Pemerintah Arab Saudi Apresiasi Penyelenggaraan Ibadah Haji Indonesia

Madinah (Kemenag) —- Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mengapresiasi kinerja pemerintah Indonesia dalam menyelenggarakan dan melayani jemaah haji. Hal ini disampaikan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel dalam keterangan persnya di Kantor Urusan Haji Indonesia, Madinah, Ahad (14/07).

Sebelumnya, Agus Maftuh ikut mendampingi Gubernur Madinah Pangeran Faishol bin Salman menyapa jemaah haji Indonesia. 

“Ini kejadian yang sangat istimewa. Pertama kalinya dalam sejarah, jamaah haji Indonesia disambut langsung oleh Pangeran Arab Saudi, putra Raja Salman, yakni Pangeran Faishol Bin Salman Bin Abdulaziz As Saud, yang juga Gubernur Madinah,” ujarnya.

Putra Raja Salman menyambut langsung rombongan jemaah haji Indonesia kloter 11 Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG 11) di terminal Makkah Route (Jalur Fast Track) Bandara Prince Mohammed Bin Abdul Aziz Madinah.

Dubes Agus Maftuh mengatakan bahwa penyambutan Pangeran Faishol Bin Salman Bin Abdulaziz As Saud  didampingi Menteri Urusan Haji dan Umrah Arab Saudi Muhammad Saleh Benten ini adalah bentuk penghargaan Saudi terhadap jemaah Indonesia dan buah dari hubungan baik kedua negara.Hal ini, kata dia, menunjukkan betapa dekatnya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Arab Saudi. Pihaknya sering menyebut hubungan kedua negara ini dengan istilah Poros Saunesia, yakni Saudi Arabia dan Indonesia. “Beliau menyatakan gembira dan bahagia, karena penyelenggaraan haji Indonesia terbilang sangat bagus dibandingkan negara lainnya. Beliau memuji sistem penyelenggaraan haji Indonesia yang mampu memberangkatkan jemaah haji dalam jumlah yang sangat besar, bahkan terbesar di dunia, dan paling rapi,” ujar Agus.

“Jemaah Indonesia akan dijadikan Saudi prototipe model haji masa depan,” ujar Agus.

Di antara bentuk apresiasi Saudi terhadap jemaah Indonesia adalah ditambahnya kuota 10 ribu dan pemberlakuan fast track di bandara Madinah.

KEMENAG RI

Menuntun Langkah Jemaah Haji pada Lintasan Sai

Makkah (Kemenag) — Ratusan orang masih tampak memutari lintasan thawaf di Baitullah, ketika petugas Pertolongan Pertama pada Jemaah Haji (P3JH) Ferry menemukan sosok perempuan paruh baya berjalan terseok. Perempuan tersebut tampak kelelahan usai menyelesaikan thawafnya. 

Siti (bukan nama sebenarnya), adalah jemaah haji Indonesia yang tergabung dalam kelompok terbang 02 embarkasi Batam (BTH-02). Ia terpisah dari rombongannya yang sedang melaksanakan rangkaian umrah wajib usai mereka tiba di Kota Makkah, Minggu (14/07) malam. 

“Beliau ada di sekitar mathaf dalam kondisi kelelahan. Tapi, semangatnya menggebu untuk meneruskan prosesi umrahnya,” ujar Ferry, Senin (15/07). 

Bersama Taufik, rekannya sesama perawat di RS Haji Jakarta  yang juga anggota P3JH, Ferry pun menawarkan bantuan  untuk membantu Siti menyelesaikan umrahnya. “Alhamdulillah beliau bersedia untuk dibantu untuk melintasi lantai sai ini,” tutur Ferry. 

Air mata pun tak terbendung dari dua kelopak mata Siti kala dirinya mampu menyelesaikan sai berkat bantuan dua pemuda tersebut. 

Sementara, tak lama berselang,  di sekitar bukit Marwah, paramedis P3JH Agus tengah memberikan penanganan awal kepada jemaah yang keram kaki. Eni (bukan nama sebenarnya), merasakan keram pada kakinya usai menahan dinginnya lantai sai. 

“Lantai sai ini cukup dingin sehingga seringkali jemaah mengalami keram saat melintasinya. Kami sarankan jemaah beristirahat terlebih dahulu bila merasakan kakinya mulai lelah. Jangan paksakan diri,”pesan Agus. 

P3JH merupakan salah satu bagian Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang bertugas untuk memberikan pelayanan, perlindungan, dan pembinaan bagi jemaah saat mereka mengerjakan ibadah umrah setibanya di tanah suci Makkah. Bersama dengan tim perlindungan jemaah (linjam) dan tim gerak cepat (TGC), P3JH berjaga di enam titik yang telah ditetapkan di bawah koordinasi Sektor Khusus Haram.

“Setiap hari, secara bergiliran kami akan berjaga di enam titik yang telah ditentukan,” ungkap Taufik. 

Taufik menyatakan bahwa P3JH juga hadir untuk membantu jamaah yang kesulitan dalam menyelesaikan ibadah wajibnya. Pembentukan tim ini diinisiasi oleh Kementerian Agama pada pelaksanaan haji 2018 lalu.

P3JH kembali diturunkan dalam musim haji kali ini dengan beranggotakan 26 orang yang memiliki latar belakang kedokteran, tenaga kesehatan, serta para medis. Tim ini gabungan dari dokter yang berasal dari Perguruan Tinggi Islam Negeri dan TNI. 

Untuk menunjang tugas mereka, tim ini juga dilengkapi perlengkapan penunjang seperti tandu dan kursi roda. P3JH tidak hanya membantu jemaah bila mengalami gangguan kesehatan saja, tapi juga mendampingi jemaah yang kesulitan dalam penyelesaian rukun ibadah.

KEMENAG RI

Daerah Diminta Bersiap Pelunasan Kuota Tambahan

Jakarta (PHU)—Kuota haji tambahan sebanyak 10.000 orang telah ditetapkan pembagiannya melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 176 Tahun 2019. Disebutkan dalam KMA tersebut pembagian kuotanya digunakan untuk nomor porsi berikutnya sebanyak 5.000 orang dan untuk lansia serta pendamping 5.000 orang.

Direktorat Jenderal Penyeleggaraan Haji dan Umrah telah mengirimkan surat edaran kepada seluruh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi agar melakukan persiapan pelunasan kuota haji tambahan. Di dalam surat edaran nomor B-8011/DJ/Dt.II.II/KS.02/05/2019 pembagian kuota haji tambahan sebagaimana KMA 176/2019 serta berbagai hal teknis pengisian kuota serta hal lainnya.

Pengisian kuota haji tambahan jemaah haji reguler berdasarkan nomor urut porsi berikutnya diatur dengan ketentuan:
1. bagi jemaah haji cadangan yang telah melunasi BPIH.
2. nomor urut porsi berikutnya yang belum berhaji dan berusia 18 tahun atau sudah menikah.
3. serta jemaah haji cadangan nomor porsi berikutnya tahun 1441H/2020M sebanyak 10% dari kuota tambahan provinsi yang belum haji dan berusia 18 tahun atau sudah menikah.

Sedangkan pengisian kuota untuk jemaah haji lanjut usia dan pendamping diatur dengan ketentuan:
1. jemaah haji lansia dan pendamping yang telah mengajukan dan telah diinput ke dalam data SISKOHAT dan tidak masuk dalam pengisian kuota tahap kedua.
2. Pengajuan paling lambat 10 Mei 2019.
3. Prioritas bagi jemaah lansia berdasarkan urutan usia tertua pada masing-masing embarkasi.

Surat edaran yang ditandatangani Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri, Muhajirin Yanis, pada 8 Mei 2019 (kemarin) juga menjelaskan bahwa jemaah haji wajib melakukan pemeriksaan kesehatan. Pemeriksaan dilakukan di Puskesmas/Rumah Sakit yang ditunjuk oleh Dinas Kesehatan di Kabupaten/Kota.

Sementara apabila terdapat sisa kuota pada pelunasan kuota haji tambahan akan dialokasikan bagi jemaah haji cadangan yang telah melunasi BPIH sesuai nomor urut porsi berikutnya. Terkait dengan pembayaran dan pelunasan BPIH kuota haji tambahan akan diatur dalam Keputusan Direktur Jenderal. (ab/ab).

KEMENAG RI

Sekjen: Petugas Haji Jangan Sampai Cederai Komitmen

Jakarta (Kemenag) — Sekretaris Jenderal Kementerian Agama M. Nur Kholis Setiawan berpesan agar petugas haji memegang teguh komitmen untuk melakukan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan kepada jemaah haji Indonesia. Pesan ini disampaikan Sekjen saat menutup Pembekalan Terintegrasi Petugas Haji Arab Saudi 1440H/2019M, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Sekjen M. Nur Kholis menguraikan, terpilih jadi petugas haji merupakan sebuah anugerah dari Allah SWT. Untuk itu, Nur Kholis meminta petugas haji untuk menjadi hamba yang bersyukur, ridho, rela, dan ikhlas terkait posisinya sebagai petugas haji.

“Kalau sudah memiliki kualitas sebagai pelayan tamu Allah, jangan nodai itu. Jangan cederai komitmen yang sudah Anda ucapkan,” pesan Sekjen, Kamis (02/05).

Pembekalan Terintegrasi Petugas Haji Arab Saudi 1440H telah berlangsung selama 10 hari sejak 23 April-2 Mei 2019. Pembekalan ini diikuti oleh 1.108 petugas yang berasal dari Kemenag, Kemenkes, TNI, Polri, instansi terkait lainnya serta awak media yang tergabung dalam Media Center Haji 2019.

Lebih lanjut, Nur Kholis menjelaskan semua kegiatan yang dilakukan petugas haji itu adalah ibadah. Sehingga menurutnya, tidak ada alasan bagi petugas yang bergabung dalam PPIH untuk tidak mematuhi aturan dan menjalankan tugas dengan baik.

Mengutip avorisme dalam Kitab Al Hikam, M Nur Kholis mengatakan “Idza futiha laka wijhatun minat-ta’arrufi fa laa tubaali ma’ahaa in qalla ‘amaluka. Fa innahu ma futiha laka illaa wahuwa yuriidu an yata’aarfa ilaika” (Ketika Allah membuka satu dimensi ma’rifat kepadamu, jangan lagi pedulikan berapa banyak amal perbuatanmu, karena Allah tidak membukakan pintu ma’rifat, kecuali memang sudah dikehendaki-Nya).

“Bertugas menjadi PPIH adalah ibadah, sehingga willingness to serve, harus mampu mengalahkan ego pribadi, semua dicurahkan utk tamu tamu Allah,” pesan M Nur Kholis Setiawan.

Ia menambahkan bahwa untuk mewujudkan kesuksesan haji, maka dibutuhkan dukungan dari seluruh piranti yang ada, termasuk petugas. Peran petugas sangat diperlukan khususnya untuk mengawal kesempurnaan ibadah jemaah haji melalui pendidikan manasik.

“Kesempurnaan manasik haji bagi jemaah adalah sebuah keniscayaan, sehingga semua piranti untuk mewujudkannya juga keniscayaan,” ujar Nur Kholis.

Menurut Nur Kholis, petugas menjadi piranti penting bagi kesempurnaan ibadah karena petugas memiliki pengetahuan terkait ibadah haji. Apalagi setelah diberi pembekalan selama 10 hari, petugas dianggap telah memiliki kemampuan untuk membina jemaah haji.

“Wa laa yajuuzul ibtida bin-nakirah, maa lam tufid ka ‘inda zaidin namirah,” tutur M Nur Kholis mengutip salah satu bayt Alfiyah Ibn Malik.

“Sebelum dibekali selama 10 hari, calon petugas masih “nakirah” (kemampuannya bersifat umum). Setelah 10 hari digembleng, mereka bisa dianggap ma’rifat (memiliki kemampuan spesifik) yang bisa diperkenankan menjadi “pemimpin”, guide dan segala fungsinya sebagai pembina, pelayan, dan pelindung Jemaah,” lanjutnya.

KEMENAG RI

Kuliah Merakyat Khoirizi: Yuk Dakwah Haji

Ciawi (PHU)–Musim haji telah usai, bukan berarti persiapan penyelenggaraan terhenti, justru sebaliknya dilakukan lebih dini. Bahkan, jemaah haji yang telah kembali ke Tanah Air dilakukan pembekalan untuk berperan dalam kesalehan sosial.

Menyinggung soal jemaah paska haji, Direktur Bina Haji Kementerian Agama (Kemenag) Khoirizi menyampaikan hal penting. Pertama, menjaga kemabruran haji untuk diri sendiri. Kedua, menjaga kemabruran haji untuk sosial. Ketiga, menjaga kemabruran haji dalam informasi.

“Jemaah haji diharapkan mampu menjadi agen informasi tentang perhajian. Baik pada keluarga, tetangga, sanak, kerabat dan saudara. Ini bagian dari dakwah tentang haji. Yuk dakwah haji,” himbau Khoirizi saat memberikan kuliah merakyatnya pada para jemaah paska haji di Wisma Ciawi Bogor, Rabu (07/11).

Tahun ini dan boleh jadi tahun-tahun mendatang masyarakat dihadapkan pada sentimen-sentimen negatif melalui info yang kurang bertanggungjawab, hoaks misalnya.

“Hoaks tentang perhajian juga terjadi. Penting bagi kita sebagai jemaah haji, jemaah paska haji, umat Islam dan publik secara umum untuk bertabayyun,” ujar putra  hafiz Alquran ini.

Khoirizi juga menekankan agar bertanya tentang haji pada orang yang tepat. Agar hoaks tak menjadi fitnah dan merugikan bukan hanya bagi negara, Kementerian Agama, namun juga pada Islam itu sendiri.

“Tanyalah pada pegawai Kepala Kantor Kementerian Agama, pada Majelis Ulama Indonesia, pada pembimbing haji yang sudah bersertifikat, pada KUA, Penyuluh Agama Islam domisili dan lainnya,” ungkapnya.

Sebelum mengakhiri kuliah merakyatnya, Khorizi berpesan bahwa musuh haji terbesar saat ini adalah penyempitan arus informasi atau distorsi dan enggan bertanya. “Jadilah agen dakwah haji,” tutupnya.

Hadir dalam kuliah haji merakyat para alim, ulama, ustaz, dai, pembimbing haji, penyuluh haji dan Kasi Haji Kemenag Kabupaten Bogor Syamsudin sebagai penggagas acara.(ar/ha)

KEMENAG RI

Jemaah Calon Haji Gelombang Kedua Diminta Lakukan Ini di Saudi

Tim Promotif Preventif (TPP) terus melakukan penyuluhan kesehatan kepada para jemaah calon haji yang telah tiba di Tanah Suci. Tim yang dibentuk oleh Kementerian Kesehatan itu memastikan jemaah calon haji Indonesia tidak mengalami masalah kesehatan selama beribadah.

“Pagi tadi teman-teman kita melakukan penyuluhan edukasi masalah kesehatan terhadap jemaah haji LOP 10 –Lombok,” ujar Kabid Kesehatan Arab Saudi, Melzan Dharmayuli di Makkah, Jumat (3/8/2018).

Pada penyuluhan di gelombang kedua kloter LOP-10 itu juga dihadiri oleh tim Kementerian Kesehatan Arab Saudi. Mereka memantau dan ikut memberikan penyuluhan kepada jemaah calon haji Indonesia.

“Hal yang menarik, apa yang disuluhkan Kemenkes Arab Saudi juga sama dengan yang sedang kita suluhkan. Jadi perhatian kita kepada jemaah juga sama. Sesuatu hal yang sederhana yang sudah bisa dilakukan. Jemaah di sini diingatkan kembali tentang kesehatan oleh kita juga Kemenkes Arab Saudi,” terang Melzan.

Materi penyuluhan itu antara lain jemaah harus gunakan penutup kepala, seperti payung, topi, atau sorban untuk mengurangi paparan sinar matahari dan memakai masker saat beraktivitas di luar pondokan.

Selain itu, jemaah calon haji juga diimbau banyak minum, rajin makan buah dan sayur, dan menggunakan alas kaki. Jemaah juga diingatkan untuk rajin mencuci tangan sebelum dan sesudah makan serta dari toilet, juga diingatkan untuk tidak jajan sembarangan.

“Semua jemaah antusias mendengarkan penyuluhan dari Kemenkes Indonesia dan dari Kementerian Kesehatan Arab Saudi,” kata Melzan.

LIPUTAN6

Untuk Perlindungan, Jamaah Haji 2018 Dapat Perlengkapan Ini

Sekitar 221.000 jamaah haji Indonesia 2018 akan berangkat ke Tanah Suci. Untuk menghadapi risiko gangguan kesehatan, mereka diberikan satu set perlengkapan.

Perlengkapan itu terdiri dari kacamata ultraviolet, payung, topi, botol minum, masker, dan semprotan untuk muka.

“Kacamata hitam supaya pelindung diri dari debu dan cuaca panas, masker alat pelindung diri juga,” ujar Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan RI, Dr dr Eka Jusup Sangka, MSc di Kementerian Kesehatan RI, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (6/7/2018).

Selain itu, akan ada pula 20.400 sandal, namun tidak dibagikan bersamaan dengan perlengkapan yang sudah disebutkan di atas. Sandal akan diberikan bagi jamaah yang kehilangan sandal di masjid.

“Ada yang kehilangan sandal di masjid pulangnya nggak pakai alas kaki apa-apa, jalan di aspal yang panas, ya melepuh kakinya,” cerita dr Eka.

Tim kesehatan haji 2018 akan menyediakan 7 ton obat-obatan dari berbagai macam jenis penyakit untuk mengantisipasi jika jamaah haji mengalami gangguan kesehatan.

“Obat-obatan saluran pernapasan, flu, batuk, obat jantung ada, hipertensi ada. Pengganti cairan juga ada. Semua yang dibutuhkan oleh jamaah haji, yang diperlukan untuk semua penyakit,” jelas dr Eka.

 

DETIK

 

TERBARU: Aplikasi Cek Porsi Haji, kini dilengkapi Infomasi Akomodasi Haji di Tanah Suci!
Silakan Download dan instal bagi Calon Jamaah Haji yang belum menginstalnya di smartphone Android!
Klik di sini!

Jamaah Haji Makan Masakan Indonesia

Tahun ini KJRI Jeddah, Saudi Arabia memastikan jamaah haji Indonesia bisa menyantap cita rasa masakan lokal. Pasalnya, seluruh penyedia jasa katering jamaah haji yang menandatangani kontrak, diwajibkan menggunakan produk masakan asal Indonesia.

“Ini amanat Pemerintah pusat agar penyelenggaraan ibadah haji bisa membawa dampak pada peningkatan ekspor produk non-migas Indonesia ke Arab Saudi,” ucap Konsulat Jenderal KJRI Jeddah dalam keterangan tertulisnya kepada detikcom, Rabu (11/7/2018).

Hal ini disampaikannya pula pada Minggu (8/7) di Wisma Konjen RI, dalam koordinasi untuk memastikan keamanan pasokan makanan dan minuman jamaah haji tahun 2018. Malahan, tahun depan menurutnya KJRI juga akan mengupayakan kebutuhan terkait akomodasi dan transportasi menggunakan produk Indonesia.

Untuk saat ini, Tim Ekonomi dan Perdangangan KJRI Jeddah memulai dengan berkoordinasi dengan para importir makanan dan minuman di Arab Saudi untuk memastikan keamanan pasokan makanan dan minuman bagi jamaah haji. Perusahaan importir produk Indonesia tersebut diwakili oleh Mohammad Bawazer For Trading (MBT), Said Bawazir Trading Company (SBTC), Mizanain Trading and Marketing (MTM), Annakla, Sami Alkhatiri Est, Arroqib Est, dan AlGhammad Trading Est.

“Koordinasi dengan para importir ini penting untuk memastikan agar katering haji pada tahun ini menggunakan produk-produk Indonesia,” kata Konsul Promosi Perdagangan Gunawan.

Mohammad Bawazer menyebut telah mempersiapkan suplai logistik beberapa bulan sebelum pelaksanaan haji, di 3 wilayah. “Kami telah mempersiapkan 4 sampai 5 bulan sebelum pelaksanaan haji untuk mengatur sistem suplai logistik di wilayah Jeddah, Madinah dan Makkah,” ujar Bawazer.

Sementara itu pendapat berbeda diutarakan Abdul Halim dan Hasan Doldaum, perwakilan dari perusahaan Sami Alkhatiri. Keduanya meminta agar KJRI lebih awal menyampaikan daftar menu yang dibutuhkan jemaah, agar importir juga bisa menyiapkan pasokan produk yang diminta pihak katering.

Tidak hanya menggandeng importir dan pengusaha katering, ke depan Tim Ekonomi dan Perdagangan KJRI Jeddah berencana menggelar temu bisnis juga bersama pengusaha bidang perhotelan dan transportasi. Ada pula pameran khusus yang akan diselenggarakan di Balai Nusantara KJRI Jeddah.

DETIK

 

 

TERBARU: Aplikasi Cek Porsi Haji, kini dilengkapi Informasi Akomodasi Haji di Tanah Suci! Silakan Download dan instal bagi Calon Jamaah Haji yang belum menginstalnya di smartphone Android! Klik di sini!

Gangguan Pernapasan Jadi Masalah Kesehatan Utama Jamah Haji

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat beberapa tahun terakhir, gangguan pernapasan menjadi penyakit paling banyak dialami jamaah haji Indonesia. Lebih dari 50 persen jamaah haji terkena keluhan saluran pernapasan, antara lain asma, pneumonia, bronchitis, TB paru, dan lainnya.

Kepala KKIH Madinah dr. Yanuar Fajar, mengatakan mayoritas jamaah haji yang mengalami gangguan pernapasan adalah perokok. “Jamaah haji Indonesia yang sakit rata-rata perokok. Kebiasaan tersebut menjadi pemicu timbulnya gangguan saluran pernapasan, apalagi iklim dan cuaca di Arab Saudi sangat berbeda dengan di Indonesia,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/6).

Untuk mengatasinya, dokter spesial paru ini berbagi tips kepada jamaah haji Indonesia agar dapat menjaga kesehatannya selama beribadah haji. Pertama, perbanyak minum. Kondisi panas dengan tingkat kelembaban rendah membuat tubuh mudah kehilangan cairan. Maka, jamaah haji harus banyak minum dengan jumlah minimal delapan gelas sehari.

“Banyak lah minum air putih. Tidak perlu takut sering buang air kecil karena di sana tersedia banyak toilet,” imbau Yanuar.

Kedua, makan dengan teratur. Haji adalah ibadah fisik, oleh karena itu diperlukan banyak energi yang bisa diperoleh dari makan. Apalagi sekarang Kemenag sudah menambah jumlah konsumsi, pergunakan fasilitas itu dengan baik.

Ketiga, istirahat yang cukup. Selain makan dan minum, istirahat yang cukup sangat diperlukan jamaah haji. Boleh ibadah, tapi harus pandai pula mengatur waktu istirahat.

Keempat, buat sirkulasi udara yang baik. Membuka jendela kamar/pondok di pagi hari akan membuat sirkulasi udara menjadi baik. Cukup buka jendela hingga pukul 07.00. Biarkan udara segar di luar masuk ke kamar.

Kelima, hentikan kebiasaan merokok sebelum keberangkatan sampai selesai proses ibadah haji. Jamaah diimbau untuk menghentikan kebiasaan merokok. Merokok dapat memperparah kondisi gangguan pernapasan. Karena itu, menghentikan kebiasaan merokok dapat membantu jamaah menjaga kondisi kesehatan selama ibadah haji berlangsung.

Terakhir, bawa obat-obatan pribadi. Jamaah yang memiliki riwayat penyakit dengan obat khusus diharapkan membawa obat-obatan pribadi. “Dikhawatirkan obat tersebut tidak tersedia di layanan kesehatan jamaah,” ucapnya.

 

IHRAM

MUI-Kemkes Rumuskan Istitha’ah Kesehatan Haji

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia dan Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan merumuskan deskripsi, kriteria, dan syarat yang berkaitan dengan istitha’ah kesehatan atau kemampuan fisik dalam berhaji. Dengan ini nantinya dirapkan layanan kepada jamaah haji akan bisa lebih baik.

“Istitha’ah kesehatan akan memberikan nilai positif bagi penyelenggaraan kesehatan haji di Indonesia. Untuk itu perlu dukungan fikih dari para ulama, khususnya dari Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia,” kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemkes Eka Jusup Singka dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (28/4).

Menurut Eka, kesehatan haji akan optimal apabila mendapat berbagai dukungan yang mempengaruhi terciptanya istitha’ah kesehatan haji bagi jamaah haji. Salah satu di antaranya adalah komitmen politik dalam mendukung kesehatan haji, terutama dari Kementerian Agama sebagai koordinator penyelenggara haji.

“Alhamdulillah tahun ini Kementerian Agama telah mengeluarkan edaran tentang pentingnya istitha’ah kesehatan  bagi jamaah haji,” kata Eka.

Menurut dia, hal tersebut sebagai bukti bahwa Kementerian Agama memiliki komitmen yg baik terhadap kesehatan.Penyelanggaraan haji juga memerlukan dukungan pengetahuan, sikap, dan perilaku dari jamaah haji yang sesuai dengan kaidah kesehatan.

Jamaah secara sadar harus selalu menggunakan alat pelindung diri untuk menjaga kesehatan, serta berperilaku hidup bersih dan sehat selama di Tanah Air guna mempersiapkan kesehatan diri sebelum keberangkatan ke tanah suci.

Selain itu, Kepala Pusat Kesehatan Haji juga menyebutkan adanya integrasi antara sistem kesehatan haji dengan sistem pelayanan umum. Integrasi ini akan memudahkan dan saling menguatkan optimalisasi pelayanan jamaah haji.

“Guna memastikan istitha’ah kesehatan jamaah haji, perlu melakukan pemeriksaan dan pembinaan kesehatan jamaah haji,” tegasnya.

 

HRAM