Terpukau dengan Islam, 600 Warga Cina Jadi Mualaf

Lebih dari 600 pekerja asal Cina memeluk Islam di Makkah setelah diperkenalkan dakwah Islam oleh para ulama setempat. Ini merupakan rombongan mualaf terbesar tahun ini, setelah sebelumnya pada Januari 500 Muslim Cina juga masuk Islam.

Diberitakan koran Saudi, Sabq, Sabtu (11/4), Mereka masuk Islam secara massal. Sebelumnya, tiap malam para ulama setempat mengadakan kursus intensif Islam. Program ini dihadiri oleh para pekerja Cina dan insinyur yang bekerja ataupun menimba ilmu di snaa.

Merupakan ulama-ulama dari kantor dakwah Taneem yang menggelar kursus dan kemudian membimbing mereka meniti jalan hidayah. Tiap malam, mereka mengumandangkan ajaran-ajaran Islam yang penuh dengan kedamaian.

Sebelumnya, juga dilaporkan 500 Muslim Cina beralih ke Islam pada Januari silam. Mualaf massal terjadi setelah mereka tersentuh oleh “kesederhanaan” dari pemakaman almarhum Raja Abdullah bin Abdul Aziz bulan Januari lalu.

 

sumber: Republika Online

Tamby Temukan Kebenaran Islam

Setelah 28 tahun mengkaji semua agama di dunia, dengan mantap hati dan tanpa paksaan seorang ketua sami (ketua petinggi Budha dari Taiwan) berusia 66 tahun bersama Tan Sri Abdul Rahim Tamby putuskan memeluk Islam.

Hadir juga sebagai saksi dalam prosesi syahadat, Presiden Persatuan Cina Islam Malaysia Cawangan Melaka (Macma), Lim Jooi Soon ,Timbalan Pengerusi Majlis Agama Islam Melaka (Maim), Datuk Yaakub Md Amin dan Mufti negeri, Datuk Dr Mohadis Yasin serta jamaah Masjid Cina Krubong Malaka.

Beliau menerangkan dengan menggabungkan bagaimana logik, sains dan hujah dapat dikaitkan dengan pencipta alam ini menyebabkan dia memutuskan untuk memeluk Islam.

“Kita doakan beliau dimudahkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam sisa hidupnya. Aamin,” tulis Mualaf Center Indonesia dalam akun facebook mualaf.com, Rabu (8/4)

Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Quran). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar: akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya). (QS. Ar Ra’d: 1)

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS Ibrahim: 1)

 

 

sumber: Republika Online

Seruan Alquran Bawa Ibrahim Ardy Widiantoro Menjadi Muslim

Gregorius Ardy Christmas Widiantoro sejak kecil aktif mengikuti layanan di lingkungan gereja di kawasan Depok, Jawa Barat. Suatu hari  ia mendengar seruan Alquran Surat Ali Imran Ayat 19 yakni agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam.

Bunyi ayat Alquran ini membuatnya tersinggung, karena sangat bertentangan dengan agama yang dipercayainya. Bertahun-tahun, Ardy begitu membenci Islam.

Suatu hari beliau berdoa untuk mendapat petunjuk keselamatan. Doa itu kemudian dijawab yang Maha Kuasa melalui mimpi setiap malam selama sepekan.  Dalam mimpinya, Ardy berjalan di atas bara panas dan akan dilempar dalam jurang yang gelap, dalam mimpi itu beliau menyebut nama 3 tuhannya, dan selalu terbangun dalam keadaan basah bekeringat dari tempat tidurnya. Meski sebenarnya kamarnya berpendingin udara.

Pada minggu terakhir setelah mengalami mimpi yang sama dan dalam mimpi itu dari mulutnya keluar kata-kata Allahuakbar dan terbangun sejak itu mimpi itu tidak terjadi lagi.

Akhirnya meskipun belum bersyahadat beliau mencoba mengikuti shalat dan berpuasa sebagaimana kewajiban seorang Muslim. Dan terkadang karena keterbatasannya mencoba shalat sendiri, dimana shalat dzuhur dan asharnya sering salah menjadi 3 rakat.

“Ada kedamaian, kebahagiaan dan ketenangan lahir batin yang tidak dirasakannya dalam agama sebelumnya,” kata Ardy seperti dilansir akun facebook mualaf.com, Senin (6/4).

Alhamdulillah,kini Ardy sudah bersyahadat dan sekarang bernama Ibrahim Ardy Widiantoro. Setiap hari bersama – sama komunitas Mualaf Center Indonesia menjalin silaturrahiim dalam ukhuwah Islamiyah kita bersama.

 

 

sumber: Republika Online

Kisah Haru Mualaf Belajar Azankan Anak dan Jadi Imam Salat

Menjadi imam bagi keluarga kecil muslim adalah tantangan besar bagi seorang mualaf berkewarganegaraan Inggris, Gary Williams (33). Gary yang memeluk Islam sejak 2011 ini harus benar-benar belajar dari nol untuk bisa membawa keluarga menjadi sakinah, mawadah dan waramah.

Kesungguhan Gary belajar Islam membuat banyak orang tersentuh, termasuk istrinya, Ilona (27). Padahal sejak awal Ilona ragu menikah karena Gary tetap mempertahankan tato di tubuhnya meski telah bersyahadat.

“Pertama imam di rumah nenek dia berusaha ngebimbing. Dia berusaha baca Al-Fatihah dan membuat aku nangis karena dia imamin sekuat tenaga,”cerita Ilona kepada merdeka.com di kediamannya Bintaro, Minggu (22/6).

Gary tak sadar bahwa si makmum alias istrinya sudah sesegukan menangis karena Ilona begitu tersentuh dengan niat suaminya untuk menjadi imam meski terbata-bata. Dia akhir salat, Ilona mencium tangan suaminya dan berkata,

“Allah tidak memberatkan kamu. Kalau kamu enggak bisa Allahuakbar saja yang dikerasin. Setelah doa sudah aku nangis minta maaf sama Allah jadi nangis karena benar dia (berislam) sungguh-sungguh, enggak main-main,”tandas Ilona.

Kebanggan terhadap suaminya tidak hanya sampai di situ. Sewaktu Illona hamil, Gary sudah belajar azan agar saat lahir, Gary ingin yang didengar anaknya adalah suara azan dari mulut ayahnya.

“Dia belajar azan. Pas aku di ruang caesar dan dia di inkubator dipanggil bapak Gary trus dia azanin dia belajar di youtube dan dengerin tiap hari ini di sini dari masjid,” ucap Ilona.

Gary yang menyimak cerita istrinya hanya senyum-senyum lalu berujar, “Mungkin kalau saya tidak bertemu dengannya saya juga pasti masih minum dan sekarang saya merasa lebih baik. Saya merasa saat itu terjadi dalam sekejap saja, sangat berat ya,” ucap Gary.

Lalu Ilona meledeknya, “Dia itu mau menangis saat itu tapi malu karena ada ibu,”. Keduanya lantas tertawa.

 

sumber: Merdeka

Mualaf Inggris Menangis Saat Baca Alquran

Saat membacakan terjemahan Surat Al-Maidah ayat 83, tidak terasa air matanya keluar. Begitu juga saat melihat muslim sedang salat.

Pria asal Inggris, Idris Tawfiq mendapat hidayah memeluk Islam setelah menjadi pengajar studi agama di sebuah sekolah di negaranya. Perjalanan keislaman Tawfiq diawali saat melakukan perjalanan ke Kairo, Mesir.

Selama ini, Tawfiq menganggap Mesir adalah negara dengan banyak piramida, unta, padang pasir serta pohon palem. Selama beberapa minggu, Tawfiq menghabiskan waktu di Kairo. Ini adalah untuk pertama kalinya dia berkenalan dengan Islam dan muslim.

“Seperti kebanyakan orang Inggris, pengetahuan Islam saya terbatas pada apa yang disajikan di TV dan media Barat,” kata dia berbagai kisah.

Awalnya Tawfiq merasa Islam adalah agama yang bermasalah. Namun saat berkunjung ke Mesir dia melihat betapa indahnya Islam.

Orang-orang sederhana meninggalkan dagangannya saat mendengar azan untuk bertemu langsung dengan Allah. Mereka begitu yakin akan keberadaan dan kuasa Allah. Orang-orang muslim juga membantu yang membutuhkan, tak memandang dia siapa, dari golongan apa, bahkan non-muslim sekalipun.

Saat balik ke Inggris, Tawfiq kembali menjalankan pekerjaannya mengajar agama. Salah satu mata pelajaran wajib di sistem pendidikan Inggris adalah studi agama.

Jadi setiap hari, Tawfiq membaca tentang berbagai agama-agama agar bisa mengajar kepada murid-muridnya yang kebanyakan pengungsi muslim Arab. Dengan kata lain, dengan mengajar tentang Islam ia juga mengajarkan dirinya banyak hal.

Tawfiq bisa melihat betapa murid-muridnya itu bisa menjadi contoh muslim yang baik. Mereka sopan dan ramah hingga terbangun pertemanan antara Tawfiq dengan murid-muridnya itu. Mereka bertanya apakah bisa menggunakan ruang kelas Tawfiq untuk salat selama bulan Ramadan.

“Kebetulan kelas saya satu-satunya yang dilapisi karpet. Jadi saya terbiasa duduk sambil memperhatikan mereka salat. Saya bahkan sesekali ikut puasa Ramadan bersama mereka meski saya bukan muslim.”

Hidayah itu datang ketika ia membacakan terjemahan Surat Al-Maidah ayat 83, tidak terasa mata Tawfiq berkaca-kaca meski itu disembunyikan dari murid-muridnya.

Tawfiq lalu pergi ke masjid terbesar di London untuk mencari penjelasan soal agama ini. Saat itu dia bertemu dengan Yusuf Islam, mantan penyanyi terkenal Inggris. Tawfiq kemudian bertanya kepadanya tentang apa yang dilakukan untuk menjadi muslim.

Yusuf Islam menjawab bahwa muslim harus percaya pada satu Tuhan, salat lima kali sehari dan puasa di bulan Ramadan.

Tawfiq menyela bahwa dia sudah meyakini itu semua, bahkan pernah ikut puasa. Kemudian Yusuf Islam bertanya, “Apa yang Anda tunggu? Apa yang membuat Anda menunda-nunda?” Tawfiq menjawab, “Tidak, saya tidak bermaksud menjadi mualaf.”

Saat itu suara azan bergema dan semua orang bersiap salat, kecuali Tawfiq. Dia duduk di bagian belakang sambil memperhatikan mereka salat. Tak disangka, tiba-tiba Tawfiq menangis dan menangis. Dia berkata dalam hatinya bahwa dia telah menipu dirinya sendiri.

Setelah mereka selesai salat, Tawfiq mendekati Yusuf Islam dan meminta untuk menuntunnya mengucapkan kalimat syahadat. Tawfiq minta Yusuf Islam menerangkan arti kalimat syahadat dalam bahasa Inggris.

“Kemudian saya menirukan Yusuf Islam mengucap syahadat dalam bahasa Arab,” kenang Tawfiq sambil menahan air matanya.

Untuk mendedikasikan hidupnya sebagai muslim, Tawfiq yang kini tinggal di Mesir telah menulis buku Gardens of Delight: A Simple Introduction to Islam.

“Saya memutuskan menulis buku ini untuk menjelaskan kepada non-Muslim tentang prinsip-prinsip dasar Islam. Saya mencoba untuk memberitahu orang bagaimana Islam yang indah dan bahwa Islam adalah harta yang paling luar biasa. Islam mengajarkan pemeluknya untuk mencintai sesama,” ujarnya.

(Ism, Sumber: OnIslam.net)

 

Dikutip dari: Dream.co.id

Bahkan Allah dan Rasul pun Malu Mengatakannya

Pada salah satu pertemuan kuliah dengan Prof. DR. Jum’ah Ali Abdul Qadir (almarhum), beliau menceritakan pengalamannya ketika mengajar di Universitas Ummul Qura Makkah Al-Mukarramah khusus untuk perempuan:

“Suatu kali ketika mengajarkan tafsir surat Ar-Rum ayat 4, saya bertanya kepada salah seorang mahasiswi, apa perbedaan antara kalimat (بِضْع) “bidh’un” dengan meng-kasrah-kan huruf ba’ dan (بُضْع) “budh’un” dengan men-dhammah-kan huruf ba’?

Jawaban mahasiswi itu sangat mencengangkan. Jawaban yang menunjukkan dia seorang perempuan yang cerdas, paham, dihiasi oleh rasa malu dan kehormatan diri.

Dia berkata:

“Adapun “bidh’un” adalah bilangan antara 3 sampai 9, sedangkan “budh’un” adalah sesuatu yang kita malu untuk menyebutkannya di depan orang lain.”

Jawaban ini sangat berkesan bagi saya sampai hari ini, ujar beliau melanjutkan cerita. Demikianlah seharusnya seorang yang mempunyai harga diri, ia harus menjaga bahasanya dari mengucapkan perkataan fulgar dan porno. Terutama dalam majlis ilmu dan forum-forum resmi seperti itu. Lebih-lebih lagi bila di sana hadir laki-laki dan perempuan. Hendaknya dijaga perasaan perempuan yang lebih halus dan lebih pemalu dari pada laki-laki.

Sekalipun seorang guru atau ustadz dituntut untuk menyampaikan sesuatu yang memalukan bila disebut dengan terang-terangan,seperti permasalahan yang berhubungan dengan perkara fikih, ia akan berusaha untuk mencari kosa kata yang bisa mewakili apa yang ia maksud, tapi terjauh dari bahasa yang tidak pantas. Namun orang yang mendengar tetap paham apa maksud perkataan itu.”

Apa yang diajarkan oleh DR. Jum’ah Ali ini sebenarnya penjelasan dari ajaran Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah. Di mana Al-Qur’an selalu memilih kosa kata yang sangat halus untuk mengungkapkan hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan laki-laki dan perempuan atau suami-istri.

Contoh, ayat Al-Qur’an mengibaratkan istri itu dengan sawah ladang, dan pergaulan dengannya dipakai istilah bercocok tanam.

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 223)

Maha Mulia Allah yang menggunakan kalimat yang sangat mulia karena Al-Qur’an akan dibaca dalam shalat dan tilawah.

Rasulullah pernah ditanya tentang seorang suami yang telah menceraikan istrinya sampai talak tiga, lalu mantan istrinya itu menikah dengan laki-laki lain. Sebelum digauli oleh suami barunya, ia ditalak oleh suami barunya itu. Apakah dengan demikian dia sudah halal menikah lagi dengan suami lamanya?

Rasulullah menjawab:

«لاَ، حَتَّى يَذُوقَ عُسَيْلَتَهَا كَمَا ذَاقَ الأَوَّلُ»

“Belum, sampai suami barunya itu mencicipi madunya sebagaimana suaminya yang pertama telah mencicipinya”. (HR. Bukhari Muslim)

Perhatikanlah bagaimana bersih dan indahnya bahasa Rasulullah yang mengibaratkannya dengan madu.

Aisyah menceritakan, suatu kali seorang perempuan bertanya kepada Nabi, bagaimana caranya bersuci dari haid? Rasulullah menjawab, “Ambillah sepotong kapas yang sudah diolesi harum-haruman, kemudian bersihkan dengannya.”

Perempuan itu bertanya lagi, “Bagaimana cara membersihkannya?”

Rasulullah menjawab, “Bersihkanlah dengannya!”

Perempuan itu masih bertanya lagi, “Bagaimana?”

Lalu Rasulullah berkata sambil menutupi wajahnya dengan pakaian, “Subhanallah, bersihkanlah!”

Kemudian Aisyah melanjutkan ceritanya: Lalu aku menarik perempuan itu dengan kuat dan mengatakan kepadanya, “Bersihkan bekas darahnya dengan kapas itu!”

Meskipun pertanyaan perempuan itu sangat urgent demi kesucian dan kesempurnaan ibadahnya, namun Rasulullah tetap memakai bahasa yang sangat halus, yang paling pantas dengan fitrah pemalunya seorang perempuan. Rasulullah tidak hanya mementingkan bagaimana pesan tersampaikan, tapi juga menimbang cara dan kalimat yang paling terhormat.

Amat disayangkan pada masa kita ini, sebagian ustadz dan da’i yang menyampaikan ceramah kurang memperhatikan hal ini. Bahkan seperti disengaja untuk memilih kosa kata fulgar demi membuat jama’ah tertawa. Bagaimana kita akan mengajari umat perihal malu bila kalimat para penceramahnya tanpa sengaja mengikis malu sedikit demi sedikit. Atau dia bagaikan orang yang tidak ada malu di depan jama’ahnya.

Bukankah ceramahnya itu juga akan didengar oleh anak-istri, ipar-besan, dan keluarga serta handai tolannya. Tidakkah ia malu dengan mereka semua?

Dalam sebuah hadits yang sangat masyhur Rasulullah bersabda:

«الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ»

“Malu itu sebagian dari iman.” (HR. Bukhari Muslim)

Ya Allah, karuniakan kami rasa malu yang sebenarnya.

 

 

sumber: Fimadani

Kuatkan Imanmu, Peliharalah Rasa Malu

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda; “Seseorang lebih patut untuk malu kepada Allah daripada kepada manusia”

“SESUNGGUHNYA setiap agama mempunyai akhlak dan sesungguhnya akhlak Islam adalah malu,” demikian hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Malu bukanlah sifat yang mudah untuk dimiiki. Malu hanya akan tumbuh dan menjadi perangai seorang Muslim manakala imannya kepada Allah dan hari akhir benar-benar sangat kokoh.

Hari ini nampaknya sebagian besar umat Islam agak abai dengan sifat malu ini. Contoh paling nyata adalah beberapa sikap kaum Muslimah yang belum menutup aurat ketika memajang foto-foto yang semestinya tidak di upload ke dunia maya malah justru sangat disenangi dan digandrungi.

Bahkan ada yang suka memasang foto dirinya saat berenang dengan pakaian yang tidak sepantasnya. Demikian pula dengan yang laki-laki yang juga memajang foto-foto anggota badan yang termasuk aurat ke dalam status Facebook-nya.

Mengenai aurat ini, perhatian Rasulullah sangat tegas. Beliau bersabda; “Sesungguhnya Allah Maha lembut, Maha malu dan Maha menutupi, Dia menyukai sifat malu dan menutupi, maka jika salah seorang dari kalian mandi, hendaknya dia menutup diri.”

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa lihat dari sikap sebagian kaum Muslimin yang tidak bersegera menunaikan kewajiban-kewajibannya. Sudah tahu waktu sholat tidak lama lagi, lantunan adzan pun mulai terdengar, tetapi masih lebih memilih asyik nonton di depan TV, bahkan sebagian lainnya masih asyik ber-Facebook ria. Hal ini juga menandakan bahwa sifat malu belum menjadi bagian tak terpisahkan dari sebagian umat Islam.

Dalam ajaran Islam, seorang Muslim yang melakukan dua contoh sikap di atas, dan termasuk Muslim yang mengabaikan imannya hanya karena urusan keduniaan, termasuk kelompok Muslim yang belum memiliki rasa malu. Mengapa demikian?

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda; “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” Mereka menjawab, “Alhamdulillah, kami malu.”
Nabi pun melanjutkan sabdanya; “Bukan itu, akan tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah hendaknya kamu menjaga kepala dan apa yang dipahaminya, menjaga perut dengan isisnya, hendaknya kamu mengingat kematian dan hancurnya jasad sesudahnya, barangsiapa menginginkan akhirat, niscaya dia meninggalkan perhiasan dunia, barangsiapa melakukan hal itu, maka dia tetlah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.” (HR. Tirmidzi).

Itulah mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam tidak pernah melewati malam melainkan dengan bangun untuk tahajjud. Beliau malu kepada Allah jika nikmat yang begitu besar dan amanah yang tidak ringan tidak ditunaikan secara sungguh-sungguh dengan penuh kesyukuran. Beliau malu jika sepanjang malam digunakan hanya untuk tidur. Demikianlah sifat manusia agung yang sangat pemalu, terutama kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Ketika malam Mi’raj dalam perjalanan beliau kembali ke langit dunia untuk membawa perintah mendirikan sholat, beliau bolak-balik menghadap Allah karena mendapat saran Nabi Musa agar perintah sholat yang Allah wajibkan atas umatnya dikurangi jumlah raka’atnya.

Akhirnya setelah mendapatkan keringanan menjalankan shalat lima waktu sehari semalam, Nabi Musa masih menyarankan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam minta keringanan kepada Allah. “Istahyaytu min rabbi” demikian jawab manusia agung itu. “Aku malu kepada Rabbku”. Subhanallah, Rasulullah saja malu meminta keringanan lagi, lalu mengapa sebagian umat Islam tidak bersemangat mendirikan shalat.

Bahkan Rasulullah malu hanya berdoa untuk dirinya sendiri. Beliau malu kepada Allah sekaligus malu kepada seluruh umatnya jika berdoa hanya untuk diri beliau sendiri, apalagi setiap doa beliau pasti dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Hal ini beliau jelaskan dalam sebuah sabdanya; “Setiap Nabi mempunyai doa yang mustajab, lalu masing-masing dari mereka bersegera menggunakan doanya (di dunia), namun aku menyimpan doaku sebagai syafa’at bagi umatku di hari kiamat, ia akan didapatkan Insya Allah oleh siapa pun dari umatku yang mati daam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan apa pun.” (HR. Bukhari).

Jika Rasulullah malu kepada kita sebagai umatnya, dan mengkhususkan doa mustajabnya untuk kita, lalu mengapa kita tidak malu mengabaikan amanah dan sunnah-sunnah beliau, sementara kita selalu berharap mendapat syafaatnya kelak di hari kiamat?

Malu dalam Pergaulan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam juga sangat memperhatikan rasa malu dalam pergaulan. Aisyah mengatakan bahwa beliau senantiasa menjaga diri dari yang tidak baik (iffah) dan menjaga kesendirian. “Nabi seorang yang tidak suka berkata kotor, tidak gemar menjelek-jelekkan, dan tidak berteriak-teriak di pasar,” demikian tutur istri beliau yang banyak meriwayatkan hadits-haditsnya.

Urusan malu adalah urusan iman dan termasuk perkara yang besar. “Malu itu termasuk dari iman, dan iman itu di dalam surga, keburukan ucapan termasuk sikap tidak peduli (kurang ajar) dan sikap tidak peduli itu adalah di neraka,” demikian tegas Rasulullah sebagaimana diriwayatkan oeh Tirmidzi.

Rasulullah menjelaskan bahwa malu adalah lawan dari keburukan ucapan, ia tidak akan pernah sejalan dengannya. Manakala kita menjumpai manusia yang lisannya selalu menjelek-jelekkan orang lain, dan membangga-banggakan dirinya, cukuplah bukti bahwa orang itu tidak punya rasa malu yang berarti cacat keimanannya. Dan, tidak ada yang dikehendakinya melainkan kehidupan dunia belaka.

Di sinilah fungsi utama akhlak. Oleh karena itu akhlak dalam Islam itu meliputi banyak sisi, mulai dari akhlak kepada Allah, manusia dan alam semesta.

Maka dari itu, milikilah akhlak yang mulia karena hanya dengan akhlak mulia itu seorang Muslim akan memiliki rasa malu yang sebenar-benarnya. Bukan rasa malu yang umum disalahpahami oleh kebanyakan manusia, dimana malu hanya ditujukan kepada manusia. Padahal malu yang benar adalah malu kepada Allah bukan kepada manusia.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda; “Seseorang lebih patut untuk malu kepada Allah daripada kepada manusia.” (HR. Abu Dawud).*

Perilaku sebagian orang yang gemar mengambil hak orang lain (korupsi), tidak jujur, dan takut diketahui orang segala rencana dan perbuatannya yang merusak, semuanya termasuk sifat tercela dan menunjukkan ketiadaan rasa malu yang benar kepada Allah SWT.

Orang yang seperti itu biasanya akan shock jika keburukannya diketahui oleh orang lain, sebab baginya tidak ada yang lebih ditakutkan kecuali ada manusia mengetahuinya. Terhadap Allah, orang seperti itu tidak benar-benar malu. Oleh karena itu tidak mengherankan jika mereka berani melawan perintah Allah, asalkan manusia tidak mengetahui dan menentangnya. Naudzubillah.

Terhadap orang seperti itu, Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya di antara ajaran yang manusia dapatkan dari perkataan kenabian yang pertama adalah Apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah apa saja yang kau mau.” (HR. Bukhari).

Di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman; “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. 41: 40).

Tentu penegasan Rasulullah yang terakhir itu bukanlah perintah untuk berbuat sesuka hati, melainkan untuk menghindar dari perbuatan memperturutkan hawa nafsu. Karena menuruti hawa nafsu akan menghilangkan kemampuan akal sehat dan menjadikan seorang manusia hidup tanpa iman dan karena itu tidak punya sifat malu. Padahal dalam Islam, malu adalah bagian dari keimanan.*

 

sumber: Hidayatullah

Rasa Malu Merupakan Cabang Iman yang Terpenting

Saat ini, kita banyak menyaksikan orang-orang sudah tak malu lagi mempertontonkan kemaksiatan di depan umum. Aksi kemesraan sesama jenis yang diperlihatkan kaum Lesbian, Gay, Bisek dan Transgender (LGBT), ataupun aksi para para selebritis yag mengumbar auratnya di acara-acara televisi.

Bahkan, ada juga kelompok yang mengatasnamakan HAM (hak asasi manusia) membela atau mengadvokasi mereka yang kerap mempertontonkan kemaksiatan tersebut.

Padahal, cara hidup kelompok dengan kemaksiatan itu justru menyebarkan prilaku yang tidak sehat, yang akibatnya mewabahnya virus HIV/AIDS. Alih-alih menyetop prilaku sex bebas, kelompok ini justru membagikan kondom secara gratis.

Fenomena ini membuktikan bahwa rasa malu sudah tak lagi melekat pada diri manusia, sehingga apa yang dilakukan manusia sudah seperti yang kita saksikan pada binatang.

Rasulullah sendiri jauh-jauh hari sudah mengingatkan kepada kita begitu pentingnya rasa malu pada diri manusia, dan rasa malu merupakan cabang terpenting dari iman.

 

 الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً ، أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً ، أَفْضَلُهَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

 

Iman itu mempunyai tujuh puluh cabang lebih, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.

Riwayat Bukhari dan Muslim melalui Abu Hurairah r.a.

Menurut Kitab  Syarah Mukhraarul Ahaadiits, salah satu cabang iman adalah malu. Rasa malu ini disebutkan dalam hadist ini bahkan juga dalam hadist lainnya, hal ini menunjukkan bahwa malu merupakan cabang terpenting dari iman. Dengan kata lain, tidklah sempurna iman seseorang sebelum ia mempunyai rasa malu, yakni malu kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, serta malu kepada orang-orang mukmin.

 

 

 

Sukarja, dengan mengutip Kitab Syarah Mukhraarul Ahaadiits, Sayyid Ahmad Al-Hasyimi

 

Berjamaah Menuju Jannah

Setelah serangan mematikan bertubi-tubi dilancarkan musuh-musuh Islam terhadap kedaulatan Islam dan kaum muslimin dimana dinamika internal yang silih berganti bergejolak juga mewarnai perjalanan sejarah Ummat Islam dalam menuntaskan perannya sebagai ummat pilihan Alloh di era akhir zaman, akhirnya khilafah Islamiyah runtuh pada tahun 1924 dengan dihapuskannya kesultanan Turki Utsmani oleh seorang ketururunan Yahudi bernama Musthapa Kemal. Semenjak itu, kaum muslimin memasuki era yang membingungkan karena konsep kehidupan berjama’ah yang dikenal Islam adalah satu bentuk kehidupan yang tertata dibawah seorang Imam Mumakkan (berkuasa penuh memimpin ummat). Akibatnya, jangankan mengemban misi rahmatan lil ‘alamiin sedangkan untuk mempertahankan eksistensi dan menjalankan tugas-tugas internal saja, kaum muslimin sudah mengalami berbagai kesulitan dan penderitaan yang sangat hebat.

Musthapa Kemal tentunya tidak bekerja seorang diri bersama kelompoknya, disamping ia adalah seorang perwira tinggi militer yang amat memahami kerja-kerja tersistem dan terorganisasi dengan baik maka ia juga disokong sepenuhnya oleh gerakan Yahudi Internasional baik yang bergerak tertutup maupun institusi-institusi terbuka yang dimiliki jaringan Zionisme yang telah menguasai dunia ekonomi dan perbankan. Langkah-langkah revolusioner Musthapa Kemal hanyalah menyamakan irama dan derap langkah konspirasi Yahudi bagi terwujudnya impian mereka akan Israel Raya ditanah yang dijanjikan Tuhan versi mereka, yakni negara Yahudi di bumi Syam (khususnya Palestina).

Jadi Musthapa Kemal sebenarnya bekerja dengan sistem yang dalam Islam disebut sebagai Jama’ah. Sedangkan ia hanyalah icon pendobrak dan pemersatu yang menghancurkan sistem kehidupan Islam yang tersisa dari perjalanan sejarah Ummat Islam. Maka sangat disayangkan jika kaum muslimin justru melupakan hakekat ini, sehingga sistem Jama’ah semakin ditinggalkan kecuali pada hal-hal parsial saja atau paling maksimal adalah munculnya klaim berjama’ah namun ekslusif bagi kalangan tertentu saja. Ditambah lagi musibah munculnya fanatisme kelompok (quyyud hizbiyyah) yang semakin menjerat ummat pada posisi saling berhadapan dengan penuh persaingan dan ambisi saling menjatuhkan sesamanya. Dimana fenomena berbahaya ini telah ditangkap oleh seorang da’i dari Jama’ah Islamiyah Libanon (salah satu wilayah Syam) yakni ustadz Fathi Yakan rohimahulloh dengan istilah beliau yakni Aids Haroki. Wallohul Musta’an!

Tragedi keruntuhan Khilafah Islamiyah juga sekaligus menandakan masuknya kaum muslimin dalam kejatuhan kehidupan tanpa Jama’atul Muslimin sementara musuh kemanusiaan, yakni kaum Yahudi justru berhasil membangun kehidupan berjama’ah (sesuai versi mereka). Ketiadaan Jama’atul Muslimin dalam pengertian dan kriteria Syar’i  juga setidaknya telah dibuktikan secara ilmiah dihadapan para Masyaikh di Jamiyyatul Islamiyah Madinah Munawarroh oleh Ustadz Hussain bin Muhammad bin Ali Jabir ,MA  dalam tesis masternya yang mendapat nilai imtiyyaz (Excellent). Padahal Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ Dan aku memerintahkan kepada kalian lima hal yang Alloh memerintahkan aku dengan kelima hal tersebut, yaitu: berjama’ah, mendengarkan, mematuhi, berhijrah dan berjihad di jalan Alloh. Barangsiapa keluar dari jama’ah sejengkal saja maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya hingga ia kembali lagi…” Mereka bertanya: “ Wahai Rasululloh, sekalipun dia sholat dan puasa ?” Rasululloh menjawab: “ Sekalipun dia puasa, sholat  dan mengaku (dirinya) muslim.”  (HR. Ahmad, 4/202)

Tauhid dan Jama’ah adalah Kesatuan

Pembicaraan tentang Jama’ah membutuhkan kajian yang serius dan mobilisasi umum (keterlibatan semua unsur), oleh karena persoalan Jama’ah merupakan batu pondasi pertama untuk mewujudkan suatu ide (wacana) pikiran menjadi nyata dan kongkrit. Tanpa jama’ah, maka ide pikiran apapun tak akan pernah bisa menjadi eksis dan bertahan kekal. Barangkali kita masih ingat dengan perkataan Imam besar Muhammad bin Idris Asy Syafi’i rohimahulloh saat beliau melihat kefaqihan Laits bin Sa’ad, ilmunya dan periwayatan haditsnya. Lalu beliau mengucapkan perkataannya yang amat masyhur: “ Laits bin Sa’ad lebih faqih dari Malik, hanya saja para shahabatnya tidak ada yang menjadi penerusnya.”

Perkataan ini menunjukkan bahwa jama’ah, perkumpulan dan tanzhim sangat besar pengaruhnya terhadap eksistensi suatu ide pemikiran serta kelangsungannya. Tanpa jama’ah, perkumpulan dan tanzhim, maka suatu ide pemikirian tidak akan bisa eksis dan bertahan. Maka jika kita memahami hal ini, kemudian berpikir sejenak mengenai prikehidupan nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam dan kita mengkaji secara seksama dari permulaan dakwah beliau hingga kemenangan diinnyaserta apa yang diserukan beliau kepada manusia, niscaya kita akan melihat dengan sejelas-jelasnya bahwa yang pertama diserukan Rasululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam adalah Tauhid dan Jama’ah.

Dahulu, apabila seseorang menjawab seruan nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam dan masuk menjadi muslim muwahhid maka dia memutuskan segala pertaliannya yang sebelumnya. Dia keluar secara psychis maupun phisiknya dari segala ikatan lama, baik ikatan keluargaatau kabilah atau ikatan apapun selainnya dan bergabug pada jama’ah yang baru (yakni jama’atul muslimin) dan terikat dengannya secara total dalam hal loyalitas, pembelaan, menjalankan perintah, empati maupun simpatinya. Gambaran ini tercermin pada sabda nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam:

Permisalan seorang mukmin dalam berkasih sayang dan berlemah lembut serta kecintaan diantara mereka adalah seperti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tak dapat tidur.”

Jika prikehidupan orangorang Islam adalah demikian maka tidaklah aneh syiar seorang muslim yang benar (dalam aqidah dan manhajnya) adalah intima’ dibawah syiar (Firqoh An Naajiyah) Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Banyak kisah generasi pertama yang berkaitan dengan konsepsi pemikiran kaum Sunni dalam permasalahan aqidah. Mereka menulis didalamnya apa yang disebut Kitaabul Aqoo’id. Dimana kitab-kitab tersebut disusun dengan satu maksud dan tujuan untuk menjelaskan konsep pemikiran Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana seharusnya dan untuk menolak i’tiqod-i’tiqod yang menyelisihinya dari berbagai aliran pemikiran, yang oleh sebagian orang jsutru dianggap sebagai bagian dari Diinulloh (padahal samasekali bukan), yakni aqidah golongan Mu’tazilah, golongan jabariyah, golongan Syia’ah, golongan Khawarij dan golongan-golongan yang beraqidah sesat lainnya.

Namun demikian, masalah jama’ah masih belum diterangkan secara terperinci dalam kitab-kitab tersebut, oleh karena jama’ah yang perlu mendapatkan penjelasan pada era kehidupan mereka adalah masalah Imam Mumakkan dan sejauh mana kesyar’ian pembrontakan yang dilakukan sekelompok orang terhadap Imam Mumakkan itu yang didorong sikap baghyun (sikap aniaya dan durhaka) dan fasik. Demikian pula sejauh mana kesyar’ian Imam Mafdhul (Imam yang kalah keutamaannya) dengan adanya Imam Afdhol (yang ebih unggul keutamaannya). [1] jadi wajar kalau kaum muslimin sekarang mengalami kebingungan dalam mengimplementasikan konsep Jama’ah dalam kehidupan yang nyata-nyata dikalahkan oleh musuh-musuh Islam, baik dari kalangan Kuffar Internasional maupun penguasa lokal yang murtad.

Tsauroh Suriah menjanjikan Kembalinya Jama’atul Muslimin

Jika bahasan diatas cukup mengerenyutkan dahi dan menyesakkan dada hingga mampu meneteskan air mata, fenomena yang kita tangkap dari apa sedang terjadi di Suriah saat ini insya Alloh akan mampu memberi harapan baru bagi kembalinya kehidupan berjama’ah yang hakiki dan syar’i bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Namun semua cita-cita butuh biaya dan pengorbanan maksimal serta dedikasi total. Hanya orang malas dan tolol saja yang terus-menerus berteriak tentang apa yang diinginkannya namun tidak mau beranjak dari kenyataan pahit yang melingkupinya.

Tragedi yang dilanjutkan dengan perlawanan total kaum muslimin di Suriah telah memperlihatkan kwalitas Ahlus Syam yang gagah perwira sebagaimana yang disebutkan berbagai keutamaan mereka dalam hadits-hadits nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wa sallam. Ratusan ribu orang dari berbagai strata sosial dan usia yang telah dibantai rezim Basyar Asad an Nushoiry dengan dibantu Republik Syiah Iran, Negara Komunis China dan Rusia serta milisi-milisi bersenjata Syiah dari berbagai negara seperti Irak, Libanon, Yaman bahkan kaum Syiah di Indonesia ikut membuka pendafataran Relawan Combatan (tempur) dan non Combatan untuk berperang membela rezim jahat dimana kejahatannya melampui kekejian yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina. Namun jihad kaum muslimin Syam semakin menampakkan ketahanan dan daya juang yang amat luar biasa sehingga Alloh Azza wa Jalla berkenan menggerakkan hati-hati kaum Mujahidin dari kurang lebih 29 negara di dunia padahal mereka juga sedang sibuk berjihad melawan para thughyaan di negri mereka sendiri. Mereka kini hadir di Suriah dengan seluruh dedikasi dan kemampuan tempurnya dalam mengokohkan Jihad di bumi Syam.

Dan yang paling menggembirakan hati setiap orang mukmin, seruan revolusi Suriah telah bermetamorfose pada penegakkan Khilafah Islamiyah bagi dunia Islam. Hal inilah kemudian yang diantispasi kaum Kuffar sedunia dengan gembong-gembongnya dari kalangan munafik dan zindiq di seluruh negri kaum muslimin, mereka bukan saja mendatangkan segala kekuatan bersenjatanya ke Suriah dan sekitarnya namun juga membrangus segenap potensi dan kekuatan Jihad di negri-negri mereka dengan issu terorisme. Mereka meratifikasi konvensi PBB dalam bentuk undang-undang anti terorisme yang pada asal dan muaranya adalah menghancurkan kekuatan Islam.

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Al Anfaal: 30)

Wallohu Ta’ala A’lamu bis showwab.

Ngruki,  Sya’ban 1434

Abu Fatih Abdurrahman S.

Red : Abdul Aziz Al Makassary

[1] Syekh Abu Qotadah Al Filisthiny fakkalohu asroh, Al Jihad wal Ijtihad.

 

 

sumber: BumiSyam,com

Dua Kalimat Pamungkas Agar Doa Lekas Diijabah

Sebagai seorang Muslim sudah seharusnya kita menyandarkan dan mengadukan setiap permasalah yang kita hadapi kepada Allah azza wa jalla. Bahkan dalam urusan sandal putus sekalipun Nabi Muhammad sahallallahu alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk mengadukannya kepada Allah. Berdoa kepada Allah.

Lalu bagaimana jika kita ingin agar doa kita segera diijabah oleh Allah? Dalam kajian tadabbur bulanan yang rutin diadakan di masjid Baitul Ihsan, komplek Bank Indonesia setiap minggu ketiga pada Sabtu (15/03), ustadz Bachtiar Nasir memberikan dua kalimat pamungkas agar doa diijabah oleh Alloh.

“Wa Ilaahukum ilaahum Waahidum laa ilaaha illaa huwar rahmaanurrahiim,” kata ustadz yang akrab disapa UBN. “Dalam kalimat pamungkas pertama tersebut terdapat kata Arrahmaan yang bermakna maha pengasih dan Arrahim yang bermakna Maha Penyayang.”

UBN pun sempat meminta para jamaah untuk menghafal kalimat pertama tersebut dengan waktu lima menit, karena kalimat tersebut beliau nilai akan sangat membantu para jamaah menghadapi kesulitan hidup. Para jamaah yang hampir memenuhi masjid Baitul Ihsan pun tak sungkan mengikuti perintah UBN untuk menghafal kalimat pertama tersebut.

Setelah para jamaah sudah hafal dengan kalimat pertama tersebut, UBN pun melanjutkan dengan kalimat pamungkas terakhir sebagai pengawal doa.

“Alif laam miim, allaahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyum,” ungkap ustadz yang juga menjabat sebagai ketua  Forum Indonesia Peduli Syam (FIPS) tersebut.

Dalam acara yang bertemakan ‘Merasakan Kasih Sayang Allah (Tadabbur Arrahman-Arrahim) dia menjelaskan kalimat kedua tersebut merupakan awalan Surat Ali Imran. Di akhir kajian, UBN meminta para jamaah untuk yakin atas pertolongan Allah dalam membaca dua kalimat pengawal doa tersebut.

“Karena intinya kita berdoa adalah yakin bahwa Allah itu mendengar dan akan mengabulkan doa kita. Sebelum kita berdoa kepada Allah, harus kita awali dengan dua kalimat tersebut,” tutupnya. (TOM/UL/bumisyam)

 

sumber: BumiSyam.com