Meninggal Ketika Ibadah Haji dan Umrah

Berikut beberapa fikih mengenai jamaah yang meninggal ketika sedang melakukan ibadah haji dan umrah:

1. Jika meninggal ketika ihram:

  • Dimandikan dengan air bercampur daun bidara atau hal yang membuat harum semisal sabun
  • Dikafani dengan dua potong kain diriawayat lainnya dengan kain ihramnya
  • Tidak diberi wewangian
  • Tidak ditutup kepala dan wajahnya
  • Akan dibangkitkan hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah

Hal ini karena mereka akan dibangkitkan dihari kiamat sebagaimana keadaan orang yang berihram, yaitu tidak memakai wangi-wangian, tidak ditutup wajahnya. Adapun memandikan dengan bidara tujuannya agar jasad tetap harum ketika memandikan dan sabun semisal dengan bidara.1

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

بينما رجل واقف بعرفة، إذ وقع عن راحلته فوقصته، أو قال: فأقعصته، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: اغسلوه بماء وسدر، وكفنوه في ثوبين -وفي رواية: في ثوبيه- ولا تحنطوه -وفي رواية: ولا تطيبوه- ، ولا تخمروا رأسه ولا وجهه ، فإنه يبعث يوم القيامة ملبيا

Ketika seseorang tengah melakukan wukuf di Arafah, tiba-tiba dia terjatuh dari hewan tunggangannya lalu hewan tunggangannya menginjak lehernya sehingga meninggal. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Mandikanlah dengan air yang dicampur daun bidara lalu kafanilah dengan dua potong kain – dan dalam riwayat yang lain: “ dua potong kainnya “- dan jangan diberi wewangian. Jangan ditutupi kepala dan wajahnya. Sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada hari kiyamat nanti dalam keadaan bertalbiyah.”2

2. Pahala haji dan umrahnya ditulis hingga hari kiamat

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

من خرج حاجا فمات كتب له أجر الحاج إلى يوم القيامة ومن خرج معتمرا فمات كتب له أجر المعتمر إلى يوم القيامة ومن خرج غازيا فمات كتب له أجر الغازي إلى يوم القيامة

Barangsiapa keluar untuk berhaji lalu meninggal dunia, maka dituliskan untuknya pahala haji hingga hari kiamat. Barangsiapa keluar untuk umrah lalu meninggal dunia, maka ditulis untuknya pahala umrah hingga hari kiamat. Dan barangsiapa keluar untuk berjihad lalu mati maka ditulis untuknya pahala jihad hingga hari kiamat.”3

3. Jika meninggal dalam perjalanan dan belum melakukan ihram, maka tidak termasuk meninggal dalam ketika beribadah haji

Misalnya pesawatnya jatuh ketika perjalanan dari negaranya ke Saudi dan belum berihram. Maka tidak termasuk dalam bab “meninggal ketika ibadah haji dan umrah”.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,

إذا هلك من سافر للحج قبل أن يخرج فليس بحاج ، لكن الله عز وجل يثيبه على عمله ، أما إذا أحرم وهلك فهو …. ولم يأمرهم بقضاء حجه ، وهذا يدل على أنه يكون حاجاً ” انتهى .

“Jika kecelakaan ketika safar menuju haji sebelum ia ia keluar (berihram) maka tidak terhitung haji. Akan tetapi Allah akan membalas sesuai niatnya. Adapun jika sudah berihram, kemudian kecelakaan (misalnya mobilnya tabrakan, pent), maka termasuk dalam hadits (cara mengurus jenazahnya).”4

4. Jika meninggal ketika haji (sudah berihram), maak tidak perlu diqadhakan tahun depan oleh walinya

Karena hadits menunjukkan bahwa ia akan dibangkitkan dalam keadaan bertalbiyah hari kiamat dan ini menunjukka ia sudah mencukup hajinya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelasakan,

ولم يأمرهم بقضاء حجه ، وهذا يدل على أنه يكون حاجاً

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan untuk diqadhakan (untuk yang meninggal), karena statusnya ia sudah berhaji.”5

Demikian semoga bermanfaat.

***

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/26603-meninggal-ketika-ibadah-haji-dan-umrah.html

Fatwa Ulama: Bolehkah Pelemparan Jumrah Diwakilkan?

Fatwa Syaikh Abdullah bin Jibrin

Soal:

Selama melempar jumrah dalam haji dalam kondisi yang sangat padat dan adanya bau yang tidak sedap. Saya tidak sanggup tinggal di tempat tersebut. Karena saya mengidap penyakit asma dan jika kumat sangat mengganggu saya. Apakah boleh bagi saya untuk mewakilkan kepada orang lain untuk melempar jumrah atas nama saya namun haji saya tetap sah? Sedangkan saya bukan orang yang lemah dan bukan pula orang tua renta? Dan apakah boleh saya mewakili ibu saya dalam melempar jumrah yang ia memberikan wakil kepadaku untuk melakukannya. Berikan saya fatwa, karena saya pernah mengerjakan yang seperti itu. Dan adakah cara untuk mengkoreksi apa yang telah terjadi?

Jawab:

Boleh dalam hal ini mewakilkan melempar jumrah jika yang memberikan mandat badannya lemah, cacat, atau sakit seperti yang disebutkan. Dan keadaan ketika itu padat dan terdapat bau yang bisa menyebutkan sakitnya kumat.

Jika masih sanggup sampai ke jamarat (tempat melempar jumrah) maka ia wajib berangkat ke jamarat. Dan jika setelah di sana ia melihat adanya kesulitan dikarenakan kepadatan orang, maka wakilkanlah pelemparannya dan anda tetap berada di sana (jamarat). Demikian juga, jika seseorang mewakili ibunya, tidak mengapa dalam keadaan ini. Wallahu a’lam.

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/68739

***

Penerjemah: Andi Ihsan

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/26632-fatwa-ulama-bolehkah-pelemparan-jumrah-diwakilkan.html

Hadits Keutamaan Ibadah Haji dan Umrah

Artikel untuk rubrik hadits kali ini adalah syarah (penjelasan) hadits yang kami angkat dan terjemahkan secara bebas (dengan penambahan dan pengurangan kata dengan tanpa merubah isi dan maksud) dari kitab Minhatul ‘Allam fi Syarhi Bulughil Maram (5/851-868), karya Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan –hafizhahullah-, cetakan Daar Ibnil Jawzi, cetakan ke-8, Rabi’ul Awwal, tahun 8421 H, Dammam, KSA.

Hadits tersebut adalah:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: العمرةُ إلى العمرةِ كفَّارَةٌ لمَا بينَهمَا ، والحجُّ المبرورُ ليسَ لهُ جزاءٌ إلا الجنَّةُ

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya adalah penggugur (dosa) di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada balasan (bagi pelakunya) melainkan surga” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Pembahasan hadits ini akan ditinjau dari beberapa sisi:

1. Takhrij hadits

Imam al-Bukhari telah mengeluarkan hadits ini (di dalam Shahih-nya) pada Abwabul Umrah (bab-bab tentang umrah), yaitu pada Babu Wujubil Umrah wa Fadhliha (bab tentang wajibnya umrah dan keutamaannya), nomor 1773. Dan dikeluarkan pula oleh Imam Muslim (di dalam Shahih-nya pula), nomor 1349; dari jalan Sumayy budak Abi Bakar bin Abdurrahman, dari Abu Shalih as-Samman, dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, secara marfu’ (sampai kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam).

2. Keutamaan memperbanyak ibadah umrah

Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan keutamaan memperbanyak ibadah umrah. Hal ini disebabkan umrah memiliki keutamaan yang agung, yaitu dapat menggugurkan dan menghapuskan dosa-dosa. Hanya saja, mayoritas ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dosa-dosa di sini adalah dosa-dosa kecil, dan tidak termasuk dosa-dosa besar.

Kemudian, kebanyakan para ulama pun menyatakan bolehnya (seseorang) mempersering dan mengulang-ulang ibadah umrah ini dalam setahun sebanyak dua kali ataupun lebih. Dan hadits ini jelas menunjukkan hal tersebut, sebagaimana diterangkan pula oleh Ibnu Taimiyah. Karena memang hadits ini jelas dalam hal pembedaan antara ibadah haji dan umrah. Juga, karena jika umrah hanya boleh dilakukan sekali saja dalam setahun, niscaya (hukumnya) sama seperti ibadah haji, dan jika demikian seharusnya (dalam hadits) disebutkan, “Ibadah haji ke ibadah haji berikutnya…”. Namun, tatkala Nabi hanya mengatakan “Ibadah umrah ke ibadah umrah berikutnya…”, maka hal ini menunjukkan bahwa umrah boleh dilakukan (dalam setahun) secara berulang-ulang (beberapa kali), dan umrah tidaklah sama dengan haji.

Dan hal lain pula yang membedakan antara haji dan umrah adalah; umrah tidak memiliki batasan waktu, yang jika seseorang terlewatkan dari batasan waktu tersebut maka umrahnya dihukumi tidak sah, sebagaimana halnya ibadah haji. Jadi, dapat difahami apabila waktu umrah itu mutlak dapat dilakukan kapan saja, maka hal ini menunjukkan bahwa umrah sama sekali tidak menyerupai haji dalam hal keharusan dilakukannya sekali saja dalam setahun (lihat Majmu’ul Fatawa, 26/268-269).

Namun, Imam Malik berkata, “Makruh (hukumnya) seseorang melakukan umrah sebanyak dua kali dalam setahun” (lihat Bidayatul Mujtahid, 2/231). Dan ini juga merupakan pendapat sebagian para ulama salaf, di antara mereka; Ibrahim an-Nakha’i, al-Hasan al-Bashri, Sa’id bin Jubair dan Muhammad bin Sirin. Mereka berdalil; bahwa Nabi dan para sahabatnya tidak melakukan umrah dalam setahun melainkan hanya sekali saja.

Namun, hal ini bukanlah hujjah (dalil). Karena Nabi benar-benar menganjurkan umatnya untuk melakukan umrah, sebagaimana beliau pun menjelaskan keutamaannya. Beliau juga memerintahkan umatnya agar mereka memperbanyak melakukan umrah. Dengan demikian, tegaklah hukum sunnahnya tanpa terkait apapun. Adapun perbuatan beliau, maka hal itu tidak bertentangan dengan perkataannya. Karena ada kalanya beliau meninggalkan sesuatu, padahal sesuatu tersebut disunnahkan, hal itu disebabkan beliau khawatir memberatkan umatnya. Dan ada kemungkinan lain,seperti keadaan beliau yang tersibukkan dengan urusan kaum Muslimin yang bersifat khusus ataupun umum, yang mungkin lebih utama jika dipandang dari sisi manfaatnya yang dapat dirasakan oleh banyak orang.

Dan di antara dalil yang menunjukkan keatamaan mempersering dan memperbanyak umrah adalah hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

تَابِعُوا بين الحجِّ والعمرةِ ، فإنَّهما ينفيانِ الفقرَ والذنوبَ ، كما يَنفي الكيرُ خَبَثَ الحديدِ والذهبِ والفضةِ ، وليس للحجةِ المبرورةِ ثوابٌ إلا الجنةُ

Iringilah ibadah haji dengan (memperbanyak) ibadah umrah (berikutnya), karena sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa-dosa sebagaimana alat peniup besi panas menghilangkan karat pada besi, emas dan perak. Dan tidak ada (balasan) bagi (pelaku) haji yang mabrur melainkan surga” [Hadits ini dikeluarkan oleh Imam at-Tirmidzi (810), dan an-Nasa-i (5/115), dan Ahmad (6/185); dari jalan Abu Khalid alAhmar, ia berkata: Aku mendengar ‘Amr bin Qais, dari ‘Ashim, dari Syaqiq, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu secara marfu’. Dan at-Tirmidzi mengatakan: “Hadits hasan shahih gharib dari hadits Ibnu Mas’ud . Hadits ini pada sanadnya terdapat Abu Khalid al-Ahmar, ia bernama Sulaiman bin Hayyan. Dan terdapat pula Ashim bin Abi an-Nujud. Hadits mereka berdua dikategorikan hadits hasan. Karena Abu Khalid al-Ahmar seorang yang shoduqun yukhthi’ (perawi yang banyak benarnya dan terkadang salah dalam haditsnya), sedangkan Ashim bin Abi an-Nujud adalah seorang yang shoduqun lahu awhaam (perawi yang banyak benarnya dan memiliki beberapa kekeliruan dalam haditsnya)].

3. Keutamaan haji mabrur

Hadits ini menunjukkan keutamaan haji yang mabrur (baik), dan balasan orang yang mendapatkannya adalah surga. Haji yang mabrur, telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Abdil Barr, “Adalah haji yang tidak tercampur dengan perrbuatan riya’ (ingin dipuji dan dilihat orang), sum’ah (ingin didengar oleh orang), rafats (berkata-kata keji dan kotor, atau kata-kata yang menimbulkan birahi), fusuq (berbuat kefasikan dan kemaksiatan), dan dilaksanakan dari harta yang halal…” (lihat at-Tamhid, 22/39).

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa haji mabrur memiliki lima sifat:

  1. Dilakukan dengan ikhlash (memurnikan niat dalam melaksanakan hajinya) hanya karena Allah Ta’ala semata, tanpa riya’ dan sum’ah.
  2. Biaya pelaksanaan haji tersebut berasal dari harta yang halal. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    إنَّ اللهَ طيِّبٌ ولا يقبلُ إلا طيبًا

    Sesungguhnya Allah Maha Baik, dan Ia tidak menerima kecuali hal yang baik…”. (HR Muslim, 1015).

  3. Menjauhi segala dosa dan perbuatan maksiat, segala macam perbuatan bid’ah dan semua hal yang menyelisihi syariat. Karena, jika hal tersebut berdampak negatif terhadap semua amal shalih dan bahkan dapat menghalangi dari diterimanya amal tersebut, maka hal itu lebih berdampak negatif lagi terhadap ibadah haji dan keabsahannya. Hal ini berdasarkan beberapa dalil, di antaranya firman Allah Ta’ala:

    الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ

    (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji…” (QS al-Baqarah: 197).

  4. Dilakukan dengan penuh akhlak yang mulia dan kelemah-lembutan, serta dengan sikap tawadhu’ (rendah hati) ketika ia berkendaraan, bersinggah sementara pada suatu tempat dan dalam bergaul bersama yang lainnya, dan bahkan dalam segala keadaannya.
  5. Dilakukan dengan penuh pengagungan terhadap sya’a-irullah (syi’ar-syi’ar Allah). Hal ini hendaknya benar-benar diperhatikan oleh setiap orang yang sedang melakukan ibadah haji. Dengan demikian, ia benar-benar dapat merasakan dan meresapi syi’ar-syi’ar Allah dalam ibadah hajinya. Sehingga, akan tumbuh dari dirinya sikap pengagungan, pemuliaan dan tunduk patuh kepada Sang Pencipta, Allah Rabbul ‘Alamin. Dan tanda seseorang benar-benar telah melaksanakan hal tersebut adalah; ia melaksanakan tahapan demi tahapan rangkaian ibadah hajinya dengan tenang dan khidmat, tanpa ketergesa-gesaan dan segala perkataan dan perbuatannya. Ia akan senantiasa waspada dari sikap tergesa-gesa dan terburu-buru, yang justru hal ini banyak dilakukan oleh banyak para jamaah haji di zaman ini. Ia pun akan senantiasa berusaha bersabar dalam ketaatannya kepada Allah Ta’ala. Karena sesungguhnya hal yang demikian ini lebih dekat untuk diterimanya ibadah hajinya di sisi Allah Ta’ala.

Dan termasuk bentuk pengagungan (seorang yang beribadah haji) terhadap sya’a-irullah (syi’ar-syi’ar Allah) adalah menyibukkan dirinya dengan banyak-banyak berdzikir, bertakbir, bertasbih, bertahmid dan istighfar. Karena ia tengah beribadah, dan ia berada di tempat yang mulia dan utama.

Dan sungguh Allah pun telah memerintahkan para hamba-Nya untuk mengagungkan, memuliakan dan menjaga kehormatan sya’a-irullah (syi’ar-syi’ar Allah). Allah berfirman:

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَأُحِلَّتْ لَكُمُ الْأَنْعَامُ إِلَّا مَا يُتْلَى عَلَيْكُمْ فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya…” (QS al-Hajj: 30).

Dan Allah juga berfirman:

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS al Hajj: 32).

Dan yang dimaksud dengan hurumatullah (hal-hal terhormat di sisi Allah) adalah segala sesuatu yang memiliki kehormatan di sisi Allah, yang Allah memerintahkan para hamba-Nya untuk mengagungkannya, baik berupa ibadah dan yang lainnya. Dan di antaranya adalah manasik (tata cara ibadah haji) ini, tanah-tanah haram, dan ber-ihram.

Adapun sya’a-irullah (syi’ar-syi’ar Allah), maka maksudnya adalah lambang-lambang agama yang tampak jelas, yang di antaranya juga manasik (tata cara ibadah haji) ini. Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ

Sesungguhnya Shafaa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar-syi’ar Allah…” (QS al-Baqarah: 158).

Dan sungguh Allah Ta’ala telah menjadikan pengagungan terhadap syi’ar-syi’ar-Nya sebagai salah satu rukun dari rukun-rukun ketakawaan, dan salah satu syarat pengabdian dan penghambaan kepada-Nya. Allah pun jadikan pengagungan terhadap hurumatullah (hal-hal terhormat di sisi Allah) sebagai sebuah jalan bagi hamba-Nya untuk meraih pahala dan pemberian karunia dari-Nya.

Dan orang yang memperhatikan dengan seksama dan melihat dengan cara pandang orang yang mau belajar tata cara ibadah haji Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, niscaya dia akan memahami bagaimana beliau melaksanakan ibadah hajinya dengan penuh pengagungan dalam segala perkataan dan perbuatan beliau Shallallahu’alaihi Wasallam.

Wallahu A’lam.

***

Penulis: Ust. Arief Budiman Lc.

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/27810-hadits-keutamaan-ibadah-haji-dan-umrah.html

Wajib Bersegera Menunaikan Haji dan Umrah Ketika Sudah Mampu

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada para nabi dan rasul yang paling mulia,

Aku nasihatkan kepada saudaraku bagi mereka yang belum menunaikan ibadah haji, hendaknya bersegera untuk menunaikannya. Menunaikan haji hukumnya wajib bagi yang telah mampu untuk pergi ke sana (Baitullah). Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بني الإسلام على خمس : شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، وإقام الصلاة ، وإيتاء الزكاة ، وصوم رمضان ، وحج البيت

Islam dibangun atas lima hal: bersaksi bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, menegakan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

إن الله قد فرض عليكم الحج فحجوا

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan atas kalian untuk berhaji, maka berhajilah kalian.” (HR. Muslim).

Wajib bagi setiap muslim dan muslimah yang mampu menunaikan ibadah haji, hendaknya ia bersegera dan jangan menundanya. Karena Allah Jalla wa ‘Alla mewajibkan untuk menyegerakannya, dan tidak boleh bagi setiap muslim yang mampu dan terkena beban ibadah haji untuk menundanya. Bahkan menyegerakannya dan mempercepatnya, akan mendapatkan kebaikan yang sangat besar, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

من حج فلم يرفث ولم يفسق رجع كيوم ولدته أمه

Barangsiapa yang menunaikan haji, dengan tidak berbicara kotor dan tidak mencaci maka diampuni dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما ، والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة

Umrah satu ke Umrah lainnya adalah penebus dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain Surga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini adalah nikmat yang sangat besar, yang sepatutnya setiap muslim bersemangat untuk menunaikannya. Bersegera untuk melakukan amalan akhirat baik di dalam perjalanan maupun di Makkah. Di antara kebaikan tersebut adalah bersedekah kepada fakir dan miskin, memperbanyak membaca Al-Quran dan berdzikir mengingat Allah, memperbanyak tasbih, tahlil, tahmid dan takbir, memperbanyak shalat di Masjidil Haram dan thawaf jika mudah baginya dalam rangka mendapatkan manfaat yang besar di tempat dan waktu tersebut.

Di Masjidil Haram, shalat memiliki 100.000 kali lipat keutamaan. Ibadah wajib di sana lebih baik 100.000 kali dibanding tempat yang lain. Sedekah di sana pahalanya berlipat. Demikian juga bertasbih, tahmid, tahlil dan takbir, membaca Al-Quran, amar ma’ruf nahi munkar, berdakwah mengajak kepada Allah, mempelajari ibadah haji. Semua ini diperintahkan bagi setiap muslim. Di antara perintah syariat adalah mengajarkan tata cara ibadah haji kepada saudara-saudaranya (jika ia telah memiliki ilmu yang mapan), dengan cara yang santun, lembut dan gaya bahasa yang baik. Di samping berharap ada kesempatan hadir di Makkah untuk dapat melakukan berbagai macam amalan kebaikan, sebagaimana yang telah dijelaskan seperti shalat, thawaf, berdakwah kepada Allah, amar ma’ruf nahi munkar, dengan gaya bahasa yang baik dan kalimat yang santun.

Aku nasihatkan kepada para pemimpin kaum muslimin dimana pun mereka berada, untuk memudahkan perkara ibadah haji ini kepada rakyat mereka, dan memberikan perhatian khusus terhadap ibadah ini. Hal ini merupakan bagian dari tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Allah Ta’ala berfirman

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

Tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa.” (QS. Al-Maidah: 2)

Upaya pemerintah menolong rakyatnya dan memudahkan urusan ibadah haji ini adalah bentuk tolong menolong dalam kebaikan. Upaya saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, di dalamnya terdapat pahala yang besar, sebagaimana menasihati pemerintah agar berhukum dengan syariat Allah dalam segala aspek dan menolong agama Allah dalam setiap perkara. Kami memohon kepada Allah agar senantiasa memberikan taufik kepada para pemimpin kaum muslimin dalam setiap kebaikan, sehingga terwujud kebaikan dan diberikan hidayah.

Menolong muslim lainnya dalam setiap kebaikan, sebagaimana aku nasihatkan kepada siapa saja yang memudahkan urusan orang yang melaksanakan ibadah haji dengan takwa kepada Allah. Bersikap lembut kepada mereka dan menolong mereka dalam setiap kebaikan, kemudian berharap pahala dan ganjaran di sisi Allah. Maka mereka akan mendapatkan pahala dan keutamaan yang besar, jika mereka menolong dan memudahkan pelaksanaan ibadah haji. Kami memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menerima seluruh amalan kami dan memberikan hidayah kepada kaum muslimin dimana pun mereka berada sehingga mendapat ridha Allah, dan diberikan pemahaman yang baik tentang agama Allah dan Allah jadikan kita dan mereka agar termasuk orang yang diberikan petunjuk. Semoga Allah menolong saudara kita dalam menunaikan ibadah haji dalam keadaan Allah ridha kepadanya. Semoga Allah juga memperbaiki keadaan kaum muslimin dimana pun mereka berada. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Dekat. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta para keluarga dan seluruh shahabatnya.

***

Sumber: Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, Juz 16, hal. 347-350, http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?languagename=ar&View=Page&PageID=105&PageNo=1&BookID=12

Penerjemah: Wiwit Hardi P.

Baca selengkapnya https://muslim.or.id/26233-wajib-bersegera-menunaikan-haji-dan-umrah-ketika-sudah-mampu.html

Bantu Jamaah Hindari Riba, Al Fath Gandeng BMT

Biro perjalanan umrah dan haji khusus Al Fath Sunnah Amanah resmi bekerja sama dengan Baitul Mal Wattamwil (BMT) Ash Shiddiq. Kolaborasi dengan lembaga keuangan mikro syariah ini dilakukan untuk membantu para calon jamaah dalam menghindari riba, khususnya terkait pembiayaan Biro perjalanan umrah dan haji khusus Al Fath Sunnah Amanah resmi bekerja sama dengan Baitul Mal Wattamwil (BMT) Ash Shiddiq. Kolaborasi dengan lembaga keuangan mikro syariah ini dilakukan untuk membantu para calon jamaah dalam menghindari riba, khususnya terkait pembiayaan ibadah umrah.

Pendiri Al Fath Sunnah, Gusti Aditia mengatakan, perusahaannya berdiri dan menjalin kerja sama dengan BMT Ash Shiddiq atas dasar pemikiran. Yakni, dia menilai masih cukup banyak biro perjalanan umrah yang pada praktiknya belum sepenuhnya sesuai syariat.

“Untuk itu ana (saya) berkeinginan untuk membantu para rekan-rekan terdekat untuk berangkat umrah sesuai syariat Rasulullah SAW,” kata Gusti Aditia saat acara bertajuk “Umrah & Haji Maksimal! 2019”, Ahad (14/4).

Dia meneruskan, setiap biro perjalanan umrah dan haji belum tentu dari aspek pembiayaannya sesuai dengan syariat. Maka dari itu, Al Fath menggandeng BMT Ash Shiddiq. “Konsen di dalam keberangkatan travel Al Fath ini dari mulai berangkat sampai Tanah Suci itu, Insya Allah sesuai syariat. Itu konsep utamanya dari travel,” katanya.

Gusti menambahkan, saat ini masih banyak kaum Muslim yang berusia produktif ingin berangkat  ke Tanah Suci, tetapi terbentur masalah dana. Misalnya, mereka terkendala pengaturan budget tiap bulan atau tahun, sehingga sulit mencapai jumlah dana yang cukup untuk melangsungkan ibadah umrah atau haji.

Dia mengakui, di tengah masyarakat sudah cukup banyak lembaga perbankan yang menawarkan tabungan ibadah umrah dan haji. Namun, program tersebut dinilainya masih cenderung memberatkan calon jamaah. Misalnya, adanya biaya-biaya tambahan ataupun jumlah setoran yang kurang sesuai dengan kemampuan.

“Belum lagi, masih ada yang berunsur riba atau gharar, misal, ada biaya asuransi, yang mana secara syariat Islam kedua hal tersebut hukumnya haram,” kataya.

Menjawab permasalahan itu, Al Fath bermaksud menawarkan sebuah program tabungan umrah dan haji. Itu bukan hanya ringan bagi penabung, tetapi juga sesuai syariat. Maka Al Fath kemudian mengajak BMT Ash Shiddiq untuk bekerja sama menjalankan program tabungan itu.

IHRAM

 

Kekompakan Jamaah Umrah POS III Diapresiasi

Untuk ketiga kalinya, Paguyuban The Power of Silaturahim (POS) memberangkatkan puluhan orang mengikuti program umrah gratis yang digagas motivator dan pakar komunikasi Aqua Dwipayana.

Sebanyak 50 orang anggota Jamaah Umrah POS III berangkat ke Tanah Suci, dari Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang, Kamis (4/4). Mereka kembali ke Tanah Air, Jumat (12/4).

Pembimbing  (muthowif) umrah PT Nur Rima Al-Waali (NRA) di Tanah Suci mengapresiasi kekompakan dan disiplin jamaah Umroh The Power of Silaturahim (POS) III.

“Jamaah Bus 36 ini luar biasa disiplinnya dan solid. Kelompok lain masih tertinggal, busnya belum berangkat, Bus 36 ini malah sudah sampai di lokasi tijuan (city tour),” kata Rajab Siregar, muthowif lokal NRA yang ditugaskan mendampingi Jamaah POS III selama beribadah di Tanah Suci Mekah dan Madinah, seperti dikutip dalam rilis POS III yang diterima ihram.co.id, Sabtu (13/4).

Ketua rombongan umrah The Power of Silaturahim (POS) I, II, dan III, Nurcholis MA Basyari mengungkapkan, jamaah POS III bertolak dari Tanah Air ke Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, Kamis (4/4) pagi. Dari Jeddah, jamaah bertolak ke Madinah yang ditempuh selama kurang lebih lima jam. Mereka mengikuti paket umrah milad (ulang tahun) NRA bersama sekira 5 ribuan orang dari berbagai daerah di Indonesia.

“Selama di Tanah Suci, mobilisasi jamaah yang jadwal keberangkatan dan kepulangan sama dengan Jamaah Umroh POS III menggunakan 24 bus.  Setiap bus berpenumpang 35-45 orang,” tutur Nurcholis.

Ia menambahkan, pada hari pertama (Jumat, 7/4) kegiatan jamaah berpusat di Masjid Nabawi. Keesokan harinya, jamaah mengikuti tur di seputar Madinah,  termasuk berkunjung ke Masjid Quba, masjid yang pertama dibangun oleh Nabi Muhammad SAW. Selain itu, jamaah mengunjungi kompleks Jabal Uhud yg di dalamnya terdapat makam para syuhada Perang Uhud,  termasuk paman Nabi Muhammad, yakni Sayyidina Hamzah RA. “Termasuk yang dimunjungi dalam city tour ialah kebun dan pasar kurma,” paparnya.

Rajab yang telah tiga tahun bermukim di Mekkah sebagai mahasiswa itu mengapresiasi soliditas dan kepatuhan jamaah POS III. Menurutnya, hal itu termasuk jarang ditemui pada kelompok jamaah pada umumnya yang cenderung terpencar dan tidak disiplin sehingga acapkali terlambat kembali ke bus saat hendak bergerak ke tempat lain.

Menurut Rajab, sikap dan perilaku positif seperti itu dari jamaah POS III membuatnya sangat terbantu dalam menjalankan tugasnya.

Nucholis menjelaskan, jamaah Umrah POS III merupakan kelanjutan dari gerakan umrah gratis yang digagas dan didanai oleh pakar komunikasi dan motivator Aqua Dwipayana. Kali ini merupakan tahun ketiga pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Pada tahun pertama (POS I), sebanyak 35 orang diberangkatkan ke Tanah Suci pada 8-16 Januari 2017. Tahun berikutnya (18-26 April 2018) jamaah POS II berjumlah 39 orang. Adapun tahun ini, jumlah yang diberangkatkan

Rombongan jamaah umroh The Power of Silaturahim (POS) III di depan Masjid Birr Ali.

IHRAM.CO.ID, MADINAH —   Untuk ketiga kalinya, Paguyuban The Power of Silaturahim (POS) memberangkatkan puluhan orang mengikuti program umrah gratis yang digagas motivator dan pakar komunikasi Aqua Dwipayana.

Sebanyak 50 orang anggota Jamaah Umrah POS III berangkat ke Tanah Suci, dari Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Tangerang, Kamis (4/4). Mereka kembali ke Tanah Air, Jumat (12/4).

Pembimbing  (muthowif) umrah PT Nur Rima Al-Waali (NRA) di Tanah Suci mengapresiasi kekompakan dan disiplin jamaah Umroh The Power of Silaturahim (POS) III.

“Jamaah Bus 36 ini luar biasa disiplinnya dan solid. Kelompok lain masih tertinggal, busnya belum berangkat, Bus 36 ini malah sudah sampai di lokasi tijuan (city tour),” kata Rajab Siregar, muthowif lokal NRA yang ditugaskan mendampingi Jamaah POS III selama beribadah di Tanah Suci Mekah dan Madinah, seperti dikutip dalam rilis POS III yang diterima ihram.co.id, Sabtu (13/4).

Ketua rombongan umrah The Power of Silaturahim (POS) I, II, dan III, Nurcholis MA Basyari mengungkapkan, jamaah POS III bertolak dari Tanah Air ke Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, Kamis (4/4) pagi. Dari Jeddah, jamaah bertolak ke Madinah yang ditempuh selama kurang lebih lima jam. Mereka mengikuti paket umrah milad (ulang tahun) NRA bersama sekira 5 ribuan orang dari berbagai daerah di Indonesia.

“Selama di Tanah Suci, mobilisasi jamaah yang jadwal keberangkatan dan kepulangan sama dengan Jamaah Umroh POS III menggunakan 24 bus.  Setiap bus berpenumpang 35-45 orang,” tutur Nurcholis.

Ia menambahkan, pada hari pertama (Jumat, 7/4) kegiatan jamaah berpusat di Masjid Nabawi. Keesokan harinya, jamaah mengikuti tur di seputar Madinah,  termasuk berkunjung ke Masjid Quba, masjid yang pertama dibangun oleh Nabi Muhammad SAW. Selain itu, jamaah mengunjungi kompleks Jabal Uhud yg di dalamnya terdapat makam para syuhada Perang Uhud,  termasuk paman Nabi Muhammad, yakni Sayyidina Hamzah RA. “Termasuk yang dimunjungi dalam city tour ialah kebun dan pasar kurma,” paparnya.

Rajab yang telah tiga tahun bermukim di Mekkah sebagai mahasiswa itu mengapresiasi soliditas dan kepatuhan jamaah POS III. Menurutnya, hal itu termasuk jarang ditemui pada kelompok jamaah pada umumnya yang cenderung terpencar dan tidak disiplin sehingga acapkali terlambat kembali ke bus saat hendak bergerak ke tempat lain.

Menurut Rajab, sikap dan perilaku positif seperti itu dari jamaah POS III membuatnya sangat terbantu dalam menjalankan tugasnya.

Nucholis menjelaskan, jamaah Umrah POS III merupakan kelanjutan dari gerakan umrah gratis yang digagas dan didanai oleh pakar komunikasi dan motivator Aqua Dwipayana. Kali ini merupakan tahun ketiga pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Pada tahun pertama (POS I), sebanyak 35 orang diberangkatkan ke Tanah Suci pada 8-16 Januari 2017. Tahun berikutnya (18-26 April 2018) jamaah POS II berjumlah 39 orang. Adapun tahun ini, jumlah yang diberangkatkan mencapai 50 orang,” paparnya.

Mereka berasal dari berbagai latar belakang sosial ekonomi,  suku,  bahasa,  dan daerah di Indonesia. Mereka antara lain aggota TNI/Polri, guru, pegiat sosial, wartawan senior, PNS, ibu rumah tangga, dan pelajar.

“Saya sangat senang jamaah kami menunjukkan perilaku positif sesuai dengan spirit silaturahim, yakni kebersamaan untuk saling menguatkan, bukan melemahkan atau menyusahkan orang lain,” kata Aqua yang bersama istrinya,  Retno Setiasih, dan sejumlah koleganya yakni Ikhsyat Syukur, Arifin Asydhad, Edwin dan Dwidjajanto menyusul ke Tanah Suci, Sabtu (6/4/2019). Ahad (7/4)  siang,  mereka sengaja menemui semua jamaah POS III di Madinah.

IHRAM.co.id

Lawan Travel Haji Bodong dengan Haji Digital

Maraknya penipuan berkedok layanan travel haji dan umrah, membuat pemerintah menyusun layanan berbasis teknologi digital.

Nantinya, setiap calon jamaah haji dan umrah bisa memanfaatkan sistem digital yang lebih transparan dan akuntabel. Sehingga bakal terhindar dari penipuan. “Pemerintah tengah membangun layanan digital ibadah haji dan umroh, sehingga masyarakat bisa memilih. Kementerian Agama juga telah membuat aplikasi khusus sebagai referensi pencarian biro haji dan umroh yang berizin dari pemerintah,” kata Darmin saat menjadi pembicara pada acara Ikatan Ahli Ekonomi Indonesia (IAEI) bertajuk Manajemen Bisnis Syariah Pada Travel Haji dan Umrah di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (6/3/2019).

Sehingga, kata Darmin, pemerintah terus berupaya agar kebutuhan ini tidak hanya sekadar terpenuhi tapi diiringi dengan kualitas pelayanan yang semakin baik, sehingga kasus-kasus Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umroh (PPIU) seperti First Travel, tidak terulang kembali.

“Pemerintah telah menyusun MoU, bersinergi dengan pihak terkait untuk mengatasi permasalahan PPIU berupa pencegahan, pengawasan, dan penanganan permasalahan umroh,” katanya.

Menurut Darmin, upaya-upaya ini perlu dilakukan mengingat jasa perjalanan ibadah haji dan umroh memegang peranan signifikan dalam kepentingan nasional. [ipe]

 

INILAH MOZAIK

Keutamaan Melaksanakan Ibadah Umrah

Melaksanakan umrah merupakan bagian bukti keimanan Muslim dalam memenuhi panggilan Allah SWT. Ibadah umrah juga dapat menyiasati lamanya daftar tunggu haji saat ini.

Begitu banyak keutamaan yang diberikan Allah SWT kepada hambanya yang melaksanakan ibadah umrah atas dasar keimanan. Ustaz H Hasbullah menyampaikan, di antara keutamaan yang didapat oleh umat Nabi Muhammad SAW yang melaksanakan umrah adalah dihapusnya dosa seorang hamba oleh Allah SWT.

“Antara umrah yang satu dan lainnya, itu akan menghapus dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga,” HR Al Bukhari dan Muslim.

Selain mendapat penghapusan dosa, keutamaan lain menjalankan ibadah umrah adalah mendapat pahala silaturahmi. Rasulullah SAW dalam hadisnya mengatakan, “Barang siapa yang menziarahiku setelah aku meninggal sama dengan menziarahiku semasa hidupku.”HR Al-Baihaqi, Syu’ab Al-Iman.

Dari Abu Hurairah ra, bahwa sesungguhnya Nabi SAW bersabad “Shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu kali shalat di tempat lain, kecuali Masjid Al-Haram” HR.Al-Bukhari. Dan shalat di Masjid Al-Haram lebih utama dari seratus ribu kali shalat. (Imam Suyuti,Syarah Ibn Majah). Atas dasar itulah ibadah umrah begitu diminati umat Islam selain ibadah haji yang saat ini daftar tunggunya mencapai puluhan tahun.

 

IHRAM REPUBLIKA

Umrah Wajib Bagi yang Telah Penuhi 5 Kriteria Ini

Ibadah umrah menjadi alternatif bagi seorang Muslim yang belum mampu melaksanakan rukun Islam kelima (haji) karena beberapa hal. Umrah layaknya haji menjadi wajib rukunnya bagi seorang hamba yang sudah mampu secara finansial.

Apalagi waktu pelaksanaan umrah cukup panjang dan banyak jasa keuangan memberikan fasilitas pinjaman untuk berangkat umrah. Sehingga tidak ada alasan umat Muslim tidak bisa berumrah.

Ustaz H Hasbullah mengatakan, hukum umrah menjadi wajib ketika seorang Muslim telah memenuhi lima kriteria. Kelimanya adalah Islam, berakal, baligh, merdeka bukan budak atau hamba sahaya, dan kelima mampu. “Syarat mampu dibagi menjadi dua bagian,” kata H Hasbullah dalam bukunya Tanya Jawab Umrah.

Pertama, syarat mampu bagi laki-laki dan kedua syarat mampu bagi perempuan. Syarat mampu bagi laki-laki, pertama memiliki biaya ibadah umrah, kedua bekal pulang pergi dan ketiga sehat badan, keempat aman dalam perjalanan.

Sementara syarat mampu, khsus bagi perempuan. Pertama suami atau mahramnya (lelaki yang haram menikahnya dan dalam hal ini harus mahram permanen, baik lewat pertalian darah, susan atau pernikahan).

“Demikian menurut mazhab Hanafi dan Hanbali dalilnya “Bahwa Nabi SAW bersabda janganlah seorang perempuan melakukan perjalanan selama tiga hari,  kecuali di didampingi mahramnya,” kata H Hasbullah mengutip HR Ibnu Umar.

Menurut ulama Syafiyyau, seorang wanita boleh pergi haji umrah jika bersama dengan wanita lain yang dapat dipercaya, walaupun tanpa mahram. Juga Mazhab Maliki membolehkan, jika bersama rombongan wanita atau rombongan laki-laki, atau gabungan rombongan laki-laki bersama perempuan.

Kedua sedang dalam masa iddah. Baik iddah talak atau iddah ditinggal wafat oleh suami. Apakah umrah wajib disegerakan saat sudah mampu atau boleh ditangguhkan Menurut Mazhab Syafi’i disunahkan untuk dilaksanakan segera apabila sudah terpenuhi syarat-syaratnya karena menyegerakan kebaikan adalah baik. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 14: “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”

Menurut mazhab Habali wajib disegerakan jika sudah terpenuhi syarat-syarat, berdosa jika menangguhkan tanpa uzur.

Ada perbedaan di antara ulama mengenai hukum umrah. Pendapat pertama umrah menurut ulama mazhab Hanafi dan Maliki adalah sunnah muakkad.

Dalilnya adalah hadis Nabi SAW yang diriwayatkan dari Jabir RA bahwa Nabi SAW, ketika ditanya mengenai hukum umrah, apakah itu wajib? Nabi menjawab tidak wajib, tapi itu adalah suatu keutamaan. “Haji adalah jihad dan umrah adalah tathawwu(sunah).”

Pendapat kedua menurut mazhab Syafii dan Hanbali demikian juga dari kalangan shabat Umar bin Khattab Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan lainnya bahwa umar wajib bagi orang yang mampu minimal sekali seumur hidup dan disunahkan memperbanyaknya. Dalilnya ada dalam surah al-Baqarah ayat 196.

“Dan sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah.” H Hasbullah mengatakan, makna ayat ini telah laksanakan keduanya (haji dan umrah) secara sempurna. Dan hakikat perintah menghendaki wajib.

‘Negeri di Atas Awan’ Itu Juga Ada di Arab Saudi

Kita sering mendengar ungkapan negeri di atas awan untuk menggambarkan sejumlah wilayah di Indonesia yang berada di ketinggian perbukitan. Di Indonesia kawasan yang terkenal dengan sebutan tersebut adalah dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah.

Namun, ternyata, wilayah perkampungan dengan karakter ketinggian yang sama juga bisa dijumpai di Arab Saudi, tepatnya di daerah Fifa.

Kawasan yang memiliki ketinggian 12 ribu kaki tersebut dihuni kurang lebih 60 ribu penduduk. Kesuburan tanahnya menjadikan warga menekuni profesi sebagai petani sayuran dan buah-buahan. Di antaranya pisang, lemon, mangga, dan tanaman kopi.

Kawasan Fifa merupakan salah satu sentra pertanian yang memasok kebutuhan sayuran dan buahan untuk Saudi.

Jika melihat sejumlah titik di kawasan ini, metode terasering juga digunakan dalam lahan pertanian di Fifa. Pemandangan tersebut menambah kawasan tersebut lebih terkesan hijau dan enak dipandang.

Tak banyak yang mendokumentasikan kawasan ini dalam buku-buku sejarah. Hal ini karena, pada masa itu, wilayah ini merupakan daerah yang sulit dijangkau.

Namun daerah tersebut sudah bisa diakses transportasi mobil. Seorang fotografer, Majid Sanqoof, membeberkan beberapa jepretannya untuk mengungkapkan minatnya yang besar terhadap Fifa, seperti dikutip dari Alarabiya, Rabu (27/2).