Kunci Agar Jamaah tak Tersesat

Ketua Sektor 4 Daker Madinah Khalilurrahman mengatakan berupaya semaksimal mungkin meminimalisir jamaah tersesat saat beribadah di Masjid Nabawi. Ketika bus jamaah tiba di hotel, petugas akan naik dan memberikan panduan selama mereka berada di Madinah.

Kami sampaikan lokasi mereka saat ini ada di mana, nama hotelnya, jarak ke hotel ke Nabawi, masuk ke Masjid Nabawi lewat pintu mana, berangkat pulang harap perhatikan pintu yang dimasuki. Lalu jika tersesat berikan kartu hotel kepada petugas bila kesasar, katanya saat ditemui, Selasa (1/8).

Dia meminta jamaah tidak sungkan meminta bantuan kepada petugas haji berseragam. Untuk menghindari jamaah tersesat di Masjid Nabawi atau di mana pun, Khalilurrahman meminta jamaah pergi berkelompok, jangan sendirian.

“Kami mengistilahkan penguatan regu. Ketua regu harus memantau pergerakan jamaahnya di mana pun berada,” katanya.

Yang sering terjadi di lapangan adalah jamaah berpisah karena ada yang ke Raudhah dan ke Makam Baqi. Banyak juga anggota rombongan terpisah saat ada yang ke toilet.

Mereka masuk bersamaan tapi keluar sendiri-sendiri. Kami ingatkan harus bersama-sama, kalau ke toilet harus saling tunggu. Kalau regu kuat. maka yang jamaah sepuh tidak akan tertinggal, ujarnya.

Di Sektor 4 ada sebanyak 34 hotel yang disediakan pemerintah dan 11 unit di antaranya sudah terisi sejumlah 2.775 jamaah pada hari ke empat. Dia menambahkan, khusus di Madinah jamaah haji Indonesia tinggal bersama jamaah dari negara lain.

 

IHRAM

Akal dan Umur

KATA para bijak: “Dewasanya akal itu tak selalu segaris lurus dengan dewasanya umur. Karenanya, jangan ukur kedewasaan berpikir dengan jumlah angka usia. Anda akan tertipu.” Ya, benar. Ternyata kita jumpai banyak anak yang masih belia usianya namun dewasa berpikirnya. Begitu pula sebaliknya.

Biasanya, mereka yang senantiasa bertarung dengan masalah hidup pola pikirnya lebih dewasa dibandingkan umurnya. Sering kita jumpai seorang anak usia SMP yang tak lagi mau sekolah bukan karena malas, melainkan demi adiknya yang masih sekolah dasar agar bisa tetap sekolah.

Sang kakak bekerja mencari uang. Sementara pamannya yang sudah tua berjuang merebut sepetak tanah milik anak itu agar bisa dikuasainya dengan berbagai alasan. Dewasa yang manakah akalnya: anak kecil itu atau sang paman yang sudah tua?

Seorang tua usia meremehkan usul seorang anak kecil tentang tak perlunya polisi tidur di depan rumahnya dengan alasan yang masuk akal. Rupanya usul itu dibantah mentah-mentah oleh orang tua itu yang otaknya tertutupi oleh awan emosi. Dengan mata mendelik orang tua itu berkata: “Anak kecil tahu apa. Jangan menasehati orang tua.”

Anak kecil itu cuma tersenyum dan berkata lembut: “Bapak, maafkan saya. Bapak memang berusia lebih tua ketimbang saya. Tapi tolonglah ajari saya dengan menjawab pertanyaan saya, lebih tua mana akal Bapak dan akal saya, kapan akal Bapak diciptakan, lebih dahulukah dengan diciptakannya akalku, dan apa ukurannya?”

Bapak itu bingung. Bagaimana tidak bingung, sementara dosen filsafatpun sampai botak tak mampu mencari tahu usia akal pikiran manusia. Ingin tahu jawabannya? Salam, AIM. [*]

 

Oleh : KH Ahmad Imam Mawardi

MOZAIK

Tak Salat Jumat, Allah Akan Kunci Mati Hatinya

ADA yang bertanya kepada Ustaz Ammi Nur Baits, “Jika ada orang yang meninggalkan Jumatan (salat Jumat), apa yang harus dilakukan? Apakah ada penebus dosanya?”

Pertanyaan itu dijawab sbb:

Bismillah was shalatu was salamu ala Rasulillah, wa badu. Meninggalkan jumatan tanpa udzur termasuk kesalahan besar. Karena itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam banyak memberikan ancaman.

Diantaranya disebutkan dalam hadis dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu anhum, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Hendaknya orang yang suka meninggalkan jumatan itu menghentikan kebiasaan buruknya, atau Allah akan mengunci mati hatinya, kemudian dia menjadi orang ghafilin (orang lalai).” (HR. Muslim 865)

Kemudian, disebutkan dalam hadis dari Abul Jad ad-Dhamri radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang meninggalkan tiga kali Jumatan karena meremehkan, maka Allah akan mengunci hatinya.” (HR. Ahmad 15498, Nasai 1369, Abu Daud 1052, dan dinilai hasan Syuaib al-Arnauth). Dan salah satu diantara ciri dosa besar adalah adanya ancaman bagi pelakunya, seperti dalam hadis di atas.

Apakah Ada Kaffarahnya? Terdapat hadis dari Samurah bin Jundub radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang meninggalkan jumatan tanpa udzur, hendaknya dia bersedekah uang satu dinar. Jika dia tidak punya, bisa bersedekah setengah dinar.”

Takkhrij Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Abu Daud dari Jalur Qudamah bin Wabrah, dari Samurah bin Jundub secara marfu. Para ahli hadis menjelaskan, Qudamah bin Wabrah perawi yang majhul dan tidak mendengar dari Samurah bin Jundub.

Al-Baihaqi mengatakan, Sesungguhnya Qudamah bin Wabrah tidak diketahui telah mendengar dari Samurah. (Dhaif Abu Daud, 1/403)

Karena itu, hadis ini dinilai dhaif para ulama, diantaranya Imam al-Albani dan Syuaib al-Arnauth.Kemudian disebutkan pula dalam riwayat lain, dari Aisyah radhiyallahu anha, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Siapa yang tidak jumatan, dia harus bersedekah 1/2 dinar.

Keterangan Hadis:Hadis ini diriwayatkan Abu Nuaim dalam al-Hilyah (7/269) dan Ibnul Jauzi dalam al-Ilal al-Mutanahiyah (1/470). Dan hadis ini dinilai para ulama dengan Dhaif Jiddan (lemah sekali).

Hadis ini berisi hukum, yaitu perintah sedekah untuk orang yang tidak jumatan tanpa udzur. Namun mengingat hadisnya dhaif, maka tidak bisa jadi dalil tentang masalah hukum.

Kewajibannya Bertobat

Tidak ada kaffarah bukan berarti masalahnya lebih ringan. Tidak ada kaffarah bisa jadi itu lebih berat. Karena syariat tidak memberikan jalan untuk tebusan. Sehingga, yang lebih penting untuk dilakukan adalah bagaimana agar serius bertaubat, memohon ampun kepada Allah atas kesalahan ini, dan bertekad untuk tidak mengulanginya.Allahu alam.

 

[konsultasisyariah]

Gelisah Karena Akhirat

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Semoga Alloh Yang Maha Menatap, menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang memiliki kebeningan hati. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Saudaraku, jika hati kita terlalu berharap kepada makhluk, sampai harapan pada makhluk itu mendominasi hati kita dan mengalahkan pengharapan kita kepada Alloh, maka pasti akibatnya adalah kegelisahan hati. Mengapa? Karena tanpa disadari, sesungguhnya kita sedang berharap pada makhluk yang jelas-jelas tidak memiliki apa-apa, tidak punya kuasa apa-apa atas hidup ini. Bahkan untuk mengurus dirinya sendiri pun makhluk itu tidak mampu.

Sedangkan jika hati kita senantiasa didominasi dengan harapan kepada Alloh, hanya bergantung dan bersandar kepada-Nya, niscaya hati akan tenang tentram. Karena Alloh akan melimpahkan ketenangan pada hati kita, meski sebesar apapun episode ketidakpastian yang sedang kita hadapi di dunia.

Ada kegelisahan yang disebabkan dunia, ini adalah kegelisahan yang remeh. Namun, ada juga kegelisahan yang disebabkan oleh akhirat, yaitu gelisah kalau-kalau melakukan dosa, gelisah kalau-kalau tidak mendapat pertolongan Alloh di akhirat nanti. Inilah kegelisahan yang baik yang akan mengantarkan kita semakin mendekat kepada Alloh Yang Maha Kaya, Maka Kuasa, lagi Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Alloh Swt. berfirman, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan berdzikir (mengingat) Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tentram.” (QS. Ar Radu [13] : 28)

Gelisah karena memikirkan keselamatan di akhirat akan mengantarkan seseorang untuk semakin ingat dan dekat kepada Alloh. Sehingga Alloh menghujamkan rasa tenang di hatinya. Sungguh ini adalah karunia yang tiada ternilai harganya. Semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa dekat dengan Alloh Swt. Aamiin yaa Robbal aalamiin.

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

[smstauhiid]

Mengerikan, Ini Suasana Hari Pertama di Alam Kubur

SETIAP yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Itu berarti seseorang yang semasa hidupnya berada di atas tanah, dan melakukan segala sesuatu untuk hidupnya, kini harus kembali ke dalam perut bumi.

Tanah yang dulu kita inJak-injak, saat itu menjadi tempat istirahat untuk kita hingga menjelang hari kiamat. Memasuki ruangan yang asing pada hari pertama tentu rasa resah dan gelisah akan senantiasa menghantui diri kita. Apalagi, kita tahu bahwa di dalam tanah itu penuh dengan hewan-hewan yang tidak bersahabat baik dengan manusia, juga suasana yang gelap dan pengap semakin menambah ketidaknyamanan. Lalu, seperti apa gambaran hari pertama di alam kubur itu?

Di dalam kitab Daqaiq al-akbar diceritakan mengenai keadaan mayit di alam kubur pada hari pertama ini.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Salam, sebelum mayit bertemu dengan Munkar dan Nakir, mayit didatangi oleh malaikat bernama Rauman yang wajahnya bersinar bagaikan matahari. Rauman mendatangi mayit dan duduk lalu berkata, “Tulislah apa yang telah engkau lakukan, baik dan jelek.”

Mayit berkata, “Dengan apa aku menulis, mana penda dan tintaku?” Rauman lalu berkata, “Ludahmu adalah tintamu dan jari-jarimu adalah penamu.” Mayit berkata, “Pada apa aku menulis, sedangkan aku tidak mempunyai lampiran.” Malaikat kemudian memotong kain kafan dan memberikannya pada mayit, ia berkata, “Ini lampiranmu, maka tulislah.” Maka mayit menulis amalnya yang baik, ketika sampai pada amalnya yang jelek ia malu kepada malaikat tersebut.

Malaikat langsung berkata, “Wahai orang yang salah, kenapa kamu tidak malu kepada Dzat yang menciptakan kamu ketika kamu melakukannya di dunia dan sekarang kamu malu kepadaku?” Malaikat kemudian mengangkat batang kayu lalu memukulnya. Mayit berkata, “Bangkitkan aku sehingga aku menulisnya.”

Kemudian ia menulis semua amal baik dan jeleknya. Malaikat Rauman lalu menyuruhnya agar melipat dan mengecapnya, kemudian mayit itu melipatnya dan berkata, “Dengan apa aku mengecapnya, sedangkan aku tidak punya cap?” Malaikat berkata, “Caplah dengan kukumu.” Maka ia mengecapnya dengan kukunya dan menggantungkannya di lehernya sampai hari kiamat.

Sungguh beruntunglah bagi mereka yang selama hidup di dunia senantiasa mengingat Allah dalam setiap aktivitasnya. Ketika hendak berbuat maksiat maka ia bersegera beristighfar dan kemudian kembali mengingat Allah.

 

Sumber: Misteri Malam Pertama di Alam Kubur/Karya: Jubait Tablig

MOZAIK

Kehidupan Mukmin dan Kafir Saat di Alam Kubur

SEBUAH riwayat dari Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan juga oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadraknya, menyebutkan, dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya jika mayit telah diletakkan di kuburnya, mampu mendengar suara sandal mereka (yang menguburnya).”

Jika ia seorang Mukmin, shalatnya hadir menemani di daerah kepalanya. Puasa di samping kanan dan zakatnya di samping kiri. Perbuatan lain seperti infak, silaturrahmi, amar makruf, dan akhlak baiknya ada di kakinya.

Kemudian dua malaikat datang dari sebelah kepala. Shalatnya berkata, “Tak ada yang bisa masuk dari arah sini.” Malaikat tadi pindah ke sisi kanannya, dan dicegat oleh puasanya, “Tak ada yang bisa masuk dari arah sini.” Mereka pindah ke samping kiri. Dijawab oleh zakat, “Tak ada yang bisa masuk dari arah sini.”

Lalu mereka mendatangi dari sebelah kaki. Sedekah, silaturrahmi, amar makruf, dan akhlak baiknya, mencegat, “Tak ada yang bisa masuk dari arah sini.” Akhirnya mereka berkata, “Duduklah.” Ia duduk mendekat seperti matahari yang hendak tenggelam. “Biarkan aku shalat,” pintanya.

“Kamu mau shalat? Beritahu kami tentang beberapa hal yang akan kami tanyakan. Apa yang engkau ketahui tentang lelaki yang dahulu pernah bersamamu? Apa yang kaukatakan tentang lelaki yang dahulu pernah bersamamu? Apa yang engkau katakan tentangnya, dan bagaimana persaksianmu terhadapnya?”

Ia menjawab, “Dia adalah Muhammad. Kami bersaksi bahwa dia Rasulullah. Datang membawa kebenaran dari Allah.“ Dikatakan kepadanya, “Atas keyakinan itu kamu hidup dan atas keyakinan itu pula kamu akan dibangkitkan, insya Allah.” Kemudian dikabulkanlah pintu surga. Dikatakan padanya, “Inilah tempat yang telah Allah janjikan padamu.”

Ia menjadi gembira dan bertambah riang. Kuburnya diluaskan hingga tujuh puluh hasta dan disinari cahaya terang. Jasadnya dikembalikan sebagaimana semula. Ruhnya diletakkan dalam hembusan burung yang bergantung di surga.

Inilah yang difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS Ibrahim: 27).

Lalu disebutkan keadaan orang kafir yang bertolak belakang. Ia berkata, “Kuburnya disempitkan sehingga hancur tulang-tulangnya. Itulah “Kehidupan sempit” yang dimaksud dalam firman Allah:

Baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 16).

Abu Dzar Al-Ghifari berkata, “Wahai manusia, aku adalah penasehat bagimu. Aku merasa kasihan kepadamu. Dirikanlah shalat di kegelapan malam untuk menghadapi dahsyatnya alam kubur. Berpuasalah di dunia untuk menghadapi hari kebangkitan dan bersedekahlah untuk menghadapi hari yang berat. Wahai manusia, aku adalah penasehat bagimu. Aku merasa kasihan kepadamu.” (Tarih Dimasyqa, 22/214).*/Sudirman STAIL (sumber buku Malam Pertama di Alam Kubur, penulis Dr. A’idh Al-Qarni, M.A)

 

HIDAYATULLAH

Cara Memperoleh Gelar Haji Mabrur

ADA berbagai cara seseorang yang berhaji ingin mendapatkan gelar haji mabrur. Intinya adalah perilaku keseharian, baik ketika ia beribadah maupun saat bergaul dengan sesama.

Namun sebelum menjalankan perilaku tersebut, pertama, niat berhaji harus benar-benar bersih, yakni berhaji untuk menggapai keredhaan Tuhan. Bukan karena niat ria (ingin pujian), niat dagang, niat cari pengaruh dan jabatan (haji politik) maupun sombong.

Kedua, harta yang dipakai untuk beribadah haji adalah harta yang halal dan baik. Bukan hasil judi, menipu, suap, mencuri maupun merebut harta milik orang lain (misalnya mengambil harta warisan yang merupakan hak saudaranya). Kalau ada kewajiban zakat harta yang belum dikeluarkan, maka harus ditunaikan sebelum berangkat haji. Hal itu merupakan keharusan untuk mensucikan harta tersebut.

Ketiga, pergi haji dengan lahir dan batin yang bersih. Karena itu, sebelum berangkat haji, setiap calon jamaah haji dianjurkan bersilaturahmi dengan saudara, teman, kenalan dan kerabat untuk mohon maaf bila yang bersangkutan punya kesalahan. Dengan cara begitu, diharapkan dia berangkat haji dengan diri yang bersih dari segala salah dan dosa kepada sesama manusia.

Sedangkan dosa dan kesalahan kepada Tuhan dapat dihapuskan dengan cara memperbanyak istighfar, zikir dan beramal saleh. Seperti kata Nabi, amal-amal yang baik dapat menghapuskan dosa-dosa yang kecil. Yang tak kalah pentingnya adalah meningkatkan kualitas shalat.

Keempat, mengutamakan sikap sabar dan saling tolong. Ibadah haji merupakan ibadah yang sangat berat, dan memerlukan pengorbanan jasmani maupun rohani. Berkumpul bersama sekitar dua juta orang yang berbeda-beda perangai dan kebiasaannya (terutama pada puncak ibadah haji di Arafah dan Mina) sudah pasti memerlukan kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa.

Kelima, tentu saja mabrur tidaknya ibadah haji seseorang sangat tergantung pada kesempurnaan pelaksanaan ibadah hajinya. Karena itulah dia harus mengerti betul ilmu (manasik) haji. Dia harus berupaya melaksanakan rukun, wajib maupun sunnat haji sebaik mungkin. Kalau ada hal yang meragukannya, sudah seharusnya dia bertanya kepada ahlinya.

 

MOZAIK

Antara Haji Mabrur dan Haji Mardud

HAJI mabrur, gelar yang dikejar oleh setiap orang yang berhaji.

Gelar ini merupakan puncak prestasi seorang jemaah haji. Begitu tinggi nilainya, hingga Nabi Muhammad SAW menegaskan dalam salah satu hadisnya: “Haji mabrur, tiada balasan yang pantas baginya, kecuali surga.” (HR Tabrani dari Ibnu Abbas)

Haji mabrur adalah ibadah haji yang diterima oleh Allah SWT. Kebalikannya adalah haji mardud (haji yang ditolak).

Tidak mudah mengetahui apakah ibadah haji seseorang itu diterima atau ditolak Allah SWT. Ini urusan yang sifatnya sangat pribadi antara seorang makhluk dengan Tuhannya. Sama dengan apakah salat dan puasa seseorang diterima di sisi Allah SWT.

Namun satu hal yang pasti, gelar mabrur itu dapat diupayakan untuk diraih. Itulah sebabnya, baik orang yang pergi haji maupun keluarga, saudara dan orang-orang sekampungnya kerap berdoa, “Ya Allah, jadikanlah haji kami haji yang Engkau terima (mabrur), dan dosa kami adalah dosa yang diampuni, jadikanlah sa’i kami yang merupakan tanda syukur, serta perniagaan yang tidak merugi.”

Meski sulit diukur, sebetulnya mabrur atau tidaknya ibadah haji seseorang dapat dilihat dari beberapa tanda. Al Hasan Al Bishriy sewaktu memberi tafsir tentang haji mabrur mengatakan, “Setelah pulang dari haji mulailah hatinya rindu kepada akhirat dan dunia tidak mengikat hatinya lagi.” (HAMKA, Tanya Jawab Soal Islam).

Secara fisik, mabrurnya ibadah haji seseorang dapat dilihat dari beberapa perubahan dalam kehidupan keseharian. Contohnya: dia bertambah rajin salat fardhu maupun sunah. Gemar membaca Alquran dan buku-buku agama, senang bersedekah, berzakat dan menolong orang-orang yang berada dalam kesulitan. Ia pun lebih ramah, bersahabat dan hormat menghadapi orang lain, lebih sabar dalam menghadapi kesukaran dan problematika kehidupan. Ia juga lebih beradab dan sopan dalam berpakaian, berkata-kata dan bertingkah laku, serta lebih senang berbuat sesuatu yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat banyak.

 

MOZAIK

 

baca juga: Awas Menyandang Gelar Haji Termasuk Riya

Kisah Seorang Pemarah dan Orang Berilmu

SETELAH bertahun-tahun lamanya, seorang yang sangat mudah marah menyadari bahwa ia sering mendapat kesulitan karena sifatnya itu.

Pada suatu hari ia mendengar tentang seorang darwis yang berpengetahuan dalam. Ia pun menemuinya untuk mendapatkan nasihat.

Darwis itu berkata, “Pergilah ke perempatan anu. Di sana kau akan menemukan sebatang pohon mati. Berdirilah di bawahnya dan berikan air kepada siapa pun yang lewat di depanmu.”

Orang itu pun menjalankan nasihat tersebut. Hari demi hari berlalu, dan ia pun dikenal baik sebagai orang yang mengikuti sesuatu latihan kebaikan hati dan pengendalian diri, di bawah perintah seorang yang berpengetahuan sangat dalam.

Pada suatu hari ada seorang lewat bergegas; ia membuang mukanya ketika ditawari air, dan meneruskan perjalanannya. Orang yang mudah naik darah itu pun memanggilnya berulang kali, “Hai, balas salamku! Minum air yang kusediakan ini, yang kubagikan untuk musafir!”

Namun, tak ada jawaban. Karena sifatnya yang dulu, orang pertama itu tidak bisa lagi menguasai dirinya. Ia ambil senjatanya, yang digantungkannya di pohon mati itu; dibidiknya pengelana yang tak peduli itu, dan ditembaknya. Pengelana itupun roboh, mati.

Pada saat peluru menyusup ke tubuh orang itu, pohon mati tersebut, bagaikan keajaiban, tiba-tiba penuh dengan bunga. Orang yang baru saja terbunuh itu seorang pembunuh; ia sedang dalam perjalanan untuk melaksanakan kejahatan yang paling mengerikan selama perjalanan hidupnya yang panjang.

Nah, ada dua macam penasihat. Yang pertama adalah penasihat yang memberi tahu tentang apa yang harus dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang pasti, yang diulang-ulang secara teratur. Jenis kedua adalah Manusia Pengetahuan. Mereka yang bertemu dengan Manusia Pengetahuan akan meminta nasihat moral, dan menganggapnya sebagai moralis. Namun yang diabdinya adalah kebenaran, bukan harapan-harapan saleh.

Catatan

Guru Darwis yang digambarkan dalam kisah ini konon adalah Najamudin Kubra, salah seorang yang paling agung di antara para ulama Sufi. Ia mendirikan Mazhab Kubrawi ‘Persaudaraan Lebih Besar’ yang sangat mirip dengan mazhab yang kemudian didirikan oleh Santo Fransiskus. Seperti Santo Asisi, Najamudin dikenal memiliki kekuasaan gaib atas binatang.

Najamudin adalah salah seorang di antara enam ratus ribu orang yang mati ketika Khawarizme di Asia Tengah dihancurkan pada tahun 1221. Konon, Jengis Khan Si Mongol Agung bersedia menolong jiwanya jika Najamudin mau menyerahkan diri, karena Sang Kaisar mengetahui kemampuan istimewa Sang Darwis. Tetapi Najamudin tetap berada di antara para pembela kota itu dan kemudian ditemukan di antara korban perang tersebut.

Karena telah mengetahui akan datangnya malapetaka itu, Najamudin menyuruh pergi semua pengikutnya ke tempat aman beberapa waktu sebelum munculnya gerombolan Mongol tersebut.

 

MOZAIK

Ilmu yang Berkah

ALHAMDULILLAH. Segala puji hanya milik Allah, Dzat Yang Maha Menguasai segala ilmu. Dialah Allah, yang pengetahuan-Nya mencakup langit, bumi dan seluruh alam. Hanya kepada Allah kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita akan kembali. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujaadilah [58] : 11)

Saudaraku, Allah Swt berjanji akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu. Semoga kita termasuk pecinta ilmu, karena dengan ilmulah iman menjadi kuat, amal jadi melimpah, hidup pun lebih berderajat.

Namun, ada hal yang memprihatinkan, karena ada juga orang yang berilmu, bahkan gelar akademiknya banyak, tapi kejahatannya juga banyak. Kepolisian pernah menangkap seorang bergelar profesor hukum, jabatannya wakil rektor salah satu kampus ternama di negeri ini. Ia ditangkap di salah satu hotel, sedang bersama seorang mahasiswi dan terungkaplah keduanya positif menggunakan narkoba. Maasyaa Allah, padahal kepakarannya di bidang hukum, tapi jam tiga dini hari ditangkap polisi dalam keadaan seperti demikian.

Demikianlah jika ilmu tidak berkah. Sesungguhnya, ilmu adalah ciptaan Allah, tujuannya atau ujungnya adalah supaya manusia semakin mengenal, yakin, takut dan dekat kepada Allah Swt. Sehingga kedalaman dan keberkahan ilmu itu tidak dilihat dari banyaknya gelar, tapi diukur dari rasa takut kepada Allah Swt. Makanya, ulama itu pengertiannya adalah orang yang takut kepada Allah, sehingga meski ia tidak bersorban, tidak berceramah di mimbar-mimbar namun rasa takutnya sangat besar kepada Allah, maka sesungguhnya ia orang yang berilmu tinggi.

Takut kepada Allah akan membuat seseorang semakin mendekat kepada-Nya. Semakin ia takut kepada Allah, maka semakin ia akan menjauhi maksiat dan mempertebal ibadahnya. Semakin jauh ia dari maksiat dan semakin kuat ibadahnya, maka semakin mulialah ia dan semakin tinggilah derajatnya di hadapan Allah Swt.

Maka, penting bagi kita untuk selalu menyeimbangkan antara ilmu pengetahuan kita tentang dunia, dengan ilmu tentang Allah. Terlalu kita pintar memahami dunia ini, jika tanpa dikuatkan dengan ilmu tauhiid, maka akan mudah kita untuk tersesat. Namun, jika kuat pula ilmu tauhiid kita, maka segala pengetahuan kita tentang dunia ini akan mengantarkan kita pada puncak keyakinan kepada Allah Swt. Inilah orang yang akan Allah tinggikan derajatnya.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita termasuk orang-orang yang sungguh-sungguh mencari ilmu yang berkah, yang mengantarkan kita kepada ketinggian derajat di hadapan Allah Swt. Aamiin yaa Robbal aalamiin.

 

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

SMS TAUHIID