Berilah Perhatian pada yang Utama

KALAU ditanya tentang keinginan kita, pastilah kita sampaikan banyak hal mulai dari yang berkaitan dengan perbaikan fisik kita sampai pada perbaikan nasib kita, mulai dari urusan makan kita sampai pada makanan pekerjaan kita, mulai dari urusan duniawi kita sampai pada urusan ukhrawi kita. Ada banyak keinginan.

Misal saja hari ini kita didatangi Malaikat Jibril berbisik pada kita: “Anda punya kesempatan meminta satu hal saja yang pasti dikabulkan,” maka permintaan apakah yang akan kita ajukan? Satu permintaan saja, tidak lebih.

Mendengar bisikan Malaikat Jibril itu tentu akan memaksa kita menseleksi pilihan kita. Yang kita minta pada akhirnya adalah apa yang menurut kita adalah paling penting, paling berharga dan paling utama untuk kebahagiaan kita yang hakiki.

Mulai kini berikanlah perhatian lebih pada satu pilihan pinta kita yang utama itu. Jangan pernah tertipu dengan mendahulukan pilihan lainnya. Buatlah skala prioritas dalam pilihan aktifitas kita. Dahulukan yang wajib, baru yang sunnat. Jangan biarkan yang mubah memalingkan kita atau melalaikan kita dari yang wajib.

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

 

INILAH MOZAIK

Mulailah dengan Niat Baik, Buanglah Niat Tak Baik

PINTU-PINTU pintu menuju bahagia dicari oleh semua orang. Namun tak semua orang sampai ke depan pintu-pintu itu. Yang sampai ke depan pintu, tak semuanya berhasil membukanya.

Ada banyak usaha yang dilakukan untuk membukanya, namun tetap saja tak terbuka. Beberapa kunci yang dianggap kunci yang tepat ternyata gagal juga membuka paksa pintu bahagia itu. Alangkah senang dan nyamannya hidup jika ada yang menolong membukakan pintu itu. Alangkah bahagianya jika yang membukakan pintu itu adalah Sang Pemilik pintu bahagia, yakni Allah. Tapi bagaimana caranya?

Perhatikan dawuh Imam Junaid berikut ini: “Barangsiapa membukakan pintu niat baik untuk dirinya, maka Allah bukakan 70 pintu tawfiq (pertolongan) untuk dirinya.”

Rupanya, kunci paling utama adalah niat yang ada dalam hati kita. Mereka yang mengisi hati dengan niat baik maka akan DIBUKAKAN pintu pertolongan oleh Allah sendiri. Tidak tanggung-tanggung, satu niat baik berbalaskan 70 pintu pertolongan yang dibuka.

Mari kita belajar membersihkan hati kita dari niat tak baik. Mari kita hiasi hati kita dengan kemuliaan niat baik. Jangan ditunda-tunda, mulailah sekarang dengan istighfar, lalu bulatkan tekad “tak ada lagi niat jelek di hatiku.”

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

 

INILAH MOZAIK

Fitnah, Ghibah dan Namimah, Lahan Subur di Medsos

TIGA perilaku negatif dalam judul di atas adalah senjata ampuh untuk meruntuhkan kehormatan dan harga diri seseorang. Ada banyak tokoh yang tidak mempan dibunuh dengan senjata tajam namun bisa roboh dengan tiga senjata bermodalkan mulut itu.

Kalau pada masa dulu, dibutuhkan banyak tenaga dan waktu untuk memfitnah, mengghibah dan menamimah, saat ini hanya butuh beberapa menit dengan menarikan jemarinya di keyboard media sosialnya. Dengan segera, fitnah, ghibah dan namimah itu menyebar.

Dengan tiada sadar, ada banyak orang yang termakan oleh senjata-senjata itu dengan semakin menggemari isu-isu yang tidak jelas dan ikut men-viralkan seviral-viralnya. Samakah dosa sang menebar fitnah dan penyebarnya? Pertanyaan ini tak perlu dijawab karena hati nurani kita pasti sudah menjawabnya sendiri. Masalahnya bukan lagi masalah hukum, melainkan masalah manfaat dan madlaratnya. Umat Islam harus cerdas dalam konsiderasi masalah yang terakhir ini.

Saatnya kita kini berpikir tentang ummat sebagai keseluruhan, bukan sebagai pribadi saja. Kemaslahatan ummat harus benar-benar menjadi perhatian utama. Tanpa begini, maka kesatuan dan kemaslahatan ummat akan mudah tercabik dan terceraiberaikan. Berhati-hatilah menulis dan menyebarkan status atau berita. Tanyakan dulu apa ada muatan kemaslahatan di dalamnya ataukah justru kemadlaratan.

Bukan tidak mungkin bahwa kita sebenarnya tengah diadudomba, namun kita tidak pernah sadar. Ceklah kebenaran berita dan tabayyun lah sebelum dijadikan sebagai bahan berpikir dan berkeyakinan. Tidak semua hati tulus sebagaimana tidak semua lisan lurus. Tidak semua berita itu benar sebagaimana tidak semua cerita itu nyata.

Cerdas dan pintarlah dalam beragama dan bermasyarakat. Jangan mau diadodomba dan diceraiberaikan. Tolak fitnah, ghibah dan naminah, maka kita akan senantiasa kuat dalam persatuan.

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

 

INILAH MOZAIK

Mengapa Kita Diperintahkan Tawakkal?

SEORANG sarjana yang baru lulus S1 tadi ada yang bertanya kepada saya mengapa kita diperintah tawakkal padahal Allah sudah melengkapi kita dengan akal yang jika digunakan dengan baik bisa memikirkan jalan keluar dari setiap permasalahan. Pertanyaannya bagus dan cara bertanyanya juga sopan. Sayang waktu bertanyanya tidak pas, yakni saat saya sedang ngantuk.

Gunakan akal Anda semaksimal mungkin. Namun yakinkah Anda bahwa semua peristiwa itu berlangsung sesuai harapan Anda? Tak pernah adakah peristiwa unik dalam kehidupan Anda yang berlangsung di luar kendali Anda? Itu adalah pertanyaan ringan yang saya kemukakan sebagai jawaban.

Kekuatan atau kemampuan kita terbatas. Sering kita membutuhkan bantuan di luar kita untuk mewujudkan harapan kita. Kita membutuhkan bantuan orang tua kita, saudara kita, sahabat kita dan orang lain. Lebih dari segalanya, kita membutuhkan petunjuk, bimbingan dan pertolongan Dzat Yang Mahaada di mana-mana dan Mahakuasa atas segalanya, yakni Allah SWT.

Selain itu, sesungguhnya kita tak pernah tahu apa yang terbaik untuk kita pada hari ini dan hari esok. Pengetahuan yang sempurna hanyalah milik Allah. Karena itulah maka setelah berusaha dan berdoa, biarlah hidup berjalan dengan kehendakNya. Tak usah lagi mengeluh dan menjual keluhan. Tak usah lagi protes mengapa harus menjadi begini dan begitu. Jalani dengan penuh sabar dan syukur.

Janji Allah: “Siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi harapannya.” Tidak percayakah? Landasi tawakkal kita dengan pengakuan kelemahan kita, pengakuan kesalahan dan dosa kita. Bisa jadi ketaknyamanan jalan hidup adalah karena dosa dan kesalahan kita, bukan karena orang lain.

 

KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK

 

 

 

 

Mengambil Pelajaran dari Cermin

KATA para pengamat: “Ini fakta yang unik bahwa salah satu yang seringkali membuat seorang pemudi itu marah adalah membiarkannya tanpa cermin dalam sehari penuh.”

Kaidah ini juga berlaku pada wanita berumur tapi masih merasa muda atau memang yang ingin memudakan diri lagi. Para pembaca setuju dengan pengamat di atas? Berkaca atau bercermin sebenarnya bernilai netral kok, bisa baik dan bisa juga tidak baik, tergantung kapan dimana dan bagaimananya.

Ada banyak cermin di rumah kita, di kamar mandi, di kamar tidur, di ruang tamu, bahkan di dalam mobil dan di sepeda motor kita. Kadang, dalam tas atau dompetpun ada cermin. Untuk apa cermin itu? Jawabannya semua sama, tidak usah saya perpanjang.

Namun, pernahkah kita merenungkan nilai yang sesungguhnya tertanam dalam cermin itu? Ternyata cermin memberikan pelajaran yang luar biasa kepada kita, yaitu kejujuran melihat orang lain. Cermin tidak melebih-lebihkan dan tidak mengurangi apapun dari obyek yang ingin ditunjukkan wajah aslinya. Yang putih ditampilkan putih, yang hitam ditampakkan hitam. Obyektif apa adanya.

Yang menarik dari cermin ini ialah bahwa walau ia tahu kekurangan atau aib yang dimiliki oleh manusia yang di depannya, kemudian memberitahukannya apa adanya, cermin tak pernah menghina, mencemooh dan menyakiti. Cermin diam saja tanpa mengomentarinya

Berbeda dengan sebagian besar manusia yang begitu mudah menyakiti orang lain saat mendengar sesuatu cela atau aib yang dimiliki orang lain. Disampaikannya dan disebarkannya aib itu dengan kritik dan komentar yang menyakitkan walau pengetahuannya tentang aib itu belum tentu benar, alias sebatas duga.

Tetua Madura berkata: “Akaca ka kaca, jha’ acaca ta’ nyaman bab kakoranganna orng.” Bahasa Indonesianya: “Belajarlah ke cermin, tahu kekurangan orang, tapi tak melukainya”. Menjadi bijak itu perlu. Salam, AIM. [*]

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

INILAH MOZAIK

Kopi dan Inspirasi Kehidupan

ADA pujangga Arab penyuka kopi yang bersastra di tegukan terakhir secangkir kopi pagi yang dihidangkan isterinya. Dengan tersenyum, endapan kopi yang pahit dan hitam itu menjelma menjadi inspirasi kehidupan yang dahsyat.

Dia berkata, “Di sana ada akhir yang pahit bagai kopi, namun membuatmu terjaga dan menjadi lebih hati-hati.”

Kopi. Ya, kopi. Ada yang tak suka kopi. Itu adalah bagian hak asasi yang dilindungi undang-undang. Jangan diprotes apalagi dihina sebagai tak berselera tinggi. Saya saat ini mulai menyenangi kopi, saat saudara baru saya menjelaskan jenis-jenis kopi, manfaat dan filsafatnya. Abah Haji Saimi adalah nama saudara baru saya ini.

Ingin sekali saya berbisnis kopi mengikuti jejaknya, namun langsung dihalanginya dengan berkata: “Jangan, itu bukan jalan kiai. Ada bisnis lain yang cocok untuk Anda.” Saya tunggu petuah bisnisnya, namun hingga kini kalimat halangan itu belum berlanjut menjadi fatwa.

Saya ingin terus bekerja dan berusaha karena saya tak ingin pesantren saya menjadi beban bagi santri dan wali santri. Saya ingin pesantren saya menjadi tempat menempa jiwa berwirausaha para santri, karena Rasulullah juga mengajarkan umatnya bekerja dan mendapatkan keberkahan dari pekerjaan itu. Salah satu tanda keberkahan kerja adalah semakin mendekatnya kerja dan hasil kerja kita kepada Allah.

Saat ini, saya dengan kopi. Dengan tersenyum ikhlas saya berdoa, semoga keberkahan selalu ada dalam hidup kita. Salam kopi, pahit tapi menyegarkan.

 

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK

Pasar dan Pengajian

SAYA hanya bisa geleng kepala, kagum dan terkesima, membaca cerita Syekh Habib al-Abid tentang semangat dan seriusnya masyarakat Bashrah zaman dulu dalam mengaji. Lalu saya badingkan dengan masyarakat zaman kini di manapun termasuk di lingkungan kita sendiri. Sangat kontradiksi. Sangat berbeda.

Beliau berkata: “Suatu hari saya berkunjung ke Bashrah dan saya langsung datang ke pasar. Ternyata hari itu pasar sedang tutup. Saya bertanya kepada penjaga pasar ada apa kok pasar ditutup, apakah ada hari raya atau perayaan tertentu di Bashrah yang saya tidak tahu? Orang itu menjawab bahwa tidak ada hari raya atau perayaan apapun, hanya saja hari ini Syekh Hasan Bashri sedang memberikan ceramah pengajian.”

Ternyata, saat ada pengajian, pasar pun di Bashrah ditutup demi mengagungkan agama Allah. SubhanALLAH, luar biasa. Bandingkan dengan di lingkungan kita, pasar pun pindah ke sekitar pengajian, membuka lapak baru di dalam pengajian. Melihat potensi pasar katanya. Ketika urusan agama terkalahkan, mungkinkah keberkahan diturunkan untuk kita?

Tenang. Jangan tersinggung dan tersindir. Tulisan ini sejatinya sebagai renungan untuk saya dan kita semua untuk lebih peduli pada urusan agama. Pengajian-pengajian yang mencerahkan, menyejukkan dan mendamaikan sungguh sangat dibutuhkan olen masyarakat modern yang rawan gempa ini. Gempa hati, yang saya maksudkan.

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK

Ikuti Kehendak Allah

ADA dua perahu kapal laut yang menjadi perbincangan banyak orang sejak dulu hingga kini: kapal Titanic dan perahu Nabi Nuh. Kapal Titanic itu kapal spektakuler di zamannya, dibuat oleh banyak orang dengan teknologi canggih dan fasilitas mewah. Siapa yang tak kagum dan tak terkesima, kapal ini menjadi impian romantis orang-orang berharta.

Sementara itu, perahu kapal Nabi Nuh adalah perahu kapal yang biasa saja. Terbuat dari kayu, dibuat hanya oleh seorang saja dari pohon yang ditanam sendiri pula di musim yang tak memungkinkan ada banjir dan di tempat yang tak memungkinkan “disentuh” air besar, yaitu di gunung. Siapa yang tak mencibir dan siapa yang tak mengolok-olok. Nabi Nuh terus saja berbuat mengikuti keinginan dan perintah Allah.

Kapal Titanic yang hebat itu akhirnya karam, tenggelam membawa seribu satu duka. Sementara perahu kapal Nabi Nuh terus sukses membawa orang-orang taat membawa seribu satu suka hingga selamat dari tenggelam di banjir bandang yang di luar kuasa duga. Yang pertama adalah berdasar keinginan nafsu, yang kedua adalah berdasar perintah Allah. Sudah jelas sekali pembedanya. Masihkah kita ingin naik kapal Titanic ataukah kita akan naik kapal Nabi Nuh?

Mengapa masih banyak manusia kini yang enggan mengikuti perahu yang diwariskan Nabi Nuh? Yakni perahu keselamatan bersama para ulama atau agamawan?

Bacalah ayat tentang kaum Nabi Nuh yang tak taat dan tak mau naik perahu itu. Mereka tenggelam. Mengapa? Allah berfirman: “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 105)

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa kaum Nabi Nuh disebut sebagai mendustakan para rasul (jamak) padahal yang didustakan hanyalah Nabi Nuh seorang (tunggal)? Jawabnya adalah karena risalah tauhid para rasul itu adalah sama. Mendustakan satu berarti mendustakan semua.

Ikuti kehendak Allah, jalani takdir, jangan melawannya dengan penuh amarah.

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

INILAH MOZAIK

Tertawa Bahagia Bersama Jamaah Tertua

USAI maghrib saya berkesempatan isi kajian di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya berbicara tentang inti sari kitab Mu’idun Ni’am wa Mubidun Niqam (Pengembali Nikmat dan Penghapus Niqmat atau derita). Kitab ini memuat sesuatu yang paling rahasia yang jarang dipahami banyak orang. Mengetahuinya dan mengamalkannya bisa dipastikan menjadi manusia bahagia.

Dalam kajian itu saya sempat bercerita orang China yang usianya mencapai 256 tahun yang sebelum meninggal dunia sempat membuka rahasia panjang umurnya. Kalau didetailkan tak kan cukup status pendek ini menjelaskannya. Secara global, rahasianya ada 3: makanlah sayuran hijau dan real food lainnya, olah ragalah dan jangan biarkan stress, sedih serta galau menghuni hati.

Saya bercerita kisah itu saat menjelaskan bahwa mengeluh itu tak pernah diciptakan untuk membahagiakan. Yang membahagiakan adalah bersyukur penuh ridho atas segala apa yang terjadi. Jangan dibuat galau, tonton saja dan jalani saja sambil mengambil hikmah dari yang terjadi. Mudah diucap, namun sulit menjadi sikap. Kita butuh belajar dan latihan

Seusai kajian, jamaah tertua, Pak Marzuki, yang mengaku akrab dengan malaikat maut sehingga beliau itu tidak dicabut-cabut nyawanya, mendekati saya untuk bercerita. Sambil tersenyum beliau pamerkan ototnya yang masih kuat dan jalannya yang masih normal.

Lalu beliau tunjukkan giginya sambil berkata: “Gigi saya ini masih utuh dan asli. Bahkan, kepala saya ini juga adalah asli.” Saya ketawa bahagia mendengar kisahnya. Apakah Anda juga tertawa? Tunjukkan gigi Anda.

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

IILAH MOZAIK

Sengsara Membawa Nikmat

SEORANG nenek dari salah satu kabupaten di Jawa Timur menunaikan ibadah haji. Nenek yang pekerjaannya pedagang pasar ini mengalami lumpuh kaki sejak lama sebelum menunaikan ibadah haji ini. Kursi roda menjadi “kaki” nya kemana beliau pergi, termasuk ke tanah suci ini. Seorang keluarga pendamping juga ikut ke tanah suci sebagai pendorong kursi roda.

Jarak tempuh yang cukup jauh untuk mendorong kursi melelahkan juga. Saudaranya itu kecapekan dan mengusulkan agar menyewa orang Arab saja untuk mendorong. Tak ada masalah dengan ongkos, yang penting tak membuat semakin capek. Lumayan cepat juga orang Arab itu mendorong. Tak dinyana, kursi roda itu menabrak pembatas jalan seperti polisi tidur namun bergigi-gigi besi terbalik itu. Sang nenek tersungkur ke aspal dan wajahnya terluka.

Semua yang melihat kejadian ini teriak iba. Nenek ini tersulut emosi lalu dengan cepat berdiri berjalan mau memukul si Arab pendorong itu. Saat mau memukul, saudaranya bertakbir dan bertahmid bersyukur kepada Allah karena nenek itu ternyata telah bisa berdiri dan berjalan. Nenek itupun kaget dan menangis bahagia menyadari keajaiban di balik musibah ini. Marahnya mereda berganti bahagia.

Sahabat dan saudaraku, ada banyak bentuk kebahagiaan yang Allah titipkan di balik musibah. Bersabarlah. Tapi jangan coba-coba orang lain didorong jatuh biar dapat keajaiban. Jalan kisah tak selalu sama. Namun yakinlah bahwa Allah tak akan mengecewakan hambaNya yang sabar dan baik. Salam, AIM. [*]

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

MOZAIK