Palestina Versus Zionis di Pangkuan Inggris

Sebelum kekalahan kelompok sentral dari sekutu dalam Perang Dunia I (1914-1918 M), Palestina menjadi wilayah yang secara geografis masuk Provinsi Syria yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kekhalifahan Turki Usmani yang berpusat di Istanbul. Mengingat posisi Yerussalem yang menjadi kota suci bagi tiga agama: Islam, Kristen dan Yahudi, yang merupakan bagian dari Palestina, maka hampir semua negara-negara besar di Eropa seperti Jerman, Inggris, Prancis dan Amerika Serikat memiliki kantor perwakilan di Yerussalem.

Sebagai penguasa Palestina, wakil dari Turki Usmani, Jamal Pasha setelah mendengar kabar penyerangan Sir Edmond Allenby, Panglima tentara Inggris ke wilayah Palestina, ia memutuskan untuk mendeportasi kaum Yahudi yang telah berada di Yerussalem dari wilayah Palestina.

Pada 25 November 1917, Allenby berhasil menduduki wilayah Nablus, satu kota strategis dekat Yerussalem. Kontak senjata antara pasukan Turki-Palestina yang diperkuat oleh tantara Jerman melawan tantara Inggris terjadi selama empat hari.

Pada akhirnya pasukan gabungan Turki-Palestina dan Jerman tersebut harus menanggung kekalahan. Sejak itu secara defakto Palestina berada di bawah kekuasaan tentara Inggris. Kemudian pada 4 Desember 1917, Inggris secara dejure menduduki Palestina karena saat itu seluruh kekuatan Turki Usmani, tentara Palestina pimpinan Amin al-Husaini sudah menyerah.

Pendudukan Inggris atas Palestina terus berlanjut; perlawanan sporadis gerilyawan Palestina tidak punya pengaruh signifikan. Masa transisi antara 1918-1922 digunakan oleh “penguasa Inggris” di Palestina untuk mendukung gerakan migrasi besar-besaran kaum Yahudi dari berbagai negara terutama Eropa ke Palestina. Pada 24 Juli 1922, Inggris sebagai pemenang perang mendapat mandat dari Liga Bangsa-Bangsa (League of Nations) untuk menduduki Palestina dengan status mandatory government.

Dengan demikian, Inggris dan kaum Zionis secara leluasa dan legal menurut hukum internasional untuk mendukung kaum Yahudi mendirikan negara di bumi Palestina. Sementara negara-negara Arab terutama bangsa Palestina sendiri terus melakukan perjuangan diplomasi dan militer untuk menolak kehadiran negara Yahudi yang dijanjikan Inggris sesuai perjanjian Balfour.

Mereka menuntut: 1.) Menghapus perjanjian Balfour yang dinilai tidak adil terhadap hak-hak bangsa Palestina. 2.) Menghentikan migrasi kaum Yahudi dari luar tanah Palestina. 3.) Mengentikan penjulan tanah kepada kaum Yahudi. 4.) Mendirikan pemerintahan Palestina yang dipilih oleh parlemen sebagai penjelmaan keinginan hakiki dari rakyat Palestina. 5.) Terus melakukan gerakan yang mengkombinasikan antara diplomasi dan militer dengan pemerintahan mandat Inggris agar hak-hak Palestina tidak terabaikan.

Pada sisi lain, masa antara 1922-1937 di kalangan bangsa Arab dikenal sebagai revolusi besar bangsa Palestina. Kondisi keamanan yang kurang kondusif sebagai akibat dari perlawanan bangsa Palestina yang terus menerus dan gerakan diplomasi negara-negara Arab dan Palestina sendiri, memaksa pemerintahan mandat Inggris pada 1937 untuk mengajukan proposal pembagian dua negara: Israel dan Palestina. Proposal ini menyebutkan bahwa status kota suci Yerussalem dan Betlehem serta jalan menuju dua kota suci ini berada dalam pengawasan internasional. Agar bangsa Arab bisa menerima, proposal ini juga menyebutkan bahwa negara Yahudi yang akan berdiri dan pemerintahan mandat akan membantu administrasi dan birokrasi serta mendukung keuangan negara Palestina yang akan didirikan sebagai kompensasi penerimaan bangsa Arab terhadap negara Yahudi, Israel.

Menjelang meletusnya Perang Dunia II (1939-1945 M) kekuatan politik Inggris di kancah internasional mulai meredup dan digantikan posisinya oleh Amerika Serikat. Untuk itulah kaum Zionis terutama yang tinggal di Amerika untuk melakukan pendekatan dan gerakan diplomasi dengan presiden Amerika Franklin Delano Roosevelt (1933-1945 M). Sementara bangsa Arab dan pejuang Palestina masih menganggap Inggris sebagai pemegang kunci diberikannya status negara bagi bangsa Palestina. Karena akhir dari Perang Dunia II menaikkan kekuatan politik dan diplomasi Amerika Serikat yang mengungguli Inggris, maka kaum ZIonis Yahudi sangat diuntungkan. Sedangkan bangsa Arab dan Palestina menelan banyak kekecewaan karena migrasi besar-besaran kaum Yahudi tidak pernah berhenti dan pembelian tanah dari rakyat Palestina terus berlanjut.

Setelah beberapa tahun kaum Yahudi dan Palestina terlibat konflik sebagai akibat adanya usulan Komisi Inggris-Amerika pada 1945 yang menganjurkan penerimaan 100,000 kaum Yahudi di Palestina. Usulan tersebut kemudian ditolak oleh Inggris karena hal itu diprediksi akan memunculkan gelombang kerusuhan antara kaum Yahudi dan Palestina. Inggris merasa usulan tersebut ditolak baik oleh Palestina maupun oleh kaum Yahudi. Karena itu, badan PBB yang barusaja dibentuk kemudian mengusulkan rencana pembagian Palestina menjadi dua negara, satu negara Arab dan satu negara Yahudi dengan Yerussalem ditujukan sebagai kota internasional (corpus separatum) untuk menghindari status mengenai kota itu.

Komunitas Yahudi menerima rencana tersebut, tetapi Liga Arab dan Komite Tinggi Arab menolaknya atas alasan kaum Yahudi mendapat 55% dari seluruh wilayah padahal komposisinya hanya merupakan 30% dari seluruh penduduk Palestina. Sebagai bentuk penolakan atas usulan tersebut, maka pada tanggal 1 Desember 1947, Komite Tinggi Arab mendaklarasikan pemogokan selama 3 hari dan kelompok-kelompok Arab mulai menyerang target-target Yahudi. Karena itu perang antara orang Arab dan orang Yahudi pun tidak terelakkan yang membawa konsekuensi tidak kecil, terutama keruntuhan perekonomian warga Arab Palestina dan sekitar 250,000 warga Arab Palestina diusir ataupun melarikan diri. Pada 14 Mei 1948, sehari sebelum Mandat Inggris, Agensi Yahudi, David Ben-Gurion (1886-1973 M) memproklamasikan kemerdekaan dan menamakan negara yang didirikan tersebut dengan nama Israel. Sekaligus dia dinobatkan sebagai Perdana Menteri pertama Israel pada tahun 1949 M. Sedang Presiden pertama adalah Chaim Weizzman.

Pasca proklamasi Israel, perang Kembali terjadi antara pihak Arab dan Yahudi. Ketika itu, pihak Arab telah mengepung Israel dari berbagai penjuru. Negara-negara Arab yang bertetangga langsung dengan Israel seperti Mesir, Yordania, Syria dan Lebanon telah menyiapkan pasukan mereka masing-masing. Mesir dikenal memiliki tentara didikan Inggris. Yordania (saat itu Transjordan) dipimpin oleh Brigadir John Bagot Glubb. Irak, Suriah dan Lebanon memiliki pasukan yang banyak diisi oleh relawan.

Perang ini berakhir dengan kemenangan Israel. Kasus korupsi yang saat itu terjadi di masa pemerintahan Raja Farouk di Mesir menyebabkan krisis persenjataan dan makanan. Hal ini tentunya berakibat buruk pada pasukan Mesir. Pasukan Transjordan mungkin memperlihatkan usaha yang lebih baik, namun tetap tidak berpengaruh besar. Pasukan Irak dipersulit oleh jarak mereka yang jauh. Sementara itu, pasukan Lebanon dan Suriah tidak memperlihatkan perjuangan yang sungguh-sungguh, dikarenakan latar belakang mereka yang merupakan pasukan yang amatiran dan tidak profesional.

Pada 1956, para pemimpin Israel pernah berencana untuk mengadakan konfrensi perdamaian. Dalam konfrensi ini, dibacakan jalan apa saja yang dapat diambil demi tercapainya perdamaian antara bangsa Arab dan Israel. Para pemimpin Arab menolak undangan tersebut. Menurut mereka, jika bangsa Arab memenuhi undangan konfrensi tersebut maka sama saja mereka mengakui hak Israel untuk berdiri di atas tanah Palestina.

Rentang perjalanan waktu pasca Israel berdiri, di berbagai belahan dunia muncul berbagai demonstrasi dan unjuk rasa dilakukan, baik oleh kaum Muslim maupun non muslim untuk mengecam Israel, berharap negara ini dihapus dari muka bumi. Kebencian bangsa dunia terhadap Israel disebabkan agresi dan perluasan wilayah yang terus dilakukan di tanah Palestina secara tidak manusiawi. Bahkan kelompok internal Yahudi sendiri mengecam Israel. Neturei Karta misalnya yang merupakan kelompok Yahudi anti-Zionisme. Mereka menentang visi misi Zionisme. Selain itu, bahwa Yahudi menurut mereka adalah agama, bukan bangsa atau etnik.

Perkembangan lebih lanjut pasca perang 1967 yang menunjukkan hegemoni kekuatan militer Israel, berakibat diplomasi negara-negara Arab dan perjuangan militer bangsa Palestina semakin meredup. Semangat perang dan kemengan politik muncul Kembali setelah perang yang di Mesir popular dengan perang 6 Oktober 1973. Dalam perang itu, ternyata tentara gabungan Mesir, Yordania dan Syria memiliki kekuatan yang mampu merontokkan mitos “kehebatan Israel.”

Ini karena tentara Mesir mampu mengalahkan bahkan bisa mengusir mereka dari sebagian wilayah provinsi Sinai yang pada perang 1967 diduduki oleh Israel. Kemenangan ini membuat dinamika diplomasi perdamaian yang disponsori Amerika bergerak lagi. Inilah latar belakang terjadinya perjanjian Camp David antara Mesir-Israel pada 1979 yang di antaranya menyebutkan meletakkan dasar-dasar dan prinsip perdamaian, memperluas resolusi DK PBB nomor 242, menyelesaikan apa yang disebut sebagai “masalah Palestina”, menyetujui perdamaian Mesir-Israel, serta perdamaian antara Israel dan negeri-negeri tetangganya yang lain. Sebagai konsekuensi perjanjian ini Mesir dan Israel saling mengirim duta besar yang ditempatkan di Kairo dan Tel Aviv.

Pada pihak lain, karena perjanjian Camp David tidak mendapatkan restu dari Liga Arab, maka hampir seluruh negara-negara Arab memutuskan hubungan diplomatik dengan Mesir. Ini karena menurut mayoritas negara-negara Arab, Mesir “berkhianat” terhadap perjuangan negara Palestina. Tapi dalam perkembangan berikutnya, Yordania juga melakukan hubungan diplomatik, ekonomi dan budaya dengan Israel. Dua negara tersebut menjalin hubungan diplomatik secara resmi sejak 1994 dengan menandatangani perjanjian perdamaian Israel–Yordania. Raja Abdullah dari Yordania memandang Israel sebagai aliansi wilayah vital di Timur Tengah.

Gerak diplomasi antara Israel dengan negara-negara Arab berubah menjadi diplomasi antara Israel dan wakil Palestina. Dalam hal ini adalah organinasi pembebasan Palestina (PLO) yang dipimpin oleh Yasser Arafat (1929-2004 M). Gerak diplomasi yang didukung oleh Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa menghasilkan perjanjian Oslo pada 1993. Poin penting dalam perjanjian itu adalah pengakuan PLO terhadap negara Israel dan sebaliknya, pengakuan pemerintah Israel terhadap PLO sebagai perwakilan rakyat Palestina dan mitra negosiasi.

Selain itu, perjanjian Oslo juga membahas peta jalan menuju perdamaian Israel-Palestina. Di samping itu, perjanjian Oslo diteruskan dengan perjanjian perdamaian sementara untuk membentuk Pemerintah Otonomi Palestina 1993 yang di antaranya Israel menyetujui pemberian otonomi terbatas terhadap Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza, yaitu dua wilayah yang diduduki Israel dalam perang Timur Tengah 1967 sekaligus sebagai peta jalan menuju Palestina merdeka.

Allah Selalu Memberiku yang Terbaik

Sebagian orang berpendapat, anak yang berpindah-pindah sekolah di masa pendidikan dasar atau menengah akan mengalami kesulitan dalam  pendidikan selanjutnya.

Setidaknya itulah asumsi orang-orang di sekitarku melihat “sepak terjang” pendidikanku selama ini.

Sekolah Dasar (SD) kujalani di empat sekolah berbeda.  Sekolah Menengah Pertama (SMP) dua kali pindah sekolah. Pun jenjang selanjutnya, Sekolah Menengah Atas (SMA) itu kutamatkan melewati tiga tempat.

Uniknya, semua kujalani tanpa kendala yang berarti. Alasan pindahpun berbeda-beda. Mulai dari ikut orangtua yang pindah tugas dan tempat tinggal hingga kemauan orangtua yang memintaku pindah sekolah.

Namun di balik itu, satu hal yang kuyakini, semua perpindahan itu adalah jawaban dari Allah untuk doa-doaku selama ini yang hanya memohon yang terbaik di sisi-Nya.

Dalam kondisi apapun, aku hanya berusaha meyakini, bahwa itulah yang terbaik menurut Allah yang diberikan kepadaku.

Meski di satu sisi tantangan dan cobaan itu selalu ada membersamai perjalananku menuntut ilmu. Di Pare, Kediri misalnya.

Sungguh tak mudah bagiku berinteraksi dengan lingkungan “luar”. Sedang bertahun-tahun aku hanya menghabiskan waktu di dalam pondok pesantren.

Seorang santri yang terbiasa dengan perintah dan larangan dengan pergaulan yang dibatasi, tiba-tiba menetap di sebuah lingkungan yang bisa dikata “bebas” dari segala aturan sistem yang mengikat.

Belum lagi mengelola waktu sendiri tanpa perlu diatur oleh aturan asrama. Kondisi tersebut bisa dibilang bertambah rumit dengan adanya orang-orang yang masih saja mempersoalkan pakaian dan hijab yang kukenakan selama ini.

Bersama kesulitan ada kemudahan. Demikian prinsip agama mengajarkan.  Di sanalah, di Kampung Inggris tersebut aku mendapat sejumlah pelajaran hidup yang tak ada secara teori di buku-buku pelajaran.

Menuntut ilmu di lingkungan yang bisa memacu segala potensi diri adalah satu hal yang selalu kumimpikan.

Meski sejatinya hal itu berpulang kepada orang itu sendiri. Apakah ia bersungguh-sungguh belajar atau tidak. Ibarat mutiara yang terpendam, ia akan terus memancarkan kemilau meski ditaruh di lingkungan manapun.

Tapi setidaknya keinginan itu pernah terpatri dalam diri. Untuk merasakan sensasi belajar yang penuh keseriusan, kompetisi tinggi, dan optimalisasi waktu secara baik di dalam dan luar kelas.

Memasuki jenjang perguruan tinggi, status mahasiswa tak membuatku lupa untuk terus berdoa memohon yang terbaik kepada Allah.

Entah kenapa, sambil menjalani kuliah di sebuah sekolah tinggi Islam di kota Balikpapan, Kalimantan Timur, doaku tak henti untuk memberi yang terbaik padaku.

Meski aku sendiri tak tahu pasti apa bentuk yang terbaik itu. Sebab aku hanya meyakini, yang kujalani itulah yang terbaik yang diberikan oleh Allah.

Kini seiring waktu, rupanya takdir berpindah tempat belajar itu kembali menghinggapi nasibku.

Kembali aku ditakdirkan pindah. Dari Balikpapan menuju ibukota Jakarta, tepatnya menuntut ilmu di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA) Jakarta.

Sebelumnya aku dan bersama beberapa kawanku dinyatakan lulus seleksi program Diploma Pendidikan selama setahun di LIPIA.

Kini, aku rasanya jadi malu dan tak “berani” meminta lagi. Bisa dikata, nyaris setiap yang kumimpikan dikabulkan oleh Allah.

Sedang di saat yang sama, akupun sangat menyadari, betapa aku masih sangat lalai terhadap kewajiban dan amanah yang dititipkan padaku.

Dalam hening malam, aku hanya bisa merinding. Merapal ayat-ayat suci Allah usai sujudku kepada-Nya.

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman [55]: 13).*/Musyarrafah, mahasiswi LIPIA Jakarta

HIDAYATULLAH

Calhaj Diminta Siap Terima Keputusan Soal Haji 2021

Calhaj Diminta Siap Terima Keputusan Soal Haji 2021

Kementerian Agama (Kemenag) sampai Ahad (2/5) malam belum mendapat informasi pasti tentang penyelenggaraan haji tahun 2021. Wakil Menteri Agama (Wamenag), KH Zainut Tauhid Sa’adi mengajak calon jamaah haji (calhaj) menata hati untuk menerima keputusan penyelenggaraan haji tahun ini.

“Para calon jamaah haji harus sudah mulai menata hatinya untuk menerima apapun keputusan yang nanti ditetapkan pemerintah, termasuk keputusan yang paling pahit sekalipun yaitu misalnya tidak memberangkatkan haji tahun ini,” kata Kiai Zainut kepada Republika, Ahad (2/5) malam.

Wamenag menyampaikan, pihaknya belum mendapatkan informasi yang pasti tentang penyelenggaraan haji. Serta belum mendapatkan kepastian dari pemerintah Arab Saudi tentang penyelenggaraan ibadah haji tahun 2021.

Belum adanya kepastian soal penyelenggaraan haji, ia menerangkan, ini tidak hanya terkait dengan pemerintah Indonesia saja tapi seluruh negara di dunia. Mereka juga masih belum ada akses untuk masuk ke Tanah Suci atau Arab Saudi.

“Jadi belum ada satupun negara yang mendapatkan kepastian bisa memberangkatkan jamaah hajinya,” ujarnya.

Wamenag meminta semua pihak untuk tidak mengembangkan isu-isu menyesatkan terkait ibadah haji tahun 2021. Misalnya mengaitkan ibadah haji dengan vaksin Covid-19 yaitu Sinovac atau Indonesia tidak boleh memberatkan haji karena banyak hutang di Arab Saudi. Wamenag menegaskan, isu itu semuanya bohong.

Belum adanya kepastian penyelenggaraan haji, dijelaskan dia, murni karena masalah situasi pandemi Covid-19 yang memang belum melandai di seluruh dunia. Bahkan di India, pandemi masuk ke fase kedua yang lebih membahayakan.

“Ini memang dalam kondisi pandemi yang tidak bisa kita hindari, jangan ada isu yang membingungkan masyarakat, yang bisa menimbulkan hal-hal yang tidak baik,” jelasnya.

KHAZANAH REPUBLIKA

Update Aplikasi Cek Porsi Haji Anda!

Sebuah Catatan untuk Para Dokter: Mari Perbaiki Niat

Bismillah wasshalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du.

Segala puji bagi Allah ﷻ atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Allah Zat Yang telah memberikan kita nikmat yang begitu banyak, terutama nikmat iman & islam, serta nikmat mengenal sunnah dan berjalan di atasnya. Selawat serta salam semoga tercurah untuk  teladan kita Nabi Muhammad ﷺ

Sebuah nikmat yang besar dari Allah Ta’ala adalah adalah ketika Dia memberikan amanat kepada seseorang untuk menjadi seorang dokter. Bahkan, ulama seperti Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu menyatakan pentingnya ilmu kedokteran. Beliau mengatakan,

إنما العلم علمان: علم الدين، وعلم الدنيا، فالعلم الذي للدين هو: الفقه، والعلم الذي للدنيا هو: الطب.

“Ilmu itu ada dua, yaitu ilmu agama dan ilmu dunia. Ilmu terkait agama yaitu fikih. Ilmu terkait dunia yaitu kedokteran” (Adab Asy-Syafi’i wamanaqibuhu, 244).

Maka, selayaknya sebagai bentuk rasa syukur akan nikmat ini, hendaknya para dokter menjaga nikmat tersebut dengan menjalankan profesinya sebaik mungkin berlandaskan ikhlas, dengan memurnikan niat,  mengharap rida Allah Ta’ala. Di antara hal-hal yang bisa diniatkan sebelum mulai beraktifitas (memeriksa pasien dan selainnya) yaitu:

Pertama, mencari nafkah.

Sebagai bentuk melaksanakan kewajiban yang sudah Allah Ta’ala bebankan kepada para suami untuk menafkahi keluarganya. Allah Ta’ala berfirman,

وَٱلْوَٰلِدَٰتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَٰدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى ٱلْمَوْلُودِ لَهُۥ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ }

Dan ibu-ibu hendaklah  menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut” (Q.S. Al Baqarah 233).

Kedua, menjenguk orang sakit.

Dokter yang melakukan pemeriksaan atau visitasi kepada pasien maka sekaligus bisa meniatkan menjenguk pasien yang akan diperiksanya. Di antara keutamaan menjenguk orang sakit sebagaimana yang Nabi  ﷺ sabdakan,

‌إذَا عَادَ الرَّجُلُ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ مَشَى فِيْ خِرَافَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسَ فَإِذَا جَلَسَ غَمَرَتْهُ الرَّحْمَةُ، فَإِنْ كَانَ غُدْوَةً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ كَانَ مَسَاءً صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ

Apabila seseorang menjenguk saudaranya yang muslim (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan surga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya agar  mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka  tujuh puluh ribu malaikat mendoakannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba” (HR. Ahmad [1/81], Abu Daud no. 3099, disahihkan Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits As-Shohihah, 353/3).

Dari hadis di atas banyak sekali keutamaan yang didapatkan oleh menjenguk orang yang sakit, yaitu:

  • Seakan-akan berjalan sambil memetik buah-buahan surga hingga dia duduk
  • Apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras
  • Jika menjenguk orang sakit di pagi hari maka didoakan 70 ribu malaikat hingga sore
  • Jika menjenguk orang sakit di sore hari maka didoakan 70 ribu malaikat hingga pagi

Ketiga, menjalankan sunnah Nabi ﷺ

Tenaga medis dapat meniatkan untuk menjalankan sunnah-sunnah Nabi ﷺ selama berinteraksi dengan pasien yang dihadapi. Diantara sunnah-sunnah tersebut:

  1. Mendoakan pasien agar sakitnya segera disembuhkan oleh Allah Ta’ala. Di antara doa-doa yang diajarkan Nabi ‘alaihi sholatu wassalam:

لاَ بَأْسَ طَهُورٌ اِنْ شَآءَ اللّهُ

Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkanmu (dari dosa-dosa), InsyaAllah” (HR. Bukhari no 3616).

Atau doa:

أَسْأَلُ اللَّهَ العَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

“Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, agar menyembuhkan penyakitmu.”  (Shohih Al-Adabul Mufrod, 203)

  1. Memenuhi hak sesama saudara muslim dengan mengucapkan salam dan menjenguknya

‌حَقُّ ‌الْمُسْلِمِ ‌عَلَى ‌الْمُسْلِمِ ‌سِتٌّ» قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟، قَالَ: «إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

“Hak muslim pada muslim yang lain ada enam.” Lalu seorang sahabat bertanya, ”Apa saja hal tersebut wahai Rasulullah?” Lantas beliau  bersabda, ”Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam padanya. Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya. Apabila engkau dimintai nasehat, berilah nasehat padanya. Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’). Apabila dia sakit, jenguklah dia. Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim no. 2162)

Keempat, menolong saudaranya

Meniatkan untuk menolong, atau mengangkat kesusahan saudaranya. Karena barang siapa seseorang yang menolong, atau memudahkan urusan saudaranya karena Allah di dunia, Allah Ta’ala akan mudahkan urusannya di dunia & akhirat. Nabi ﷺ bersabda

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

“Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia orang mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa yang memberi kemudahan orang yang kesulitan (utang), maka Allah akan memberi kemudahan baginya di dunia dan akhirat” (HR. Muslim No.2699)

Semoga Allah Ta’ala memberikan kita hidayah & taufik-Nya agar kita bisa meluruskan niat kita dalam bekerja, agar pekerjaan yang kita dilakukan dapat tercatat sebagai amal saleh dan menjadi sebab Allah Ta’ala merahmati kita untuk masuk surga-Nya. Wallahu a’lam.

Walhamdulillah rabbil ‘alamin. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa alihi wa shahbihi ajma’in.

Penulis: Dimas Setiaji

Artikel: Muslim.or.id

Referensi:

  • Al Quranul Karim & Terjemahannya
  • Shohih Bukhari
  • Shohih Muslim
  • Shohih Al-Adabul Mufrad
  • Silsilah Al-Hadits As-Shohihah

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/66032-sebuah-catatan-untuk-para-dokter-mari-perbaiki-niat.html

Nasehat Selepas Ramadhan

Bulan yang penuh berkah telah berlalu. Bulan yang akan menjadi saksi yang akan membela setiap orang yang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan ketaatan kepada Allah atau justru menjadi saksi yang akan menghujat setiap orang yang memandang remeh bulan Ramadlan.

Oleh karena itu, hendaknya diri kita masing-masing membuka pintu muhasabah terhadap diri kita. Amalan apakah yang kita kerjakan di bulan tersebut? Apakah faedah dan buah yang kita petik pada bulan Ramadlan tersebut? Apakah pengaruh bulan Ramadlan tersebut terhadap jiwa, akhlak dan perilaku kita?

Kondisi Salafush Shalih Selepas Ramadlan

Pertanyaan yang teramat mendesak untuk dijawab oleh diri kita masing-masing adalah, ”Setelah Ramadlan berlalu, sudahkah kita menunaikan berbagai sebab yang akan mempermudah amalan kita di bulan Ramadlan diterima di sisi-Nya dan sudahkah kita bertekad untuk terus melanjutkan berbagai amalan ibadah yang telah kita galakkan di bulan Ramadlan?”

Tidakkah kita meneladani generasi sahabat (salafush shalih), dimana hati mereka merasa sedih seiring berlalunya Ramadlan. Mereka merasa sedih karena khawatir bahwa amalan yang telah mereka kerjakan di bulan Ramadlan tidak diterima oleh Allah ta’ala. Sebagian ulama salaf mengatakan,

كَانُوا يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَبْلُغَهُمْ شَهْرَ رَمَضَانَ ثُمَّ يَدْعُوْنَ اللهَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ أَنْ يَتَقَبَّلَهُ مِنْهُمْ

”Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama 6 bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadlan. Kemudian mereka pun berdo’a selama 6 bulan agar amalan yang telah mereka kerjakan diterima oleh-Nya.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 232).

Oleh karena itu, para salafush shalih senantiasa berkonsentrasi dalam menyempurnakan dan menekuni amalan yang mereka kerjakan kemudian setelah itu mereka memfokuskan perhatian agar amalan mereka diterima karena khawatir amalan tersebut ditolak.

’Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu mengatakan,

كُوْنُوْا لِقَبُوْلِ اْلعَمَلِ أَشَدَّ اهْتِمَامًا مِنْكُمْ بِاْلعَمَلِ أَلَمْ تَسْمَعُوْا اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ يَقُوْلُ : ]إِنَّمَا يَتَقَبَلُ اللهُ مِنَ اْلمُتَّقِيْنَ[

”Hendaklah kalian lebih memperhatikan bagaimana agar amalan kalian diterima daripada hanya sekedar beramal. Tidakkah kalian menyimak firman Allah ’azza wa jalla, [إِنَّمَا يَتَقَبَلُ اللهُ مِنَ اْلمُتَّقِيْنَ] “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (Al Maaidah: 27).” (Lathaaiful Ma’arif: 232).

Demikianlah sifat yang tertanam dalam diri mereka. Mereka bukanlah kaum yang merasa puas dengan amalan yang telah dikerjakan. Mereka tidaklah termasuk ke dalam golongan yang tertipu akan berbagai amalan yang telah dilakukan. Akan tetapi mereka adalah kaum yang senantiasa merasa khawatir dan takut bahwa amalan yang telah mereka kerjakan justru akan ditolak oleh Allah ta’ala karena adanya kekurangan. Demikianlah sifat seorang mukmin yang mukhlis dalam beribadah kepada Rabb-nya. Allah ta’ala telah menyebutkan karakteristik ini dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (٦٠)

”Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (Al Mukminun: 60).

Ummul Mukminin, ’Aisyah radliallahu ‘anha ketika mendengar ayat ini, beliau merasa heran dikarenakan tabiat asli manusia ketika telah mengerjakan suatu amal shalih, jiwanya akan merasa senang. Namun dalam ayat ini Allah ta’ala memberitakan suatu kaum yang melakukan amalan shalih, akan tetapi hati mereka justru merasa takut. Maka beliau pun bertanya kepada kekasihnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَهُمُ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ

“Apakah mereka orang-orang yang meminum khamr dan mencuri?”

Maka rasulullah pun menjawab,

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

”Tidak wahai ’Aisyah. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menegakkan shalat dan bersedekah akan tetapi mereka merasa takut amalan yang telah mereka kerjakan tidak diterima di sisi Allah. Mereka itulah golongan yang senantiasa berlomba-lomba dalam mengerjakan kebajikan.” (HR. Tirmidzi nomor 3175. Imam Al Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahihut Tirmidzi nomor 2537).

Kontinu dalam Beramal Shalih Selepas Ramadlan

Sebagian orang bijak mengatakan,

مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ اَلْحَسَنَةُ بَعْدَهَا وَمِنْ عُقُوْبَةِ السَّيِّئَةِ اَلسَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Diantara balasan bagi amalan kebaikan adalah amalan kebaikan yang ada sesudahnya. Sedangkan hukuman bagi amalan yang buruk adalah amalan buruk yang ada sesudahnya.” (Al Fawaa-id hal. 35).

”Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan amalan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 244).

Melanjutkan berbagai amalan yang telah digalakkan di bulan Ramadlan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah ta’ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Bukankah Allah ta’ala berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى .وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى .فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى

”Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Al Lail: 5-7).

Termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas berbagai nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya adalah terus menggalakkan berbagai amalan shalih yang telah ia lakukan setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah menggantinya dengan perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah ta’ala berfirman:

وَلا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا (٩٢)

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali “(An-Nahl: 92).

Beberapa Amal Shalih Selepas Ramadlan

Saudara sekalian, sekalipun bulan suci Ramadlan telah berakhir, namun amalan seorang mukmin tidak akan berakhir sebelum ajal datang menjemput. Allah ta’ala berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ (٩٩)

”Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (Al Hijr: 99).

Jika bulan Ramadlan telah berlalu, maka seorang mukmin tidak akan terputus dalam melakukan ibadah puasa, karena sesungguhnya puasa itu terus disyari’atkan sepanjang tahun. Seorang mukmin masih bisa mengerjakan berbagai macam amalan puasa selepas Ramadlan. Diantaranya adalah puasa sebanyak enam hari di bulan Syawwal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

”Siapa yang mengerjakan puasa Ramadlan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa di bulan Syawwal, maka itu adalah seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim nomor 1164).

Demikian pula, seorang mukmin masih bisa mengerjakan puasa sunnah sebanyak tiga hari di setiap bulannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثٌ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَرَمَضَانُ إِلىَ رَمَضَانَ فَهَذَا صِيَامُ الدَّهْرِ

”Tiga hari (puasa) setiap bulan, puasa Ramadlan ke Ramadlan berikutnya, maka ini adalah seperti puasa sepanjang zaman.” (HR. Al Baihaqi nomor 3844 dalam Syu’abul Iman).

Begitupula seorang mukmin masih bisa mengerjakan puasa Senin-Kamis. Dan masih banyak puasa sunnat lainnya yang bisa dikerjakan seorang mukmin.

Jika amalan shalat malam atau shalat tarawih di malam Ramadlan telah berlalu, maka ketahuilah bahwa shalat malam masih terus disyari’atkan pada setiap malam sepanjang tahun. Tidakkah kita mencontoh nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senantiasa mengerjakan shalat malam hingga kedua telapak kaki beliau bengkak. Semua itu beliau lakukan untuk bersyukur kepada Rabb-nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ! أَفْشُوْا السَّلاَمَ وَ أَطْعِمُوْا الطَّعَامَ وَ صَلُّوْا اْلأَرْحَامَ وَ صَلُّوْا بِاللَّيْلِ وَ النَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ بِسَلاَمٍ

“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah kekerabatan dan tunaikanlah shalat malam di kala manusia tengah tertidur, niscaya kalian akan memasuki surga dengan damai.” (HR. Hakim nomor 7277. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ nomor 7865).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

أَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

”Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim nomor 1163).

Di samping itu ada juga berbagai amalan shalat sunnah Rawatib yang berjumlah dua belas raka’at, yaitu empat raka’at sebelum shalat Zhuhur dan dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah Maghrib, dua raka’at sesudah Isya’ dan dua raka’at sebelum Subuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

”Seorang hamba yang senantiasa mengerjakan shalat karena Allah pada setiap harinya sebanyak dua belas raka’at dalam bentuk shalat sunnah dan bukan termasuk shalat wajib, maka niscaya Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga.” (HR. Muslim nomor 728).

Seorang mukmin juga akan senantiasa berdzikir kepada Allah ta’ala dengan berbagai dzikir yang dituntunkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di setiap kesempatan. Begitupula dengan berbagai amalan kebajikan yang lain seperti bersedekah, membaca Al Qur-an, dan lain sebagainya, selayaknya dilakukan oleh seorang mukmin di luar bulan Ramadlan.

Janganlah kita menjadi orang-orang yang merayakan hari ‘Iedul Fitri dengan penuh suka cita kemudian melupakan dan meninggalkan berbagai amalan yang telah digalakkan di bulan Ramadlan.

Wahb ibnul Wardi pernah melihat sekelompok orang yang bersuka cita dan tertawa di hari ‘Iedul Fitri. Beliau pun lantas mengatakan,

إِنْ كَانَ هَؤُلاَءِ تَقَبَلَ مِنْهُمْ صِيَامَهُمْ فَمَا هَذَا فِعْلُ الشَّاكِرِيْنَ وَ إِنْ كَانَ لَمْ يَتَقَبَّلْ مِنْهُمْ صِيَامَهُمْ فَمَا هَذَا فِعْلُ الْخَائِفِيْنَ

“Apabila puasa mereka diterima di sisi Allah, apakah tindakan mereka tersebut adalah gambaran orang yang bersyukur kepada-Nya. Dan jika ternyata puasa mereka tidak diterima, apakah tindakan mereka itu adalah gambaran orang yang takut akan siksa-Nya.” (HR. Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab nomor 3727, Lathaaiful Ma’arif hal. 232).

Ya Allah teguhkanlah kami di atas iman dan amal shalih, hidupkan kami dengan kehidupan yang baik dan sertakan diri kami bersama golongan orang-orang yang shalih.

GCA K4/7,29 Ramadlan 1429 H.

Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel www.muslim.or.id

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/4654-nasehat-selepas-ramadhan.html

Wasiat Bung Karno untuk Menentang Penjajahan Zionis Israel

Para pemuda pun turut bersuara, menyerukan kemerdekaan Palestina. Para pemuda yang kelak menjadi para pendiri Bangsa yang tergabung dalam Jong Islamieten Bond (JIB). 

Mereka diantaranya adalah Natsir, Kasman Singodimedjo, Samsurizal dan lainnya bersama mentornya H. Agus Salim konsisten mendukung perjuangan bangsa Palestina.

“Tidak sunyi berita pertempurannya tia-tiap hari. Sudah beribu orang menjadi korban, menjadi syahid mati terbunuh di dalam jihadnya atau kena bom udara atau tembak balasan Inggris. Beribu-ribu pula orangnya, orang tua, perempuan dan anak-anak beratus-ratus janda dan yatim hidup sengsara di dalam negeri yang menderitakan bencana perang bertahun-tahun.” (H. Agus Salim, Pandji Islam: 1939)

“Memang, seharusnyalah umat Islam Indonesia mempersatukan pula suaranya berkenaan dengan hal itu dan menyebuahkan daya dan upaya, jika ada yang dapat dilakukan, untuk membuktikan persatuan hatinya dan pengakuannya akan pertalian dengan umat Islam tiap-tiap bangsa Islam di seluruh dunia.” Tegas H. Agus Salim.

Suara-suara solidaritas terus mengalir, hingga pada tahun 1953-1955, dalam persiapan Konferensi Asia Afrika (KAA), Presiden Soekarno menentang keras jika Israel jika dilibatkan dalam konferensi yang bertemakan antikolonialisme tersebut. Pada Konferensi KAA tahun 1955, di Gedung Merdeka, Soekarno menegaskan kembali untuk memperjuangkan Negara-negara yang belum merdeka termasuk Palestina.

Keteguhan Soekarno berlanjut, dalam aksi-aksi solidaritas kemerdekaan Palestina seperti mengirimkan bantuan, hingga tahun 1962. Tepatnya 17 tahun setelah Indonesia merdeka, negara ini menjadi tuan rumah Asian Games ke-4. Bertempat di Jakarta, kompetisi olahraga empat tahunan itu diselenggarakan pada tanggal 24 Agustus – 4 September 1962.

Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah pada saat itu ditentukan oleh hasil voting yang dilakukan oleh Dewan Federasi Asian Games di Tokyo, Jepang, sebelum Asian Games 1958 dimulai, tepatnya pada tanggal 23 Mei 1958. Dari hasil pemungutan suara yang diikuti oleh dua kandidat tuan rumah Asian Games 1962, yakni Pakistan dan Indonesia, sebanyak 22 suara memilih Jakarta sebagai tuan rumah dan jumlah suara ini mengungguli Karachi, ibu kota Pakistan yang hanya meraih 20 suara. Sehingga, pada saat itu resmi ditetapkan tuan rumah Asian Games 1962 adalah Jakarta, Indonesia.

Soekarno menolak keterlibatan dan keikutsertaan Israel dalam Asian Games.
“..Untuk Israel, selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel” tegas Soekarno kepada wartawan.

Dalam ruang serba terbatas dan sulit, bangsa ini selalu mengajarkan akan anti kolonialisme yang lahir dari nurani kemanusiaan, walau negeri ini baru seumur jagung.

Bapak-bapak pendiri bangsa ini, dalam segala keterbatasannya telah mengajarkan kita arti sebuah kemanusiaan, solidaritas, ukhuwah, kebersamaan, yang tak lekang oleh jarak dan waktu, bahwa kemerdekaan Palestina adalah wasiat sekaligus amanat dari para pendiri bangsa untuk segenap bangsa Indonesia.

Kini, berpuluh tahun sudah, suara-suara perjuangan dan degup cita para pendiri Bangsa Indonesia akan kemerdekaan Palestina seakan tinggal lirih terdengar diantara gemerlap laju pembangunan, yang menyisakan pertanyaan, apakah kita akan terus melanjutkan perjuangan ini?•••

SADAQA.or.id

Mengapa Kita Membela Palestina?

Nak, kita bukan asal membela. Kita punya alasan kuat untuk berdiri bersama Palestina, menentang penjajahan dan agresi zionis Israel.

1. Ukhuwah Imaniyah

Di Palestina ada Al Quds. Di Al Quds ada Masjid Al Aqsa. Kiblat pertama kaum muslimin, tujuan isra’ Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, masjid suci ketiga umat Islam.

Gaza juga kota Islam yang melahirkan banyak ulama dan mujahid ternama. Imam Syafi’i rahimahullah, salah satunya. Ulama yang madzhabnya menjadi panutan muslim Indonesia ini lahir di Gaza.

Kita tak boleh diam saat Al Aqsa dinodai oleh zionis Yahudi. Kita tak boleh tenang-tenang saja saat zionis membombardir Gaza. Kita terikat dengan ukhuwah imaniyah yang harus saling membela. Dan inilah kunci pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Ukhuwah Islamiyah

Palestina adalah negeri muslim. Meskipun terpisah sekat geografis, kita terikat dengan ukhuwah islamiyah.

Saat kaum muslimin berhadapan dengan zionis Yahudi, jangan ragu menentukan sikap berada di kubu mana. Apalagi jika nyata-nyata mereka merampas tanah dan membunuhi warga Palestina yang tak berdosa.

Memang Rasulullah sangat baik kepada siapapun termasuk pemeluk Yahudi. Namun beliau sangat tegas saat entitas Yahudi melakukan tindakan keji atas kaum muslimin. Maka belajarlah dari sikap Rasulullah saat menghadapi Bani Quraizhah, Bani Qainuqa’, Bani Nadhir dan Yahudi Khaibar.

3. Ukhuwah Basyariyah

Nak, bahkan seandainya Palestina bukan negeri muslim, kita tetap akan membela Palestina. Tersebab alasan kemanusiaan. Ukhuwah basyariah. Persaudaraan sesama manusia.

Rasa kemanusiaan kita pasti akan terpanggil untuk membela mereka yang dizalimi, dianiaya dan dirampas hak-haknya. Dan pendiri bangsa ini telah mencantumkan dalam Pembukaan UUD 1945: “Penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Maka, kita belum menjadi NKRI sejati jika belum membela Palestina dari penjajahan Zionis Yahudi. Kita belum menjadi manusia sejati jika belum menentang penjajahan Zionis Israel atas Palestina.

Apalagi, dulu yang pertama mendukung kemerdekaan Indonesia adalah ulama Palestina, lalu negeri-negeri muslim seperti Mesir. Saatnya kini kita menunjukkan sikap yang sama. Membela Palestina. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

BERSAMADAKWAH

Syeikh Abdullah Kan’an, Ulama Palestina, Pendiri dan Mufti Pertama Kesultanan Aceh

SEBAGIAN besar sejarawan sepakat, bahwa Kesultanan Aceh pertama kali didirikan oleh Sultan Meurah Johan Syah (1205-1235 M) di Aceh Besar. Jauh sebelum berdirinya kerajaan Aceh Darussalam yg didirikan oleh Sultan Ali Mugayat Syah (1514-1530 M).

Johan Syah mendirikan Kesultanan Aceh di atas bekas federasi Kerajaan Lamuri Kuno (Kerajaan Indra Purba atau Lamuri, Indra Jaya atau Seudu, Indra Purwa, Indra Patra, Indra Puri dan Langkrak) bersama gurunya yang bernama Syeikh Abdullah Kan’an.

Syeikh Abdullah Kan’an adalah seorang ulama yang berasal dari Kan’an Palestina dan sudah datang ke Aceh di abad ke-4 Hijriah. Di Aceh beliau memperdalam ilmu agama di Zawiyah (Dayah Cot Kala), pondok pesantren atau sekolah Islam pertama di Asia Tenggara yang didirikan pada abad ke-9 M. Setelah lulus dari Zawiyah Cot Kala, Sultan Peureulak mengangkat Syeikh Abdullah Kan’an sebagai Teungku Chik di Zawiyah Cot Kala.

Salah satu murid Syeikh Abdullah di Cot Kala adalah Johansyah yang berasal dari Kerajaan Linge (Gayo) namun hijrah untuk mendalami ilmu agama Islam ke Dayah Cot Kala di Bayeun, Aceh Timur yang saat itu berada dalam wilayah Kesultanan Peureulak. Johansyah digelari meurah sebutan keturunan bangsawan negeri Lingga (Linge) karena ayahnya yang bernama Adi Genali atau Teungku Kawe Teupat merupakan bangsawan yang dirajakan di negeri Linge.

Syeikh Abdullah Kan’an termasuk salah satu dari ulama yang mula-mula menyiarkan agama Islam di Aceh. Menurut Ali Hasjmy, Syeikh Abdullah Kan’an merupakan ahli pertanian yang pertama kali membawa bibit lada ke Aceh. Masyarakat Aceh mengenal Syeikh Abdullah Kan’an dengan sebutan Teungku Chik Lampeuneu’euen. Tempat kediaman Syeikh Abdullah dinamai Lampeuneu’en atau Lamkeuneu’en yang secara harfiah dalam bahasa Aceh berarti wilayah Kan’an yang merupakan tempat asal Syeikh Abdullah. Saat ini gampong Lampeuneuen termasuk dalam wilayah kecamatan Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar.

Pada tahun 576 H /1180 M, Syeikh Abdullah Kan’an dan Meurah Johan dikirim oleh Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Shah Johan (1173-1200), Sultan Kesultanan Peureulak ke Aceh Besar sebagai delegasi dakwah menyebarkan agama Islam sekaligus angkatan perang yang membawa 300-600 pasukan untuk menyerang pasukan Tiongkok dibawah dinasti Zhao Zhen yang terlebih dahulu menyerang dan menaklukkan Kerajaan Indra Jaya dan sekitarnya antara tahun 450-460 H atau 1059-1069 M.

Sebelumnya, Kerajaan Hindu Indra Purba yang beribu kota di Lamuri dibawah pimpinan Maharaja Indra Sakti meminta bantuan Peureulak untuk menghadapi ancaman armada perang Tiongkok yang berhasil menguasai Kerajaan Indra Jaya mengingat sebelumnya Kerajaan Indra Purba pernah diserang dan dijarah oleh Kerajaan Rajendra Cola 1 dari India Selatan.

Johansyah ditugaskan mengomandoi angkatan perang ‘Syah Hudan’ yang didalamnya terdapat 300 personil terlatih yang kesemuanya merupakan mahasantri Zawiyah (Dayah) Cot Kala. Ia dan pasukannya lalu membangun pusat latihan militer di Bandar Lamuri tepatnya di Mamprai dalam upaya menaklukkan kerajaan Seudu (Indra Jaya).

Di Mamprai, Syeikh Abdullah Kan’an atas izin Raja Indra Purba juga membuka kebun lada dan mulai menyebarkan ajaran Islam. Pada akhirnya, raja dan seluruh penduduk Lamuri berhasil berhasil diislamkan oleh Syeikh Abdullah Kan’an dengan bantuan 300 mahasantrinya yang selanjutnya oleh masyarakat Aceh disebut Sukee Lhee Reutoh.

Pasukan Meurah Johan akhirnya berhasil memporak-porandakan basis pertahanan angkatan perang Tiongkok di Kerajaan Seudu (nama baru Indra Jaya) termasuk menangkap panglima perang Kerajaan Seudu Maharani (Putri) Nian Nio Lian Khi (Lingke).

Selepas penaklukan itu, Maharaja Indra Sakti yang telah masuk Islam menikahkan puterinya yang bernama Puteri Blieng Indra Keusuma dengan Meurah Johan. Dan mengangkat Meurah Johan Syah sebagai pewaris tahta Kerajaan Lamuri dengan gelar Poteu Uek.

Dua puluh lima tahun kemudian, Maharaja Indra Sakti mangkat sehingga Johan Syah didapuk sebagai Raja Lamuri. Untuk menyatukan bekas federasi Kerajaan Lamuri Kuno, maka diadakan rapat besar yang dihadiri oleh perwakilan kerajaan Seudu, Indra Purwa, Indra Patra, Indra Puri dan Indra Purba dan wakil kerajaan Islam Peureulak, kerajaan Islam Pasé (Pasai), kerajaan Benua (sekarang: Langkat-Tamiang) dan kerajaan Islam Linge. Pada saat itulah, Syeikh Abdullah Kan’an berkata: “Kini, kita semua sepakat untuk mendirikan satu kerajaan Islam dengan nama Kesultanan Aceh Darussalam.”

Syeikh Abdullah Kan’an sendiri yang memilih nama Aceh sebagai nama kerajaan baru yang menyatukan bekas kerajaan Indra Patra, Indra Puri, Indra Purwa dan Seudu bergabung dengan Islam sebagai dasar negara. Selanjutnya disepakati ibukota Kerajaan Aceh saat itu terletak di tempat yang sekarang disebut Gampong Pande dengan nama Bandar Aceh Darussalam. Kemudian Meurah Johan Syah diputuskan dan dilantik sebagai Sultan Aceh pertama pada 1 Ramadhan 601 H atau 22 April 1205 M (Saat ini diperingati sebagai Hari Lahir Banda Aceh) dengan gelar Sultan Alaiddin Johan Syah Zilullah Fil Alam, yang memerintah pada 1205-1234. Syeikh Abdullah Kan’an selanjutnya juga dilantik sebagai Mufti pertama Kesultanan Aceh.

Dalam pidato mukaddimah berdirinya kerajaan Aceh Darussalam, Syeikh Abdullah Kan’an menegaskan bahwa apabila Alquran dijadikan sebagai landasan hidup manusia dan menjadi pegangan utama dari pada kerajaan, maka kedamaian akan wujud di dunia, dimana keadilan, kebenaran, kasih sayang, persaudaraan, persamaan, kebebasan dan hak asasi manusia menjadi raja.

Sejak itu, Sultan Johan Syah bertekad bahwa kebenaran, keadilan, persaudaraan, persamaan, keikhlasan dan cinta kasih menjadi dasar negara dan siapa pun tidak boleh memperkosa dasar-dasar ini (Meurah Johan Raja Aceh Darussalam Pertama, 2004, Panitia Pekan Kebudayaan Aceh ke-IV, Kabupaten Aceh Tengah, hlm. 10).

Menurut catatan M. Yunus Jamil, Maharani Nian Nio dan pasukannya akhirnya berhasil di-islamkan. Lalu Syeikh Abdullah Kan’an dengan persetujuan Putri Indra Keusuma istri Meurah Johan menikahkan Putri Nian Nio dengan Meurah Johan di tengah laut Sabang. Masyarakat Aceh akhirnya mengenal Putri Nian Nio dengan sebutan Putroe Neng. Selain sebagai Mufti Kesultanan Aceh, Syeikh Abdullah Kan’an juga mendirikan dan memimpin Dayah di Lampeuneuen. Hingga akhir hayatnya ia terus berjuang mendakwahkan Islam hingga tersebar ke seluruh Aceh bahkan akhirnya ke seluruh Nusantara.

Syeikh Abdullah Kan’an dimakamkan di Leu Geu, Darul Imarah, Aceh Besar. Makamnya terletak dalam sebuah bangunan berbentuk mesjid yang di depannya terdapat sebuah sumur dengan cicin sumurnya terbuat dari tanah berukir. Dalam komplek makam itu juga terdapat makam beberapa pengikut dan murid beliau termasuk makam Tgk. Chik Kuta Karang, seorang ulama besar yang juga masih keturunan Tgk. Kan’an.

Tgk. Chik Abbas Kuta Karang adalah seorang ulama dan pejuang, sekaligus penulis produktif. Beliau pernah belajar di Makkah bersamaan dengan Snouck Hurgronje. Beliau kembali ke Aceh lebih awal untuk mengingatkan sultan dan masyarakat Aceh tentang fitnah yang mungkin dibawa oleh Snouck alias Tgk. Puteh ke Aceh.

Tgk Chik Kutakarang dikenal luas sebagai ahli falak, bahkan namanya diabadikan sebagai nama Observatorium Hilal di tepi Pantai Lhoknga oleh Kementerian Agama, sekitar 25 km dari lokasi makamnya saat ini. Beberapa kitab yang beliau wariskan adalah : (1) Sirajul Zalam fi Ma’rifati Sa’adi Wal Nahas tentang ilmu falak (2) Kitabur Rahmah tentang perobatan (3) Tazkiratul Rakidin dan (4) Mau’izhatul Ikhwan tentang strategi militer dalam rangka perang melawan penjajah kolonial, dan yang paling fenomenal (5) Taj al-Muluk yaitu sejenis kitab mujarab yang berisi trik dan amalan praktis bagi masyarakat berdasarkan peredaran bulan.

Perjuangan kakek Tgk. Chik Kuta Karang yang berasal dari Palestina yaitu Syeikh Abdullah Kan’an di Aceh membuka hati kita atas besarnya jasa masyarakat Palestina bagi Aceh, Indonesia dan dunia Islam pada umumnya.

Oleh karena itu, inilah saatnya bagi kita untuk membalas budi dengan bersatu berupaya mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina dari penjajahan dan penindasan yang dilakukan oleh Zionis. Insya Allah dengan persatuan kita bisa meraih kemenangan.*

Penulis mahasiswa atau praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (Asal). Ia juga merupakan Wakil Ketua Pengurus Daerah Organisasi Pelajar Islam (PD OPI) Aceh

HIDAYATULLAH

Jika Anak Anda Bertanya Soal Palestina Sampaikan 25 Informasi Penting Berikut Ini

Apa yang mau Anda sampaikan saat anak-anak di rumah bertanya tentang rakyat dan tanah  Palestina?  Apakah Anda sudah mempunyai jawaban untuk disampaikan namun mampu diserap dengan mudah. Bagi anak setiap satu pertanyaan yang dijawab maka akan muncul lagi-lagi pertanyaan berikut sebagai bentuk rasa penasarannya.

Nah berikut ini Ustaz Dr. Jasim Al- Muthawwa memberikan 25 informasi penting tentang Palestina untuk disampaikan kepada anak-anak.

1. Ceritakan kepada anak Anda, “Wahai anakku, sesungguhnya Palestina adalah tempat tinggal para Nabi.

2. Nabi kita Ibrahim AS hijrah ke Palestina.

3. Nabi Luth AS diselamatkan oleh Allah dari azab yang turun pada kaumnya menuju bumi yang diberkahi, bumi Palestina.

4.Nabi Daud AS tinggal di Palestina dan membangun mihrabnya,

5, dan Nabi Sulaiman AS memerintah seluruh dunia dari Palestina, kisahnya yang populer dengan semut dan berkata :

“Hai semut masuklah ke tempat tinggal kalian” , tempat yang disebut dengan wadi an-naml (lembah semut) di Palestina dekat (‘Asqalan).

6. Di Palestina juga terdapat mihrab Zakaria AS ,

7.sebagaimana Musa AS meminta kaumnya memasuki Bumi Muqaddasah, ia menamakan dengan Al-Muqaddasah, yakni (suci) dari syirik, dan dijadikan tempat tinggal para Nabi.

8.Banyak mukjizat yang terjadi di dalamnya diantaranya

9. kelahiran Nabi Isa dari ibunya Maryam, seorang gadis kecil tanpa suami, dan Allah mengangkatnya ketika Bani Israil sepakat untuk membunuhnya.

10. Di Palestina Maryam menggoyang batang pohon kurma setelah kelahirannya dalam kondisi paling lemahnya wanita.

11.Termasuk tanda-tanda akhir zaman di Palestina, Isa akan turun di menara putih,

12. dan akan membunuh Dajjal di gerbang Lod Palestina,

13. dan itu adalah tanah Mahsyar dan Mansyar,

14. dan Ya’juj dan Ma’juj akan dibunuh di bumi Palestina di akhir zaman, serta banyak cerita lain terjadi di Palestina,

15. diantaranya kisah Thalut dan Jalut.

16. Anak saya bertanya, “Bagaimana dengan Nabi SAW dan hubungannya dengan Palestina?”Saya jawab, “Dulu kiblat pada awal diperintahkannya shalat menghadap ke Palestina, dan ketika Nabi hijrah ke Madinah malaikat Jibril turun dan beliau sedang shalat, Jibril memerintahkan untuk mengubah kiblat dari Baitul Maqdis ke Mekah Al-Mukarramah lalu masjid tempat beliau shalat dinamakan masjid Dzulqiblatain (dua kiblat).

17. Demikian juga ketika Rasulullah melakukan Isra’, beliau pergi ke Baitul Maqdis sebelum Mi’raj ke langit. Inilah terminal pertama

18.Beliau berhenti setelah berangkat dari Mekah menuju langit, dan beliau menjad imam shalat para Nabi, karenanya tempat ini menjadi maqar para Nabi.

19. Abu Dzar Ra, bertanya kepada Rasullah, “Masjid mana yang pertama diletakkan oleh Allah dimuka bumi?” Beliau menjawab, “Masjidil Haram.” Aku bertanya lagi, “Kemudian masjid mana?” Beliau menjawab, “Masjidil Aqsha.” Aku bertanya lagi, “Berapa jarak antara keduanya?” Beliau menjawab, “Empat puluh tahun.” Kemudian beliau bersabda, “Dimanapun shalat menjumpaimu maka shalatlah, dan bumi bagi kalian adalah masjid.”

20. Wahai anakku, Apakah kamu tahu bahwa Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra. meskipun sibuk dengan masalah kemurtadan orang-orang Arab di Jazirah Arab dengan memobilisasi pasukan untuk memerangi mereka agar kembali ke Islam yang benar, beliau tidak membatalkan pasukan yang diperintahkan Nabi untuk pergi ke Syam, meskipun membutukan kekuatan untuk mengembalikan stabilitas Jazirah.

21. Apakah kamu tahu masa keemasan penaklukan Islam di masa Umar Al-Faruq Ra, beliau tidak pernah keluar dari Madinah untuk merayakan penaklukan (pembukaan) negeri kecuali Palestina, beliau pergi ke sana sendiri dan membukanya dengan damai, shalat di dalamnya dan menerima kunci untuk menyelamatkan orang-orang Nasrani dari penindasan orang-orang Romawi saat itu.

22. Kemudian dibuka lagi oleh Shalahuddin di hari bersejarah tahun 583 H hari Jumat bertepatan dengan tanggal 27 Rajab, tanggal yang sama dengan malam mi’rajnya Nabi ke langit melalui Baitul Maqdis. Ini merupakan kesamaan yang ajaib dimana Allah memudahkan pengembalian Al-Quds kepada pemiliknya sama seperti waktu Isra’ dan Mi’raj.

23. Anak saya bertanya, “Kenapa dinamakan Baitul Maqdis dengan nama ini?” Saya menjawab, “Nama ini telah ada sebelum turunnya Al-Qur’an, ketika Al-Qur’an diturunkan ia disebut Masjid Al-Aqsha, dan dinamakan Baitul Maqdis karena kesuciannya yang istimewa. Karena itu, tanah Palestina dan Syam adalah tanah Ribath, telah syahid di dalamnya 5000 dari kalangan para sahabat mulia, mereka antusias untuk membuka Baitul Maqdis dan membebaskannya dari penindasan Romawi.

24.Para syuhada’ masih berguguran sampai hari ini, inilah tanah para syuhada’ dan tanah ribath.”

25. Anakku berkata, “Jadi pentingnya Masjid Al-Aqsha dan bumi Syam seperti pentingnya Haramain, Mekkah dan Madinah, bukankah seperti itu yah?”

Saya menjawab, “Ya, anakku. Allah Ta’ála mengumpulkan keduanya dalam firman-Nya :

“Demi buah Tin dan buah Zaitun. Dan demi bukit Sinai. Dan demi kota Mekah ini yang aman.” (At-Tin: 1-3).

Ibnu Abbas berkata: At-Tin adalah negeri Syam, Az-Zaitun negeri Palestina, bukit Sinai adalah gunung di mana Allah berbicara kepada Musa AS di Mesir, dan al-Balad al-Amin adalah Mekah Al-Mukarramah.

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan sungguh kami telah tetapkan dalam kitab-kitab setelah di catat di Lauh Mahfuzh bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hambaku yang shaleh.” (Al-Anbiya’: 105)

Salah satu tafsirnya bahwa umat Muhammad mewarisi tanah suci.

Anakku berkata, “Sekarang aku paham pentingnya Palestina dan Masjid Al-Aqsha, sebagaimana aku paham bahwa shalat didalamnya dilipatgandakan menjad 500 kali lipat, apakah ini benar?” Saya menjawab, “Ya, itu benar, dan jangan kamu lupakan anak-anak palestina dan penduduknya dari do’amu. Semoga Allah memberkahimu nak.”

Dengarkan Murrotal Al-Qur’an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

OKEZONE

Cek Porsi Haji Kembali Aktif, Segera Perbarui Aplikasi Anda!

Assalamu’alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh

Melalui laman ini, tidak lupa kami haturkan Selamat Idul Fitri 1442 H kepada Anda semua. Semoga kita semua memenangi satu bulan berpuasa Ramadhan, dan hasil dari puasa itu membekas untuk kehidupan kita sebelas bulan ke depan. Aamiin.

Sahabat semua, ada kabar gembira yang perlu kami sampaikan berkaitan dengan salah satu fitur dari Aplikasi Cek Porsi Haji ini, yakni Cek Jadwal Keberangkatan Haji yang disesuaikan Nomor Porsi Haji. Fitur itu kini sudah bisa Anda gunakan kembali setelah ada beberapa pembenahan sebelumnya.

Ya, Anda semua kini bisa kembali mengecek Jadwal Haji Anda. Namun, jangan lupa untuk segera melakukan pembaruan (update) aplikasi Android tersebut. Bagi Anda yang belum mengundu dan menginstalnya, segera klik link Cek Porsi Haji ini!

Untuk diketahui, Aplikasi Cek Porsi Haji yang dibuat Albani Studio ini merupakan aplikasi Cek Porsi Haji yang paling populer di Playstore, sehingga kami harapkan kepopuleran ini bisa terus dinikmati kaum muslimin se-Indoneisa, bahkan juga untuk beberapa fitur bisa dinikmati saudara-saudara kita di luar Indonesia, seperti fitur artikel keislaman.

Wassalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh

Albani Studio