Berikut Daftar 19 Jamaah Haji Indonesia yang Wafat dalam Tragedi Mina

Ribuan jamaah berdesak-desakan di Jalan 204, Mina, Arab Saudi, ketika berjalan kaki menuju Jamarat pada Kamis (24/9). Akibatnya, lebih dari 700 jamaah haji meninggal dunia dan 853 jamaah mengalami luka.

Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menyatakan 19 jamaah haji Indonesia meninggal dalam kejadian itu. Lima mukimin atau warga negara Indonesia yang bekerja di Arab Saudi juga dinyatakan wafat. Enam orang juga masih dirawat di rumah sakit karena luka.

Berikut daftar nama korban wafat dan dirawat asal Indonesia seperti seperti dilaporkan wartawan Republika.co.id, Ratna Puspita langsung dari Makkah:

19 Jamaah wafat:
1. Hamid Atwi Tarji Rofia, kloter SUB 48 nomor paspor B1467965;
2. Busyaiyah Syahrel Abdul Gafar, kloter BTH 14 nomor paspor A2708446;
3. Abdul Karim Sumarmi Idris, kloter SUB 48 nomor paspor B1023417;
4. Abdul Halim bin Ali Satina, kloter SUB 48 nomor paspor A4514455;
5. Eti Kusmiati Idit Supriadi, kloter JKS 61 nomor paspor B0932959;
6. Nani Unah Ratnani, kloter JKS 61 nomor paspor B0745299;
7. Mohammad Yuhan Suprianto, kloter JKS 61 nomor paspor A5737138;
8. Koko Koswara Oyong Suwaryo, kloter JKS 61 nomor paspor B0732931;
9. Adryansyah Idris Usman, kloter BTH 14 nomor paspor A3826040;
10. Dede Kurniasih Sulaeman, kloter JKS 61 nomor paspor B0745305;
11. Dadang Barmara Memed, kloter JKS 61 nomor paspor B0214365;
12. Yahman Mistan Meslan, kloter UPG 10 nomor paspor B0693120;
13. Ratna Abdul Gani Muhammad, kloter BDJ 1 nomor paspor A0912791;
14. Susimah Slamet Abdullah, kloter SOC 62 nomor paspor B0874968.
15. Nero Sahi Astro, kloter SUB 48 nomor paspor B1225386;
16. Rochmani Pawiroredjo Karsodikromo, kloter SUB 61 nomor paspor B1045049;
17. Siti Muanifah Zainudin Sahlan, kloter SUB 61 nomor paspor B1469941;
18. Rasno Asyidik Kardan, kloter JKS 61 nomor paspor B0745304;
19. Sri Prabandari Markani, kloter SOC 62 nomor paspor B0875692.

Tiga mukimin wafat ketika berhaji:
1.  Akhmad Jamhuri bin Hisyam, nomor iqomah 2362046928;
2.  Wartoyo Usman Kalib, nomor iqomah 2389005337;
3.  Asdinur Sanuri Hamzah nomor iqomah 2381436951.

Enam orang jamaah haji Indonesia dirawat
1. Zulaiha Alam dari kloter BTH 14 dengan nomor paspor B1306305 saat ini dirawat di RSAS Jizrul Mina.
2. Ubaid bin Komaruddin dari kloter JKS 61 dengan nomor paspor B0745300 saat ini dirawat di RSAS Jizrul Mina.
3. Ending bin Rukanda dari kloter JKS 61 dengan nomor paspor B0745297 saat ini dirawat di RSAS Jizrul Mina.
4. Arninda Idris dari kloter BTH 14 dengan nomor paspor B1307797 saat ini dirawat di RSAS King Abdullah.
5. Fadillah Nurdin dari kloter BTH 14 dengan nomor paspor B1306258 saat ini dirawat Klinik 107 Makkah.
6. Yusniar Abdul Malik dari kloter MES 7 dengan nomor paspor B1060451 saat ini dirawat di RSAS King Fahd Angkatan Bersenjata di Jeddah.

 

 

Redaktur :

  • Angga Indrawan

 

sumber: Republika Online

Satu Keluarga di Yogyakarta Bersyahadat

Satu keluarga di Yogyakarta mengucapkan dua kalimat syahadat. Prosesi syahadat dibimbing Ketua Umum Mualaf Center Indonesia, Steven Indra Wibowo.

Triyono, kepala keluarga tersebut mengaku terlahir dari keluarga besar Kristiani. Selanjutnya, ia dan keluarganya kerap melihat umat Islam shalat menyembah Allah. “Ini yang membuat kami berpikir,” kata dia seperti dikutip dari Mualaf Center Indonesia, Rabu (17/9).

Menurut Triyono, ia dan keluarganya begitu kagum dengan kesadaran umat Islam ketika mendengar seruan adzan segera melangkahkan kaki ke Masjid. “Begitu sejuk di mata kami itulah kesan yg ada, ” kata dia.

Triyono mengungkap, rasa kagum itu kemudian mendorong ia dan keluarganya mempelajari wudhu dan shalat. “Rasa kagum semakin bertambah, apalagi tiada batas pembeda antara umat Islam ketika shalat. Mereka berlomba untuk mendekatkan diri kepada Tuhan mereka,” kata dia.

“Shalat, shalat, dan shalat. Itulah yang sering membayangi kami. Kami pun memutuskan menjadi mualaf,” ucap dia yang kemudian bersyahadat dan berganti nama menjadi Muhammad Triyono.

Ini Kronologi Tragedi Mina

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kejadian kecelakaan di Mina terjadi di jalan menuju tempat lontar jumrah di antara tenda-tenda di Mina. Awal kejadian karena ada sekelompok jamaah yang tiba-tiba berhenti sehingga terjadi penumpukan dan desak desakan.

“Kejadian terjadi sekitar pukul 7.00 pagi waktu setempat,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Arrmanatha Nasir dalam siaran pers, Kamis (24/9).

Dia menyebut jalur ini bukan merupakan jalur yang digunakan oleh jamaah asal Indonesia untuk menuju lontar jumrah. Sebagian besar korban adalah jamaah dari Mesir dan Afrika. “Sampai saat ini telah di cek ke rumah sakit Minah dan belum ditemukan WNI jadi Korban,” kata dia.

Konsulat jenderal RI Jeddah dan KUAI Riyadh ada di lokasi dan akan bantu cek ke rumah sakit Mina untuk mengetahui ada tidaknya korban WNI.

Redaktur : Bilal Ramadhan
Reporter : Qommarria Rostanti

Para Penikmat Tahajud

OLEH: ustaz Arifin Ilham

Semoga tidak pernah ada kata bosan untuk selalu saling mengingatkan. Ada kenikmatan yang tak terkatakan dalam setiap Tahajud kita. “Sesungguhnya bangun tengah malam lebih tepat untuk khusyuk dan bacaan kala itu sungguh sangat berkesan mendalam.” (QS al-Muzammil: 6).

Dengan tadabur dan dibaca pelan, inilah sungguh keistimewaan shalat Tahajud. Tahajud adalah syariat Allah, sebuah upaya meraih cinta dan rahmat-Nya. Tahajud adalah sunah utama Rasulullah, sebuah ikhtiar untuk meraih syafaat Rasulullah.Penikmat Tahajud akan dicintai, dikagumi, didoakan, dan diaminkan doanya oleh para malaikat.

Allah tuntun mencapai “maqooman mahumuudan”, kedudukan mulia di sisi-Nya, juga di hadapan makhluk-Nya.Tahajud adalah shalat yang paling nikmat dan mengesankan. Hidup damai, tenang, dan sangat bahagia. Ada aura “haibah” penuh wibawa dan karismatik. Penikmat Tahajud pada akhirnya dalam skrip tulisan-Nya akan terunduh cinta dan sayang dari hamba-hamba-Nya yang beriman.

Disegani manusia dan ditakuti musuh, manusia, dan jin.Orang yang bersenyap dalam Tahajud akan memiliki “qoulan tsaqiilan”, bicaranya didengar dan nasihatnya membangkitkan semangat ibadah dan amal saleh. Doanya sangat mustajab. Kunci sukses ikhtiar, berdagang, dan semua aktivitas.

Allah juga akan memuliakan para penikmat Tahajud dengan “wujuuhun nuuri”, wajah yang bercahaya, nyaman, dan menyenangkan jika ditatap. “Thiiban nafsi”, nafsunya hanya semangat dalam ketaatan dan berakhlak mulia. Ia juga adalah “manhaatun anil itsmi”, Allah cabut keinginannya pada maksiat.Tahajud adalah “daf’ul bala”, sebuah upaya untuk menolak bala bencana.

Kalau terjadi, membawa hikmah besar. Sehat, segar, kuat, cerdas, obat jasmani ruhani, dan obat antipikun Kepastian akan didapat bagi mereka yang istiqamah Tahajud. Di antaranya membuka jalan rezeki, kemudahan urusan, dan kebahagiaan rumah tangga. Berbuah belas kasih, dermawan, dan rendah hati. Saat kondisinya sakaratul maut, insya Allah husnul khatimah.

Kuburnya “Rowdoh min riyaadhil jinaani”, taman surga. “Miftaahul jannati” meraih kunci surga.”Hamba-hamba Allah yang beriman itu sedikit sekali rehatnya di waktu malam. Dan, selalu memohon ampunan Allah pada waktu pagi sebelum fajar.” (QS adz-Dzariyat: 17-18). Semoga dengan cara-Nya ternikmati shalat Tahajud kita. Amiin.

 

sumber: Republika Online

Hina Dina yang Mulia

Alkisah, ada seorang lelaki dari kaum Bani Israil yang dijuluki Khali’, orang yang gemar berbuat maksiat besar. Suatu ketika ia bertemu dengan seorang ‘abid dari kaum Bani Israil, orang yang ahli berbuat ketaatan dan di atas kepalanya terdapat payung mika.

Kemudian Khali’ bergumam, “Aku adalah pendosa yang gemar berbuat maksiat, sedangkan dia adalah ‘abid-nya kaum Bani Israil, lebih baik aku bersanding duduk dengannya, semoga Allah memberi rahmat kepadaku.”

Lalu si Khali’ tadi duduk di dekat si ‘abid. Lantas si ‘abid pun bergumam, “aku adalah seorang ‘abid yang alim, sedangkan dia adalah khali’ yang gemar bermaksiat, layakkah aku duduk berdampingan dengannya?”  Tiba-tiba saja si ‘abid menghujat dan menendang si khali’ hingga terjatuh dari tempat duduknya.

Lalu Allah memberikan wahyu kepada Nabi Bani Israil dengan firmannya, “Perintahkan dua orang ini yakni ‘abid dan khali’ untuk sama-sama memperbanyak amal, Aku benar-benar telah mengampuni dosa-dosa khali’, dan menghapus semua amal ibadah ‘abid.” Maka, berpindahlah payung mika yang dikenakan ‘abid tersebut kepada khali’.

Kisah itu sejatinya menjadi cambuk bagi kita. Seringkali kita merasa bangga dengan ibadah dan amal saleh yang telah dikerjakan. Namun itu menjadi sia-sia karena dengan kebanggaan itu lantas menghujat dan menghakimi orang lain.

Syekh Ibnu Athaillah dalam Kitab al-Hikam menegaskan bahwa, “Maksiat yang melahirkan rasa hina pada dirimu hingga engkau menjadi butuh kepada Allah, itu lebih baik daripada taat yang menimbulkan perasaan mulia dan sombong atau membanggakan dirimu.”

Dengan kata lain, hina dan butuh kepada Allah keduanya adalah sifat orang yang menghamba. Adapun mulia dan agung adalah sifat Tuhan, sehingga tidak ada kebaikan bagi seorang hamba yang taat tapi menimbulkan perasaan mulia dan agung, sebab keduanya adalah sifat Tuhan.

Tawadhu-nya orang yang berbuat maksiat dan perasaan hina dan takut kepada Allah, itu lebih utama daripada takabbur-nya orang alim atau orang yang ‘abid. Ibnu Athaillah membesarkan hati orang yang telah berbuat dosa agar tidak putus asa terhadap ampunan Allah.

Bahkan orang yang berdosa namun bertobat dengan penuh rasa hina dina dihadapan Allah itu dinilai lebih baik, dibanding orang yang ahli ibadah yang merasa paling hebat, suci, mulia dan sombong dengan ibadahnya.  Rasulullah bersabda,  “Jikalau kalian tak pernah berbuat dosa, niscaya yang paling saya takutkan pada kalian adalah yang lebih dahsyat lagi, yaitu ‘ujub (kagum pada diri sendiri).” (HR Imam Ahmad)

Sifat hina dina adalah wujud kehambaan kita. Manusia akan sulit mengakui kehambaannya manakala ia merasa lebih mulia, sombong, ujub, hebat dibanding yang lainnya. Wallahu ‘alam

 

sumber: Republika Online

Musibah Crane Jatuh, Pesan dari Allah

Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas menilai peristiwa hujan badai di kompleks Masjidil Haram, Makkah, Jumat (11/9) kemarin hingga menewaskan sekitar 107 jamaah calon haji sebagai sebuah peringatan dari Allah SWT.

“Peristiwa itu bisa sebagai peringatan bagi umat Islam sedunia karena itulah tempat berkumpul Muslim dari seluruh dunia,” ujarnya kepadaRepublika.co.id, Sabtu (12/9).

Yunahar mengatakan, peristiwa tersebut mengandung peringatan dan pesan bagi umat Muslim di seluruh dunia yang sedang dilanda perpecahan, khususnya di Timur Tengah.

“Secara garis umum, umat Islam semakin menjauh dari ajaran Alquran dan Nabi Muhammad SAW. Apalagi dari sisi persatuan umat, khususnya di Timur Tengah banyak pembunuhan,” ucapnya.

Meski mengandung makna mendalam, Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia tersebut merasa umat Islam harus hati-hati menyikapinya. Sebab, ada saja yang menganggap peristiwa itu sebagai azab.

“Di zaman Nabi Muhammad, bisa tahu itu peristiwa azab atau bukan. Tapi, kalau kita kan tidak tahu itu bisa ditafsirkan peristiwa alam biasa atau bukan,” ujarnya.

Ia merasa daripada dianggap sebagai azab, sebaiknya umat Muslim menganggapnya sebagai peringatan keras. Hal itu supaya umat Muslim kembali bertaubat kepada Allah.

“Tapi, sebagai umat Islam kita bisa ambil makna dari kejadian itu sebagai peringatan keras untuk kembali ke ajaran Allah, jika tidak bisa saja ada azab,” katanya.

Rahasia Perintah Sujud

Subhanallah walhamdulillah diantara rahasia perintah sujud dan ruku’. Simaklah Kalam Allah dengga iman : “Wahai hamba hamba yg beriman! Ruku’lah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung” (QS AL-Hajj 77). “…Bersujudlah dan mendekatlah kepada Allah (QS Al Alaq 19).

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya apabila seseorang hamba berdiri untuk shalat maka diletakkan semua dosa-dosanya di atas kepala dan kedua bahunya. Setiap kali, ia ruku’ atau sujud berjatuhanlah dosa-dosanya itu” (HR At-Tabrani).

Rasulullah bersabda, “Apabila imam bangun dari ruku’ serta membaca doa, maka hendaklah kamu membaca ‘Allahuma Rabbana lakal hamdu’ karena siapa yang bersamaan bacaannya dg bacaan Malaikat, niscaya diampunkan dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah bersabda, “Sedekat-dekatnya seorang hamba kepada Tuhannya ialah ketika dia sedang bersujud, karena itu perbanyaklah doa” (HR Muslim).

Jangan pernah mempercepat sujud ruku’ lagi, jangan menganggap biasa lagi sujud, ruku’ itu, hayatilah, nikmatilah, rasakanlah saat saat sujud ruku’ itu, kita sedang berhadapan dg serba Maha, Yang Menguasai, Yang Mengatur, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Yang Menatap, dan Yang Mendengar kita saat saat sujud ruku’ dihadapanNya.

Ridha, rahmat, ampunan dan berkahNya, ia kucurkan saat saat sujud ruku’ dihadapanNya, Allahu Akbar.
Allahumma ya Allah terimalah sujud ruku’ kami…aamiin.

 

 

Sumber: Akun Facebook Ustaz Arifin Ilham/Republika Online

Update: Jumlah Korban Tewas Tragedi Mina Capai 717 orang

Jumlah korban tewas dalam tragedi Mina, Arab Saudi, Kamis (24/9/2015) bertambah, Setidaknya ada 717 jemaah tewas dalam tragedi tersebut. Pemerintah Saudi mengatakan, bencana ini merupakan yang terburuk sepanjang 25 tahun terakhir.

“717 jemaah tewas, dan 805 lainnya luka-luka dalam himpitan di Mina, beberapa kilometer Timur Mekah, disebabkan oleh dua kelompok besar peziarah tiba bersama-sama di persimpangan jalan,” tulis Reuters seperti dikutip Metrotvnews.com, Kamis (24/9/2015).

Kapushumas Kemenag, Rudi Urip Subiyantoro, mengatakan kebanyakan korban yang tewas berasal dari Mesir dan Afrika. “Korban-korbannya orang Mesir dan Afrika,” kata Rudi Urip Subiyantoro, Kapushumas Kemenag, dalam keterangannya, Kamis (24/9/2015).

Insiden itu, kata dia, terjadi sekitar pukul 07. 05 waktu setempat. Jam tersebut, kata dia, bukan jadwal lempar jumrah jamaah Indonesia.

“Menurut info dari Direktorat Luar Negeri, jam tersebut belum jam jadwal lempar jumrah Jamaah Indonesia,” jelas dia.

Identitas maupun kewarganegaraan korban tewas dan luka belum diketahui. “Info awal adanya desak-desakan di terowongan yang menuju ke area lontar jumrah,” ucap juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir kepadaMetrotvnews.com.

“Tim dari KJRI Jeddah sudah menuju ke lokasi, untuk mencari informasi dan koordinasi dengan otoritas setempat mengenai ada tidaknya WNI yang jadi korban,” sambung dia.

 

sumber:  MetroTVNews

Menag Konfirmasi tiga Jamaah Indonesia Wafat dalam Insiden Mina

Seperti Dilaporkan Wartawan Republika Ratna Puspita Langsung dari Makkah

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengkonfirmasi identitas dua jamaah Indonesia yang menjadi korban insiden di Jalan 204, Mina, Arab Saudi. Dua korban meninggal itu terdiri dari seorang berjenis kelamin perempuan dan seorang laki-laki.

‎”Saya baru saja dari RS Mina Al Jisr. Benar pukul 7.30 WAS telah terjadi peristiwa jamaah berdesak-desakan sehingga menyebabkan korban jiwa cukup besar, jumlah ratusan,” kata dia, Kamis (24/9).

Lukman mengkonfirmasi identitas dua jamaah asal Indonesia yang meninggal ‎karena peristiwa di Jalan 204 itu. Dia menduga keduanya tersasar atau tidak tahu jalan karena akses tersebut diperuntukkan bagi jamaah haji dari Mesir, Afrika, dan Asia Selatan.

Berdasarkan informasi dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, dua jamaah yang meninggal, yaitu Hamid Atwi Tarji Rofia (51 tahun) dan Busyaiyah Sahel Abdul Gafar (50 tahun).

Hamid berjenis kelamin laki-laki dan berasal Kelompok terbang (Kloter) Surabaya (SUB) 48 yang tinggal di tenda Maktab 2. Sedangkan Busyaiyah ‎yang berasal dari Kloter Batam (BTH) 14 yang tinggal di Maktab 1. Kedua maktab ini terletak di Mina Jadid.

Lukman menambahkan ‎ada satu korban yang juga wafat, namun identitasnya masih ditelusuri. Jamaah korban wafat itu tidak menggunakan identitas. “Tidak ada identitas, tapi menggunakan pakaian jamaah haji indonesia,” kata dia.

 

Redaktur : Angga Indrawan

Khair al-Usrah

Oleh: Ustaz H Hasan Basri Tanjung, MA

Pendidikan dalam Islam bukan hanya dimulai dari anak usia dini, tetapi selagi masih dalam kandungan, bahkan sewaktu memilih pasangan hidup pun telah berproses hingga akhir hayat.

Proses pembelajaran anak  ditopang  oleh  empat pilar pendidikan yakni : Pertama; al-madrasah al-uula (sekolah pertama dan utama), yakni keluarga. Kedua; al-madrasah al-tsaaniah (sekolah kedua) yakni lembaga pendidikan formal (sekolah).

Ketiga; al-madrasah al-tsaalitsah (sekolah ketiga) yakni lembaga-lembaga sosial, pemerintah, tokoh agama dan masyarakat, politisi, artis. Keempat; al-madrasah al-raabi’ah (sekolah keempat) yakni media massa dalam segala jenisnya.

Pilar paling penting dalam pendidikan adalah lembaga keluarga (usrah). Oleh karena itulah agama menekankan pentingnya menata keluarga yang utuh dan kuat agar menjadi keluarga terbaik (khair al-usrah).

Khair al-usrah hanya mungkin terbentuk jika ayah dan ibu juga pribadi-pribadi terbaik (khair al-bariyyah, [QS.98:7-8]).

Dua insan terbaik itulah berpadu dalam ikatan cinta yang berakar pada tauhid, berbatang dahan pada syariat, berdaun dan berbuah pada akhlak (adab). Kedua orang tualah yang akan menjadi pemimpin sekaligus Guru kehidupan bagi anak-anak.

Allah SWT memberikan otoritas kepada orang tua membentuk anak sesuai kemauannya. “Setiap anak itu dilahirkan fitrah (suci, bersih). Lalu, kedua orang tua yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari Muslim).

Jangan sampai salah asuh, salah didik, salah sekolah dan salah teman. Bibit yang unggul sekali pun, jika ditanam di atas tanah gersang, tak disirami air dan pupuk, tak dijaga dan dirawat, akan tumbuh kerdil. Kewajiban orang tua menjaganya dari segala petaka dan derita (neraka), baik duniawi maupun ukhrawi (QS.66:6)

Anak itu juga dipengaruh oleh lingkungan. Jika temannya baik ia ikut baik. Jika temannya buruk, ia pun ikut buruk. Tidak sedikit yang terjerat narkoba, tawuran, pornografi, seks bebas, dan kekerasan seksual, karena pengaruh teman.

Kekerasan seksual terhadap 20 anak di bawah umur di Jakarta Utara pekan lalu harus jadi i’tibar. Pelakunya ternyata pernah menjadi korban sodomi. Nabi SAW.  mengingatkan; “al-mar`u ‘ala diini khaliilhi, fa al-yandzuru ahadukum man yukhaalil” Artinya, seseorang itu akan mengikuti agama temannya, maka hendaklah memperhatikan siapa teman bergaulnya. (HR. Abu Daud).

Setiap musim Haji dan Hari Raya Idul Adha, kita selalu diingatkan pada napak tilas keluarga Nabi Ibrahim as (QS.3:33). Khalilullah yang berjuang mencari Tuhan ini (QS.6:75-79) adalah nenek moyang Nabi Muhammad SAW dari anaknya Ismail as. dan Nabi-Nabi Bani Israil dari anaknya Ishak as.

Keluarga Nabi Ibrahim as adalah model keluarga yang dibangun dalam bingkai tauhid dan kecintaan kepada Allah SWT. Figur ayah dan ibu (Siti Hajar) yang beriman, sabar dan tawakkal, telah melahirkan anak yang saleh dan sabar pula, yakni Nabi Ismail As. (QS,37:100-102).

Itulah peran seorang pendidik sejati dalam menanamkan akidah tauhid, syariat dan berbakti kepada orang tua dan mencintai sesama manusia (akhlak karimah).

Ibrahim as. pun mewasiatkan Islam kepada anak turunannya (QS.2:130133). Hatta, keluarga Ibrahim as  disandingkan dengan kemuliaan keluarga Nabi Muhammad SAW dalam shalawat Nabi.

Sejatinya, orang tua bekerja keras mencai nafkah untuk membangun keluarga berkualitas dalam iman, ilmu, amal dan adab (khair al usrah). Nabi SAW berpesan, “khairukum khairukum li ahlihi, wa anaa khairukum li ahlii Artinya, sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Aku adalah orang terbaik diantara kalian terhadap keluargaku. (HR. At-Tirmidzi).

Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, dalam sebuah tulisan Refleksi diRepublika (7/6/2015), menekankan perlunya keluarga dikokohkan dengan Al-Quran.

Keluarga bukan sekadar tempat berkumpulnya orang-orang yang terikat pernikahan maupun keturunan, tetapi mempunyai fungsi yang luas termasuk internalisasi nilai-nilai positif.

Keluarga adalah pondasi masyarakat dan negara.  Kalau begitu, back to family (kembali kepada keluarga), agar rumah kita menjadi surga duniawi (baitii jannatii). Insya Allah. Allahu a’lam bish-shawab.

 

sumber: Republika Online