa lebih manis dan nyaman dibandingkan dengan tape yang dibuat dengan rasa dongkol.”

Bagaimanakah dengan sapaan kita, pekerjaan kita dan segara yang kita lakukan? Apakah penuh syukur atau bahagia? Ataukah penuh keterpaksaan dan kegalauan? Hasilnya pasti beda. Kita kaji tuntas di Pengajian Rutin Sabtu Ashar di Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya.

Salam, AIM@UINSA Surabaya. [*]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2250351/nikmat-baru-terasa-kalau-sudah-tiada#sthash.9YIKMpil.dpuf

Istiqamah Menjadi Sebab Datangnya Pertolongan

BUKAN berniat membunuh optimisme atau mengerdilkan cita-cita, status berikut ini menarik dibaca agar kita berupaya semaksimal mungkin menggunakan kesempatan dan anugerah yang ada dengan sebaik-sebaiknya dan tidak terjebak pada rencara panjang yang melenakan sehingga lupa pada yang ada saat ini.

Menjelang kematiannya, ada seorang pemuda yang gagah dan ganteng menyempatkan diri menuliskan catatan akhir untuk dibaca selepas kewafatannya. Bunyi tulisannya begini: “Jangan terlalu memperpanjang angan dan harap, sungguh umur kita itu jauh lebih pendek ketimbang yang diduga. Daftar keinginanku masih banyak yang belum digapai, malaikat maut sebentar lagi akan sampai, untuk memutus kemungkinan terwujudnya angan dan harap itu.”

Penting sekali bagi kita bersikap realistis. Mensyukuri apa yang ada dan menggunakan kenikmatan di jalan yang diridlai Allah. Senantiasa istiqamah di jalan Allah akan menjadi sebab datangnya petunjuk, bimbingan dan pertolongan Allah untuk senantiasa berada dalam keadaan yang membahagiakan, bahagia hakiki, yakni kebahagiaan kini dan akan datang.

Angan tak selalu menjadi fakta, impian tak selalu menjadi nyata. Ini tidak mesti berarti kita gagal. Selama kita bersama Allah, tafsirkan itu semua sebagai cara Allah memindahkan kita pada kenyataan yang lebih membahagiakan. Allah lebih tahu dari pada kita tentang apa yang terbaik bagi kita. Salam sukses selalu wahai sahabatku dan saudaraku. AIM, Pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. [*]

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

Sumber: Inilah.com

Jangan Menilai Orang dari Pakaiannya

KISAH ini sangat terkenal dan saya senang untuk membuatnya semakin terkenal dengan menceritakan kembali lengkap bersama rasa kagum dan haru saya.

Dulu, ada seorang mahasiswa Universitas Harvard yang terkenal meninggal dunia. Bapak Ibunya datang ke gedung rektorat untuk bertemu dengan pimpinan tertinggi universitas ini. Potongan badannya yang biasa saja dan pakaian yang dikenakannya yang juga biasa saja rupanya menjadi penghalang terwujudnya pertemuan itu, dengan berbagai alasan, walau alasan pastinya adalah “orang biasa tak layak bertemu orang luar biasa.”

Kuat sekali keinginan kedua orang tua ini, menunggu sampai 4 jam untuk akhirnya bisa ditemui. Beliau berdua menyatakan ingin membangun sesuatu di Harvard ini sebagai kenangan atas nama anaknya yang meninggal. Bapak pimpinan marah dan berkata tidak mungkin karena nanti akan banyak tugu di kampus ini. Beliau berdua berkata bahwa yang akan dibangunnya adalah bangunan kampus. Sang pimpinan sinis berkata bahwa bagaimana mungkin mereka yang miskin ini mampu membangun gedung sementara satu gedungnya seharga 7,5 juta dolar AS.

Si istri melirik sang suami sambil berbisik: “Cuma segitu ya mas, ya sudah kalau tidak boleh, kita bangun sendiri di tempat lain.” Pergilah mereka berdua ke Palo Alto California membangun universitas yang saat ini menjadi salah satu favorit di Amerika. Universitas itu bernama Stanford University, dari nama beliau berdua Mr and Mrs Leland Standford.

Jangan biasakan menilai orang dari pakaiannya, dari mobilnya dan dari rumahnya. “Tidak semua yang putih itu lemak, tidak semua yang hitam itu kurma.” Biasakan kita menghormati semua orang karena mereka telah ditakdirkan bertemu kita atas idzin Allah.

Kalau genteng kita bocor, pompa air kita rusak, mobil kita mogok, siapakah yang membantu kita? Orang kaya dan berpangkatkah? Ah tidak, ternyata orang yang biasa-biasa saja yang kadang sering kita remehkan. Selamat merenungkan.

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi, Dosen Pascasarjana UINSA Surabaya.

 

sumber: Inilah.com