Yohanes Wahyu Kusnaryo Kembali pada Jalan yang Lurus

Sebelum mualaf, Yohanes sempat mengalami mimpi buruk yang menggelisahkan.

Hidayah merupakan karunia Allah SWT untuk siapapun yang dikehendaki-Nya. Dan, cahaya petunjuk Ilahi mungkin saja datang tidak hanya sekali. Dalam menjalani kehidupan di dunia fana ini, seorang insan memang memerlukan tuntunan menuju jalan yang lurus (shirat al-mustaqim).

Yohanes Wahyu Kusnaryo merasakan karunia tersebut. Kepada Republika, ia mengaku bersyukur karena Allah Ta’ala menghendakinya agar kembali kepada kebenaran. Sebab, dirinya sebelum itu selalu menganggap remeh perkara keimanan dan ketakwaan.

Wahyu, demikian sapaan akrabnya, bukanlah Muslim sejak lahir. Lelaki kelahiran Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tersebut dibesarkan dengan latar belakang Katolik. Barulah setelah beranjak dewasa, dua kalimat syahadat diucapkannya. Itu pun dipandangnya sebagai proses belaka untuk dapat menikah dengan seorang Muslimah.

Pernikahan itu berlangsung dengan didahului dinamika. Sebelum tanggal akad nikah ditentukan, Wahyu telah berdiskusi dengan perempuan yang akhirnya menjadi istrinya itu. Perbedaan keyakinan memang sempat menjadi persoalan dalam hubungan keduanya. Maka menjelang akad nikah, Wahyu meyakinkan wanita pujaan hatinya itu bahwa dirinya akan mengalah.

Karena istri tidak mau ikut agama saya, jadi saya yang menjadi Muslim. Hingga saat itu, saya merasa Islam saya sekadar KTP.

“Karena istri tidak mau ikut agama saya, jadi saya yang menjadi Muslim. Hingga saat itu, saya merasa Islam saya sekadar KTP (identitas) saja,” ujar pria yang kini berusia 34 tahun tersebut.

Ikrarnya untuk menjadi seorang Muslim diucapkan di Masjid Condro Kiranan pada 26 Juni 2011. Wahyu mengakui, saat itu keislamannya masih pada taraf permukaan. Dalam arti, dia belum sungguh-sungguh memahami apa hakikat dan konsekuensi dari iman dan Islam yang dipilihnya.

Apalagi, kenang Wahyu, pada waktu itu geliat keislaman agaknya belum seperti sekarang. Tidak begitu banyak lembaga atau takmir masjid yang memiliki fokus untuk penguatan iman kalangan mualaf. Ia sendiri tidak berminat kala itu untuk mencari ustaz atau guru yang dapat membimbingnya.

Maka, Wahyu menjalani rutinitas nyaris seperti dahulu masih non-Muslim. Memang, ia mengetahui adanya kewajiban, semisal shalat lima waktu, puasa Ramadhan, atau berzakat. Akan tetapi, semua ibadah wajib itu ditinggalkannya. Kalau ada yang dilaksanakan, itu pun seingatnya saja.

Malahan, kira-kira dua bulan sejak menikah, Wahyu terjerumus dalam dunia malam. Ia cenderung mudah tertarik pada lingkungan jahiliah, yakni gemar memuaskan hawa nafsu semata. Gaya hidupnya sangat jauh dari prinsip-prinsip Islami. Shalat ditinggalkannya. Minuman keras tak ragu ditenggaknya.

Puncaknya, Wahyu kemudian menjadi seorang pecandu narkoba. Pergaulan yang tidak baik mempengaruhinya sehingga gemar mengonsumsi barang haram tersebut. Kalau sedang sakau, ia sering tergeletak tak berdaya di dalam rumahnya. Keadaan itu membuat orang-orang di sekitarnya merasa miris.

Pada suatu siang, Wahyu merasakan pusing yang teramat sangat sesudah memakai narkoba. Ia pun tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi sedang berada dalam satu ruangan yang terbakar.

“Biasanya jika bermimpi, tidak akan terasa apa pun di badan kita. Tetapi ini aneh, saat di ruangan yang terbakar, saya terasa panas dan sakit sekali, dari ujung kaki hingga kepala. Seketika saya terbangun dan mengucapkan istighfar,” tutur dia.

Wahyu mengenang, istighfar adalah lafal yang saat itu seumur-umur jarang diucapkannya. Maka, spontanitasnya dalam beristighfar membuatnya tertegun. Setelah mencuci muka, dirinya kembali duduk dalam kesunyian.

Yang tergambar dalam benaknya hanyalah kematian. Sebagai orang beriman, dia pun meyakini adanya kehidupan sesudah mati, serta surga dan neraka. Bayangan tentang ruangan yang terbakar dalam mimpinya barusan otomatis mengantarkan imajinasinya ke perkara siksa neraka. Ketakutan menghantuinya.

Bagaimanapun, dalam kondisi demikian pikiran dan jiwanya kembali tenang. Sebab, suara azan terdengar dari arah masjid di dekat rumah. Lafaz Allah yang diucapkan sang muazin membuatnya tersadar.

Maka, berulang kali Wahyu menggumamkan istighfar. Sesudah itu, lisannya mengucapkan asma Allah berulang kali. Ibadah zikir ini baru kali itu dilakukannya dengan kesungguhan hati.

Sejak saat itu, Wahyu berkomitmen untuk meninggalkan segala maksiat yang telah dilakukannya termasuk obat-obatan terlarang. Wahyu mulai belajar shalat, rajin ke masjid ketika azan sudah berkumandang.

Wahyu kembali ke titik nol. Dia mempelajari shalat dari teman di shaf depan. Dimulai dengan menghafal gerakan-gerakan dan bacaan shalat.

Wahyu bersyukur, proses hijrahnya ini dipermudah oleh Allah SWT. Di masjid, dia bertemu banyak orang-orang baik.

Hingga satu hari dipertemukan dengan mualaf center Yogyakarta dan diajak untuk ikut menjadi relawan. Dia ikut membantu menangani mualaf yang butuh bantuan sepertu konflik dengan keluarga non-Muslim hingga konflik proses pemakaman mualaf.

Setelah satu tahun hijrah, Allah memberikan rezeki. Wahyu mendapat hadiah umrah dari hamba Allah yang dermawan. Akhir 2018, dia berangkat ke Jakarta karena travel umrahnya berada di kota tersebut.

Dia pun bertemu dengan komunitas garasi hijrah yang memiliki program hapus tato. Karena mereka tahu, Wahyu memiliki tato dan akan berangkat umrah maka mereka memberikan layanan hapus tato secara cuma-cuma.

Takdir Allah berkata lain. Ternyata, perusahaan biro perjalanan umrah yang akan melayaninya bermasalah. Alhasil, ia pun batal berangkat umrah. Karena tak ada pilihan lain, dia lantas kembali ke Yogyakarta.

Komunitas Garasi Hijrah mendengar kabar tersebut. Para sahabatnya di sana kembali mencarikan donatur agar Wahyu bisa berangkat ke Tanah Suci. Upaya ini kemudian mewujud kenyataan.

Allah merestuinya untuk menjadi tamu-Nya di Baitullah. Dua bulan sejak kegagalannya pergi ke Tanah Suci, yakni pada Februari 2019, Wahyu akhirnya berangkat umrah.

Hingga saat itu, dia tidak 100 persen gembira. Ia dihantui “mitos” bahwa Tanah Suci menjadi tempat pembalasan dosa-dosa yang dilakukan seorang Muslim.

“Sempat ketakutan mendengar cerita sebelumnya bahwa di Tanah Suci kita merasakan balasan dari perbuatan. Karena, saat kita berbuat dosa, maka sesampainya di Tanah Suci akan dibalas. Apalagi saya waktu itu merasa banyak melakukan dosa,” kenangnya.

Wahyu bersyukur, ketakutan dan kegelisahannya itu ternyata tidak terjadi. Bahkan, Allah menunjukkan kuasa-Nya. Mualaf tersebut mendapatkan rizki yang tak terduga sejak sebelum keberangkatan.

Ketika di Bandar Udara Soekarno-Hatta, ada seorang hamba Allah yang tidak dikenal memberinya uang dengan mata uang riyal yang jumlahnya sangat banyak. Ketika Wahyu belanjakan di Saudi pun tidak habis dan sampai di Indonesia sisa uang tersebut masih sangat banyak.

Hanya saja, ada beberapa orang Arab yang marah kepada saya karena tato yang belum hilang seluruhnya. Dia menghina Wahyu dan mengharamkan tindakan Wahyu dengan mentato tubuhnya.

Wahyu hanya tersenyum menanggapi hinaan itu, tapi dia tak berhenti menghinanya. Baru setelah pembimbing umrah yang mengerti bahasa Arab menjelaskan bahwa dia baru saja hijrah, orang tersebut meminta maaf dan berdoa untuknya.

Umrah kali itu diniatkan Wahyu untuk memanjatkan doa segala keinginanya. Salah satunya adalah agar keluarganya bisa mengikuti jejaknya untuk mualaf dan hijrah.

Karena ibunya telah meninggal dunia satu tahun setelah Wahyu bersyahadat, kini harapannya ada pada sang ayah. Wahyu berharap ayahnya dapat membuka hatinya untuk Islam.

Sepulang umrah, Wahyu memutuskan untuk pindah rumah dari Kota Yogyakarta ke Bantul. Ayahnya pun mengikutinya karena Wahyu merupakan anak tunggal.

Ayahnya perlahan tertarik dengan Islam karena melihat perubahan perilaku Wahyu yang semakin baik. Dahulu menjadi anak nakal kini berubah menjadi anak yang saleh.

Ayahnya kemudian membuka hati dan mengucapkan syahadat tepat 8 Januari 2020. Belum genap dua bulan menjadi Muslim, Allah memanggilnya Maret 2020.

“Mungkin bapak tertarik Islam karena melihat perilaku saya yang menjadi lebih baik,” jelas dia.

Tak hanya ayahnya, temannya yang mendengar Wahyu kini telah berubah mulai tertarik dan bertanya-tanya. Awalnya teman ini masih berdebat dan membela agama sebelumnya.

Bahkan dia yang juga menjadi teman nakal selama 15 tahun mengajak Wahyu kembali ke dunia hitam ternyata tak berhasil. Malah terlihat Wahyu semakin khusyuk beribadah. Tak lama temannya ini meminta untuk dibimbing bersyahadat.

Sembari berdakwah, Wahyu juga masih perlahan belajar mengaji. Dia bertemu dengan hamba Allah keturunan Arab dan mengetahui dia mualaf. “Saat itu saya ditunjuk menjadi imam. Karena khawatir, saya kemudian bercerita jika saya mualaf dan tidak lancar membaca Alquran,” jelas dia.

Sejak saat itu, pengusaha keturunan Arab tersebut mengajaknya untuk belajar mengaji di rumah. Sebelum lockdown, dia mengundang ustaz dan membiayai ustaz tersebut untuk mengajarkan Wahyu mengaji.

Wahyu mengaji empat kali dalam sepekan. Namun karena pandemi Covid-19, mengaji tatap muka pun dihentikan. Saat ini Wahyu sudah bisa membaca Alquran meskipun belum terlalu lancar.

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

REPUBLIKA.id

Cara Rasulullah Memperlakukan Non Muslim Ketika Terjadi Perang

Hubungan muslim dan non muslim era Rasulullh merupakan hubungan damai. Bukan hubungan permusuhan dan peperangan. Dalam pelbagai hal Rasulullah melarang menyakiti non muslim. Nabi juga melarang merusak rumah ibadah non muslim. Nabi berkesimpulan, barang siapa berdamai, maka ia tidak boleh diserang atau diperangi, baik itu dari kalangan ahli kitab ataupun kaum pagan (musyrik)

Ada pun peperangan yang terjadi antara Islam dan non muslim bukan karena agama. Tidak pula sebab perbedaan doktrin teologis. Ibnu Taymiyah dalam Risalah Qital, menyebutkan alasan utama perang yang terjadi pada masa Nabi, karena adanya serangan dan permusuhan dari orang-orang non muslim. Atau sebab pengkhianatan perjanjian.

Ishom Talimah dalam buku Manhaj Fikih Yusuf al Qardhawi menulis kisah klasik yang apik. Suatu saat Rasulullah pernah melintasi suatu daerah perang. Saat itu Nabi melihat seorang perempuan yang terbunuh. Menengok pemandangan itu nabi lantas berujar,” Tidak seharusnya wanita ini diperangi dan dibunuh,”. Penjelasan Rasulullah itu mengambarkan bahwa kaum wanita non muslim tak boleh diperangi dan dibunuh.

Pada sisi lain, Nabi juga tidak pernah memaksakan non muslim dan kaum musyrik, untuk memeluk agama Islam. Dalam perang Badar, Rasulullah pernah menawan sekelompok orang musyrik yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Mereka ini jadi tawanan perang kaum muslimin. Meski begitu, Nabi tak memaksakan mereka untuk memeluk agama Islam.

Contoh nyata Nabi praktikkan ketika menawan seorang penganut pagan, Tsumamah bin Utsal. Ia kepala golongan musyrik suku Bani Hanifah. Ia penguasa besar yang berasal dari al-Yamamah. Dosanya terhadap Islam sangat besar. Tsumamah adalah orang yang dengan bengis membunuh beberapa orang sahabat Nabi. Ia juga beberapa kali berkonspirasi ingin membunuh Nabi Muhammad.

Suatu saat Tsumamah hendak melaksanakan perjalanan religi, mengunjungi Mekah. Ia ingin menyembah pelbagai berhala  yang ada di Kabah. Sial dalam perjalanan ia ditangkap para sahabat yang sedang patroli. Ia disangka ingin menyusup ke daerah Kaum Muslimin.

Awalnya mereka tak mengenal Tsumamah. Ia dibawa masuk ke Madinah. Ia lantas diikat di sana. Tsumamah jadi tawanan Kaum muslimin. Nabi yang ingin melaksanakan shalat ke masjid, memperhatikan di antara para tawanan. Ia terkejut ada Tsumamah, “Apakah kalian tak mengenal siapa tawanan ini,” tanya Nabi pada para sahabat. “Tidak wahai Rasulullah,” balas para sahabat.

Kemudian nabi menjelaskan bahwa tawanan itu adalah Tsumamah bin bin Utsal penguasa dari Yamamah. Nabi menyuruh para sahabat memperlakukannnya dengan baik. Meskipun dosa Tsumamah sudah terlampau banyak bagi Islam, Nabi tetap memerintahkan untuk berbuat kebaikan pada Tsumamah; tak boleh disakiti. Tak boleh pula dipaksa untuk memeluk Islam. Tidak dibenarkan pula untuk dibunuh.

Sementara itu terkait orang Krsiten, Ishom Talimah mengatakan Rasulullah tak pernah sekalipun memerangi orang Kristen. Nabi terlebih dahulu mengirim utusan sebagai diplomat untuk menjalin kerjasama dan perjanjian denga mereka. Dalam perjanjian Hudaibiyah misalnya, Nabi terlebih dahulu mengutus para sahabat agar menghindari peran.

Rasulullah juga mengutus utusan pada Kaisar Romawi dan Kisra Persia. Nabi juga mengutus diplomat pada Muqaiqis dan Najasyi. Pun melakukan hal yang sama pada raja Arab di Timur dan di negeri Syam. Sayangnya, ada sekelompok orang Kristen di daerah Syam yang terlebih dahulu membunuh orang Islam. Targetnya adalah orang-orang yang baru masuk Islam.

Mendapat info itu, baru Rasulullah mengutus pasukan perang di bawah Komando Zaid bin Haritsah , kemudian Ja’far bin Abi Thalib, dan juga Abdullah bin Rawahah. Perang ini pertama kali terjadi antara Islam dan Kristen Mu’tah di wilayah Syam. Ketiga orang komando perang Islam gugur dalam perang ini. Kemudian komandan perang dilanjutkan oleh Khalid  bin Walid.

Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah mengatakan pada dasarnya hubungan Islam dan Kristen adalah hubungan damai. Tak ada permusuhan. Hal itu bisa terlihat dalam surat Nabi kepada Raja Cyprus, yang beragama Kristen. Nabi menulis surat;

“Kami adalah kaum yang cinta kebaikan bagi setipa orang. dan kami senang jika Allah menghimpun kebaikan dunia dan akhirat untuk kalian, dan sebaik-baik ibadah seorang hamba kepada Allah adalah memberi nasihat pada makhluknya,”

Begitulah Nabi dalam memperlakukan non muslim dalam pergaulan sehari-hari, dalam perang, dan ketika mereka jadi tawanan. Tidak ada rasa benci. Tidak ada rasa permusuhan. Bagi Nabi mereka adalah sahabat. Dan tak jarang, Nabi mengajak non muslim bekerjasama dalam hubungan sosial, politik, dan ekonomi.

BINCANG SYARIAH

Tiga Kunci Sukses Belajar Fikih

Belajar fikih itu memiliki beberapa sisi yang masing-masingnya memiliki tuntunannya sendiri.

Pertama

Dari sisi niat, maka kita diwajibkan untuk mengikhlaskan amalan ibadah kita hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak diragukan lagi, belajar fikih adalah ibadah, sehingga wajib bagi kita untuk senantiasa meluruskan dan memurnikan niat ketika belajar.

Kedua

Dari sisi cara belajar, maka tidak wajib bagi kita untuk belajar fikih dengan mazhab. Apalagi jika kita adalah orang awam, yang bisa jadi fokus utama kita hanyalah bagaimana cara beribadah kepada Allah Ta’ala sesuai dengan tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tanpa ingin berdalam-dalam di ilmu fikih. Maka belajar fikih kepada ahli ilmu itu sudah mencukupi, tanpa harus bermazhab. Akan tetapi, dia harus ingat bahwa dia adalah orang awam, sementara ilmu fikih itu adalah samudra yang sangat luas. Tidak boleh baginya untuk mengatakan bahwa kebenaran itu terletak pada pendapat gurunya seluruhnya.

Adapun jika kita adalah penuntut ilmu yang ingin menguasai ilmu fikih bi-idznillah, maka sangat direkomendasikan untuk belajar fikih dengan mazhab. Karena literatur fikih di mazhab itu sudah lengkap, dari kitab ulama’ kontemporer yang biasanya untuk pemula, hingga kitab ulama’ terdahulu yang biasanya tidak akan bisa dipahami dengan baik kecuali oleh orang yang telah mendapatkan training yang bagus dalam ilmu fikih. Kalau belajar fikihnya tidak terstruktur, maka pasti akan babak belur ketika membaca kitab-kitab mutaqaddimin.

Akan tetapi, seorang penuntut ilmu yang bermazhab itu tidak boleh fanatik dengan mazhabnya. Tidak boleh baginya untuk mengatakan bahwa kebenaran itu terletak pada pendapat mazhabnya seluruhnya. Jadikan diskusi ilmiah memang sebagai diskusi ilmiah, bukan untuk menjatuhkan mazhab lain atau merasa mazhabnya dijatuhkan.

Ketiga

Dari sisi guru, maka wajib bagi kita untuk berguru pada seorang yang mutqin ilmunya dan lurus akidahnya. Misalnya, jika kita belajar mazhab Syafi’iy, maka belajarlah dari ulama’ mazhab Syafi’iy yang akidahnya lurus. Jika kita belajar mazhab Hanbaliy, maka belajarlah dari ulama’ mazhab Hanbaliy yang akidahnya lurus. Demikian pula untuk mazhab-mazhab yang lain.

Perlu diperhatikan bahwa dalam masalah akidah, maka seorang Hanafiy, Malikiy, Syafi’iy, ataupun Hanbaliy, semuanya seharusnya berada di atas aqidah yang sama, yaitu aqidah ahlussunnah sesuai dengan pemahaman salaf yakni generasi terdahulu.

Itu mengapa tidak tepat jika seorang pelajar itu menjadi zuhud yakni menjauh dari kitab-kitab akidah shahihah yang ditulis oleh para ulama’ yang bermazhab lain dari mazhabnya. Misalnya, walaupun kita bermazhab Syafi’iy, maka jangan zuhud (merasa tidak butuh) dari kitab-kitab Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad ibn ‘Abdil Wahhab rahimahumullah, dan lain-lain, walaupun mereka bermazhab Hanbaliy. Demikian pula, walaupun kita bermazhab Hanbaliy, maka jangan zuhud dari kitab-kitab al-Muzaniy, al-Lalika’iy, al-‘Imraniy rahimahumullah, dan lain-lain, walaupun mereka bermazhab Syafi’iy. Dan demikian juga para ulama’ lainnya di mazhab-mazhab lainnya, rahimahumullahu ajma’in.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita kefaqihan dalam agama-Nya ini dan memudahkan kita untuk mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari. Aamiin Yaa Rabb.

***

Penulis: Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.

Sumber: https://muslim.or.id/67051-tiga-kunci-sukses-belajar-fikih.html

Stunning atau Pemingsanan Hewan Sebelum Disembelih, Halahkah Dagingnya?

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah, pada bulan ini seluruh umat muslim akan merayakan hari raya Idul Adha atau dikenal juga dengan hari raya kurban. Saat berkurban, bolehkah kita melakukan pemingsanan hewan sebelum disembelih? Halalkah daging hewan yang disembelih dengan cara pemingsanan terlebih dahulu?

Proses kurban dapat dipermudah dengan cara memingsankan atau melumpuhkan hewan yang hendak disembelih atau biasa disebut dengan stunning. Agama Islam sebenarnya telah menentukan rukun-rukun dan syarat-syarat dalam proses penyembelihan hewan. Berikut ini adalah uraiannya:

Rukun penyembelihan ada empat:

Pertama, pemyembelih. Syarat bagi orang yang menyebelih haruslah beragama Islam atau Ahli Kitab hakiki sebagaimana yang disebutkan oleh ulama-ulama al-Syafi‘iyyah. Orang Majusi (penyembah api), penyembah berhala, orang murtad, dan sebagainya, daging semebelihan mereka tidak halal sebagaimana pendapat Imam al-Nawawi dalam Al-Majmu’ (juz 9, halaman 84)

Kedua, binatang yang disembelih. Syarat hewan yang disembelih ialah berupa binatang darat yang halal dimakan dan diduga masih memiliki hayah mustaqirrah, yakni tetapnya nyawa pada hewan, yang mana jika dibiarkan ia akan sadar dan tetap hidup. kecuali binatang yang sakit sebagaimana Syekh Abu Bakar Muhammad Syatho ad-Dimyathi menyebutkannya dalam I’anah Al-Thalibin (juz 2, halaman 346)

Ketiga, alat untuk menyembelih. Alat untuk menyembelih ialah benda apapun yang tajam, selain kuku, gigi dan semua jenis tulang. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَا أَنْهَرَ الدَّمَّ وذُكِرَ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ فَكُلْ، لَيْسَ السِّنَّ وَالظُّفُرَ، وَسَأُخْبِرُكُمْ عَنْهُ، أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ وَأَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ (رواه البخارى)

“Apapun yang dapat mengalirkan darah serta disebutkan nama Allah padanya (saat menyembelih), maka makanlah, kecuali gigi dan kuku, dan aku akan kabarkan kepadamu hal itu, (karena) gigi adalah tulang dan kuku adalah pisau orang Habsyah.” (HR. Bukhari)

Keempat, proses penyembelihan. Dalam prosesnya, penyembelih harus memotong seluruh saluran pernafasan dan saluran pencernaan. Kemudian disertai dengan niat menyembelih dan juga binatang  yang disembelih harus mati semata-mata disebabkan oleh penyembelihan, sebagaimana menurut Imam al-Nawawi dalam Al-Majmu (juz 9, halaman 99-100).

Melihat pemaparan di atas, melumpuhkan atau memingsankan hewan sebelum proses penyembelihan, dengan cara dibius dan sebagainya adalah diperbolehkan dan dagingnya halal. Bahkan bisa jadi cara ini dianjurkan, sebab lebih meringankan kepada hewan itu sendiri. Rasullah SAW bersabda:

إن الله كتب الإحسان على كل شيءٍ، فإذا قتلتم فأحسنوا القِتْلة، وإذا ذبحتم فأحسنوا الذِّبْحة، ولْيُحِدَّ أحدُكم شفرته، ولْيُرِحْ ذبيحته))؛ رواه مسلم.

Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik  dalam segala hal. Jika kalian membunuh (dalam qishah) maka lakuakanlah dengan baik, dan jika kalian menyembelih maka lakukanlah dengan baik, dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan parangnya dan permudahlah dalam penyembelihan. (Sahih Muslim, Juz 6, Halaman 72)

Syekh Wahbah al Zuhaili dalam kitabnya al Fiqhu al Islam wa Adillatuhu menyebutkan bahwa tidak ada larangan untuk memperlemah gerakan hewan yang hendak disembelih senyampang tidak ada usur penyiksaan dan dagingnya halal untuk dikonsumsi. (Ibnu Musthafa Wahbah al-Zuhaily, al-Fiqhu al-Islami wa Adillatuhu, Juz 4, Halaman 800).

Selanjutnya, MUI (Majelis Ulama Indonesia) juga menyebutkan, stunning atau pemingsanan diperbolehkan dengan beberapa ketentuan:

Pertama, stunning hanya menyebabkan hewan pingsan atau lemah sementara  dan tidak menyebabkan kematian.

Kedua, penyembelihan pada hewan yang dipingsankan tetap menggunakan prinsip memotong khulqum (tenggorokan), mari’  (kerongkongan).

ketiga, pemingsanan bertujuan untuk mempermudah penyembelihan, bukan bertujuan menyiksa– dengan segera melakukan penyembelihan. (Fatwa Majlis Ulama Indonesia Nomor 12 Tahun 2009).

Wallahu A’lam.

BINCANG SYARIAH

Jangan Kaget! Inilah Kebiasaan Nabi Muhammad Saat Malam Hari

Tak ada manusia yang dalam dirinya tersimpan kesempurnaan kecuali ada pada diri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tak hanya teladan dalam memimpin umat manusia, tetapi juga contoh terbaik dalam beribadah kepada Allah.

Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengungkap kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat malam hari. Meskipun Baginda Nabi adalah orang yang ma’shum (terpelihara dari dosa) dan menjadi pemegang kunci surga, tetapi beliau tidak lalai dari beribadah kepada Allah.

Kedekatan Sayyidah ‘Aisyah dengan Rasulullah SAW tentu memberikan banyak pengalaman dan ilmu berharga, tak terkecuali terkait dengan kebiasaan dan sunah Rasulullah SAW.

Apakah kebiasaan Rasulullah saat malam hari? Dalam Kitab Qishasul Anbiya dan Fadhilah Sholat Malam dijelaskan, suatu hari, Sayyidah Aisyah ditemui ‘Amr bin ‘Ubaid dan ‘Atha. Keduanya berkata kepada Aisyah, “Beritahukanlah kepada kami sesuatu yang paling mengesankan yang pernah engkau lihat pada Nabi Muhammad?”

Sayyidah ‘Aisyah berkata, “Adakah sesuatu yang tidak mengesankan pada diri beliau? Baiklah, ada satu hal yang paling mengesankanku. Pada suatu malam, beliau mendekat kepadaku.

Lalu beliau berdiri dan berkata: “Hai Aisyah, biarkanlah aku beribadah kepada Tuhanku.” Aku berkata, “Ya Rasulullah, demi Allah aku ingin dekat denganmu, tetapi aku tidak bisa mencegah keinginanmu.”

“Beliau berdiri lalu sholat dan menangis hingga air matanya membasahi janggutnya. Kemudian beliau rukuk dan menangis hingga air matanya membasahi pangkuannya.”

Lalu, beliau bersujud dan menangis hingga air matanya membasahi tempat sujudnya. Setelah selesai aku berkata, ”Wahai Nabi, bukankah Allah telah mengampuni semua dosamu?”

Beliau menjawab: ”Hai Aisyah, apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (HR Al-Bukhari, Muslim, at-Tirmizi, al-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).

Itulah kebiasaan yang dilakukan Nabi dalam melewati malamnya. Dan kebiasaan ini diajarkan Rasulullah kepada putrinya, Sayyidah Fathimah radhiyallahu ‘anha. Salah satu kebiasaan Rasulullah adalah selalu mengetuk pintu rumah Fathimah dan Ali pada malam hari.

Kepada mereka, beliau selalu berkata, ”Bangunlah dan sholatlah!” Kebiasaan ini pun diikuti para sahabatnya. Mereka menyingsingkan lengan agar bisa bangun untuk sholat Tahajud sepanjang malam.

Namun, Rasulullah SAW berusaha untuk mengembalikan mereka pada perilaku yang seimbang sehingga mereka dapat melakukannya secara rutin penuh istiqomah, siang dan malam tetap bersemangat beribadah.

Mudah-mudahan kita diberi taufik dan hidayah sehingga bisa istiqomah menjalankan sunnah Baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Wallahu A’lam

KALAM SINDO

Kekuatan Sabar dan Ikhtiar Menghadapi Ujian Covid-19

Sabar dan ikhtiar merupakan kunci menghadapi pandemi Covid-19

Pada masa pandemi seperti saat ini, hampir seluruh warga dunia, termasuk di Indonesia diuji Allah SWT. Apalagi dengan kembali meningkatnya lagi kasus Covid-19 baru-baru ini.

Seringkali, banyak manusia yang merasa putus asa dalam mengahadapi ujian yang diberikan Allah. Padahal dalam surat Al Baqarah ayat ke-155, dijelaskan tentang makna ujian yang diberikan Allah yaitu sebagai berikut:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah 155).

“Permata tak bisa dipoles tanpa gesekan, dan manusia tak bisa sempurna tanpa ujian,” ujar anggota Komisi Dakwah dan Ukhuwah MUI, Ustadzah Hj Ruskha Nurur Ru’fah, sebagaimana dikutip dari Program Kata Ulama di TV MUI, Jumat (25/6).

Artinya, kata dia, ujian ini merupakan sebuah proses kita menuju kesempurnaan, layaknya gesekan yang dilakukan pada permata agar permata itu bisa menjadi permata yang indah. Sebab itu kita seharusnya bersyukur ketika diberikan ujian, apalagi Allah menjanjikan sesuatu yang setimpal bagi kita yang selalu bersabar dalame menghadapi ujian dari-Nya. 

“Cobaan atau ujian yang menimpa kita tentu sudah diatur  Allah SWT. Jika kita bersabar, Allah SWT akan melipatkan pahala dan membantu menyelesaikan semua cobaan dan ujian yang dihadapi oleh umatnya dengan cara berdoa, bersabar, berusaha, dan bertawakal,” ujar dia.

Dia mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa tidak ada seorang Muslim pun yang ditusuk duri atau lebih dari itu, kecuali Allah pasti akan menghilangkan kesalahan-kesalahannya. Sebagaimana pohon yang menggugurkan daunnya. (HR Bukhari).

“Jadi, kita tidak perlu takut ketika ditimpa ujian dan cobaan. Setidaknya kita tidak akan merugi, sebab Allah SWT akan mengganjar kesabaran serta ketabahan kita dalam mengahadapi cobaan ini dengan hal yang tidak akan pernah kita sangka-sangka,” kata dia.

Ustadzah Rushka mengatakan, jika ujian saat ini meliputi al-khauf, ketakutan akan tertular penyakit, ketakutan akan menurunnya ekonomi, ketakutan akan menghilangnya nyawa. Selain itu kita merasakan waj’u atau kelaparan, banyak dari kita kehilangan pekerjaan, dan kekurangan harta juga jiwa.

Menurut dia, ujian Allah ini tidak lain tanda kasih Allah dalam membentuk manusia yang tangguh dan muslim yang memiliki kualitas iman tinggi. Diakhir ayat tadi, Allah memberikan kabar gembira bagi mereka yang bersyukur (dalam menerima ujian).

“Masa pandemi yang tidak jelas kapan berakhirnya ini, menuntut kita agar senantiasa bersabar, bersabar, bersabar,” tutur Ustadzah Ruskha

Dia mengajak tanamkan dalam diri kita bahwa ujian bukanlah siksaan, bahwa ujian bukanlah azab dari Allah melainkan justru Allah sangat cinta kepada kita, Allah sangat mencintai hamba hamba-Nya yang beriman dan sabar dalam menghadapi ujian-Nya.

Sebagai Muslim yang beriman hendaklah kita senantiasa bersabar, dan meningkatkan kualitas keimanan kita, memperbanyak ibadah kepada Allah, dan memperbanyak muhasabah, memperbaiki diri, agar Allah segera mengangkat pandemi ini.

“Tetaplah menjaga kesehatan, tetaplah berbahagia, dan tetaplah meningkatkan iman dan takwa. Tentu saja untuk menghindarkan kita dari tertular Ccovid-19, mari kita terapkan protokol kesehatan dengan tetap memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak,” kata dia mengingatkan.

Sumber: mui.or.id

KHAZANAH REPUBLIKA

Stroke, Bekam Yuk!

Rusmanir (71), baru saja tiba di rumah usai menghadiri acara pengajian di Masjid Agung Palembang, Sumatera Selatan. Tapi Rusmanir tak menyangka, tak lama setelah tiba di rumah, tubuhnya terasa lemas. Tak hanya itu, tangan kanan dan bagian tubuh kanan lainnya kaku tak bisa digerakkan.

Sontak kejadian itu membuat anak Rusmanir kaget. Tanpa berpikir panjang, ia langsung membawa Rusmanir ke rumah sakit terdekat. Setelah diperiksa, dokter menyatakan Rusmanir terserang stroke. Syukurlah, penyakit yang dikenal berbahaya itu tak merenggut nyawanya saat itu. Semenjak itu, berbagai terapi dan pengobatan ia lakukan, termasuk bekam yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Bahkan tiap hari, menurut putra Rusmanir, ayahnya rajin olahraga jalan kaki sejauh 2 km. Kini, meski tak lagi gagah seperti dulu, sebagai penderita stroke, Rusmanir jauh lebih baik.

Rusmanir merupakan salah satu dari 500 ribu penduduk Indonesia yang diperkirakan menderita stroke. Dari jumlah tersebut, menurut Dokter Wadda A Umar, penulis buku kesehatan, sepertiganya bisa pulih kembali dan sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang. “Sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di kasur,” ujarnya.

Berdasarkan survei tahun 2004, stroke merupakan pembunuh nomor satu di rumah sakit pemerintah di seluruh penjuru Indonesia. Dan dahsyatnya, jumlah penderita stroke terus meningkat setiap tahunnya. Tidak hanya menyerang mereka yang berusia tua, tetapi juga orang-orang muda pada usia produktif. “Dahulu kala, stroke hanya menyerang orangtua yang berusia 50 tahun ke atas. Namun sekarang, usia 40 tahun sudah banyak yang terserang stroke. Padahal usia tersebut merupakan usia bekerja,” ujar Wadda.

Waspada Stroke!

Apa sih yang dimaksud dengan penyakit stroke? Mungkin masih banyak di antara kita yang belum tahu tentang penyakit nomor tiga yang mematikan setelah jantung dan kanker ini. Padahal penyakit ini biasanya berakhir dengan kematian atau cacat.

Menurut Wadda, penulis buku “Bebas Stroke dengan Bekam”, stroke adalah serangan pada otak yang timbul secara mendadak di mana terjadi gangguan fungsi otak sebagian atau menyeluruh sebagai akibat dari gangguan aliran darah yang disebabkan oleh sumbatan atau pecahnya pembuluh darah tertentu di otak. “Hal itu menyebabkan sel-sel otak kekurangan darah dan oksigen serta zat makanan. Akhirnya menimbulkan kematian sel-sel tersebut dalam waktu relatif singkat,” ujarnya. Maka wajar, kadangkala serangan stroke terjadi sangat cepat dan tiba-tiba.

Fungsi oksigen yang dibawa oleh darah bagi otak sangat vital. Wadda menjelaskan, kehilangan darah (termasuk oksigen di dalam darah) sekitar 7-10 detik saja sudah dapat menyebabkan kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki. Bila lebih lama dari 6-8 menit, bisa terjadi  luka yang tidak dapat dipulihkan, bahkan bisa berakhir dengan kematian.

Secara medis, stroke terbagi dua macam, yaitu stroke iskemik, yang disebabkan penyumbatan pembuluh darah dan stroke hemorragik, yang disebabkan pecahnya pembuluh darah.

Stroke iskemik, jelas Wadda, disebut juga stroke sumbatan. “Sekitar 80 persen, stroke jenis ini disebabkan oleh aterosklerosis atau menumpuk dan mengerasnya lemak yang mengandung kolesterol dalam pembuluh darah arteri yang menuju otak,” jelas dokter yang juga praktek di RS Muhammadiyah Paciran, Lamongan, Jawa Timur ini.

Sementara stroke hemorragik disebut juga stroke pendarahan. Pada stroke ini, kata Wadda, selalu terjadi pendarahan di dalam jaringan otak dan di ruang sub araknoid otak. “Biasanya sekitar 50 persen kasus stroke hemorragik berujung kematian,” ulasnya.

Berbekamlah

Tapi jangan khawatir, meski memang membahayakan masih ada celah untuk mencegah agar tidak terkena penyakit tersebut. Ada beberapa saran yang disampaikan dokter yang juga anggota Ikatan Bekam Medis Indonesia ini. Pertama, pencegahan primer dengan cara hidup sehat sejak dini, seperti pola makan yang sehat, olahraga rutin, tidak merokok; baik aktif maupun pasif, dan memperbanyak pengetahun tentang stroke.

Kedua, pengendalian faktor-faktor risiko stroke yang disebabkan oleh beberapa penyakit, seperti tekanan darah tinggi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung.

Ketiga, melakukan tes kesehatan (medical check up) secara rutin dan berkala, seperti pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, kadar gula darah, menimbang berat badan, jika perlu pemeriksaan jantung dengan EKG. Yang juga tidak kalah penting, keempat, kembali ke pola kehidupan Nabi; ibadah sehari-hari, mengelola makanan, mengikuti pola hidup sehari-hari, dan melakukan bekam.

Bekam, terang Wadda, sangat bisa digunakan untuk mengobati pasien stroke. “Terutama untuk mengembalikan agar bagian-bagian tubuh yang lemah atau lumpuh bisa membaik kembali,” jelas dokter yang juga anggota Asosiasi Bekam Indonesia ini.  Lebih lanjut ia menjelaskan, bekam (hijamah) pada penderita stroke berfungsi memperbaiki organ hati, ginjal, kandung empedu, dan kandung kemih. “Bekam juga memperbaiki meridian pada organ tersebut. Serta dapat memperbaiki fungsi motorik dan sensorik,” ulasnya.

Menurut Wadda, dalam pengobatan tradisional, pasien stroke mengalami kekurangan qi di meridian hati dan terlalu banyak qi di meridian kandung empedu, juga adanya kelemahan ginjal. Maka perlu dilakukan perawatan dan pengobatan di meridian hati dan ginjal. “Organ hati bertanggung jawab atas bekerjanya tendon dan syaraf dan mengatur gerakan tangan dan kaki. Selain itu, hati berfungsi untuk menjaga aliran darah ke seluruh tubuh, hati berhubungan luar dalam dengan kandungan empedu, sehingga bila ada gangguan di hati, maka akan terjadi juga gangguan di kandung empedu,” ungkap Wadda.

Sementara organ ginjal, masih kata Wadda, mengurusi bagian kaki dan tangan, sehingga bila ginjal lemah, terjadi pula kelemahan pada kaki dan tangan. Ginjal juga berhubungan luar dalam dengan kandung kemih. “Kelainan di kandung kemih ditandai dengan tidak bisa mengontrol kencing dan beraknya, sehingga mudah mengompol,” katanya.

Ada beberapa titik yang umumnya disasar oleh para pembekam untuk penderita stroke, antara lain: ummu mughits (puncak kepala atau ubun-ubun), akhda’aini (leher kiri dan kanan dari urat leher), qowahduwah (tulang kepala bagian belakang), kahil (tonjolan leher belakang), yafukh (di tengah-tengah kepala), hundread meetings (kepala agak belakang), titik hati, dan titik ginjal.

Namun, untuk mendapatkan terapi yang maksimal, ada baiknya Anda menghubungi terapis bekam yang berpengalaman.

HIDAYATULLAH

MUI Kembali Ajak Umat Islam di Zona Merah Covid-19 untuk Shalat di Rumah

 Meningkatnya angka kasus positif Covid-19 Indonesia mendorong MUI kembali mengajak umat Islam untuk tidak berkumpul. Salah satunya dengan mengganti shalat Jumat dengan shalat Dhuhur di rumah untuk wilayah yang ditetapkan sebagai zona merah.

Ajakan ini disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Anwar Abbas. Selain juga sejalan dengan kebijakan pemerintah di beberapa daerah zona merah Covid-19, seruan ini juga sejalan dengan fatwa-fatwa MUI terkait Covid-19 sebelumnya.

Dilansir situs mui.or.id, ia juga mengajak shalat berjamaah di masjid atau mushala sementara waktu tidak diselenggarakan.

“Berdasarkan fatwa-fatwa yang dikeluarkan, MUI meminta masyarakat tidak melaksanakan shalat Jumat dan shalat berjamaah di daerah terkategori zona merah, ” ajaknya pada Jumat (25/06/2021).

Belakangan ini beberapa daerah mulai ditetapkan sebagai zona merah, karena penyebaran Covid-19 yang masih dan tidak terkendali. Melonjaknya peningkatan pasien Covid-19 menyebabkan rumah sakit pemerintah mulai kewalahan.

Ia menjelaskan bahwa ajakan untuk sementara waktu tidak melaksanakan shalat berjamaah di luar rumah sejalan dengan Al-Quran dan Hadits. Di mana Islam juga mewajibkan umatnya untuk menjaga diri dan orang lain dari tindakan yang membinasakan.

“Umat Islam tidak boleh melangsungkan kegiatan yang mencelakai diri sendiri dan orang lain. Saat ini banyak sekali orang yang statusnya tanpa gejala (OTG), secara fisik sehat, namun di dalam dirinya terpapar Covid-19. Akan sangat berbahaya apabila ada yang berkontak dengan OTG karena memungkinkan terpapar,” lanjutnya.

Dia pun mendukung kebijakan beberapa pimpinan daerah yang melarang berlangsungnya shalat Jumat dan menggantinya shalat Dhuhur karena penyebaran Covid-19 tak terkendali. Kepada zona-zona di bawah zona merah, karena kondisi Covid-19 sedang naik lagi, dia meminta agar protokol kesehatan dijalankan secara ketat. Dengan begitu, maka kapasitas masjid harus lebih dibatasi.*

HIDAYATULLAH