Tak Ada Korban saat Badai Pasir, Satu Tenda Jamaah Roboh

MAKKAH – Peristiwa badai pasir yang menerjang jamaah haji saat melaksanakan wukuf di Arafah, Muzdalifah, Mina (Armina) tidak menimbulkan jatuhnya korban baik luka maupun meninggal dunia.

Hanya saja, badai pasir yang disertai hujan itu mengakibatkan robohnya satu tenda jamaah dan tiga tenda logistik roboh.

Salah satu anggota satuan tugas Arafah Yusdi mengatakan, tidak ada korban dalam peristiwa ini, hanya beberapa tenda roboh termasuk satu tenda jamaah dari Maktab 52, jamaah SUB 79 Surabaya harus dievakuasi ke Kloter Jakarta-Pondok Gede.

“InsyaAllah tidak ada (korban), hanya ada beberapa tenda katering roboh dan satu tenda jamaah ikut roboh,” ujar Yusdi.

Menurutnya, sebenarnya tenda itu sesuai standar dan kuat, tapi memang tenda yang roboh karena angin kencang. Tapi dia memastikan semuanya aman sudah terkendali karena tim bergerak cepat saat kejadian.

Sementara Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengakui saat terjadi angin ribut ada beberapa tenda roboh, terutama tenda barang logistik dan katering. “Tadi saya lihat memang ada tenda-tenda yang roboh, tetapi bukan tenda yang didiami jamaah kita,” kata Menag Lukman.

OKEZONE

Info Haji 2017: Dua Juta Jamaah Haji Mulai Wukuf di Arafah meski Panas Menyengat

Sekitar dua jamaah hari ini, 9 Dzulhijjah atau 31 Agustus 2017 mulai memadati Padang Arafah untuk menjalankan puncak ibadah haji, yakni ibadah wukuf di Arafah. Demikian keterangan pers yang didapat Tempo.co dari Kementerian Agama, 31 Agustus 2017. Meski dalam kondisi yang panasnya mencapai suhu 50 derajat, jamaah haji tetap bersemangat

Ibadah wukuf di Arafah adalah berdiam diri di Padang Arafah dari selepas shalat Dzuhur hingga waktu Magrib. Di sana jamaah dari seluruh penjuru dunia akan berdiam di tenda-tenda darurat untuk memperbanyak dzikir dan doa. Tidak ada ibadah khusus atau ritual khusus.

Inilah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Para jamaah hanya mengenakan pakaian ihram (bagi laki-laki hanya dua lembar kain tanpa jahitan). Tujuannya mengingatkan manusia kelak mereka akan dikumpulkan di Padang Mahsyar seperti halnya wukuf di Arafah ini.

Beberapa ulama Indonesia seperti pengasuh pesantren Daarul Qur’an Yusuf Mansur menggelar khutbah Arafah sehabis Dzuhur. Hal serupa juga dilakukan oleh KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym. Dia akan mengadakan khutbah Arafah yang disiarkan live di akun Facebook Daarut Tauhid.

Ada banyak pendapat tentang berapa lama waktu wukuf Arafah. Pakar ilmu Alquran, Prof Quraish Shihab dalam bukunya Haji dan Umrah mengatakan, wukuf adalah keberadaan di Arafah. Waktunya mulai matahari tergelincir atau waktu Zhuhur, sampai terbenam.

Namun, ada beberapa pendapat lainnya. Imam Hambali berpendapat waktunya mulai dari terbit fajar atau subuh pada 9 Dzulhijah. Sedangkan Imam Syafi’i berpendapat, wukuf dinilai sah apabila jamaah haji sudah mencapai Arafah, walau pun hanya sesaat.

Wukuf di Arafah merupakan salah satu rukun haji. Bila ini tak dikerjakan maka haji seseorang tidak sah. Bagi jamaah haji Indonesia, meski kewajiban berada di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, faktanya para jamaah sudah berada di sana sejak 8 Dzulhijjah karena ramainya antrian keluar masuk rombongan bus.

AL ARABIYA | BS/TEMPO

 

Bersiaplah untuk Armina

Makkah (Pinmas) —- Jamaah haji asal Indonesia yang sudah berada di Makkah, Arab Saudi, harus mulai bersiap untuk rangkaian ibadah haji d Arafah, Mudzalifah, dan Mina (Armina) dua pekan mendatang. Jamaah diimbau menjaga kesehatan dengan tidak memaksakan diri ke Masjidil Haram atau melakukan umrah berkali-kali.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan dr Fidiansjah mengingatkan jamaah untuk menjaga kesehatan dengan memilih ibadah-ibadah yang termasuk rukun dan wajib haji. “Jangan terforsir dengan ibadah-ibadah sunnah yang akan meletihkan jamaah itu sendiri,” katanya, di Pemondokan Nomor 201, Sektor 2, Mahbas Jin, Makkah, Selasa (08/09).

Rukun haji adalah perbuatan-perbuatan yang wajib dilakukan dalam berhaji. Rukun haji tersebut, yaitu, ihram, wukuf di Arafah, tawaf ifadah, sa’i, mencukur rambut, dan tertib. Rukun haji harus dilakukan secara berurutan dan menyeluruh. Jika salah satu ditinggalkan maka hajinya tidak sah.

Sedangkan wajib haji, yaitu memulai ihram dari miqat, yaitu batas waktu dan tempat yang ditentukan untuk melakukan ibadah haji dan umrah. Lalu, melontar jumrah, mabit atau menginap di Mudzdalifah, dan mabit di Mina, dan tawaf wada’ atau tawaf perpisahan. Jika salah satu dari wajib haji ini ditinggalkan maka hajinya tetap sah, namun harus membayar dam (denda).

Kepala Seksi Bimbingan Ibadah dan Pengawasan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Tawwabuddin mengatakan, jamaah dapat mempersiapkan diri menjelang Arafah dengan berbagai cara. Pertama, jamaah jangan memaksakan diri melakukan umrah berkali-kali karena dapat membuat tubuh letih. Kedua, jamaah dapat melaksanakan shalat di mushala yang ada di hotel. “Karena fisik kita harus dipersiapkan untuk Arafah,” ujar dia.

Pelaksana Bimbingan Ibadah Daker Makkah Profesor Aswadi mengatakan, jamaah perlu mengingat bahwa mereka berada di Makkah yang merupakan tanah haram. Selama di tanah suci, menunaikan shalat di mushala hotel tidak mengurangi kemuliaan atau fadilah beribadah. “Walaupun di tempat masjid dan hotel dan sebagainya ini masih bersinergi dengan masjidil haram. Karena, ini di tanah haram,” ujar dia.

Tanah Suci memang memberikan kesempatan bagi jamaah untuk memaksimalkan perilaku dan nilai ibadah. Namun, Aswadi mengatakan, upaya mengoptimalkan ibadah harus dibarengi dengan usaha menjaga kesehatan. Dia pun mengingatkan jamaah memiliki kewajiban memelihara jiwa sekaligus menyehatkan akal dan fisik sehingga ruh ibadah bisa tercapai.

Dia juga mengajak jamaah untuk memanfaatkan waktu di tanah suci untuk membesarkan kuasa Allah Swt lewat dzikir, tasbih, dan takbir. “Di mana pun, kapan pun, kita hanya melihat kebesaran dan keagungan Allah Swt,” ujar Guru Besar Ilmu Quran dan Tafsir UIN Sunan Ampel, Surabaya, ini. (ratna/mch/mkd)

 

sumber: Portal Kemenag