Suhu Makkah Sudah 44 Derajat Celcius, Ratusan Jamaah Rawat Jalan

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH — Suhu udara di Makkah, Arab Saudi, mulai merangkak naik. Cuaca Makkah pada Ahad (21/8) ini diperkirakan mencapai suhu maksimal 44 derajat Celcius.

Berdasarkan data Accuweather.com, suhu rata-rata mencapai 29 derajat Celcius dengan kelembaban 43 persen. Suhu minimal mencapai 31 derajat Celcius dan suhu maksimal 44 derajat Celcius.

Suhu udara Makkah mengalami peningkatan dibandingkan beberapa hari lalu. Pada dua atau tiga hari kemarin, suhu udara maksimal di Makkah berkisar pada angka 41-42 derajat Celcius.

Sementara, data Siskohat Kesehatan per 20 Agustus menyebutkan jumlah rawat jalan di Makkah sebanyak 227 jamaah. Jumlah rawat inap sebanyak 5 jamaah dan jumlah rujukan sebanyak 12 jamaah.

Satu anggota jamaah dikabarkan meninggal dunia di Makkah atas nama Abdullah bin Umar Gamyah. Abdullah wafat dalam usia 68 tahun akibat gangguan jantung. Jamaah kloter BTJ-001 ini menghembuskan nafas terakhir di pemondokan pada Sabtu (20/8) pukul 03.15 waktu Arab Saudi.

Abdullah merupakan jamaah pertama yang meninggal dunia di Makkah. Total ada 14 jamaah yang meninggal hingga 11 hari penyelenggaran pelayanan haji di Arab Saudi.

Kenapa Kita Harus Menolong Rakyat Suriah

Karena ada lebih dari 7 juta jiwa saudara Muslimin kita terpaksa mengungsi, baik di dalam maupun di luar Suriah. Mereka hidup terlunta-lunta dan terancam keselamatan nyawanya.

Karena sudah lebih dari 200 ribu orang saudara Muslimin kita dibunuh disebabkan oleh ke-Islam-annya dan aqidah tauhidnya menuntun mereka berhadap-hadapan dengan kekuatan-kekuatan bukan Islam yang mengancam dan menindasnya secara fisik.

Karena jika kita mendiamkan saudara-saudara kita dalam kesusahannya ini, Allah akan mengazab kita semua dengan azab yang lebih berat (Surat Al-Anfaal ayat 72-74):

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. 8:72)

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. 8:73)

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. 8:74)

Dan cukuplah Allah sebagai saksi, dan sebagai satu-satunya sebab, agar kita tidak berdiam diri atas keadaan saudara-saudara kita di Suriah.
Sikap berdiam diri itu mungkin karena keragu-raguan kita, atau mungkin juga karena kita menerima dalih was-was yang dihembuskan syetan ke dalam dada kita. Baik dalih was-was yang kelihatannya bersifat “ilmiah” maupun dalih was-was yang tidak ada penjelasannya.* (Sahabat Al-Aqsha | Sahabat Suriah)

Satu dari Tiga Anak Suriah Tidak Tahu Apa Pun Kecuali Perang

DAMASKUS, KOMPAS.com— Satu dari tiga anak Suriah tidak mengenal apa-apa kecuali perang saudara yang pada Senin (14/3/2016) memasuki awal tahun keenam konflik. Mereka terusir dari sekolah, rumah, menjadi yatim piatu, dan mengalami kekerasan setiap hari dalam lima tahun ini.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-anak (Unicef) mengatakan, generasi baru anak-anak Suriah saat ini sedang dibentuk oleh konflik. Mereka tidak mengenal apa pun kecuali perang yang terus berkecamuk.

“Setiap anak Suriah di bawah lima tahun atau balita tidak mengenal apa pun dalam hidupnya kecuali pengalaman yang dibentuk oleh perang. Diperkirakan ada 2,9 juta anak Suriah berada dalam lingkaran perang Suriah. Sekitar 811.000 anak lainnya berada di negara tetangga,” kata Unicef.

PBB mengatakan, perang saudara di Suriah telah membunuh lebih dari 270.000 orang. Lebih dari 11 juta orang, dari total 23 juta populasi Suriah, telah mengungsi dari rumah mereka, entah ke luar negeri atau pun masih bertahan di dalam negeri.

“Lima tahun hidup dalam perang, jutaan anak telah menjadi dewasa terlalu cepat,” kata Peter Salama, Direktur Regional Unicef untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.

“Saat perang berlanjut, anak-anak terlibat perang dengan orang dewasa, mereka putus sekolah, dan banyak yang dipaksa menjadi buruh. Sementara anak perempuan menikah dini,” kata Salama.

Di dalam negeri Suriah, “Hampir tujuh juta anak hidup dalam kemiskinan, membuat masa kecilnya tidak bahagia,” kata Salma lagi.

Lebih dari 200.000 anak tinggal di daerah-daerah yang terkepung. Sekitar 2,1 juta anak lagi putus sekolah dan mereka tersebar di seluruh negeri.

Sejak 2014, anak-anak yang direkrut menjadi tentara anak semakin lebih muda dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Menurut verifikasi PBB, lebih dari setengah anak-anak di bawah 15 tahun terlibat dalam rekrutmen menjadi tentara anak.

“Anak-anak ini menerima pelatihan militer dan berpartisipasi dalam pertempuran atau mengambil peran yang mengancam kehidupannya sebagai perisai perang, termasuk membawa dan menjaga senjata, pos pemeriksaan, serta mengobati dan mengevakuasi korban luka perang,” kata Unicef.

“Pihak yang terlibat konflik menggunakan anak-anak untuk membunuh, termasuk sebagai algojo atau penembak jitu,” katanya.

Pasukan ‘Sniper’ Assad Tipu dan Bantai Wanita dan Anak-anak di Ghouta

YOGYAKARTA, Kamis (Radio Free Syria | Sahabatsuriah.com): Sedikitnya 7 orang wanita dan anak kemarin syahid dibunuh para penembak jitu (snipers) rezim Bashar al-Assad di kawasan Ghouta Syarqiyya di pinggiran Damascus, ibu kota Suriah.

Para tentara dan snipers itu menangkap dan menggeledah habis rombongan penduduk Ghouta Syarqiyya yang hendak mengungsi keluar kawasan yang diblokade itu. Sesudahnya, para penjagacheckpoint itu mengizinkan para pengungsi itu berjalan keluar meninggalkan Ghouta Syarqiyya untuk menuju Damascus.

Pada saat itulah para snipers kemudian “just for fun” mulai menembaki rombongan yang sebagian besar wanita dan anak kecil itu. Selain 7 orang yang syahid, masih ada sekitar 30 orang lainnya yang luka-luka. (Sumber lain menyebutkan jumlah korban mencapai 12 orang)

7 orang syahid dan 30 lainnya terluka dibunuh penembak jitu Assad.  Foto: AhrarZabadani
7 orang syahid dan 30 lainnya terluka dibunuh penembak jitu Assad.
Foto: AhrarZabadani

Sampai berita ini diturunkan, belum ada pihak keluarga yang bisa mengambil jenazah para syuhada sebab para snipers menunggu untuk menambah korban mereka.

Wanita dan anak adalah yang paling menderita di Ghouta Syarqiyya yang diblokade oleh rezim Assad sehingga tidak ada makanan dan obat-obatan yang bisa masuk. Para penghuni tidak bisa keluar ke kawasan lain, dan pendatang dari kawasan lain pun tidak bisa memasuki Ghouta Syarqiyya ini.

Nasib rakyat Suriah yang ingin keluar dari penjara besar rezim Assad, Ghouta Syarqiyya;  tewas dibunuh penembak jitu. Foto: AhrarZabadani
Nasib rakyat Suriah yang ingin keluar dari penjara besar rezim Assad, Ghouta Syarqiyya;
tewas dibunuh penembak jitu.
Foto: AhrarZabadani

The Syrian Revolution Coordinators Union (SYRCU) mencatat, sejak Assad memulai blokade Ghouta, 1 Nopember 2012 sampai 30 Nopember 2014, jumlah korban tewas mencapai 11.844 orang, termasuk di dalamnya 1.409 anak, 802 wanita, 52 wartawan, 47 orang Palestina, 27 paramedis, dan 3 dokter. Lebih lanjut, SYRCU mencatat jumlah kematian akibat kelaparan dan kekurangan obat-obatan sudah mencapai 216 orang, termasuk di dalamnya 150 anak.

Kondisi berat inilah yang mendorong rombongan wanita dan anak-anak itu berusaha mengungsi keluar Ghouta Syarqiyya. (IC/Sahabat Suriah)

Di Mana Saja Lokasi Miqat?

Suara pramugari Garuda Indonesia tujuan Jakarta-Jeddah yang terdengar melalui pengeras suara mengabarkan bahwa pesawat segera melintas di atas Yalamlam. Yalamlam berjarak sekitar 125 kilometer dari Kota Makkah, Arab Saudi, dan merupakan lokasi miqat bagi jamaah haji yang berasal dari Yaman maupun negara-negara di sebelah timur Makkah.

Sejumlah orang terlihat mengantre di toilet pesawat untuk memulai ihram. Sebagian lainnya sudah mengenakan ihram sejak dari tanah air. Namun, ada lebih banyak orang yang memilih melakukan miqat di Bandara Internasional
King Abdul Aziz Jeddah.

Bandara Jeddah memiliki terminal khusus untuk menerima jamaah haji dan umrah. Terminal ini dilengkapi berbagai fasilitas seperti kamar mandi dan mushala yang dapat digunakan oleh 80 ribu peziarah pada waktu bersamaan.
Bahkan pada musim haji, otoritas setempat sudah mengatur area untuk setiap negara pengirim jamaah haji di terminal ini.

Begitu pesawat mendarat di Bandara Internasional King Abdul Aziz, jamaah atau petugas akan diantarkan ke area yang memang diperuntukan bagi negara asal. Jamaah atau petugas asal Indonesia akan menuju Plasa Indonesia. Kesibukan di bandara ini pun tidak hanya sekadar mengantre bagasi atau mengangkut koper, namun juga orang-orang yang sedang mengambil miqat.

Miqat berarti batas. Orang yang melintasi miqat yang telah ditentukan maka wajib untuk mengenakan pakaian ihram dan berniat ihram. Hal ini berlaku tanpa terkecuali bagi setiap jamaah haji dan umrah yang datang dari seluruh penjuru dunia.

Ada dua miqat. Pertama, miqat zamany atau batas berdasarkan waktu. Miqat zamany terkait dengan pelaksanaan ibadah haji. Miqat zamany terdiri atas tiga bulan, mulai dari Syawal hingga Dzulhijah. Kedua, miqat makany atau batas berdasarkan tempat.

Miqat berdasarkan tempat ini biasanya digunakan tidak hanya untuk berhaji, namun juga umrah. Selain Yalamlam, ada empat tempat miqat yang dikenal oleh jamaah asal Indonesia. Yaitu, Masjid Dzul Hulaifah atau Bir Ali yang menjadi miqat penduduk Madinah, Masjid Tan’im atau dikenal juga sebagai Masjid Aisyah, Ji’ranah, dan Masjid Al Hudaibiyah

 

 

sumber: Republika Online

Bir Ali, Lokasi Penduduk Madinah Bermiqat

Masjid Dzulhulaifah atau Bir Ali merupakan tempat miqat bagi penduduk Madinah atau jamaah yang hendak menunaikan ibadah haji atau umrah dan melewati Kota Madinah. Rasulullah SAW melakukan miqat dari Bir Ali. Jamaah haji asal Indonesia gelombang pertama akan melakukan miqat di Bir Ali.

Saya pun menyimpan keinginan untuk melakukan miqat dari Bir Ali. Niat itu tercapai ketika saya menyambangi Madinah pada pekan kedua Oktober. Ketika kembali ke Makkah, kami melakukan miqat di masjid yang sanggup menampung lima ribu jamaah ini.

Senyum langsung merekah di wajah saya ketika melihat bangunan berwarna cokelat muda yang memiliki menara setinggi 62 meter itu. Masjid yang dibangun sejak 87 hijriah ini terlihat kokoh, apik, luas, dan multifungsi. Masjid ini memiliki banyak fasilitas karena berfungsi sebagai stasiun singgah bagi para jamaah yang bepergian.

Kita bisa melihat parkir mobil yang luas dan perkebunan kurma di luar masjid. Ketika masuk ke dalam lingkungan masjid, ada juga pasar yang menjual kebutuhan jamaah haji. Masjid berbentuk persegi yang terbagi menjadi dua bagian. Di bagian tengah masjid, terdapat lapangan dengan tanaman yang tertata rapi.

Kebersihan masjid juga sangat terjaga. Selanjutnya, saya menuju tempat wudhu perempuan. Tempat wudhu di masjid ini sangat nyaman dan bersih. Ada petugas yang siap membantu, sebagian berasal dari Indonesia. Masjid juga dilengkapi dengan ruangan untuk mengganti pakaian dengan ihram.

Selesai berihram, saya dan teman-teman meninggalkan Masjid Bir Ali sembari bertalbiyah. Saya mengucapkan selamat tinggal Madinah dengan perasaan bahagia lantaran bisa mengunjungi dan melakukan miqat masjid yang menjadi miqat Rasulullah SAW.

 

Oleh: Ratna Puspita, Wartawan Republika

Di Masjid ini Rasulullah SAW Buktikan Mukjizatnya

Ji’ranah adalah nama sebuah perkampungan Wadi Saraf (lembah Saraf) yang dikelilingi jajaran bukit-bukit berbatu yang tandus. Masjid Ji’ranah digunakan penduduk Makkah sebagai tempat miqat untuk umrah.

Masjid ini terletak di bagian timur laut dari Kota Makkah dan jauhnya 22 hingga 28 kilometer dari Kota Makkah. Luasnya mencapai 1.600 meter persegi dan masjidnya bisa menampung hingga 1.000 jamaah shalat dan area parkir yang cukup luas mampu menampung lebih dari ratusan bus dan kendaraan kecil lainnya.

Di samping kanan masjid terdapat sebuah sumur tua yang sekarang telah ditutup oleh kerajaan Arab Saudi. Dulunya, air sumur tersebut selalu digunakan, bahkan dibawa pulang oleh jamaah haji. Masjid ini telah beberapa kali pemugaran dari zaman dahulu hingga sekarang.

Pemugaran terakhir dilakukan pada masa pemerintahan King Khalid bin Abdul aziz Al-Saud dengan dana pembangunan sekitar dua juta real. Masjid dengan luas 1.600 meter persegi tersebut menyatu dengan masjid yang lama.

Dalam kitab sejarah di ceritakan bahwa sumur (bir Taflah) merupakan salah satu mukjizat Rasulullah SAW. Pernah suatu kali Rasulullah SAW bersama puluhan ribu sahabatnya setelah mendapat kemenangan dalam dua peperangan yaitu perang hawazin di Thaif dan peperangan Hunain, selama 13 hari beliau singgah di sini untuk membagi-bagikan harta rampasan perang (baca Gonimah).

Di tempat tersebut tidak ditemukan sumber air, maka Rasulullah pun menancapkan tombaknya dan keluarlah air yang rasanya sangat tawar padahal sampai sekarangpun di daerah Ji’ranah sulit di temukan sumur yang rasa airnya tawar.

Dan di tempat ini juga beliau bertemu dengan wanita yang menyusuinya ketika masih bayi yakni Halimatu Sa’diyah. Dalam kitab Sunan Abu Daud di riwayatkan dari Abu Thufail, “Aku pernah melihat Nabi SAW sedang membagikan daging di Ji’ranah, tiba-tiba ada seorang wanita datang sampai dekat kepada Nabi SAW, lalu beliau menghamparkan mantelnya untuk wanita itu, lalu ia (wanita itu) duduk di atasnya. Lalu aku bertanya, siapakah wanita itu? para sahabat menjawab, “Ia adalah ibu beliau yang pernah menyusuinya”.

Setelah membagikan-bagikan harta rampasan perang beliau dan para sahabatnya melaksanakan ibadah umrah dan mengambil miqat dari tempat tersebut.

 

 

sumber: Republka Online

Dengarkan Lantunan Alquran, Lori Ferry Zouiten Menangis

“Bagaimana perasaan Ibu jika seandainya aku pindah ke agama lain?” Pertanyaan itu pernah diungkapkan Lori Ferry Zouiten kepada ibunya bertahun-tahun yang silam. Ketika itu, sang ibu hanya menjawab bahwa selama agama yang dijalankannya masih sejalan dengan iman kristiani, tidak ada yang perlu dipersoalkan.

Sejak kecil, Lori selalu dididik untuk mencintai gereja. Hingga menginjak usia dewasa, tidak pernah ada niat dalam hatinya untuk berpindah keyakinan. Namun, entah mengapa, pertanyaan semacam itu tiba-tiba saja melintas di dalam benaknya yang saat itu masih berumur 16 tahun.

“Di kemudian hari, saya baru menyadari bahwa pertanyaan itu merupakan sebuah firasat terhadap peristiwa penting yang saya alami pada tahun-tahun sesudahnya,” ujar perempuan asal Amerika itu membuka kisahnya, seperti dikutip I Found Islam.

Tak Beribadah

Lori dibaptis dan dibesarkan sebagai seorang Nasrani. Meski demikian, keluarganya tidak beribadah di gereja yang sama setiap pekannya. Lori dan saudara perempuannya memilih bergabung dengan jemaat gereja Methodist. Sedangkan, ayah, ibu, dan saudara laki-lakinya pergi ke gereja Katolik.

Sewaktu masih muda, Lori sangat aktif dalam program-program di gereja, seperti paduan suara, kelompok remaja, sekolah Minggu, dan membaca Bibel selama kebaktian. “Kami semua mengikuti kebaktian setiap Ahad,” ujarnya.

Saat berusia 18 tahun, Lori meninggalkan kampung halamannya yang berada di Negara Bagian Wisconsin. Ia pindah ke Longmeadow, Massachusetts, untuk bekerja sebagai perawat pribadi kepada Keluarga Nuger yang beragama Yahudi.

Tugas Lori yakni merawat anak mereka yang mengidap cerebral palsysejak lahir. Yakni, semacam gangguan yang memengaruhi sejumlah fungsi otak dan sistem saraf, seperti kemampuan untuk bergerak, belajar, mendengar, melihat, dan berpikir.

Selama bergaul dengan keluarga Nuger, Lori kerap mengamati aktivitas keagamaan mereka. Menurut dia, keluarga itu tidak terlalu religius dalam kesehariannya. Walaupun demikian, mereka tetap pergi ke sinagoge setiap kali merayakan Paskah dan Yom Kippur (hari-hari besar dalam agama Yahudi).

Belakangan, Lori juga mengetahui bahwa salah satu menantu Nuger ternyata  seorang Kristen yang berpindah agama menjadi Yahudi. “Ketika itu saya masih tidak habis pikir, bagaimana seseorang bisa menyangkal keimanan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka sebelumnya?”

Menikah

Pada 1993, hubungan kerja Lori dengan keluarga Nuger berakhir. Ia pun kemudian berkenalan dengan Zouhair, lelaki Muslim yang kemudian menjadi suaminya. Selain kecerdasannya, yang membuat Lori jatuh hati kepada Zouhair ketika itu penampilannya yang menarik. “Kami menikah setelah saling mengenal selama enam bulan,” ujar Lori.

Sebelumnya, Lori tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang Islam, kecuali penolakan agama ini terhadap Yesus Kristus (Isa AS). Setelah bertemu Zouhair, ia akhirnya mengetahui bahwa kaum Muslimin ternyata tetap mengimani Yesus.

Namun, bukan sebagai anak Tuhan, melainkan seorang nabi yang harus dihormati, seperti halnya Ibrahim, Musa, dan Muhammad SAW. Setelah menikah, Lori pun berhenti makan daging babi dan menjauhi minuman beralkohol. “Sikap itu untuk menghormati suami saya,” kata Lori.

 

Memilih Islam

Keingintahuan Lori terhadap Islam semakin besar sejak hidup bersama Zouhair. Karenanya, ia mulai meneliti secara online ajaran agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW tersebut. Perempuan itu juga mencoba berdialog dengan sejumlah mualaf untuk membantunya menemukan jawaban atas berbagai pertanyaan yang masih mengganjal di dalam kepalanya.

Dari penelitian yang dilakukannya tersebut, Lori akhirnya menemukan bahwa ajaran Islam ternyata sangat dekat dengan Kristen. Kaum Muslimin juga mengimani Taurat, Zabur, dan Injil sebagai kitab suci yang diturunkan Tuhan kepada para nabi. Namun, di dalam Islam tidak dikenal konsep trinitas, karena sifat-sifat Tuhan tidak sama seperti makhluk yang bisa berkembang biak.

Selain itu, kaum Muslimin juga mengimani Nabi Muhammad SAW sebagai utusan terakhir yang dipilih Allah untuk membawa peringatan dan kabar gembira kepada umat manusia. Setelah mempelajari Islam secara sungguh-sungguh, Lori akhirnya berkesimpulan bahwa semua yang diajarkan agama itu memang masuk akal baginya.

Lori kemudian mencoba mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Alquran lewat internet.

Bagaimana kesannya? Wow! Betapa indah dan merdu lantunan Alquran itu. Ini membuat air matanya menetes ketika mendengarnya meski ia tidak tahu maknanya karena diucapkan dalam bahasa Arab. “Saya merasakan kedamaian yang belum pernah saya rasakan sebelumnya,” kata ibu dua anak tersebut.

Perjalanan Lori mencari hidayah Islam akhirnya mencapai puncaknya. Hari itu, sekitar pukul dua dini hari, Zouhair baru saja pulang kerja. Lori memberitahu sang suami bahwa ia telah mempelajari Islam tanpa sepengetahuan laki-laki itu. “Saya katakan kepada Zouhair, saya ingin menjadi seorang Muslimah,” ujarnya.

Air mata sang suami pun keluar karena merasa terharu mendengar pengakuan istrinya tersebut waktu itu. Zouhair tersenyum dan kemudian memandu Lori mengucapkan dua kalimat syahadat.

 

sumber: Republika Online

Bolehkah Istri Merahasiakan Gajinya kepada Suami?

KALAU pertanyaannya berdosa atau tidak, maka jawabannya tergantung apakah pekerjaan itu wajib atau tidak. Sebuah pekerjaan wajib bila tidak dikerjakan akan berdosa. Atau sebaliknya, sebuah pekerjaan haram apabila dikerjakan, malah berdosa.

Masalahnya sekarang, apakah ada kewajiban bagi istri untuk memberitahu kekayaannya kepada suami? Atau haramkah seorang istri tidak memberitahu kekayaannya kepada suami?

Maka masalahnya harus kita kembalikan kepada kedudukan harta istri di depan suami. Dalam syariat Islam, harta kekayaan milik istri adalah sepenuhnya hak istri. Suami tidak berhak apapun dari harta istrinya, kecuali bila istri memang berniat memberinya, menghadiahkannya atau bersedekah kepada suaminya.

Otomatis secara hukum hitam putihnya, sebenarnya tidak ada hak pada suami untuk menguasai harta kekayaan milik istrinya. Dan termasuk juga tidak punya hak memaksa untuk mengetahui jumlah harta kekayaan istrinya itu.

Sebaliknya, kalau kita memandang dari harta kekayaan suami, maka pada sebagian harta suami ada hak istri. Meski ukuran atau persentasenya tidak secara baku ditetapkan, namun hak itu ada.

Sehingga dalam fiqih Islam, seorang istri yang mengambil harta suaminya tanpa izin, tidak terkena hukum potong tangan. Karena syarat hudud pencurian tidak terpenuhi, yaitu pada sebagian harta itu ada hak istri, di samping istri memang punya akses untuk memakai harta suami.

Apa yang kami sebutkan di atas semata-mata dipandang sebelah mata, yaitu dari kaca mata hukum. Namun perlu diketahui, bahwa hidup kita ini tidak mungkin hanya didekati dengan pertimbangan hukum hitam putih semata. Bahkan agama Islam itu bukan 100% berisi hukum hitam putih, tetapi di dalamnya ada juga diatur masalah akhlak, etika, hubungan interpersonal, qona’ah, ‘iffah, itsar dan seterusnya.

Maka sebelum merahasiakan gaji kepada suami, perlu dipertimbangkan juga efek dan dampak lain dalam kaitannya dengan hubungan kemesraan antara suami dan istri.

Alangkah indahnya bila antara suami dan istri ada saling keterbukaan, termasuk dalam masalah pengelolaan kekayaan. Meski masing-masing berhak atas harta mereka, tidak ada salahnya bila mereka saling berdiskusi dan bertukar pikiran. Sebab mereka adalah satu keluarga, bukan lawan dagang, apalagi lawan tanding.

Sangat harmonis rasanya kalau istri bersifat terbuka kepada suaminya, termasuk dalam masalah gajinya, pergaulannya, masalah di kantornya dan lainnya. Demikian pula dengan suami, tidak ada salahnya bila banyak berdiskusi dengan istri, baik dalam masalah keuangan atau pun hal-hal lainnya.

Semua itu dilakukan demi terciptanya hubungan mesra dan harmonis antar suami dengan istri. Dan tidak semata-mata harus diselesaikan dengan hukum hitam putih semata.

Wallahu a’lam bishshawab. [Ahmad Sarwat, Lc]

 

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2317574/bolehkah-istri-merahasiakan-gajinya-kepada-suami#sthash.nrdWXYSb.dpuf

Seringkah Kita Mengeluh?

MENGELUH. Bisa berbentuk ucapan ataupun perbuatan. Yang tanpa kita sadari sering lakukan. Yang hampir setiap hari kita ungkapkan. Tapi bukankah ini sia-sia kawan? Lebih baik untuk hal lain kita manfaatkan.

Sia-sia karena tidak ada hal yang bisa didapatkan selain ketenangan yang hampa. Semu dan sementara. Padahal Allah akan menepati janjinya. Terutama bagi orang yang sabar dan percaya.

Keluhan. Hal yang sering kita ungkapkan ke orang lain maupun ke teman. Dan kadang kala kita merasa lega setelah melakukan. Walaupun tidak selalu memberikan jalan akan sebuah permasalahan. Namun bagaimana jika orang atau teman tersebut menghilang? Mau kemana keluhan ini dilepaskan?

Maka luapkan keluhanmu kepada Allah semata. Ingatlah selalu, bahwa Dia akan datang. Menerima setiap keluhan yang kamu tumpahkan. Yang pasti akan memberikan jawaban. Tentu dengan cara-Nya yang tak disangka. Meskipun kita tidak tahu kapan waktu tepatnya.

Namun, selalu ingat bahwa janji-Nya sungguh nyata. Seperti pada surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6 yang artinya: (5) Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (6) Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Memang dalam kehidupan pasti kita melewati suatu cobaan maupun tantangan. Karena di dunia ini tidak ada yang kekal selain Allah. Yakinlah semua itu akan berlalu. Percayalah semuanya pasti ada jalan untuk terus maju. Seperti kita yang merindukan pelangi, namun hujan haruslah kita nikmati. Karena jika tidak ada hujan, maka tidak ada pelangi.

Allah mengetahui yang terbaik bagi kita, lantas mengapa harus mengeluhkan derita? Sering kali kita selalu menginginkan datangnya pelangi, tapi Dia tahu bahwa hujan harus turun tuk membasahi. Memang rencana-Nya sungguh lah indah untuk dinanti.

Datang dengan cara yang tak terduga. Tiba di saat yang tak disangka. Cukuplah bagi kita untuk selalu percaya. [inspirasi-islami]

 

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2315568/seringkah-kita-mengeluh#sthash.VFeZN2wX.dpuf