Bolehkah Sikat Gigi dan Kumur Saat Puasa? Ini Penjelasan Ahli Fiqih

Banyak diantara kita yang bertanya apakah menggosok gigi dan berkumur dapat membatalkan puasa?

Namun, tentu untuk menjawab hal itu perlu didasari oleh pendapat dari ahlinya, yaitu ahli fiqih yang memang mendalami ilmu tentang tata cara beribadah.

Berikut adalah pemaparan dari Ustadz Ahmad Sarwat, LC. dari rumahfiqih.com mengenai hukum menggosok gigi dan berkumur ketika berpuasa.

Kalau kita teliti hadits-hadits nabi, kita akan menemukan beberapa riwayat yang justru membolehkan seseorang berkumur, asalkan tidak berlebihan sehingga benar-benar ada yang masuk ke dalam rongga tubuh.

Riwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Dari Umar bin Al-Khatab ra. berkata, “Suatu hari aku beristirahat dan mencium isteriku sedangkan aku berpuasa. Lalu aku datangi nabi SAW dan bertanya, “Aku telah melakukan sesuatu yang fatal hari ini. Aku telah mencium dalam keadaan berpuasa.”

Rasulullah SAW menjawab, “Tidakkah kamu tahu hukumnya bila kamu berkumur dalam keadaan berpuasa?” Aku menjawab, “Tidak membatalkan puasa.” Rasulullah SAW menjawab, “Maka mencium itu pun tidak membatalkan puasa.” (HR Ahmad dan Abu Daud)

Selain itu juga ada hadits lain yang juga seringkali ditetapkan oleh para ulama sebagai dalil kebolehan berkumur pada saat berpuasa.

Dari Laqith bin Shabrah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sempurnakanlah wudhu’, dan basahi sela jari-jari, perbanyaklah dalam istinsyak (memasukkan air ke hidung), kecuali bila sedang berpuasa.” (HR Arba’ah dan Ibnu Khuzaemah menshahihkannya).

Meski hadits ini tentang istinsyaq (memasukkan air ke hidung), namun para ulama menyakamakan hukumnya dengan berkumur.

Intinya, yang dilarang hanya apabila dilakukan dengan berlebihan, sehingga dikhawatirkan akan terminum.

Sedangkan bila istinsyaq atau berkumur biasa saja sebagaimana umumnya, maka hukumnya tidak akan membatalkan puasa.

Maka dengan adanya dua dalil atsar ini, logika kita untuk mengatakan bahwa berkumur itu membatalkan puasa menjadi gugur dengan sendirinya.

Sebab yang menetapkan batal atau tidaknya puasa bukan semata-mata logika kita saja, melainkan logika pun tetap harus mengacu kepada dalil-dalil syar’i yang ada.

Bila tidak ada dalil yang secara sharih dan shaih, barulah analogi dan qiyas yang berdasarkan logika bisa dimainkan.

Bahkan beberapa hadits lain membolehkan hal yang lebih parah dari sekedar berkumur, yaitu kebolehan seorang yang berpuasa untuk mencicipi masakan.

Dari Ibnu Abbas ra, “Tidak mengapa seorang yang berpuasa untuk mencicipi cuka atau masakan lain, selama tidak masuk ke kerongkongan.” (HR Bukhari secara muallaq dengan sanad yang hasan 3/47)

Juga tidak merusak puasa bila seseorang bersiwak atau menggosok gigi. Meski tanpa pasta gigi, tetap saja zat-zat yang ada di dalam batang kayu siwak itu bercampur dengan air liur yang tentunya secara logika termasuk ke dalam kategori makan dan minum.

Namun karena ada hadits yang secara tegas menyatakan ketidak-batalannya, maka tentu saja kita ikuti apa yang dikatakan hadits tersebut.

Dari Nafi’ dari Ibnu Umar ra. bahwa beliau memandang tidak mengapa seorang yang puasa bersiwak. (HR Abu Syaibah dengan sanad yang shahih 3/35)

 

TRIBUN NEWS

Bagaimana Kita Mengaji Al Quran?

SAYA termotivasi betul untuk tak berhenti mengaji dan mengkaji al-Qur’an. Ilmu yang tersimpan di dalamnya bagai laut tak bertepi, luas dan dalam menyimpan khazanah yang terlalu berharga untuk diangkakan.

Tak hanya tentang bagaimana hubungan kita dengan Allah melainkan juga bagaimana hubungan kita dengan makhluk Allah. Pun tak hanya tentang alam kubur dan alam akhirat, melainkan pula tentang alam ruh, alam rahim dan alam dunia. Lengkap sekali, bukan?

Apakah setiap pembaca al-Qur’an menemukan kandungan al-Qur’an, mendulang nilai-nilainya dan merasakan kenikmatan yang disuguhkan al-Qur’an? Tentu saja tidak. Saya setuju dengan dawuh Imam Zarkasyi yang menyatakan, “Barangsiapa tidak memiliki ilmu, pemahaman, ketakwaan dan perenungan, maka dia tak akan menemukan seauatu berupa kelezatan (kenikmatan) al-Qur’an.”

Ternyata, untuk merasakan nikmatnya al-Qur’an dibutuhkan ilmu, baik ilmu yang berkaitan langsung dengannya yang disebut dengan ‘uluum al-Qur’an (ilmu-ilmu al-Qur’an) maupun ilmu pendukung seperti ilmu alam, sosial dan lainnya. Sudahkah kita memilikinya? Lebih dari itu, dibutuhkan pula pemahaman dan tadabbur atau perenungan. Sebagai petunjuk, jangan hanya dibaca melainkan juga direnungkan.

Tak kalah pentingnya adalah penataan hati saat mengaji dan megkaji al-Qur’an. Niatkan untuk meningkatkan ketakwaan, maksudkan untuk memupuk cinta kepada Allah, dan tujukan sebagai sebuah bentuk ketaatan. Dijamin akan semakin rekatlah kita degan al-Qur’an, semakin tak mampu diri kita menjauh darinya. Salam perenungan, AIM. [*]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2383272/bagaimana-kita-mengaji-al-quran#sthash.bvTEwKN4.dpuf

Kisah Shalahuddin Al-Ayyubi yang Melegenda

Kisah sang Sultan telah menjadi cerita rakyat, melegenda, dan meng inspirasi. Kehebatannya dalam berdiplomasi salah satunya terlihat dalam pertemuan militernya dengan Raja Richard “The Lion Heart” pada Perang Salib ketiga.

Bagaimanapun, selain kemahiran diplomasi dan prestasi militernya, sosok Shalahuddin terus diingat atas kemampuannya menyatukan banyak dunia Muslim serta kemuliaan hati dan peri lakunya, baik di dalam maupun di luar peperangan. Karen Amstrong dalam bukunya Perang Suci menggambarkan, saat Shalahuddin dan pasukan Islam membebaskan Palestina, tak ada seorang Kristen pun yang dibunuh. Tak ada pula perampasan harta benda.

“Jumlah tebusan pun sangat rendah. Shalahuddin menangis ter sedu-sedu melihat banyak keluarga terpecahbelah akibat perang. Ia pun membebaskan banyak tawanan, sesuai imbauan Alquran,” kata Amstrong.

Kekaguman terhadap Shalahuddin tak hanya datang dari kalangan Muslim. Keadilan dan kenegara wanannya juga membuat umat Nasrani yang kala itu tinggal di Yerusalem berdecak kagum. Dikisahkan bahwa suatu ketika seorang tua beragama Kristen bertanya pada Shalahuddin. “Mengapa Tuan tidak membalas musuh-musuh Tuan?”

Shalahuddin menjawab, “Islam bukanlah agama pendendam dan bahkan sangat mencegah seseorang melakukan perkara yang tidak berperikemanusiaan. Islam menyuruh umatnya menepati janji, memaafkan kesalahan orang lain yang meminta maaf, dan melupakan kekejaman musuh meski sebelumnya mereka menindas kita.”

Mendengar jawaban itu, bergetarlah hati orang tua itu dan ber kata, “Sungguh indah agama Tuan! Maka pada akhir hayatku ini, bagaimana agar aku memeluk agamamu?” Shalahuddin menjawab, “Ucapkanlah dua kalimat syahadat.” Atas semua kemuliaan itu, pengajar University of London dan penulis beberapa buku tentang Perang Salib, Jonathan Phillips, menyebut Shalahuddin sebagai pahlawan utama bagi umat Islam.

 

REPUBLIKA

Isa Graham: Saya Ingin Menjadi Mualaf Seperti Abu Bakar

Baris demi baris kalimat dalam kitab setebal 500-an halaman yang dibacanya hanya menyisakan satu kesan di benaknya: kagum. Dan, kekaguman yang bercampur rasa ingin tahu menjadi satu alasan bagi pemuda bernama Brent Lee Graham untuk mencuri buku itu dari perpustakaan kampusnya.

Dengan desain sampul yang menurutnya eksotis, buku berbahasa Inggris itu lebih dari sekadar menarik bagi Brent. Selain menyajikan berbagai cerita indah para nabi, buku itu berisi banyak kisah mengagumkan yang tak banyak ia ketahui.

“Saat itu aku baru berusia 17 tahun,” Brent mengawali kisahnya kepada Republika.co.id di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, beberapa hari berselang.

Semua berawal dari perenungannya tentang kematian, hal yang semula tak pernah ia pikirkan. Brent yang telah mengubah namanya menjadi Isa Graham akrab dengan pesta dan musik pada masa mudanya di Australia. Tetapi, pada suatu malam, pesta yang dilakoninya sungguh berbeda.

Malam itu sebelum memasuki rumah tempat pesta digelar, Brent melihat beberapa orang membawa keluar sesosok tubuh lunglai. Pemuda itu lalu diletakkan di salah satu sisi halaman rumah dan ditinggalkan bersama mereka yang lebih dulu tak sadarkan diri karena alkohol.

Tak ada pertolongan, tak ada obatobatan. “Aku berpikir, bagaimana jika mereka mati?” ujar pria yang pernah belajar di sekolah musik itu.

Terhenyak, Brent mendengar teriakan dari dalam rumah memanggilnya. Teman-temannya meminta Brent masuk dan memainkan musik untuk mereka. Brent masuk dengan sebuah pertanyaan menghantuinya. “Jika aku mengalami hal menyedihkan seperti orang-orang yang ada di halaman itu dan kemudian mati, apakah mereka akan memikirkan keadaanku?”

Keesokannya, sebuah peristiwa lain kembali menghentak hati Brent, memaksanya merenungi segala hal dalam hidupnya. “Seorang dosen mendatangi kelasku dan membawa berita kematian salah seorang teman sekelas kami,” kenangnya. Brent terguncang.

Ia semakin terguncang mengetahui teman sekelasnya itu meninggal karena heroin. Brent menjelaskan, semua orang di kampus tahu teman mereka yang baru meninggal itu tak pernah menggunakan heroin. “Dan, ia meninggal pada percobaan pertamanya menggunakan obat terlarang itu.”

Perasaan takut menyergap Brent. Remaja 17 tahun itu pun mulai memikirkan kehidupannya, juga kematian yang ia tahu cepat atau lambat akan menjemputnya. Brent memiliki seorang ibu yang menjadi pengajar Injil dan menyekolahkan Brent di sebuah sekolah Injil.

“Aku mengetahui isi kitab suciku. Dan, karenanya, aku banyak bertanya tentang agamaku,” kata Brent.

Brent tahu, nabi-nabi yang diutus jauh sebelum Yesus lahir menyampaikan ajaran yang sama, yakni tauhid. “Pun Yesus. Dalam Injil dijelaskan bahwa ia menyerukan tauhid. Dan, itu bertentangan dengan konsep Trinitas yang diajarkan gereja,” ujarnya.

Siang itu, saat membaca terjemahan Alquran di perpustakaan kampus, Brent dikejutkan oleh sebuah ayat, yakni ayat 171 surah an-Nisa, yang mengatakan bahwa Yesus bukanlah anak Tuhan. “Ayat itu seolah menjawab keraguanku tentang trinitas,” katanya.

Brent mempelajari Alquran itu dari perpustakaan dan mulai berinteraksi dengan kitab suci umat Islam itu. Keterkejutan terbesar muncul saat ia membaca ayat-ayat tentang Yesus. “Alquran memuat cerita tentang kelahirannya yang menakjubkan, tentang ibunya yang mulia, juga keajaiban yang tidak diceritakan dalam Injil ketika dari buaian ia membela kehormatan ibunya.”

Penemuan hari itu membawa Brent pada sebuah misi pembuktian. “Aku bertekad menemukan pernyataan Injil yang akan mampu menjawab pernyataan Alquran. Dan, Brent menemukannya. Sayang, jawaban itu sama sekali tak mendukung doktrin agamanya dan justru membenarkan Alquran.”

Dalam Injil Yohanes 3:16, mi salnya, tulis Brent dalam artikel “My Passion for Jesus Christ” (muslimmatters.org) disebutkan tentang anak Tuhan dan kehidupan abadi bagi siapa pun yang memercayainya. “Jika kita terus membaca, kita akan bertemu Matius 5:9 atau Lukas 6:35 yang menjelaskan bahwa sebutan ‘anak Tuhan’ tidak hanya untuk Yesus,” katanya.

Brent menambahkan, baik da lam teks Perjanjian Baru dan juga Perjanjian Lama, Injil menggunakan istilah “anak Tuhan” untuk menyebut orang yang saleh. “Dalam Islam, kita menyebutnya muttaqun (orang-orang yang bertakwa),” jelas Isa.

Dalam pencarian yang semakin dalam, Brent menemukan bahwa ayat terbaik yang dapat membuktikan doktrin trinitas telah dihapuskan dari Injil. “Ayat itu dulu dikenal sebagai Yohanes 5:7 dan kini secara universal diyakini sebagai sebuah ayat sisipan yang penah secara sengaja ditambahkan oleh gereja,” terang Brent yang kemudian menguraikan hasil pene litian seorang profesor peneliti Injil asal Dallas, Daniel B Wallace, tentang ayat tersebut.

Setelah mencapai kesimpulan yang sulit diterimanya itu, ia menemukan sebuah peringatan dalam Injil Perjanjian Lama. “… jika seseorang menambahkan (atau mengurangi) sesuatu kepada perkataan-perkataan ini maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22:18-19)

“Ayat itu senada dengan pernyataan Alquran (al-Baqarah ayat 79),” tegas Brent.

Pertanyaan dalam otak Brent belum tuntas. Ia kembali bertanya-tanya, “Jika Injil dan Alquran sama-sama memastikan Yesus bukanlah seorang anak Tuhan, lalu siapa dia?”

Lagi-lagi, Brent menemukan banyak kesepakatan antara Injil dan Alquran. Melalui ayat masing-masing, kedua kitab yang diselaminya itu menegaskan kenabian Yesus. “Yesus diutus untuk menyeru umatnya pada keesaan Tuhan sebagaimana dilakukan para nabi dan rasul sebelumnya.”

Persoalan agama itu menjadikan Brent semakin kritis, yang menggiringnya pada berbagai pertanyaan besar tentang agamanya. Ia mempelajari berbagai agama lain. “Aku mencari tahu tentang beberapa agama, aku mempelajari paganisme dan aku tertarik pada Islam.”

Di mata Brent kala itu, Islam adalah agama yang sempurna. “Aspek ekonomi, peme rintahan, semua diatur dengan baik dalam Islam. Aku kagum pada cara Muslim memperlakukanku dan aku sangat kagum pada bagaimana Islam meninggikan derajat perempuan.”

Brent pun menyatakan keinginannya untuk masuk Islam pada seorang teman Muslimnya. “Sayang, ia memberitahuku bahwa aku tak bisa menjadi Muslim hanya karena aku dilahirkan sebagai Kristen. Karena tak mengerti, aku menerima informasi itu sebagai kebenaran,” sesalnya.

Bagi pemuda kebanyakan di Australia, bisa jadi kehidupan Brent nyaris sempurna. Ia mahir memainkan alat musik, menjadi personel kelompok band, dan populer. Ia bisa berpesta sesering apa pun ber sama teman-teman yang mengelukannya. “Namun, aku tidak bahagia dengan semua itu. Aku tak tahu mengapa.”

Tanpa agama yang menenangkan hatinya, Brent seolah terhenti di sebuah sudut dengan banyak persimpangan. Perhentian itu membangun kannya pada sebuah malam. “Aku berkeringat dan mena ngis. Aku sangat ketakutan sambil terus bergumam ‘Aku bisa mati kapan pun’,” tutur nya.

Isyarat Allah menghampiri Brent keesokan harinya. Se orang Muslimah asal Myanmar yang menjadi teman kampusnya mengiriminya sebuah e-mail. Ia tahu Brent telah tertarik pada Islam sejak belajar di sekolah menengah dan da lam e-mail-nya itu ia bertanya apakah Brent masih tertarik pada Islam. Brent mengiyakan.

Beberapa hari kemudian, teman asal Myanmar itu da tang ke rumah Brent dan mem bawakannya sejumlah buku tentang Islam. Membacanya, Brent tahu bahwa Islam tak melarang non-Muslim sepertinya untuk memeluk agama itu. “Dari buku itu aku tahu bahwa banyak sahabat Nabi SAW, termasuk Abu Bakar, adalah mualaf. Aku sangat senang dan berteriak dalam hati, ‘Ini yang ku mau’.”

Selesai dengan bacaannya, Brent mendatangi seorang teman Muslim dan memin tanya menjelaskan tentang jannah (surga). Dari penjelasan tentang surga itu, ber tambahlah kekaguman Brent, juga kemantapannya pada Islam. Masjid Al-Fatih Coburg, Melbourne, menjadi saksi keislaman Bent Lee Graham.

Ia lalu mengganti namanya menjadi Isa Graham. “Aku ingin orang (non-Muslim) tahu bahwa dalam Islam kami juga memercayai Yesus,” ujarnya.

Bagi Isa, mencintai seseorang tidak seharusnya diwujudkan dengan menuhankannya, te tapi mengatakan segala sesuatu tentangnya apa adanya. “Kini aku ingin menunjukkannya kepada Yesus, bukan sebagai seorang Kristen, me lainkan sebagai Muslim.”

 

 

Disarikan dari Oase Islam Digest

REPUBLIKA

Begini Penampakan Sumur Wakaf Utsman bin Affan

Sahabat Utsman bin Affan RA, termasuk salah satu sahabat yang terkenal hartawan, namun tetap bersikap dermawan, murah hati, dan perhatian terhadap sesama. Kepeduliannya membela agama Allah SWT tak lagi diragukan. 

Dalam banyak riwayat, sahabat yang dijuluki dengan gelar dzunnurain (pemilik dua cahaya) ini, ikut serta menyokong pendanaan perluasan Masjid al-Haram, Makkah dan Masjid Nabawi, Madinah. Saat meletus Perang Tabuk, ia bahkan menginfakkan 1.000 ekor unta dan 70 ekor kuda serta 1.000 dihram.

Di antara contoh kedermawanan Ustman adalah Sumur Raumah, yang berlokasi di Madinah. Sumur ini dibeli Ustman dari seorang sahabat yang bernama Raumah al-Ghifari seharga 35 ribu dirham, lalu demi kepentingan banyak orang, sumur ini pun lantas diwakafkan untuk umum.

Setelah lewat hampir kurang lebih 1.400 tahun, sumur ini ternyata masih bertahan. Kondisinya masih seperti sedia kala dan masih mengeluarkan air.

Sumur ini sekarang dimanfaatkan Kementerian Pertanian Arab Saudi untuk mengairi perkebunan di sekitarnya.

Menurut pakar sejarah Kota Madinah, Abdullah Kabir, sejarah mencatat tanah atau benda lain yang tak bergerak, yang diwakafkan atas nama Ustman cukup banyak.

Namun sayangnya, kurang termaksimalkan pelestariannya. Beberapa di antaranya terkena dampak perluasan Masjid al-Haram seperti yang berada di samping Ribath al-Ajam.

 

REPUBLIKA

Tips Mengatasi Hoax dan Fitnah

DALAM kehidupan ini selalu saja ada jenis manusia yang pekerjaannya menebar fitnah, provokasi dan kebohongan. Biasanya mereka banyak berulah yang kadang menimbulkan masalah terhadap kita disebabkan fitnah dan provokasi yang mereka lancarkan.

Kadang sahabat dan teman kita menjauhi kita dan menjaga jarak dengan kita disebabkan oleh ulah mereka. Perlu Anda ketahui bahwa banyak di antara mereka yang terlibat atau terpengaruh fitnah, provokasi dan kebencian tersebut tidak memahami permasalahan yang sebenarnya.

Apa yang harus kita lakukan jika terjadi hal seperti itu kepada kita?

1. Jangan pernah mundur dan menyerah. Anda harus yakin bahwa semua itu pasti berlalu dan dengan pertolongan Allah Anda mampu menghadapi semua itu. Yakinlah, bahwa “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”, demikian firman Allah dalam surat “Alam Nasyrah” ayat 5-6.

2. Tetaplah berbuat kebaikan dan buktikan dengan perbuatan nyata bahwa semua fitnah tersebut adalah palsu sehingga terbongkarlah kebohongan si penebar fitnah tersebut.

3. Jangan mengotori hati Anda dengan kebencian dan dendam kepada mereka karena hal itu tidak berfaedah dan hanya menimbulkan kerugian Anda.

4. Perbanyak istighfar dan bertobat kepada Allah serta mengoreksi diri (muhasabah) atas apa yang kita lakukan selama ini.

5. Jika dada Anda terasa sempit oleh ulah mereka lakukanlah dua hal ini;

a). Bertasbih dengan memuji Allah (memperbanyak berzikir kepada Allah).

b). Bersujud (salat).

Allah Taala berfirman:

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan,

“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (salat),” [QS 15 Al Hijr, Ayat 97-98]

6. Jika Anda sabar, tegar dan kokoh pasti Allah berikan kemenangan kepada Anda karena kesabaran adalah bala tentara terkuat yang tidak terkalahkan dengan izin Allah.

7. Anda harus menyadari bahwa semua ini adalah ujian yang akan menjadikan Anda semakin mulia dan sukses jika Anda berhasil menghadapinya.

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang sukses dunia akhirat. [artikel AbdullahHadrami]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2383187/tips-mengatasi-hoax-dan-fitnah#sthash.bWSncs9R.dpuf

Kenapa Kita Harus Menjaga Pandangan?

“KATAKANLAH kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan sebagian pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya”

Bagi para muslimah tentunya tidak asing lagi mendengar terjemahan ayat di atas, yaitu firman Allah yang terdapat pada Alquran surat an-Nur ayat 31 yang menjelaskan beberapa hal mengenai kewajiban untuk menahan pandangan (godhul bashor).

Sebenarnya apa yang salah dengan pandangan? Bukankah kita diberi mata untuk melihat? Kita memang diberi mata untuk melihat ciptaan Allah, hanya semua itu ada aturannya. Kita diminta untuk memalingkan pandangan dari hal-hal yang Allah haramkan, apalagi pada lawan jenis yang bukan mahrom.

Lalu, yang menjadi pertanyaan kenapa kita harus menjaga pandangan tersebut? Berikut adalah beberapa alasannya:

Pandangan yang liar adalah sarana menuju yang haram, dalam sebuah riwayat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Ali, janganlah pandangan pertama kau ikuti dengan pandangan berikutnya. Untukmu pandangan pertama, tetapi bukan untuk berikutnya.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Hakim sesuai dengan syarat Muslim)

Membiarkan pandangan lepas adalah bentuk kemaksiatan kepada Allah. Allah berfirman dalam Alquran surat An-Nur ayat 30, yang artinya, “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman, agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Masuknya Setan Ketika Seseorang Sudah Memandang

Masuknya setan lewat jalan ini melebihi kecepatan aliran udara ke ruang hampa. Parahnya, setan akan menjadikan wujud yang dipandang sebagai berhala tautan hati, mengobral janji serta angan-angan. Lalu ia menyalakan api syahwat dan ia lemparkan kayu bakar maksiat.

Pintarnya lagi, setan akan menyesatkan manusia secara bertahap. Ada pepatah yang mereka pegangi; berawal dari pandangan, lalu berubah menjadi senyuman, kemudian beralih menjadi percakapan, kemudian berganti menjadi janjian, yang pada akhirnya berubah menjadi pertemuan. Begitu hebatnya setan melemparkan panah beracun pada diri kita dan setan melemparkannya secara bertahap sehingga kadang kita tidak menyadarinya. Astaghfirullahtidak percaya? Masih ingat dengan kisah Yusuf dan para bangsawati yang mengiris-ngiris jari kan?

Pandangan tersebut akan menyibukkan hati

Seseorang yang hatinya sibuk akan menyebabkannya lupa akan hal-hal yang bermanfaat baginya. Akhirnya, ia akan selalu lalai dan hanya mengikuti hawa nafsunya. Secara tidak sadar kita dapat merusak hati orang lain, seringkali pandangan seorang wanita kepada laki-laki tak hanya merusak hati si pemandang. Ketika dicampur dengan senyum, tunduk atau berbisik dengan rekannya sesama perempuan, lalu bayangan ini tertangkap oleh laki-laki yang dipandang atau yang merasa GR (gede rasa) karena merasa dipandang, pasti ada lagi hati yang rusak. Wah, hanya menambah dosa saja!!

Para pakar akhlak pun bertutur bahwa antara mata dan hati ada kaitan eratnya. Bila mata telah rusak dan hancur, maka hatipun akan rusak dan hancur. Hati ini bagaikan tempat sampah yang berisikan segala najis. Kalau kita membiarkan pandangan lepas, berarti kita memasukkan kegelapan di dalam hati. Sebaliknya, bila kita menundukkan pandangan karena Allah berarti kita memasukkan cahaya ke dalamnya.

Allah lagi-lagi mengingatkan, masih pada surah An Nur, di ayat 35, Allah berfirman yang artinya, “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) , yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Bila hati ini telah bersinar, berbagai amal kebaikan akan berdatangan dari berbagai penjuru, untuk dilaksanakan. Jangan sampai kita masih terus melanggar perintah-Nya karena tidak merasa diawasi oleh Allah. Bukankah Allah Maha Mengetahui apa yang kita perbuat? Jadi, kita tinggal memilih, ingin memiliki pandangan yang terjaga atau tidak ? Tentunya, dengan segala konsekuensi yang ada.[Fimadina]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2382719/kenapa-kita-harus-menjaga-pandangan#sthash.YoTmSNCb.dpuf

MUI Rilis Fatwa Interaksi di Media Sosial, Ada 5 Hal yang Diharamkan

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa tentang hukum dan pedoman bermuamalah di media sosial pada Senin (5/6/2017). Fatwa ini dibuat karena selama ini ada dampak positif maupun negatif dari penggunaan media sosial.

Asrorun Ni’am Sholeh selaku Sekretaris Komisi Fatwa MUI, berpendapat media sosial memiliki dua sisi. Pertama sisi positif, digunakan untuk kepentingan kehidupan sosial dan silaturahmi. Kedua sisi negatif, yang dapat memicu pelanggaran hukum dan keresahan sosial.

“Dilatarbelakangi oleh media digital yang memiliki nilai pemanfaatan untuk kepentingan silaturahni, kehidupan sosial, dan pendidikan. Akan tetapi di sisi lain memicu keresahan sosial, pelanggaran hukum, dan disharmoni antar sesama dan kestabilan nasional,” ujar Ashrorun, saat membacakan Fatwa Hukum Bermuamalah di Media Sosial, di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Senin (5/6).

 

Fatwa ini merupakan dasar pemikiran berbagai pihak baik dari para ulama, pemerintah, dan masyarakat luas.
“Dari berbagai pihak MUI bertujuan memberikan landasan pemanfaatan medsos dengan baik melalui fatwa ini,” imbuh Ashrorun. Di dalam fatwa tersebut, dijelaskan bahwa yang dimaksud muamalah adalah proses interaksi antar individu atau kelompok yang terkait dengan hablun minannas (hubungan antar sesama manusia) meliputi pembuatan (produksi), penyebaran (distribusi), akses (konsumsi), dan penggunaan informasi dan komunikasi.
Di dalam Fatwa MUI No 24 Tahun 2017 tersebut juga dijelaskan bahwa setiap muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan untuk:
  1. Melakukan ghibah, fitnah, namimah, dan penyebaran permusuhan;
  2. Melakukan bullying, ujaran kebencian, dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras, atau antar golongan;
  3. Menyebarkan hoax serta informasi bohong meskipun dengan tujuan baik, seperti info tentang kematian orang yang masih hidup;
  4. Menyebarkan materi pornografi, kemaksiatan, dan segala hal yang terlarang secara syar’i;
  5. Menyebarkan konten yang benar tetapi tidak sesuai tempat dan/atau waktunya.
Dalam kesempatan ini, MUI memberikan secara simbolik fatwa kepada Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo). Menkominfo Rudiantara mengapresiasi pemberian fatwa tersebut sebagai rekomendasi kepada pemerintah untuk menjaga dan meminimalisasi penyebaran konten-konten negatif di media sosial.
“Berdasarkan rekomendasi MUI ini bukan akhir tapi awal kerja sama dengan MUI. Mensosialisasikan fatwa ini, bagaimana menggunakan ini sebagai rujukan dari MUI untuk mengelola dan memanajemen konten-konten negatif di sosmed,” ujar Rudiantara.

Hubungan Intim Saat Puasa Halal yang Terlarang

HUBUNGAN intim yang telah legal asalnya halal bahkan bisa bernilai pahala. Namun ketika puasa, bersetubuh atau bersenggama (hubungan intim suami istri) menjadi terlarang bahkan menjadikan puasa seorang muslim batal.

Karena kehormatan bulan Ramadan, pelanggaran tadi dihukumi dengan hukuman yang berat dalam kafarat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata,”

“Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi shallallahu alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau shallallahu alaihi wa sallam. Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.” Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas beliau shallallahu alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak”. Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian beliau shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Di mana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ” Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.” (HR. Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111).

Laki-laki mengatakan bahwa dirinya itu binasa, yaitu karena telah menyetubuhi istrinya di siang hari Ramadan.

Beberapa faedah dari hadis di atas:

1. Wajib bagi yang berhubungan intim di siang bulan Ramadan untuk membayar kafaroh seperti yang disebutkan dalam hadis: (1) membebaskan satu orang budak, (2) jika tidak diperoleh, berpuasa dua bulan berturut-turut, (3) jika tidak mampu, memberi makan kepada 60 orang miskin.

2. Pembatal puasa lainnya tidak ada kewajiban kafaroh seperti di atas seperti misalnya ada yang melakukan onani di siang hari Ramadan.

3. Yang terkena hukuman adalah bagi yang melakukan hubungan intim di siang hari Ramadan, bukan di bulan lainnya. Bentuk kafaroh ini untuk menebus kesalahan di bulan Ramadan sebab mulianya bulan tersebut. Kafaroh ini hanya berlaku bagi puasa di bulan Ramadan, namun tidak berlaku pada puasa qodho dan puasa sunah lainnya. Pendapat ini dianut oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sadi -semoga Allah merahmati beliau-.

4. Bersetubuh di siang hari mendapat dosa besar karena dalam hadis disebut sebagai suatu kebinasaan.

5. Kasus yang terjadi dalam hadis amatlah menakjubkan karena ia mengadu kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam keadan takut, namun ia balik pulang dalam keadaan senang karena membawa kurma.

6. Tertawa dalam keadaan yang pas, itu terpuji dan menunjukkan baiknya akal serta menandakan akhlak yang lemah lembut. Sebaliknya tertawa dalam keadaan yang tidak pada tempatnya, malah menunjukkan kurangnya akal.

7. Jika seseorang tidak mampu menunaikan kafaroh lantas orang lain yang menunaikannya, maka itu dianggap sah. Dan kafarohnya bisa diberikan kepada yang tadi punya kewajiban kafaroh. Namun hadis ini bukan menjadi dalil bahwa orang yang tidak mampu menjadi gugur kewajibannya. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang membayarkan kafarohnya. Kafaroh itu seperti halnya utang, bisa gugur jika pemberi utang menggugurkannya.

8. Jika seseorang berbuat dosa, maka hendaklah ia segera bertaubat kepada Allah, termasuk pula dalam menunaikan kafaroh.

9. Sekadar memberi makan walau tidak dibatasi kadarnya dibolehkan. Kalau sudah mengenyangkan 60 orang seperti kasus di atas, maka sudah cukup. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.[Muhammad Abduh Tuasikal, MSc/Rumaysho]

Referensi: Syarh Umdatul Ahkam, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sadi, terbitan Darut Tauhid, cetakan pertama, tahun 1431 H, hal. 341-342

 

– See more at: http://ramadhan.inilah.com/read/detail/2383145/hubungan-intim-saat-puasa-halal-yang-terlarang#sthash.AboO9FqB.dpuf

Ramadhan dalam Hidup, Hari Raya dalam Kematian

SAYA senang sekali dengan kegiatan keagamaan pada bulan suci Ramadhan ini. Tak ada masjid yang sepi dari kegiatan, tak ada mushalla yang senyap dari peribadatan. Setiap orang bersemangat mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhannya. Luar biasa efek Ramadhan ini.

Tetangga yang tak pernah kelihatan di mesjid saat di luar Ramadhan kini mendadak menjadi aktifis masjid. Remaja yang sebelum Ramadhan sibuk dengan acara kepemudaan mendadak sibuk dengan acara kerohanian. Ibu-ibu yang kesehariannya sibuk dengan belanja dan memasak untuk keluarga mendadak sibuk menyiapkan buka puasa di masjid dan mushalla. Hebat sekali efek Ramadhan.

Teringatlah saya pada satu ucapan: “Kalau engkau hidup seakan selalu dalam bulan Ramadhan, maka engkau akan mendapati akhiratmu sebagai hari raya”. Bahasa lebih ringannya, jadikan keseluruhan hidupmu bagai selalu dalam bulan Ramadhan, maka kematianmu adalah akhir puasamu dengan memasuki hari rayamu.

Yang berhak berhari raya adalah yang berpuasa. Menariknya di Indonesia, semua orang ikut berhari raya, termasuk yang tak puasa. Bahkan termasuk yang tidak beragama Islam. Itulah tolerannya keberagamaan di Indonesia.

Ingin kematian kita bagai akhir puasa kita dan menjadi hari raya kita? Marilah terus berpuasa dari apa yang dilarang Allah, pastilah pasca kematian kelak diperbolehkan buka puasa sebebas-bebasnya. Salam, AIM. [*]

 

– See more at: http://ramadhan.inilah.com/read/detail/2382971/ramadhan-dalam-hidup-hari-raya-dalam-kematian#sthash.ONuRzKJo.dpuf