Yuk Biasakan Anak Perempuan Berhijab dari Kecil

BERDASARKAN firman Allah Ta’ala dalam QS. An-Nur ayat 31, yang artinya:

“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) tampak daripadanya.”

Juga dalam QS. Al-Ahzab ayat 59 yang artinya:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka menjulurkan khimarnya (jilbab) ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

“Ada dua macam golongan penghuni neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya: Sekelompok laki-laki yang menggenggam cambuk seperti ekor sapi, mereka mencambuk manusia dengannya. Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang dan berlenggak lenggok. Di kepalanya ada sesuatu seperti punuk unta. Mereka itu tidak akan masuk surga dan tidak juga mencium baunya surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak yang sangat jauh.” (HR. Muslim)

Perintah hijab diwajibkan bagi wanita yang sudah akil baligh, akil baligh pada anak perempuan ditandai dengan keluarnya darah haid. Tetapi alangkah baiknya pembiasaan menggunakan hijab sejak maka kanak-kanak agar ketika kewajiban telah sampai kepadanya, yaitu telah akil baligh maka berhijab akan menjadi kebiasaan yang mudah untuk dilakukan.

Banyak anak perempuan sudah akil baligh pada umur 11 tahun bahkan banyak juga pada umur 10 tahun, jadi umur 11 tahun sudah berkewajiban untuk menggunakan hijab keluar rumah, tidak hanya keluar rumah tetapi berhijab dari orang-orang yang bukan mahram kita, misalnya saudara sepupu.

[Ustadzah Novria]

 

 

Mengenal Lebih Dekat Anggota Kongres AS Perempuan Berhijab

Pekan lalu menjadi momen tak terlupakan bagi Ilhan Omar. Muslimah keturunan Somalia itu terpilih menjadi anggota Kongres Amerika Serikat dari distrik kelima, Minnesota. Terpilihnya Omar menorehkan sebuah sejarah baru, Dia menjadi anggota DPR AS perempuan pertama yang berhijab.

“Kita memulai kampanye ini untuk membuktikan bahwa kita telah siap dan ingin memperjuangkan bahwa Amerika milik kita semua. Untuk setiap anggota staf, sukarelawan, dan pemilih, kemenangan ini milik kita semua. Bersama-sama, kita akan menggerakkan distrik, negara, dan bangsa kita ke depan,” ujar Omar dalam unggahan Twitter-nya seusai pengumuman kemenangannya dilakukan.

Omar lahir di Somalia, 4 Oktober 1981. Bersama keluarganya, Omar melarikan diri dari perang saudara di tanah kelahirannya. Ia bahkan, sempat menghabiskan masa kecilnya selama empat tahun di Kamp Utango, dekat kota pesisir Kenya Mombasa.

Sebelumnya, Omar pernah tinggal di kamp Dadaab yang luas. Saat itu kamp dibuka untuk menerima pengungsi perang sipil. Ketika kemenangan Omar diumumkan, penduduk Dadaab pun ikut merayakannya. Banyak di antara warga Dadaab mengingat Omar pernah tinggal di sana 30 tahun yang lalu.

Dilansir dari The Guardian, Omar pernah menceritakan penerbangannya dari Somalia. Saat itu para anggota milisi bersiap menyerang rumahnya di Mogadishu pada tengah malam. Kerabat perempuannya yang lebih tua pun meyakinkan mereka untuk pergi dan meninggalkan keluarga ini dengan damai.

Seusai kejadian itu, Omar bersama keluarganya pun pergi meninggalkan rumah tersebut. Omar masih bisa mengingat per nah melalui jalanan yang dipenuhi puing-puing dan mayat. Kamp Utango yang menjadi tempat tinggal ia dan keluarganya berada di lokasi yang terisolasi. Sanitasinya pun terbatas. Omar bahkan harus mengumpulkan kayu bakar dan air untuk keluarganya.

Keluarga Omar termasuk yang pertama masuk ke kamp tersebut saat pertama kali dibuka. Kamp ini ditutup pada 1996. Omar mengaku kerap merasa iri melihat anak-anak seusianya pergi ke sekolah dan menggunakan seragam. Ia juga sering bertanya kepada sang ayah apakah ia bisa melanjutkan pendidikannya.

“Kondisinya sangat terisolasi, seperti di hutan. Banyak yang meninggal karena malaria,” ujar dia.

Ketika ia berusia 12 tahun, ia dan keluarga pun pergi menuju AS. Saat itulah ia pindah ke Kamp Dadaab. Lokasi ini telah berkembang lebih pesat. Saat itu, Kamp Dadaab dihuni 250 ribu penduduk. Namun, kehidupan di sana pun lebih keras dan kacau.

Selalu ada kedatangan dan kepergian penduduknya. Omar bersama enam saudara-saudarinya akhirnya pindah dan menetap di lingkungan Cedar-Riverside di Minneapolis pada 1997.

Ketertarikan Omar pada dunia politik dimulai ketika ia berusia 14 tahun. Saat itu ia menjadi penerjemah untuk kakeknya di partai Democratic-Farmer-Labor (DFL) lokal. Ia melihat para tetangga berkumpul untuk melakukan advokasi mengenai perubahan di tingkat akar rumput. Proses ini membuat Omar jatuh cinta pada proses demokrasi.

Saat menjadi siswi di Edison High School di Minneapolis, ia telah menjadi pengurus dan membentuk koalisi. Ia juga bekerja sebagai pendidik masyarakat saat menjadi mahasiswi di Universitas Minnesota dan menjadi aktivis progresif dalam partai petani di Minnesota atau DFL selama bertahun-tahun.

Sebelum maju dan mencalonkan diri sebagai anggota kongres, ia memiliki jabatan sebagai Anggota Kebijakan Humphrey dan bertugas sebagai Pembantu Kebijakan senior untuk Anggota Dewan Kota Minneapolis. Ia banyak bekerja dan berfokus pada beberapa masalah, seperti akses pendidikan, perlindungan terhadap lingkungan, dan kesetaraan ras.

Pada 2016, Omar menjadi legislator Muslim Somalia-Amerika pertama di Amerika Serikat. Ber sama tim kampanye, ia berhasil meningkatkan jumlah pemilih sebesar 37 persen. Ia terpilih mewakili distrik 60B Minnesota House of Representatives, tempat ia tinggal bersama suaminya, Ahmed, dan tiga anak mereka.

Dikutip di situs resmi Ilhan Omar, tertulis berbagai pengalaman organisasi yang telah ia lakukan. Di antaranya, mantan anggota Dewan Penasihat untuk Anggota Dewan Minnesota ten tang Hubungan Islam Amerika (CAIR), mantan wakil presiden Minneapolis NAACP, Anggota Dewan St Anthony Falls Heritage Board, dan Koordinator Pen jangkauan Gizi Anak pada Departemen Pendidikan Minnesota.

“Aku rasa tugasku saat ini adalah untuk menanamkan harapan pada orang-orang sehingga mereka punya kekuatan untuk terus berjuang dan percaya bahwa ada kesempatan untuknya. Untuk pertama kalinya betul-betul berbicara tentang bagaimana bangsa dan negara yang harusnya ada dan layak kita dapatkan,” ujar dia.

Miftahul Jannah, Kaulah Juara “Bela Diri” Sesungguhnya!

Perempuan difabel ini sempat menangis. Sesaat setelah dilarang mengenakan hijab.

Miftahul Jannah, nama perempuan itu. Ia enggan mengikuti instruksi wasit agar bertanding tanpa penutup kepala. Penggunaan hijab dinilai panitia melanggar aturan keselamatan olahraga para judo.

Miftah mengambil keputusan “jantan”. Ia memilih mundur dan akhirnya, dia diskualifikasi.

Gadis Aceh itu dianggap kalah dan lawan tandingnya wakil Mongolia, Oyun Gantulga berhasil jadi pahlawan di balik hijab.

Meski ada desas-desus peraturan bahwa memang “diperbolehkan” menggunakan hijab tapi harus berupa “turban”, hanya menutup kepala tapi leher masih jelas tampak.

Produsen pakaian olahraga Nike sendiri pernah mengeluarkan produk serupa turban. Namun produk tersebut dikecam habis-habisan oleh kaum feminis.

Miftahul Jannah bukan yang pertama. Aulia, siswi SMPIT Harapan Umat, Ngawi, Jawa Timur, memilih mengundurkan diri dari kejuaraan karate se-Jawa Timur. Setali tiga uang, ia tak mau melepas dan mengganti jilbabnya.

Kembali ke Miftah. Jika memang dilarang mengapa sedari awal panitia pada saat technical meeting tidak memberi tahu bahwa ia dilarang melapang di laga judo?

Miftahul Jannah. Barangkali dia seperti namanya; kunci surga. Keputusannya mudah-mudahan menjadi jalan menuju surga.

Ia telah berhasil bertanding dengan diri sendiri dan menaklukkan diri dengan keputusan-keputusan yang tak ringan.

“Saya bangga karena sudah bisa melawan diri sendiri, melawan ego sendiri. Saya punya prinsip tak mau dipandang terbaik di mata dunia, tapi di mata Allah,” tuturnya.

Miftah, kaulah juara bela diri itu!

 

BersamaDakwah

Saat Abaya dan Hijab tak Lagi Wajib di Saudi

Selama ini Arab Saudi banyak digambarkan sebagai sistem kehidupan yang konservatif. Perempuan hanya boleh di rumah, musik dan film diharamkan, tidak boleh mengkritik pemerintah, dan sebagainya. Sekarang kondisinya berubah. Transformasi sosial sedang berjalan di banyak aspek kehidupan. Berikut bagian terakhir serial catatan perjalanan wartawan RepublikaIrfan Junaidi menyaksikan perubahan tersebut.

Perubahan besar yang tengah dijalankan Arab Saudi tak hanya cukup dirasakan masyarakat setempat. Warna baru kehidupan di Arab Saudi yang diarahkan lebih terbuka dan moderat juga terus digaungkan kepada dunia.

Putra Mahkota Saudi Pangeran Muhammad bin Salman, misalnya, berpendapat wanita di Arab Saudi tidak perlu memakai penutup kepala atau abaya hitam. “Keputusan sepenuhnya diserahkan kepada wanita untuk memutuskan jenis pakaian apa yang layak dan sopan yang dia pilih untuk dipakai,” ujarnya dalam wawancara dengan saluran televisi CBS,Ahad (18/3).

Pemerintah Arab Saudi juga mendesain serangkaian program komunikasi internasional untuk mengenalkan warna baru Arab Saudi. Kementerian Informasi dan Kebudayaan memegang peranan penting menyampaikan pesan moderasi Arab Saudi ini. Saudi TV menjadi salah satu elemen penting untuk meneruskan pesan. Menurut Vice President Engineering Department Saudi TVSamir Asiri, selain saluran budaya, pihaknya juga sedang menyiapkan saluran khusus berita.

Upaya peningkatan infrastruktur Saudi TV pun terus dijalankan. “Kami menjangkau jutaan penonton di seluruh dunia,” kata Samir. Pihaknya mengaku berupaya menyajikan berita seluas-luasnya, terutama yang terkait dengan berbagai perubahan di Arab Saudi. Dia memastikan, semua upaya peningkatan Saudi TV ini didukung penuh oleh Kerajaan Arab Saudi.

Kementerian Informasi dan Kebudayaan Arab Saudi juga akan menggiatkan kerja sama dengan media-media di negara lain. Wakil Menteri Informasi untuk Urusan Hubungan dengan Media Internasional Khalid AA Al Ghamdi mengungkapkan, pihaknya sangat antusias membangun jaringan dengan berbagai media yang punya visi sama.

Pihaknya pun menghendaki adanya pertukaran pengalaman antara media di Arab Saudi dan media-media di belahan dunia lain. Selain mengundang berbagai awak media, kata Khalid, Kementerian Informasi juga akan mengirimkan awak medianya ke berbagai media di negara lain yang menjadi mitranya.

Dengan program-program tersebut, pihaknya berharap terjadi pertukaran informasi. Yang lebih penting lagi, dia berharap semua perkembangan yang terjadi di Arab Saudi bisa disebarkan kepada seluruh masyarakat dunia. Kami akan senantiasa melaporkan perkembangan soal kerja sama media ini kepada menteri, tutur dia.

Khusus untuk menyebarkan berbagai informasi kepada media-media di seluruh dunia, Kementerian Informasi Arab Saudi juga telah mendorong berdirinya dua pusat informasi. Satu pusat bernama Center for International Communication (CIC) dan satu lagi Islamic Communication Center (ICC). Kedua pusat ini memiliki peran yang serupa tetapi tak sama.

CIC berperan penting menyam paikan seluruh perkembangan penting di Arab Saudi kepada media-media internasional. Secara sederhana, CIC ini seperti juru bicara Arab Saudi kepada media internasional. Selain mengirimkan berita- berita yang sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, CIC juga membantu media internasional untuk mengakses sumber-sumber berita yang diperlukan.

Sedangkan, ICC berfungsi untuk menyebarkan berbagai informasi yang terkait dengan perkembangan di Arab Saudi kepada dunia Islam. Presiden ICC Faheem H Alhamid mengungkapkan, ICC memiliki tugas menyampaikan pandangan yang benar tentang perkembangan terbaru di Arab Saudi.

“Kita juga mengeliminasi hate speech serta menghadirkan jiwa Islam yang besar,” ujar dia.

Arab Saudi dikatakannya merupakan titik perhatian bagi dunia Islam. Karena itu, pihaknya perlu sekali menyampaikan hal yang sebenarnya terjadi di Arab Saudi. “Tidak perlu mengurangi dan tidak perlu melebih-lebihkan,” Faheem menambahkan.

Untuk menggodok dan menyebarkan informasi perkembangan Arab Saudi, ICC dan CIC bekerja layaknya sebuah dapur media massa. Keduanya memiliki newsroom dengan tim yang siap menjangkau berbagai platform media. Selain mendistribusikan informasi, tim ICC maupun CIC juga menjalankan pemantauan informasi di semua platform, termasuk informasi yang berkembang di media sosial.

Begitu muncul informasi yang perlu sekali mendapatkan pelurusan, tim akan bergerak cepat. Mereka segera mendistribusikan informasi yang bisa meluruskan informasi sebelumnya. Tim ini juga menyediakan dirinya sebagai pintu bagi media-media asing yang ingin menjangkau sumber-sumber penting informasi di Arab Saudi.

Diseminasi informasi tentang perkembangan Arab Saudi yang digarap secara sangat serius sepenuhnya bertujuan membuat citra baru tentang negara tersebut. Dengan upaya ini, Saudi ingin menampilkan dirinya lebih moderat dan ramah terhadap budaya modern. Arab yang konservatif akan dijadikan sebagai sejarah masa lalu.

 

REPUBLIKA

Hijab Bukan Penyebab Kemunduran

Hijab bukan berarti melepaskan kepercayaan diri perempuan, tetapi merupakan suatu jalan menuju penjagaan yang wajib bagi mereka, berupa kehormatan dan rasa malu.

 

SEBAGIAN orang bodoh mengira bahwa hijab merupakan suatu pengekang bagi perempuan, dan aturan berat serta tradisi kuno yang menjadi sebab kemunduran, sebagaimana dikeluhkan oleh para pemikir Islam. Mereka juga mengira bahwa hijab menjauhkan perempuan dan mengasingkannya dari dunia serta mengurangi kehormatan dan kepribadiannya.

Di antara pengakuan dan klaim itu telah melahirkan bencana, sehingga banyak orang yang hanyut di belakangnya, walau banyak pula orang yang dijaga Allah. Namun banyak pula orang yang ragu dan bingung.

Namun, pada kenyataannya, Islamlah yang membebaskan perempuan, dan Islamlah yang memiliki keutamaan yang sangat agung dan harapan yang sangat besar. Karena perempuan pada masa jahiliyah berada dalam kemiskinan, kerendahan dan kehinaan; orang-orang memperlakukan perempuan seperti binatang yang tidak memiliki hak dalam kehidupan dan tidak pula memiliki kehormatan.

Mereka menjadikan perempuan sebagai warisan sebagaimana barang, di mana satu sama lain saling mewarisi dan memperjual-belikannya di pasar-pasar. Islam menyebutnya sebagai kekejian dan perbuatan setan.

Mereka juga mengharamkan bagi perempuan segala sesuatu selain mengurus rumah dan mendidik anak. Sementara dalam ajaran agama Hindu, segala bencana, kematian, neraka jahanam, racun, ular dan api adalah lebih baik daripada perempuan, karena ia merupakan kekejian yang seharusnya tidak memakan daging dan tidak tertawa, bahkan tidak boleh berbicara. Lalu mereka menimpakan hukuman yang banyak kepadanya, baik jasmani maupun ruhani, karena ia dianggap sebagai alat godaan yang dimanfaatkan setan untuk merusak hati.

Di Prancis, para ilmuwan telah mengadakan seminar pada abad ke-6 Masehi untuk membahas apakah perempuan itu seorang manusia atau bukan? Lalu mereka sepakat bahwa perempuan adalah seorang manusia, tetapi hanya diciptakan untuk melayani laki-laki.

Sedangkan di Inggris, Raja Henry VIII telah mengeluarkan suatu perintah tentang pelarangan membaca kitab suci bagi wanita dan ia tidak diakui sebagai penghuni rumah sehingga tidak memiliki hak dalam kekuasaan, pakaian, dan harta yang diusahakannya sendiri dengan keringatnya.

Hanya Islamlah yang telah mengangkat perempuan dari tindakan sewenang-wenang dan kezaliman, dan mengangkatnya kepada kedudukan yang tinggi yang tidak pernah dicapai pada akhir perkembangan peradaban. Islamlah yang menginformasikan bahwa perempuan adalah salah satu unsur yang darinya manusia menjadi banyak dan menjadikan hal itu sebagai suatu nikmat dan harapan, seperti firman-Nya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembangkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS 4: 1).

Islamlah yang menginformasikan dan menetapkan bahwa perempuan memiliki hak untuk mengajak kepada kebenaran dan mencegah dari kemungkaran (al-amr bi al-ma`ruf wa annahy `an al-munkar) dalam batasannya yang khusus, dan untuk melakukan segala amal saleh, seperti firman-Nya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS 9: 71).

Islamlah yang memerintahkan berbuat baik kepada istri-istri, menyampaikan kebaikan kepadanya, menolongnya dari tindakan penjauhan diri dan pencegahan dari kebebasan manusia yang bersifat pribadi, dan menjadikan baginya hak yang banyak dalam kitab fikih dan syariat, seperti sabda Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, “Nasihatilah kebaikan kepada para wanita.

Dan sabdanya lagi, “Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada keluarganya. Dan aku adalah orang yang paling baik kepada keluarga di antara kalian.

Dan suatu kehormatan yang paling besar yang ditunjukkan Islam kepada perempuan bahwa Dia telah memerintahkannya untuk melakukan sesuatu yang menjaganya dari kejatuhan dan penipuan, seperti sesuatu yang menjaga para wanitanya dan menjauhkannya dari tempat-tempat fitnah serta menjadikannya berada dalam benteng yang kokoh demi kesuciannya. Sesuatu itu adalah hijab yang disyariatkan, yang tidak ada kaitannya dengan kemunduran yang dituduhkan.

Anda bisa lihat apakah ada perempuan yang sakit karena hijab itu atau para tentara Muslim menjadi kalah di hadapan para musuhnya, apakah akal yang cerdas menjadi lambat berpikir, atau apakah sumber-sumber kebaikan menjadi berhenti dari umat dan jalan kehidupan?

Hijab bukanlah suatu penyakit bagi perempuan, tetapi merupakan suatu keindahan. Dan bila pujian terhadapnya terlambat, maka hal ini karena keterlambatan peradaban orang-orang bodoh dan fitnah orang-orang sesat.

Semua etika Islam dan hukum yang kuat lagi kokoh itu telah diakui keutamaannya oleh sebagian ilmuwan Barat yang sadar. Mereka berkata, “Hijab dalam pandangan Islam bukan berarti melepaskan kepercayaan diri perempuan, tetapi merupakan suatu jalan menuju penjagaan yang wajib bagi mereka, berupa kehormatan dan rasa malu. Maka, sebenarnya kedudukan perempuan dalam Islam adalah kepantasan untuk menutup dirinya (dengan hijab).

 

*Sayyid Muhammad bin ‘Alawi al-Maliki, dari bukunya Surga Bernama Keluarga.

HIDAYATULLAH

Rina Buka Suara Mengapa Lepas Hijabnya

Keputusan artis Rina Nose untuk menanggalkan hijabnya memang mengejutkan. Rina mengaku bahwa hal itu bukanlah sebuah keputusan yang mudah.  Melepas hijab katanya pun dengan pertimbangan dan pergelutan batin yang panjang.

Sekitar enam atau tujuh bulan yang lalu dirinya mengalami pergulatan batin dan akhirnya keinginan untuk melepas hijabnya itu sekitar lima bulanan lalu.

“Setelah mencari berbagai macam ilmu, bukan hanya ilmu agama saja. Aku baca ilmu falsafat , dan menemukan keyakinan dengan Tuhan yang menciptakan aku, akhirnya aku memilih jalan ini,” kata pembawa acara dangdut di Jakarta Barat, Sabtu (11/11/2017)

Rina meminta kepada siapapun untuk menghargai keputusannya. “Jadi keputusan semua ini berdasar dialog antara aku dengan Tuhan. Pokoknya kalau alasan mah, sudah saya saja yang tahu. Sebenarnya semuanya ada di hati, Tuhan itu maha penyayang, maha baik. Jadi apapun keputusan saya, saya yakin beliau yang lebih tahu.” kata Rina Nose.

Keputusan melepas hijab murni dari dirinya bukan karena desakan pihak lain, dan juga bukan dikarenakan ada masalah pelik yang sedang menimpanya.

“Ini murni keputusan pribadi, bukan karena ada masalah di rumah atau apa. Saya tekankan di sini saya tidak memiliki masalah apapun. Ini murni keputusan pribadi, bukan karena ada masalah di rumah atau apa. Saya tekankan di sini saya tidak memiliki masalah apapun,” kata Rina seperti dilansir Bintang.

 

BERSAMA DAKWAH

Curhat Rina Nose: Aku Putuskan Berhijab Setelah Lihat Ceramah Zakir Naik

Hidayah memang mutlak milik Allah. Namun sebagai manusia, kita harus berupaya untuk menjemputnya. Tidak duduk tinggal diam sembari menyalahkan keadaan. Hal itu pula yang dilakukan oleh artis yang juga presenter acara variety show, Rina Nose.

Rina yang terkenal dengan humor segarnya dan pandai menyanyi itu mencurahkan proses hijabnya kepada sebuah stasiun televisi swasta nasional. Ia mulai menjalankan kewajiban berhijab sebagai seorang muslimah 11 September 2016 lalu, berikut kisah lengkapnya:

***

Mulainya itu tanggal 11 September kemarin, mulai pertama. Tapi kalau rencana persiapannya sih sebulan sebelumnya. Karena kerjaan aku kan menyangkut banyak orang, jadi mulai dari acara bajunya, acaranya. Takutnya pas udah disusun jadwalnya takutnya mereka kaget (aku berhijab). Aku kasih tahu jauh-jauh hari sebelumnya. Ini sempat dua kali pengunduran (untuk berhijab) karena harus menyesuaikan ke orang di sekelilingku dulu.

Jadi, aku bilang pokoknya pas tanggal segini aku akan pakai (hijab). Dan akhirnya sekarang sudah

Sebetulnya keinginan ini sudah datang dua atau tiga tahun lalu. Bahkan semenjak kuliah ada keinginan, tiba-tiba ada (keinginan), tiba-tiba nggak ada lagi. Jadi kalau ngomong soal hidayah, hidayah itu datang berkali-kali kepadaku. Aku dengan arogannya menolak hidayah itu. Kembali ke diri sendiri. Sebetulnya aku sudah dipilih untuk mendapatkan hidayah tapi aku menolak itu. Aku mencari banyak pertanyaan-pertanyaan itu. Kenapa harus pakai hijab? Kenapa perempuan diwajibkan untuk berhijab? Aku cari-cari tahu, aku lihat-lihat video ceramah terutama dari Doktor Zakir Naik. Terus dari buku-buku filsafatnya aku baca bahkan dari buku sejarah Tuhan. Wah, itu menarik sekali semua. Jadi yang aku pelajari tentang Islamnya, bukan tentang hijabnya dulu.

Sukses Karir Tapi Terasa Hampa

Yang paling utama itu setelah aku pulang kerja, capek banget. Sampai di rumah aku mikir seseuatu, sebenarnya yang kukejar apa sih? Mau duit? Mau ganti mobil baru? Pengin punya rumah baru? Pengin punya ini itu, terus buat apa? Ya udah akhirnya aku mencari tahu apa tujuan Allah menciptakan manusia di dunia ini. Kenapa kalau memang Tuhan menciptakan manusia untuk beribadah? Kenapa diciptakan perasaan iri dan dengki? Kenapa diciptakan rasa marah seperti ini? Kok nyusahin sih?

Perasaan itu semua berkecamuk. Akhirnya aku cari tahu semua. Makanya aku baca buku-buku agama dan filsafat. Akhirnya aku menemukan jawaban bahwa memang kita dilahirkan nggak lain untuk beribadah sama Allah.

Bersyukur Terpilih Meski Ada Ketakutan

Berhijab termasuk ketakutan awalnya. Mau pakai hijab tapi Jakarta panas. Kembali aku berpikir, kalau berpikiran seperti itu terus nggak akan pakai-pakai hijab. Ntar ada aja lagi alasannya. Setelah pakai, terutama hati dulu, setelah ikhlas dan menjalaninya dengan hati, ternyata nggak gimana-gimana (ketakutan sebelumnya). Panas ya tapi ya sudah biasa aja gitu. Perasaan nggak ada apa-apa gitu, ntar kalau wudhu ribet lagi, eh nggak, udah jalan biasa saja begitu.

Aku bersyukur, karena aku merasa menjadi orang yang dipilih (Allah). Baik banget lho Allah. Aku berpikir, oh ya ya, kemarin kemana aja?. Kalau pertolongan Allah datang tidak akan ada yang bisa menghalangi. Ya mungkin ini salah satu pertolongan Allah.

 

BERSAMA DAKWAH

Kisah Pilu Wanita Taat Ibadah tapi Tak Berhijab

Al-Kisah diceritakan, ada seorang wanita yang dikenal taat dalam beribadah. Dia sangat rajin melakukan ibadah wajib maupun sunah. Hanya ada satu kekurangannya, ia tak mau berjilbab menutupi auratnya.

Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum, seraya menjawab: “Insya Allah yang penting hati dulu yang berjilbab.” Sudah banyak orang yang menanyakan maupun menasihatinya. Tapi jawabannya tetap sama.

Hingga suatu malam ia bermimpi sedang berada di sebuah taman yang indah. Rumputnya sangat hijau. Berbagai macam bunga bermekaran. Ia bahkan bisa merasakan bagaimana segarnya udara dan wanginya bunga. Sebuah sungai yang sangat jernih. Airnya kelihatan melintas di pinggir taman. Semilir angin pun ia rasakan di sela-sela jarinya. Ada beberapa wanita di situ yang terlintas juga menikmati pemandangan keindahan taman.

Ia pun menghampiri salah satu wanita tersebut. Wajahnya sangat bersih, seakan-akan memancarkan cahaya yang sangat lembut. “Assalamualaikum saudariku” “Waalaikum salam, selamat datang wahai saudariku” “Terimakasih, apakah ini surga?” Wanita itu tersenyum. “Tentu saja bukan wahai saudariku. Ini hanyalah tempat menunggu sebelum surga.”

“Benarkah? Tak bisa kubayangkan seperti apa indahnya surga jika tempat menunggunya saja sudah seindah ini” Wanita itu tersenyum lagi kemudian bertanya, “Amalan apa yang bisa membuatmu kembali wahai sudariku?” “Aku selalu menjaga salat, dan aku menambah dengan ibadah-ibadahsunah. Alhamdulillah.”

Tiba-tiba jauh diujung taman ia melihat sebuah pintu yang sangat indah. Pintu itu terbuka, dan ia melihat beberapa wanita yang di taman tadi mulai memasukinya satu per satu. “Ayo, kita ikuti mereka!” Kata wanita itu sambil setengah berlari. “Apa di balik pintu itu?” “Tentu saja surga wahai saudariku”

Larinya semakin cepat. “Tunggu tunggu aku” Ia berlari sekancang-kencangnya, namun tetap tertinggal. Wanita itu hanya setengah berlari sambil tersenyum padanya. Namun ia tetap saja tak mampu mengejarnya meski ia sudah berlari sekuat tenaga.

Ia lalu berteriak, “Amalan apa yang engkau lakukan sehingga engkau tampak begitu ringan?” “Sama denganmu wahai saudariku” Jawab wanita itu sambil tersenyum. Wanita itu telah mencapai pintu. Sebelah kakinya telah melewati pintu. Sebelum wanita itu melewati pintu sepenuhnya, ia berteriak pada wanita itu,

“Amalan apalagi yang engkau lakukan yang tidak aku lakukan?” Wanita itu menatapnya dan tersenyum lalu berkata, “Apakah engkau tidak memperhatikan dirimu apa yang membedakan dengan diriku?”

Ia sudah kehabisan napas, tak mampu lagi menjawab, “Apakah engkau mengira bahwa Rabbmu akan mengizinkanmu masuk ke surga-Nya tanpa jilbab penutup aurat?” Kata wanita itu.

Tubuh wanita itu telah melewati, tapi tiba-tiba kepalanya mengintip keluar memandangnya dan berkata, “Sungguh disayangkan, amalanmu tak mampu membuatmu mengikutiku memasuki surga ini. Cukuplah surga hanya sampai di hatimu karena niatmu adalah menghijabi hati.”

Ia tertegun lalu terbangun beristighfar lalu mengambil wudhu. Ia tunaikan salat malam, menangis dan menyesali perkataannya dahulu.

Dan sekarang ia berjanji sejak saat ini ia akan menutup auratnya.

Allah Ta’ala berfirman “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karena mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al- Ahzab: 59)

Berjilbab adalah perintah langsung dari Allah Subhanahu Wa Taala, lewat utusan-Nya yakni baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang namanya perintah dari Allah adalah wajib bagi seorang hamba untuk mematuhi-Nya. Dan apabila dilanggar, ini jelas ia telah berdosa.

Semoga cerita di atas mengilhami bagi wanita yang belum berhijab. Karena berhijab bukan sekadar menjadi identitas seorang musimah saja tapi ini adalah kewajiban yang harus dikerjakan. Semoga bermanfaat. [duniaislam]

 

MOZAIK

Suami Larang Istri Berhijab, Ini Hukumannya

SELALU ada dalam kehidupan, seorang suami yang mana istrinya ingin mengenakan pakaian syari, ia malah menentangnya. Bagaimana posisi lelaki seperti itu dalam Islam?

Allah Subhanahu wa Taala telah memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk memelihara diri dan keluarga mereka dari ancara api nereka, sebagaimana telah disebutkan dalam firmanNya,

“Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Sementara itu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam pun telah memikulkan tanggung jawab keluarga di pundak laki-laki, sebagaimana sabdanya,

“Dan laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan diminta pertanggunganjawab terhadap yang dipimpinnya.”

Sungguh tidak pantas seorang laki-laki memaksa isterinya untuk meninggalkan pakaian syari dan menyuruhnya mengenakan pakaian yang haram yang bisa menyebabkan timbulnya fitnah terhadap dirinya atau dari dirinya. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah terhadap dirinya dan keluarga dan hendaklah dia memuji Allah atas nikmat-Nya yang telah menganugerahinya wanita saleh itu.

Bagi sang istri, sama sekali tidak boleh mematuhinya dengan bermaksiat terhadap Allah, karena tidak boleh menaati makhluk dengan berbuat maksiat terhadap Khaliq.

 

Sumber: Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, Darul Haq Cetakan VI 2010

MOZAIK

Saudagar Hijab Thamrin City Kuasai Pasar Asia, Ini Rahasianya

“Pemasaran Alhamdulillah sudah ke Asia Tenggara, ke Malaysia, Brunai, Singapura, Sidney dan Australia,” kata Yoki Ferdian

Dream – Dulu, Yoki Ferdian memang hanya sales kain biasa di Mal Thamrin City dan Pasar Tanah Abang. Namun kini, dia sudah menjelma sebagai saudagar busana berlabel Yoya. “Kekuasaan” pria 31 tahun itu bahkan sudah melebar ke sejumlah negara di Asia Tenggara.

“Pemasaran alhamdulillah sudah ke Asia Tenggara, ke Malaysia, Brunei, Singapura, Australia,” kata Yoki saat ditemui Dream.co.id di gerainya di Mal Thamrin City, Jakarta Pusat, Kamis 24 September silam.

Pencapaian ini sangat luar biasa. Mengingat, usaha hijab itu baru dimulai 3 tahun silam. Yoki dan istrinya, Yani, benar-benar merangkak dari bawah. Modal usaha ini bahkan mereka peroleh dari menggadaikan motor dan berhutang kanan kiri.

Namanya dengan cepat meroket. Kini, pedagang mana di Mal Thamrin City yang tak kenal Yoki. Selain itu, banyak pula pengunjung mal yang berduyun mengerubuti gerainya yang terletak di Pasar Tasik lantai 1 dan 3 Mall Thamrin City.

Yoki yang kini sudah membuka tiga gerai itu tak hanya meladeni pelanggan di toko. Sebab, usaha busana hijab itu juga berkibar di dunia maya. Pesanan juga banjir melalui internet.

“Mereka belinya secara online, kadang juga datang ke sini langsung. Paling ramai di hari Senin dan Kamis,” ucap dia.

Pria kelahiran Bukit Tinggi, 25 April 1984, ini mengatakan, bisnis hijab yang dirintis sejak 2012 berkembang pesat karena punya keunikan motif dan kualitas bahan yang bagus.

“Motif dan bahan yang digunakan beda dengan hijab yang kebanyakan dijual. Bahannya khusus diambil dari luar, dari China,” kata Yoki.

Menurut Yoki, setiap minggu label Yoya mengeluarkan banyak motif baru dengan berbagai warna, baik pada hijab maupun busananya. “Setiap minggunya kita ratusan keluarin motif,” tutur dia.

“Paling penting gaya Yoya Hijab, modelnya lebih simpel. Untuk jilbab, pasmina sama segi empat. Mainnya di motif, warna, dan bahan. Kebanyakan yang menjadi ciri khas bunga-bunga dengan warna-warna yang cerah,” tambah Yoki.

Tak hanya pada kualitas barang. Usaha Yuki dengan cepat melesat berkat strategi pemasaran lain. Yoki memberikan promo diskon dan poin untuk memberi hadiah kepada pelanggan.

“Bisa menarik pembeli. Ada member poin dan diskon. Poin buat masing-masing langganan pegang kartu member minimal pembelian Rp 1 juta. Jadi poinnya dalam 1 kodi satu koin itungannya, kalau buat pasmina dan segi empat. Kalau buat fashion 1 kodi dapat 2 point. Satu kodinya 20,” jelas Yoki.

“Paket 1 minimal Rp 10 juta, discokon 2.5 persen. Paket II pembelian Rp 20 juta diskon 5 persen. Paket III pembelian Rp 30 juta, diskon 7,5 persen dan Paket IV minimal pembelian 40 juta ke atas diskon 10 persen,” tambahnya.

Sementara itu, untuk promo poin tidak ada batasan bagi konsumen setianya. Masing-masing mendapatkan hadiah berbeda sesuai dengan poin yang didapatkan.

“Untuk 2000 poin hadiah utamanya Umrah. 1.750 poin mendapatkan motor matic, 1.500 paket liburan ke Bali selama 3 hari dan 500 poin dapat laptop,” ujar Yoki.

 

 

sumber: DREAM