Memelihara Dua Rakaat Shalat Dhuha

SEORANG muslim tiap harinya dituntut melaksanakan 360 sedekah. Barangsiapa melakukannya lalu meninggal dunia pada hari itu, berarti ia telah menjamin dirinya dijauhkan dan terjaga dari api neraka jahannam ketika ia menyeberanginya dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

‘Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya, setiap anak cucu Adam diciptakan di atas 360 ruas persendian. Barangsiapa bertakbir kepada Allah, bertahmid kepada Allah, bertahlil kepada Allah, bertasbih kepada Allah, beristighfar (memohon ampunan) kepada Allah, menyingkirkan sebuah batu dari jalan (yang dilalui) manusia, atau duri, atau juga tulang dari jalan (yang dilalui) manusia, amar makruf, atau nahi munkar (mencegah sesuatu yang mungkar) dengan jumlah 360 ruas persendian itu, sesungguhnya ia berjalan dalam sebuah riwayat: memasuki waktu sore pada hari itu dengan menjauhkan (menghindarkan) dirinya dari api neraka.”

Sementara sejumlah sedekah itu dapat digantikan dengan melaksanakan dua rakaat shalat Dhuha. Abu Dzarr r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Setiap memasuki pagi hari ada sedekah yang harus ditunaikan bagi setiap ruas persendian setiap orang dari kalian. Maka setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (La ilaha illallah) adalah sedekah, setiap takbir (Allahu akbar) adalah sedekah, menyuruh kepada yang makruf adalah sedekah dan mencegah kemungkaran juga sedekah. Hal itu dapat digantikan dengan dua rakaat yang dilakukannya pada shalat Dhuha.”

Abu Buraidah r.a. meriwayatkan, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Pada manusia terdapat 360 ruas persendian. Maka, ia harus melakukan sedekah untuk setiap ruas persendiannya. Para sahabat bertanya, ‘Siapa yang sanggup demikian wahai Nabi Allah?’ Beliau bersabda, ‘Ludah di masjid yang engkau timbun dan sesuatu (bahaya) yang engkau singkirkan dari jalan. Lalu, jika engkau tidak menemukannya maka dengan dua rakaat shalat Dhuha, niscaya dapat mencukupkanmu.”

Karena itu, selayaknya kita tidak lalai terhadap dua rakaat ini. Jika kita tak bisa mengerjakan hal itu disebabkan kondisi pekerjaan atau sebagainya, maka paling tidak kita menyibukkan lisan kita dengan membiasakan amal-amal saleh lainnya, seperti tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil sebanyak sejumlah sedekah tersebut. Sebab, yang demikian tidak sampai menyita lima menit dari waktu kita.*/Sudirman STAIL

 

Sumber buku: Di Atas Titian Jahannam, penulis: Dr. Muhammad An-Nuaim.

HIDAYATULLAH

Fokus di Majelis Taklim, Habib Abdurrahman Kwitang Wafat

Salah satu tokoh habaib Indonesia, Habib Abdurrahman Muhammad meninggal di kediamannya, Kawasan Kwitang,Jakarta Pusat, Senin (15/1) ba’da Isya. Kabar duka ini dibenarkan oleh Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Zen bin Smith .

“Udah mendengar beliau wafat ba’da Isya’, tapi saya masih di luar jadi belum ke sana. Jdi belum dalat informasi yang detail,” ujarnya saat dikonfirmasi Republika.co.id, Senin (15/1).

Habib Zein mengaku, cukup kenal dekat dengan Habib Abdurrahman, sehingga malam ini juga ia berencana untuk takziah ke kediaman almarhum. Menurut Habib Zein, almarhum merupakan penerus dari ayahnya, Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi atau yang lebih dikenal dengan Habib Ali Kwitang.

“Habib Abdurrahman ini kan termasuk penerus dari ulama Betawi Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi,” ucapnya.

Habib Zein mengatakan, Habib Abdurrahman merupakan sosok pendakwah yang selalu konsisten untuk meneruskan perjuangan ayahnya dalam menjalankan Majelis Taklim Kwitang. “Beliau ini termasuk orang yang konsisten dari mudanya mendampingi ayah beliau dan langsung juga fokus untuk tetap mempertahankan Majelis Kwitang sampai sekarang,” katanya.

Menurut dia, almarhum Habib Abdurrahman dalam hidupnya selalu berusaha untuk menjalankan apa yang telah digariskan oleh orang tuanya. Selain itu, Habib Zein juga mengenal almarhum sebagai ulama yang mempunyai akhlak yang diajarkan Rasulullah.

“Saya melihat akhlak beliau dan bagaimana dia terhadap anak muda dan terhadap orang tua, itu benar-benar akhlaknya menunjukkan akhlak yang diajarkan Rasul. Artinya itu yang saya lihat karena saya dekat dengan beliau dalam banyak hal,”  ujarnya.

Kedekatan Habib Zein dan almarhum terbangun sejak sama-sama masuk dalam struktur organisasi Rabithah Alawiyah. Dalam organisasi para habib ini almarhum cukup lama menjadi dewan penasehat. Namun, setelah kesehatannya terganggu, almarhum memohon izin untuk mengundurkan diri.

“Setelah dia tidak sehat, dia minta ijin untuk mundur dari struktur orgabisasi. Tetapi setiap ada hal-hal, saya sering berkonsultasi sama beliau,” katanya.

Menurut Habib Zein, almarhum selalu mendukung dalam memberikan semangat terhadap dirinya dalam banyak hal, baik dari segi pemikiran maupun hal lainnya. Menurut dia, dakwah Habib Abdurrahman juga memiliki pengaruh yang luas pada ulama-ulama Betawi.

“Habib Abdurrahman dengan Islamic Centernya, dia konsisten mengajarkan segala sesuatu dari sisi dakwah yang berbasis pada taklim mingguan. Dan itu pengaruhnya banyak sekali terhadap para ulama-ulama Betawi, terhadap para habaib,” tuturnya.

Habib Abdurrahman lahir sekitar tahun 1890 dikampung kwitang, Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan Kramat II No.79. Semasa hidupnya , Habib Abdurrahman dikenal sebagai sosok yang memiliki banyak keistimewaan. Ayahnya adalah guru yang pertama baginya.

REPUBLIKA

Daripada Kencing Unta, Lebih Baik Minum Air Kurma

Akhir-akhir ini Masyarakat Indonesia tengah ramai memperbincangkan air kencing unta, baik dari segi kesehatan maupun dari segi hukum Islam. Masalah ini muncul ke permukaan setelah viralnya video Ustaz Bachtiar Nasir yang meminum air kencing unta dengan air susu di Makkah.

Terlepas dari itu, dari segi kesehatan air kencing unta berkhasiat membunuh sel-sel kanker dan mengandung obat bagi penyakit di dalam perut. Sayangnya, bagi masyarakat Indonesia, air kencing unta, masih dipandang menjijikkan untuk dikonsumsi, meskipun secara hukum dibolehkan menurut Imam Hambali.

Karena itu, daripada meminum air kencing unta lebih baik meminum sari buah kurma yang juga kaya akan manfaatnya. Apalagi, dalam surat Maryam Allah menceritakan, bahwa pada saat rasa sakit akan melahirkan anak, memaksa Maryam bersandar pada pangkal pohon kurma, Allah memerintahkan dia untuk menggoyangkan pangkal kurma tersebut. Allah berfirman, Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu (QS Maryam: 25)

Tidak hanya itu, dalam hadis juga dianjurkan agar umat Islam mengonsumsi buah kurma. Dalam hadis shahih Buhari dan Muslim, diriwayatan oleh Saad bin Abi Waqash, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Beliau bersabda: “Barangsiapa mengkonsumsi kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun atau sihir”.

Di Indonesia, buah kurma sendiri tidak sulit ditemukan. Bahkan, saat ini, buah kurma telah diproduksi dalam dalam bentuk kemasan minuman. Pada Sabtu (14/1) kemarin, PT Ajwa Madinah Barakah meluncurkan produk minuman kurma inovatif dengan konsep 7 butir kurma yang diberi nama ‘7dates’.

Produk minuman kurma ini tidak hanya tren, namun sarat dengan keunggulan lainnya seperti tanpa pewarna dan pemanis buatan. 7dates dapat dikategorikan sebagai minuman ringan yang baik untuk dikonsumsi secara rutin setiap hari.

7dates dapat dijadikan suplemen bagi masyarakat yang membutuhkan asupan energi dan meningkatkan imunitas tubuh. Salah satu khasiat dari 7dates cocok untuk jantung, ibu hamil, pencegah stroke, dan cocok untuk melawan sel kanker. Karena itu, CEO PT Ajwa Madinah Barakah, Nabil mengatakan, daripada meminum air kencing unta lebih baik meminum air kurma yang kaya akan manfaat kesehatan.

“Kencing unta? pokoknya ente pegang botol 7dates penyakit hilang,” ujar Nabil saat ditanya Republika.co.id di Jakarta, Sabtu (13/1).

Menurut Nabil, 7dates adalah satu-satunya minuman buah kurma yang bebas bahan pengawet dan tanpa pemanis buatan. Minuman ini diproses secara higienis menggunakan mesin industri sesuai standar kemasan minuman.

Nabil menegaskan, 7dates juga sangat baik dikonsumsi oieh para atlet atau mereka yang hobby berolahraga, pekerja berat yang membutuhkan stamina Iebih, serta mereka yang konsen terhadap kesehatan atau dalam proses therapy. “Kami ingin produk ini menjadi jawaban atas persoalan kesehatan dan penambah stamina alami dari kurma. Misi luhur kami salah satunya adalah ingin berkontribusi menciptakan masyarakat Indonesia yang sehat dan kuat. Jadi ,hidup mereka bisa lebih berstamina,” ujar Pria yang dikenal sebagai eksportir beberapa produk pangan asli Indonesia ini.

Untuk mempermudah konsumen mendapatkan 7dates, kini sudah dapat dibeli di jaringan minimarket 212 Mart, Minimarket Sodaqo Apotik Roxy, SocaMart, Freshman, Koppada Mart, KitaMart, OK-OCE Mart, Ummar Minimarket, FamiliMart, dan lslamicMart.

Sementara, salah seorang dokter yang konsen meneliti tentang kurma, dr Agus Rahmadi mengatakan, bahwa melakukan penelitian bersama timnya ternyata manfaat kurma sangat luar biasa. Salah satunya, kata dia, kurma bisa membuat saraf otak menjadi sehat.

Karena, tambah dia, saat bulan puasa tak heran jika dianjurkan memakan buah kurma. Ia pun menyarankan agar orang yang darah tinggi juga banyak mengkonsumsi buah kurma. “Kurma mengandung seratonin, ini berperan penting untuk saraf. Di pisang juga ada seratonin tapi yang banyak dibagian kulitnya. Karena itu kalau ketemu orang yang marah-marah kasih saja kurma. Masih marah-marah, kasih aja kulit pisang,” katanya dalam peluncuran 7dates.

 

REPUBLIKA

Menyoroti LGBT dari Perspektif Alquran dan Fikih

Diskusi tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) kembali hangat seiring kontroversi legalisasi LGBT di Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim. Pro-kontra sudah pasti mengiringi isu LGBT. Secara garis besar, kubu yang pro LGBT mendasarkan pendapatnya pada hak asasi manusia; sedangkan kubu yang kontra LGBT mendasarkan pendapatnya pada nilai-nilai normatif, terutama norma agama.

Bagi umat Muslim, tidak bisa tidak, ketika mendiskusikan isu LGBT, selalu terngiang perilaku kaum Nabi Luth AS yang dikenal sebagai kaum penyuka sesama jenis (homoseksual). Tulisan ini sekedar berbagi informasi tentang LGBT dari perspektif normatif (Alquran) dan yudikatif (fikih).

Dari 27 ayat yang memuat redaksi Luth, terdapat tiga ayat yang melabeli perilaku kaum Nabi Luth AS sebagai fahisyah, yaitu Surat al-A’raf [7]: 80, al-Naml [27]: 54 dan al-‘Ankabut [29]: 28.

(Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) ketika dia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu?” (Q.S. al-A’raf [7]: 80).

Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah itu, sedang kamu memperlihatkan(nya)?” (Q.S. al-Naml [27]: 54)

Dan (ingatlah) ketika Luth berkata pepada kaumnya: “Sesungguhnya kamu benar-benar mengerjakan perbuatan fahisyah yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun dari umat-umat sebelum kamu.” (Q.S. al-‘Ankabut [29]: 28).

Secara bahasa, Ibn Faris menyimpulkan bahwa pola kata fa’-ha’-syin menunjukkan sesuatu yang buruk, keji dan dibenci. Sedangkan al-Ashfahani mengartikan fahisyah sebagai perbuatan atau perkataan yang sangat buruk.

Kata fahisyah disebutkan sebanyak 13 kali dalam al-Qur’an dalam beragam makna. Pertama, perbuatan zina (Q.S. al-Nisa’ [4]: 15, 19, 22, 25; al-Isra’ [17]: 32; al-Ahzab [33]: 30; al-Thalaq [65]: 1). Kedua, dosa besar, seperti riba (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 135), tradisi thawaf dengan telanjang bulat pada masa Jahiliyah (Q.S. al-A’raf [7]: 28), menyebar desas-desus tentang kasus perzinahan (Q.S. al-Nur [24]: 19). Ketiga, homoseksual (Q.S. al-A’raf [7]: 80, al-Naml [27]: 54, al-‘Ankabut [29]: 28).

Sesungguhnya penafsiran kata fahisyah sebagai homoseksual, didasarkan pada tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an, yaitu Surat al-A’raf [7]: 80 ditafsiri dengan ayat berikutnya, Surat al-A’raf [7]: 81.

Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas (Q.S. al-A’raf [7]: 81).

Selain dilabeli sebagai fahisyah, perilaku kaum Nabi Luth AS disebut sebagai “khaba’its”, bentuk jamak dari khabitsah. Tepatnya dalam Surat al-Anbiya’ [21]: 74.

Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan-perbuatan khabits (khaba’its). Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik (Q.S. al-Anbiya’ [21]: 74).

Secara bahasa, Ibn Faris menyimpulkan bahwa pola kata kha’-ba’-tsa’ adalah antonim dari kata thayyib (baik; bagus; bersih; dan sebagainya). Jadi, khabits berarti “buruk; jelek; kotor; dan sebagainya). Sedangkan al-Ashfahani mengartikan kata khabits sebagai sesuatu yang dibenci, jelek dan hina, baik secara empiris maupun logis. Dari sini al-Ashfahani menyebut bahwa kata khabits dijadikan sebagai metonimi (kinayah) dari homoseksual.

Kata khaba’its hanya disebutkan dua kali dalam al-Qur’an. Pertama, Surat al-Anbiya’ [21]: 74 yang berhubungan dengan perilaku homoseksual. Kedua, Surat al-A’raf [7]: 157 yang berhubungan dengan aneka makanan yang diharamkan, seperti babi, darah dan bangkai.

Simpulan dari paparan di atas adalah al-Qur’an melabeli homoseksual sebagai perilaku fahisyah yang berarti perbuatan keji yang tergolong dosa besar; dan sebagai perilaku khabits yang berarti perbuatan hina, baik secara logis maupun empiris. Secara logis, homoseksual dinilai hina, karena menyalahi fitrah manusia normal yang menyukai lawan jenis. Secara empiris, homoseksual dinilai hina oleh mayoritas umat manusia di berbagai belahan dunia. Tampaknya bukan hanya Islam yang mengingkarinya, melainkan seluruh agama di dunia juga mengingkari perbuatan homoseksual.

Dalam Fikih, terdapat perbedaan terminologi dan konsekuensi hukum dari perbuatan asusila yang berhubungan dengan nafsu kelamin.

Wahbah al-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu mengidentifikasi tiga istilah yang relevan dengan topik LGBT, yaitu Zina, Liwath dan Sihaq. Berikut uraian detailnya:

Pertama, Zina. Yaitu hubungan asusila antara laki-laki dengan wanita yang bukan pasangan suami-istri sah. Bagi pelaku zina yang belum menikah (ghairu muhshan), hukumannya adalah dipukul (dera) sebanyak 100 kali, tanpa perlu dikasihani (Q.S. al-Nur [24]: 2). Bagi pelaku zina yang sudah menikah (muhshan), hukumannya adalah dihukum mati dengan cara dirajam atau dilempari batu dan sejenisnya.

Kedua, Liwath (Gay). Yaitu hubungan homoseksual antara laki-laki dengan laki-laki. Statusnya jauh lebih buruk dibandingkan zina. Salah satu alasannya adalah Allah SWT menimpakan azab kepada kaum Nabi Luth AS, dengan azab yang tidak pernah ditimpakan kepada siapapun sebelumnya.

Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi (Q.S. Hud [11]: 82).

Azab berupa bumi yang terbalik, seolah mengisyaratkan bahwa perilaku kaum Nabi Luth AS memang “terbalik” dibandingkan perilaku manusia normal pada umumnya.

Ada dua pendapat terkait hukuman gay (liwath). Menurut Imam Maliki, Syafi’i dan Hambali. Hukumannya sama dengan zina. Lalu dipilah lagi, Imam Maliki dan Hambali  berpendapat bahwa hukuman liwath adalah hukuman mati, baik pelakunya berstatus muhshan maupun ghairu muhshan. Menurut Imam Syafi’i, disamakan dengan hukuman pezina, yaitu apabila berstatus muhshan, maka dihukum mati; apabila berstatus ghairu muhshan, maka dipukul sebanyak 100 kali tanpa belas kasih.

Pendapat berbeda dikemukakan oleh Imam Hanafi yang menilai bahwa pelaku gay (liwath) adalah dita’zir. Ta’zir berarti hukuman yang didasarkan pada kebijakan hakim yang berwenang. Dalam kasus ini, hukuman ta’zir tidak boleh berupa hukuman mati.

Ketiga, Sihaq (Lesbi). Yaitu hubungan homoseksual antara wanita dengan wanita. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Perilaku lesbi antar kaum wanita adalah perzinahan” (H.R. al-Thabarani). Hukuman pelaku lesbi (sihaq) adalah dita’zir sesuai dengan kebijakan hakim yang berwenang.

Ada dua penjelasan Fikih terkait Transgender. Pertama, jika Transgender dalam pengertian laki-laki yang berperilaku seperti wanita (waria) atau sebaliknya, maka hukumnya diharamkan, berdasarkan Hadis yang melarang laki-laki berpenampilan seperti wanita atau sebaliknya. Kedua, jika Transgender dikaitkan dengan operasi mengubah kelamin, dari laki-laki menjadi wanita atau sebaliknya, maka hukumnya juga diharamkan, karena tergolong tabdil atau mengubah ciptaan Allah SWT.

Berbeda halnya dengan takmil (menyempurnakan) dan tahsin (memperbagus) ciptaan Allah SWT yang hukumnya diperbolehkan. Misalnya, Orang memiliki gigi yang tidak rata, lalu diratakan. Orang memiliki rambut keriting (ikal), lalu diluruskan. Dan sebagainya. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Oleh: Dr Rosidin MPdI , Dosen STAI Ma’had Aly Al-Hikam Malang

 

REPUBLIKA

Kisah Zina Adalah Hutang

Sebuah kisah nyata, dan ini dipublikasikan dalam koran-koran Arab. Aku tidak akan menyebutkan namanya. Yang menceritakan kisah ini adalah orang yang melakukannya sendiri. Dan dia meminta agar pihak koran tidak menyebutkan namanya. Dia hanya ingin agar orang-orang mengetahui kisahnya.

Dia mengisahkan, “Ketika sedang di kampus dengan teman-teman, dan punya banyak hubungan dengan gadis-gadis. Pada suatu waktu, aku bertemu seorang gadis dan melakukan hubungan terlarang dengannya. Dan aku tetap melakukannya hingga dia hamil karena berhubungan denganku. Ketika pihak keluarganya mengetahui hal ini, dan gadis tersebut menceritakan kepada kakaknya, dia menghajarku.

Setelah itu, aku berkata kepadanya, “Aku tidak mengenal adikmu. Carilah orang lain yang menghamilinya!”

Aku kemudian meninggalkannya, dan pergi.

Karena memang tidak memiliki bukti untuk membuktikan kesalahanku, mereka meninggalkanku.

Aku melupakan kejadian ini.

Tahun-tahun berlalu.

Pada suatu hari, aku pulang ke rumah dan menemukan ibuku pingsan di lantai. Aku mencoba untuk menyadarkannya. Setiap kali tersadar, ibu berteriak dan pingsan lagi.  Aku menyadarkannya untuk kedua kalinya, tapi lagi-lagi ia berteriak dan pingsan. Aku mencoba untuk menyadarkannya tiga kali sampai aku berkata, “Wahai ibu, apa yang terjadi?”

Ibu berteriak dan berkata, “Saudarimu!”

“Apa yang terjadi dengan saudariku?” tanyaku.

“Saudarimu dihamili tetangga.” Jawab ibu.

Aku pung langsung menemui tetanggaku, dan mulai menyerangnya sampai dia berkata kepadaku dengan kata-kata yang seolah seperti anak panah yang menghunjam hatiku.

Tahukah kalian apa yang ia katakan kepadaku?

Dia mengatakan, “Aku tidak mengenal adikmu. Coba tanyakan orang lain yang menghamilinya!”

Subhanallah!

Hal yang sama seperti yang kuucapkan kepada keluarga gadis di kampus bertahun-tahun yang lalu.

Balasan tergantung pada amal perbuatannya.

Demikianlah.

Apakah kisah ini selesai? Belum.

Aku mengalami depresi yang berat setelahnya. Kemudian setelah berlalu beberapa tahun, aku memutuskan untuk menikah. Setelah bertunangan dan akad nikah, kami siap untuk pesta pernikahan.

Pada pesta pernikahan, aku mendapatkan kejutan. Calon istriku mengatakan bahwa ia pernah melakukan perbuatan zina sebelumnya. Dia berkata kepadaku, “Tolong tutupi keburukanku, semoga Allah juga menutupi keburukanmu.”

Lalu aku berkata kepada diriku sendiri, “Sudah cukup ya Allah! Cukup! Cukup! Aku sudah menjalani cukup hukuman!”

Aku menghela nafas –mencoba menelan cobaan ini. Dan aku menghabiskan banyak waktu dengan istriku hingga dia melahirkan seorang bayi perempuan yang bagaikan rembulan. Kemudian ketika dia berusia 6 tahun, anakku datang dari luar dengan menangis.

Apa yang telah terjadi?

Penjaga rumah telah memperkosanya.

Tidak ada perubahan, atau kekuatan kecuali atas kehendak Allah, Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa.

Allah berfirman, “Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu, dan Alalh sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Al-Anfal: 30).

Saudara-saudariku tercinta…,
Jangan katakan bahwa ini sering terjadi pada orang yang tidak taat. Jangan!

Gadis dari kampus yang berzina dengannya di awal cerita memiliki seorang saudara yang sedih ketika tahu saudarinya diziniai. Lalu Allah memberikannya hukuman kepada saudari si pemuda, ya! Dan dia akan mempunyai seorang suami, yang akan Allah ujia melalui istrinya.

Gadis itu juga mempunyai seorang ayah yang hatinya hancur karenanya, sehingga Allah mengujinya melalui putrinya!

Balasan tergantung dari amal perbuatannya. Jadi dia harus membawa hukuman atas perbuatannya.

Dan untuk orang-orang yang tidak bersalah dalam kisah ini, maka ini menjadi cobaan bagi mereka. Allah ingin mengangkat derajat mereka, dan menghapus dosa-dosa mereka karenanya.

Saudara-saudariku, Allah cemburu untuk para wanita –yang dinodai kehormatannya. Mahasuci Dia! Dan Dia akan membalaskan dendam untuk mereka.

Maka, berhati-hatilah! –Kisah ini selesai sampai di sini.

Ya Allah, alangkah beratnya balasan bagi pelaku zina.

Membaca kisah di atas, sungguh kita teringat dengan tangisan Imam Asy-Syafi’i tentang dosa zina.
Satu saat Asy Syafi’i ditanya mengapa hukum bagi pezina sedemikian beratnya?

Wajah Asy Syafi’i memerah, pipinya rona delima.

“Karena,” jawabnya dengan mata menyala, “Zina adalah dosa yang bala’ akibatnya mengenai semesta keluarganya, tetangganya, keturunannya hingga tikus di rumahnya dan semut di liangnya.”

Ia ditanya lagi: Dan mengapa tentang pelaksanaan hukuman itu? Allah berfirman, “Dan janganlah rasa ibamu pada mereka menghalangimu untuk menegakkan agama!”

Asy Syafi’i terdiam… Ia menunduk, Ia menangis.

Setelah sesak sesaat, ia berkata…, “Karena zina seringkali datang dari cinta dan cinta selalu membuat kita iba .. Dan syaitan datang untuk membuat kita lebih mengasihi manusia daripada mencintai-Nya.”

Ia ditanya lagi, “Dan mengapa, Allah berfirman pula, “Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” Bukankah untuk pembunuh, si murtad, pencuri Allah tak pernah mensyaratkan menjadikannya tontonan?

Janggut Asy-Syafi’i telah basah, bahunya terguncang-guncang.

“Agar menjadi pelajaran…”
Ia terisak…

“Agar menjadi pelajaran…”
Ia tersedu…

“Agar menjadi pelajaran…”
Ia terisak…

Lalu ia bangkit dari duduknya, matanya kembali menyala, “Karena ketahuilah oleh kalian.. sesungguhnya zina adalah hutang. Hutang, sungguh hutang… dan.. salah seorang dalam nasab pelakunya pasti harus membayarnya!”

Ya, hindarilah segala yang tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang muslim. Zina adalah hutang, hutang, hutang. Jika engkau berhutang, maka ketahuilah bahwa tebusannya adalah anggota keluargamu. Barangsiapa berzina, maka akan ada yang dizinai, meskipun di dalam rumahnya. Camkanlah hal ini jika engkau termasuk orang yang berakal.

Semoga Kisah Zina adalah Hutang menjadikan kita lebih hati-hati dalam bertindak dan semoga diri dan keluarga kita terhindar dari perbuatan zina.

HASMI DEPOK

Doa dan Solusi Melunasi Lilitan Hutang

Banyak orang yang menginginkan cara cepat atau praktis dalam menyelesaikan suatu masalah terlebih masalah hutang, sehingga tak jarang yang melakukan amalan yang tidak dicontohkan.

Beragam cara untuk mendapatkan uang dengan cara instan dalam kondisi kepepet ataupun terdesak dan mungkin ini ciri khas manusia zaman sekarang dimana disaat kepepet aturan syari’at menjadi nomor dua meskipun harus mengorbankan iman segalanya siap untuk diterjang yang penting masalah bisa cepat hilang, dan sangat minim sekali rasa sabarnya ketika menerima ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Berbicara tentang prinsip instan untuk lepas dari masalah dengan mengorbankan aqidah yang banyak ataupun marak dilakukan masyarakat, kita bisa melihat perbedaan pelaku syirik di zaman jahiliyah dengan pelaku syirik dimasa sekarang, dimana orang musyrikin dimasa jahiliyah hanya melakukan kesyirikan ketika mereka dalam kondisi lapang, sementara dalam kondisi terjepit dan kepepet mereka tidak berbuat syirik, sebagaimana kita bisa lihat dalam ayat alqur’an surat Al-Ankabut : 65 yang artinya:

“ Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (Ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah ‘azza wajalla menyelamatkan mereka sampai ke daratan, malah mereka kembali mempersekutukan (Allah) “

Kebalikan dari kondisi tersebut adalah keadaan masyarakat di zaman ini, mereka tega menjual iman dalam semua keadaan, terutama ketika lagi kepepet dan butuh pemecahan masalah yang cepat, karena itu rata-rata pasien klinik perdukunan adalah orang yang lagi kepepet. Kita sepakat bahwa hutang adalah masalah dan rajin berhutang adalah penyakit, terlebih banyaknya lembaga konvensional yang membuka lebar-lebar pintu untuk berhutang, penyebaran kartu kredit yang marak telah menjadi media paling ampuh dalam penyebaran virus hutang.

Adapun solusi yang paling bagus agar tidak terlilit hutang adalah berdoa disamping tetap berusaha semaksimal mungkin,karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memohon perlindungan agar tidak terlilit hutang. Diantara doa melunasi hutang yang shahih sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu :

Telah diceritakan dari Zuhair bin Harb, telah diceritakan dari Jarir, dari Suhail, ia berkata, “Abu Shalih telah memerintahkan kepada kami bila salah seorang di antara kami hendak tidur, hendaklah berbaring di sisi kanan kemudian mengucapkan,

اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيْلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ اْلآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ، اِقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

Allahumma robbas-samaawaatis sab’i wa robbal ‘arsyil ‘azhiim, robbanaa wa robba kulli syai-in, faaliqol habbi wan-nawaa wa munzilat-tawrooti wal injiil wal furqoon. A’udzu bika min syarri kulli syai-in anta aakhidzum binaa-shiyatih. Allahumma antal awwalu falaysa qoblaka syai-un wa antal aakhiru falaysa ba’daka syai-un, wa antazh zhoohiru fa laysa fawqoka syai-un, wa antal baathinu falaysa duunaka syai-un, iqdhi ‘annad-dainaa wa aghninaa minal faqri.

Artinya:

“Ya Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah). Ya Allah, Engkau-lah yang awal, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelahMu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang lahir, tidak ada sesuatu di atasMu. Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang luput dari-Mu. Lunasilah utang kami dan berilah kami kekayaan (kecukupan) hingga terlepas dari kefakiran.” (HR. Muslim no. 2713)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan kekikiran, belitan hutang dan penindasan orang.” (HR. Bukhari no. 6369)

Adapun solusi terbebas dari hutang adalah kita harus yakin, dimana semua orang menginginkan hidup bebas tanpa beban hutang, lalu bagaimana jika sudah terlibat hutang :

  1. Yakinilah bahwa semua ini adalah ujian dari Allah, anda harus bersabar, karena Allah tidak akan memberikan ujian diluar kemampuan manusia
  2. Jangan sampai terbetik dalam diri kita sikap su’udzon, berburuk sangka kepada Allah Azza wa Jalla, seperti beranggapan bahwa Allah sudah tidak sayang kepada anda, lebih-lebih muncul anggapan bahwa Allah tidak adil. Karena itu jaga hati kita
  3. Hindari semua tindakan yang justru akan memperparah keadaan anda, seperti pergi ke dukun, mencari pesugihan, mengamalkan doa-doa ataupun wirid-wirid tertentu tanpa ada dalil yang shahih dari Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan solusi-solusi instan lainnya.
  4. Hadapi ujian ini dengan berani, jangan melarikan diri, apalagi sampai bunuh diri karena hal ini akan menyusahkan keluarga anda dan ingatlah bahwa hukuman akhirat jauh lebih berat.

“Siapa saja yang meminjam harta orang lain dengan niat mengembalikannya, niscaya Allah akan melunasinya atas namanya dan barangsiapa meminjam harta orang lain dengan niat membinasakannya, maka Allah akan membinasakannya.(HR.Bukhari no.2387)

  1. Perbanyak memohon ampun kepada Allah, bisa jadi Allah menimpakan hutang kepada kita disebabkan perbuatan dosa yang banyak kita lakukan
  2. Gunakan sarana yang mubah untuk mendapatkan uang yang bisa anda lakukan, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberkahi usaha anda tersebut
  3. Meminta tempo kepada orang yang memberi hutang agar anda mempunyai waktu yang cukup untuk mengumpulkan uang, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya:

“ Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) tiu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui ( QS Al-Baqarah:280 )

Demikianlah beberapa point penting tentang doa dan solusi melunasi lilitan hutang, semoga bermanfaat, wallohu a’lam.

 

HASMIDEPOKORG

Bahagiakan Orangtuamu, Meski Ia Telah Tiada

KEHADIRAN kita, terlepas dari apapun yang menjadi catatan kecewa dan amarah dalam perjalanan hidup di bawah pengasuhan orangtua, sungguh keduanya adalah orang yang berharap kita menjadi insan yang beriman dan karena itu, Islam mewajibkan setiap anak untuk berbakti kepada keduanya.

Karena kesabaran seorang ibu, setiap kita bisa menjadi manusia. Karena dedikasi seorang ayah, setiap kita bisa menjadi orang berarti dalam kehidupan. Tanpa keduanya, entah seperti apa nasib yang akan kita alami.

Kadangkala, kalau kita mengingat masa kecil, tanpa tahu kelelahan dari keduanya, kita sebagai anak meronta-ronta agar diberikan apa yang menjadi keinginannya. Orangtua tentu saja tidak tega, karena itu mereka tak pernah berhenti berkorban untuk kebaikan anak-anaknya.

Wajar jika kemudian, Allah Ta’ala memerintahkan setiap anak untuk bersyukur, berbakti dan tentu saja mendoakan kedua orangtuanya.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman [31]: 14).

Namun, waktu yang terus berputar, menjadikan banyak anak saat ini terpisah dari kehidupan orangtuanya. Ada yang harus meninggalkan kedua orangtuanya karena sekolah, kuliah, bekerja, atau bahkan berdakwah, sehingga berbakti setiap hari adalah hal yang tidak mungkin dilakukan.

Dalam kondisi seperti ini, maka doa adalah satu-satunya senjata yang bisa diandalkan setiap anak untuk terus bisa berbakti kepada kedua orangtuanya. Memohon kepada Allah kebaikan bagi keduanya, hingga mereka berkenan memberikan ridhanya untuk kebaikan hidup kita sebagai putra dan putri dari keduanya.

Hal ini karena posisi orangtua di dalam Islam sangatlah tinggi, bahkan begitu pentingnya ridha orangtua, Nabi Muhammad pun memberikan penegasan soal ini.

“Keridhaan Allah itu tergantung pada keridhaan orangtua dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan orangtua.”  (HR Tabrani)

Oleh karena itu, berbuat baik, berbakti kepada orangtua atau birrul walidayn banyak sekali bentuknya, dan bagi yang jauh dari kedua orangtua pun ada kesempatan untuk tetap bisa birrul walidayn.

Jika kini, Allah telah memberikan kelapangan rezeki, maka berusahalah berbakti dengan memenuhi keinginannya, yang bisa untuk diwujudkan.

“Dari Muhammad bin Sirin berkata : Pada zaman Ustman bin Affan radhiyallahu ‘anhu harga pohon kurma pada saat itu mencapai 1.000 dirham. Saat itu Usamah bin Zaid melubangi pohon kurma yang di belinya dan mengeluarkan jantung pohon kurma-nya (empol- bahasa Jawa) dan di berikan kepada ibunya sebagai makanan. Kemudian Muhammad bin Sirin berkata ; Wahai Usamah apa yang membuatmu melakukan hal ini ? Sedangkan engkau tahu bahwa harga kurma ini senilai 1.000 dirham! Usamah bin Zaid berkata: Sesungguhnya ibuku meminta jantung pohon kurma kepadaku. Dan tidaklah ibuku meminta sesuatu yang aku kuat untuk membelinya kecuali aku akan memberikannya.” (HR. Hakim).

Demikian sebuah contoh bagaimana berbakti kepada orangtua. Lantas bagaimana jika diri tergolong belum mampu untuk membahagiakan orangtua seperti Usamah bin Zaid, maka doa adalah senjata pamungkas. Dan, untuk ini, Al-Qur’an telah memberikan doa yang mesti diucapkan.

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra [17]: 24).

Lantas, bagaimana jika orangtua telah tiada?

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu ada seorang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamlalu berkata, “Sesungguhnya aku melakukan sebuah dosa yang sangat besar. Adakah cara taubat yang bisa ku lakukan?” Nabi bertanya, “Apakah engkau masih memiliki ibu.” “Tidak” jawabnya. Nabi bertanya lagi, “Apakah engkau memiliki bibi dari pihak ibu.” “Ya,” jawabnya. Nabi bersabda, “Berbaktilah kepada bibimu.” (HR. Tirmidzi).

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi, ia berkata,

بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِى سَلِمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ « نَعَمِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا ».

“Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya, pen.). (Bentuknya adalah) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Daud no. 5142 dan Ibnu Majah no. 3664).

Terhadap yang menuntut ilmu, berbakti kepada orangtua bisa diwujudkan dengan benar-benar menjaga etos belajar, sehingga tidak ada waktu, energi, dan biaya yang terbuang percuma.

Sekalipun orangtua tidak melihat bagaimana kehidupan kita kala belajar di tanah rantau, tapi ingatlah Allah melihat, dan bayangkanlah, betapa kecewanya kedua orangtua bila mengetahui ternyata anaknya yang sekolah atau kuliah dari kampung halamannya, ternyata tidak benar-benar belajar dengan baik.

Jadi, meningkatkan motivasi belajar dengan target mendapatkan hasil terbaik secara keseluruhan merupakan bakti penting seorang anak kepada orangtuanya yang jauh di kampung halaman.

Jika kita tahu dampak durhaka kepada orangtua, hendaknya jangan membuat keduanya marah, sedih dan kecewa dengan tingkah laku kita sebagai anaknya. Itulah mengapa, setiap orangtua diperintahkan untuk mendidik putra-putrinya menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Jika, perilaku kita sebagai anaknya tidak sholeh dan sholehah, maka itu akan membebani kedua orangtua, baik di dunia maupun di akhirat.

“Semua dosa akan ditangguhkan Allah Subhanahu Wata’ala sampai nanti hari kiamat, kecuali durhaka kepada kedua orangtua, maka sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala akan menyegerakan balasan kepada pelakunya di dunia sebelum meninggal.” (HR. Hakim)

Dengan demikian, dalam kondisi apapun kita sebagai anak dari orangtua kita, kaya, miskin, belajar, bekerja atau pun berdakwah, jangan pernah melewatkan doa untuk keduanya.

Semoga Allah masukkan kita sebagai anak-anak yang sholeh dan sholehah, sehingga mendapatkan ridha-Nya, karena ridha kedua orangtua kita semua. Aamiin.*/Imam Nawawi

 

HIDAYATULAH

Foto: Seorang pria Muslim Rohingya membawa kedua orang tuanya sejauh 100 mil untuk melepaskan diri aksi pembersihan etnis tentata Burma/Myanmar menuju Banglades baru-baru ini

Contoh Sifat Malu Orang-Orang Saleh

CONTOH akhlak yang mulia ini dapat dilihat pada Nabi Musa alaihis salam. Nabi Musa adalah pemalu dan selalu tertutup auratnya. Tidak pernah terlihat kulitnya karena malu. Kemudian Bani Israil mencelanya. Mereka sampai mengatakan bahwa Musa selalu tertutupi badannya karena dia terkena kusta atau penyakit kulit. (HR. Bukhari dan Muslim)

Sungguh generasi teladan yang pertama, yang telah mewarisi akhlaq mulia dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mereka itu sangatlah pemalu. Di antara mereka yang dijadikan contoh yang mengagumkan dalam hal ini, hingga para malaikat pun malu kepadanya adalah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Yang paling jujur dalam rasa malu adalah Utsman.” (Hadits ini shahih, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 1224)

Beliau shallallahu alaihi wa sallam juga mengatakan tentang Utsman, “Apakah aku tidak malu pada seseorang yang para Malaikat saja malu kepadanya.” (HR. Muslim, no.6362)

Ya Allah bekalilah kami dengan sifat yang mulia ini. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. Innahu samiun qoriibum mujibud daawaat.

Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi wa sallam. [Muhammad Abduh Tuasikal]

 

INILAH MOZAIK

Sifat Malu yang Terpuji dan Tercela

PERLU diketahui bahwa malu adalah suatu akhlak yang terpuji kecuali jika rasa malu tersebut itu muncul karena enggan melakukan kebaikan atau dapat terjatuh dalam keharaman. Maka jika seseorang enggan untuk melakukan kebaikan seperti enggan untuk nahi mungkar (melarang kemungkaran) padahal ketika itu wajib, maka ini adalah sifat malu yang tercela. Jadi ingat! Sifat malu itu terpuji jika seseorang yang memiliki sifat tersebut tidak menjadikannya meninggalkan kewajiban atau melakukan yang haram. (Syarh Al-Arbain, hlm. 210)

“Jika Tidak Malu, Lakukanlah Sesukamu”. Para ulama mengatakan bahwa perkataan ini ada dua makna:

Pertama: Kalimat tersebut bermakna perintah dan perintah ini bermakna mubah. Maknanya adalah jika perbuatan tersebut tidak membuatmu malu, maka lakukanlah sesukamu. Maka makna pertama ini kembali pada perbuatan.

Kedua: Kalimat tersebut bukanlah bermakna perintah. Para ulama memiliki dua tinjauan dalam perkataan kedua ini:

a) Kalimat perintah tersebut bermakna ancaman. Jadi maknanya adalah: Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu (ini maksudnya ancaman). Hal ini sebagaimana firman Allah Taala (yang artinya), “Lakukanlah sesukamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang kamu lakukan.” (QS. Fushilat: 40). Maksud ayat ini bukanlah maksudnya agar kita melakukan sesuka kita termasuk perkara maksiat. Namun, maksud ayat ini adalah ancaman: Jika kamu tidak memiliki rasa malu, lakukanlah sesukamu. Pasti engkau akan mendapatkan akibatnya.

b) Kalimat perintah tersebut bermakna berita. Jadi maknanya adalah: Jika kamu tidak memiliki rasa malu, maka lakukanlah sesukamu. Dan penghalangmu untuk melakukan kejelekan adalah rasa malu. Jadi bagi siapa yang tidak memiliki rasa malu, maka dia akan terjerumus dalam kejelekan dan kemungkaran. Dan yang menghalangi hal semacam ini adalah rasa malu. Kalimat semacam ini juga terdapat dalam hadits Nabi yang mutawatir, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka silakan ambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kalimat ini adalah perintah, namun bermakna khabar (berita). Jadi jika tidak memiliki sifat malu, pasti engkau akan terjerumus dalam kemungkaran. Itu maksud perintah di sini bermakna berita. (Lihat Tawdhih Al-Ahkam, 4: 794, Darul Atsar; Syarh Arbain Syaikh Shalih Alu Syaikh, hlm. 113; Syarh Arbain Al-Utsaimin, hlm. 207; Jamiul Ulum wal Hikam, hlm. 255)

 

INILAH MOZAIK

Enam Prinsip Mendidik Anak (selesai)

Sambungan artikel PERTAMA

 

Kedua, waktu makan

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abu Salamah Ra ia berkata: Aku masih anak-anak ketika berada dalam pengawasan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Tanganku bergerak kesana kemari di atas nampan makanan. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: Hai anak kecil….sejak itu begitulah cara makanku.

Anak-anak ketika menghadapi makanan terkadang kita jumpai melakukan hal-hal yang tidak pantas.

Seperti berebut makanan, duduk dengan kaki diangkat dan sebagainya. Saat itulah pentingnya orang tua mendampingi dan mengarahkan anak untuk berbuat santun dan sopan.

Ketiga, waktu anak sakit

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Anas ibn Malik Ra berkata: Seorang anak Yahudi pernah dijenguk oleh Rasulullah.

Nabi duduk di dekat kepalanya dan bersabda kepadanya: Masuk Islamlah kamu. Anak itu melihat ke arah bapaknya yang saat itu juga berada di sana. Si bapak berkata: Turutilah Abul Qasim. Maka, dia pun masuk Islam.

Dikatakan, meski sudah lama berinteraksi dengan anak dan keluarga Yahudi itu, tapi Nabi justru mengajaknya masuk Islam ketika sang anak sedang sakit dan dijenguk oleh Nabi.

Keempat: Bersikap adil terhadap semua anak

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir Ra. Bahwa bapaknya membawanya menghadap Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan berkata: Sesungguhnya aku memberikan seorang budakku kepada anakku ini.

Rasulullah bertanya: Apakah seluruh anakmu engkau beri pemberian yang sama dengannya? Dia menjawab: tidak. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: Jangan engkau persaksikan aku dalam kejahatan.

Hadits ini jelas menunjukkan bahwa memberikan sesuatu ataupun bersikap haruslah adil terhadap semua anak. Karena jika tidak maka orang tua telah berbuat kejahatan.

Disimpulkan bahwa tidak menyamaratakan pemberian (tidak adil) kepada anak-anak hukumnya haram. Karena membedakan pemberian dapat menimbulkan permusuhan, kebencian dan kedengkian di antara mereka.

Agar jiwa mereka tidak terkotori dengan sifat dengki hendaknya orang tua menegakkan keadilan seadil-adilnya. Karena yang biasa terjadi orang tua lebih membela sang adik dan menyalahkan kakak atau sebaliknya.

Subhanallah, inilah solusi yang terang benderang buat para orang tua.

Kelima: Memberikan Hak Anak

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad Ra, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam diberi minuman. Nabipun minum dan diapit oleh seorang anak kecil di samping kanan sedang di samping kiri Nabi tampak berjejer beberapa orang dewasa.

Nabi menoleh kepada anak itu, apakah engkau mengizinkanku untuk memberi minum kepada mereka terlebih dahulu?

Anak kecil itu menjawab: tidak, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun. Maka, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam meletakkan cawan itu di tangannya.

Kisah ini mengajarkan penghormatan hak kepada anak kecil, dan bukan justru mengorbankannya untuk kepentingan orang dewasa.

Sebab menunaikan hak anak mengajarkan mereka untuk menerima kebenaran dan menumbuhkan karakter positif tentang memberi dan menerima.

Misalnya saja, ada orang lain ingin meminjam barang milik sang anak, serta merta orang tua biasanya memberikannya tanpa meminta izin lebih dahulu kepada anak, sang pemilik mainan tersebut.

Jika anak protes, tak sedikit si anak malah mendapat teguran keras dan memaksa dia untuk merelakan barangnya dipinjam.

Kira-kira kalau dewasa kelak bagaimana sang anak bisa menghormati hak orang lain?

Keenam: Membantu anak berbakti dan ta’at.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mendoakan orang tua yang memberikan peluang atau mendukung anak-anak untuk berbakti dan ta’at agar mendapatkan rahmat dan ridha Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Raulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: Semoga Allah merahmati orang tua yang membantu anaknya berbakti kepadanya.

Juga, diriwayatkan oleh ath-Thabarani dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: Bantulah anak-anak kalian untuk berbakti. Barang siapa yang menghendaki, dia dapat mengeluarkan sifat durhaka dari anaknya.

Cara sederhana membantu anak untuk berbakti adalah tidak membebani mereka dengan sesuatu yang sulit.

Mengarahkan untuk mengerjakan kebaikan sesuai dengan porsi umur dan kemampuannya. Tentunya dengan bertambahnya umur dan fisik, beban anak juga akan bertambah.

Hal fatal yang sering terjadi ketika orang tua tidak melatih anak untuk menyelesaikan beban mereka secara bertahap. Akhirnya banyak anak yang tidak dewasa sesuai dengan usianya.*/Maftuhaibu lima orang anak di Balikpapan

 

HIDAYATULLAH