Allah dan Para Malaikat-Nya Bershalawat pada Orang Bersahur

JAKARTA — Nabi Muhammad SAW menganjurkan kepada kaumnya untuk bersahur sebagai pembeda dari puasanya Ahli Kitab terdahulu. Selain itu, ada keberkahan dalam ibadah sunnah makan sahur.

Seperti diriwayatkan Abu Sa’id Al Khudari Ra dari kitab Shahih Al Jami’ Ash Shaghir, Rasulullah SAW bersabad: ‘’Makan Sahur seluruhnya berkah, janganlah kalian meninggalkannya meskipun hanya minum seteguk air. Karena, Allah dan para malaikat-Nya bershalawat pada orang-orang yang bersahur.’’

Dalam riwayat lain seperti diriwayatkan Abu Hurairah Ra, Nabi Muhammas SAW pernah berkata,’’Sesungguhnya Allah menjadikan keberkahan dalam sahur dan literan.’’

Sementara Sulaiman Ra, seperti dimuat dalam kitab ‘Shahih At Targhib wat Tarhib, meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,’’Keberkahan terdapat dalam tiga yakni dalam kebersamaan (jamaah), makan roti campur sop, dan dalam makan sahur.’’ (Sumber: Berpuasa seperti Rasulullah terbitan Gema Insani)

Murad, Anak Rimba Muslim yang Menginspirasi

Meski berlatarbelakang sebagai keturunan Suku Anak Dalam, Murad menunjukkan prestasi menjadi bintang kelas sejak kelas I SD hingga saat ini.

Dream – Murad terlahir dari orangtua Suku Anak Dalam penghuni hutan kawasan Bukit 12, Jambi. Ayahnya, Jelitay, merupakan Tumenggung Orang Rimba di Kejasung Besar. Posisinya sangat disegani di kalangan Orang Rimba.

Tetapi, Tumenggung mengambil jalan lain. Dia memilih masuk dan menetap di desa, berbaur dengan masyarakat dan memeluk Islam bersama istri dan keempat anaknya, Dedi, Nganing, Murad, dan Laru.

Kisah ini bermula di tahun 2009. Kala itu, Murad dan ketiga saudaranya masuk Islam dan dikhitan di bawah bimbingan ulama Desa Rawa Mekar, Kecamatan Marosebo Ulu, Kabupaten Batang Hari, Jambi, Qohari. Tumenggung kemudian menitipkan Murad kepada ulama tersebut.

Saat itu, Tumenggung dan istrinya belum begitu yakin masuk Islam. Setelah menitipkan anak-anaknya, Tumenggung kembali ke hutan untuk memenuhi hajat hidup dengan bertani dan meramu sesuai tradisi Suku Anak Dalam.

Murad ditinggal selama satu tahun dan Tumenggung memberikan tanggung jawab kepada Dedi sebagai anak tertua untuk mengawasi adik-adiknya, terutama Murad. Tumenggung akan kembali setahun kemudian untuk melihat perkembangan anak-anaknya.

Setahun kemudian, Tumenggung terkagum-kagum dengan perkembangan Murad. Anak itu mampu bersaing dengan anak-anak lain yang bukan berasal dari Suku Anak Dalam. Tetapi, Murad tetap rendah hati dan tidak mudah putus asa serta punya semangat belajar tinggi.

Melihat hal itu, Tumenggung kemudian disarankan oleh Qohari untuk menyekolahkan Murad di sekolah formal.

Rugi, Gung, kalau pendidikan anak-anak tidak dilanjutkan. Semuonyo balik pado Tumenggung, yang penting ngaji jangan dilupo (Semuanya kembali pada Tumenggung, yang penting mengaji jangan dilupakan),” ucap Tumenggung mengingat pesan Qohari.

Tumenggung akhirnya mengikuti saran tersebut. Dia memasukkan Murad ke Sekolah Dasar Negeri 195 Idi Rawa Mekar. Tumenggung pun harus rela menunggu perkembangan anaknya setahun lagi. Dia harus kembali ke hutan.

Setahun kemudian,Tumenggung kembali dan melihat Murad mampu meraih juara umum di kelasnya. Menyadari hal itu, Tumenggung kemudian berembug dengan istrinya untuk mantap memeluk Islam dan tinggal di desa.

“Jika tidak satu iman dengan anak bagaimana nanti kita mati? Mereka tidak bisa mbantu, pemakan dan peminum kita beda,” kata Tumenggung.

Menurut dia, keraguan yang dialaminya berdasar pada banyaknya Orang Rimba yang memeluk Islam ketika masing lajang. Tetapi ketika menikah mereka kembali ke tradisi turun temurun itu.

“Menjadi Islam bukan pekaro (perkara) mudah, harus betul-betul yakin dari hati dulu. Bukan cuma makan dan minum bae yang harus diubah, perilaku jugo, yang harus di-Islamkan terlebih dulu adolah hati, baru badan diri,” kata dia.

Sang istri pun tidak mudah menerima pendapat Tumenggung. Tetapi, Tumenggung tidak menyerah dan terus mengawasi perkembangan anak-anaknya.

Dia bahkan rela berjalan kaki satu hari dari Kejasung menuju Desa Rawa Mekar, tempat Murad tinggal. Rasa lelah dan perjuangan keras terobati ketika dia mengetahui Murad kembali menjadi juara kelas ketika naik ke kelas II, dan adiknya, Laru, berhasil mendapat penghargaan di Madrasah.

Prestasi anak-anaknya membuat Tumenggung dan istrinya mantap memeluk Islam. “Alhamdulilah, sejak tahun 2010 sampai dengan kini, sayo, bini dan anak-anak meluk Islam dan tinggal di desa, dak teraso tahun iko Murad sudah naik kelas limo, dan dapat juara umum lagi.Alhamdulilah, dari kelas satu sampai kini dio juaro terus,” kata Tumenggung.

Harapan Tumenggung pada anaknya, Murad dan Laru tidaklah besar. Dia hanya ingin anak-anaknya menjadi ujung tombak perubahan masyarakat dalam segi pendidikan dan agama.

Bagi Tumenggung, menjadi Muslim, hidup menetap, dan berpendidikan bukan berarti merusak tradisi leluhur. Sebaliknya, pilihan itu merupakan jalan baginya untuk menguatkan masyarakat, menyempurnakan kebutuhan lahir batin baik bagi diri sendiri, masyarakat dan lingkungan.

(Artikel ini merupakan kiriman sahabat Dream, Willy Azan)

 

sumber:Dream.co.id

Tujuh Kelebihan dari Bersabar

Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

Negeri ini kembali berduka. Wasior diterjang banjir bandang. Mentawai disapu tsunami. Gunung Merapi memuntahkan kandungannya. Korban nyawa dan harta pun tak terhindarkan. Kita pun kembali menyadari betapa sangat lemah dan tak berdayanya diri ini di hadapan Sang Penguasa Kehidupan.

Saudaraku, tidaklah suatu kejadian dialami manusia, kecuali semuanya sudah ditentukan Sang Maha Menakdirkan (QS al-Hadid [57]: 22). Sungguh, takdir Allah adalah takdir Allah. Kita tidak mungkin bisa menolaknya. Hanya kita memohon kepada-Nya, semoga diberi kekuatan dan kecerdasan dalam menyibak hikmah di balik bahasa takdir-Nya.

Semoga kita termasuk golongan hamba-Nya yang bersabar dengan semua takdir-Nya. Bersabar dengan semua keadaan dan berbagai deret peristiwa mahapahit lainnya. Ketahuilah, inilah yang akan didapat oleh hamba-Nya yang mau bersabar.

Pertama, mendapatkan pahala surga dari Allah (baca: QS ar-Ra’d, [13]: 23 – 24). Anas bin Malik RA mendengar Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian dia bersabar, maka aku gantikan surga baginya’.” (HR Bukhari).

Kedua, sabar merupakan dhiya (cahaya yang amat terang). Dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap kegelapan. Rasulullah SAW mengungkapkan, “… dan kesabaran merupakan cahaya yang terang.” (HR Muslim).

Ketiga, kesabaran merupakan anugerah Allah yang paling baik.. “… dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran.” (Muttafaqun Alaih).

Keempat, kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang Mukmin. “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman karena segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (mengetahui) bahwa hal itu memang baik baginya. Jika tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar karena (mengetahui) bahwa hal itu baik baginya.” (HR Muslim).

Kelima, sabar merupakan sifat para nabi. Keenam, kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah menggambarkannya dalam sebuah hadis, “Tidaklah seorang Muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan, kesedihan, marabahaya, dan juga kesusahan hingga duri menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketujuh, kesabaran merupakan sebuah keniscayaan. Seseorang tak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah sangat terpaksa, hendaklah ia berdoa kepada-Nya agar memberikan yang terbaik baginya: apakah kehidupan atau kematian.

“Janganlah salah seorang di antara kalian mengangan-angankan datangnya kematian karena musibah yang menimpanya. Sekiranya, ia memang harus mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, ‘Ya, Allah, teruskanlah hidupku ini sekiranya hidup itu lebih baik untukku. Wafatkanlah aku sekiranya itu lebih baik bagiku’.” (HR Bukhari Muslim). Demikianlah keutamaan bagi orang-orang yang sabar. Wallahu a’lam.

 

sumber: Republika Online

Alasan Rasulullah Menyukai Orang Bersin daripada Orang Menguap

Nabi Muhammad SAW menyukai orang yang bersin, tapi tidak menyukai orang-orang yang menguap. Bahkan Beliau pernah mengatakan, menguap adalah perbuatan setan.

Suatu hari Rasulullah berjumpa dengan dua orang dihadapannya. Keduanya sama-ama bersin, kemudian mengucapkan, “Alhamdulillah”. Rasulullah senang mendengarnya, artinya orang tersebut sedang memuji Allah atas nikmat yang diberikan kepadanya.

Kemudian Rasulullah juga senang, saat saudara sesama muslim tersebut yang mendengar saudara muslimnya bersin, kemudian dia juga ikut mendoakan dengan mengucap “Yarhamukallah”.

Setelah orang bersin itu mendengar saudaranya mengucapkan “Yarhamukallah” Rasulullah memintanya untuk juga balas mendoakan dengan mengucap “Yahdikumullahu wa yushlihu balakum”.

Muhammad Isma’il Al-Jawisy dalam buku Nabi Muhammad Sehari-hari menulis bahwa begitulah cara Rasulullah memberikan nasehat. Bahwa Islam, bukan saja untuk saling mengasihi dan menyayangi, namun juga untuk saling mendoakan. Tapi kemudian, Rasulullah menjumpai, seseorang yang tidak ikut mendoakan saudaranya yang bersin.

Rasulullah berkata kepada orang tersebut, “Orang ini telah memuji Allah, sedangkan kamu tidak memuji Allah.” Kemudian Rasulullah kembali berkata, “Jika salah seorang di antara kalian bersin, kemudian ia memuji Allah, hendaknya orang yang mendengar mendoakannya.” (HR. Bukhari Muslim).

Dengan menjawab dan mendoakan orang yang bersin, artinya mendoakannya agar jauh dari setan. Karena, dengan menyebut “Alhamdulillah” saja, setan sudah sangat murka dibuatnya. Kenapa setan marah? Karena manusia tersebut mampu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan.

Namun setan paling suka melihat manusia yang menguap, karena itu menyerupai perbuatannya. Maka, apabila salah seorang di antara umat Rasululla terpaksa menguap, Baliau meminta untuk menahannya sedikit saja. Karena, saat melihat umat Rasulullah menguap, setan tersebut tertawa gembira.

Kemudian, Rasulullah menjelaskan. Jika memang salah seorang di antara umatnya terpaksa menguap, hendaknya ia menutupkan tangannya ke mulut. Kenapa dilakukan hal demikian?  Supaya menghindari setan yang akan masuk melalui mulut manusia.

Rasulullah berkata, “Bila salah seorang dari kalian menguap, maka hendaklah dia menahan mulutnya dengan tangannya karena sesungguhnya setan akan masuk.” (HR. Muslim).

 

sumber: Republika Online

Tiga Bentuk Kesabaran

JAKARTA — Ada banyak godaan saat bulan Ramadhan, mulai dari makanan minuman yang lezat, diskon besar-besaran di supermarket, sampai godaan untuk menggunjingkan keburukan orang. Situasi ini menuntut seorang Muslim Sabar.

“Ketika godaan itu datang, kita harus menahan diri. Ingat bahwa kita tengah berpuasa. Jika kita perturutkan hawa nafsu untuk mengikuti godaan itu, maka akan merusak pahala puasa kita,” kata Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), KH. Syuhada Basri, ROL, Kamis, (18/6).

Ketua DDII ini menjelaskan ada tiga bentuk kesabaran. Pertama, kesabaran untuk tidak melanggar ketentuan-ketentuan agama. Kedua, bersabar ketika datang godaan untuk melakukan sesuatu yang menyimpang dari agama. Ketiga, kesabaran pada saat orang menghina dan menganiaya kita.

Tetapi, lanjut Syuhada Basri, bukan berarti kita diam ketika orang menghina kita dengan sesuatu yang menyimpang dari agama. Kita juga harus meluruskan dan melawan orang itu. Dalam sejarah kenabian, Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan.

Dalam konteks zaman sekarang, Syuhada Basri mencontohkan, kita tidak boleh diam ketika ada orang pesta miras di hadapan kita saat bulan Ramadhan. Atau, ketika kita melihat anak-anak membunyikan petasan sambil tertawa keras-keras di samping masjid saat jamaah tengah shalat tarawih. Tapi, kita tidak boleh berlebihan dalam mengingatkan atau memberikan perlawanan.

“Kesabaran itu perlu dimaknai dengan tepat. Sabar adalah upaya optimal untuk mencapai keridhoan Allah, kadang kita harus diam, kadang kita harus bicara, tetapi kadang kita juga harus melawan. Tergantung situasi yang kita hadapi,” jelasnya.

 

sumber: Republika Online

Kisah Hotel Syariah Menolak Tamu Mesum

Bandung – Pan Sopian, pemilik salah satu hotel syariah di Bandung, Hotel Rumah Tawa, menceritakan pengalaman bisnisnya. Pan mengatakan pernah mengusir beragam tamunya, dari wisatawan hingga anggota kepolisian dan militer, karena berniat bermalam dengan wanita yang bukan istri tamu itu.

“Saya enggak pernah memilih-milih. Meski sebenernya saya juga enggak enak, tapi beginilah hotel berstandar syariah,” ujarnya saat ditemui Tempo di Hotel Rumah Tawa, Jalan Taman Cibuntut Selatan, Bandung, Senin, 22 Juni 2015. Petugas hotel sebenarnya sudah memasang pengumuman bertuliskan “Tidak menerima check-in tamu pasangan non-menikah” di pintu masuk hotel ini.

Bila pengunjung datang berpasangan, resepsionis akan meminta kartu tanda penduduk mereka. Resepsionis akan melihat alamat keduanya. Jika alamat sama, ia akan mengizinkan pasangan itu menginap. Jika tidak, resepsionis akan meminta mereka mencari hotel lain.

“Kami pernah menerima pejabat kepolisian di sini. Tapi karena membawa pasangan yang bukan muhrim, kami minta dia mencari hotel lain,” ujar Pan. Terkadang ada pasangan bandel yang main kucing-kucingan dengan petugas hotel. Saat datang, salah satu pasangan akan menyewa kamar untuk ia sendiri. Namun, saat tengah malam, pasangannya akan datang dan memasuki kamar itu.

Jika terjadi kasus seperti itu, kata Pan, petugas hotel akan mengetuk pintu kamar pengunjung tersebut. Petugas itu akan menegur, lalu meminta keduanya segera pergi dari Hotel Rumah Tawa. Manajemen hotel pun tak lupa mengembalikan uang menginap yang dibayarkan saat check-in.

Tarif menginap di hotel ini Rp 200-300 ribu per malam. Hotel yang dibangun pada 2005 ini memiliki 16 kamar. Pan mengaku hanya memperkerjakan empat karyawan untuk mengurus hotel tersebut. Dua karyawan di antaranya ia ambil dari kelompok disabilitas.

Meski memiliki peraturan yang ketat, Pan mengaku tak takut kehilangan pasar. “Kami sudah punya pasar sendiri. Semua pengunjung kami adalah orang baik-baik,” ujarnya. Dia menjelaskan, keuntungan yang diambilnya bukan dari hasil sewa-menyewa kamar, melainkan penambahan nilai aset. Saat membeli lahan di Jalan Cibuntut Selatan, Bandung,ini,  ia merogoh kocek Rp 1,1 miliar. Sedangkan saat ini, kata dia, harga tanah itu bisa mencapai belasan miliaran rupiah.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Herlan J. Soemardi mengatakan keberadaan hotel syariah sudah diminta pelancong asing dan domestik di Kota Bandung. “Saya sangat mendukung keberadaan hotel ini. Hotel standar syariah adalah pilihan jika pengunjung bosan dengan hotel bergaya konvensional,” kata Herlan.

PERSIANA GALIH

 

sumber: TEMPO

Islam Jadi Jawaban Kegelisahan Maryam

JAKARTA — Sebagai orang yang dibesarkan dalam sebuah keluarga Katolik, Maryam Eustathiou merasa agamanya tidak mampu memenuhi apa yang dia harapkan. Kenangannya melayang ke suatu masa, berlatar sebuah gereja di hari Minggu dengan jamaah penuh sesak.

Maryam bertanya pada diri sendiri, “Apakah ini kebenaran sejati? Dapatkan simbol salib besar yang menjadikan orang berlutut dan membungkuk ini arti Tuhan yang sesungguhnya? Bagaimana mungkin imam yang mengenakan semua pakaian mewah itu menjadi esensi kesalehan, kerendahan hati, dan ketundukan pada Ilahi?”

Pada Onislam,net, Maryam bercerita merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Fakta bahwa Yesus nebjadi Tuhan dalam agama Kristen, bukannya sebagai nabi, adalah sesuatu yang tidak dapat ia terima.

Kegelisahan itu terpendam hingga usia 18 tahun, ketika Maryam masuk universitas. Di sanalah ia menemukan cahaya terang yang selama ini ia rindukan. Maryam bertemu dengan banyak orang dari berbagai agama dan latar budaya berbeda.

Perkenalan pertamanya dengan Islam terjalin melalui rekan-rekan Muslim dari berbagai Negara. Arab Saudi, Bahrain, Mesir, Pakistan, Turki, Italia, Inggris, dan lain-lain. Mereka datang pada waktu yang sangat tepat, saat Maryam tengah membutuhkan agama.

Suatu kali di tahun 2001, ia berkunjung ke rumah seorang teman dan melihat sebuah Alquran di antara deretan buku-buku. Alquran itu tertulis dalam bahasa Arab. Maryam tidak mengerti apa-apa. Tapi, temannya dengan tenang menjelaskan satu per satu.

Maryam merasa itu karunia besar. Proses peralihannya ke dalam Islam terjadi secara bertahap sejak itu.

Ia ingat suatu kali, ia pernah bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku harus ke gereja hari ini? Mengapa aku harus pergi?” Ia merasa sudah tak percaya lagi dengan Yesus sebagai anak Allah. Maryam tak ingin pergi ke gereja hanya untuk menyenangkan orang tua atau keluarga.

Ia mulai membaca Alquran, mempelajari sirah Nabi, dan belajar shalat. Setelah mendapat banyak informasi tentang Islam, ia pun memutuskan untuk bersyahadat. Itu terjadi kira-kira setahun kemudian.

“Saya seolah datang ke dunia seperti anak yang baru lahir,” kata Maryam. Setelah bertahun-tahun berjalan dalam kegelapan, Allah berkenan memberi secercah cahaya yang membuatnya terbangun. Ia merasa lebih damai sebagai seorang individu.

Orang tuanya baru tahu tentang keislaman Maryam pada Ramadhan 2005. “Saya sengaja mengatakannya saat berada di dekat mereka, bukan saat di universitas. Saya ingin membuktikan saya tidak akan lari meninggalkan mereka,” tambah perempuan itu.

Awalnya, ibunya tidak begitu tenang mendengar kabar itu. Tapi, ayahnya bereaksi sangat baik dan menghargai pandangan Maryam. Ia bahkan bersedia turut membaca buku-buku Islam. Perlahan, ibunya pun menjadi lebih menerima.

Maryam kini telah lulus universitas dengan gelar master dan bekerja di sebuah perusahaan besar.

 

sumber: Republika Online

Albaqarah 286 Kuatkan Atlet AS Ini Kala Berpuasa

Dua bersaudara yang merupakan atlet profesional National Football League (NFL) Amerika Serikat, Hamza dan Husain Abdullah memutuskan tetap berpuasa di tengah kesibukan mereka bertanding.

Keduanya dikenal sangat taat dalam kehidupan beragama mereka. Dari tahun ke tahun, Hamza dan Husain tetap berpuasa, baik ketika menjalani latihan ataupun sedang dalam kompetisi.

Apa rahasia mereka? Ternyata itu adalah Alquran, Surat Al Baqarah ayat 286.

”Kami mengawali puasa ini sambil bermain dengan penampilan terbaik. Setiap kali merasa lelah, aku teringat Al Baqarah 286, Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya,” kata Husain, dilansir dari Everlasting Footprint, Jumat (19/6).

Keputusan Husain dan Hamza Abdullah untuk bermain sepanjang Ramadhan adalah satu lagi prestasi luar biasa dan berpengaruh untuk keduanya. Mereka menilai karier atau puasa bukan pilihan sehingga memutuskan akan menjalani keduanya.

Hamza dan Husain rupanya terinspirasi dari pemain basket NBA, Hakeem Olajuwan. Pada Februari 1995, Olajuwan harus memilih apakah dirinya tetap lanjut bemain basket atau libur untuk melaksanakan ibadah puasa dan membiarkan tubuhnya beristirahat.

Olajuwan memilih keduanya dan dia bersinar terang dengan menjadi NBA Player of The Month karena permainannya yang mengesankan di bulan itu. Ia berhasil mendominasi lapangan, sangat dipuji dan prestasinya mendorong semangat banyak atlet Muslim lain di seluruh dunia untuk mengikuti jejaknya. (Mutia Ramadhani)

sumber: Republika Online

Dengan Ainun, Jepretan Ponsel Anda Bisa Dijadikan Media Dakwah

Anda pun dapat memperindah foto dengan beragam filter atau dekorasi Islami dari aplikasi ini.

Aplikasi photo editing memang sudah banyak beredar. Namun, Ainun tetap mempunyai tempat tersendiri di pengguna smartphone. Mengapa bisa begitu?

Alasannya sederhana saja. Software lokal garapan Weirdsgn dan Dihardja Software Solutions ini sangat cocok bagi Anda yang menjalani hobi fotografi dan ingin memanfaatkannya untuk menyebarkan ajaran Islam pada khalayak. Sebab, aplikasi ini mampu menyediakan 65 kutipan inspirasi, 135 kata-kata mutiara, dan kaligrafi berseni nan Islami untuk kemudian ditempelkan pada foto Anda.

Ainun, yang dalam Bahasa Arab berarti “mata”, juga tak kalah dengan aplikasi kondang seperti Instagram. Di sini, Anda akan menemukan 24 macam filter untuk mempercantik jepretan Anda serta fitur sharing untuk menyalurkannya ke media sosial dengan mudah.

Namun, pihak developer nampaknya harus bekerja lebih keras untuk menjaga kualitas aplikasi ini juga kepuasan pelanggan. Pasalnya, beberapa user melaporkan kalau Ainun tidak bekerja dengan baik di gadget mereka. Salah seorang user dengan akun Umi Syahirah, misalnya, mengabarkan kalau aplikasi ini selalu menutup dengan sendirinya tiap dijalankan.

Penasaran dengan aplikasi yang sukses memuncaki kategori Free Lifestyle App di Indonesia, Belgia, Luksemburg, dan Spanyol ini? Silakan mengunduhnya di App Store maupun Play Store.

Berderai air mata, bule mualaf ini buktikan Allah Maha Besar

Gary Matthew Clements (46) memang sudah memeluk Islam sejak 2011 lalu. Dalam perjalanan religinya, WN asal Amerika ini menemukan begitu banyak kebesaran Ilahi. Allah khususnya dirasanya hadir saat-saat sulit dalam hidupnya.

Dengan berurai air mata dan kata-kata yang terbata, Gary mengisahkan kembali masa-masa sulit saat Allah hadir di hidupnya. Menurutnya saat itu, Allah menyentuh dan menguatkan hatinya serta menunjukkan kemana dia harus melangkah.

“Saya punya anak dari pernikahan saya lalu dalam 15 tahun kita sudah punya dua anak dan kita memutuskan untuk berpisah. Dia mengambil anak saya selama 3 tahun dan pergi ke negara lain tanpa saya ketahui,” ucap Gary sambil menangis kepada merdeka.com di restoran Haloniko, Jakarta, Rabu (6/3).

Perkataan Gary terhenti, sejenak Gary mengatur napasnya yang tertahan sembari mengusap air matanya “maaf saya menangis” tukasnya singkat. Dia melanjutkan, “Banyak yang bilang saya tidak bisa ambil anak saya, dan enggak ada solusi, saya enggak akan menang dalam kasus ini. Bahkan ibu bapak saya bilang itu membutuhkan uang yang banyak. Saya ke belakang dan saya berdoa soal ini, lalu saya kembali dan saya memilih untuk bertarung saya sewa pengacara,” ungkap Gary menggebu-gebu.

Saat itu Gary percaya bahwa Allah telah menunjukkan jalan dan pilihan bahwa dia harus menghadapinya. dalam sujudnya yang panjang Gary, dia memohon agar Allah memberinya jalan keluar. “Itu semua karena saya mendengar perkataan Allah untuk memilih jalur yang sulit saat semua orang mengatakan ini jalan yang sulit tapi aku masih mendengarkan-Nya, dia memberikanku berkah dan membuat anak-anakku kembali padaku,” sambungya masih berurai air mata.

Selain masalah tersebut, beberapa kali Gary dihadapkan pada masalah berat lainnya dan berkali-kali juga dia memilih jalan yang berbeda dari pendapat banyak orang. kuncinya hanya satu, percaya bahwa Allah yang memegang semuanya.

“Saat aku menikah dengan Vivi meski tadinya aku merasa khawatir tentang keuangan kami. Allah bisa menyiapkan segalanya, dan sebelumnya juga saya pernah merasa kesulitan, saat saya harus mengurus pernikahan kami, saya malah terjebak di Hongkong. itu benar-benar membuat stres karena tinggal sehari lagi hari pernikahan. saya sangat marah dan tidak ada lagi penerbangan ke Jakarta,” cerita Gary.

Namun lagi-lagi Gary berkata kepada dirinya sendiri untuk tenang dan mengembalikan semua urusan kepada Allah semata. Sekali lagi, bagai mukjizat semua beres dalam sekejap. Perubahan ini lah yang dia rasakan saat dia mulai memeluk agama Islam. Dia percaya tidak ada lagi penolong sebaik Allah semata.

” Kini saya merasa tidak takut lagi dengan apapun, sesulit apapun aku punya Allah. Saya bisa merasakan perlindungannya dan membuat saya percaya diri dan saya bisa melakukannya,” tutup dia.

sumber: Merdeka.com