Tolak Jodoh Kaya demi Lelaki Miskin tapi Bertakwa

PARA as-Salaf ash-Shalih memahami bahwa ukuran dalam kufu` yang diinginkan adalah agama. Sehingga mereka menahan wanita-wanita mereka dari orang-orang kaya yang mengikuti hawa nafsu, serta mengedepankan orang-orang miskin yang bertakwa daripada mereka, karena keyakinan mereka bahwa kesudahan yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.

Inilah Said bin al-Musayyib rahimahullah, seorang tokoh ulama tabiin. Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan datang kepadanya melamar putrinya untuk putra mahkota, al-Walid bin Abdul Malik. Putrinya, ketika itu adalah wanita yang paling cantik dan paling sempurna, serta paling tahu (alim) dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Tetapi Said bin al-Musayyib tidak ragu untuk meminta maaf (menolak) lamarannya, dan tetap bertahan kendati ia mendapat siksaan yang ditimpakan Abdul Malik kepadanya, hingga ia mencambuknya seratus cambukan. Hal itu karena al-Musayyib tahu sikap al-Walid yang kasar dan selalu memperturutkan hawa nafsu.

Sang alim yang mulia itu kembali ke Madinah, lalu diziarahi oleh Abdullah bin Abi Wadaah, salah seorang muridnya. Lantas al-Musayyib bertanya tentang kondisinya hingga ia mengetahui bahwa istrinya telah meninggal. Maka ia berkata kepadanya, “Tidakkah kamu mencari wanita lain?”

“Semoga Allah Taala merahmati Anda, siapakah yang akan menikahkanku sedang aku tidak memiliki kecuali dua atau tiga dirham?” Jawabnya. Said berkata kepadanya, “Aku (yang) akan menikahkanmu.” Dia bertanya, “Benar, Anda akan melakukannya?” Ia berkata, “Ya.” Lalu dia pun menikahkannya dengan putrinya dengan mahar dua atau tiga dirham.

Demikianlah, Said bin al-Musayyib rahimahullah lebih mengutamakan laki-laki yang fakir tapi bertakwa, yang memiliki kemampuan dalam agama di atas Amirul Mukminin yang kaya raya. Tidak hanya sampai di situ, ketentraman dan keyakinannya pada agama laki-laki yang fakir itu sampai kepada seperti yang diceritakan tentangnya. Abdullah bin Abi Wadaah menuturkan, “Aku pun bangkit, sedang aku tidak tahu akan berbuat apa lantaran amat bahagia. Aku berjalan pulang ke rumahku dan mulai berpikir kepada siapa aku meminjam uang, dari siapa aku akan berutang? Aku pun salat Maghrib, lalu beranjak ke rumah. Kunyalakan lampu, dan waktu itu aku sedang berpuasa. Aku menyegerakan makan malamku sebagai buka, yaitu berupa roti dan minyak. Tiba-tiba pintu rumahku ada yang mengetuk. Aku bertanya, Siapa? Dia menjawab, Said

Aku mengingat-ingat setiap orang yang namanya Said, maka tidak ada kecuali Said bin al-Musayyib. Yang demikian itu, karena ia tidak terlihat selama empat puluh tahun, kecuali (berada) di antara rumahnya dan masjid. Aku pun keluar untuk menemuinya, dan ternyata dia adalah Said bin al-Musayyib. Aku mengira bahwa dia memiliki sebuah keperluan, saya berkata, Wahai Abu Muhammad (yakni Said al-Musayyib), sekiranya engkau mengirim utusan kepadaku (biar aku yang datang kepadamu). Dia berkata, Tidak. Kamu lebih berhak untuk didatangi. Aku berkata, Kalau begitu, apa yang engkau perintahkan?

Ia berkata, Sesungguhnya dahulu kamu seorang bujangan, maka kamu pun menikah. Aku tidak mau membiarkanmu malam ini tidur seorang diri. Ini istrimu. Ternyata ia berdiri di belakangnya. Kemudian ia mengambil tangannya dan mendorongnya ke pintu lalu menutupnya. Wanita itu jatuh lantaran malu. Aku menutup ulang pintu itu, lalu melangkah ke arah mangkuk tempat roti dan minyak. Aku meletakkannya di bayangan lampu agar ia tidak melihatnya. Kemudian aku naik ke loteng dan memanggil para tetangga. Mereka pun datang. Mereka bertanya, Ada apa denganmu?

Aku berkata, Sungguh, aku telah dinikahkan oleh Said bin al-Musayyib dengan putrinya hari ini, ia membawanya malam ini tanpa sepengetahuan orang.” Mereka berkata, Said menikahkanmu?! Saya menjawab, Ya. Mereka bertanya, Sekarang (putri)nya di rumah ini?! Saya menjawab, Ya. Mereka pun mendatanginya.

Berita itu sampai kepada ibuku. Dia pun datang seraya berkata, “Wajahku haram dari wajahmu, jika kamu menyentuh istrimu sebelum aku mengarahkannya sampai tiga hari.” Aku pun menunggu selama tiga hari, kemudian baru menggaulinya. Ternyata, dia termasuk wanita yang paling cantik, paling hafal Kitab Allah Taala, paling alim dengan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan paling tahu hak suami. Aku tinggal selama sebulan, Said tidak mengunjungiku dan aku pun tidak mengunjunginya. Baru setelah satu bulan, aku datang kepadanya di halaqah (majelis talim)nya. Aku mengucapkan salam kepadanya, lalu ia menjawab salamku, dan ia tidak berbicara kepadaku hingga orang-orang yang ada di majelis itu telah bubar.

Dia bertanya, Bagaimana keadaan orang itu (maksudnya putrinya)? Aku menjawab, Baik, wahai Abu Muhammad. Sebagaimana yang dicintai teman, dan dibenci oleh musuh.” Dia berkata, Jika ada yang meragukanmu darinya, maka jangan sampai kamu memukul. Aku pun pulang ke rumahku, dan dia mengirimkanku uang dua puluh ribu dirham.” Betapa besar ketentraman sosok tabiin mulia itu akan masa depan (nasib) putrinya, sampai-sampai ia tidak berpikir untuk menanyakan detil keadaannya, lantaran ketentramannya bahwa dia berada di sisi laki-laki bertakwa, yang takut kepada Allah Taala, tahu hak-haknya atas dirinya dan juga kedudukannya dari dirinya.

[Referensi: 90 Kisah Malam Pertama karya Abdul Muththalib Hamd Utsman, edisi terjemah cet. Pustaka Darul Haq]

 

INILAH MOZAIK

Asal-asalan Memilih Jodoh Adalah Orang Celaka

SEBAGAIMANA lelaki disarankan untuk memilih calon istri yang saleh, wanita juga disarankan untuk memilih calon suami yang saleh. Karena predikat ini menyangkut kebahagiaannya di masa mendatang, selama dia mengarungi bahtera rumah tangga.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menggambarkan, orang yang asal-asalan dalam memilih jodoh, adalah orang yang celaka.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Umumnya wanita itu dinikahi karena 4 pertimbangan: hartanya, nasabnya, parasnya, dan agamanya. Pilihlah yang memiliki agama, jika tidak kamu celaka.” (HR. Bukhari 5090, Muslim 3708, dan yang lainnya).

Kalimat dalam hadis: Taribat yadaka yang jika diterjemahkan tekstual berarti, Kamu melumuri tanganmu dengan tanah artinya kamu akan terhina, sengsara.

Ada pelajaran menarik yang disampaikan an-Nawawi ketika menjelaskan hadis ini,

Dalam hadis ini, terdapat anjuran untuk memilih teman hidup yang agamanya baik dan semua perilakunya. Karena yang menjadi pendampingnya akan mendapatkan manfaat dari akhlaknya yang baik, keberkahannya, dan perilakunya yang indah. Serta minimal, dia bisa merasa aman dari kerusakan yang ditimbulkan temannya. (Syarh Shahih Muslim, 10/52)

Ketika anda menikah, berapa lama anda akan bersama pasangan anda? Tentu semua berharap, pernikahan ini langgeng sampai akhir hayat. Sehingga suami, maupun istri diharapkan bisa menjadi teman hidup abadi di dunia.

Apa yang bisa anda bayangkan, ketika selama perjalanan yang tanpa batas itu, anda ditemani manusia yang sangat tidak anda sukai karakternya? Memiliki kebiasaan yang sangat mengganggu diri anda.

Membuat polusi rumah anda. Posisi anda menjadi korban perokok pasif. Belum lagi anak anda yang sangat mungkin jadi korban sejak bayi. Bajunya, bau tembakau. Mulutnya, bau nikotin. Nafasnya, bau asap rokok.

Di mana istri akan bisa mendapatkan kenyamanan jika ditemani lelaki semacam ini? Wanita mana yang suka dengan pasangan perokok? Setidaknya, apa yang dinyatakan Imam an-Nawawi di bagian akhir, tidak terpenuhi, “merasa aman dari kerusakan yang ditimbulkan temannya.”

Padahal rokok semua isinya merusak! Tapi istri dipaksa untuk toleran dengan segala dampak buruk rokok suami. Ketika dilarang, dia marah, lebih membela rokok dari pada keluarganya.

Perokok hanya bisa dimengerti dan tidak pernah mau mengerti. Kecuali jika istri suka latihan tahan nafas ketika bersama suaminya.

Kami tidak membahas dari sudut pandang hukum rokok. Karena tidak ada perokok yang bersedia ketika disebut bahwa rokok itu haram. Pecandu yang haram, dia orang fasik. Dan tidak selayaknya, seorang muslimah memiliki suami yang fasik.

Wallahu alam. [Ustaz Ammi Nur Baits]

 

INILAH MOZAIK

Konsekuensi Hoaks

Berbagai macam konsekuensi akan muncul akibat perbuatan hoaks yang dilakukan.

Dalam Alquran telah jelas diterangkan bahwa berita bohong (hoaks) adalah modalnya orang munafik untuk merealisasikan niat kotor mereka (QS al-Ahzaab [33] :60-61).

Menyebarkan hoaks dan isu termasuk qiila wa qaala (katanya dan katanya) merupakan sikap yang ditolak dalam Islam dalam kondisi apa pun dan dalam model apa pun (QS al-Isra’ [17]: 36). Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah RA, “Dan Rasulullah membenci dari kalian ‘katanya dan katanya’, banyak bertanya, dan membuang-buang harta.”

Berbagai macam konsekuensi akan muncul akibat perbuatan hoaks yang dilakukan oleh seseorang, baik yang berasal dari Allah SWT maupun dari sesama manusia sendiri. Maka dari itu, berhatihati dan waspadalah terhadap hoaks tersebut. Di antara konsekuensi yang bisa ditimbulkan akibat orang yang sering berbohong dan menyebarkan hoaks adalah dapat merugikan diri sendiri.

Pertama, dari sudut akidah, bila seorang mukmin sudah berani berdusta, maka martabat kemukminannya itu hilang, berganti dengan predikat munafik (na’udzu billah). Hal itu sebagaimana dikatakan Rasulullah SAW melalui sabdanya, “Ciri-ciri orang munafik itu ada tiga, yaitu bila berkata dusta, bila berjanji mengingkari, dan bila diberi amanat menghianati.”(HR Bukhari- Muslim).

Predikat mukmin adalah predikat yang sungguh sangat mulia, tetapi seorang mukmin jika berani dusta atau bohong maka predikatnya hilang dan diganti predikat munafik. Padahal, orang munafik sangat jelas ditegaskan oleh Allah SWT melalui firman-Nya: “Sesung guhnya orang munafik itu (ditem patkan) pada tempat yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolong pun dari mereka.” (QS an-Nisaa [4] :145).

Kedua, hilangnya petunjuk yang diberikan oleh Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS al-Mu’min:28). Ketiga, Allah SWT menambahkan penyakit dalam hati dan siksa yang pedih bagi orang-orang yang suka berbohong lagi pendusta. Firman Allah SWT, “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu di tam bah Allah penyakitnya, dan bagi me reka siksa yang pedih disebabkan me reka berdusta.” (QS al-Baqarah [2] :10).

Keempat, seseorang yang masih berdusta dan memilih kedustaan sehingga Allah menulis di sisi-Nya sebagai orang yang dusta. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya benar (jujur) itu menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu menuntun ke surga, dan seseorang itu berlaku benar sehingga tercatat di sisi Allah sebagai seorang yang siddiq (yang sangat jujur dan benar). Dan dusta menuntun kepada curang, dan curang itu menuntun ke dalam neraka. Dan seorang yang dusta sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta.”

Kelima, hilangnya kepercayaan. Sesungguhnya selama dusta menyebar dalam kehidupan masyarakat maka hal itu akan menghilangkan kepercayaan di kalangan kaum Muslimin, memutuskan jalinan kasih sayang di antara mereka, sehingga menyebabkan tercegahnya kebaikan dan menjadi penghalang sampainya kebaikan kepada orang yang berhak menerimanya

Keenam, pengaruh dusta terhadap anggota badan. Dusta menjalar dari hati ke lidah, maka rusaklah lidah itu, lalu menjalar ke anggota badan, maka rusaklah amal perbuatannya sebagaimana rusaknya lidah dalam berbicara. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kejujuran itu menuntun kepada kebajikan, sedangkan dusta menuntun kepada kedurhakaan.” (Muttafaq’alaih).

Itulah sebagian konsekuensi melakukan perbuatan dusta (hoaks) yang terasa di dunia, dan di sisi Allah balasan bagi pendusta lebih dahsyat dan mengerikan. Jelaslah bahwa para pendusta akan berjalan di atas jalan yang menuju neraka, karena dengan berdusta berarti ia akan membuka berbagai pintu keburukan lainnya. Wallahu’alam.

 

Oleh:  Ahmad Agus Fitriawan

REPUBLIKA

Ciri Wanita Saleh Menyenangkan Suami dan Patuh

SAHABAT Abu Hurairah Radhiyallahu anhu pernah menceritakan,

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya, “Apa ciri wanita yang paling saleh?”

Jawab beliau,

Yang menyenangkan suami ketika dilihat, dan menaati suami ketika diperintah. (HR. Ahmad 9837, Nasai 3244 dan disahihkan Syuaib al-Arnauth).

Anda bisa memastikan, seorang suami akan merasa nyaman melihat istrinya ketika sang istri berhias, atau bahkan menyebarkan wewangian bagi suami.

Hadis ini sangat tegas mengajarkan, jika wanita ingin menjadi istri saleh, hendaknya dia berusaha berhias bagi suaminya. Seorang wanita yang berhias di depan suaminya, bagian dari fitrahnya. Allah berfirman,

“Apakah patut orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.” (QS Az-Zukhruf: 18)

Karena itu, Allah bolehkan wanita untuk menggunakan perhiasan, yang itu diharamkan bagi lelaki, seperti emas atau sutera.

Wanita harus berhias di depan suaminya, dan ini bagian dari hak suami yang harus ditunaikan istrinya. Karena merupakan salah satu sebab terbesar mewujudkan kasih sayang.

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengingatkan,

“Apabila kalian pulang dari bepergian di malam hari, maka janganlah engkau menemui istrimu hingga dia sempat mencukur bulu kemaluannya dan menyisir rambutnya yang kusut.” (HR. Bukhari 5246)

An-Nawawi mengatakan,

Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa istri tidak boleh membuat suaminya lari darinya, atau melihat sesuatu yang tidak nyaman pada istrinya, sehingga menyebabkan permusuhan diantara keduanya.

Hadis ini juga dalil, bahwa selama suami ada di rumah, wanita harus selalu berdandan dan tidak meninggalkan berhias, kecuali jika suaminya tidak ada. (Syarh Sahih Muslim, 7/81). Wallahu alam. [Ustaz Ammi Nur Baits]

 

INILAH MOZAIK

Kemenag: Riil Biaya Haji Tahun Ini Rp 66 Juta

Direktur Pengelolaan Dana Haji pada Kementerian Agama (Kemenag) Ramadhan Harisman mengungkapkan, biaya haji riil jamaah Indonesia tahun ini sebesar Rp 66 juta. Namun, karena dibantu dana optimalisasi haji, biaya jamaah haji tahun ini hanya Rp 35.235.602 per jamaah.

“Untuk tahun ini, sekitar Rp 66 juta. Yang dibayar jamaah kan Rp 35,23 juta, nah yang dari dana optimalisasi itu rata-rata Rp 31 juta per jamaah,” ujar Ramadhan saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (13/3).

Dana optimalisai yang berasal dari biaya setoran awal calon jamaah haji itu setiap tahunnya dimanfaatkan untuk menekan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH). Tahun ini, menurut Ramadhan, dana optimalisasi yang digunakan Kemenag sebesar Rp 6.327.941.577.970.

Pemerintah dan Komisi VIII DPR telah resmi menetapkan BPIH tahun ini naik sekitar Rp 345 ribu sehinga biaya haji menjadi Rp 35,23 juta per jamaah. Awalnya, Kemenag mengusulkan untuk menaikkan BPIH 2018 sebesar Rp 900.670.

“Total rata-rata kenaikan biaya operasional haji Rp 4,47 juta. Namun, dari total kenaikan tersebut, biaya yang dibayar jamaah hanya naik Rp 345 ribu,” ucapnya.

Ramadhan menuturkan, kenaikan BPIH tersebut terjadi karena kenaikan biaya pesawat tidak terelakkan lagi dengan naiknya avtur dan lemahnya nilai kurs rupiah. “Jadi, rata-rata naiknya biaya penerbangan itu kan sekitar Rp 1,3 juta, tapi kan tidak semuanya dikompensasi ke jamaah haji, makanya sebagian ditanggung oleh dana optimalisasi,” katanya.

Ramadhan mengakui, dengan kenaikan BPIH tahun ini, dana optimalisasi yang dimanfaatkan juga akan meningkat. Namun, kata dia, hal itu merupakan upaya pemerintah agar jamaah haji tidak terbebani.

“Memang konsekuensinya ada peningkatan di biaya optimalisasi. Tapi itu upaya untuk kita pertama agar beban kenaikan biaya haji itu tidak semuanya dibebankan oleh jamaah,” ujarnya.

 

IHRAM/REPUBLIKA

Zionis Yahudi Sebenarnya Keturunan Kera dan Babi?

Saking bencinya terhadap zionis Yahudi, terkadang ada yang mengatakan bahwa mereka itu keturunan Babi dan Kera. Benarkah begitu?

Zionis Yahudi juga manusia seperti kita. Berarti mereka juga keturunan nabi Adam dan Hawwa ‘alaihissalam seperti halnya dengan kita.

Sebagian di masa lalu orang yahudi memang pernah dikutuk menjadi kera dan babi, tidak salah sebenarnya. Di dalam Al-Quran ditegaskan hal tersebut.

Ada beberapa surat yang menyinggung hal itu, yakni:

Katakanlah, “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka yang dijadikan kera dan babi dan menyembah thaghut?” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (QS. Al-Maidah: 60)

Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina.”(QS. Al-Baqarah: 65)

Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya, “Jadilah kamu kera yang hina.(QS. Al-A’raf: 66)

Jelas sekali ayat-ayat di atas menyebutkan: sebagian umat yahudi pembangkang dihukum dengan cara yang cukup aneh, yaitu mereka dikutuk menjadi wujud yang berbeda, menjadi kera dan babi.

Sifat hukum tersebut adalah penghinaan dan untuk menjatuhkan mentalitas kaum yang membangkang dari perintah Allah. Jarang sekali ada jenis hukuman semenyeramkan itu.

Namun jika hukuman menjadi kera dan babi, memang cenderung hukuman yang mempunyai sifat psikologis. Artinya di mana martabat si ‘aktor’ dipermalukan di depan khalayak ramai. Ini tak lain disebabkan dosa yang dilakukan sudah kelewat batas.

 

BERSAMA DAKWAH

Akhlak Mulia, Bagian Asasi Dakwah Rasulullah

DEWASA ini, kemaksiatan semakin merajalela bahkan telah menjadi hal yang biasa. Sedangkan kebaikan menjadi hal yang tabu bahkan langka. Lantas apa sebenarnya yang terjadi pada umat ini?

Asy-Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah mengatakan:

“Aku perhatikan, sangat disesalkan bahwa manusia pada hari ini mementingkan sisi pertama, yaitu ilmu, namun tidak mementingkan sisi yang lain, yaitu akhlak dan tata krama.

Apabila dulu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam nyaris membatasi dakwah beliau dalam rangka akhlak yang baik dan mulia, tatkala beliau menyatakannya dengan ungkapan pembatasan dalam sabda beliau:

“Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Sabda beliau itu tidak lain menunjukkan bahwa akhlak yang mulia merupakan bagian asasi (mendasar) dari dakwah Rasulullah.

Pada kenyataannya sejak awal aku memulai menuntut ilmu dan Allah memberi hidayah kepadaku tauhid yang murni, dan aku tahu kondisi kehidupan alam Islami yang jauh dari tuntunan tauhid, ketika itu aku memandang bahwa problem pada alam Islami hanyalah karena mereka jauh dari memahami hakekat makna ‘Laa ilaaha illallah’.

Namun bersama dengan waktu, menjadi jelas bagiku bahwa di sana ada masalah lain di alam Islami ini, tambahan dari masalah asasi yang pertama yaitu jauhnya umat dari tauhid.

Masalah lainnya adalah mayoritas umat tidak berakhlak dengan akhlak Islami yang benar, kecuali dalam jumlah yang terbatas.”

INILAH MOZAIK

Tiga Waktu Penjagaan Allah Bagi Orang Saleh

DALAM bahasa arab, kata saleh berasal dari kata Soluha yang artinya “baik”. Dan menurut istilah, orang saleh adalah orang yang baik dan taat kepada Allah swt.

Saleh adalah derajat yang tinggi di sisi Allah swt. Setiap muslim berkesempatan untuk meraih derajat ini. Menjadi saleh tak harus punya catatan hidup yang bersih dan suci sejak kecil. Siapapun bisa menjadi saleh asal punya kemauan yang kuat untuk meraihnya. Karena Allah swt membuka lebar pintu kembali bagi orang-orang yang ingin memperbaiki hubungan dengan-Nya.

Kemudian Alquran pun memberikan kabar gembira kepada mereka yang ingin memperbaiki hubungannya dengan Allah swt, karena Allah akan menjaganya di beberapa waktu :

1. Allah akan menjaganya di masa hidupnya.
“Dia Melindungi orang-orang saleh.” (QS. Al-Araf: 196)

2. Allah akan menjaga keturunannya.
“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh.” (QS. Al-Kahfi:82)

Bahkan riwayat menyebutkan bahwa keturunan orang saleh dalam ayat ini adalah keturunan generasi ketujuh. Betapa besar pengaruh kesalehan seseorang terhadap anak keturunannya.

3. Pahala yang berlimpah di akhirat.
“Pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan.” (QS. Al-Qashas: 80). Karena itu, mari kita perbaiki hubungan dengan Allah swt. Semoga kita mampu meraih derajat saleh dan mendapatkan penjagaan Allah di setiap waktu.

 

INILAH MOZAIK

Senda Gurau Suami Istri Bikin Awet Muda

TIDAK selamanya amal ibadah itu berat, menguras tenaga apalagi mengorbankan nyawa, karena ternyata ada amalan yang membuat pelakunya awet muda dan tentunya berlimpah pahala.

Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallaam pernah bersabda, “Setiap orang yang melakukan sesuatu yang tidak ada dzikir kepada Allah di dalamnya dinilai sebagai orang yang bermain-main dan melakukan kesia-siaan, kecuali empat orang, yaitu suami istri yang bersenda gurau, seseorang yang merawat kudanya, seseorang yang berjalan di antara dua tujuan, dan seseorang yang mengajari berenang.” (HR An Nasa’i)

Hadits ini menunjukkan kedudukan senda gurau antara suami istri disetarakan dengan ketiga hal lainnya yang merupakan kegiatan mempersiapkan perang atau berjihad di jalan Allah. Bahkan senda gurau ini bernilai ibadah dan tidak termasuk suatu perbuatan yang sia-sia.

Selain itu, senda gurau juga baik untuk kesehatan, seperti mengurangi stress, meningkatkan kekebalan tubuh, melancarkan aliran darah, meningkatkan kepercayaan diri, memperbaiki mood, membakar kalori, dan yang paling menarik yakni menjaga kita dan suami tetap awet muda.

Jadi, masihkah enggan mencandai pasangan kita? Awet muda lagi berpahala.

 

INILAH MOZAIK

 

————————————-
Artikel keislaman di atas bisa Anda nikmati setiap hari melalui smartphone Android Anda. Download aplikasinya, di sini!

Share Artikel ini ke Sahabat dan keluarga Anda lainnya
agar mereka juga mendapatkan manfaat!