Sudahkah Kita Mengukir Langit dengan Doa Kita?

JANGAN kosongkan langit dari doa kita. Sungguh rugi jika langit yang begitu luas dan siap menampung segala pinta ternyata sepi dari doa kita. Allah akan memberikan apa yang kita pinta seukur kesiapan pangkalan hati untuk menerima pemberianNya. Hanya pangkalan besar yang bisa menerima pendaratan pesawat besar. Hanya hati yang besar yang akan menerima amanah yang besar.

Melabuhkan harapan kepadaNya adalah awal yang tepat yang akan menjadikan hati tenang dan terus termotivasi. Melabuhkan harapan kepada selainNya adalah langkah awal yang salah yang seringkali mengantarkan pada kecewa dan sakit hati. Seringkali kita punya pengalaman berharap dan berharap kepada selainNya, terus menunggu sampai akhirnya dibosankan dengan kecemasan, dan akhirnya harapan itu tak kunjung menjadi nyata.

Yang memiliki kepastian tak ingkar janji hanyalah Allah, Rasulullah dan orang-orang yang cinta serta takut kepada Allah. Jumlahnya tak sebanyak jumlah manusia. Karena itu maka sangat terbuka peluang bagi kita untuk menjadi korban PHP (pemberi harapan palsu) jika berharap pada janji dari selain yang disebut di atas. Pastikanlah sejak saat ini bahwa kita percaya pada janji-janji Allah, percaya pada testimoni dan petuah para utusan Allah serta orang-orang yang dekat kepada Allah.

Selamat menikmati hidup saudaraku dan sahabatku. Buanglah segala keterikatan hati kepada duniawi, mulailah keterikatan hati dengan yang bersifat ukhrawi. Ulama pertanian berkata: “Menanam padi akan tumbuh disampingnya beragam rumput. Menanam rumput tak pernah ada kasus tumbuh menjadi padi.” dahulukan akhirat, dunia pasti ikut. Namun jangan letakkan dunia itu di hati kita, letakkan saja di tangan kita agar mudah untuk berbagi dan tak harus sakit hati jika semuanya pergi. Salam, AIM@Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. [*]

Oleh KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK

Qurban Diniatkan untuk Orang yang Sudah Meninggal

ADA dua pertanyaan yang masuk ke WA saya berkenaan dengan ibadah qurban: pertama, bagaimanakah hukum berqurban untuk orang yang sudah meninggal? Kedua, bolehkah daging qurban diberikan kepada orang non-muslim?

Jawaban untuk pertanyaan pertama adalah bahwa ada beberapa pendapat tentang ini. Secara ringkas adalah bahwa madzhab Hanafi, Hambali dan sebagian madzhab Syafi’i menyatakan masyru’iyyah qurban bagi mayyit secara mutlak.

Jadi, silahkan saja berqurban dengan diniatkan untuk orang hang sudah meninggal. Pandangan ulama tentang ini bisa dibaca, di antaranya, dalam kitab “Bada’i al-Shana’i'” 5/72, “Iqna'” 1/236 dan “Majmu'” 8/406.

Untuk pertanyaan kedua jawabannya adalah bahwa boleh saja daging qurban diberikan kepada non-muslim karena hukumnya sama dengan shadaqah sunnah lainnya. Semoga dengan ibadah qurban, mereka terbuka hati untuk meyakini Islam sebagai agama yang dimensi sosialnya sangat kental terasa.

Meski demikian, skala prioritas tetaplah berlaku. Artinya, distribusi daging qurban seyogyanya didasarkan pada peringkat kebutuhan. Siapa yang paling membutuhkan bantuan, dahulukan. Bukankah nilai sosial juga berkaitan dengan skala prioritas ini?

Yang paling penting adalah bukan sering bertanya dan mencari jawaban atas pertanyaan itu, melainkan langkah nyata untuk ikut serta berqurban. Marilah kia berada dalam kafilah manusia yang berqurban karena Allah SWT. Ada bahagia dalam kafilah itu. Salam, AIM. [*]

Oleh KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK

Kisah Anak yang Selalu Dipukul Ibunya

ANAK lelaki ini memiliki nasib yang agak berbeda dengan kebanyakan anak lelaki kecil seusianya. Dia saban hari dipukul ibunya. Pukulan ibunya bagai sarapan wajib harian baginya. Tak hanya matahari yang pasti setia menyapa bumi saban hari, pukulan sang ibu pun “setia” menyentuh tubuh si anak kecil ini. Menariknya, anak lelaki ini tak pernah menangis.

Anak kecil selain dia kebanyakan cengeng, tangisan meledak sebelum pukulan tiba. Saat ibunya mendelik sebelum ucapkan kata, biasanya anak sudah menangis duluan. Bahasa tubuh dan getaran rasa orang tua cukup kuat untuk menyentuh perasaan anak-anaknya. Namun mengapa anak yang saya kisahkan ini tak menangis? Ada kelaianan jiwa kah?

Saat di anak kecil itu beranjak besar dan dewasa, pukulan tangan sang ibu masih tetap setia dia terima. Tak usah ditanya apakah ibunya yang memiliki kelainan jiwa, karena bukan itulah hikmah kisah yang akan saya bagi dalam tulisan ini. Lebih dari itu, sungguh kita harus tak tega membicarakan orang yang melahirkan kita dengan perjuangan yang sangat dahsyat penuh derita itu.

Suatu hari, anak lelaki yang sudah besar itu menangis sesenggukan saat dipukul ibunya. Itulah tangisan pertama yang ditampakkannya sepanjang sejarah pemukulan ibunya. Ada salah seorang familinya yang bertanya: “Mengapa menangis? Baru pertama kali ini aku melihat engkau menangis.”

Dia menjawab: “Aku senang kalau merasakan pukulan tangan ibuku ke badanku sangat keras. Itu berarti ibuku masih sehat. Hari ini, pukulan tangan ibuku terasa lemah dan lemes. Ini berarti ibuku telah menua dan akan segera meninggalkan aku. Bagaimana mungkin aku tak menangis, sementara salah satu pintu surgaku akan segera meninggalkanku?”

Subhanallaah, meleleh air mata saya menuliskan kisah ini. Ada kerinduan mendalam kepada ibunda yang telah kembali ke rahmat Allah menyusul ayahanda. Mari kita rindukan orang tua kita dan sayangi mereka. Mari kita doakan orang tua kita yang sudah wafat dan bersedekahlah atas nama beliau. Hanya dengan cara itulah kita terus menyambung kasih sayang dengan mereka. Jangan sakiti orang tua kita dan jangan lupakan. Salam, AIM. [*]

Oleh KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK

Perilakumu Menentukan Keadaan Hidupmu

MENGAPA Allah ciptakan ketaknyamanan dalam hidup kita berupa berbagai hal yang kita sebut sebagai musibah kehidupan? Salah satu jawabannya adalah karena Allah ingin tahu bagaimana reaksi dan aksi kita atas ketaknyamanan itu; siapakah di antara kita yang mempersembahkan respons terbaik.

Respons terbaik yang dimaksud adalah pandangan atau prasangka yang tetap baik kepada Allah sehingga mengantarkan pada sikap istiqamah di jalan yang disukaiNya. Reaksi terbaik adalah dengan selalu bersikap sabar dalam menjalani setiap tetesan takdir yang menjadikan hati perih dan pedih. Aksi terbaik adalah dengan semakin mendekatkan diri kepada Allah, bukan dengan semakin menjauh.

Secara umum, bahagia tidaknya hidup kita adalah buah dari perbuatan kita sendiri. Bagaimana alam sekitar kita bersikap kepada kita adalah segarislurus dengan bagaimana sikap kita kepada alam sekitar kita. Inilah makna dari firman Allah: “Jika kalian berbuat baik, maka sesungguhnya kalian berbuat baik kepada diri kalian sendiri. Dan jika kalian berbuat jahat, maka sesungguhnya kalian telah berbuat jahat kepada kalian sendiri.”

Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda: “Perbuatanmu adalah pegawaimu. “Maknanya adalah sama dengan uraian di atas, yakni bahwa kalau kita baik maka kebaikan akan selalu melayani kita. Kini, lihatlah “orang-orang suci” di sekeliling kita betapa hidupnya selau penuh senyum bahagia. Itu adalah buah dari perbuatan para beliau yang senantiasa membuat tersenyum orang lain. Salam, AIM. [*]

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

INILAH MOZAIK

Jalan Hidup Tak Selalu Lurus Kadang Belok Mendadak

Kiai Semar melanjutkan dawuh: “Hidup ini unik, dan seringkali sulit ditebak. Ada orang yang dipenjara dan dihinakan dengan putusan kejam para hakim yang biasa terima suap. Sekeluar dari penjara, orang itu menjadi jauh lebih mulia dibandingkan para hakim laknat itu yang akhirnya terhina karena tertangkap KPK.” Unik, bukan? Jangan sedih kalau kalian dihinakan kini, yang penting tetap bersama Allah maka kamu akan menjadi mulia. Sudah, sana pulang, jangan lupa selalu rajin ke pengajian. Salam saya ke pengasuh Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim itu ya.” Salam, AIM. [*]

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

INILAH MOZAIK

Makan Kepala Simba dan Baung

SAUDARA saya dan istrinya cekikikan saat kami makan siang di restoran Pindang Sahari Lampung. Bagaimana tidak cekikikan sementara menu utama yang ditawarkan adalah kepala Simba dan Baung.

Kata Simba mengingatkan pada film animasi Simba yang terkenal itu. Iya, Simba adalah harimau. Sementara Baung mengingatkan saudara saya yang asli Madura itu pada Baung Madura. Baung adalah sejenis binatang hantu. Wajar saja kalau mereka kemudian tertawa bersama.

Kepala Simba ternyata adalah kepala ikan laut. Segar sekali dan rasanya maknyus sekali dengan bumbu rempah-rempah dapur yang masih segar-segar. Sementara Baung adalah jenis ikan sungai sejenis kutuk mirip keteng. Ke Lampung tanpa merasakan masakan ini sepertinya belumlah sah. Itu sama dengan ke Mekah tanpa thawaf, kata sang Tuan rumah.

Ada yang unik lagi untuk dikisahkan. Kalau Madura terkenal dengan SAMBEL PENCIT alias sambel mangga muda, di restoran ini terkenal dengan sambel duriannya. Bagaimana rasanya? Ah, kata-kata tak bisa mewakili rasa sambel ini. Keringat di dahi kami lah yang menjadi simbol kelezatannya.

Tuan rumah yang menjamu kami ini memang pandai membaca watak watuk wahing kami, alias kesukaan dan selera kami. Lebih dari itu, beliau memang manusia unik yang baik sekali. Tak ada yang kami bisa balaskan kecuali doa semoga panjang umur selalu saudaraku. Semoga bersama keluarga besarnya senantiasa dalam lindungan dan rahmat Allah. [*]

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

INILAH MOZAIK

Buah Doa, Harapan dan Arahan Orang Tua

KEMARIN pagi ada tamu ke pondok saya, yaitu seorang kiai yang memiliki 28 bersaudara seayah seibu. Begitu banyaknya, banyak orang mengernyitkan dahi kaget dan bertanya berapa usia sang ibu saat menikah dan bagaimana cara melahirkannya. Yang menarik adalah fakta bahwa kesemuanya menjadi orang sukses, ada yang menjadi kiai, ibu nyai dan ada pula yang menjadi tokoh masyarakat.

Tadi malam saya diundang ceramah haul kiai besar Sidoarjo, al-Maghfur lah KH Sirodj Cholil, ayahanda KH Rofiq Sirodj (Gus Rofiq), Ketua Syuriah NU Sidoarjo. Jumlah putera puteri K. Sirodj, menurut penuturan puteranya yang ke-17 adalah sebanyak 21 orang. Semuanya menjadi tokoh agama dan tokoh masyarakat yang disegani. Lalu timbul pertanyaan: “Apakah rahasianya sehingga putera-puterinya sukses semua?”

Kisah di atas adalah dua di antara kisah-kisah lainnya yang serupa. Biasanya, saya senang mencari tahu rahasia sukses mengantarkan anak ke gerbang sukses itu, dan tak begitu tertarik tentang rahasianya punya banyak anak. Jawabannya adalah hampir seragam, yakni doa, harapan dan pengarahan akan anak untuk senantiasa menuntut ilmu agama, terutama al-Qur’an.

Ketika putera-puteri kita telah dekat akrab dengan al-Qur’an yang mulia, maka terikut mulialah mereka. Ketika prinsip hidup dalam al-Qur’an sudah tertanam dalam dada anak kita, maka senantiasa luaslah dadanya bak segara yang siap menampung apapun dalam bahtera kehidupan ini. Ketika al-Qur’an sudah menjadi dzikir harian, maka kata dan perbuatannya akan senantiasa benar dan lehidupannya senantiasa penuh hikmah. Bacalah QS Al-Baqarah ayat 269.

Doa orang tua adalah doa dahsyat kemustajabannya. Selalu saya katakan bahwa selama orang tua selalu memiliki waktu mendoakan anak-anaknya, maka selama itulah selalu ada peluang anak-anaknya untuk selalu lebih baik dan lebih sukses. Lalu bagaimanah dengan orang tua yang terlalu sibuk dengan kerjanya sampai melupakan anak-anaknya? Bisa kita kisahkan lain waktu tentang suami istri yang memiliki 13 anak yang semuanya menjadi orang yang berprilaku kurang menyenangkan. Salam, AIM. [*]

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

INILAH MOZAIK

Renungan Hubungan Hati Anak dengan Orang Tua

“ORANG tua kita tidak pernah takut miskin walau mengeluarkan uang berapapun untuk membesarkan dan mendidik kita. Lalu mengapa kini kita selalu takut kekurangan harta saat harus memberikan sesuatu kepada orang tua kita?”

Saat orang tua kita meninggal dunia, barulah kita menyesal karena ternyata kita salah duga. Harta yang kita miliki ternyata adalah buah doa beliau, berkah tetesan air mata beliau, dan hasil jerih payah beliau. Kitapun menangis dan menangisi yang telah berlalu. Lalu kita bertanya-tanya apakah gerangan yang bisa dilakukan kini demi kebahagiaan orang tua yang sudah meninggal.

Jangan lupakan berdoa untuk beliau dan kenanglah kebaikan-kebaikannya agar talian kasih sayang bersambung sampai akhirat kelak. Jangan lupakan melakukan apa yang paling suka dilakukan oleh orang tua kita yang sudah meninggal dan jangan berhenti menyambung tali kasih dengan orang-orang yang bersahabat akrab dengan orang tua kita. Lebih dari itu, sempatkan bershadaqah atas nama orang tua kita sehingga ada pahala yang terus mengalir kepadanya.

Talian hati antara anak dan orang tua adalah talian hati yang sulit untuk diputuskan. Yang mampu memutuskan hanyalah kesombongan dan ketamakan. Salam, AIM. [*]

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

INILAH MOZAIK

Serba-serbi Haji (24): Keliling Akhirat Jetlag?

JETLAG adalah istilah yang sangat populer di kalangan para pelancong dunia, mereka yang terbiasa terbang melintasi beberapa zona waktu. Biasanya diterjemahkan dengan gangguan ritme tidur, ngantuk berat di saat manusia normal masih segar melek dan segar melek saat kebanyakan orang ngantuk. Ternyata, jetlag itu bukan hanya gangguan ritme tidur, melainkan juga ritme rasa kenyang lapar. Ritme sirkadian yang terganggu, hormon yang melatonin yang tak lagi normal.

Rata-rata jamaah haji mengalami ini, termasuk saya dan Mat Kelor. Tak jarang saat menerima kunjungan tamu sambil menguap ngantuk. Biasanya Mat Kelor beralibi: “Jam ngantuk di Arab ini. Mohon dimaklumi. Ngantuknya jamaah haji itu dijaga malaikat.” Para tamu biasanya senyum-senyum sambil menghabiskan kurma dan jajanan Arab yang dibawa dari tanah suci. Namun bagaimanapun kita tetap melayani mereka dengan kisah indahnya haji, suka duka di tanah suci.

Orang yang tak terbang kemana-mana tak mengalami jetlag. Terbang di wilayah satu zona waktu saja tak mengalami jetlag. Guru alif ba ta tsa Mat Kelor berkata: “Manusia yang pikiran dan hatinya tak anteng atau tak istiqamah dalam urusan akhirat biasanya akan mengalami jetlag kehidupan, ritme hidup yang tak normal. Normalnya, manusia itu adalah makhluk langit, binatang beragama. Saat manusia menjauh pergi dari zona agama, dia pasti mengalami jetlag berupa kebingungan tak berujung.”

Saya senang sekali dengan kesimpulan sang guru. Setelah saya amati ritme hidup ahli ibadah, begitu tenangnya mereka dalam menjalani hidup walau dalam keterbatasan. Sebaliknya, saat melihat orang yang selalu terbang urusan dunia dengan melalaikan akhirat, begitu kacaunya rasa dan hormon kebahagiaan mereka, terus sedih dan menangis di tangah zona yang harusnya bahagia dan tertawa.

Saya coba intip penjelasan ulama tentang hakikat hidup menurut al-Qur’an. Ternyata jaminan bahagia hakiki itu diberikan Allah hanya bagi orang yang beriman, hatinya terikat kuat dengan nilai-nilai keakhiratan. Mat Kelor menyebut potongan ayat: “Alladziina yu’minuuna biLLAHI wal yawmil aakhir.” Guru huruf hijaiyah Mat Kelor tersenyum sambil berkata: “Sejak kapan kamu hapal potongan ayat?” Mat Kelor menjawab: “Sejak mengistiqamahkan diri shalat tepat di belakang imam masjidil haram.” Pantas, pikir saya, Mat Kelor sangat awal kalau berangkat ke masjid. Bagaimana dengan kita?

Ingin tak jetlag dalam kehidupan? Jangan muter-muter urusan isi dompet terus. Fokuslah pada urusan isi hati dan kotak amal kehidupan akhirat. Salam, AIM. [*]

KH Ahmad Imam Mawardi

Serba-serba Haji (20): Paspor, KTP & Surat Nikah

MAT Kelor lupa tidak membawa ID Card saat keliling Madinah. Malam itu dia menikmati betul keindahan Madinah pada malam hari. Gunung yang disorot lampu dari bawah seakan bagai gunung salju yang berharap dipuji.

Lumayan ramai juga kota ini di malam hari. Paling ramai adalah pusat kuliner dan toko fashion. Mat Kelor ada di toko baju gamis, mencari model yang tepat untuk dipakai saat pulang nanti. Saat memilih baju, dia melihat dompet yang jatuh di lantai toko. Diambilnyalah untuk diberikan kepada kasir. Celakanya, Mat Kelor malah dianggap copet atau pencuri. Nasib sial.

Saat diinterogasi polisi, tak ada yang keluar dari mulut Mat Kelor kecuali kata: “Wallahi, ana man khair.” Maksud dia: “Wallahi, ana (saya) man (orang) khair (baik).” Polisinya tak segera paham karena susunan katanya salah, tapi akhirnya juga paham dengan senyuman tipis. Saya diam saja karena ingin tahu cara Mat Kelor menyelesaikan masalah dan karena takut dilibat-libatkan. Untung akhirnya ada pekerja dari Indonesia di toko itu. Dialah yang menerjemahkan bahasa Indonesianya Mat Kelor.

Ditanya ID card, tak bawa. Ditanya Paspor, ada di muassasah haji. Untung saja ada kebiasaan unik Mat Kelor, yakni kemana-mana membawa surat nikah, biar selalu sadar bahwa sudah menikah katanya. Surat nikah itu yang diserahkan ke polisi. Setelah dibuka-buka, polisi geleng kepala karena surat nikah tidak termasuk jenis ID atau identitas diri. Polisi minta KTP atau paspor. Semua panik.

Mat Kelor berkata pada karyawan toko yang asal Banjarmasin itu: “Mas, kasih tahu pada polisi ini. Paspor itu yang tanda tangan cuma satu. KTP juga satu. Surat nikah ini yang tanda tangan banyak orang, ada pak lurah, ada pak mugin, KUA, ada dua saksi dan ada saya dan isteri. Jadi, surat nikah lebih kuat daripada KTP dan paspor.” Polisi Arab manggut-manggut mendengar penjelasan karyawan tadi. Mat Kelor dilepas.

Saya tertawa dan karyawan toko itu juga tertawa sambil berkata: “Baru kali ini saya mendengar alasan logis kehebatan surat nikah dibanding paspor dan KTP.” Mat Kelor agak kesel juga dengan polisi itu. Dia berkata: “Ada alasan lain dik. Surat nikah saya itu berlaku bukan hanya 5 tahun, tapi dunia akhirat dik.” Kami semakin tertawa. Mat Kelor tak jadi beli gamis di toko itu. Isyarat awal sudah kurang bagus katanya. Saya manut saja. Kami akhirnya keluar toko. Mat Kelor berterimakasih pada pemuda Banjarmasin itu: “Syukran.” Apa jawab pemuda itu?

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi 

 

INILAH MOZAIK