Jabal Uhud, Bukan Sembarang Gunung di Arab Saudi

Jabal Uhud di Madinah, Arab Saudi sering menjadi destinasi wisata religi jamaah umrah atau haji. Pengunjung bisa mengenang Perang Uhud dan perjuangan Nabi Muhammad SAW di sana.

Jabal Uhud adalah bukit terpanjang di Madinah yang membentang 6 km. Nama Jabal Uhud bisa diartikan sebagai bukit yang menyendiri. Berbeda dengan umumnya bukit dan gunung di Madinah yang saling menyambung, Jabal Uhud tidak bersambungan.

detikTravel berkesempatan berkunjung ke sana beberapa waktu silam. Jamaah umrah kala itu banyak juga yang datang ke Jabal Uhud. Itu memang bukan destinasi biasa.

Jabal Uhud menjadi saksi bisu dari Perang Uhud di tahun 625 silam. Sebanyak 70 orang syuhada gugur dan dimakamkan di sana. Dahulu Nabi Muhammad SAW kerap ziarah ke Jabal Uhud. Sehingga kemudian umat Muslim yang ke Tanah Suci untuk umroh atau haji pun kerap datang ke Jabal Uhud untuk berziarah.

Komplek pemakaman terlihat begitu sederhana. Di sekelilingnya diberi pagar berjeruji yang tingginya sekitar 3 meter.

Di area pemakaman terlihat batu-batu hitam membentuk kotak cukup besar sebagai tanda makam Hamzah bin Abdul Muthalib dan Abdullah bin Jahsyi, yang merupakan sepupu Nabi Muhammad SAW. Sementara itu makam para syuhada lainnya tidak terlihat ada tandanya.

Peziarah bisa leluasa melihat ke area dalam pemakaman. Namun tetap ada aturan berziarah yang harus ditaati. Aturannya ada yang tertulis dalam bahasa Indonesia sehingga mudah dimengerti.

Selama di Jabal Uhud pengunjung dapat mendaki bukit yang tidak terlalu tinggi, namun tidak mudah memang mencapai puncaknya. Tentunya tetap harus selalu berhati-hati ya!

Sebelum pulang dari Jabal Uhud pengunjung bisa mampir dulu ke area yang penuh dengan pedagang suvenir serta makanan khas Arab. Beragam suvenir yang ada antara lain perhiasan, tasbih hingga berbagai macam jenis kurma.

 

DETIK

Kuota Haji 221 Ribu Sesuai Komitmen Saudi

IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Agama menetapkan total kuota haji 1438 H/2017 M sebanyak 221 ribu jamaah. Kuota ini sesuai komitmen Arab Saudi yang mengembalikan kuota normal, plus kuota tambahan 10 ribu jamaah.

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Abdul Djamil mengatakan, tambahan kuota 10 ribu itu adalah komitmen Kerajaan Saudi. Saudi berbeda dengan Indonesia, sehingga jangan mengukur Saudi dengan ukuran Indonesia.

“Tambahan kuota 10 ribu itu komitmen sungguh-sungguh dan disampaikan dalam forum terbuka. Tambahan kuota 10 ribu itu pun berawal dari kunjungan Presiden Joko Widodo ke Saudi. ”Jadi jangan diabaikan, berprasangka baik. Kalau jadi lalu diabaikan, sayang sekali,” kata Djamil, Rabu (22/2).

Komitmen itu disampaikan pejabat setingkat menteri. Menteri Haji Saudi juga sudah setuju dan sudah dikonfirmasi berkali-kali. Kalau sampai saat belum ada surat, kata Djamil, itu hal di internal Saudi yang tidak Kemenag tahu.

Kementerian Agama menetapkan bahwa kuota haji 1438H/2017M sebesar 221 ribu. Ketetapan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 75 Tahun 2017 tentang Penetapan Kuota Haji Tahun 1438H/2017M.

KMA 75/2017 ini juga mengatur bahwa kuota haji reguler terdiri atas kuota jemaah haji reguler sebanyak 202.518 orang dan kuota petugas haji daerah (TPHD) sebanyak 1.482 orang. Sedangkan kuota haji khusus terdiri atas kuota jamaah sebanyak 15.663 orang dan kuota petugas sebanyak 1.337 orang.

Pembagian kuota bervariasi dari satu provinsi ke provinsi lain. Dari 33 provinsi, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur mendapat kouta haji reguler terbanyak di atas 30 ribu. Sementara Nusa Tenggara Timur mendapat kuota paling paling sedikit yakni 670 yang terdiri atas 665 untuk jamaah reguler dan lima orang untuk petugas. Kuota Jawa Barat merupakan yang terbanyak yakni 38.852 orang yang terdiri atas kuota TPHD 259 orang dan jamaah haji reguler 38.593 ribu.

 

IhramCoID

Alhamdulillah…

Warga Gaza Impikan Ka’bah Meski Hidup Terkurung

Setiap 10 hari terakhir di buan Ramadhan selama dua dekade terakhir, Mouin Mushtaha selalu pergi umrah ke Makkah. Namun, kali ini –pada 2012- ada pengecualian. Meski Ramadhan telah tiba, dia hanya duduk murung sembari menonton tayangan televisi yang diputar di kantornya yang berada di Gazza City Palestna.

Perasaan dia bercampur aduk. Bagi Musthaha pengalaman spiritual pergi ke tanah suci kini lenyap. Tak hanya itu, peluang melakukan bisnis memberangkatkan jamaah melakukan ziarah Ramadhan ke Arab Saudi kini ikut terlepas dari genggaman. Kepergian ke Makkah kini tak mungkin bisa dilakukan karena kini pintu gerbang Raffah yang menuju Mesir tertutup rapat sebagai imbas adanya peristiwa serangan yang menewaskan 16 tentara Mesir.

“Saya, istri saya, dan 500 klien kami seharusnya berada di Makkah sekarang,” kata Mushtaha (64 tahun), sembari menunjuk televisi di kantor ber-AC dari agensinya, Perusahaan Mushtaha Pariwisata dan Travel, kepada The New York Times (17/8/2012).

“Apalagi istri saya mengucurkan air mata ketika ia melihat Ka’bah,” tambah dengan suara sedih karena mengingat kembali pada bangunan berbentuk kubus yang berada di tengah Masjidil Haram, Makkah.

Saat itu, sepekan setelah terjadinya serangan kepada para penjaga gerbang Rafah, para pejabat Mesir memutuskan menutup jalur itu secara penuh. Mereka melakukan hal itu karena menduga bila para pelaku penyerangan yang ditengarai dari warga yang datang dari Gurun Sinai, memiiki hubungan khusus dengan warga yang tinggal di Jalur Gaza.

Memang pintu perbatasan Rafah sempat dibuka kembali dalam beberapa hari sebelum pekan terakhir di bulan Ramadhan tiba. Namun, warga yang kemudian mendapat izin pergi ke luar negeri adalah bukan warga yang akan ke Saudi Arabia, melainkan hanya diberikan secara terbatas kepada mereka yang akan pergi ke berbagai negara Arab yang lain atau negara Eropa untuk kepentingan bantuan kemanusiaan. Alhasil Musthaha pun hanya bisa gigit jari.

Hamas sebenarnya selaku pengatur keamanan di Gaza sebenarnya telah membantanh tudingan Mesir bahwa ada warganya yang terlibat dalam serangan fatal kepada para tentara Mesir itu. Mereka saat itu juga telah menutup terowongan penyelundupan ke Mesir sebagai tanda bahwa Hamas bersedia melakukan kerja sama.

Bagi warga Gazza yang akan ke Makkah untuk umrah, pintu gerbang Rafah mempunya posisi yang sangat penting karena mereka tidak bisa melintas di pintu gerbang yang lain, misalnya melakukan perjalanan melalui Israel. Maka dengan ditutupnya pintu gerbang Rafah itu jelas menjadi pertanda buruk bahwa kepergian ke Makkah pada akhir Ramadhan ini tak bisa dilakukan. Ziarah umrah yang dianggap sebagai ‘haji kecil’ pun hanya menjadi impian. Padahal, bagi mereka banyak yang percaya bahwa melakukan umrah di akhir Ramadhan pahalanya setara dengan naik haji di bulan Dzulhijah.

Bagi Mushtaha dan juga bagi kebanyakan para agen perjalanan di Gaza yang menangani  binis ‘wisata religi’. Travel haji dan umrah, merupakan bisnis yang menggiurkan. Ini mengingat minat warga Gaza untuk melakun umrah ternyata begitu membeludak.

Seorang pemilik agen perjalanan haji dan umrah di Gazza, Awad Abu Mazkour, mengatakan setidaknya saat itu telah ada sekitar 3.000 warga Palestina yang akan melakukan perjalanan umrah pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Dan sebagai akibat penutupan gerang Rafah ini, maka bila ditaksir besaran angka kerugian yang harus ditanggung oleh perusahaan travel yang ada di Gaza bila ditotal jumlanya memang fantastis, mencapai lebih dari dua juta dolar AS.

Mushtaha mengakui bila setiap kliennya  yang akan pergi umrah ke Makkah dipungut biaya sekitar 1.000 dolar AS. Dana sebesar itu dipergunakan sebagai biaya sewa bus, tiket pesawat, dan sewa kamar hotel. Celakanya uang itu pun sudah lebih dahulu dibayarkan sebelum ke luar larangan melintas di gerbang Rafah. Nah, adanya kasus gagal berangkat ke Makkah ini tentu saja para calon jamaah umrah pun meminta pengembalian uang yang telah dibayarkan. Namun, untungnya pemerintah Hamas, kata Mushtaha, ikut merasa tak tega atas kejadian itu sehingga mereka ikut turun tangan menyelesaikannya.

“Bagian dari biaya tiket mungkin dikembalikan. Tapi pengembalian uang untuk pemesanan hotel susah dikembalikan karena waku pemesanan yang sudah mepet sehingga pihak hotel tak mau mengembalikan pesanan kamar yang mendadak dibatalkan,’’ katanya.

Dia mengatakan, apa yang terjadi pada saat ini adalah krisis terburuk yang dihadapi oleh perusahaan yang didirkan sejak ayahnya masih muda, yakni sekitar 46 tahun yang lalu. “Tidak pernah ada penutupan seperti ini selama acara-acara keagamaan,” kata Mushtaha. Ia pun berharap agar kerugian dapat ditanggung bersama di antara para pelanggan perusahaan. Bahkan dia meminta bila sebagian kerugian bisa ditutup oleh pemerintah Hamas.

Namun, meski sudah ada keputusan bila umrah di akhir Ramadhan kali ini tidak dapat dilakukan, panggilan telepon kepada Musthaha terus berlangsung. Para pelanggan travel-nya masih tetap mencari jaminan bahwa mereka masih bisa ke Makkah. Setiap kali ada panggilan telepon seperti itu, Musthaha selalu dengan tegas mengatakan: “Sudah tak ada lagi!”

Dalam pembicaraan melalui telepon, seorang pelanggan travel-nya, Subhia al-Masri, mengeluh seperti ini: “Saya telah menghabiskan tiga tahun menabung dan memimpikan saat ini bisa ke Makkah,” katanya.

Menurut dia kehilangan kesempatan ke Makkah adalah sangat menyedihkan, dan tak sebanding artinya dengan kehilangan uang.

“Kehilangan uang saya tidak seberapa dibandingkan dengan kehilangan kesempatan untuk mengunjungi Ka’bah,” lanjut Subhia lagi.

Alhasil, pergi umrah dan berhaji ke Makkah ternyata memang impian semua Muslim, termasuk warga Palestina yang kini masih hidup terkurung oleh tentara Israel di Jalur Gaza.

 

sumber:Ihram.Co.id

Pemerintah Upayakan Kuota Haji 2017 Kembali Normal

Kementerian Agama telah melakukan rapat dengan Ketua DPR RI mengenai kuota haji 2017. Dalam rapat tersebut Kementrian dan DPR akan bersama-sama melakukan lobi agar kuota haji 2017 kembali normal sebelum adanya pengurangan 20 persen karena proyek perluasan Masjidil Haram.

Juru Bicara Kemenag Rosidin Karidi mengtakan saat ini kuota haji Indonesia masih sebanyak 168.800 orang. “Diharapkan mulai tahun 2017, kuota haji Indonesia akan kembali ke kuota dasar sebanyak 211 ribu,” ujar dia dalam website Kemenag, Selasa (28/9).

Jika target ini tercapai, Rosidin mengatakan akan terjadi pergeseran porsi keberangkatan jamaah haji. Jamaah haji yang telah mendaftar dapat melihat tahun keberangkatan melalui website Kementrian Agama dengan memasukkan nomor porsi.

 

sumber: Republika Online


Atau download aplikasi Androidnya di sini!

Melihat Ka’bah di Masa Lampau

Mobil diparkirkan di pinggir jalan setelah menempuh perjalanan 20 kilometeran dari Masjidil Haram. Udara Ahad pekan lalu sungguh terik. Setelah membuka pintu mobil, kami langsung berlari kecil menuju sebuah gedung megah yang berada dekat wilayah padang pasir Hudaibiyah.

Kami dari tim Media Center Haji (MCH) siang itu mengunjungi Museum Arsitektur Dua Masjid Suci yang lebih dikenal dengan sebutan Museum Ka’bah. Mengunjungi museum ini selalu menjadi satu paket dengan ziarah ke peternakan unta di padang pasir Hudaibiyah dan masjid Hudaibiyah yang menjadi titik miqat bagi jamaah umrah.

Beberapa jamaah memilih melihat-lihat dahulu Museum Kab’bah sebelum bertandang ke peternakan unta sebelum akhirnya mengambil miqat di Masjid Hudaibiyah untuk melakukan umrah. Tapi, ada juga jamaah yang datang ke museum dalam kondisi sudah berpakaian ihram. ‘’Kami awalnya mau ke museum dulu. Tapi, berhubung penuh, kami baru ke sini setelah miqat dari Masjid Hudaibiyah,’’ kata Niam dari kloter SOC-41.

Seperti dilaporkan Didi Purwadi, wartawan Republika dari Tanah Suci, Museum memamerkan benda-benda kuno yang menjadi bagian dari perjalanan sejarah dua masjid suci di Makkah dan Madinah. Ada beberapa benda yang sudah sangat tua berusia ribuan tahun. Salah satunya tangga untuk naik ke pintu Ka’bah yang dibuat tahun 1240 H.

Ada juga pintu kayu Ka’bah yang kabarnya dibuat awal abad 14 M. Ada pintu mimbar Ottoman di Masjid Nabawi yang dibuat atas perintah Sultan Murad III pada 998 H. Begitu pula replika sumur tua zamzam yang dulu dilingkari dengan pagar almunium berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 3 meter dan tinggi 1,5 meter.

Bagian ini menampilkan pagar lama sumur zamzam dan ember kuningan dengan tahun pembuatan 1299 H. Ember digunakan untuk menimba air sebelum ada sistem pompa. Mesin jahit tua untuk menjahit kain penutup Ka’bah juga ditampilkan di museum ini.

Museum Ka’bah tidak hanya menghadirkan masa lalu Ka’bah dalam potongan benda-benda kunonya. Masa lalu juga dihadirkan dalam potongan-potongan foto jadul Makkah dan Madinah dari hasil jepretan fotografer Mesir, Sadiq Bik, pada kurun waktu 1297-1298 H. Foto-foto tersebut merupakan koleksi almarhum Pangeran Sultan bin Abdul Aziz yang disumbangkan untuk museum.

Museum yang buka setiap hari selama musim haji itu juga membuka rasa penasaran jamaah yang ingin mengetahui apa yang terdapat di dalam Ka’bah. Beberapa barang atau benda di dalam Ka’bah yang berusia ratusan tahun ini dipamerkan di museum yang buka mulai pukul 08.00 sampai 14.30 dan 16.00 sampai 22.00 waktu Saudi ini.

Ada lemari kayu berbentuk kotak dengan ukuran sisi-sisinya sekitar 1,2 meter. Posisi lemari ini tepat berada di depan pintu Ka’bah dari posisi dalam. Ada juga tiang setinggi 9 meter dengan diameter 50 cm yang menjadi penyangga bagian dalam Ka’bah. Jumlahnya sebanyak tiga tiang.

Mengelilingi sudut-sudut Museum Arsitektur Dua Masjid Suci seperti menapaki masa lalu Makkah dan Madinah. Dan, pengunjung museum yang datang dari berbagai negara termasuk jamaah haji Indonesia tak ingin melewatkan momen masa lalu. Mereka berswafoto (selfie) dengan latar benda-benda kuno Ka’bah atau Masjid Nabawi.

 

sumber: Republika Online

Pesan-pesan dalam Ibadah Haji

TELAH berkumpul jutaan orang di kota Mekah untuk menunggu prosesi puncak ibadah Haji. Haji merupakan pertemuan terbesar umat Islam dari berbagai negara di dunia ini, sebuah kewajiban ritual yang tidak dijumpai padanannya dalam tradisi agama lain.

Andai saja tidak dibatasi oleh kuota, bukan hanya tiga sampai lima juta umat muslim yang berkumpul di kota suci ini melainkan lebih banyak lagi sampai jumlah yang tidak bisa ditebak.

Lokasi prosesi ibadah haji sangat terbatas. Padang Arafah tempat berkumpul bersama untuk wukuf pada satu hari yang sama tidak mungkin lagi menampung lebih banyak orang. Mina dan Muzdalifahpun tidak lagi muat untuk muat ditempati lebih banyak manusia. Negara Saudi Arabia sebagai tuan rumah tentu akan menjadi pusing melihat ketidakseimbangan rasiojumlah peminat dan ukuran lokasi serta fasilitas.

Dulu, pembatasan kuota jamaah haji tidaklah seketat saat ini. Tidak pernah didengar ada daftar tunggu apalagi dalam waktu yang sangat lama seperti yang dialami saat ini. Untuk menunaikan ibadah haji reguler, saat ini dibutuhkan antri 24 tahun, sementara jika mendaftar untuk haji plus harus menunggu 6 tahun.

Usia minimal mendaftar hajipun saat ini ditentukan 12 tahun sehingga tidak akan ada lagi lomba “haji termuda” seperti pada 10 tahun yang lalu. Mengapa ibadah haji ini begitu banyak peminat dan seakan menjadi ibadahpaling favorit akhir-akhir ini?

Perintah kewajiban haji sebenarnya adalah sama dengan perintah kewajiban lain yang lain, terutama yang termasuk dalam ibadah rukun Islam yang kelima, seperti shalat, puasa dan zakat. Bahkan, untuk haji, dipersyaratkan adanya kemampuan (istithaah) untuk menjadi wajib dilaksanakannya. Mereka yang tidak memiliki kemampuan finansial dan kemampuan fisik tidaklah berkewajiban melaksanakannya.

Apakah panjangnya antrian tunggu (waiting list)menjadi indikasi bahwa umat muslim saat ini lebih mampu secara finansial dibandingkan dengan umat muslim masa sebelumnya? Mungkin saja jawabannya adalah iya.Namun jawaban ini terasa unik ketika dihubungkan dengan fakta terjadinya krisis moneter yang begitu lama dan keadaan ekonomi yang tidak sestabil masa-masa sebelumnya.

Apakah ada hubungannya dengan peningkatan kesadaran keberagamaan umat muslim akan urgensi haji? Bisa saja jawabannya adalah iya.Namun jawaban inipun terasa janggal di tengah fenomena sosial yang sedang mengagung-agungkan hedonisme dan di saat perlombaan ekonomi yang tak mengenal hukum halal haram.

Kejanggalan ini agak tertepis dengan analisa bahwa bisa jadi membludaknya jumlah jamah haji saat ini adalah sebagai respon atau bahkan titik balik dari hedonisme dan lomba ekonomi yang tak kunjung selesai itu.

Ada satu alasan yang tidak boleh dilewatkan untuk disebut, yakni bahwa ada kerinduan ruhani yang memuncak yang telah memaksa seseorang menunaikan ibadah haji bahkan secara berulang atau berkali-kali. Interview penulis dengan banyak jamaah haji menunjukkan bahwa beribadah haji itu bagai “pulang ke rumah asal.”

Ada kebahagiaan yang tidak bisa tergantikan oleh ibadah lain. Kebahagiaannya bisa diumpamakan anak sekolah dasar yang dipulangkan lebih awal karena guru-guru sedang rapat. Mereka pulang ke rumah dengan riang gembira sambil bernyanyi “gelang sepatu gelang.”

Mengumpamakan ibadah haji dengan kembali ke rumah asal bukanlah tanpa dasar, karena al-Quran sendiri menyebut kabah, baitullah, sebagai rumah pertama yang ada di muka bumi. Sebagai rumah asal tentu saja menjadi rujukan kerinduan jiwa yang menenteramkan dan menenangkan, ketenteraman dan ketenangan yang bukan ditentukan oleh fasilitas fisik melainkan oleh sentuhan batin karena hati menjadi fokus hanya kepada Allah Swt.

Fokus hanya kepada Allah menjadi inti pesan dari “pulang ke rumah asal” ini. Para jamaah haji disadarkan kembali pada asal muasalnya, pada tugas pokoknya kini selama ada di dunia, dan pada tujuan akhir setelah menjalani episode dunia ini. Mereka yang prosesi berhajinya tidak mengantarkan pada kesadaran seperti ini adalah orang-orang yang gagal menemukan makna haji. Ibadah hajinya hanya bermakna sebagai tour fisik, bukan perjalanan spiritual (spiritual sojourn).

Pesan kedua haji adalah pesan persaudaraan berdasar egalitarianisme, kesederajatan di hadapan Allah SWT. Pakaian ihram yang sama warnanya, kabah sebagai kiblat bersama, tuntunan ibadah yang bersumber dari sumber yang sama merupakan simbol utama dengan pesan bersama bahwa persaudaraan atas dasar iman adalah persaudaraan yang tidak boleh luntur atau rapuh dengan alasan apapun.

Betapapun ada perbedaan warna kulit, perbedaan jenis kelamin dan perbedaan berpendapat, persaudaraan dan persatuan dalam keimanan haruslah tetap terjaga.Hanyaorang yang bodoh dalam beragama yang menjadikan perbedaan itu sebagai sebab bertengkar dan bermusuhan. Ketulusan dalam beragama akan mengantarkan pemiliknya untuk saling menghargai perbedaan dan menghormati hak-hak orang lain.

Kesombongan atau aroganisme diri harus dibuang melalui ibadah haji ini. Semua jamaah haji harus membawa posisi atau pangkat yang sama sebagai hamba (abd) dengan Tuhan yang sama, yakni Allah Yang Maha Segala-galanya. Mereka yang hadir ke Mekah dengan membawa posisi, pangkat atau identifikasi diri yang bersifat duniawi adalah mereka yang tidak benar-benar menjalankan ibadah haji, tak akan memperoleh kemabruran haji.

Pesan ketiga adalah pesan kesederhanaan. Prosesi haji sesungguhnya mengajarkan kesederhanaan. Pakaian ihram yang hanya dua helai saja, tenda wukuf di Arafah dan Mina dengan fasilitas yang juga seadanya saja adalah potret kesederhanaan yang harusnya mendidik jiwa para jamaah. Bahwa hotel-hotel di Mekah semakin mewah dan makanan restoran semakin banyak pilihan memang bukan fakta yang bisa ditolak. Namun, pesan kesederhanaan haji seperti disebut di atas tidak mungkin dihapus sama sekali. Sederhana adalah pilihan hidup yang diajarkan Rasulullah Saw.

Pesan keempat adalah pesan keharmonisan dengan alam sekitar. Ketika beribadah haji, ada banyak larangan-larangan ihram yang tidak boleh dilakukan. Tidak boleh berburu, tidakboleh memotong tumbuh-tumbuhan, tidak boleh berbantah-bantahan dan lain sebagainya. Ibadah haji benar-benar ibadah yang memesankan keharmonisan hidup dengan manusia dan alam.

Haji mabrur adalah haji yang pelaksananya telah mengejawantahkan pesan-pesan tersebut di atas. Seorang yang berhaji harusnya adalah menjadi teladan bagi sekitarnya dalam beribadah ritual dan beribadah sosial. Seorang haji mabrur adalah orang yang tak hanya saleh ritual melainkan pula saleh sosial. Bagaimana dengan haji kita? [*]

– See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2323216/pesan-pesan-dalam-ibadah-haji#sthash.YyEqTV82.dpuf

Ini 3 Potensi Kerawanan Selama Puncak Haji di Armina

Tim kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengidentifikasi tiga potensi kerawanan di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina) seusai melakukan survei lokasi.

“Kami mengunjungi Armina untuk melakukan survei dan melihat beberapa hal yang perlu dikonfirmasi dengan pemerintah Arab Saudi,” ungkap Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mekkah, Selasa.

Ketiga potensi kerawanan tersebut adalah pertama nyamuk yang banyak terdapat di Padang Arafah. “Kami sudah sampaikan dan pemerintah Arab Saudi berjanji akan melakukan fogging (pengasapan)” katanya.

Mengingat penyebaran virus zika maka tim kesehatan juga mewaspadai penyebaran virus tersebut mengingat prosesi haji melibatkan jamaah dari seluruh dunia.

Kedua adalah posisi toilet di Mina yang terletak lebih tinggi dari tenda jamaah sehingga akan menyulitkan jamaah Indonesia yang sebagian besar berusia lanjut.

Ketiga, kata dia, adalah penggunaan escalator atau tangga berjalan di Terowongan Muaishim yang menuju Jamarat atau lokasi melontar jumrah. “Itu perlu diwaspadai karena ada jamaah kita yang kemarin patah tulang gara-gara escalator,” katanya.

Sementara itu Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan Muchtaruddin Mansyur menjelaskan tim kesehatan siap untuk memberikan layanan optimal di Armina dengan menurunkan tim promosi dan prevensi serta tim gerak cepat selain petugas kesehatan yang berada di pos kesehatan.

Masing-masing tim beranggotakan 40 tenaga kesehatan dan enam tenaga pendukung. “Kita tidak hanya memberikan layanan kesehatan tapi juga penyuluhan agar jamaah memahami tahapan-tahapan ibadah dan segala faktor resikonya,” katanya.

Menurut dia, tim promosi dan prevensi telah melakukan tugasnya jauh sebelum puncak ibadah haji di Armina. Tim ini bertanggung jawab menyampaikan potensi kerawanan baik suhu, lingkungan maupun kesehatan.

 

 

sumber: Republika Online

Petugas Haji Daerah Diminta tidak Bongkar Pasang Kloter

Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umrah Kementerian Agama Abdul Jamil meminta petugas daerah tidak membongkar pasang kloter yang sudah ada. Hal tersebut dapat mengacaukan proses pemberangkatan calon jamaah haji.

Hal tersebut disampaikan Jamil pada jumpa pers di Kantor Kemenag, Jalan Banteng, Jakarta terkait simpang siur keterlambatan visa haji sehingga mengakibatkan calon jamaah haji tertunda keberangkatannya.

“Saya mengimbau jangan membongkar pasang kloter yang sudah ada, yang sudah diajukan dan diurus visanya itu tetap dipertahankan seperti itu,” kata Jamil.

Bongkar pasang kloter dapat dilakukan jika terdapat hal darurat sehingga perlu dilakukan bongkar pasang, seperti sakit atau meninggal.

Hal tersebut disampaikan Jamil mengacu kepada kasus yang terjadi Sumedang dimana calon jamaah haji di gelombang kedua meminta diberangkatkan pada gelombang pertama.

Namun, mereka tidak dapat diberangkatkan karena visa untuk gelombang kedua belum selesai. Jamil menilai, persoalan yang terjadi di Sumedang terkesan penundaan keberangkatan calon jamaah karena keterlambatan visa.

Jamil menegaskan agar petugas di daerah disiplin dalam mempertahankan kloter. “Agar tidak terjadi kekacauan dalam susunan kloter yang mengakibatkan seolah-olah sudah siap berangkat tapi visa belum jadi,” ucapnya.

 

 

sumber: Republika Online

Keterlambatan Visa Haji Harus Bisa Diantisipasi

Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Desy Ratnasari, meluruskan pernyataan Dirjen Penyelenggaran Haji dan Umrah Kemenag Abdul Djamil beberapa hari lalu.

Saat melakukan konferensi pers, Jumat (12/8) lalu, Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag Abdul Djamil memastikan pengurusan visa haji berjalan lancar sebab Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta cukup membantu.

Djamil menjelaskan, pengurusan visa tahun ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu gelombang satu dan dua. Hal ini, kata dia, dilakukan supaya tidak terjadi kekacauan seperti tahun lalu. Visa calhaj yang melunasi ongkos haji pada tahap pertama akan diurus di gelombang pertama.

Bila di daerah ada kesan terdapat calhaj yang visanya belum jadi, itu memang karena mereka berangkat gelombang kedua. Namun, Desy mengungkapkan, pernyataan Dirjen PHU itu tak sepenuhnya sesuai.

Buktinya, kata dia, ada 90 calhaj Sukabumi yang melakukan pelunasan ongkos haji pada tahap pertama ternyata belum memperoleh visa.

Padahal, jadwal berangkat mereka pada 13 Agustus. Di sisi lain, ungkap dia, sebanyak 38 calhaj yang melunasi ongkos haji pada tahap kedua dan jadwal berangkatnya 20 Agustus sampai sekarang belum melihat tanda-tanda bahwa visa mereka telah selesai.

Kemenag, menurut Desy, seharusnya bisa mengantisipasi kejadian seperti ini. “Keterlambatan visa ini tidak hanya terjadi di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Di daerah lain di Provinsi Jawa Barat serta provinsi lainnya, yakni Jawa Tengah dan Jawa Timur, keterlambatan visa calhaj juga terjadi,” kata Desy.

Sementara itu, Ketua Penyelenggara Haji dan Umrah Kemenag Kota Surakarta, Jawa Tengah, Rosyid Ali Safitri, menuturkan, 24 dari 355 calhaj yang bakal ke Tanah Suci, Senin (15/8) ini, belum mempunyai paspor.

“Ya, ada 24 orang calon jamaah haji belum ada paspornya, tapi visanya sudah ada. Ini petugas sedang mengurus,” ujar Rosyid. Ia menduga ada sejumlah paspor tercecer sehingga belum sampai ke tangan calon jamaah haji. Ada petugas yang sedang ke Jakarta untuk menyelesaikan masalah ini.

Faktor kesehatan Menurut Komisioner Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI) Syamsul Maarif, ada potensi terjadi kekosongan kursi calhaj sekitar satu persen dari jumlah calhaj Indonesia karena sakit.

Kuota haji tahun ini 168.800 jamaah, yaitu haji reguler 155.200 dan haji khusus 13.600 jamaah. Kekosongan ini akibat penundaan keberangkatan yang dipicu faktor kesehatan. “Saya bersama kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan memperkirakan satu persen, yakni sebanyak 100 calhaj lebih,” katanya.

 

 

sumber: republika Online

Haji Jadi Momen Perenungan Jati Diri

Ali Zawawi, staf khusus Menteri Agama, mengatakan ibadah haji memiliki hakekat yang sangat esensial. Ali menyatakan haji menjadi momen bagi umat Islam untuk memahami hakekatnya sebagai manusia.

“Dengan berdiam diri (wukuf) di Arafah, kita merenung untuk menemukan jatidiri atau hakekat diri kita,’’ kata Ali dalam acara ‘Pembekalan Petugas Media Center Haji 1437H/2016M’ di Kantor Kemenag, Jakarta, Rabu (20/7).

Wukuf di padang Arafah merupakan inti atau puncak dari pelaksanaan ibadah haji. Nabi Muhammad SAW, kata Ali, berpesan wukuf merupakan momen untuk membebaskan diri kita dari atribut-atribut keberhalaan dunia. 

Rasulullah mendeklarasikan hak asasi manusia bahwa setiap manusia sesungguhnya sederajat, tidak ada perbedaan antara orang Arab atau orang berkulit hitam. ‘’Pesan-pesan historis di sana tersebut yang perlu kita renungi,’’ katanya. ‘’Wukuf menjadi momen bagi kita untuk mengingatkan diri kita tentang kematian,’’tambah dia. 

Ali pun mengingatkan para jamaah haji Indonesia jangan sampai lupa memenuhi rukun haji. Jika sampai terlewat satu rukun saja, maka hajinya menjadi tidak sah. Adapun rukun haji yakni ihram, wukuf, tawaf ifadhah, sai, tahalul dan tertib.

Sementara, ibadah haji tetap sah jika tidak melakukan wajib haji. Namun, jamaah haji wajib membayar dam karena tidak melaksanakan wajib haji yakni ihram haji dari miqat, mabit di Muzdhalifah, mabit di Mina, melontar jumrah, menghindari perbuatan yang terlarang dalam keadaan berihram dan tawaf wada’.

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan oleh jamaah haji adalah syarat haji. Ada lima syarat haji yakni Islam, baligh, berakal sehat, merdeka dan istita’ah (mampu). ‘’Istita’ah di sini mampu secara ekonomi dan fisik,’’ katanya. 

sumber: Republka Online