KH Ali Mustafa Yaqub dan Seruan ‘Berhaji Cukup Sekali, Infak Ribuan Kali’

Ratusan santri di Pondok Pesantren Darus-Sunnah, Tangerang Selatan, Banten, tak bisa membendung air mata saat mengantar jenazah mantan Imam Besar Masjid Istiqlal Kiai Ali Mustafa Yaqub ke pemakaman, Kamis siang (28/4/2016) tadi.  Kiai kelahiran Batang, Jawa Tengah, 2 Maret 1952 itu menghembuskan nafas terakhir pada Kamis pagi.

Kiai Ali Mustafa Yaqub dikenal sebagai ulama yang teduh dengan tutur kata lembut. Dia juga konsisten mengajarkan bahwa menunaikan ibadah haji cukup sekali, infak ribuan kali.

Pada Januari 2006 melalui sebuah kolom yang dimuat di Majalah Gatra, Kiai Ali Mustafa mengkritik kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar menunaikan ibadah haji lebih dari sekali. Menurut dia orang yang gemar naik haji berulang-ulang dengan niat tak tulus adalah ‘pengabdi setan’.

Menurut Ali Mustafa tak ada satu pun ayat yang menyuruh umat Islam melaksanakan haji berkali-kali, sementara masih banyak kewajiban agama yang harus dilakukan. Seperti menyantuni anak yatim dan memberi makan fakir miskin.

Kiai Ali Mustafa mengulangi lagi pendapatnya itu saat khutbah Arafah di tenda perkemahan jamaah haji Indonesia dalam pelaksanaan Wukuf di Padang Arafah, Arab Saudi, pada Kamis 26 November 2009 ba’da salat zuhur. Saat itu Kiai Ali mendapat amanah sebagai Naib Amirul Haj 1430 Hijriah.

Kepada para jemaah, Kiai Ali menjelaskan soal kewajiban haji bagi kaum muslimin. Ibadah haji dan umrah  diwajibkan kepada umat Islam pada tahun 6 Hijriah. Begitulah pendapat yang masyhur di kalangan ulama.

Pada tahun 6 Hijriah, Nabi Muhammad SAW bersama sejumlah sahabat bermaksud melakukan umrah ke Makkah, namun tidak berhasil memasuki kota itu karena masih dikuasai kaum musyrikin.  Berdasarkan perjanjian Hudaibiyah dengan kaum musyrikin, Muhammad diizinkan untuk melakukan umrah pada tahun ke 7 Hijriah.

Baru pada tanggal 12 Ramadhan 8 Hijriah, Muhamamd berhasil membebaskan kota Makkah melalui operasi damai Fath Makkah. Pada bulan Dzulqa’dah di tahun itu, Nabi melakukan ibadah umrah dari Ji’ranah, di luar kota Makkah. Dan selanjutnya pergi ke Madinah tanpa melakukan ibadah haji, padahal waktu itu kota Makkah sudah dikuasai umat Islam.

Nabi Muhammad SAW baru melakukan ibadah haji pada tahun 10 Hijriah. Setahun kemudian Nabi wafat. Walau Muhammad mempunyai kesempatan untuk beribadah haji sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 8, 9, 10 Hijriah, beliau melaksanakan ibadah haji hanya satu kali.

“Sahabat Anas bin Malik menuturkan, bahwa Nabi SAW melakukan ibadah haji hanya satu kali saja, dan melakukan ibadah umrah empat kali, semuanya dilakukan pada bulan Dzulqa’dah, kecuali umrah yang bersama ibadah haji,” kata Kiai Ali Mustafa dalam kotbahnya di Padang Arafah.

Pertanyaan yang muncul sekarang, lanjut Ali, mengapa Muhammad beribadah haji hanya satu kali saja, padahal beliau mempunyai kesempatan untuk beribadah haji tiga kali? Bandingkan dengan selera kaum muslimin sekarang yang, tentu yang punya dana, ingin beribadah haji setiap tahun. Nampaknya, selera seperti ini sudah menjadi gejala bagi sebagian besar umat Islam di mana saja mereka berada.

Ali mengungkapkan ada tiga hal yang menyebabkan Nabi Muhammad SAW tidak melakukan haji berulang-ulang. Pertama, saat itu Muhammad masih melakukan jihad fi sabilillah melawan kaum musyrikin. Kedua, lebih memperhatikan untuk menyantuni anak yatim dan janda akibat peperangan dengan kaum musyrikin. Bahkan Muhammad menegaskan; penyantun janda dan orang miskin (pahalanya) seperti berjihad fi sabilillah atau seperti orang yang berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari (Hadis Bukhari dan Muslim).

Selebihnya, Muhammad lebih mementingkan syiar Islam kepada para pemuda pengikutnya, serta menjamin makanannya selama belajar. Dari ketiga hal penting itulah yang menyebabkan Muhammad tidak mendahulukan ibadah-ibadah sunnah individual (ibadah qashirah), tetapi justru beliau memprioritaskan ibadah-ibadah sosial (ibadah muta’addiyah).

Karenanya, Muhammad tidak pernah walau sekali beribadah haji sunnah dan tidak pernah beribadah umrah pada bulan Ramadhan. Sementara sebagian umatnya sekarang ingin beribadah haji setiap tahun, ingin beribadah umrah setiap bulan atau setiap minggu. Padahal rata-rata keadaan umat Islam saat ini di segala penjuru dunia sangat memprihatinkan.

“Dalam keadaan umat Islam seperti ini, pantaskah seorang muslim yang kaya setiap tahun pergi ke Makkah untuk melakukan sesuatu yang tidak wajib? Pantaskah mereka bolak-balik umrah ke Makkah? Siapakah gerangan yang menyuruh mereka begitu? Ayat al-Qur’an manakah yang menyuruh agar kita beribadah haji berulang-ulang, sedangkan kondisi umat Islam sedang terpuruk? Hadis manakah yang menyuruh kita bolak-balik umrah, sementara kaum muslimin sedang kelaparan?” tanya Ali lantang.

Ali menegaskan, semua itu tidak ditemukan dalam ayat Al Quran maupun hadis yang menyuruh umat Islam untuk melakukan hal itu. Bila demikian, maka tidak ada lain, yang menyuruh mereka untuk melakukan hal seperti itu adalah hawa nafsu atas bisikan setan.

“Maka haji seperti itu layak disebut sebagai haji pengabdi setan, bukan haji yang mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya. Dan ternyata perilaku Nabi Muhammad adalah berhaji cukup sekali, berinfak ribuan kali. Atau dengan kata lain, Nabi Muhammad lebih mengutamakan ibadah sosial daripada ibadah individual,” pungkasnya.

Kamis siang tadi ratusan santri mengantar kepergian sang kiai ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Selamat jalan Kiai Haji Ali Mustafa Yaqub.

 

sumber: Detik.com

Pesona Memandang Ka’bah

Rasa haru dan bahagia ketika memandang Ka’bah hanyalah dapat dirasakan bagi mereka yang memiliki hati yang bersih. Banyak sekali terlihat di antara jamaah haji yang menangis ketika memandang Ka’bah. Mengapakah bisa demikian? Apakah yang kita bayangkan ketika memandangnya?

Pada saat Ka‘bah telah tampak di depan mata, hendaknya kita menghadirkan keagungan Rumah Allah tersebut dalam hati kita. Banyak ulama yang mengatakan, ketika memandang Ka’bah hendaklah membayangkan seolah-olah sedang memandang Sang Pemilik Ka’bah itu sendiri, yaitu Allah SWT.

Ketika memandang Ka’bah dan membayangkan Sang Pemilik Ka’bah, hendaklah berharap semoga di Akhirat kelak mendapatkan anugrah untuk memandang wajah Allah SWT.

Kesempatan memandang wajah Allah di surga kelak adalah suatu kesempatan dan anugrah tertinggi bagi seorang mu’min. Kesempatan agung tersebut jauh lebih tinggi dari segala kenikmatan yang ada di surga. Tidak semua orang yang bisa mendapatkan kesempatan tersebut.

Ketika melihatnya, hendaklah memperbanyak doa. Diperbolehkan berdoa menurut apa yang disukai. Dalam sunnah, doa yang masyhur dibaca ketika memandang Ka’bah adalah;

Allahumma zid hazal baita tasyrifan wata’zlman wataknman wamahabatan wazid man syarrafahu wa azzamahu wa karramahu mimman hajjahu awi’tamarahu tasyrifan wa ta’zTman wa taknman wabirran.”

Artinya; “Ya Allah tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan dan kehebatan pada Baitullah ini dan tambahkanlah pada orang-orang yang memuliakannya dan mengagungkannya dari orang-orang yang berhaji dan umrah kemuliaan, kebesaran, kehormatan dan kebaikan.”

Ketika berdoa, hendaklah mencari posisi multazam, yaitu posisi antara hajar aswad dan pintu ka’bah. Sebagaimana diriwayatkan dari banyak hadist, multazam adalah salah satu tempat yang mustajabah (dijamin terkabulnya doa) bagi orang yang berdoa disana.

Selanjutnya, bersyukurlah kepada Allah SWT atas karunia-Nya yang telah memberikan kesempatan untuk mengunjungi rumah-Nya. Banyak sekali orang yang merindukan untuk berangkat haji, namun belum juga kesampaian. Begitu juga orang yang hidup bergelimang harta, namun belum juga terpanggil hatinya untuk menunaikan haji.

 

sumber:Republika Online

MK ‘Bolehkan’ Naik Haji Lebih dari Sekali

Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggarakan Ibadah Haji dan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Haji. MK berpandangan bahwa melakukan ibadah haji lebih dari sekali tidak melanggar konstitusi.

Menurut majelis hakim, sistem penyelenggaraan ibadah haji yang diatur undang-undang sudah tepat. MK juga menegaskan WNI yang ingin naik haji 2 kali tak perlu diberatkan dengan syarat-syarat.

“Menyatakan menolak permohonan para pemohon untuk seluruhnya,” ujar Ketua MK Arief Hidayat, saat membacakan putusan di Gedung MK, Jakarta.

Dalam pertimbangan Majelis Hakim MK Anwar Usman, UU Nomor 13 Tahun 2008, sama sekali tidak melanggar Undang-Undang Dasar 1945. Di mana aturan tersebut dilakukan setelah Kerajaan Arab Saudi mengeluarkan kuota haji kepada semua negara, termasuk Indonesia.

“Dengan adanya kebijakan tersebut pemerintah Indonesia sejak beberapa tahun lalu, telah menerapkan pendaftaran haji dan memungkinkan adanya daftar tunggu. Kebijakan tersebut, untuk menerapkan prinsip keadilan dalam setiap penyelenggaran haji,” ujar Anwar.

Terkait gugatan UU Nomor 34 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Haji, yakni menyetor dana ibadah haji terlebih dahulu Rp 25 juta kepada Badan Pengelola Keuangan Ibadah Haji (BPKIH), juga bukan merupakan pelanggaran norma konstitusi. Sebab, dengan BPKIH, maka ada yang menjamin hak uang setoran tersebut, baik melalui bank atau Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

“Uang setoran itu disimpan di bank syariah dan telah dijamin oleh LPS. Sehingga tidak mungkin akan disalahgunakan,” ucap Majelis Hakim Wahidudin Adams.

2 Warga menggugat UU N0 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji ke Mahkamah Konstitusi (MK). Mereka meminta supaya WNI yang sudah naik haji harus ditambah syarat-syaratnya, bila ingin naik haji kedua kalinya atau dipersulit. Alasannya, karena kuota haji bagi WNI terbatas dan membatasi hak umat Islam yang ingin menjalankan kewajibannya untuk pertama kali. (Rmn/Mut)

 

sumber: Liputan6

Tukang Pungut Sampah Naik Haji, Tabung Uang dari 500 Rupiah Selama Delapan Tahun

Hidayatullah.com – Niat dan usaha yang sungguh-sungguh akan mengantarkan seseorang pada sesuatu yang dicita-citakannya. Inilah yang diamalkan oleh Suparning, tukang pemungut sampah di perkampungan daerah Asem Rowo Surabaya yang bisa berangkat haji.

Meski secara logika penghasilan dari pekerjaan Suparning tidaklah seberapa besar, tapi nenek berusia 60 tahun ini membuktikan bahwa dengan tekad dan usahanya yang kuat, mampu mengantarkannya untuk berangkat untuk melaksanakan rukun Islam kelima, yakni Haji ke Baitullah.

Nenek 4 cucu ini berkeyakinan bahwa suatu saat ia bisa berangkat ke tanah suci layaknya orang-orang yang memiliki harta lebih pada umumnya. Untuk itu, ia berinisiatif untuk menyisihkan sebagian penghasilannya dari mungut sampah untuk biaya daftar haji.

“Memang untuk mewujudkan impian naik haji ini penuh perjuangan. Karena saya harus menabung selama 8 tahun lamanya. Tetapi saya yakin Allah pasti mengabulkan doa saya untuk bisa melihat Ka’bah secara langsung,” ujar Suparning sebagaimana rilis yang diterimahidayatullah.com pada Senin, (24/08/2015).

Sekitar tahun 2009, Suparning mulai mendaftarkan KBIH Al Aziziyah Surabaya. Pada waktu itu, tabungannya dari hasil menjadi Pemungut sampah sudah mencapai sekitar Rp. 20 juta.

“Bermodalkan sebuah gerobak untuk mengambil sampah di kampung saya bisa mengumpulkan uang Lima Ratus sampai Seribu Rupiah untuk ditabung,” aku Suparning.

Usaha yang dilakukan Suparning tidak sia-sia. Semua hasil jerih payah dan keikhlasan hatinya membawa Suparning berangkat haji di tahun 2015 ini.

Kini, dengan izin Allah, Suparning telah berangkat ke tanah suci pada tanggal 23 Agustus 2015 lalu melalui kloter 4 Embarkasi Juanda, Surabaya.*/Yahya G. Nasrullah

Rep: Admin Hidcom

Editor: Achmad Fazeri

Menabung 34 Tahun, Penjaga Mushalla Akhirnya Tunaikan Haji

Jutaan umat Muslim di seluruh dunia mungkin mempunyai mimpi yang sama seperti diinginkan Syamsuri Sigra menjadi tamu Allah menunaikan rukun Islam kelima.

Syamsuri Sigra tak menyangka akan berangkat haji pada tahun ini.

“Selama 34 tahun lebih penantian dari hasil tabungan yang dikumpulkan sejak tahun 1980, akhirnya tahun 2015 ini saya berangkat ke tanah suci Makkah,” kata Syamsuri Sigra (80), salah satu calon jemaah haji asal Sumatera Selatan di Palembang, Rabu (26/8/2015).

Menurut penjaga Mushalla Nurul Yakin di Jalan H Fasih Umar Kelurahan 1 Ulu Palembang ini, ia tak menyangka akan berangkat ke Tanah Suci Makkah menunaikan rukun Islam kelima setelah lebih dari 34 tahun mengumpulkan uang sedikit demi sedikit hingga akhirnya berangkat haji tahun ini.

Ia mengaku, di usianya yang ke-80 tahun ini tak banyak yang dilakukan sejak berhenti bekerja pada tahun 1980-an sebagai seorang teknisi. Keseharian dihabiskan dengan mengurus mushalla di dekat rumahnya.

Ia memimpin peribadatan di mushalla tersebut seraya berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar selalu diberikan kesehatan untuk dapat melaksanakan ibadah sebelum akhir hayatnya.

“Kini penantian panjang lebih dari 34 tahun itu diwujudkan pada musim haji tahun ini, saya akan diberangkatkan menunaikan ibadah haji melalui kelompok terbang (kloter) pertama pada 27 Agustus dari embarkasi Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang menuju tanah suci Makkah,” katanya, dilansir Antara.

Menurut dia, pada tahun 1950 saat usia remaja ia memang sudah ada niat berhaji jika ada rezeki. Maka ia mulai menabung sejak selesai mendidik anak-anak ketika masih bekerja sebagai teknisi, hingga akhirnya uang terkumpul cukup untuk syarat berangkat haji.

Salah seorang tetangga Syamsuri, Samsul (61), mengomentari bahwa Syamsuri adalah sosok contoh dan teladan dari sekian juta umat Muslim di tengah kesederhanaan dan kesulitan ekonomi keluarga, masih mampu menyisihkan uang belanja sehari-hari untuk ditabung guna mewujudkan cita-cita berangkat haji.

Informasi dari Kasubag Humas Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sumsel, Saefudin di Palembang, Selasa (25/8/2015) bahwa Syamsuri Sigra adalah salah satu dari total 4.947 orang jemaah calon haji asal Sumatera Selatan diberangkatkan ke Tanah Suci Makkah, yang dibagi dalam 14 kelompok terbang melalui embarkasi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.*

Rep: Insan Kamil

Editor: Syaiful Irwan

sumber: Hidayatullah.com

Wajib Bersegera Menunaikan Haji dan Umrah Ketika Sudah Mampu

Wajib bagi setiap muslim dan muslimah yang mampu menunaikan ibadah haji, hendaknya ia bersegera dan jangan menundanya

 

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada para nabi dan rasul yang paling mulia,

Aku nasihatkan kepada saudaraku bagi mereka yang belum menunaikan ibadah haji, hendaknya bersegera untuk menunaikannya. Menunaikan haji hukumnya wajib bagi yang telah mampu untuk pergi ke sana (Baitullah). Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، وإقام الصلاة ، وإيتاء الزكاة ، وصوم رمضان ، وحج البيت

Islam dibangun atas lima hal: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إن الله قد فرض عليكم الحج فحجوا

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan atas kalian untuk berhaji, maka berhajilah kalian.” (HR. Muslim).

Wajib bagi setiap muslim dan muslimah yang mampu menunaikan ibadah haji, hendaknya ia bersegera dan jangan menundanya. Karena Allah Jalla wa ‘Alla mewajibkan untuk menyegerakannya, dan tidak boleh bagi setiap muslim yang mampu dan terkena beban ibadah haji untuk menundanya. Bahkan menyegerakannya dan mempercepatnya, akan mendapatkan kebaikan yang sangat besar, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

من حج فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه

Barangsiapa yang menunaikan haji, dengan tidak berbicara kotor dan tidak mencaci maka diampuni dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما ، والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة

Umrah satu ke Umrah lainnya adalah penebus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain Surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini adalah nikmat yang sangat besar, yang sepatutnya setiap muslim bersemangat untuk menunaikannya. Bersegera untuk melakukan amalan akhirat baik di dalam perjalanan maupun di Makkah. Di antara kebaikan tersebut adalah bersedekah kepada fakir dan miskin, memperbanyak membaca Al-Quran dan berdzikir mengingat Allah, memperbanyak tasbih, tahlil, tahmid dan takbir, memperbanyak shalat di Masjidil Haram dan thawaf jika mudah baginya dalam rangka mendapatkan manfaat yang besar di tempat dan waktu tersebut.

Di Masjidil Haram, shalat memiliki 100.000 kali lipat keutamaan. Ibadah wajib di sana lebih baik 100.000 kali dibanding tempat yang lain. Sedekah di sana pahalanya berlipat. Demikian juga bertasbih, tahmid, tahlil dan takbir, membaca Al-Quran, amar ma’ruf nahi munkar, berdakwah mengajak kepada Allah, mempelajari ibadah haji. Semua ini diperintahkan bagi setiap muslim. Di antara perintah syariat adalah mengajarkan tata cara ibadah haji kepada saudara-saudaranya (jika ia telah memiliki ilmu yang mapan), dengan cara yang santun, lembut dan gaya bahasa yang baik. Di samping berharap ada kesempatan hadir di Makkah untuk dapat melakukan berbagai macam amalan kebaikan, sebagaimana yang telah dijelaskan seperti shalat, thawaf, berdakwah kepada Allah, amar ma’ruf nahi munkar, dengan gaya bahasa yang baik dan kalimat yang santun.

Aku nasihatkan kepada para pemimpin kaum muslimin dimana pun mereka berada, untuk memudahkan perkara ibadah haji ini kepada rakyat mereka, dan memberikan perhatian khusus terhadap ibadah ini. Hal ini merupakan bagian dari tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Allah Ta’ala berfirman

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

Tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah: 2)

Upaya pemerintah menolong rakyatnya dan memudahkan urusan ibadah haji ini adalah bentuk tolong menolong dalam kebaikan. Upaya saling menasihati dalam kebenaran dankesabaran, di dalamnya terdapat pahala yang besar, sebagaimana menasihati pemerintah agar berhukum dengan syariat Allah dalam segala aspek dan menolong agama Allah dalam setiap perkara. Kami memohon kepada Allah agar senantiasa memberikan taufik kepada para pemimpin kaum muslimin dalam setiap kebaikan, sehingga terwujud kebaikan dan diberikan hidayah.

Menolong muslim lainnya dalam setiap kebaikan, sebagaimana aku nasihatkan kepada siapa saja yang memudahkan urusan orang yang melaksanakan ibadah haji dengan takwa kepada Allah. Bersikap lembut kepada mereka dan menolong mereka dalam setiap kebaikan, kemudian berharap pahala dan ganjaran di sisi Allah. Maka mereka akan mendapatkan pahala dan keutamaan yang besar, jika mereka menolong dan memudahkan pelaksanaan ibadah haji. Kami memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menerima seluruh amalan kami dan memberikan hidayah kepada kaum muslimin dimana pun mereka berada sehingga mendapat ridha Allah, dan diberikan pemahaman yang baik tentang agama Allah dan Allah jadikan kita dan mereka agar termasuk orang yang diberikan petunjuk. Semoga Allah menolong saudara kita dalam menunaikan ibadah haji dalam keadaan Allah ridha kepadanya. Semoga Allah juga memperbaiki keadaan kaum muslimin dimana pun mereka berada. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Dekat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta para keluarga dan seluruh shahabatnya.

***

Sumber: Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, Juz 16, hal. 347-350,http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=105&PageNo=1&BookID=12

Penerjemah: Wiwit Hardi P.

Artikel Muslim.or.id

Hikmah Personal dan Sosial Haji

Ribuan umat Muslim dunia tengah melaksanakan ibadah haji. Mereka rela meninggalkan sesaat harta dan keluarga demi menyempurnakan rukun Islam.

Aktivis Dakwah Ustaz Ade Kurniawan mengatakan‎, sebagian ulama mengatakan bahwa haji adalah ibadah yang paling utama di antara ibadah dan rukun Islam yang lain. Ini dikarenakan ibadah haji merupakan rangkuman seluruh makna ibadah-ibadah lain.

“Maka orang yang melakukan ibadah haji seolah-olah ia tengah berpuasa, shalat, berzakat, beri’tikaf, bermuamalat, dan berjuang di jalan Allah SWT,” kata Ustaz Ade‎ saat dihubungi ROL, Kamis (3/9).

DAI mudah lulusan Kairo Mesir ini menuturkan, banyak hikmah yang didapat dari melaksanakan ibadah haji. yakni mendapatkan hikmah secara personal dan hikmah sosial.

Misalnya dari hikmah personal, Ustaz Ade menyampaikan ada lima hikmah yang akan didapat oleh orang yang mampu menjalankan ibadah haji. Pertama, orang yang telah melakukan haji akan diampuni dosa-dosanya dan dibersihkan dari kotoran-kotoran maksiat.

“Ini sekaligus merupakan imbalan bagi mereka yang telah mampu menunaikan ibadah haji, seperti sabda Rasulullah SAW “Seorang haji yang mabrur tidak akan mendapatkan balasan dari Allah swt kecuali surga.”

Kedua, ibadah haji mensucikan jiwa dan membersihkan hati. Sehingga orang yang telah berhaji seolah akan merasakan kehidupan baru yang lebih bermatabat di hadapan Allah dan manusia.

Ketiga, ibadah haji akan menumbuhkan kesadaran akan besarnya perjuangan rasulullah saw dan para ulama terdahulu dalam menegakkan dan menyebarkan agama islam. Hikmah keempat ibadah haji akan mendidik mental dan kepribadian seorang hamba dalam bergaul dan mengarungi kesulitan hidup.

Kelima, yang terpenting adalah ibadah haji akan meningkatkan rasa syukur seorang hamba kepada Allah swt.

Sementara dari segi hikmah sosial, orang yang menjalankan ibadah haji akan mendapatkan dua hikm‎ah. Pertama ialah haji merupakan sarana bagi umat dari berbagai penjuru dunia untuk saling mengenal dan menghormati satu sama lain, walaupun mereka berbeda warna kulit, bahasa dan negara.

Hikmah kedua ketika pelaksanaan haji, disitulah terjadi perputaran ekonomi terdahsyat di permukaan jagad raya ini.

“Dan ini jelas memberikan jutaaan manfaat tidak hanya bagi masyarakat Muslim, bahkan non-Muslim pun kecipratan berkah,” ujarnya.‎

Dua hikmah di atas tadi kata Ade, merupakan bagian dari rahmat Allah SWT kepada hambanya melalui syariat islam. Sehingga pelaksanaan ibadah haji menumbuhkan rasa solidaritas dan persatuan yang kuat di kalangan umat islam.

“Ibadah haji merupakan simbol kejayaaan dan kebesaran umat islam sepanjang masa yang tidak dimiliki umat lain dari agama mana pun,” katanya.

 

sumber: Republika Online

Jangan Memaksakan Diri ke Masjidil Haram

REPUBLIKA.CO.ID,  MAKKAH  — Konsul Jenderal (konjen) RI di Jeddah, Dharmakirty Syailendara Putra, mengimbau jamaah calon haji yang baru tiba di Makkah dari Madinah, tidak memaksakan diri untuk selalu beribadah di Masjidil Haram, karena puncak haji masih lama.

“Jaga kesehatan karena (udara) masih panas. Jangan memaksakan diri masuk Masjidil Haram,” ujarnya usai menerima rombongan pertama yang masuk Kota Makkah, di Hotel Grand Al Tasyeer, Makkah, Ahad (30/8).

Ia mengatakan puncak proses haji yaitu wukuf di Arafah masih panjang, sekitar 22 hari lagi. Oleh karena itu ia mengimbau agar jamaah menghemat tenaga untuk menghadapi proses di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

“Jaga fisik, jaga kesehatan, komunikasi dengan sesama jamaah, harus saling memberikan komunikasi,” ujar Dharmakirty. Ia menilai penyelenggaraan haji tahun ini banyak peningkatan terutama dalam akomodasi untuk jamaah.

Ditambahkan Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Makkah, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1436H/2015 Arsyad Hidayat, tahun ini pemerintah berupaya meningkatkan pelayanan bagi jamaah yang bisa terlihat dari kondisi pemondokan yang ini sekelas hotel bintang tiga dan empat.

“Oleh karena itu di hotel ini tidak boleh memasak. Nanti disiapkan semacam kafetaria,” katanya. Selain itu, hotel juga menyiapkan air zam-zam, seprai yang diganti seminggu sekali, serta fasilitas keamanan dan kebersihan yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Rombongan jamaah asal Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi rombongan pertama calon haji yang tiba di Makkah pada pukul 15.00 Waktu Arab Saudi (WAS) atau pukul 18.00 WIB. Mereka disambut oleh Konjen RI di Jeddah Dharmakirty Syailendara Putra, Muassasah Asia Tenggara Muhammad Amin Hasan Indragiri, serta Kadaker Makkah Arsyad Hidayat.

Pada kesempatan itu Muhammad Amin mendoakan jamaah calon haji tersebut agar menjadi haji yang mabrur dan diaminkan oleh 39 calon haji dari Tasikmalaya itu.

Afrizal Sinaro: Nikmatnya Berhaji Bersama Dua Wanita Istimewa

Kenikmatan menunaikan ibadah haji sulit dilukiskan dengan kata-kata. Apalagi jika  berhaji itu bersama dengan dua wanita istimewa.

Pengalaman itulah yang dirasakan oleh Afrizal Sinaro. Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta itu pertama kali menunaikan ibadah haji tahun 2000. Ketika itu ia berhaji bersama dengan ibu kandungnya, Nadiar, yang ketika itu usianya sudah mencapai 60 tahun.

“Bagi saya, pergi haji yang pertama adalah kenikmatan yang luar biasa, karena saya bisa melayani ibu kandung saya selama 40 hari sejak awal kedatangan ke Tanah Suci hingga kembali ke Tanah Air,” ungkap Afrizal Sinaro saat berbincang dengan Republika di Resto Ahmei, Pejaten Village, Jakarta, Senin (31/8).

Sambil menyeruput teh tarik kesukaannya, lelaki kelahiran Medan, 27 April 1965 itu, menambahkan, walaupun hatinya sangat bahagia, namun di sisi lain, ia merasa pun merasa sedih. “Saya sedih, sebab ayah saya belum bisa berangkat haji tahun itu, karena keterbatasan biaya,” tutur Afrizal yang juga Ketua Umum Perguruan Al-Iman Citayam, Bogor, Jawa Barat.

Karena itulah, di depan Ka’bah, Afrizal berdoa kepada Allah, agar bisa kembali lagi berhaji bersama ayahnya. “Doa saya adalah ‘Ya Allah, kembalikan saya ke Tanah Suci-Mu ini bersama ayah dan istriku, lima tahun ke depan’,” ujar Afrizal mengutip doanya ketika itu.

Ternyata Allah mengabulkan doanya. Lima tahun kemudian, yakni tahun 2005, Afrizal dapat mengajak ayahnya, Rusdi yang kala itu berumur 65 tahun, dan istrinya tercinta, Eka Putri Handayani, melaksanakan ibadah haji.

“Itulah sebabnya, saya sering mengatakan, saya beruntung bisa menunaikan ibadah haji bersama dua wanita istimewa,” ungkapnya penuh syukur.

Redaktur : Irwan Kelana

Dua Bekal Sebelum Pergi Haji

Oleh: Mahmud Yunus

Haji secara bahasa adalah berkunjung. Adapun secara istilah adalah berkunjung ke rumah Allah (Baitullah) dengan amalan tertentu dan dalam waktu tertentu pula. Inilah yang membedakan kunjungan ke Baitullah dalam rangka haji dan umrah.

Di antara amalan yang membedakan haji dan umrah adalah melaksanakan wukuf di Arafah dan melontar tiga jumrah di Mina. Di antara waktu yang membedakan haji dan umrah adalah bahwa pelaksanaan haji hanya berlangsung pada bulan-bulan tertentu. yaitu Syawal, Dzulqaidah, dan Dzulhijah.

Allah berfirman, “(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan tertentu, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu untuk mengerjakan haji maka tidak boleh rafats (mengeluarkan kata-kata yang mengundang syahwat atau kata-kata yang tidak senonoh atau melakukan hubungan seksual), berbuat fusuk, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji.

Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (QS al-Baqarah [2]: 197). Dengan kata lain, pergi haji semata-mata hanya untuk mengerjakan kebaikan demi kebaikan di rumah-Nya dan sekitarnya sesuai dengan tuntunan Rasul-Nya.

Maka, kunjungan ke Baitullah dalam rangka haji itu berbeda dengan kunjungan dalam rangka umrah. Apalagi dengan kunjungan ke tempat-tempat lainnya di manapun di muka bumi. Dengan begitu, bekal yang harus dipersiapkan pun tentu berbeda.

Sudah menjadi rahasia umum, kebanyakan KBIH (kelompok bimbingan ibadah haji) di Tanah Air memberikan pembekalan tertentu kepada jamaahnya yang akan pergi haji. Namun, umumnya lebih banyak ditekankan pada pembekalan secara fisik. Misalnya, dianjurkan berolahraga secukupnya, membawa obat-obatan pribadi, dan memperbanyak minum air putih ketika sedang berada di Arab Saudi.

Persiapan fisik itu memang penting. Tetapi, jauh lebih penting persiapan nonfisik. Sebab, akan menentukan sahnya ibadah. Maka, jamaah yang tidak mengindahkan persiapan nonfisik itu dapat saja menyebabkan hajinya tertolak (mardud). Padahal, orang yang pergi haji semestinya memiliki target hajinya terkabul (makbul) bahkan mabrur/mabrurah.

Inilah target tertinggi. Lantaran Rasulullah SAW menyatakan mereka yang hajinya mabrur/ mabrurah itu dipastikan akan diganjar dengan surga. Sangat luar biasa. Pertanyaannya, apa bekal yang harus dipersiapkan sejak jauh hari sebelum pergi haji?

Pertama, niat pergi haji karena Allah semata. Maka, singkirkan segala macam niat yang justru akan menyebabkan hilangnya pahala ibadah ini. Allah berfirman, “Dan, mengerjakan haji itu (adalah) kewajiban manusia karena Allah. Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS Ali Imran [3] : 97).

Kedua, bertekad menanggalkan kesyirikan. Maka, tanamkanlah kalimat talbiyah itu dalam dada. Bukan hanya diucapkan dalam kata-kata. Apalagi, bila sama sekali tidak tahu artinya. Ketiga, mempraktikkan ketakwaan/ketaatan kepada Allah dengan sebaik-baiknya (QS al-Baqarah [2]: 197).

 

sumber: Republika Online